Papuanewsonline.com
Berita Terbaru
Lihat semua
"Jangan Bangun Kota Baru Pitowaiburu Jika 3 Hal Ini Belum Beres!" Tegas Dianu Omaleng
Papuanewsonline.com, Mimika - Wacana Kota Baru Pitowaiburu disambut baik. Tapi tokoh masyarakat Dianu Omaleng beri peringatan keras ke Pemda Mimika: Jangan sampai proyek ini hanya jadi mimpi dan merugikan warga.Peringatan itu disampaikan Dianu dalam rilis tertulis ke papuanewsonline.com, Sabtu (22/8/2026).“Pembangunan Kota Baru di Pitowaiburu merupakan tujuan baik, untuk membuka akses pada penduduk yang terisolasi oleh pengembangan luar,” ujar Dianu.Namun menurutnya, ada beberapa catatan penting yang wajib diselesaikan sebelum batu pertama diletakkan.1. JANGAN SAMPAI PENDATANG JADI PENGUASA TANAH ADATDianu mempertanyakan keseriusan Pemda. Apakah kota ini benar-benar untuk kebutuhan mendasar warga Pitowaiburu, atau ada tujuan tak terduga di baliknya?Ia menyorot potensi masuknya pencari kayu gaharu, operator sensor, hingga nelayan dari luar. “Hal seperti ini juga perlu dilihat baik, karena penduduk ini akan menjadi penguasa baru atas tanah dan alam setempat,” tegasnya.Solusinya: Pemda bersama Lembaga Adat wajib segera petakan wilayah adat, tetapkan hak ulayat dan zonasi hutan/pesisir. Kebutuhan dasar warga asli seperti kesehatan, pendidikan, ekonomi lokal harus didahulukan daripada pembangunan fisik seremonial.2. JANGAN BOROSKAN UANG RAKYAT! RAWAN JADI PROYEK MANGKRAKDianu mengingatkan, pembangunan ini pakai uang APBD. Harus dihitung matang.“Memang sudah selayaknya menggunakan APBD untuk kepentingan warga, namun jangan menyepelekan hal-hal yang akan bisa saja menjadi pengeluaran APBD yang cuma-cuma dan akan menjadi proyek mangkrak,” katanya.Dengan kondisi geografis Mimika Barat Jauh dan biaya logistik tinggi, Dianu minta dilakukan studi kelayakan dan analisis biaya-manfaat dulu. Ia sarankan bangun bertahap: dermaga perintis, puskesmas, listrik, telekomunikasi. Jangan langsung paksakan konsep "kota baru" sekaligus.“Waktu pembangunan kota baru harus dipikirkan secara matang, jangan sampai bernasib sama dengan proyek ibu kota baru di Kalimantan,” ujarnya.3. KUNCI DENGAN HUKUM! BIAR TIDAK MATI SAAT GANTI BUPATICatatan terakhir soal politik. Dianu menilai pembangunan ini sangat rawan terhenti saat ada pergantian pemimpin.“Karena berpengaruh pada pemilihan pemimpin baru juga akan menjadi pengaruh pada pembangunan kota baru di Pitowaiburu,” tegasnya.Agar tidak mangkrak, seluruh rencana wajib dikunci dalam RTRW dan RPJPD/RPJMD yang mengikat secara hukum. “Tanpa dasar hukum peruntukan yang kuat dan partisipasi publik, pergantian kepala daerah kerap berujung pada penghentian prioritas anggaran,” pungkasnya.Dianu berharap masukan ini jadi bahan penting bagi Pemda Mimika dan DPRD agar pembangunan benar-benar menyejahterakan masyarakat lokal tanpa mengorbankan hak ulayat dan alam.Hingga berita ini diturunkan, Pemda Mimika belum memberikan tanggapan resmi.Penulis: HendrikEditor: OF
22 Agu 2026, 21:59 WIT
Darurat Api di Boven Digoel: Hampir 20 Kali Kebakaran Hanguskan Wilayah di Musim Kemarau
Papuanewsonline.com, Boven Digoel - Alarm bahaya kebakaran kini berbunyi kencang di Kabupaten Boven Digoel. Memasuki puncak musim kemarau yang panas dan kering, hampir 20 titik kebakaran tercatat terjadi dalam waktu berdekatan. Situasi ini membuat pemerintah daerah angkat suara dan meminta warga untuk siaga penuh.Imbauan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kabupaten Boven Digoel, Yeremias Wagunop, pada Kamis (20/8/2026).Menurut Yeremias, cuaca ekstrem menjadi pemicu utama. Panas yang menyengat dan dedaunan kering membuat api mudah tersulut dan cepat merambat, terutama di kawasan padat permukiman."Ini menjadi perhatian kita bersama. Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan, terutama selama musim kemarau," tegas Yeremias.Kasatpol PP menyoroti kebiasaan yang sering dianggap sepele namun berakibat fatal, seperti membakar sampah dan membuka lahan dengan cara dibakar.Ia meminta warga untuk menghentikan total aktivitas tersebut selama musim kemarau."Jika terpaksa menggunakan api, pastikan api benar-benar padam 100 persen dan tidak meninggalkan bara," terangnya.Tak hanya imbauan, Yeremias juga memberikan strategi penyelamatan dini yang bisa dilakukan setiap keluarga.Ia mendorong setiap RT/RW dan kepala keluarga untuk menyiapkan sumber air cadangan di lingkungan masing-masing, baik berupa ember besar, drum, toren, maupun bak penampungan.Langkah sederhana ini dinilai sangat krusial sebagai pertolongan pertama sebelum mobil pemadam tiba di lokasi."Siapkan sumber air di lingkungan masing-masing dan saling mengingatkan. Keselamatan masyarakat menjadi yang utama," katanya.Pemerintah Kabupaten Boven Digoel mengajak seluruh warga untuk tidak menganggap remeh ancaman kebakaran ini."Dengan kepedulian bersama, saling mengingatkan, dan segera melaporkan jika melihat titik api sekecil apa pun, besar harapan masyarakat bisa melewati musim kemarau tanpa korban," tegasnya.Kasatpol PP berharap masyarakat tetap waspada terhadap kebakaran, menjaga lingkungan, menyiapkan sumber air, dan mengutamakan keselamatan keluarga.Penulis: MuhtarEditor: OF
22 Agu 2026, 18:00 WIT
Perusahaan Migas Dunia Kembali Melirik Indonesia, TotalEnergies Mulai Pengeboran di Papua
Papuanewsonline.com, Jakarta - Sektor hulu minyak dan gas bumi Indonesia kembali mencatat kabar menggembirakan. Perusahaan-perusahaan migas raksasa dunia yang kerap disebut sebagai Seven Sisters mulai kembali menunjukkan keseriusan menanamkan modal di Tanah Air setelah lama tidak melakukan investasi besar. Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyampaikan hal tersebut pada Jumat (21/8/2026), menegaskan bahwa minat investor global kini mulai terlihat nyata, terutama di wilayah perairan lepas pantai atau offshore.“Alhamdulillah Seven Sisters mulai kembali ke Indonesia untuk berinvestasi,” ujar Djoko. Salah satu langkah nyata ditunjukkan TotalEnergies yang akan segera melaksanakan pengeboran bekerja sama dengan Petronas dan Pertamina di wilayah Bobara, Papua. Disusul pula oleh Shell yang disebut tinggal selangkah lagi untuk resmi kembali berinvestasi di Indonesia, mencakup kegiatan eksplorasi, pengembangan lapangan, hingga tahap produksi migas di wilayah perairan lepas pantai.Kabar menggembirakan lainnya datang dari kunjungan manajemen Chevron yang berasal dari Houston dan Singapura yang datang langsung ke SKK Migas pada hari yang sama. Djoko menyambut perkembangan tersebut dengan penuh optimisme.“Paten ini barang, Insya Allah, Aamiin YRA,” ungkapnya menyiratkan harapan besar agar minat tersebut segera mewujud menjadi investasi nyata yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.Kembalinya para pemain migas global ini dinilai sebagai sinyal positif sekaligus momentum berharga bagi Indonesia. Kehadiran mereka membawa pengalaman, teknologi mutakhir, serta kemampuan pendanaan yang kuat untuk membuka wilayah-wilayah eksplorasi baru, termasuk kawasan perairan dalam dan wilayah perbatasan yang belum terjamah. Hal ini sejalan dengan upaya menjaga ketahanan energi nasional serta meningkatkan produksi migas guna memenuhi kebutuhan dalam negeri.Penulis: JidEditor: OF
22 Agu 2026, 15:08 WIT
Tanpa Kepastian Batas, Pembangunan Kapiraya Berisiko Sia-Sia
