logo-website
Jumat, 22 Mei 2026,  WIT
Berita Terbaru Lihat semua
4 Warga Sipil Korban Akibat Ledakan Bom Di Depan Gereja Katolik Bilogai Intan Jaya Papuanewsonline.com, Intan Jaya – Empat warga sipil dilaporkan mengalami luka-luka akibat ledakan di halaman Gereja St. Paulus Nabuni Mbamogo, Paroki Bilogai, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Minggu (17/5/2026).Informasi tersebut disampaikan tim pastoral Paroki Bilogai dalam rilisnya kepada redaksi. Menurut tim pastoral, ledakan terjadi ketika warga berada di sekitar halaman gereja. Hingga saat ini penyebab ledakan masih dalam dugaan dan belum dapat dipastikan.Keempat korban diidentifikasi sebagai Pit Pogau, Robert Nabelau, Pius Pogau, dan Piter Nabelau. Berdasarkan keterangan tim pastoral, para korban mengalami luka akibat serpihan ledakan.Dua korban telah dievakuasi ke RSUD Bilogai, Distrik Sugapa, untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, evakuasi dua korban lainnya direncanakan menyusul.Proses evakuasi dilakukan oleh tim pastoral Paroki Bilogai di bawah pimpinan Pastor Dekan Dekenat Moni Puncak, Yanuarius Yance Yogi, PR.Peristiwa ini kembali menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga sipil di Intan Jaya yang selama beberapa tahun terakhir berada dalam situasi konflik bersenjata. Menurut keterangan warga yang disampaikan melalui tim pastoral, aktivitas militer dinilai semakin mendekati permukiman dan fasilitas sipil, termasuk rumah ibadah.Sejumlah tokoh gereja dan masyarakat sipil di Papua kembali menyerukan penghentian operasi militer di wilayah konflik. Mereka meminta jaminan perlindungan bagi warga sipil, khususnya perempuan, anak-anak, dan tempat ibadah yang seharusnya menjadi zona aman.Hingga berita ini diterbitkan, redaksi belum menerima pernyataan resmi dari TNI maupun Polri terkait laporan tersebut. Redaksi telah berupaya menghubungi Kodam XVII/Cenderawasih dan Polda Papua untuk meminta konfirmasi. Ruang hak jawab tetap terbuka bagi pihak terkait sesuai Pasal 5 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.  Penulis: Hend Editor: GF 21 Mei 2026, 16:47 WIT
TPNPB Klaim Bakar Sekolah dan Tewaskan Delapan Pendulang Emas di Yahukimo Papuanewsonline.com, Yahukimo – Situasi keamanan di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, kembali memanas setelah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap XVI Yahukimo mengklaim bertanggung jawab atas pembakaran sebuah bangunan sekolah dan penyerangan terhadap delapan pendulang emas di Distrik Dekai.Klaim tersebut disampaikan melalui siaran pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB yang diterima pada Kamis (21/5/2026). Dalam keterangannya, kelompok tersebut menyebut aksi pembakaran dilakukan saat operasi berlangsung di wilayah Dekai, Yahukimo.TPNPB mengklaim bangunan yang dibakar merupakan SMP N Koasrama yang berada di Distrik Dekai. Mereka menyebut pembakaran dilakukan pada Rabu (20/5/2026) sekitar pukul 22.00 WIT ketika operasi berlangsung di wilayah tersebut.Dalam siaran pers itu, TPNPB juga menyatakan penolakan terhadap pembangunan infrastruktur pemerintah di Papua, termasuk sekolah, jalan, rumah, dan jembatan. Kelompok tersebut mengaitkan penolakan itu dengan konflik bersenjata yang selama ini terjadi di Papua.Selain pembakaran sekolah, TPNPB Kodap XVI Yahukimo juga mengklaim bertanggung jawab atas penyerangan yang menewaskan delapan orang yang disebut sebagai pendulang emas di wilayah Yahukimo pada rentang waktu 17 hingga 20 Mei 2026. Kelompok tersebut menuding para korban sebagai bagian dari aparat intelijen pemerintah yang menyamar, meski klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.Dalam pernyataannya, TPNPB turut meminta pemerintah pusat menghentikan pengiriman aparat keamanan ke wilayah konflik di Papua. Mereka juga mengeluarkan seruan agar masyarakat pendatang meninggalkan wilayah yang mereka sebut sebagai area operasi kelompok bersenjata.Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran terhadap kondisi keamanan masyarakat sipil di Papua Pegunungan, khususnya di wilayah Yahukimo yang dalam beberapa tahun terakhir kerap menjadi lokasi konflik bersenjata antara aparat keamanan dan kelompok separatis bersenjata.Hingga berita ini rilis, belum ada keterangan resmi dari aparat keamanan terkait klaim yang disampaikan TPNPB tersebut. Namun aparat disebut masih melakukan pendalaman dan pengamanan di wilayah Yahukimo pasca-insiden yang diklaim terjadi dalam beberapa hari terakhir.Situasi di Papua sendiri terus menjadi perhatian pemerintah pusat maupun masyarakat sipil. Berbagai pihak mendorong penyelesaian konflik dilakukan melalui pendekatan keamanan, dialog, serta perlindungan terhadap masyarakat sipil agar eskalasi kekerasan tidak terus berulang di wilayah Papua. (GF) 21 Mei 2026, 16:21 WIT
Realisasi APBD Mimika Disorot, Dewan Adat dan Pengusaha Desak Pemerintah Selamatkan Ekonomi Papuanewsonline.com, Mimika – Lambatnya realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Mimika Tahun 2026 menjadi perhatian serius berbagai elemen masyarakat Papua. Ketua Dewan Adat Daerah Mimika, Vinsen Oniyoma, bersama Aliansi Peduli Pengusaha Papua Kabupaten Mimika melalui Ketua Faya Naa menyampaikan pernyataan sikap bersama terkait kondisi tersebut.Dalam pernyataannya, mereka menilai keterlambatan realisasi anggaran berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Amungme dan Kamoro sebagai pemilik negeri, lima suku kekerabatan, serta Orang Asli Papua secara umum.Kabupaten Mimika diketahui memiliki APBD tahun 2026 sekitar Rp5,6 hingga Rp5,7 triliun. Namun hingga pertengahan Mei 2026, realisasi anggaran disebut baru mencapai sekitar 11,38 persen. Kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan karena perputaran ekonomi daerah belum berjalan maksimal.Mereka mempertanyakan lambatnya realisasi anggaran meski APBD telah ditetapkan sejak awal tahun. Dalam pernyataan tersebut, muncul pertanyaan terkait kemungkinan adanya persoalan administrasi maupun tarik-menarik kepentingan tertentu yang menyebabkan keterlambatan pelaksanaan program dan proyek pemerintah.“Kenapa realisasi anggaran begitu lambat, padahal APBD sudah ditetapkan sejak awal tahun? Apakah ini murni persoalan administrasi? Ataukah ada tarik-menarik kepentingan tertentu? Atau jangan sampai ada praktik menahan proyek dan anggaran hingga akhir tahun yang akhirnya merugikan rakyat?” demikian bunyi pernyataan sikap tersebut.Dewan Adat dan Aliansi Pengusaha Papua menilai dampak paling besar dirasakan masyarakat kecil. Pengusaha lokal disebut belum dapat bergerak karena proyek pemerintah belum berjalan, sementara pencari kerja Orang Asli Papua masih banyak yang menganggur. Mama-mama Papua, petani, hingga pelaku UMKM juga dinilai mengalami tekanan ekonomi akibat lambatnya perputaran uang daerah.Ketua Dewan Adat Daerah Mimika, Vinsen Oniyoma, menegaskan bahwa pembangunan di Mimika harus benar-benar menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat adat dan Orang Asli Papua.“Masyarakat adat bukan penonton di atas tanahnya sendiri. APBD harus dirasakan rakyat. Jangan sampai anggaran besar tetapi ekonomi masyarakat tetap lumpuh.”Sementara itu, Ketua Aliansi Peduli Pengusaha Papua Kabupaten Mimika, Faya Naa, menilai keterlambatan pelaksanaan proyek pemerintah sangat memukul pengusaha lokal Papua. Menurutnya, kondisi tersebut membuat roda ekonomi daerah berjalan lambat dan berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja.“Jika proyek dan kegiatan terlambat berjalan, maka yang mati pertama adalah ekonomi rakyat kecil. Pengusaha lokal kesulitan bergerak, tenaga kerja tidak terserap, dan perputaran uang di daerah menjadi macet.”Dalam pernyataan sikapnya, mereka meminta Pemerintah Kabupaten Mimika segera mempercepat proses tender dan pelaksanaan kegiatan, mengutamakan pengusaha lokal serta tenaga kerja Orang Asli Papua, dan membuka transparansi terkait hambatan realisasi anggaran. Mereka juga meminta pemerintah menghentikan pola penumpukan proyek pada akhir tahun anggaran. Selain itu, Dewan Adat dan Aliansi Peduli Pengusaha Papua mengajak DPRK, tokoh adat, tokoh gereja, pemuda, akademisi, hingga seluruh elemen masyarakat Papua untuk bersama-sama mengawal penggunaan APBD agar benar-benar berpihak kepada rakyat. Mereka menegaskan bahwa APBD bukan sekadar angka dalam dokumen pemerintah, tetapi menyangkut hak hidup masyarakat Papua di atas tanahnya sendiri. (GF) 21 Mei 2026, 16:02 WIT
