Dialog Publik dan Bedah Buku di Mimika Dorong Penyelesaian Konflik yang Berkeadilan dan Bermartabat
Forum diskusi dan refleksi intelektual ini menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam merespons konflik sosial, khususnya di Tanah Papua yang memiliki kompleksitas sejarah, identitas, dan keberagaman
Papuanewsonline.com - 24 Jan 2026, 17:32 WIT
Papuanewsonline.com/ Pendidikan & Kesehatan
Papuanewsonline.com, Mimika — Dialog publik dan bedah buku Mendamaikan
yang Tak Mau Damai karya Jake Merrill Ibo digelar pada Jumat (23/1/2026) di
Mimika dengan mengusung tema “Mendamaikan Konflik Tanpa Mengalahkan
Kemanusiaan”. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan gagasan antara pemerintah,
akademisi, tokoh agama, dan masyarakat untuk membahas penyelesaian konflik
secara berkeadilan dan bermartabat.
Bupati Mimika Johannes Rettob dalam sambutannya menekankan
bahwa Mimika merupakan daerah dengan tingkat keberagaman yang sangat tinggi,
mencakup perbedaan agama, budaya, bahasa, dan suku. Keberagaman tersebut
dinilai sebagai anugerah sekaligus potensi besar yang harus dikelola secara
bijak dalam proses pembangunan daerah.
Ia menegaskan bahwa keberlanjutan pembangunan sangat
bergantung pada terciptanya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat. Oleh
karena itu, dialog publik dengan tema perdamaian dan kemanusiaan dinilai
relevan, mengingat Mimika kerap dipersepsikan sebagai wilayah yang rawan
konflik sosial.
Dalam pemaparannya, Johannes Rettob menjelaskan bahwa
konflik memiliki beragam bentuk dan karakter, sehingga tidak bisa diselesaikan
dengan satu pendekatan tunggal. Beberapa konflik dapat ditempuh melalui jalur
mediasi, sementara lainnya memerlukan pendekatan hukum atau adat, dengan
pemahaman mendalam terhadap akar persoalan sebagai kunci utama penyelesaian.
Ia juga menyoroti bahwa banyak konflik besar bermula dari
persoalan sederhana di lingkup internal, bahkan dalam keluarga. Ketika tidak
ditangani sejak dini, konflik tersebut berkembang menjadi persoalan adat,
tuntutan denda, hingga berujung pada jatuhnya korban jiwa yang sejatinya dapat
dihindari.
Dalam konteks Papua, mekanisme adat diakui sebagai bagian
penting dalam penyelesaian konflik. Namun, menurutnya, jika tidak dikelola
secara bijak dan adil, mekanisme tersebut justru berpotensi melahirkan
ketidakpuasan serta konflik berkepanjangan yang menggerus nilai-nilai
kemanusiaan.
Melalui dialog publik dan bedah buku ini, Bupati Mimika
berharap lahir rekomendasi dan pemikiran konstruktif yang dapat dijadikan
rujukan bersama, baik oleh masyarakat maupun pemerintah, dalam merumuskan pola
penyelesaian konflik yang lebih manusiawi dan berkeadilan.
Sementara itu, refleksi dari buku karya Jake Merrill Ibo
mengangkat pandangan bahwa konflik tidak semata berkaitan dengan benar dan
salah, melainkan tentang luka, perasaan tidak dihargai, serta pengingkaran
terhadap martabat manusia. Dalam konteks Papua, konflik dipahami sebagai
fenomena multidimensional yang melibatkan emosi, persepsi, struktur sosial,
identitas, trauma, hingga ketidakadilan historis.
Buku tersebut lahir dari pengalaman panjang praktik mediasi
sejak 2017 dan menawarkan pergeseran paradigma mediasi dari sekadar prosedur
menuju pemulihan relasi. Melalui pendekatan lintas disiplin dan kesadaran
sosial, dialog ini diharapkan menjadi ruang transformasi makna, sehingga
penyelesaian konflik ke depan tidak hanya berorientasi pada negosiasi, tetapi
juga pada pemulihan martabat dan kemanusiaan semua pihak.