Papuanewsonline.com, Mimika — Rencana pengembangan kawasan Kapiraya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru Kabupaten Mimika disambut seruan penting dari kalangan pemuda dan tokoh masyarakat. Mereka menegaskan agar keadilan dan kepastian batas wilayah didahulukan sebelum pembangunan fisik dimulai. Kapiraya merupakan titik temu empat wilayah administrasi: Mimika, Deiyai, Dogiyai, dan Kaimana. Selama tapal batas belum disepakati secara bersama, pembangunan apa pun berisiko memicu sengketa, merugikan hak ulayat masyarakat adat, dan terhenti di tengah jalan.Ketidakjelasan batas membuat penguasaan dan pemanfaatan tanah menjadi tidak pasti, sehingga proyek yang dibangun di atas wilayah yang belum jelas statusnya dapat diklaim atau dihentikan sewaktu-waktu. Selain itu, kepentingan dan hak masyarakat di Deiyai, Dogiyai, dan Kaimana juga harus diperhitungkan secara setara, tidak boleh didominasi oleh satu pihak saja. Penentuan batas yang terburu-buru tanpa musyawarah adat justru berpotensi menimbulkan gesekan baru antarwarga maupun antar-pemerintah daerah.Oleh karena itu, masyarakat menyerukan kepada Gubernur Papua Tengah beserta jajaran DPRD Provinsi untuk segera turun tangan melakukan mediasi yang adil, transparan, dan menyeluruh. Mediasi ini harus melibatkan pemerintah daerah keempat kabupaten, Dewan Adat dan tokoh masyarakat setempat, serta instansi terkait guna menelusuri sekaligus memverifikasi data peta dan sejarah wilayah secara terbuka. Hasil kesepakatan nantinya harus ditandatangani bersama dan dipublikasikan agar jelas bagi seluruh pihak.Masyarakat tidak menolak pembangunan, namun menegaskan pembangunan harus berdiri di atas pondasi keadilan dan kepastian hukum. Mereka meminta agar penelusuran batas dilakukan secara jujur bersama para pemangku hak adat, kesepakatan resmi ditandatangani dengan kekuatan hukum yang jelas, perencanaan fisik ditunda hingga batas selesai, serta memastikan tidak ada pihak yang dirugikan haknya. “Selesaikan batasnya dengan jujur dan bersama, barulah kita bisa membangun dengan damai dan kokoh,” tegas perwakilan pemuda, Musa Boma.Masyarakat meminta pemerintah provinsi dan kabupaten terkait:1. Turun Langsung Bersama Tokoh Adat: Lakukan penelusuran batas secara transparan dengan melibatkan pemangku hak adat dari seluruh wilayah yang berbatasan2. Tanda Tangani Kesepakatan Resmi: Hasil penentuan batas harus disepakati bersama dan memiliki kekuatan hukum yang jelas3. Tunda Perencanaan Fisik: Fokuskan energi dan anggaran untuk penyelesaian batas terlebih dahulu sebelum merancang pembangunan wilayah tersebut4. Jaminan Perlindungan: Pastikan tidak ada pihak yang dirugikan haknya akibat proses penataan wilayah ini"Pembangunan yang baik harus berdiri di atas pondasi keadilan dan kepastian. Selesaikan batasnya dengan jujur dan bersama, barulah kita bisa membangun dengan damai dan kokoh," Ujarnya.Penulis: JidEditor: OF
22 Agu 2026, 15:04 WIT
Membangun Mutu Pendidikan Kedokteran di Tanah Papua: FK UNIPA Belajar dari FK UB
Papuanewsonline.com, Malang — Fakultas Kedokteran Universitas Papua (FK UNIPA) melaksanakan studi banding ke Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) dalam rangka mempersiapkan peningkatan akreditasi yang dijadwalkan pada tahun 2028. Kegiatan berlangsung pada Kamis (20/8/2026) di Ruang Senat Gedung Pendidikan Bersama FK UB, sekaligus menjadi ruang pertukaran pengalaman dan pembelajaran yang saling memperkaya kedua belah pihak.Pertemuan dibuka secara resmi oleh sambutan Dekan FK UB, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med, Sp.A(K), dan Dekan FK UNIPA, dr. Herlina Yulidia, Sp.JP. Melalui diskusi kelompok terpimpin, delegasi FK UNIPA mendalami berbagai aspek pengelolaan institusi, meliputi tata kelola akademik, sistem penjaminan mutu, urusan kemahasiswaan, administrasi dan keuangan, hingga pengembangan kelembagaan. Praktik-praktik baik yang telah diterapkan FK UB diharapkan menjadi referensi berharga bagi FK UNIPA dalam menyusun langkah strategis menuju akreditasi yang lebih baik.Wakil Dekan Bidang Akademik FK UB, Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp.JP(K), Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi wahana pembelajaran bersama yang saling menguatkan. “Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wahana pembelajaran bersama, sehingga masing-masing delegasi memperoleh informasi, pengalaman, dan praktik baik yang dapat menjadi referensi dalam pengembangan institusi,” ujarnya. FK UB juga menegaskan bahwa pertukaran pengalaman antarinstitusi merupakan bagian penting dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pendidikan kedokteran.Turut hadir memperkuat diskusi Wakil Dekan Bidang Keuangan Dr. Husnul Khotimah, S.Si, M.Kes, serta Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Dr. dr. Shahdevi Nandar Kurniawan, Sp.S(K). Penyerahan cenderamata menjadi tanda kebersamaan dan harapan agar kerja sama kelembagaan senantiasa terjalin erat. Melalui kunjungan ini, FK UB dan FK UNIPA membuka peluang kolaborasi yang lebih luas guna memperkuat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di masa mendatang.Penulis: JidEditor: OF
22 Agu 2026, 15:01 WIT
Pilihan Redaksi
"Jangan Bangun Kota Baru Pitowaiburu Jika 3 Hal Ini Belum Beres!" Tegas Dianu Omaleng
Papuanewsonline.com, Mimika - Wacana Kota Baru Pitowaiburu disambut baik. Tapi tokoh masyarakat Dianu Omaleng beri peringatan keras ke Pemda Mimika: Jangan sampai proyek ini hanya jadi mimpi dan merugikan warga.Peringatan itu disampaikan Dianu dalam rilis tertulis ke papuanewsonline.com, Sabtu (22/8/2026).“Pembangunan Kota Baru di Pitowaiburu merupakan tujuan baik, untuk membuka akses pada penduduk yang terisolasi oleh pengembangan luar,” ujar Dianu.Namun menurutnya, ada beberapa catatan penting yang wajib diselesaikan sebelum batu pertama diletakkan.1. JANGAN SAMPAI PENDATANG JADI PENGUASA TANAH ADATDianu mempertanyakan keseriusan Pemda. Apakah kota ini benar-benar untuk kebutuhan mendasar warga Pitowaiburu, atau ada tujuan tak terduga di baliknya?Ia menyorot potensi masuknya pencari kayu gaharu, operator sensor, hingga nelayan dari luar. “Hal seperti ini juga perlu dilihat baik, karena penduduk ini akan menjadi penguasa baru atas tanah dan alam setempat,” tegasnya.Solusinya: Pemda bersama Lembaga Adat wajib segera petakan wilayah adat, tetapkan hak ulayat dan zonasi hutan/pesisir. Kebutuhan dasar warga asli seperti kesehatan, pendidikan, ekonomi lokal harus didahulukan daripada pembangunan fisik seremonial.2. JANGAN BOROSKAN UANG RAKYAT! RAWAN JADI PROYEK MANGKRAKDianu mengingatkan, pembangunan ini pakai uang APBD. Harus dihitung matang.“Memang sudah selayaknya menggunakan APBD untuk kepentingan warga, namun jangan menyepelekan hal-hal yang akan bisa saja menjadi pengeluaran APBD yang cuma-cuma dan akan menjadi proyek mangkrak,” katanya.Dengan kondisi geografis Mimika Barat Jauh dan biaya logistik tinggi, Dianu minta dilakukan studi kelayakan dan analisis biaya-manfaat dulu. Ia sarankan bangun bertahap: dermaga perintis, puskesmas, listrik, telekomunikasi. Jangan langsung paksakan konsep "kota baru" sekaligus.“Waktu pembangunan kota baru harus dipikirkan secara matang, jangan sampai bernasib sama dengan proyek ibu kota baru di Kalimantan,” ujarnya.3. KUNCI DENGAN HUKUM! BIAR TIDAK MATI SAAT GANTI BUPATICatatan terakhir soal politik. Dianu menilai pembangunan ini sangat rawan terhenti saat ada pergantian pemimpin.“Karena berpengaruh pada pemilihan pemimpin baru juga akan menjadi pengaruh pada pembangunan kota baru di Pitowaiburu,” tegasnya.Agar tidak mangkrak, seluruh rencana wajib dikunci dalam RTRW dan RPJPD/RPJMD yang mengikat secara hukum. “Tanpa dasar hukum peruntukan yang kuat dan partisipasi publik, pergantian kepala daerah kerap berujung pada penghentian prioritas anggaran,” pungkasnya.Dianu berharap masukan ini jadi bahan penting bagi Pemda Mimika dan DPRD agar pembangunan benar-benar menyejahterakan masyarakat lokal tanpa mengorbankan hak ulayat dan alam.Hingga berita ini diturunkan, Pemda Mimika belum memberikan tanggapan resmi.Penulis: HendrikEditor: OF
22 Agu 2026, 21:59 WIT
Darurat Api di Boven Digoel: Hampir 20 Kali Kebakaran Hanguskan Wilayah di Musim Kemarau
Papuanewsonline.com, Boven Digoel - Alarm bahaya kebakaran kini berbunyi kencang di Kabupaten Boven Digoel. Memasuki puncak musim kemarau yang panas dan kering, hampir 20 titik kebakaran tercatat terjadi dalam waktu berdekatan. Situasi ini membuat pemerintah daerah angkat suara dan meminta warga untuk siaga penuh.Imbauan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kabupaten Boven Digoel, Yeremias Wagunop, pada Kamis (20/8/2026).Menurut Yeremias, cuaca ekstrem menjadi pemicu utama. Panas yang menyengat dan dedaunan kering membuat api mudah tersulut dan cepat merambat, terutama di kawasan padat permukiman."Ini menjadi perhatian kita bersama. Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan, terutama selama musim kemarau," tegas Yeremias.Kasatpol PP menyoroti kebiasaan yang sering dianggap sepele namun berakibat fatal, seperti membakar sampah dan membuka lahan dengan cara dibakar.Ia meminta warga untuk menghentikan total aktivitas tersebut selama musim kemarau."Jika terpaksa menggunakan api, pastikan api benar-benar padam 100 persen dan tidak meninggalkan bara," terangnya.Tak hanya imbauan, Yeremias juga memberikan strategi penyelamatan dini yang bisa dilakukan setiap keluarga.Ia mendorong setiap RT/RW dan kepala keluarga untuk menyiapkan sumber air cadangan di lingkungan masing-masing, baik berupa ember besar, drum, toren, maupun bak penampungan.Langkah sederhana ini dinilai sangat krusial sebagai pertolongan pertama sebelum mobil pemadam tiba di lokasi."Siapkan sumber air di lingkungan masing-masing dan saling mengingatkan. Keselamatan masyarakat menjadi yang utama," katanya.Pemerintah Kabupaten Boven Digoel mengajak seluruh warga untuk tidak menganggap remeh ancaman kebakaran ini."Dengan kepedulian bersama, saling mengingatkan, dan segera melaporkan jika melihat titik api sekecil apa pun, besar harapan masyarakat bisa melewati musim kemarau tanpa korban," tegasnya.Kasatpol PP berharap masyarakat tetap waspada terhadap kebakaran, menjaga lingkungan, menyiapkan sumber air, dan mengutamakan keselamatan keluarga.Penulis: MuhtarEditor: OF
22 Agu 2026, 18:00 WIT
Perusahaan Migas Dunia Kembali Melirik Indonesia, TotalEnergies Mulai Pengeboran di Papua
Papuanewsonline.com, Jakarta - Sektor hulu minyak dan gas bumi Indonesia kembali mencatat kabar menggembirakan. Perusahaan-perusahaan migas raksasa dunia yang kerap disebut sebagai Seven Sisters mulai kembali menunjukkan keseriusan menanamkan modal di Tanah Air setelah lama tidak melakukan investasi besar. Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyampaikan hal tersebut pada Jumat (21/8/2026), menegaskan bahwa minat investor global kini mulai terlihat nyata, terutama di wilayah perairan lepas pantai atau offshore.“Alhamdulillah Seven Sisters mulai kembali ke Indonesia untuk berinvestasi,” ujar Djoko. Salah satu langkah nyata ditunjukkan TotalEnergies yang akan segera melaksanakan pengeboran bekerja sama dengan Petronas dan Pertamina di wilayah Bobara, Papua. Disusul pula oleh Shell yang disebut tinggal selangkah lagi untuk resmi kembali berinvestasi di Indonesia, mencakup kegiatan eksplorasi, pengembangan lapangan, hingga tahap produksi migas di wilayah perairan lepas pantai.Kabar menggembirakan lainnya datang dari kunjungan manajemen Chevron yang berasal dari Houston dan Singapura yang datang langsung ke SKK Migas pada hari yang sama. Djoko menyambut perkembangan tersebut dengan penuh optimisme.“Paten ini barang, Insya Allah, Aamiin YRA,” ungkapnya menyiratkan harapan besar agar minat tersebut segera mewujud menjadi investasi nyata yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.Kembalinya para pemain migas global ini dinilai sebagai sinyal positif sekaligus momentum berharga bagi Indonesia. Kehadiran mereka membawa pengalaman, teknologi mutakhir, serta kemampuan pendanaan yang kuat untuk membuka wilayah-wilayah eksplorasi baru, termasuk kawasan perairan dalam dan wilayah perbatasan yang belum terjamah. Hal ini sejalan dengan upaya menjaga ketahanan energi nasional serta meningkatkan produksi migas guna memenuhi kebutuhan dalam negeri.Penulis: JidEditor: OF
22 Agu 2026, 15:08 WIT
Tanpa Kepastian Batas, Pembangunan Kapiraya Berisiko Sia-Sia
Papuanewsonline.com, Mimika — Rencana pengembangan kawasan Kapiraya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru Kabupaten Mimika disambut seruan penting dari kalangan pemuda dan tokoh masyarakat. Mereka menegaskan agar keadilan dan kepastian batas wilayah didahulukan sebelum pembangunan fisik dimulai. Kapiraya merupakan titik temu empat wilayah administrasi: Mimika, Deiyai, Dogiyai, dan Kaimana. Selama tapal batas belum disepakati secara bersama, pembangunan apa pun berisiko memicu sengketa, merugikan hak ulayat masyarakat adat, dan terhenti di tengah jalan.Ketidakjelasan batas membuat penguasaan dan pemanfaatan tanah menjadi tidak pasti, sehingga proyek yang dibangun di atas wilayah yang belum jelas statusnya dapat diklaim atau dihentikan sewaktu-waktu. Selain itu, kepentingan dan hak masyarakat di Deiyai, Dogiyai, dan Kaimana juga harus diperhitungkan secara setara, tidak boleh didominasi oleh satu pihak saja. Penentuan batas yang terburu-buru tanpa musyawarah adat justru berpotensi menimbulkan gesekan baru antarwarga maupun antar-pemerintah daerah.Oleh karena itu, masyarakat menyerukan kepada Gubernur Papua Tengah beserta jajaran DPRD Provinsi untuk segera turun tangan melakukan mediasi yang adil, transparan, dan menyeluruh. Mediasi ini harus melibatkan pemerintah daerah keempat kabupaten, Dewan Adat dan tokoh masyarakat setempat, serta instansi terkait guna menelusuri sekaligus memverifikasi data peta dan sejarah wilayah secara terbuka. Hasil kesepakatan nantinya harus ditandatangani bersama dan dipublikasikan agar jelas bagi seluruh pihak.Masyarakat tidak menolak pembangunan, namun menegaskan pembangunan harus berdiri di atas pondasi keadilan dan kepastian hukum. Mereka meminta agar penelusuran batas dilakukan secara jujur bersama para pemangku hak adat, kesepakatan resmi ditandatangani dengan kekuatan hukum yang jelas, perencanaan fisik ditunda hingga batas selesai, serta memastikan tidak ada pihak yang dirugikan haknya. “Selesaikan batasnya dengan jujur dan bersama, barulah kita bisa membangun dengan damai dan kokoh,” tegas perwakilan pemuda, Musa Boma.Masyarakat meminta pemerintah provinsi dan kabupaten terkait:1. Turun Langsung Bersama Tokoh Adat: Lakukan penelusuran batas secara transparan dengan melibatkan pemangku hak adat dari seluruh wilayah yang berbatasan2. Tanda Tangani Kesepakatan Resmi: Hasil penentuan batas harus disepakati bersama dan memiliki kekuatan hukum yang jelas3. Tunda Perencanaan Fisik: Fokuskan energi dan anggaran untuk penyelesaian batas terlebih dahulu sebelum merancang pembangunan wilayah tersebut4. Jaminan Perlindungan: Pastikan tidak ada pihak yang dirugikan haknya akibat proses penataan wilayah ini"Pembangunan yang baik harus berdiri di atas pondasi keadilan dan kepastian. Selesaikan batasnya dengan jujur dan bersama, barulah kita bisa membangun dengan damai dan kokoh," Ujarnya.Penulis: JidEditor: OF
22 Agu 2026, 15:04 WIT
Membangun Mutu Pendidikan Kedokteran di Tanah Papua: FK UNIPA Belajar dari FK UB
Papuanewsonline.com, Malang — Fakultas Kedokteran Universitas Papua (FK UNIPA) melaksanakan studi banding ke Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) dalam rangka mempersiapkan peningkatan akreditasi yang dijadwalkan pada tahun 2028. Kegiatan berlangsung pada Kamis (20/8/2026) di Ruang Senat Gedung Pendidikan Bersama FK UB, sekaligus menjadi ruang pertukaran pengalaman dan pembelajaran yang saling memperkaya kedua belah pihak.Pertemuan dibuka secara resmi oleh sambutan Dekan FK UB, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med, Sp.A(K), dan Dekan FK UNIPA, dr. Herlina Yulidia, Sp.JP. Melalui diskusi kelompok terpimpin, delegasi FK UNIPA mendalami berbagai aspek pengelolaan institusi, meliputi tata kelola akademik, sistem penjaminan mutu, urusan kemahasiswaan, administrasi dan keuangan, hingga pengembangan kelembagaan. Praktik-praktik baik yang telah diterapkan FK UB diharapkan menjadi referensi berharga bagi FK UNIPA dalam menyusun langkah strategis menuju akreditasi yang lebih baik.Wakil Dekan Bidang Akademik FK UB, Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp.JP(K), Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi wahana pembelajaran bersama yang saling menguatkan. “Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wahana pembelajaran bersama, sehingga masing-masing delegasi memperoleh informasi, pengalaman, dan praktik baik yang dapat menjadi referensi dalam pengembangan institusi,” ujarnya. FK UB juga menegaskan bahwa pertukaran pengalaman antarinstitusi merupakan bagian penting dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pendidikan kedokteran.Turut hadir memperkuat diskusi Wakil Dekan Bidang Keuangan Dr. Husnul Khotimah, S.Si, M.Kes, serta Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Dr. dr. Shahdevi Nandar Kurniawan, Sp.S(K). Penyerahan cenderamata menjadi tanda kebersamaan dan harapan agar kerja sama kelembagaan senantiasa terjalin erat. Melalui kunjungan ini, FK UB dan FK UNIPA membuka peluang kolaborasi yang lebih luas guna memperkuat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di masa mendatang.Penulis: JidEditor: OF
22 Agu 2026, 15:01 WIT
Berita utama
Hukum & Kriminal
Politik & Pemerintahan
Berita Populer
Tag Berita
Pendidikan & Kesehatan
Lihat semua
Membangun Mutu Pendidikan Kedokteran di Tanah Papua: FK UNIPA Belajar dari FK UB
Papuanewsonline.com, Malang — Fakultas Kedokteran Universitas Papua (FK UNIPA) melaksanakan studi banding ke Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) dalam rangka mempersiapkan peningkatan akreditasi yang dijadwalkan pada tahun 2028. Kegiatan berlangsung pada Kamis (20/8/2026) di Ruang Senat Gedung Pendidikan Bersama FK UB, sekaligus menjadi ruang pertukaran pengalaman dan pembelajaran yang saling memperkaya kedua belah pihak.Pertemuan dibuka secara resmi oleh sambutan Dekan FK UB, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med, Sp.A(K), dan Dekan FK UNIPA, dr. Herlina Yulidia, Sp.JP. Melalui diskusi kelompok terpimpin, delegasi FK UNIPA mendalami berbagai aspek pengelolaan institusi, meliputi tata kelola akademik, sistem penjaminan mutu, urusan kemahasiswaan, administrasi dan keuangan, hingga pengembangan kelembagaan. Praktik-praktik baik yang telah diterapkan FK UB diharapkan menjadi referensi berharga bagi FK UNIPA dalam menyusun langkah strategis menuju akreditasi yang lebih baik.Wakil Dekan Bidang Akademik FK UB, Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp.JP(K), Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi wahana pembelajaran bersama yang saling menguatkan. “Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wahana pembelajaran bersama, sehingga masing-masing delegasi memperoleh informasi, pengalaman, dan praktik baik yang dapat menjadi referensi dalam pengembangan institusi,” ujarnya. FK UB juga menegaskan bahwa pertukaran pengalaman antarinstitusi merupakan bagian penting dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pendidikan kedokteran.Turut hadir memperkuat diskusi Wakil Dekan Bidang Keuangan Dr. Husnul Khotimah, S.Si, M.Kes, serta Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Dr. dr. Shahdevi Nandar Kurniawan, Sp.S(K). Penyerahan cenderamata menjadi tanda kebersamaan dan harapan agar kerja sama kelembagaan senantiasa terjalin erat. Melalui kunjungan ini, FK UB dan FK UNIPA membuka peluang kolaborasi yang lebih luas guna memperkuat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di masa mendatang.Penulis: JidEditor: OF
22 Agu 2026, 15:01 WIT
Karhutla dan Cuaca Kering, Dinkes Papua Tengah Siagakan Puluhan Ribu Masker Cegah Lonjakan ISPA
Papuanewsonline.com, Nabire — Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah mengambil langkah cepat mengantisipasi potensi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat asap kebakaran hutan dan lahan serta cuaca yang kering belakangan ini. Puluhan ribu lembar masker telah disiapkan dan pemantauan kesehatan diperketat guna menjaga kesejahteraan masyarakat di tengah kondisi lingkungan yang kurang bersahabat.Langkah pencegahan ini diambil sejak dini agar tidak menimbulkan dampak kesehatan yang meluas.Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Papua Tengah, dr. Agus, menjelaskan bahwa data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons mulai menunjukkan adanya tren kenaikan kasus ISPA. Meski angka tersebut belum melonjak secara drastis, pihaknya menegaskan tidak boleh lengah dan harus segera mengambil langkah penanganan.“Data SKDR menunjukkan mulai ada kenaikan kasus ISPA walau belum signifikan, namun kami tidak boleh lengah,” ujar dr. Agus di Nabire, Sabtu (22/8/2026).Sebagai langkah nyata, Dinkes telah menyiapkan obat batuk, vitamin, serta mengamankan stok masker tiga lapis sebanyak 23 karton atau sekitar 60 ribu lembar. Petugas juga dikerahkan membagikan sedikitnya 1.000 masker setiap hari di tempat-tempat umum. Armada ambulans pun disiapkan guna merespons kondisi darurat warga yang mengalami gangguan pernapasan berat. Kegiatan Car Free Day di Nabire masih diizinkan demi menjaga perekonomian warga, namun kebijakan tersebut akan terus dievaluasi sesuai perkembangan kualitas udara.Pemerintah daerah menghimbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan yang dapat memperburuk kualitas udara. Warga dianjurkan disiplin menggunakan masker saat keluar rumah, menjaga sirkulasi udara di dalam rumah, memperbanyak minum air putih, serta mengonsumsi makanan bergizi guna menjaga daya tahan tubuh. Jika mengalami gejala batuk pilek lebih dari tiga hari, demam tinggi, napas sesak, atau muncul warna kebiruan pada bibir dan kulit, segera periksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.Penulis: JidEditor: OF
22 Agu 2026, 14:41 WIT
Tim SAR Evakuasi Jenazah Relawan Kemanusiaan Gempa Flores Dengan Helikopter Basarnas
Papuanewsonline.com, Manggarai Timur — Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah seorang relawan kemanusiaan yang meninggal dunia saat menjalankan misi penanganan bencana pascagempa Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores.Korban diketahui bernama Ahmad Zaki Ali (38), pendiri Relawan Gerak Bareng. Ia dilaporkan meninggal dunia akibat kelelahan ketika menjalankan misi pendistribusian bantuan dari Reo, Kabupaten Manggarai, menuju Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Jumat petang (21/8/2026).Kantor SAR Maumere bersama sejumlah potensi SAR bergerak melakukan proses evakuasi untuk membawa jenazah keluar dari lokasi bencana. Evakuasi dilakukan menggunakan Helikopter Dauphin Basarnas.Deputi Operasi dan Siaga Basarnas Mayjen TNI (Mar) Edy Prakoso mengatakan proses evakuasi dilakukan secara cepat agar jenazah dapat segera dibawa keluar dari wilayah terdampak dan selanjutnya dipulangkan ke Jakarta.“Pukul 07.04 WITA, Tim Heli Dauphin Basarnas telah mendarat di Helipad Kampung Ronting, Desa Satar Kampas, Kabupaten Manggarai Timur, dan langsung memproses evakuasi jenazah almarhum Ahmad Zaki Ali,” ujar Edy.Setelah berhasil dievakuasi dari lokasi penanganan bencana, Helikopter Dauphin Basarnas membawa jenazah menuju Bandara Komodo, Labuan Bajo.Setibanya di Labuan Bajo, jenazah kemudian dibawa ke RSUD Pratama Komodo untuk menjalani proses pemulasaraan sebelum melanjutkan perjalanan menuju rumah duka di Jakarta.Ahmad Zaki Ali diketahui merupakan relawan yang turut terlibat dalam pendistribusian bantuan bagi masyarakat terdampak gempa di wilayah Flores. Ia menjalankan misi kemanusiaan di tengah kondisi bencana yang masih membutuhkan penanganan dari berbagai pihak.Kantor SAR Maumere bersama seluruh potensi SAR menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya Ahmad Zaki Ali. Kepergiannya menjadi duka bagi para relawan dan seluruh pihak yang terlibat dalam upaya penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur.Dedikasi Ahmad Zaki dalam membantu masyarakat terdampak bencana dinilai menjadi bagian dari perjuangan kemanusiaan di tengah situasi sulit pascagempa.Tim SAR juga terus melaksanakan koordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan proses evakuasi dan penanganan korban bencana dapat berjalan dengan baik.Evakuasi jenazah tersebut sekaligus menunjukkan dukungan berbagai unsur dalam penanganan situasi darurat di wilayah Flores, termasuk membantu para relawan yang menjalankan tugas kemanusiaan di lokasi terdampak.Jenazah Ahmad Zaki selanjutnya dipersiapkan untuk dipulangkan ke Jakarta dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman.Editor: OF
22 Agu 2026, 12:08 WIT
PELNI Dan Pelindo Buka Posko Bersama Untuk Galang Bantuan Gempa NTT
Papuanewsonline.com, Jakarta — PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) bersama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) membuka Posko Bersama Bantuan Kemanusiaan untuk masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).Posko tersebut berada di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, dan dibentuk di bawah dukungan Kementerian Perhubungan RI sebagai bagian dari upaya mempercepat pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah terdampak bencana.Kehadiran posko menjadi wadah bagi instansi, lembaga, maupun komunitas yang ingin menyalurkan bantuan melalui jalur laut. Barang bantuan yang dikirim menggunakan kapal penumpang PELNI mendapatkan pembebasan tarif muatan sebesar 100 persen.Plh. Kepala KSOP Kelas Utama Tanjung Priok Kurniawan mengatakan, pemerintah bersama PELNI dan Pelindo berkomitmen memastikan proses pengiriman bantuan kemanusiaan ke NTT berjalan lancar.“Pemerintah memberikan dukungan penuh agar program bantuan kemanusiaan untuk saudara-saudara kita di NTT dapat berjalan dengan baik. Pemberian potongan harga 100 persen untuk tarif muatan barang di kapal penumpang PELNI merupakan bentuk dukungan dalam situasi khusus seperti bencana,” ujar Kurniawan.Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Yandri Trisaputra mengatakan, Posko Bersama dibentuk untuk memudahkan berbagai pihak dalam menyalurkan bantuan melalui mekanisme yang terkoordinasi.“Pelindo bersama KSOP dan PELNI menyiapkan Posko Bersama Bantuan Kemanusiaan di Pelabuhan Tanjung Priok sebagai bentuk kolaborasi untuk mendukung percepatan penanganan bencana di NTT,” ujar Yandri.Ia mengajak instansi, lembaga, maupun komunitas yang ingin memberikan bantuan untuk memanfaatkan posko tersebut. Pelindo akan mendukung proses penerimaan hingga pengiriman bantuan melalui fasilitas dan layanan kepelabuhanan yang tersedia.Kepala Cabang PELNI Jakarta Muhammad Ardiansyah juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan, atas dukungan terhadap program pengiriman bantuan kemanusiaan tersebut.“Kami berterima kasih sebesar-besarnya kepada Pemerintah dan Kementerian Perhubungan RI yang telah memberikan penugasan melalui pembebasan tarif muatan barang ini untuk meringankan penderitaan para korban bencana di NTT,” kata Ardiansyah.Ardiansyah mengajak instansi dan lembaga lainnya yang ingin memanfaatkan fasilitas pengiriman bantuan gratis untuk menyerahkan barang bantuan melalui Posko Bersama di Terminal Nusantara, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.Kapal PELNI berikutnya yang dijadwalkan menuju Maumere dari Pelabuhan Tanjung Priok adalah KM Tidar pada 29 Agustus 2026. Kapal tersebut diperkirakan tiba di Maumere pada 2 September 2026.Melalui kolaborasi bersama Kementerian Perhubungan, KSOP, Pelindo, serta berbagai instansi dan lembaga, PELNI berkomitmen mendukung distribusi bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa di NTT melalui konektivitas laut.PELNI saat ini mengoperasikan 84 kapal yang terdiri atas 26 kapal penumpang, 30 kapal perintis, 18 kapal rede, sembilan kapal tol laut, dan satu kapal ternak. Layanan tersebut menjangkau berbagai wilayah Indonesia melalui jaringan pelayaran dan pelabuhan yang luas.Editor: OF
22 Agu 2026, 12:05 WIT
Dari Temuan Ekspedisi Patriot ITB 2025 hingga Air Bersih untuk Senggi: ITB Hadir Bersama Masyarakat
Papuanewsonline.com, Keerom — Ketersediaan air bersih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat di kawasan transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. Persoalan ini menjadi perhatian Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak Evaluasi Kawasan Transmigrasi melalui Program Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi pada 2025, ketika ITB menjadi salah satu perguruan tinggi yang terlibat.Kawasan transmigrasi SP1 dan SP2 di Distrik Senggi merupakan kawasan yang telah berkembang dan relatif padat. Meskipun sumber air tanah tersedia cukup melimpah, masyarakat masih menghadapi persoalan kualitas air. Air yang digunakan sehari-hari dilaporkan dalam kondisi keruh dan berbau, sehingga pemanfaatannya menjadi kurang nyaman dan menimbulkan kekhawatiran terkait kualitas air untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan hanya untuk mandi sekalipun. Tidak sedikit yang juga menghadapi permasalahan gatal kulit.Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa karakteristik air tersebut diduga berkaitan dengan kondisi geologi dan lingkungan setempat. Material tanah liat atau partikel halus yang terbawa dalam air dapat menyebabkan kekeruhan, sementara kandungan mineral tertentu, seperti besi, serta kemungkinan keberadaan bahan organik dapat berkontribusi terhadap warna, rasa, maupun bau air.Gambar 1. Kondisi awal air tanpa filterBerawal dari Temuan, Berlanjut Menjadi KepedulianTemuan tersebut mendorong ITB untuk memberikan tindak lanjut melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Bottom-Up ITB 2026 yang merupakan salah satu program unggulan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Kepakaran (DPMK) ITB. Usulan kebutuhan masyarakat yang disampaikan melalui aplikasi Desanesha kemudian dikembangkan bersama dosen ITB menjadi program penyediaan sistem filtrasi air bersih.Dalam pelaksanaannya, ITB menggandeng Universitas Cenderawasih, khususnya Program Studi Kimia, sebagai mitra perguruan tinggi lokal. Tim juga berkoordinasi dengan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro yang sedang bertugas di Senggi. Kolaborasi ini mempertemukan kompetensi perguruan tinggi dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat setempat.Air Bersih untuk SenggiKegiatan dilaksanakan pada 14–17 Agustus 2026, dengan puncak kegiatan pada 16 Agustus. Program mencakup penyediaan dan pemasangan sistem filtrasi pada dua titik di SP1 dan SP2, sementara satu unit lainnya direncanakan untuk dipasang secara mandiri oleh masyarakat.Sistem filtrasi dirancang berdasarkan karakteristik air setempat dengan menggunakan beberapa media, antara lain pasir silika dan karbon aktif. Media tersebut ditujukan untuk membantu mengurangi partikel penyebab kekeruhan serta senyawa yang berkontribusi terhadap bau. Air dialirkan menggunakan pompa melalui media filter sehingga proses penyaringan berlangsung lebih terkontrol dibandingkan penampungan terbuka yang sebelumnya digunakan.Gambar 2. Dokumentasi selama kegiatan pemasangan filter air di SP1Pemasangan Bersama MasyarakatTeknologi yang diberikan tidak sekadar diserahkan, tetapi dipasang dan diperkenalkan bersama masyarakat. Kegiatan diawali dengan sosialisasi dan serah terima simbolis, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan secara gotong royong. Masyarakat terlibat dalam penyiapan lokasi, pemasangan komponen dan pipa, hingga pengenalan pengoperasian sistem. Pendekatan ini diharapkan membantu masyarakat memahami sistem sekaligus mendukung pengelolaan dan pemeliharaannya secara mandiri.Di SP1, sistem filtrasi dipasang di Masjid Al-Muhajirin, salah satu fasilitas umum yang banyak dimanfaatkan masyarakat. Sebelumnya, air yang digunakan masih keruh dan berbau, sementara penampungan dalam bak terbuka memungkinkan terjadinya kontaminasi dari lingkungan sekitar.Gambar 3. Tim dari ITB dan kampus mitra Bersama dengan warga memasang filter dan penampungan airMelalui sistem baru, air dipompa dan dialirkan melewati media penyaring sebelum masuk ke penampungan. Setelah pemasangan dan pengujian, perangkat diserahterimakan kepada Ketua DKM Masjid Al-Muhajirin, Bapak Nashirudin, untuk digunakan dan dikelola. Beliau mengungkapakan rasa terima kasih yang besar atas inisiatif dan kepedulian yang berbuah bukti nyata ini.Di SP2, bau air menjadi salah satu persoalan utama yang disampaikan masyarakat. Karena itu, unit filtrasi lebih menekankan penggunaan karbon aktif sebagai media penyaring untuk membantu mengurangi senyawa penyebab bau. Pemasangan dilakukan bersama warga sekaligus memberikan pemahaman mengenai pengoperasian dan pemeliharaan sistem. Setelah selesai dipasang dan diperiksa, unit diserahkan kepada Ondoafi/Kepala Kampung, Bapak Patras, untuk dikelola bersama masyarakat.Gambar 4. Diskusi dan penyerahan bantuan secara simbolis dan pemasangan filter air di SP2Melalui “Air Bersih untuk Senggi”, ITB dengan program pengabdian masyarakatnya bersama Universitas mitra dan masyarakat setempat berupaya menindaklanjuti temuan Ekspedisi Patriot menjadi aksi nyata. Program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam meningkatkan akses terhadap air yang lebih bersih sekaligus memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengelola fasilitas air bersih secara berkelanjutan.Gambar 5. Proses uji tabung utama filter air dan foto bersama tim dengan warga setelah serah terimaEditor: OF
21 Agu 2026, 16:04 WIT
190.597 Kasus Malaria 2025, Amungsa Foundation & UNICEF Desak DPRK Mimika Segera Sahkan Perda
Papuanewsonline.com, Mimika — Beban malaria di Kabupaten Mimika masih sangat tinggi. Data Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah mencatat sepanjang 2025 Mimika menyumbang 190.597 kasus dari total 204.068 kasus di 8 kabupaten se-Papua Tengah.Melihat kondisi tersebut, Amungsa Foundation bersama UNICEF melakukan audiensi dengan Ketua Komisi C DPRK Mimika, Herman Ghafur, S.E. Kamis (20/8/2026) di Ruang Ketua Komisi C DPRK Mimika. Audiensi ini secara khusus membahas dorongan terbentuknya Peraturan Daerah tentang malaria di Kabupaten Mimika.Pertemuan tersebut menjadi bagian upaya mendorong penanganan malaria yang lebih terarah, berkelanjutan, dan memiliki kepastian hukum. Keberadaan Perda dinilai krusial agar program pencegahan dan penanggulangan tidak bergantung pada kebijakan yang dapat berubah, melainkan menjadi komitmen pemerintah daerah dengan landasan hukum jelas.Pemeriksaan 1,1 Juta Orang, Puskesmas Wania TertinggiTingginya beban malaria tercermin dari masifnya pemeriksaan. Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika melakukan pemeriksaan terhadap lebih dari 1,1 juta orang pada 2025. Angka ini meningkat signifikan dibanding 704 ribu pemeriksaan di 2024.Di tingkat fasilitas kesehatan, Puskesmas Wania mencatat pemeriksaan tertinggi. Sepanjang 2025, Puskesmas Wania memeriksa 139.083 orang dan menemukan 19.314 kasus positif malaria dengan positivity rate 13,89 persen. Herman Ghafur: Kesehatan Adalah Hak Dasar, Harus Ada Payung HukumKetua Komisi C DPRK Mimika, Herman Ghafur, S.E., menegaskan pentingnya payung hukum untuk memastikan pelayanan dasar berjalan berkelanjutan.“Bantuan pendidikan itu harus terlembaga menjadi payung hukum, bukan sekadar program kerja. Khususnya di sektor kesehatan, ini kan hak dasar masyarakat yang menjadi unsur penting dalam HAM. Maka harus ada jaminan pasti terkait dua hak tersebut,” tegas Herman.Menurutnya, penanganan malaria harus ditempatkan sebagai agenda pembangunan yang memiliki dasar hukum dan dukungan kebijakan kuat.Dorong Sinergi Lintas Sektor untuk EliminasiDalam audiensi, Amungsa Foundation dan UNICEF mendorong sinergi legislatif, pemerintah daerah, lembaga masyarakat, dan mitra pembangunan dalam merumuskan kebijakan penguatan eliminasi malaria.Pembentukan Perda tentang malaria diharapkan memperjelas peran dan tanggung jawab pemangku kepentingan, memperkuat pembiayaan dan program pencegahan, meningkatkan pelayanan kesehatan, serta memastikan keberlanjutan pengendalian malaria di Mimika.Pertemuan ini menjadi langkah awal membangun komitmen bersama agar persoalan malaria dipandang sebagai isu pembangunan dan pemenuhan hak dasar masyarakat yang membutuhkan kebijakan daerah kuat, terukur, dan berkelanjutan.Dengan beban kasus yang masih sangat tinggi, Perda diharapkan menjadi fondasi strategi pengendalian malaria jangka panjang Pemerintah Kabupaten Mimika bersama DPRK, masyarakat, dan mitra pembangunan.Penulis: HendrikEditor: OF
21 Agu 2026, 13:48 WIT
Seni & Budaya
Lihat semua
Oyandi Papua Bawa Pesan Budaya Tanah Papua ke Panggung Internasional di Belanda
Papuanewsonline.com, Amsterdam — Grup seni dan musik asal Papua, Oyandi Papua, tampil memukau dalam ajang Pacific Roots Fest 2026 yang berlangsung di IJland, Amsterdam, Belanda, pada 15–16 Agustus 2026. Kehadiran mereka menjadi momen bersejarah sekaligus jendela luas bagi dunia untuk mengenal kekayaan seni, musik, tari, dan identitas budaya yang tumbuh subur di tanah Papua. Ajang ini sendiri merupakan pertemuan besar berbagai komunitas budaya dari kawasan Pasifik yang merayakan warisan leluhur melalui karya seni, musik, hingga kekayaan kuliner khas kepulauan PasifikBagi Oyandi Papua, undangan tampil di Amsterdam bukan sekadar penampilan biasa. Lebih dari itu, kehadiran mereka membawa pesan luhur untuk memperkenalkan wajah Papua yang sesungguhnya kepada dunia sekaligus menjaga agar identitas budaya tetap terjaga di tengah arus perubahan zaman. Melalui setiap nada musik, irama lagu, dan gerak tari yang dibawakan, mereka berupaya menghadirkan warna dan jiwa Papua di hadapan masyarakat internasional yang hadir memadati lokasi festival.“Kami datang bukan hanya untuk tampil, tetapi membawa cerita tentang Papua. Setiap lagu, gerakan, dan musik yang kami tampilkan adalah bagian dari identitas dan kekayaan budaya Papua yang ingin kami perkenalkan kepada dunia,” ujar perwakilan Oyandi Papua. Semangat ini adalah bagian dari perjalanan panjang kelompok tersebut dalam menjaga bahasa, musik, nilai-nilai luhur, serta ekspresi seni yang menjadi jati diri masyarakat Papua sejak turun-temurun.Festival ini menjadi ruang pertemuan yang hangat sekaligus wadah memperkuat hubungan persaudaraan antarmasyarakat seantero Pasifik. Suara dan keberagaman budaya yang ditampilkan menjadi bukti bahwa kekayaan warisan leluhur adalah anugerah yang patut dijaga dan dibanggakan.Bagi Oyandi Papua, panggung ini adalah langkah awal yang membanggakan untuk membawa nama Papua semakin dikenal dan dihargai di mata dunia.Ke depan, Oyandi Papua berharap dapat terus membangun jejaring persahabatan lintas negara, membuka ruang kolaborasi seni, serta menghadirkan karya-karya Papua yang memukau di berbagai panggung dunia.Penulis: JidEditor: OF
22 Agu 2026, 14:57 WIT
Upacara Di Grasberg Disorot, Warga: SOP Keselamatan Dilanggar, Martabat Adat Terancam
Papuanewsonline.com, Mimika - Pelaksanaan kegiatan peringatan kemerdekaan di kawasan dataran tinggi Grasberg menuai sorotan. Warga mendesak evaluasi terhadap prosedur keselamatan kerja dan perlindungan hak masyarakat adat.Sorotan itu disampaikan dalam rilis tertulis yang diterima papuanewsonline.com, Jumat (21/8/2026) oleh Dianu Omaleng.Dalam rilis tersebut disebutkan kegiatan yang melibatkan aparat keamanan dan warga dengan mengenakan pakaian adat tradisional perlu dievaluasi mendalam. "Kawasan Grasberg yang berada di ketinggian ekstrem memiliki kondisi cuaca bersuhu sangat rendah dan risiko tinggi. Berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) serta regulasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) industri, setiap aktivitas di zona tersebut wajib mengedepankan perlindungan fisik dan keselamatan peserta," tulis rilis.Rilis itu menyoroti pelibatan masyarakat adat dengan pakaian tradisional tanpa perlengkapan proteksi cuaca dingin. Hal itu dinilai tidak memperhatikan aspek keselamatan fisik warga di medan ekstrem dan berpotensi melanggar standar keselamatan kerja yang berlaku di wilayah operasional industri.3 Desakan Warga Kepada Pengelola GrasbergMelalui rilisnya, warga menyampaikan 3 tuntutan:1. Evaluasi Prosedur OperasionalMemastikan seluruh kegiatan seremonial di area operasional mematuhi SOP keselamatan kerja dan standar K3 secara ketat.2. Hormati Martabat Budaya LokalMelindungi keselamatan fisik warga adat dalam setiap kegiatan resmi tanpa memaksakan situasi yang bertentangan dengan standar keselamatan medan ekstrem.3. Buka Ruang DialogMembuka ruang penyampaian aspirasi publik secara transparan demi menjaga keharmonisan antara masyarakat, pengelola kawasan, dan aparat keamanan."Masyarakat berharap pihak penyelenggara dan pengelola kawasan memberikan klarifikasi terbuka serta memastikan kepatuhan terhadap seluruh aturan demi keselamatan bersama," demikian penutup rilis.Kawasan Grasberg berada di ketinggian lebih dari 4.000 mdpl dengan suhu ekstrem. Area tersebut merupakan wilayah operasional pertambangan di Mimika, Papua Tengah.Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Freeport Indonesia dan aparat keamanan di kawasan Grasberg belum memberikan tanggapan resmi. papuanewsonline.com masih berupaya menghubungi pihak terkait.Penulis: HendrikEditor: OF
21 Agu 2026, 22:30 WIT
Patung Yesus Memberkati Setinggi 25 M di Papua Menuju Penyelesaian, Akan Diresmikan November 2026
Papuanewsonline.com, Keerom - Pembangunan Patung Yesus Memberkati yang menjulang setinggi 25 meter di Kampung Yowong, Distrik Arso Barat, Kabupaten Keerom, Papua, kini memasuki tahap penyelesaian. Foto udara yang diambil pada Selasa (18/8/2026) memperlihatkan bentuk keseluruhan patung yang megah itu tampak hampir rampung.Situs rohani yang mulai dibangun sejak peletakan batu pertama pada Desember 2022 ini dijadwalkan akan resmi diresmikan pada November 2026 mendatang.Terletak tak jauh dari garis perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini, kehadiran patung ini direncanakan menjadi ikon wisata religi yang baru sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Keerom. Keindahan dan keunikan situs ini diharapkan mampu menarik kunjungan wisatawan dari berbagai penjuru, sehingga turut membangkitkan perekonomian masyarakat setempat melalui sektor pariwisata.Selain berfungsi sebagai tempat ibadah dan kegiatan keagamaan, kawasan Patung Yesus Memberkati juga dirancang terbuka sebagai ruang publik yang asri dan nyaman bagi masyarakat untuk berkunjung dan berinteraksi. Pengembangan kawasan tidak hanya menyasar pembangunan patung semata, tetapi juga melengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti penginapan sederhana atau homestay serta peningkatan infrastruktur jalan dan lingkungan sekitar.Dengan ketersediaan fasilitas yang memadai, kawasan ini diharapkan dapat tumbuh menjadi destinasi wisata religi yang nyaman, aman, dan mudah dijangkau oleh para pengunjung. Pembangunan ini menjadi bukti kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat Keerom dalam membangun tempat yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyejahterakan warga di sekitarnya.Penulis: JidEditor: OF
20 Agu 2026, 09:37 WIT
"Tong Masih di Sini": Kreativitas Anak Muda Papua Berkumpul di Papua Kreatif
Papuanewsonline.com, Jayapura – Komunitas kreatif Imaji Papua menggelar “Papua Kreatif: Film, Budaya & Kreativitas” di halaman Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih, Jayapura, Rabu (12/8/2026). Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Pemuda Internasional itu menjadi ruang pertemuan bagi generasi muda Papua untuk menampilkan karya, memperluas jejaring, serta membuka peluang kolaborasi di bidang ekonomi kreatif.Kegiatan ini memperlihatkan bahwa kreativitas anak muda Papua terus berkembang dan mampu mengolah kekayaan budaya lokal menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi. Sineas, fotografer, desainer, ilustrator, musisi hingga pelaku UMKM melebur dalam satu ruang untuk memperkuat ekosistem kreatif berbasis komunitas.Kolaborasi Kunci Kembangkan Ekonomi KreatifKetua Imaji Papua Yulika Anastasia mengatakan kolaborasi menjadi kunci agar potensi ekonomi kreatif Papua dapat berkembang lebih luas dan memberikan manfaat bagi masyarakat.“Kalau berkolaborasi, akan jauh lebih meyakinkan semua pihak, bisa bergandengan tangan, dan tumbuh bersama. Hari ini tidak bisa jalan sendiri-sendiri,” ujar Yulika Anastasia.Film “Tong Masih di Sini” Rekam Kehidupan Pelaku Ekonomi LokalSalah satu karya yang menjadi perhatian adalah film dokumenter berdurasi 33 menit berjudul “Tong Masih di Sini”. Film garapan Yulika Anastasia tersebut merekam kehidupan pelaku ekonomi lokal, mulai dari anak muda yang menjadi petani kopi, petani sagu, pedagang pinang hingga petani sayur-mayur. Cerita tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat biasa turut berperan menggerakkan ekonomi daerah.Fashion Show Noken Tampilkan Karya Lima Desainer MudaSemangat serupa terlihat dalam Fashion Show Noken yang menghadirkan lima desainer muda Papua, yakni Agusta Bunai, Pretty Syul Rogi, Margaretha Uktoselya, Lusi Umbora dan Alfianty Mandosir. Mereka memadukan kearifan lokal dengan sentuhan desain kontemporer.Desainer Agusta Bunai menilai panggung tersebut memberikan ruang penting bagi talenta lokal untuk meningkatkan nilai karya sekaligus memperkenalkan produk Papua kepada khalayak yang lebih luas.“Panggung Papua Kreatif menjadi kesempatan besar untuk memamerkan karya, meningkatkan nilai ekonomi produk lokal, sekaligus menambah jam terbang,” ujar Agusta Bunai.240 Karya Foto Pamerkan Keindahan dan Aktivitas Masyarakat PapuaDari bidang fotografi, sebanyak 240 karya hasil kurasi 34 fotografer muda dipamerkan. Karya tersebut merekam keindahan alam, budaya, aktivitas ekonomi masyarakat hingga perkembangan pembangunan Papua dari perspektif kreator lokal. Koordinator Pameran Yosin Kogoya mengatakan karya fotografi tersebut dihadirkan untuk mengajak publik melihat Papua melalui pengalaman dan cerita masyarakatnya sendiri.Pemerintah Kota Jayapura Dukung Kreativitas Generasi MudaDukungan terhadap kreativitas generasi muda juga disampaikan Pemerintah Kota Jayapura. Staf Ahli Bidang SDM dan Kemasyarakatan Pemkot Jayapura Sem Meraudje menilai kemampuan anak muda Papua memanfaatkan film, media digital dan seni audio-visual semakin kuat.“Anak-anak muda Papua semakin cerdas dan adaptif memanfaatkan platform digital, film, media sosial, hingga seni audio-visual untuk menceritakan realitas dan keindahan tanah Papua secara utuh kepada dunia,” tegas Sem Meraudje.Menurut Sem Meraudje, karya kreatif tersebut tidak hanya menjadi sarana menjaga identitas budaya, tetapi juga berpotensi membawa nama Papua ke tingkat nasional hingga internasional.“Tong masih ada di sini, tra habis. Daya cinta itu masih ada, masih bisa bangkit dan terus berkarya. Keberadaan ini membawa nilai-nilai positif bagi tanah ini,” pungkas Sem Meraudje.Papua Kreatif pun menjadi bukti bahwa kreativitas generasi muda dapat menjadi kekuatan baru dalam memperkenalkan wajah Papua yang kaya budaya, produktif, adaptif dan penuh peluang. Penulis: HendrikEditor: OF
16 Agu 2026, 23:07 WIT
"Di Bawah Langit Timur": Kisah Cinta Tanah Air dari Tanah Papua
Papuanewsonline.com, Papua — Sebuah karya sinematik penuh makna hadir menyambut peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Film pendek musikal berjudul "Di Bawah Langit Timur" yang disutradarai oleh Abet Fahmi mengambil latar di Distrik Wamena, Papua Selatan, mengisahkan perjalanan seorang anak bernama Libo dari pedalaman menuju upacara pengibaran bendera. Perjalanan itu menjadi jendela untuk menyampaikan pesan tentang perjuangan, harapan, persatuan, dan kecintaan kepada Indonesia dari perspektif bagian timur negeri ini.Sutradara memilih Papua bukan sekadar sebagai latar yang indah, melainkan untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki luas yang tercermin dari kekayaan kisah di setiap penjuru tanah air. "Kemerdekaan itu harus dirasakan sebagai milik semua orang, dari Sabang sampai Merauke," ujar Abet. Demi menjaga kejujuran cerita, pemeran utama pun dipilih anak Papua asli yang tinggal di sana, bukan berdasarkan popularitas, melainkan kesesuaian karakter agar terasa natural dan dekat dengan kehidupan masyarakat sesungguhnya.Film ini tidak mengajak kita menyamakan segala sesuatu agar bersatu, melainkan mengajak melihat Indonesia sebagai rumah bersama yang dibangun dari beragam budaya, bahasa, dan tradisi. Melengkapi pesan tersebut, lagu "Fajar Indonesia" yang mengiringi karya ini merangkai kearifan lokal dari berbagai suku bangsa, mulai dari Bugis, Mandar, Dayak, Jawa, Sunda, Minangkabau, hingga Batak menjadi satu melodi persaudaraan yang menyentuh hati.Musik dan liriknya lahir dari semangat cinta tanah air yang tulus, bahwa mengabdi pada negeri adalah panggilan sejati setiap anak bangsa. Nasionalisme, menurut pesan yang disampaikan, bukan sekadar tuntutan kepada orang lain, melainkan kesadaran dari dalam diri sendiri untuk mencintai dan mengabdi kepada Indonesia sepanjang hayat. Pesan yang sederhana namun mendalam itu menyatu dengan alur cerita yang hangat dan menyentuh jiwa.Penulis: JidEditor: OF
16 Agu 2026, 14:59 WIT
Jelang Muktamar ke-35 NU, Forbes NU 26 Dorong Evaluasi Menyeluruh Terkait Konsesi Tambang
Papuanewsonline.com, Bogor — Dua belas hari menjelang penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Forum Bersama (Forbes) NU 26 menggelar Rembug Warga NU Jabodetabek di Institut Pertanian Bogor, Sabtu (15/8/2026). Diskusi bertajuk “Tambang Ormas NU: Menimbang Fikih, Kemandirian Ekonomi, dan Keberlanjutan Lingkungan” digelar sebulan setelah Mahkamah Konstitusi mengeluarkan putusan yang mengoreksi dasar hukum pemberian izin pertambangan kepada organisasi kemasyarakatan.Forum menegaskan bahwa persoalan konsesi tambang tidak cukup dinilai dari pertanyaan fikih semata soal “boleh atau tidak boleh”. Lebih dari itu, keputusan tersebut menyangkut kehormatan organisasi, kemandirian ekonomi, keadilan sosial dan gender, keselamatan warga, serta kelestarian lingkungan hidup. Semua aspek itu harus dipertimbangkan secara utuh dan seimbang sebelum mengambil keputusan yang berjangka panjang.Putusan MK Nomor 160/PUU-XXIII/2025 menegaskan bahwa frasa “pemberian prioritas” dalam UU Minerba tidak boleh dimaknai sebagai penunjukan langsung. Jika pun diberikan prioritas, harus didasarkan pada parameter yang jelas, penilaian objektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketidakjelasan prosedur dinilai berpotensi membuka ruang yang merugikan lingkungan dan masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah tambang.Dr. Ivanovich Agusta mengingatkan bahwa persoalan tambang harus dilihat sekaligus dengan persoalan kemandirian desa. “Jangan sampai desa kehilangan uang untuk membiayai koperasi, lalu kehilangan tanah untuk membiayai tambang. Kalau nilai tambahnya dibawa keluar, sementara desa hanya menanggung dampaknya, itu bukan kemandirian desa,” tegasnya. Pembangunan pun sebaiknya memperkuat kemampuan warga mengelola kekayaan sendiri, bukan justru menciptakan ketergantungan baru.Penulis: JidEditor: OF
16 Agu 2026, 14:53 WIT