Diskusi Publik Mimika Menggema, Masyarakat Adat Desak Implementasi Nyata Otonomi Khusus Papuanewsonline.com, Mimika – Suara kritis masyarakat adat kembali menguat dalam diskusi publik yang digelar di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (21/5/2026). Forum yang melibatkan berbagai elemen Orang Asli Papua (OAP) itu menuntut implementasi nyata Otonomi Khusus (Otsus) yang dinilai belum sepenuhnya menghadirkan keadilan bagi masyarakat asli Papua.Diskusi tersebut menghadirkan unsur Dewan Adat Papua tingkat Mimika, asosiasi pencari kerja, pengusaha dan kontraktor OAP, tokoh pemuda, perempuan adat, ASN, hingga masyarakat dari berbagai lapisan. Sejumlah organisasi dan komunitas seperti KAPP, Aliansi Peduli Pengusaha Papua, APELCAMI, dan perwakilan mama-mama Papua turut hadir dalam forum tersebut.Dalam diskusi, masyarakat secara terbuka menyampaikan rasa kecewa terhadap kondisi sosial dan ekonomi yang mereka rasakan di tengah besarnya investasi dan kekayaan alam Papua. Peserta menilai Orang Asli Papua masih sering menjadi penonton di atas tanahnya sendiri, sementara perusahaan besar terus menikmati hasil sumber daya alam Papua.Forum juga menyoroti tingginya angka pengangguran di kalangan anak-anak Papua. Kondisi tersebut dianggap berbanding terbalik dengan masifnya aktivitas perusahaan besar yang beroperasi di Mimika. Pertanyaan mengenai siapa yang sesungguhnya menikmati hasil pembangunan di Papua pun mengemuka dalam diskusi tersebut.Peserta secara tegas meminta PT Freeport Indonesia agar lebih serius memperhatikan kondisi sosial masyarakat Mimika. Menurut mereka, kehadiran perusahaan besar di tanah Amungsa seharusnya memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan Orang Asli Papua, khususnya dalam akses tenaga kerja dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.Masyarakat juga menilai proses rekrutmen tenaga kerja hingga kini belum sepenuhnya berpihak kepada Orang Asli Papua. Karena itu, forum meminta agar perekrutan tenaga kerja benar-benar memprioritaskan masyarakat lokal Mimika dan tidak sekadar menjadi slogan atau formalitas tahunan.Dalam forum tersebut, peserta turut menyoroti implementasi Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2025 yang dinilai belum berjalan maksimal di daerah. Padahal, regulasi tersebut dianggap sudah sangat jelas memberikan ruang keberpihakan terhadap pengusaha Orang Asli Papua, khususnya dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah.Peserta meminta Pemerintah Kabupaten Mimika segera menyusun regulasi turunan yang lebih teknis agar implementasi Perpres tersebut benar-benar dirasakan masyarakat. Selain itu, forum juga mendorong pembentukan Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) tentang tenaga kerja lokal yang mengatur proses pra-perekrutan, perekrutan, hingga pasca-perekrutan tenaga kerja OAP.Perwakilan perempuan adat dalam diskusi turut menyoroti lemahnya implementasi Perda UMKM bagi mama-mama Papua. Mereka menilai program pemberdayaan ekonomi selama ini lebih banyak berhenti pada seremoni tanpa dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat adat.Sementara itu, perwakilan ASN yang hadir menyampaikan kritik tajam terhadap implementasi Otsus di Papua.“Apa gunanya Otonomi Khusus jika Orang Asli Papua tidak diberikan ruang yang layak untuk bekerja, berusaha, dan berkontribusi di negerinya sendiri?” ungkap salah satu perwakilan ASN dalam forum tersebut.Melalui hasil diskusi, peserta menegaskan bahwa masyarakat Papua tidak meminta belas kasihan, melainkan menuntut hak yang seharusnya diberikan kepada Orang Asli Papua di tanahnya sendiri. Forum juga menilai masyarakat Papua kini semakin kritis dan menginginkan perubahan nyata, bukan sekadar janji maupun narasi keberpihakan tanpa implementasi konkret di lapangan. (GF) 21 Mei 2026, 15:58 WIT
Kartu Merah untuk Disnaker Mimika, Penyerapan Tenaga Kerja Lokal Dinilai Belum Maksimal Papuanewsonline.com, Timika – Persoalan penyerapan tenaga kerja lokal kembali menjadi sorotan di Kabupaten Mimika. Masyarakat menilai Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Mimika belum maksimal menjalankan perannya dalam memastikan masyarakat lokal memperoleh akses kerja yang adil dan terbuka di tengah berkembangnya investasi dan industri di daerah tersebut.Penyerapan tenaga kerja dinilai menjadi indikator penting dalam pembangunan daerah. Namun hingga kini, tingginya angka pengangguran dan minimnya informasi kebutuhan tenaga kerja dianggap masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan secara menyeluruh.Dalam evaluasi yang disampaikan sejumlah masyarakat dan pemerhati ketenagakerjaan, Disnaker Mimika dinilai seharusnya lebih proaktif menjalankan fungsi sebagai pelaksana kebijakan penempatan tenaga kerja, pelatihan vokasi, pengawasan norma kerja, hingga penyedia informasi pasar kerja yang mudah diakses masyarakat.“Penyerapan tenaga kerja adalah indikator makro yang sangat dipengaruhi oleh kesesuaian keahlian pencari kerja dengan industri (kualitas SDM), pertumbuhan investasi dan lapangan usaha, serta regulasi ekonomi daerah,” demikian disampaikan dalam pernyataan yang diterima media.Masyarakat juga menyoroti lemahnya pelaksanaan program pelatihan tenaga kerja yang dinilai belum terintegrasi dari hulu hingga hilir. Akibatnya, banyak peserta pelatihan yang masih belum memenuhi persyaratan administrasi tambahan seperti Surat Izin Operator (SIO) maupun Surat Izin Mengemudi (SIM) saat hendak melamar pekerjaan.“Seharusnya Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Mimika lebih Pro aktif Berperan sebagai eksekutor kebijakan penempatan, pelatihan vokasi, pengawasan norma kerja, serta penyedia bursa kerja/informasi pasar kerja. Kesalahan yang mungkin terjadi di tingkat ini adalah kurang optimalnya program pelatihan dari Hulu ke Hilir sehingga Setelah Pelatihan Masih ada syarat yang belum lengkap seperti Sio dan SIM serta lemahnya penyuluhan informasi bursa kerja kepada masyarakat,” tulis pernyataan tersebut.Selain itu, masyarakat juga meminta pemerintah daerah memperkuat regulasi yang mewajibkan perusahaan memberikan prioritas kepada tenaga kerja asli daerah. Salah satu langkah yang diusulkan adalah penerapan kuota khusus bagi pekerja lokal melalui peraturan daerah yang tegas dan memiliki sanksi jelas bagi perusahaan yang melanggar.Tidak hanya itu, Disnaker juga didorong membangun pusat informasi lowongan kerja yang transparan dan mudah diakses masyarakat melalui bursa kerja maupun portal digital resmi. Program pelatihan dan sertifikasi kerja gratis berbasis kebutuhan industri juga dinilai perlu diperluas agar tenaga kerja lokal memiliki daya saing yang lebih baik.Masyarakat turut meminta adanya pengawasan rutin terhadap perusahaan untuk memastikan kepatuhan dalam proses rekrutmen tenaga kerja. Praktik diskriminasi maupun dugaan percaloan tenaga kerja juga diminta segera ditindak melalui mekanisme mediasi dan pengawasan yang jelas.“Sampai saat ini kami Masyakat mimika tidak tau pasti angka kebutuhan lapangan kerja yang tersedia serta Tingkat pengangguran yang sangat Tinggi di Kabupaten Mimika. Semua itu akan Berdampak Negatif Buat Daerah,” demikian pernyataan penutup yang disampaikan. Sorotan terhadap kinerja Disnaker Mimika ini diharapkan menjadi perhatian serius pemerintah daerah agar persoalan tenaga kerja lokal tidak terus menjadi polemik berkepanjangan di tengah besarnya potensi ekonomi dan investasi yang berkembang di Kabupaten Mimika. (GF) 21 Mei 2026, 15:56 WIT
Praktisi Hukum Kritik Dugaan Ketidaknetralan Media di Pilkada Mimika 2024 Papuanewsonline.com, Mimika – Pimpinan media di Kabupaten Mimika disorot terkait dugaan keberpihakan pada Pilkada 2024. Sorotan itu disampaikan melalui rilis tertulis yang dibuat oleh Valentinus Ulahayanan, S.H., M.H., pada 19 Mei 2026.Dalam rilis tersebut, Valentinus Ulahayanan menyatakan bahwa masyarakat sempat melayangkan protes pada masa Pilkada 2024 atas dugaan dukungan terbuka yang ditunjukkan pihak media kepada salah satu pasangan calon. Saat dikritik, pihak media disebut beralibi bahwa pers tetap netral dan wajib mempublikasikan setiap informasi.Valentinus Ulahayanan juga menyebut, pada 19 Mei 2026 terbuka informasi yang menurutnya menunjukkan bahwa pihak media berperan sebagai “tiang pilar dan penyangga vital” dalam strategi kemenangan pasangan Joel, yang kini menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati Mimika periode 2025-2030.Iwan makatita mengeluarkan pernyataan disalah satu media“Hiruk pikuk pesta demokrasi telah usai. Baliho mulai diturunkan, atribut politik perlahan menghilang dari sudut-sudut kota, namun luka dan kekecewaan di kalangan relawan serta pendukung Pilkada ternyata belum benar-benar selesai. Di balik kemenangan dan kekalahan politik, ada banyak orang yang diam-diam merasa ditinggalkan setelah perjuangan panjang yang mereka jalani selama masa kontestasi. Mereka yang dulu berdiri paling depan, meneriakkan kemenangan, mengawal suara hingga larut malam, bahkan mempertaruhkan hubungan keluarga dan persahabatan demi pilihan politik, kini perlahan mulai menyadari satu hal: politik sering kali menyisakan jarak setelah tujuan tercapai.” Hal itu disampaikan mantan Direktur Data Pemilih dan relawan, Pasangan Calon Johannes Rettob dan Emanuel Kemong (Joel), Iwan S. Makatita.Valentinus Ulahayanan, S.H., M.H., Menangapi Pernyataan iwan makatita“Seorang wartawan harus menjaga marwah independensinya. Jika tidak, kredibilitas jurnalisme profesional dipertanyakan,” tulis Valentinus Ulahayanan dalam rilisnya pada media Papuanewsonline.com. Ia juga mengutip peribahasa “satu titik merusak susu sebelanga” untuk menggambarkan dampak pelanggaran etika terhadap pers.Hingga berita ini diterbitkan, Iwan Makatita selaku pihak yang disebut belum memberikan tanggapan atas pernyataan tersebut. Sesuai UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, setiap pihak yang disebut dalam pemberitaan berhak mengajukan hak jawab. Redaksi membuka ruang yang sama bagi Iwan Makatita atau pihak terkait untuk menyampaikan klarifikasi. Penulis: Hend Editor: GF 19 Mei 2026, 16:15 WIT
Pilihan Redaksi
4 Warga Sipil Korban Akibat Ledakan Bom Di Depan Gereja Katolik Bilogai Intan Jaya Papuanewsonline.com, Intan Jaya – Empat warga sipil dilaporkan mengalami luka-luka akibat ledakan di halaman Gereja St. Paulus Nabuni Mbamogo, Paroki Bilogai, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Minggu (17/5/2026).Informasi tersebut disampaikan tim pastoral Paroki Bilogai dalam rilisnya kepada redaksi. Menurut tim pastoral, ledakan terjadi ketika warga berada di sekitar halaman gereja. Hingga saat ini penyebab ledakan masih dalam dugaan dan belum dapat dipastikan.Keempat korban diidentifikasi sebagai Pit Pogau, Robert Nabelau, Pius Pogau, dan Piter Nabelau. Berdasarkan keterangan tim pastoral, para korban mengalami luka akibat serpihan ledakan.Dua korban telah dievakuasi ke RSUD Bilogai, Distrik Sugapa, untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, evakuasi dua korban lainnya direncanakan menyusul.Proses evakuasi dilakukan oleh tim pastoral Paroki Bilogai di bawah pimpinan Pastor Dekan Dekenat Moni Puncak, Yanuarius Yance Yogi, PR.Peristiwa ini kembali menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga sipil di Intan Jaya yang selama beberapa tahun terakhir berada dalam situasi konflik bersenjata. Menurut keterangan warga yang disampaikan melalui tim pastoral, aktivitas militer dinilai semakin mendekati permukiman dan fasilitas sipil, termasuk rumah ibadah.Sejumlah tokoh gereja dan masyarakat sipil di Papua kembali menyerukan penghentian operasi militer di wilayah konflik. Mereka meminta jaminan perlindungan bagi warga sipil, khususnya perempuan, anak-anak, dan tempat ibadah yang seharusnya menjadi zona aman.Hingga berita ini diterbitkan, redaksi belum menerima pernyataan resmi dari TNI maupun Polri terkait laporan tersebut. Redaksi telah berupaya menghubungi Kodam XVII/Cenderawasih dan Polda Papua untuk meminta konfirmasi. Ruang hak jawab tetap terbuka bagi pihak terkait sesuai Pasal 5 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.  Penulis: Hend Editor: GF 21 Mei 2026, 16:47 WIT
TPNPB Klaim Bakar Sekolah dan Tewaskan Delapan Pendulang Emas di Yahukimo Papuanewsonline.com, Yahukimo – Situasi keamanan di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, kembali memanas setelah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap XVI Yahukimo mengklaim bertanggung jawab atas pembakaran sebuah bangunan sekolah dan penyerangan terhadap delapan pendulang emas di Distrik Dekai.Klaim tersebut disampaikan melalui siaran pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB yang diterima pada Kamis (21/5/2026). Dalam keterangannya, kelompok tersebut menyebut aksi pembakaran dilakukan saat operasi berlangsung di wilayah Dekai, Yahukimo.TPNPB mengklaim bangunan yang dibakar merupakan SMP N Koasrama yang berada di Distrik Dekai. Mereka menyebut pembakaran dilakukan pada Rabu (20/5/2026) sekitar pukul 22.00 WIT ketika operasi berlangsung di wilayah tersebut.Dalam siaran pers itu, TPNPB juga menyatakan penolakan terhadap pembangunan infrastruktur pemerintah di Papua, termasuk sekolah, jalan, rumah, dan jembatan. Kelompok tersebut mengaitkan penolakan itu dengan konflik bersenjata yang selama ini terjadi di Papua.Selain pembakaran sekolah, TPNPB Kodap XVI Yahukimo juga mengklaim bertanggung jawab atas penyerangan yang menewaskan delapan orang yang disebut sebagai pendulang emas di wilayah Yahukimo pada rentang waktu 17 hingga 20 Mei 2026. Kelompok tersebut menuding para korban sebagai bagian dari aparat intelijen pemerintah yang menyamar, meski klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.Dalam pernyataannya, TPNPB turut meminta pemerintah pusat menghentikan pengiriman aparat keamanan ke wilayah konflik di Papua. Mereka juga mengeluarkan seruan agar masyarakat pendatang meninggalkan wilayah yang mereka sebut sebagai area operasi kelompok bersenjata.Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran terhadap kondisi keamanan masyarakat sipil di Papua Pegunungan, khususnya di wilayah Yahukimo yang dalam beberapa tahun terakhir kerap menjadi lokasi konflik bersenjata antara aparat keamanan dan kelompok separatis bersenjata.Hingga berita ini rilis, belum ada keterangan resmi dari aparat keamanan terkait klaim yang disampaikan TPNPB tersebut. Namun aparat disebut masih melakukan pendalaman dan pengamanan di wilayah Yahukimo pasca-insiden yang diklaim terjadi dalam beberapa hari terakhir.Situasi di Papua sendiri terus menjadi perhatian pemerintah pusat maupun masyarakat sipil. Berbagai pihak mendorong penyelesaian konflik dilakukan melalui pendekatan keamanan, dialog, serta perlindungan terhadap masyarakat sipil agar eskalasi kekerasan tidak terus berulang di wilayah Papua. (GF) 21 Mei 2026, 16:21 WIT
Realisasi APBD Mimika Disorot, Dewan Adat dan Pengusaha Desak Pemerintah Selamatkan Ekonomi Papuanewsonline.com, Mimika – Lambatnya realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Mimika Tahun 2026 menjadi perhatian serius berbagai elemen masyarakat Papua. Ketua Dewan Adat Daerah Mimika, Vinsen Oniyoma, bersama Aliansi Peduli Pengusaha Papua Kabupaten Mimika melalui Ketua Faya Naa menyampaikan pernyataan sikap bersama terkait kondisi tersebut.Dalam pernyataannya, mereka menilai keterlambatan realisasi anggaran berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Amungme dan Kamoro sebagai pemilik negeri, lima suku kekerabatan, serta Orang Asli Papua secara umum.Kabupaten Mimika diketahui memiliki APBD tahun 2026 sekitar Rp5,6 hingga Rp5,7 triliun. Namun hingga pertengahan Mei 2026, realisasi anggaran disebut baru mencapai sekitar 11,38 persen. Kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan karena perputaran ekonomi daerah belum berjalan maksimal.Mereka mempertanyakan lambatnya realisasi anggaran meski APBD telah ditetapkan sejak awal tahun. Dalam pernyataan tersebut, muncul pertanyaan terkait kemungkinan adanya persoalan administrasi maupun tarik-menarik kepentingan tertentu yang menyebabkan keterlambatan pelaksanaan program dan proyek pemerintah.“Kenapa realisasi anggaran begitu lambat, padahal APBD sudah ditetapkan sejak awal tahun? Apakah ini murni persoalan administrasi? Ataukah ada tarik-menarik kepentingan tertentu? Atau jangan sampai ada praktik menahan proyek dan anggaran hingga akhir tahun yang akhirnya merugikan rakyat?” demikian bunyi pernyataan sikap tersebut.Dewan Adat dan Aliansi Pengusaha Papua menilai dampak paling besar dirasakan masyarakat kecil. Pengusaha lokal disebut belum dapat bergerak karena proyek pemerintah belum berjalan, sementara pencari kerja Orang Asli Papua masih banyak yang menganggur. Mama-mama Papua, petani, hingga pelaku UMKM juga dinilai mengalami tekanan ekonomi akibat lambatnya perputaran uang daerah.Ketua Dewan Adat Daerah Mimika, Vinsen Oniyoma, menegaskan bahwa pembangunan di Mimika harus benar-benar menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat adat dan Orang Asli Papua.“Masyarakat adat bukan penonton di atas tanahnya sendiri. APBD harus dirasakan rakyat. Jangan sampai anggaran besar tetapi ekonomi masyarakat tetap lumpuh.”Sementara itu, Ketua Aliansi Peduli Pengusaha Papua Kabupaten Mimika, Faya Naa, menilai keterlambatan pelaksanaan proyek pemerintah sangat memukul pengusaha lokal Papua. Menurutnya, kondisi tersebut membuat roda ekonomi daerah berjalan lambat dan berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja.“Jika proyek dan kegiatan terlambat berjalan, maka yang mati pertama adalah ekonomi rakyat kecil. Pengusaha lokal kesulitan bergerak, tenaga kerja tidak terserap, dan perputaran uang di daerah menjadi macet.”Dalam pernyataan sikapnya, mereka meminta Pemerintah Kabupaten Mimika segera mempercepat proses tender dan pelaksanaan kegiatan, mengutamakan pengusaha lokal serta tenaga kerja Orang Asli Papua, dan membuka transparansi terkait hambatan realisasi anggaran. Mereka juga meminta pemerintah menghentikan pola penumpukan proyek pada akhir tahun anggaran. Selain itu, Dewan Adat dan Aliansi Peduli Pengusaha Papua mengajak DPRK, tokoh adat, tokoh gereja, pemuda, akademisi, hingga seluruh elemen masyarakat Papua untuk bersama-sama mengawal penggunaan APBD agar benar-benar berpihak kepada rakyat. Mereka menegaskan bahwa APBD bukan sekadar angka dalam dokumen pemerintah, tetapi menyangkut hak hidup masyarakat Papua di atas tanahnya sendiri. (GF) 21 Mei 2026, 16:02 WIT
Diskusi Publik Mimika Menggema, Masyarakat Adat Desak Implementasi Nyata Otonomi Khusus Papuanewsonline.com, Mimika – Suara kritis masyarakat adat kembali menguat dalam diskusi publik yang digelar di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (21/5/2026). Forum yang melibatkan berbagai elemen Orang Asli Papua (OAP) itu menuntut implementasi nyata Otonomi Khusus (Otsus) yang dinilai belum sepenuhnya menghadirkan keadilan bagi masyarakat asli Papua.Diskusi tersebut menghadirkan unsur Dewan Adat Papua tingkat Mimika, asosiasi pencari kerja, pengusaha dan kontraktor OAP, tokoh pemuda, perempuan adat, ASN, hingga masyarakat dari berbagai lapisan. Sejumlah organisasi dan komunitas seperti KAPP, Aliansi Peduli Pengusaha Papua, APELCAMI, dan perwakilan mama-mama Papua turut hadir dalam forum tersebut.Dalam diskusi, masyarakat secara terbuka menyampaikan rasa kecewa terhadap kondisi sosial dan ekonomi yang mereka rasakan di tengah besarnya investasi dan kekayaan alam Papua. Peserta menilai Orang Asli Papua masih sering menjadi penonton di atas tanahnya sendiri, sementara perusahaan besar terus menikmati hasil sumber daya alam Papua.Forum juga menyoroti tingginya angka pengangguran di kalangan anak-anak Papua. Kondisi tersebut dianggap berbanding terbalik dengan masifnya aktivitas perusahaan besar yang beroperasi di Mimika. Pertanyaan mengenai siapa yang sesungguhnya menikmati hasil pembangunan di Papua pun mengemuka dalam diskusi tersebut.Peserta secara tegas meminta PT Freeport Indonesia agar lebih serius memperhatikan kondisi sosial masyarakat Mimika. Menurut mereka, kehadiran perusahaan besar di tanah Amungsa seharusnya memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan Orang Asli Papua, khususnya dalam akses tenaga kerja dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.Masyarakat juga menilai proses rekrutmen tenaga kerja hingga kini belum sepenuhnya berpihak kepada Orang Asli Papua. Karena itu, forum meminta agar perekrutan tenaga kerja benar-benar memprioritaskan masyarakat lokal Mimika dan tidak sekadar menjadi slogan atau formalitas tahunan.Dalam forum tersebut, peserta turut menyoroti implementasi Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2025 yang dinilai belum berjalan maksimal di daerah. Padahal, regulasi tersebut dianggap sudah sangat jelas memberikan ruang keberpihakan terhadap pengusaha Orang Asli Papua, khususnya dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah.Peserta meminta Pemerintah Kabupaten Mimika segera menyusun regulasi turunan yang lebih teknis agar implementasi Perpres tersebut benar-benar dirasakan masyarakat. Selain itu, forum juga mendorong pembentukan Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) tentang tenaga kerja lokal yang mengatur proses pra-perekrutan, perekrutan, hingga pasca-perekrutan tenaga kerja OAP.Perwakilan perempuan adat dalam diskusi turut menyoroti lemahnya implementasi Perda UMKM bagi mama-mama Papua. Mereka menilai program pemberdayaan ekonomi selama ini lebih banyak berhenti pada seremoni tanpa dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat adat.Sementara itu, perwakilan ASN yang hadir menyampaikan kritik tajam terhadap implementasi Otsus di Papua.“Apa gunanya Otonomi Khusus jika Orang Asli Papua tidak diberikan ruang yang layak untuk bekerja, berusaha, dan berkontribusi di negerinya sendiri?” ungkap salah satu perwakilan ASN dalam forum tersebut.Melalui hasil diskusi, peserta menegaskan bahwa masyarakat Papua tidak meminta belas kasihan, melainkan menuntut hak yang seharusnya diberikan kepada Orang Asli Papua di tanahnya sendiri. Forum juga menilai masyarakat Papua kini semakin kritis dan menginginkan perubahan nyata, bukan sekadar janji maupun narasi keberpihakan tanpa implementasi konkret di lapangan. (GF) 21 Mei 2026, 15:58 WIT
Kartu Merah untuk Disnaker Mimika, Penyerapan Tenaga Kerja Lokal Dinilai Belum Maksimal Papuanewsonline.com, Timika – Persoalan penyerapan tenaga kerja lokal kembali menjadi sorotan di Kabupaten Mimika. Masyarakat menilai Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Mimika belum maksimal menjalankan perannya dalam memastikan masyarakat lokal memperoleh akses kerja yang adil dan terbuka di tengah berkembangnya investasi dan industri di daerah tersebut.Penyerapan tenaga kerja dinilai menjadi indikator penting dalam pembangunan daerah. Namun hingga kini, tingginya angka pengangguran dan minimnya informasi kebutuhan tenaga kerja dianggap masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan secara menyeluruh.Dalam evaluasi yang disampaikan sejumlah masyarakat dan pemerhati ketenagakerjaan, Disnaker Mimika dinilai seharusnya lebih proaktif menjalankan fungsi sebagai pelaksana kebijakan penempatan tenaga kerja, pelatihan vokasi, pengawasan norma kerja, hingga penyedia informasi pasar kerja yang mudah diakses masyarakat.“Penyerapan tenaga kerja adalah indikator makro yang sangat dipengaruhi oleh kesesuaian keahlian pencari kerja dengan industri (kualitas SDM), pertumbuhan investasi dan lapangan usaha, serta regulasi ekonomi daerah,” demikian disampaikan dalam pernyataan yang diterima media.Masyarakat juga menyoroti lemahnya pelaksanaan program pelatihan tenaga kerja yang dinilai belum terintegrasi dari hulu hingga hilir. Akibatnya, banyak peserta pelatihan yang masih belum memenuhi persyaratan administrasi tambahan seperti Surat Izin Operator (SIO) maupun Surat Izin Mengemudi (SIM) saat hendak melamar pekerjaan.“Seharusnya Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Mimika lebih Pro aktif Berperan sebagai eksekutor kebijakan penempatan, pelatihan vokasi, pengawasan norma kerja, serta penyedia bursa kerja/informasi pasar kerja. Kesalahan yang mungkin terjadi di tingkat ini adalah kurang optimalnya program pelatihan dari Hulu ke Hilir sehingga Setelah Pelatihan Masih ada syarat yang belum lengkap seperti Sio dan SIM serta lemahnya penyuluhan informasi bursa kerja kepada masyarakat,” tulis pernyataan tersebut.Selain itu, masyarakat juga meminta pemerintah daerah memperkuat regulasi yang mewajibkan perusahaan memberikan prioritas kepada tenaga kerja asli daerah. Salah satu langkah yang diusulkan adalah penerapan kuota khusus bagi pekerja lokal melalui peraturan daerah yang tegas dan memiliki sanksi jelas bagi perusahaan yang melanggar.Tidak hanya itu, Disnaker juga didorong membangun pusat informasi lowongan kerja yang transparan dan mudah diakses masyarakat melalui bursa kerja maupun portal digital resmi. Program pelatihan dan sertifikasi kerja gratis berbasis kebutuhan industri juga dinilai perlu diperluas agar tenaga kerja lokal memiliki daya saing yang lebih baik.Masyarakat turut meminta adanya pengawasan rutin terhadap perusahaan untuk memastikan kepatuhan dalam proses rekrutmen tenaga kerja. Praktik diskriminasi maupun dugaan percaloan tenaga kerja juga diminta segera ditindak melalui mekanisme mediasi dan pengawasan yang jelas.“Sampai saat ini kami Masyakat mimika tidak tau pasti angka kebutuhan lapangan kerja yang tersedia serta Tingkat pengangguran yang sangat Tinggi di Kabupaten Mimika. Semua itu akan Berdampak Negatif Buat Daerah,” demikian pernyataan penutup yang disampaikan. Sorotan terhadap kinerja Disnaker Mimika ini diharapkan menjadi perhatian serius pemerintah daerah agar persoalan tenaga kerja lokal tidak terus menjadi polemik berkepanjangan di tengah besarnya potensi ekonomi dan investasi yang berkembang di Kabupaten Mimika. (GF) 21 Mei 2026, 15:56 WIT
Praktisi Hukum Kritik Dugaan Ketidaknetralan Media di Pilkada Mimika 2024 Papuanewsonline.com, Mimika – Pimpinan media di Kabupaten Mimika disorot terkait dugaan keberpihakan pada Pilkada 2024. Sorotan itu disampaikan melalui rilis tertulis yang dibuat oleh Valentinus Ulahayanan, S.H., M.H., pada 19 Mei 2026.Dalam rilis tersebut, Valentinus Ulahayanan menyatakan bahwa masyarakat sempat melayangkan protes pada masa Pilkada 2024 atas dugaan dukungan terbuka yang ditunjukkan pihak media kepada salah satu pasangan calon. Saat dikritik, pihak media disebut beralibi bahwa pers tetap netral dan wajib mempublikasikan setiap informasi.Valentinus Ulahayanan juga menyebut, pada 19 Mei 2026 terbuka informasi yang menurutnya menunjukkan bahwa pihak media berperan sebagai “tiang pilar dan penyangga vital” dalam strategi kemenangan pasangan Joel, yang kini menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati Mimika periode 2025-2030.Iwan makatita mengeluarkan pernyataan disalah satu media“Hiruk pikuk pesta demokrasi telah usai. Baliho mulai diturunkan, atribut politik perlahan menghilang dari sudut-sudut kota, namun luka dan kekecewaan di kalangan relawan serta pendukung Pilkada ternyata belum benar-benar selesai. Di balik kemenangan dan kekalahan politik, ada banyak orang yang diam-diam merasa ditinggalkan setelah perjuangan panjang yang mereka jalani selama masa kontestasi. Mereka yang dulu berdiri paling depan, meneriakkan kemenangan, mengawal suara hingga larut malam, bahkan mempertaruhkan hubungan keluarga dan persahabatan demi pilihan politik, kini perlahan mulai menyadari satu hal: politik sering kali menyisakan jarak setelah tujuan tercapai.” Hal itu disampaikan mantan Direktur Data Pemilih dan relawan, Pasangan Calon Johannes Rettob dan Emanuel Kemong (Joel), Iwan S. Makatita.Valentinus Ulahayanan, S.H., M.H., Menangapi Pernyataan iwan makatita“Seorang wartawan harus menjaga marwah independensinya. Jika tidak, kredibilitas jurnalisme profesional dipertanyakan,” tulis Valentinus Ulahayanan dalam rilisnya pada media Papuanewsonline.com. Ia juga mengutip peribahasa “satu titik merusak susu sebelanga” untuk menggambarkan dampak pelanggaran etika terhadap pers.Hingga berita ini diterbitkan, Iwan Makatita selaku pihak yang disebut belum memberikan tanggapan atas pernyataan tersebut. Sesuai UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, setiap pihak yang disebut dalam pemberitaan berhak mengajukan hak jawab. Redaksi membuka ruang yang sama bagi Iwan Makatita atau pihak terkait untuk menyampaikan klarifikasi. Penulis: Hend Editor: GF 19 Mei 2026, 16:15 WIT
Berita utama
Hukum & Kriminal
Politik & Pemerintahan
Pendidikan & Kesehatan Lihat semua
Pembangunan SDM Papua Harus Jadi Prioritas, PAPEDA-YPMAK Soroti Pengelolaan Dana Otsus Papuanewsonline.com, Mimika — Ketua Umum Perkumpulan Alumni Penerima Beasiswa Dana Kemitraan (PAPEDA-YPMAK), Hilarious Dolame, menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Papua, khususnya di Kabupaten Mimika, harus menjadi prioritas utama pemerintah daerah.Menurutnya, implementasi Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus) Papua selama ini belum menunjukkan hasil yang jelas, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi bagi masyarakat asli Papua.Ia menilai dana Otsus yang setiap tahun dikucurkan pemerintah pusat nilainya sangat besar, namun realisasi dan sasaran penggunaannya belum dirasakan secara nyata oleh masyarakat.“Pemerintah daerah harus lebih fokus dan terukur dalam mengelola dana Otonomi Khusus, terutama untuk pembangunan manusia,” ujar Hilarious.Ia mencontohkan, lembaga seperti YPMAK selama ini telah menunjukkan hasil nyata dalam pengembangan SDM melalui program pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat. Bahkan, banyak penerima manfaat program YPMAK yang kini menjadi pemimpin di tingkat pemerintah daerah, DPR, maupun organisasi perangkat daerah (OPD).“Kalau YPMAK dengan anggaran yang terbatas saja mampu membiayai pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat, maka pemerintah daerah seharusnya bisa melakukan hal yang lebih besar melalui dana Otonomi Khusus,” katanya.Hilarious juga menyoroti masih adanya aksi protes yang dilakukan pelajar tujuh suku terkait persoalan pendidikan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perhatian pemerintah terhadap pendidikan masyarakat asli Papua masih belum maksimal.Karena itu, ia mendorong adanya kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Mimika dan YPMAK melalui nota kesepahaman maupun sinkronisasi program, agar penanganan pendidikan masyarakat, khususnya anak-anak dari wilayah pedalaman dan pesisir, dapat dilakukan secara terarah dan terukur.“Pendidikan harus dikontrol, dibina, dan dimonitor dengan baik. Jangan terlalu banyak pintu dan kepentingan sehingga sasaran pendidikan menjadi tidak jelas,” ujarnya.Ia menambahkan, visi pembangunan dari kampung ke kota yang selama ini digaungkan pemerintah daerah juga harus dimulai dari pembangunan SDM. Menurutnya, anak-anak dari kampung harus dipersiapkan sejak dini melalui pendidikan yang baik agar mampu bersaing di era modern.“Kalau hari ini kita tidak siapkan generasi muda, maka ke depan Mimika akan mengalami kesulitan. Pembangunan manusia itu penting supaya kemiskinan bisa ditekan dan masyarakat asli Papua mampu bersaing,” tutupnya. Penulis: Bim Editor: GF 18 Mei 2026, 19:00 WIT
Bahasa Inggris di Papua: Ancaman atau Peluang bagi Bahasa Indonesia? Papuanewsonline.com, Timika – Dinamika pendidikan di Tanah Papua saat ini terus mengalami perubahan seiring keterbukaan akses informasi dan perkembangan dunia global. Dalam proses tersebut, bahasa menjadi salah satu unsur penting yang menentukan kualitas pendidikan dan kemampuan adaptasi generasi muda Papua di masa depan.Dosen STKIP Hermon Timika, Deasy Natalia Lessu, menilai munculnya perdebatan terkait pengajaran Bahasa Inggris di Papua perlu dilihat secara lebih luas dan ilmiah. Menurutnya, kekhawatiran bahwa pembelajaran Bahasa Inggris akan menghambat penguasaan Bahasa Indonesia bagi anak-anak Papua tidak sepenuhnya tepat.Ia menjelaskan, anak-anak Papua tumbuh dalam lingkungan multibahasa dengan ratusan bahasa daerah yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, Bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan sekaligus bahasa pengantar pendidikan nasional. Kini, dengan diterapkannya kembali Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di SD melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, muncul tantangan baru dalam dunia pendidikan Papua.“Fenomena adaptasi multibahasa cukup menjadi perhatian di masyarakat yang kemudian memunculkan pertanyaan mendasar: Apakah pembelajaran Bahasa Inggris di Papua menjadi penghambat atau justru pendukung penguasaan Bahasa Indonesia?” tulis Deasy dalam opininya.Menurutnya, kekhawatiran masyarakat muncul karena banyak anak mulai mencampuradukkan kosakata Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Kondisi itu kemudian dianggap sebagai tanda adanya kebingungan bahasa akibat beban pembelajaran yang terlalu besar bagi anak-anak Papua.Namun, Deasy menegaskan bahwa secara psikolinguistik dan perkembangan kognitif, penguasaan bahasa asing justru dapat merangsang kemampuan berpikir anak. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan bilingual maupun trilingual disebut memiliki fleksibilitas berpikir, daya analisis, serta kemampuan mengingat yang lebih baik dibandingkan anak monolingual.“Secara psikolinguistik dan perkembangan kognitif, anggapan bahwa bahasa asing merusak bahasa nasional telah terbantahkan,” jelasnya.Ia menilai persoalan utama bukan terletak pada keberadaan Bahasa Inggris, melainkan pada sistem pendidikan yang belum sepenuhnya siap mendukung pembelajaran multibahasa secara efektif. Minimnya kualitas literasi, kurangnya tenaga pendidik yang kompeten, hingga ketimpangan fasilitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedalaman menjadi tantangan utama pendidikan di Papua saat ini.Menurut Deasy, pengajaran Bahasa Inggris justru dapat membantu anak-anak memahami Bahasa Indonesia secara lebih baik apabila diterapkan dengan metode yang tepat. Melalui pendekatan analisis kontrastif, siswa dapat belajar membandingkan struktur bahasa sehingga lebih memahami tata bahasa dan makna dalam Bahasa Indonesia.“Alih-alih menghambat, pembelajaran Bahasa Inggris yang adaptif dapat menjadi katalisator pemahaman berbahasa,” ungkapnya.Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya menjaga keberadaan bahasa daerah di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan bahasa asing. Menurutnya, pendidikan di Papua harus mampu menempatkan bahasa daerah sebagai identitas budaya, Bahasa Indonesia sebagai pilar persatuan dan akademik, serta Bahasa Inggris sebagai alat untuk membuka akses global.Dalam opininya, Deasy mendorong pemerintah daerah melalui skema Otonomi Khusus agar merancang kurikulum bahasa yang lebih adaptif dan berjenjang sesuai konteks Papua. Ia menilai pendidikan dasar perlu lebih fokus pada penguatan bahasa ibu dan Bahasa Indonesia, sementara Bahasa Inggris diperkenalkan secara bertahap dengan metode yang komunikatif dan menyenangkan.“Visi pendidikan Papua harus diarahkan pada penciptaan generasi yang berbudaya (menguasai dan melestarikan bahasa daerah), bersatu (fasih dan bangga berbahasa Indonesia), serta berwawasan global (mampu berkomunikasi dengan dunia melalui Bahasa Inggris),” tulisnya. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas guru melalui pelatihan pengajaran berbasis multibahasa agar proses pembelajaran lebih kontekstual dan sesuai dengan realitas sosial masyarakat Papua. Dengan sistem yang tepat, pembelajaran multibahasa diyakini dapat menjadi kekuatan baru dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Tanah Papua. (GF) 17 Mei 2026, 12:46 WIT
Pegiat Demokrasi Soroti Pentingnya Riset dalam Mengawal Advokasi Konflik Papua Papuanewsonline.com, Jakarta - Pegiat Advokasi dan Demokrasi, Erik Fitriadi menegaskan pentingnya penguatan riset berbasis data dan pemetaan aktor dalam kerja-kerja advokasi sosial maupun kemanusiaan, khususnya dalam menangani persoalan konflik dan kekerasan di Papua.Hal itu disampaikannya dalam kegiatan pelatihan riset dan advokasi yang diselenggarakan oleh Yayasan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Graha MPSI, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (15/5/2026).Menurut Erik, advokasi yang kuat tidak dapat dibangun hanya berdasarkan opini atau narasi emosional semata, melainkan harus didukung dengan riset yang sistematis, pemetaan persoalan secara komprehensif, serta pemahaman terhadap relasi antar aktor yang terlibat dalam konflik.“Riset menjadi fondasi utama dalam advokasi. Tanpa data yang valid dan pemetaan masalah yang jelas, maka langkah advokasi berpotensi kehilangan arah, bahkan dapat memperkeruh situasi di lapangan,” ujar Erik Fitriadi dalam pemaparannya.Ia menjelaskan, dalam konteks konflik Papua, terdapat berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari persoalan politik, ekonomi, sosial budaya hingga keamanan. Karena itu, pendekatan advokasi harus dilakukan secara objektif, terukur, dan mampu melihat persoalan secara utuh.“Konflik Papua tidak bisa dipandang secara hitam putih. Ada aspek historis, ada persoalan pembangunan, ada dinamika keamanan, dan ada pula dampak sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat sipil. Semua itu harus dipetakan secara ilmiah agar solusi yang ditawarkan tidak keliru,” katanya.Erik juga menekankan pentingnya memetakan aktor-aktor yang memiliki kepentingan dalam konflik, baik pemerintah, aparat keamanan, kelompok masyarakat sipil, tokoh adat, tokoh agama, hingga kelompok korban. Menurutnya, pemetaan aktor sangat menentukan efektivitas strategi advokasi yang akan dijalankan.“Advokasi bukan hanya soal kritik, tetapi bagaimana membangun jalan penyelesaian. Karena itu kita harus memahami siapa aktornya, bagaimana relasi kekuatannya, dan apa kepentingan masing-masing pihak,” jelasnya.Dalam kesempatan itu, Erik mendorong generasi muda dan para pegiat sosial untuk memperkuat kemampuan riset lapangan, dokumentasi data, serta pengelolaan narasi publik agar isu-isu kemanusiaan tidak mudah dipelintir menjadi propaganda atau perang informasi.“Di era digital hari ini, pertarungan tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di ruang informasi. Karena itu advokasi membutuhkan ketelitian, integritas data, dan kemampuan membangun narasi yang bertanggung jawab,” tegasnya.Kegiatan pelatihan riset dan advokasi yang digelar MPSI tersebut diikuti oleh sejumlah peserta dari kalangan mahasiswa, pegiat sosial, organisasi masyarakat sipil, dan peneliti muda yang membahas strategi pemetaan konflik, analisis aktor, jurnalis serta penguatan advokasi berbasis kebijakan dan komunitas.  Penulis: Jid Editor: GF 16 Mei 2026, 20:27 WIT
KOHATI Mimika Tegaskan Komitmen Bangun Organisasi yang Lebih Baik Papuanewsonline.com, Mimika – KOHATI Cabang Persiapan Mimika menggelar Rapat Kerja I dengan mengusung tema “Bersama Membangun KOHATI yang Lebih Baik”. Kegiatan yang berlangsung di Flash Cafe ini menjadi forum konsolidasi awal bagi pengurus dan kader untuk menyusun arah gerak organisasi ke depan.Raker I juga dibuka dengan pembahasan evaluasi persiapan cabang dan penguatan pemahaman ideologi ke-HMI-an di kalangan kader putri. Dalam forum tersebut, peserta membahas tiga fokus utama: penguatan ideologi dan keorganisasian, penyusunan program kerja strategis, serta penguatan solidaritas internal.Ketua Umum Kohati Cabang Persiapan Mimika Siti Hartina Rumbia, menyampaikan bahwa tema yang diangkat bukan sekadar slogan, melainkan komitmen bersama untuk menjadikan KOHATI Mimika sebagai ruang belajar, ruang tumbuh, dan ruang pengabdian bagi perempuan muda. “KOHATI harus hadir menjawab isu perempuan, pendidikan, dan sosial di Mimika dengan gagasan yang kritis dan aksi yang nyata,” ujarnya.Hasil Raker I ini diharapkan menjadi pijakan program kerja satu periode ke depan, mulai dari kaderisasi, diskusi tematik, hingga kegiatan pengabdian masyarakat. Para peserta sepakat bahwa pencapaian organisasi tidak bisa ditopang oleh kerja individu, melainkan membutuhkan sinergi antara pengurus, komisariat, dan alumni.Raker I ditutup dengan komitmen bersama untuk menjaga kekompakan dan menjalankan program kerja yang telah dirumuskan. Dengan semangat “Bersama Membangun KOHATI yang Lebih Baik”, KOHATI Cabang Persiapan Mimika optimis dapat berkontribusi lebih nyata bagi kader dan masyarakat Mimika. Penulis: Bim Editor: GF 15 Mei 2026, 14:16 WIT
HMI Cabang Persiapan Mimika Gelar Halal Bihalal dan FGD Perkaderan Papuanewsonline.com, Mimika — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Persiapan Mimika menggelar kegiatan Halal Bihalal dan Focus Group Discussion (FGD) Perkaderan dengan tema “Membangun Ekosistem Perkaderan yang Kuat, Inklusif, dan Berkelanjutan di HMI Mimika” pada Kamis (14/05/2026).Kegiatan tersebut dihadiri pengurus cabang, komisariat, alumni KAHMI, serta kader HMI di Mimika sebagai bagian dari upaya memperkuat arah perkaderan organisasi ke depan.Dalam sambutannya, Ketua HMI Cabang Persiapan Mimika, Prayoga Romin Saputra, menegaskan komitmen pengurus untuk melakukan penguatan kualitas perkaderan di tubuh HMI Cabang Mimika.“Kami berkomitmen, insyaallah kita akan sama-sama melakukan upaya-upaya penguatan untuk meningkatkan kualitas perkaderan di HMI Cabang Mimika,” ujar Prayoga.Ia menjelaskan, pelaksanaan FGD tersebut menjadi ruang bersama untuk mengevaluasi kondisi organisasi sekaligus merumuskan arah perkaderan HMI Mimika dalam jangka panjang.Menurutnya, forum tersebut juga merupakan jawaban atas berbagai kritik yang selama ini muncul terhadap kondisi internal organisasi.“Harapan kami, agar FGD ini menjadi keberanian bagi HMI Cabang Mimika untuk mulai berpikir lebih jauh ke depan. Karena kita harus akui, banyak kritik yang kami terima. Ada yang mengatakan kualitas cabang semakin menurun, komunikasi kurang baik, bahkan sistem dianggap berantakan,” katanya.Prayoga menambahkan, melalui forum formal tersebut seluruh kader diharapkan dapat duduk bersama untuk membedah persoalan organisasi dan memikirkan masa depan HMI Mimika secara serius dan terstruktur.“Maka agenda inilah yang menjadi jawaban. Inilah forum formal yang kita siapkan untuk duduk bersama, membedah persoalan, dan memikirkan secara serius bagaimana masa depan HMI Cabang Mimika,” tambahnya.Sementara itu, Perwakilan Presidium KAHMI Mimika, Duma Tato Sanda, dalam kesempatan yang sama menekankan pentingnya menjaga persatuan dalam tubuh HMI melalui penguatan nilai-nilai perkaderan.Ia mengingatkan bahwa proses perkaderan bukan hanya sekadar formalitas organisasi, tetapi menjadi pondasi utama dalam membangun solidaritas, kualitas kader, dan keberlanjutan organisasi di masa depan.Kegiatan Halal Bihalal dan FGD tersebut juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antar kader dan alumni pasca Hari Raya Idulfitri, sekaligus memperkuat sinergi dalam membangun HMI Mimika yang lebih baik. Penulis: Bim Editor: GF 14 Mei 2026, 21:23 WIT
Seni & Budaya Lihat semua
Satgas Ops Damai Cartenz 2026 Amankan Peresmian Gereja di Kiwirok Papuanewsonline.com, Pegunungan Bintang – Personel Satgas Tindak Operasi Damai Cartenz 2026 melaksanakan pengamanan kegiatan peresmian Gereja Injil Indonesia di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Jumat (15/05/2026).Kegiatan pengamanan dipimpin oleh Danpos Kiwirok, IPTU Enabel Julian K., S.Pd., dengan melibatkan 14 personel Satgas Tindak Ops Damai Cartenz 2026. Kehadiran aparat bertujuan memastikan seluruh rangkaian kegiatan ibadah dan peresmian gereja berjalan aman, tertib, dan penuh khidmat.Sejak pagi hari, personel telah bersiaga di sekitar lokasi guna memberikan rasa aman kepada masyarakat yang hadir mengikuti kegiatan keagamaan tersebut. Selain melakukan pengamanan, personel juga menjalin komunikasi humanis dengan tokoh agama dan masyarakat setempat sebagai bentuk pendekatan persuasif yang terus dikedepankan dalam pelaksanaan tugas di Papua.Kegiatan berlangsung dengan aman, lancar, dan kondusif. Masyarakat terlihat antusias dan merasa tenang dengan kehadiran aparat keamanan yang turut membantu menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung.Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Irjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, S.Sos., S.I.K., M.H. menyampaikan bahwa pengamanan kegiatan keagamaan merupakan bagian dari komitmen aparat dalam menjamin kebebasan masyarakat menjalankan ibadah dengan aman dan damai.“Kehadiran personel dalam kegiatan keagamaan bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat agar dapat melaksanakan ibadah dengan tenang dan penuh sukacita. Kami terus mengedepankan pendekatan humanis dan penuh rasa hormat terhadap nilai-nilai keagamaan serta budaya masyarakat Papua,” ujar Ka Ops Damai Cartenz 2026.Ia juga menegaskan bahwa stabilitas keamanan di Papua harus dibangun melalui kerja sama, toleransi, dan semangat persaudaraan antar seluruh elemen masyarakat.Sementara itu, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Adarma Sinaga, S.I.K., M.Hum. mengatakan bahwa pengamanan kegiatan masyarakat akan terus dilakukan secara profesional dan persuasif guna menciptakan situasi yang kondusif.“Kami ingin masyarakat merasakan bahwa aparat hadir sebagai pelindung dan pengayom. Melalui pendekatan dialogis dan humanis, kami berharap hubungan baik antara aparat dan masyarakat dapat terus terjalin demi terciptanya Papua yang aman dan damai,” ungkapnya.Kegiatan pengamanan peresmian gereja di Kiwirok ini menjadi bagian dari upaya Operasi Damai Cartenz 2026 dalam menjaga stabilitas keamanan sekaligus memperkuat keharmonisan dan toleransi di tengah masyarakat Papua. PNO-12 18 Mei 2026, 14:51 WIT
Ketua Dewan Adat Lemasa Tegaskan Hak Ulayat dan Tolak Klaim Sepihak atas Besi Tua di Areal Freeport Papuanewsonline.com, Timika – Bertempat di Honai Dewan Adat Lemasa, Jalan Kelimutu, Timika, Papua Tengah, Dewan Adat Lemasa bersama tokoh-tokoh adat Amungme menggelar pertemuan penting guna menyikapi berbagai persoalan adat dan hak ulayat masyarakat Amungme di wilayah operasional PT Freeport Indonesia. (13/05/26).Dalam pertemuan tersebut, para tokoh adat menegaskan penolakan terhadap klaim sepihak terkait pengelolaan besi tua di areal Freeport yang dinilai tidak melalui mekanisme adat dan tidak melibatkan seluruh pemilik hak ulayat secara sah.Ketua Dewan Adat Lemasa (Amungme Naisorey) Joel Beanal, menegaskan bahwa setiap keputusan yang menyangkut tanah adat, sumber daya, maupun aset yang berada di wilayah Amungsa harus dibicarakan bersama seluruh pemilik hak adat.“Kami menolak segala bentuk klaim sepihak yang mengatasnamakan masyarakat adat tanpa melalui musyawarah adat yang benar. Semua keputusan harus menghormati struktur adat dan hak masyarakat Amungme,” tegas Joel Beanal.Sementara itu, Wakil Ketua I Dewan Adat Lemasa (Amungme Naisorei) Domi Kum, menyampaikan bahwa masyarakat adat Amungme tetap menjaga persatuan dan meminta semua pihak menghormati keputusan adat yang lahir dari musyawarah bersama, demi keutuhan tatanan adat suku Amungme dari 11 wilayah amungsa.Dewan Kehormatan Anggota Pendiri Lemasa, Johanes Kasamol, juga mengingatkan pentingnya menjaga marwah lembaga adat sebagai rumah bersama masyarakat Amungme.“Lemasa berdiri untuk menjaga kepentingan masyarakat Amungme. Jangan ada pihak yang menggunakan nama adat demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu,” ujar Johanes Kasamol.Dalam kesempatan yang sama, Anggota Dewan Adat Lemasa sekaligus anak dari salah satu Tokoh besar pendiri Lemasa, Florentinus Beanal, menekankan bahwa kehadiran PT Freeport Indonesia selama ini telah memberikan dampak yang sangat baik bagi masyarakat Papua, khususnya suku Amungme, Kamoro, dan lima suku kekerabatan lainnya.“Freeport ini sudah terlalu baik untuk masyarakat Papua, secara khusus Amungme dan Kamoro serta lima suku kekerabatan. Kehadiran Freeport memberikan dampak persahabatan dan manfaat yang luar biasa bagi kita semua,” ujar Florentinus Beanal.Ia juga mengajak seluruh masyarakat adat untuk tetap menjaga persatuan, stabilitas, dan hubungan baik yang telah terbangun selama ini demi masa depan generasi Amungme di Tanah Papua.Stafg Peleksana Lemasa Bidang Adat dan Budaya, Ruben Kum, yang juga bertindak sebagai Pelaksana Program Harian Lemasa, menyampaikan bahwa lembaga adat memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga budaya, nilai-nilai adat, persatuan masyarakat Amungme, serta menjaga kehormatan tanah adat di tengah berbagai persoalan yang terjadi.“Kami di Lemasa tetap berdiri menjaga adat dan budaya Amungme. Semua persoalan harus diselesaikan dengan menghormati aturan adat, musyawarah, dan kepentingan seluruh masyarakat pemilik hak ulayat. Lemasa hadir untuk menjaga persatuan masyarakat Amungme agar tetap kuat dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan,” ujar Ruben Kum.Ia juga menambahkan bahwa Lemasa akan terus menjalankan program-program pemberdayaan masyarakat adat dan memperkuat koordinasi antarwilayah adat Amungme demi menjaga kehormatan masyarakat Amungsa dari Jigimugi sampai Mbumbram.Pertemuan tersebut turut dihadiri seluruh anggota Amungme Lemasa dari 11 wilayah Amungsa, mulai dari Jigimugi hingga Mbumbram. Kehadiran para anggota adat menunjukkan solidaritas dan komitmen bersama dalam menjaga hak-hak masyarakat Amungme.Melalui pertemuan ini, Dewan Adat Lemasa berharap seluruh pihak dapat menghormati mekanisme adat yang berlaku dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan setiap persoalan yang berkaitan dengan hak ulayat masyarakat Amungme.Para tokoh adat juga menegaskan pentingnya restu adat dan pengakuan terhadap eksistensi masyarakat asli, khususnya suku Amungme dan Kamoro, dalam setiap aktivitas ekonomi, investasi, maupun pengelolaan sumber daya alam di Tanah Papua. Menurut mereka, investor dan pemerintah wajib menghormati struktur adat yang telah berdiri sejak lama, seperti Lemasa dan Lemasko, sebagai representasi sah masyarakat pemilik hak ulayat.Dalam pernyataannya, para tokoh meminta negara dan seluruh pihak terkait untuk menghargai hak-hak masyarakat lokal tanpa membentuk lembaga-lembaga baru yang hanya melayani kepentingan kelompok tertentu demi keuntungan sepihak. Mereka menilai bahwa keberadaan lembaga adat asli merupakan fondasi penting dalam menjaga stabilitas sosial, budaya, dan hubungan kemitraan di wilayah adat Amungsa.Selain itu, Dewan Adat Lemasa juga mendorong adanya sinergi yang transparan dan terbuka antara pemerintah, PT Freeport Indonesia, dan masyarakat adat dalam pengelolaan sumber daya alam. Kemitraan yang dibangun diharapkan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat asli Papua, khususnya Amungme dan Kamoro.Lemasa sendiri merupakan lembaga kultur masyarakat Amungme yang berdiri sejak tahun 1994 dan dikenal sebagai salah satu lembaga adat pertama di Tanah Papua sebelum era reformasi serta sebelum lahirnya berbagai lembaga adat lainnya di Papua. Keberadaan Lemasa dinilai memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat Amungme serta menjaga nilai budaya dan adat istiadat yang diwariskan oleh leluhur.Para tokoh adat juga menyerukan persatuan seluruh masyarakat Amungme demi menjaga tanah adat, budaya, dan masa depan generasi penerus di Tanah Amungsa.Dalam dokumentasi kegiatan yang berlangsung di Honai Dewan Adat Lemasa tersebut, tampak para tokoh adat, pengurus Lemasa, serta masyarakat Amungme berkumpul bersama menyampaikan sikap adat secara terbuka dan damai. Pertemuan itu menjadi simbol persatuan masyarakat Amungme dalam menjaga hak ulayat, martabat adat, serta solidaritas antarwilayah Amungsa.Beberapa tokoh yang hadir secara langsung dalam kegiatan tersebut terlihat memberikan penyampaian dan dukungan terhadap keputusan bersama Dewan Adat Lemasa. Suasana pertemuan berlangsung penuh kekeluargaan dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur Amungme.Seluruh peserta yang hadir juga menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas masyarakat adat serta mengedepankan dialog adat dalam menyelesaikan setiap persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat Amungme di wilayah Timika dan sekitarnya.  Penulis: Jid Editor: GF 14 Mei 2026, 13:28 WIT
Kloter UPG-29 Papua Tiba Selamat di Makkah, Siap Laksanakan Ibadah Haji 2026 Papuanewsonline.com, Timika – Rombongan jamaah haji yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) UPG-29 asal Papua, termasuk calon haji dari Kabupaten Mimika, tiba dengan selamat di Kota Makkah, Arab Saudi, Selasa (12/5/2026) malam. Berangkat dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar pukul 07.30 WITA menggunakan pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GIA 1129, rombongan mendarat di Bandara King Abdul Aziz tepat pukul 22.05 WIT atau 16.05 waktu setempat dalam keadaan aman dan lancar tanpa kendala berarti.Pembimbing ibadah, H. Muhammad Hatta, membenarkan seluruh 392 orang yang terdiri dari 386 jamaah dan 6 petugas pendamping tiba dalam kondisi sehat. Jamaah berasal dari Mimika, Biak, Mappi, Kabupaten Jayapura, Asmat, hingga Merauke. Komposisinya didominasi perempuan sebanyak 231 orang dan laki-laki 161 orang. Sebagian besar masuk kategori risiko tinggi, yakni 342 orang, dengan rentang usia termuda 18 tahun hingga tertua 90 tahun.Selama di Tanah Suci, rombongan akan bermukim di Hotel Safwat Alsharooq sektor 5, dan nantinya akan pindah ke Hotel Dar Al Eiman Al Haram sektor 1 saat berada di Madinah. Pihak penyelenggara mengimbau seluruh jamaah agar senantiasa menjaga kesehatan, mengatur pola istirahat, serta taat mengikuti setiap arahan petugas pendamping demi kelancaran seluruh rangkaian ibadah haji tahun ini.“Alhamdulillah, selamat bertiba di Tanah Suci. Kami ucapkan selamat menunaikan ibadah haji bagi seluruh jamaah Kloter UPG-29. Semoga setiap langkah, doa, dan ibadah Bapak/Ibu diterima Allah SWT, menjadi haji yang mabrur, kembali ke tanah air dengan hati bersih, serta membawa kenangan indah dan pahala yang berlimpah. Tetap sehat dan semangat menjalani semua rangkaian ibadah,” ujar H. Muhammad Hatta mengucapkan doa dan harapan.  Penulis: Jid Editor: GF 13 Mei 2026, 10:56 WIT
Kloter UPG-29 Papua Berangkat Ke Tanah Suci, 342 Jamaah Termasuk Kategori Risiko Tinggi Papuanewsonline.com, Makassar – Kelompok Terbang UPG-29 yang membawa calon jamaah haji dari berbagai wilayah di Papua resmi diberangkatkan ke Tanah Suci melalui Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Kloter ini beranggotakan 392 orang, terdiri dari 386 jamaah dan 6 petugas pendamping, dengan komposisi 231 jamaah perempuan dan 161 laki-laki. Mayoritas berusia antara 40 hingga 59 tahun, dengan usia tertua 90 tahun dan termuda 18 tahun, serta berasal dari daerah Mimika, Biak, Mappi, Kabupaten Jayapura, Asmat, hingga Merauke.Dipimpin Mihraeni Karim, tim pendamping juga meliputi pembimbing ibadah, tenaga kesehatan, dan petugas pelayanan haji. Perhatian utama tertuju pada kondisi kesehatan, di mana sebanyak 342 jamaah masuk kategori risiko tinggi, meliputi risiko berat, sedang, dan ringan. Penyakit yang paling umum diderita adalah hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes. Sebanyak 13 jamaah membawa kursi roda pribadi, sementara 7 lainnya memerlukan bantuan alat bantu gerak dan pengawasan khusus.Dalam keberangkatan ini, satu jamaah asal Mimika bernama Eka Yeni Rahayu tertunda karena mengalami penurunan kadar oksigen, dan kini dirujuk ke RS Tajuddin Chalid Makassar untuk perawatan intensif. Tidak ada laporan kematian maupun perpindahan jamaah hingga saat ini. Nantinya, rombongan akan menginap di Hotel Safwat Alsharooq sektor 5 saat di Makkah, serta Hotel Dar Al Eiman Al Haram sektor 1 selama berada di Madinah.Penerbangan dilakukan menggunakan pesawat Garuda Indonesia nomor GIA 1129, lepas landas pukul 07.30 WITA dan dijadwalkan tiba di Arab Saudi pukul 16.15 WAS. Panitia Penyelenggara Ibadah Haji mengimbau seluruh jamaah untuk senantiasa menjaga kesehatan, mengatur waktu istirahat, dan menaati arahan petugas demi kelancaran ibadah haji tahun 2026. Penulis: Jid Editor: GF 13 Mei 2026, 10:10 WIT
120 Jemaah Haji Mimika Bertolak ke Tanah Suci, Dilepas dengan Doa dan Haru Mendalam Papuanewsonline.com, Timika – Calon jemaah haji reguler dari Kabupaten Mimika sejumlah 120 jamaah, didampingi tiga petugas resmi, akhirnya berangkat menuju Tanah Suci guna menunaikan ibadah haji tahun 2026 atau 1447 Hijriah. Momen pelepasan rombongan kloter kedua berlangsung sangat khidmat dan sarat haru di Masjid Al Azhar, Jalan Bhayangkara, pada Minggu (10/5/26).Keberangkatan ini merupakan kelanjutan dari pelepasan resmi yang telah dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Mimika sejak 28 April lalu. Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Mimika, H. M. Hilal, berpesan agar seluruh jemaah senantiasa menjaga kesehatan dan memurnikan niat ibadah.“Haji bukan sekadar perjalanan rohani semata, melainkan ibadah suci untuk mendekatkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT,” ujarnya.Ia juga mengimbau agar nama baik daerah selalu dijaga selama berada di Arab Saudi, mengingat perhatian besar yang telah diberikan pemerintah daerah.Suasana semakin mengharukan saat Ketua MUI Mimika, Ustadz KH. M. Amin AR, memimpin doa bersama, diiringi tangis haru para jemaah dan keluarga yang mengantar. Setelah menunaikan sholat sunnah safar, rombongan bergerak menuju Bandara Mozes Kilangin Timika menggunakan bus pemerintah dengan pengawalan ketat. Mereka dijadwalkan menginap di Asrama Haji Sudiang Makassar pada 11 Mei, sebelum terbang ke Jeddah keesokan harinya. Penasehat PPIHD Mimika, H. M. Darwis, turut menyampaikan doa dan ucapan selamat jalan.“Kami ucapkan selamat menempuh perjalanan suci, semoga Bapak Ibu senantiasa diberi keselamatan, kesehatan, dan kekuatan. Besar harapan kami agar Bapak Ibu pulang kembali ke Mimika dengan membawa keberkahan dan predikat haji mabrur,” ungkapnya. Ia menegaskan panitia akan terus berikan pelayanan terbaik mulai dari keberangkatan hingga kepulangan nanti. Penulis: Jid Editor: GF 10 Mei 2026, 23:20 WIT
LMA Mimika Ajak Semua Pihak Tahan Diri Jaga Perdamaian dan Lindungi Warga Sipil Papua Papuanewsonline.com, Mimika - Anggota Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Mimika, Jerry Alom, S.Sos.,M.Si mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga perdamaian dan menciptakan situasi aman di Papua Tengah di tengah dinamika keamanan yang terjadi di sejumlah wilayah pedalaman.Menurut Jerry Alom, masyarakat Papua pada dasarnya menginginkan kehidupan yang damai, tenang, dan terbebas dari konflik berkepanjangan. Karena itu, ia berharap seluruh pihak dapat mengedepankan pendekatan kemanusiaan serta menahan diri demi keselamatan masyarakat sipil.“Kami berharap semua pihak bisa bersama-sama menjaga kedamaian di Tanah Papua. Masyarakat hanya ingin hidup aman, bekerja dengan tenang, dan membesarkan keluarga dalam suasana yang damai,” ujar Jerry Alom, Sabtu (9/5/2026).Ia menyampaikan bahwa masyarakat di sejumlah wilayah, termasuk kawasan perbatasan Kabupaten Mimika dan Puncak, sangat berharap situasi keamanan segera kondusif agar aktivitas warga dapat kembali berjalan normal."Semangat persatuan dan kepedulian sosial harus terus diperkuat agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh situasi yang dapat memperkeruh keadaan", tegasnya. Menurutnya, tokoh adat, tokoh gereja, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga harmoni sosial di Papua.“Papua ini rumah kita bersama. Karena itu, mari kita jaga persaudaraan, saling melindungi, dan mengutamakan keselamatan masyarakat sipil,” katanya.Ia juga memberikan apresiasi kepada berbagai pihak yang terus mendorong penyelesaian persoalan melalui dialog dan pendekatan damai demi menjaga stabilitas serta masa depan generasi muda Papua."Masyarakat Papua memiliki semangat gotong royong dan nilai kekeluargaan yang kuat. Nilai tersebut dinilai menjadi modal penting dalam membangun kedamaian dan memperkuat persatuan di tengah tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini", tandasnya. Lanjutnya, sebagai Anggota LMA Kabupaten Mimika, ia sangat percaya kedamaian Papua bisa terwujud apabila semua pihak menahan diri dan komitmen menjaga persaudaraan bersama. "Kami percaya Papua bisa tetap damai jika semua pihak memiliki komitmen yang sama untuk menjaga kemanusiaan dan persaudaraan,” tutupnya. Penulis: JidEditor: GF 10 Mei 2026, 07:32 WIT
Video Lainnya
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT