logo-website
Sabtu, 06 Jun 2026,  WIT
BERITA Ekonomi Homepage
Yayasan Tuarek Natkime Turun Jalan di Timika: Tuntut Hak Kelola Program CSR dan Besi Scrap Freeport Papuanewsonline.com, Timika - Yayasan Tuarek Natkime menggelar aksi damai di Timika, Rabu (4/6/2026), menyuarakan dua tuntutan utama kepada PT Freeport Indonesia: hak pengelolaan program CSR dan transparansi pengelolaan besi scrap.Aksi yang disebut sebagai “jeritan kebun Amor” ini diklaim sebagai bentuk protes anak adat Amungme atas hak-hak masyarakat lingkar tambang yang dinilai diambil alih pihak lain.2 Tuntutan Yayasan Tuarek  Hak Pengelolaan Program  Yayasan Tuarek mempersoalkan pengelolaan program CSR/PPKM Freeport yang disebut seharusnya untuk 7 Suku dan masyarakat lingkar tambang. “Kalau hak kelola diambil, berarti sagu di kebun sendiri nggak boleh ambil. Harus minta ke ‘babi hutan’,” tulis Yohanis Wantik, Tokoh Pemuda Mimika, dalam pernyataan tertulis, Rabu 4/6/2026. Istilah “babi hutan” digunakan sebagai kiasan untuk pihak luar yang dinilai masuk dan mengambil hak masyarakat adat.Besi Scrap Freeport  Tuntutan kedua menyangkut besi bekas pipa, rel, dan alat tambang Freeport. Menurut pernyataan Yayasan Tuarek, harga besi scrap mencapai Rp5-7 juta per ton. Jika volumenya 1.000 ton, nilainya Rp5-7 miliar.“Pertanyaannya: Itu besi hak siapa? Freeport atau masyarakat adat pemilik tanah?” tulis Wantik. Yayasan Tuarek mempersoalkan penjualan besi scrap yang disebut dilakukan tanpa sepengetahuan masyarakat adat. “Kalau dijual tanpa masyarakat tahu, berarti ‘babi hutan’ kedua masuk kebun. Bawa truk, angkut diam-diam,” tulisnya.Desak Pembenahan LEMASA  Aksi ini juga menyoroti peran lembaga adat Amungme atau LEMASA. Yayasan Tuarek mengkritik lembaga adat yang disebut “sering muncul pas seremonial pemda atau pesta demokrasi, hilang wajah pas rakyat adat aksi”.Yohanis Wantik meminta Bupati dan Wakil Bupati Mimika membenahi LEMASA. “Gejolak ini pandangan kami kecil tapi dampaknya luas,” katanya.Menurut Yayasan Tuarek, hilangnya hak masyarakat adat atas program dan besi scrap juga berdampak ke APBD Mimika. “Kalau besi scrap Freeport gelap, APBD Mimika yang dapat dari pajak besi juga gelap. Pajak, retribusi, kerusuhan sosial = semua Pemda yang imbas,” tulis Wantik.Freeport dan Pemda Belum Komentar  Hingga berita ini diturunkan Rabu 4/6/2026 pukul 22.00 WIT, belum ada tanggapan resmi dari PT Freeport Indonesia, Pemkab Mimika, maupun LEMASA terkait dua tuntutan Yayasan Tuarek Natkime.Papuanewsonline,com. masih berupaya mengonfirmasi ke Manajemen Freeport, Bupati Mimika, dan Ketua LEMASA soal status hak kelola program CSR dan mekanisme penjualan besi scrap.Aksi Yayasan Tuarek disebut berlangsung damai. “Api masih nyala. Kita jaga sama-sama menata tidak bias,” tutup Wantik. Penulis: Hendrik Editor: GF 05 Jun 2026, 10:35 WIT
Pendaftaran Calon Ketua Kadin Mimika Periode 2026–2031 Resmi Dibuka Papuanewsonline.com, Timika – Musyawarah Kabupaten (Muskab) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Mimika secara resmi membuka pendaftaran bagi bakal calon Ketua Kadin Mimika untuk masa bakti 2026–2031. Proses pendaftaran berlangsung selama dua hari, mulai tanggal 4 hingga 5 Juni 2026, sebagai tahapan awal menjelang pelaksanaan Muskab yang dijadwalkan digelar pada 6 Juni mendatang.Ketua Panitia Muskab, Yakob Demi Balubun, menyatakan bahwa seluruh anggota Kadin yang memenuhi kriteria memiliki kesempatan yang sama untuk maju dalam kontestasi ini. “Pendaftaran dibuka pada 4 dan 5 Juni, sedangkan puncak acaranya berlangsung 6 Juni. Kami mengundang seluruh anggota dan asosiasi untuk mengambil formulir serta mengikuti proses pencalonan,” ujarnya. Syarat utama yang harus dipenuhi adalah berstatus anggota resmi dan berdomisili di Mimika, dengan seluruh ketentuan administrasi tercantum jelas dalam formulir yang disediakan.Layanan pendaftaran dibuka dengan jadwal yang telah ditetapkan: hari pertama beroperasi hingga pukul 22.00 WIT, sedangkan hari kedua berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 18.00 WIT.Hingga hari pertama dibuka, panitia masih menunggu kedatangan calon yang berminat mendaftarkan diri dan menyatakan kesiapannya memimpin organisasi tersebut.Sementara itu, Wakil Ketua Kadin Mimika, Yeri Nawipa, berharap Muskab kali ini menjadi momentum kebangkitan organisasi agar dapat berperan lebih kuat sebagai mitra strategis pemerintah dan penggerak perekonomian daerah.Ia menegaskan seluruh proses pemilihan harus berjalan transparan dan berlandaskan Anggaran Dasar serta Anggaran Rumah Tangga organisasi.“Kita ingin Kadin ke depan tidak lagi mengalami kemandekan, melainkan menjadi wadah yang nyata memberikan manfaat bagi pelaku usaha dan masyarakat,” tegasnya.Diharapkan melalui Muskab ini lahir sosok pemimpin yang memiliki kompetensi, pengalaman, dan visi jelas untuk memajukan dunia usaha di Mimika.  Penulis: Jid Editor: GF 05 Jun 2026, 10:31 WIT
Papua Economic & Investment Forum 2026 Jadi Momentum Perkuat Investasi dan Hilirisasi Papuanewsonline.com, Mimika – Pemerintah Provinsi Papua Tengah mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi investasi dan hilirisasi berkelanjutan guna mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi di Tanah Papua. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan Papua Economic & Investment Forum 2026 yang mengusung tema “Mengakselerasi Pertumbuhan Papua Melalui Sinergi Investasi dan Hilirisasi Berkelanjutan” di Kabupaten Mimika, 4–6 Juni 2026.Sambutan Gubernur Papua Tengah yang dibacakan oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Herman Kayame, ST., MT., menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia bersama seluruh pihak yang telah menginisiasi dan menyelenggarakan forum strategis tersebut.Menurutnya, forum ini menjadi ruang penting yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, investor, dan berbagai pemangku kepentingan untuk bersama-sama mendorong percepatan pembangunan ekonomi di Tanah Papua.“Papua memiliki potensi yang luar biasa besar, mulai dari sumber daya alam, pertanian, perikanan, kehutanan, pariwisata, energi, hingga kekuatan budaya dan sumber daya manusia muda yang sangat menjanjikan,” ujarnya.Namun demikian, potensi tersebut dinilai tidak akan memberikan manfaat maksimal tanpa dukungan investasi yang kuat, pembangunan infrastruktur yang merata, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kolaborasi lintas daerah dan lintas sektor.Herman mengatakan, keberadaan forum investasi ini sangat penting sebagai wadah memperkuat sinergi sekaligus memperkenalkan berbagai peluang investasi strategis yang tersebar di seluruh wilayah Papua.Ia menjelaskan bahwa Papua saat ini sedang memasuki babak baru pembangunan, terutama dengan hadirnya Daerah Otonom Baru (DOB) yang membuka ruang percepatan pelayanan publik, tata kelola pemerintahan, pembangunan, serta pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.Pemerintah Provinsi Papua Tengah, lanjutnya, mengusung visi pembangunan “Mewujudkan Papua Tengah yang Adil, Berdaya Saing, Bermartabat, Harmonis, Maju, dan Berkelanjutan.” Visi tersebut sejalan dengan cita-cita besar pembangunan Tanah Papua untuk menghadirkan kesejahteraan yang merata dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat.Karena itu, investasi yang masuk ke Papua diharapkan tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan kapasitas Orang Asli Papua, penguatan UMKM, pengembangan ekonomi kampung, serta menjaga kelestarian lingkungan dan nilai-nilai budaya lokal.“Keberhasilan pembangunan Papua tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Diperlukan kemitraan yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, lembaga keuangan, masyarakat adat, dan seluruh elemen pembangunan,” katanya.Pemerintah daerah di Tanah Papua juga terus berupaya menciptakan iklim investasi yang aman dan kondusif melalui penguatan tata kelola pemerintahan, reformasi birokrasi, kemudahan perizinan, serta peningkatan konektivitas antarwilayah.Pada kesempatan itu, para investor diajak untuk melihat Papua tidak hanya dari sisi kekayaan sumber daya alam, tetapi juga sebagai wilayah masa depan yang memiliki peluang pertumbuhan ekonomi yang besar dan strategis di kawasan timur Indonesia.Dengan dukungan investasi yang tepat dan kolaborasi yang kuat, Papua diyakini mampu tumbuh menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.Melalui Papua Economic & Investment Forum 2026, diharapkan lahir berbagai kerja sama konkret, komitmen investasi baru, serta inovasi pembangunan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Papua dan mendorong terwujudnya Papua yang maju, damai, sejahtera, dan bermartabat. Penulis: Bim Editor: GF 04 Jun 2026, 18:46 WIT
Turunkan 2 Unit Dapur Lapangan, Brimob Metro Jaya Bantu Korban Kebakaran Papuanewsonline.com, Jakarta - Satbrimob Polda Metro Jaya mengerahkan dua unit kendaraan dapur lapangan (Randurlap) untuk membantu warga terdampak kebakaran di kawasan Pasar Jiung, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).Dari dapur lapangan tersebut, personel Brimob Metro Jaya membagikan lebih dari 200 kotak nasi kepada warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian pascakebakaran hebat yang melanda permukiman padat penduduk di belakang Pasar Jiung.Sejak pagi, personel Brimob terlihat menyusuri titik-titik pengungsian sambil menyerahkan makanan siap saji kepada warga, termasuk anak-anak dan lansia. Kehadiran aparat di tengah para korban mendapat respons positif dari masyarakat yang masih berupaya memulihkan kondisi usai kebakaran.Kebakaran yang terjadi sebelumnya diketahui menghanguskan ratusan bangunan semi permanen dan membuat ratusan warga terdampak kehilangan tempat tinggal serta harta benda.Kegiatan kemanusiaan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Dansat Brimob Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Henik Maryanto, agar seluruh personel hadir membantu masyarakat yang sedang mengalami musibah dan memberikan pelayanan kemanusiaan secara cepat di lapangan.“Brimob harus hadir di tengah masyarakat, terutama saat warga sedang mengalami kesulitan. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban para korban kebakaran,” ujarnyaSelain membantu penyaluran makanan, personel Brimob Metro Jaya juga terus bersiaga di sekitar lokasi guna membantu proses pengamanan dan penanganan pascakebakaran bersama unsur terkait. PNO-12 03 Jun 2026, 16:06 WIT
DAD Mimika Soroti Minimnya Peluang Kerja OAP Papuanewsonline.com, Mimika - Dewan Adat Daerah (DAD) Kabupaten Mimika menyoroti persoalan ketenagakerjaan yang terus menjadi keluhan utama masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP) dan pencari kerja lokal. Menurut DAD, berbagai aksi penyampaian aspirasi yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan adanya persoalan mendasar yang belum terselesaikan di daerah yang menjadi pusat industri tambang terbesar di Indonesia tersebut.Berbagai forum, mulai dari rapat dengar pendapat, aksi damai hingga demonstrasi di DPRK Mimika, dinilai memperlihatkan tuntutan yang sama dari masyarakat, yakni adanya keberpihakan yang lebih nyata terhadap tenaga kerja lokal. DAD menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak boleh lagi dianggap sebagai agenda rutin tahunan tanpa solusi yang jelas.Dalam pernyataan opininya, DAD Mimika menyebut masyarakat mulai mempertanyakan sejauh mana kewibawaan Pemerintah Kabupaten Mimika dalam memastikan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di daerah tersebut benar-benar memberikan prioritas kepada tenaga kerja lokal.Menurut DAD, kondisi ini muncul karena di satu sisi perusahaan-perusahaan besar, kontraktor, dan subkontraktor yang beroperasi di lingkungan PT Freeport Indonesia terus melakukan perekrutan tenaga kerja. Namun di sisi lain, jumlah pencari kerja lokal yang belum mendapatkan kesempatan kerja juga terus bertambah dari tahun ke tahun."Tentu DAD tidak mengatakan bahwa PT Freeport Indonesia adalah negara dalam negara. Namun yang dirasakan masyarakat hari ini adalah adanya jarak yang sangat besar antara kebutuhan tenaga kerja lokal dengan mekanisme perekrutan yang berjalan."DAD juga mempertanyakan sejumlah persoalan yang dinilai perlu dijawab secara terbuka oleh semua pihak. Mulai dari minimnya akses informasi lowongan kerja bagi masyarakat lokal, efektivitas penggunaan dana Otonomi Khusus untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia Papua, hingga belum optimalnya sinkronisasi antara kebutuhan industri dengan program pelatihan tenaga kerja yang diselenggarakan pemerintah daerah.Di sisi lain, DAD mengakui bahwa pemerintah daerah, khususnya Dinas Tenaga Kerja, berada dalam posisi yang tidak mudah. Pemerintah harus menjawab tuntutan masyarakat sekaligus berhadapan dengan standar industri yang tinggi dan sistem perekrutan perusahaan yang berjalan secara mandiri. Meski demikian, DAD menegaskan masyarakat tidak boleh terus menjadi korban dari ketidaksinkronan tersebut.DAD Mimika juga menyinggung pelaksanaan Forum Strategis Percepatan Pembangunan Papua yang baru-baru ini digelar di Timika dan dihadiri enam gubernur serta puluhan kepala daerah se-Tanah Papua. Menurut DAD, semangat "Satu Dalam Enam, Enam Dalam Satu" harus diwujudkan dalam bentuk nyata, terutama melalui peningkatan kesempatan kerja bagi anak-anak Papua. "Bukankah ukuran keberhasilan Otsus bukan hanya banyaknya forum dan rapat yang dilaksanakan, melainkan berapa banyak anak Papua yang bekerja dan hidup sejahtera di atas tanahnya sendiri?"Sebagai langkah konkret, DAD Mimika menyatakan akan membuka pendataan dan konsolidasi pencari kerja Orang Asli Papua serta masyarakat lokal yang memenuhi persyaratan kerja. Data tersebut akan digunakan sebagai dasar komunikasi dengan perusahaan-perusahaan kontraktor, subkontraktor, dan mitra usaha di lingkungan PT Freeport Indonesia guna memperjuangkan akses kerja yang lebih luas. DAD menegaskan investasi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat adat, karena "Papua tidak membutuhkan lebih banyak janji. Papua membutuhkan lebih banyak kesempatan kerja. Papua tidak membutuhkan lebih banyak slogan. Papua membutuhkan keberpihakan yang nyata. Dan keberhasilan Otsus akan dinilai dari seberapa banyak anak Papua yang bekerja, bukan dari seberapa banyak rapat yang diselenggarakan." (GF) 03 Jun 2026, 08:54 WIT
Pertamina Turunkan Harga BBM Diesel Nonsubsidi di Papua-Maluku, Mulai Berlaku 1 Juni Papuanewsonline.com, Timika – Pertamina Patra Niaga resmi menerapkan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di wilayah Papua dan Maluku mulai Senin (1/6/2026). Kebijakan ini menghadirkan kabar baik bagi masyarakat dan pelaku usaha, terutama pengguna jenis diesel, dengan penurunan harga yang cukup signifikan untuk Dexlite dan Pertamina Dex, guna mendukung kelancaran mobilitas serta stabilitas ekonomi di kawasan timur Indonesia.Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan pergerakan harga energi global dan ketentuan formula harga yang ditetapkan pemerintah. Langkah ini merupakan wujud komitmen menghadirkan produk berkualitas dengan harga kompetitif, serta tetap memperhatikan daya beli konsumen dan kebutuhan ekonomi masyarakat luas.Berdasarkan ketentuan terbaru, harga Dexlite turun dari Rp26.600 menjadi Rp23.500 per liter, sedangkan Pertamina Dex turun dari Rp28.500 menjadi Rp25.350 per liter. Sementara itu, harga Pertamax tetap di angka Rp12.600 per liter, dan Pertamax Turbo mengalami kenaikan dari Rp20.350 menjadi Rp21.200 per liter. Seluruh harga tersebut sudah termasuk Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor sebesar 7,5 persen.Area Manager Communication Relations & CSR Papua Maluku, Ispiani Abbas, memastikan pasokan BBM di seluruh SPBU aman dan cukup memenuhi kebutuhan. Masyarakat dapat mengecek informasi harga terbaru melalui situs resmi maupun aplikasi MyPertamina, serta mendapatkan produk berkualitas yang menjaga performa kendaraan masing-masing.  Penulis: Jid Editor: GF 01 Jun 2026, 22:14 WIT
Realisasi APBD Mimika Disorot, Dewan Adat dan Pengusaha Desak Pemerintah Selamatkan Ekonomi Papuanewsonline.com, Mimika – Lambatnya realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Mimika Tahun 2026 menjadi perhatian serius berbagai elemen masyarakat Papua. Ketua Dewan Adat Daerah Mimika, Vinsen Oniyoma, bersama Aliansi Peduli Pengusaha Papua Kabupaten Mimika melalui Ketua Faya Naa menyampaikan pernyataan sikap bersama terkait kondisi tersebut.Dalam pernyataannya, mereka menilai keterlambatan realisasi anggaran berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Amungme dan Kamoro sebagai pemilik negeri, lima suku kekerabatan, serta Orang Asli Papua secara umum.Kabupaten Mimika diketahui memiliki APBD tahun 2026 sekitar Rp5,6 hingga Rp5,7 triliun. Namun hingga pertengahan Mei 2026, realisasi anggaran disebut baru mencapai sekitar 11,38 persen. Kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan karena perputaran ekonomi daerah belum berjalan maksimal.Mereka mempertanyakan lambatnya realisasi anggaran meski APBD telah ditetapkan sejak awal tahun. Dalam pernyataan tersebut, muncul pertanyaan terkait kemungkinan adanya persoalan administrasi maupun tarik-menarik kepentingan tertentu yang menyebabkan keterlambatan pelaksanaan program dan proyek pemerintah.“Kenapa realisasi anggaran begitu lambat, padahal APBD sudah ditetapkan sejak awal tahun? Apakah ini murni persoalan administrasi? Ataukah ada tarik-menarik kepentingan tertentu? Atau jangan sampai ada praktik menahan proyek dan anggaran hingga akhir tahun yang akhirnya merugikan rakyat?” demikian bunyi pernyataan sikap tersebut.Dewan Adat dan Aliansi Pengusaha Papua menilai dampak paling besar dirasakan masyarakat kecil. Pengusaha lokal disebut belum dapat bergerak karena proyek pemerintah belum berjalan, sementara pencari kerja Orang Asli Papua masih banyak yang menganggur. Mama-mama Papua, petani, hingga pelaku UMKM juga dinilai mengalami tekanan ekonomi akibat lambatnya perputaran uang daerah.Ketua Dewan Adat Daerah Mimika, Vinsen Oniyoma, menegaskan bahwa pembangunan di Mimika harus benar-benar menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat adat dan Orang Asli Papua.“Masyarakat adat bukan penonton di atas tanahnya sendiri. APBD harus dirasakan rakyat. Jangan sampai anggaran besar tetapi ekonomi masyarakat tetap lumpuh.”Sementara itu, Ketua Aliansi Peduli Pengusaha Papua Kabupaten Mimika, Faya Naa, menilai keterlambatan pelaksanaan proyek pemerintah sangat memukul pengusaha lokal Papua. Menurutnya, kondisi tersebut membuat roda ekonomi daerah berjalan lambat dan berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja.“Jika proyek dan kegiatan terlambat berjalan, maka yang mati pertama adalah ekonomi rakyat kecil. Pengusaha lokal kesulitan bergerak, tenaga kerja tidak terserap, dan perputaran uang di daerah menjadi macet.”Dalam pernyataan sikapnya, mereka meminta Pemerintah Kabupaten Mimika segera mempercepat proses tender dan pelaksanaan kegiatan, mengutamakan pengusaha lokal serta tenaga kerja Orang Asli Papua, dan membuka transparansi terkait hambatan realisasi anggaran. Mereka juga meminta pemerintah menghentikan pola penumpukan proyek pada akhir tahun anggaran. Selain itu, Dewan Adat dan Aliansi Peduli Pengusaha Papua mengajak DPRK, tokoh adat, tokoh gereja, pemuda, akademisi, hingga seluruh elemen masyarakat Papua untuk bersama-sama mengawal penggunaan APBD agar benar-benar berpihak kepada rakyat. Mereka menegaskan bahwa APBD bukan sekadar angka dalam dokumen pemerintah, tetapi menyangkut hak hidup masyarakat Papua di atas tanahnya sendiri. (GF) 21 Mei 2026, 16:02 WIT
Kartu Merah untuk Disnaker Mimika, Penyerapan Tenaga Kerja Lokal Dinilai Belum Maksimal Papuanewsonline.com, Timika – Persoalan penyerapan tenaga kerja lokal kembali menjadi sorotan di Kabupaten Mimika. Masyarakat menilai Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Mimika belum maksimal menjalankan perannya dalam memastikan masyarakat lokal memperoleh akses kerja yang adil dan terbuka di tengah berkembangnya investasi dan industri di daerah tersebut.Penyerapan tenaga kerja dinilai menjadi indikator penting dalam pembangunan daerah. Namun hingga kini, tingginya angka pengangguran dan minimnya informasi kebutuhan tenaga kerja dianggap masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan secara menyeluruh.Dalam evaluasi yang disampaikan sejumlah masyarakat dan pemerhati ketenagakerjaan, Disnaker Mimika dinilai seharusnya lebih proaktif menjalankan fungsi sebagai pelaksana kebijakan penempatan tenaga kerja, pelatihan vokasi, pengawasan norma kerja, hingga penyedia informasi pasar kerja yang mudah diakses masyarakat.“Penyerapan tenaga kerja adalah indikator makro yang sangat dipengaruhi oleh kesesuaian keahlian pencari kerja dengan industri (kualitas SDM), pertumbuhan investasi dan lapangan usaha, serta regulasi ekonomi daerah,” demikian disampaikan dalam pernyataan yang diterima media.Masyarakat juga menyoroti lemahnya pelaksanaan program pelatihan tenaga kerja yang dinilai belum terintegrasi dari hulu hingga hilir. Akibatnya, banyak peserta pelatihan yang masih belum memenuhi persyaratan administrasi tambahan seperti Surat Izin Operator (SIO) maupun Surat Izin Mengemudi (SIM) saat hendak melamar pekerjaan.“Seharusnya Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Mimika lebih Pro aktif Berperan sebagai eksekutor kebijakan penempatan, pelatihan vokasi, pengawasan norma kerja, serta penyedia bursa kerja/informasi pasar kerja. Kesalahan yang mungkin terjadi di tingkat ini adalah kurang optimalnya program pelatihan dari Hulu ke Hilir sehingga Setelah Pelatihan Masih ada syarat yang belum lengkap seperti Sio dan SIM serta lemahnya penyuluhan informasi bursa kerja kepada masyarakat,” tulis pernyataan tersebut.Selain itu, masyarakat juga meminta pemerintah daerah memperkuat regulasi yang mewajibkan perusahaan memberikan prioritas kepada tenaga kerja asli daerah. Salah satu langkah yang diusulkan adalah penerapan kuota khusus bagi pekerja lokal melalui peraturan daerah yang tegas dan memiliki sanksi jelas bagi perusahaan yang melanggar.Tidak hanya itu, Disnaker juga didorong membangun pusat informasi lowongan kerja yang transparan dan mudah diakses masyarakat melalui bursa kerja maupun portal digital resmi. Program pelatihan dan sertifikasi kerja gratis berbasis kebutuhan industri juga dinilai perlu diperluas agar tenaga kerja lokal memiliki daya saing yang lebih baik.Masyarakat turut meminta adanya pengawasan rutin terhadap perusahaan untuk memastikan kepatuhan dalam proses rekrutmen tenaga kerja. Praktik diskriminasi maupun dugaan percaloan tenaga kerja juga diminta segera ditindak melalui mekanisme mediasi dan pengawasan yang jelas.“Sampai saat ini kami Masyakat mimika tidak tau pasti angka kebutuhan lapangan kerja yang tersedia serta Tingkat pengangguran yang sangat Tinggi di Kabupaten Mimika. Semua itu akan Berdampak Negatif Buat Daerah,” demikian pernyataan penutup yang disampaikan. Sorotan terhadap kinerja Disnaker Mimika ini diharapkan menjadi perhatian serius pemerintah daerah agar persoalan tenaga kerja lokal tidak terus menjadi polemik berkepanjangan di tengah besarnya potensi ekonomi dan investasi yang berkembang di Kabupaten Mimika. (GF) 21 Mei 2026, 15:56 WIT
Bapenda Mimika Gandeng Samsat Untuk Data Kendaraan Berplat Luar Guna Mendorong Mutasi Pajak Papuanewsonline.com, Timika – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) berencana bekerja sama dengan Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) untuk melakukan pendataan menyeluruh terhadap kendaraan bermotor berplat nomor luar daerah yang beroperasi aktif di wilayah tersebut.Langkah ini diambil sebagai bentuk pengawasan sekaligus upaya mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), mengingat masih banyak kendaraan yang mencari penghasilan di Mimika namun kewajiban perpajakannya disetorkan di daerah asal.Kepala Bapenda Mimika, Dwi Cholifah, menegaskan pendataan ini bertujuan memetakan jumlah kendaraan yang belum bermutasi, terutama kendaraan niaga dan operasional. Nantinya, data yang terkumpul akan digunakan untuk mendorong para pemilik agar segera mengurus perpindahan administrasi kendaraan sehingga pembayaran pajak dapat disetorkan ke kas daerah. “Kami akan bergerak bersama Samsat memastikan setiap kendaraan yang beraktivitas dan mendapatkan keuntungan di sini turut berkontribusi bagi pembangunan Mimika,” ujarnya.Diperkirakan sekitar 50 hingga 60 persen kendaraan yang ada di Mimika, khususnya truk dan kendaraan berat, masih menggunakan identitas daerah lain. Hal ini dinilai merugikan keuangan daerah karena potensi penerimaan yang seharusnya masuk justru hilang ke daerah lain. Diharapkan setelah data lengkap disusun, sosialisasi dan aturan yang jelas dapat diterapkan agar kepatuhan warga meningkat.  Penulis: Jid Editor: GF 19 Mei 2026, 15:06 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT