logo-website
Jumat, 27 Mar 2026,  WIT
BERITA TAG Kriminal Homepage
Redam Aksi Bentrok di Danar, Polisi Imbau Masyarakat Menahan Diri dan tidak mudah terprovokasi Papuanewsonline.com, Malra - Kepolisian Daerah Maluku melalui Bidang Humas membenarkan terjadinya bentrok antar kelompok pemuda di Desa Danar Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara, yang terjadi sejak Jumat (26/3) malam hingga Sabtu (27/3) dini hari.Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi, S.I.K, dalam keterangan resminya menyampaikan bahwa aparat kepolisian dihawah pimpinan Kapolres Malra AKBP RIAN SUHENDI, S.PT., S.I.K telah mengambil langkah cepat dan terukur untuk mengendalikan situasi.“Benar telah terjadi bentrokan antar kelompok pemuda, Personel Polres Maluku Tenggara dibantu satuan Brimob telah melakukan penanganan secara cepat sehingga situasi saat ini berangsur kondusif,” ujarnya.Menurut Kombes Rositah, Peristiwa bermula dari kesalahpahaman antar pemuda yang memicu adanya konsentrasi massa dan aksi saling lempar antar kelompok. Situasi sempat mereda setelah kehadiran aparat, namun kembali terjadi eskalasi pada dini hari hingga menyebabkan bentrokan lanjutan Dari kejadian tersebut terdapat korban luka baik dari pihak aparat Kepolisian yang melerai maupun dari pihak masyarakat kedua belah pihak yang terlibat bentrokan tersebut, diantaranya :3 orang Anggota Polri:* Wakapolres Malra, KOMPOL Djufri Jawa* Kasat Reskrim Polres Malra, AKP Barry Talabessy, S.Pd., S.H., M.H * Personil Satsamapta Polres Malra, Bripda Siswanto Sofyan 3 orang anggota Masyarakat :* sdr. FFH (22 thn)* sdr. MSS (17 thn)* sdr. AA R (37 thn)Serta satu orang masyarakat meninggal dunia Sdr FAR (25 thn)Sedangkan untuk kerugian materiil yang baru berhasil didatakan saat ini :* 3 unit rumah terbakar* 4 unit rumah rusak berat* 1 unit sepeda motor terbakarData-data diatas akan diupdate kembali sesuai perkembangan situasi dan kondisi dilapangan.Situasi saat ini telah berhasil dikendalikan oleh aparat Kepolisian Polres Malra beserta personil Brimob Yon C Pelopor di lokasi kejadian dan telah dilakukan penyekatan antara kedua kelompok yang bertikai, kata Kombes Rositah.Dia juga menegaskan bahwa Polri mengedepankan langkah persuasif, penegakan hukum secara profesional, serta koordinasi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas keamanan.“Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk menahan diri, tidak terprovokasi, serta mempercayakan penanganan sepenuhnya kepada aparat keamanan. Upaya rekonsiliasi dan pemulihan situasi sosial terus dilakukan,” tegasnya.Saat ini aparat kepolisian masih melakukan pengamanan di lokasi serta pendalaman lebih lanjut guna memastikan situasi tetap aman dan kondusif. PNO-12 27 Mar 2026, 15:12 WIT
Kericuhan Maluku Tenggara Memanas, Dua Perwira Polisi Terluka Akibat Panah Wayer Papuanewsonline.com, Maluku Tenggara - Kericuhan yang terjadi di wilayah Maluku Tenggara pada Jumat (27/3/2026) dini hari menyebabkan dua pejabat kepolisian mengalami luka serius akibat serangan panah wayer.Insiden tersebut berlangsung di Desa Danar Ternate, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, dan langsung mendapat penanganan aparat keamanan yang bergerak cepat ke lokasi kejadian.Dua perwira yang menjadi korban adalah Wakapolres Maluku Tenggara, Kompol Jufri Djawa, serta Kasat Reskrim, AKP Barry Talabessy. Keduanya mengalami luka akibat terkena panah wayer saat berada di lokasi kericuhan.Kapolres Maluku Tenggara, Rian Suhendi, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menyebut situasi di lapangan bermula dari keributan yang kemudian berkembang menjadi bentrokan."Benar, biasalah ribut-ribut, saya sekarang ada di TKP," ujarnya.Setelah kejadian, kedua korban segera dievakuasi dan dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis intensif.Selain korban dari pihak kepolisian, informasi awal dari lapangan juga menyebutkan adanya korban jiwa dalam insiden tersebut. Setidaknya dua orang dilaporkan meninggal dunia.Kericuhan juga mengakibatkan kerusakan cukup besar, dengan puluhan rumah warga dilaporkan terbakar dan mengalami kerusakan akibat bentrokan yang terjadi.Hingga saat ini, motif pasti di balik kericuhan tersebut masih belum diketahui. Aparat kepolisian masih terus melakukan penyelidikan guna mengungkap penyebab serta pihak-pihak yang terlibat.Sementara itu, situasi di lokasi kejadian masih dalam pengamanan ketat aparat gabungan untuk mencegah terjadinya kericuhan lanjutan.Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum tentu benar, serta menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kepada aparat berwenang. Penulis: Hendrik Editor: GF 27 Mar 2026, 14:36 WIT
Kegiatan Pembersihan Jalan RTH Disorot, Aliansi Peduli Pengusaha OAP Tantang Pemkab Mimika Papuanewsonline.com, Mimika – Aliansi Peduli Pengusaha Orang Asli Papua (OAP) Kabupaten Mimika mengungkap temuan serius terkait pelaksanaan sejumlah kegiatan pemerintah di beberapa distrik yang diduga berjalan tanpa kontrak resmi, tanpa transparansi, serta minimnya pelibatan pengusaha asli Papua. 27/3/26)Dalam temuan di lapangan, terlihat kegiatan penataan lingkungan dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sudah berjalan, namun tidak memiliki kejelasan administrasi kontrak yang sah. Kondisi ini memunculkan kecurigaan publik terhadap mekanisme pelaksanaan yang dinilai menyimpang dari aturan yang berlaku.Lebih jauh, Aliansi juga menemukan indikasi kuat adanya dugaan keterlibatan orang-orang dekat atau lingkaran tertentu dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Selain itu, ditemukan pula praktik penggunaan nama pengusaha OAP yang hanya dijadikan sebagai "formalitas" semata, sementara pihak yang benar-benar melaksanakan pekerjaan bukan merupakan orang asli Papua. Jika dugaan ini terbukti, maka praktik ini dinilai sebagai bentuk penyimpangan serius yang tidak hanya melanggar etika administrasi negara, tetapi juga mencederai hak ekonomi masyarakat asli di tanahnya sendiri, serta bertentangan dengan semangat Undang-Undang Otonomi Khusus Papua dan kebijakan afirmatif pemerintah pusat.Ketua Aliansi, Emus Kogoya, menegaskan bahwa persoalan ini sudah masuk pada level serius yang harus segera ditangani oleh pemerintah daerah. "Kami menemukan pekerjaan sudah berjalan di lapangan, tapi kontrak tidak jelas. Ini tidak boleh dianggap biasa. Ini harus dijelaskan ke publik: siapa yang kerja, pakai dasar apa, dan kenapa pengusaha OAP tidak dilibatkan?" tegasnya. Aliansi juga secara terbuka menantang Inspektorat Kabupaten Mimika untuk segera turun melakukan audit dan pemeriksaan menyeluruh terhadap kegiatan-kegiatan tersebut. "Inspektorat jangan diam. Ini uang negara, ini hak masyarakat. Kalau ada pelanggaran, harus dibuka secara transparan," lanjutnya.Momentum sorotan ini juga terjadi tepat setelah genap satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Mimika. Aliansi menyampaikan pesan terbuka meminta klarifikasi terkait kesesuaian kegiatan ini dengan visi dan misi yang telah disampaikan. Secara resmi, Aliansi meminta klarifikasi terbuka, pemeriksaan menyeluruh oleh Inspektorat, penghentian praktik penggunaan nama OAP sebagai formalitas, serta pelibatan nyata pengusaha asli dalam setiap kegiatan pemerintah. "Kami tidak datang untuk melawan pemerintah. Kami datang untuk mengingatkan. Tapi kalau hak OAP terus diabaikan, maka kami akan berdiri paling depan untuk bersuara," tegas Aji Lemauk. Aliansi menegaskan akan terus mengawal persoalan ini dan siap menempuh langkah advokasi hingga tingkat pusat jika tidak ada respons serius. Penulis: Jid Editor: GF 27 Mar 2026, 11:41 WIT
TPNPB Umumkan Duka Nasional, Alfons Sorry Tewas di Maybrat Papuanewsonline.com, Maybrat - Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap IV Sorong Raya mengumumkan duka nasional atas gugurnya salah satu anggota mereka, Peltu Alfons Sorry, dalam insiden kontak bersenjata di wilayah Maybrat, Papua.Pengumuman tersebut disampaikan melalui siaran pers resmi Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB tertanggal Kamis, 26 Maret 2026, berdasarkan laporan dari jajaran pimpinan di lapangan.Dalam laporan itu disebutkan bahwa informasi diterima dari Panglima Daerah Brigjend Denny Moos bersama Wakil Panglima Kolonel Zakarias Fatem melalui Komandan Operasi Mayor Manfred Fatem dan Letnan Kolonel Zeth Fatem.Almarhum Peltu Alfons Sorry dilaporkan meninggal dunia pada Minggu, 22 Maret 2026 sekitar pukul 08.15 WIT setelah terkena tembakan saat terlibat dalam penyerangan di Pos TNI Kampung Sorry, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat.Menurut keterangan yang disampaikan dalam siaran pers tersebut, hingga 26 Maret 2026 jenazah korban disebut belum dikembalikan kepada pihak keluarga dan masih berada di lokasi kejadian.Peltu Alfons Sorry diketahui menjabat sebagai Wakil Komandan Operasi Batalyon Buaya di bawah KODAP IV Sorong Raya. Ia disebut sebagai salah satu anggota yang aktif terlibat dalam berbagai operasi kelompok tersebut di wilayah Papua Barat Daya.Dalam riwayat yang disampaikan, ia bergabung sejak tahun 2021 dan kemudian dipercaya menduduki posisi strategis pada tahun 2023 setelah melalui proses reorganisasi internal."Almarhum Alfons sorry masuk di TPNPB Batalyon Buaya KODAP IV Sorong Raya pada tahun 2021 sebagai anggota atau pasukan biasa, namun berjalannya proses reorganisasi dalam revisinya, Alm. Alfons Sorry menjabat sebagai Wakil Komandan Operasi Batalyon Buaya pada tahun 2023."Selain itu, disebutkan pula bahwa almarhum terlibat dalam sejumlah aksi bersenjata sebelumnya bersama Komandan Operasi Mayor Manfred Fatem di berbagai wilayah konflik."Alfons sorry masuk dalam medan perang di Moskona Utara bersama Komandan Operasi KODAP IV Sorong Raya, Mayor Manfred Fatem berhasil merampas 1 unit senjata DMR SPM 1 sniper pada hari Sabtu, tanggal, 11 Oktober 2025 tepat jam 13,45 WP.""Alm. Alfons Sorry masuk dalam Medan perang di Pos TNI di Kampung Sorry distrik Aifat Selatan Kabupaten Maybrat Papua bersama Komandan Operasi KODAP IV Sorong Raya berhasil merampas senjata Caracal buatan Rusia jenis bazoka, 1 pucuk tambah senjata berat dewoo precision ind magasen samping tanam kaki dua senjata berat 1 pucuk, dan tambah 2 magasen tambah amunisi 49 butir pada hari Minggu, 22 Maret 2026 tepat pada jam 06:30 pagi WP."Atas kejadian tersebut, TPNPB secara resmi menyatakan duka nasional atas kehilangan yang mereka sebut sebagai salah satu prajurit terbaik di wilayah Sorong Raya.Pernyataan itu disampaikan oleh juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, yang juga menegaskan posisi organisasi dalam konflik yang terus berlangsung di Tanah Papua.Situasi ini kembali menambah panjang daftar insiden kekerasan bersenjata di Papua, khususnya di wilayah Maybrat yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu titik konflik dengan intensitas tinggi.(GF) 26 Mar 2026, 15:21 WIT
Satgas Ops Damai Cartenz Bersama Personil Gabungan Respon Cepat Tangani Kasus Penganiayaan Papuanewsonline.com, Yahukimo – Personil Gabungan Satgas Ops Damai Cartenz, Polres Yahukimo dan BKO Brimob Polda Papua bergerak cepat menangani kasus penganiayaan yang terjadi di area parkir Gereja GKI Metanoia, Dekai, Senin malam (23/3/2026) sekitar pukul 20.30 WIT.Korban, seorang pria berinisial SGF (44), saat ini dalam kondisi sadar dan masih menjalani perawatan di RSUD Dekai. Penanganan medis terus dilakukan untuk memastikan kondisi korban stabil.Peristiwa terjadi saat korban hendak pulang usai melakukan persiapan kegiatan ibadah. Berdasarkan keterangan saksi, korban diserang oleh orang tak dikenal di area parkir gereja. Warga sekitar segera memberikan pertolongan dan membawa korban ke rumah sakit.Menerima laporan tersebut, personel langsung bergerak menuju lokasi dan RSUD Dekai untuk melakukan penanganan awal, mengamankan situasi, serta mengumpulkan keterangan saksi. Aparat juga melakukan penyisiran di sekitar lokasi guna mendukung proses penyelidikan.Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Irjen Pol. Dr. Faizal Ramdhani S.Sos., S.I.K., M.H. menegaskan bahwa penanganan kasus dilakukan secara profesional dan terukur.“Aparat bergerak cepat untuk memastikan situasi tetap aman dan kondusif serta memberikan rasa aman kepada masyarakat,” ujar Irjen Pol. Dr. Faizal.Sementara itu, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol. Adarma Sinaga S.I.K., M.Hum. menyampaikan bahwa langkah-langkah pengamanan terus ditingkatkan.“Kami terus memperkuat patroli dan pengawasan guna mencegah terjadinya gangguan kamtibmas serta menjaga stabilitas keamanan di wilayah Yahukimo,” ungkap Kombes Pol. Adarma.Wakasatgas Humas Ops Damai Cartenz-2026, AKBP Andria, S.I.K., menambahkan bahwa penanganan dilakukan secara cepat dan terukur sejak awal kejadian.“Korban telah dievakuasi dan mendapatkan penanganan medis dalam kondisi sadar. Personel kami juga telah mengamankan TKP, mengumpulkan keterangan saksi, serta melakukan penyisiran di sekitar lokasi. Saat ini situasi terpantau terkendali,” jelasnya.Ia juga menegaskan bahwa perlindungan terhadap hak dan privasi korban menjadi prioritas, sekaligus memastikan proses penegakan hukum berjalan secara profesional.Aparat mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta bersama-sama menjaga keamanan lingkungan.Penanganan kasus ini terus dilakukan dengan mengedepankan perlindungan terhadap korban serta menjaga situasi tetap aman dan kondusif. PNO-12 25 Mar 2026, 17:59 WIT
TPNPB Kodap XVI Yahukimo Bertanggung Jawab Atas Penikaman Aparat Militer Indonesia Papuanewsonline,com, Yahukimo - Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap XVI Yahukimo telah mengakui dan bertanggung jawab atas penikaman seorang aparat militer Indonesia inisial GV, pada 23 Maret 2026 di Jalan Seredala, Yahukimo.Menurut Siaran Pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB, penikaman tersebut dilakukan oleh Komandan Batalyon Eden Sawi, Mayor Ohion Helembo, karena korban diduga terlibat sebagai aparat militer pemerintah Indonesia di wilayah konflik bersenjata."Korban selama ini kami telah mengikuti jejaknya dan banyak terlibat bersama aparat militer Indonesia di wilayah konflik bersenjata dan selain bekerja di Bappeda Yahukimo korban juga sering mencari tahu informasi dari dalam kantor terkait keberadaan pasukan TPNPB dan membagikan informasi tersebut kepada aparat militer Indonesia," kata Jubir TPNPB, Sebby Sambom, dalam siaran persnya.TPNPB juga memperingatkan warga imigran Indonesia di wilayah konflik untuk segera meninggalkan area tersebut karena tidak ada jaminan keamanan. Selain itu, TPNPB juga memerintahkan penutupan kantor-kantor pemerintahan, sekolah, rumah sakit, dan bangunan sipil yang dijadikan pos-pos militer Indonesia."Jika mau kejar kami silahkan datang ke Markas TPNPB Kodap XVI Yahukimo karena seluruh pasukan telah berada di Markas TPNPB," tambah Sebby Sambom.Pemerintah Indonesia belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden ini. Namun, TPNPB menegaskan bahwa mereka akan terus meningkatkan operasi dan perang melawan aparat militer Indonesia di seluruh Tanah Papua untuk merebut kembali kemerdekaan bangsa Papua. Penulis: Hendrik Editor: GF 24 Mar 2026, 21:25 WIT
TPNPB Klaim Melakukan Penikaman Aparat Militer di Yahukimo Papuanewsonline.com, Yahukimo - Insiden kekerasan kembali terjadi di wilayah Yahukimo, Papua Pegunungan, setelah seorang anggota yang disebut sebagai agen intelijen militer Indonesia menjadi korban penikaman di Dekai pada Sabtu, 21 Maret 2026 sekitar pukul 08.30 WIT.Peristiwa tersebut terjadi di Jalan Pemukiman, Jalur 1 Perempatan, dan mengakibatkan korban mengalami luka tusuk serius hingga berada dalam kondisi kritis. Korban saat ini dilaporkan tengah menjalani perawatan intensif.Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) melalui siaran persnya mengakui bertanggung jawab atas insiden tersebut. Pernyataan itu disampaikan oleh jajaran TPNPB Kodap XVI Yahukimo melalui laporan resmi dari lapangan.Dalam keterangannya, pihak TPNPB menyebut bahwa aksi tersebut dilakukan berdasarkan perintah pimpinan mereka di wilayah Yahukimo. Mereka juga menegaskan kesiapannya untuk bertanggung jawab atas tindakan tersebut."Eksekusi terhadap seluruh agen intelijen militer pemerintah Indonesia tersebut kami lakukan atas perintah Panglima TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Brigjend Elkius Kobak dan Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka sehingga kami sampaikan kepada aparat militer Indonesia untuk tidak melakukan penyerangan, penangkapan dan penembakan terhadap warga sipil di Yahukimo. Jika mau kejar silahkan datang ke markas TPNPB kami siap bertanggung jawab."Pernyataan tersebut juga disertai dengan imbauan keras kepada pihak-pihak yang berada di wilayah konflik. TPNPB mengingatkan adanya risiko tinggi bagi siapa pun yang tetap beraktivitas di daerah tersebut."Kami juga mengimbau kepada seluruh warga imigran yang berprofesi sebagai tukang ojek, pendulang emas ilegal, pedagang kaki lima dan sebagainya yang berada di wilayah konflik bersenjata di Yahukimo bahwa tidak ada jaminan keamanan dan perlindungan terhadap anda di wilayah perang sehingga anda segera keluar dari Yahukimo. Jika anda masih bertahan maka, kami cap anda sebagai agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang wajib di eksekusi mati karena menghiraukan ultimatum kami."Insiden ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi keamanan di Yahukimo yang kembali memanas. Warga sipil yang tinggal di sekitar lokasi kejadian dilaporkan semakin waspada terhadap potensi kekerasan lanjutan.Aparat keamanan diharapkan meningkatkan pengamanan serta memastikan perlindungan bagi masyarakat yang berada di wilayah rawan konflik. Situasi ini juga menjadi perhatian serius berbagai pihak terkait stabilitas keamanan di Papua. Peristiwa penikaman ini kembali menunjukkan kompleksitas konflik di Papua yang belum sepenuhnya mereda. Upaya penanganan yang komprehensif dinilai diperlukan untuk mencegah eskalasi kekerasan di masa mendatang. (GF) 23 Mar 2026, 10:11 WIT
TPNPB Klaim Tanggung Jawab atas Tewasnya Karyawan PT Freeport di Tembagapura Papuanewsonline.com, Mimika - Insiden penembakan terjadi di kawasan Tembagapura, Papua Tengah, pada 11 Maret 2026, yang mengakibatkan satu karyawan PT Freeport McMoRan tewas dan satu lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa ini kembali menyoroti situasi keamanan di wilayah pertambangan yang kerap menjadi titik konflik.Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) melalui pernyataan resminya mengakui bertanggung jawab atas penembakan tersebut. Korban yang meninggal dunia diketahui bernama Simson Mulia, sementara rekannya mengalami luka akibat serangan tersebut.Komandan TPNPB di wilayah Tembagapura, Mayor Jeki Murib, menyampaikan bahwa aksi tersebut dilakukan berdasarkan perintah pimpinan kelompok mereka. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk protes terhadap aktivitas perusahaan yang dianggap ilegal."Penembakan tersebut kami lakukan karena telah mengeluarkan ultimatum bahwa seluruh perusahaan ilegal yang beroperasi di atas Tanah Papua segera ditutup karena dampak dari itu masyarakat adat menjadi korban dan sumber daya alam dirampas oleh pemerintah kolonialisme Indonesia yang didukung oleh negara-negara kapitalisme asing di seluruh dunia,"Dalam keterangannya, Mayor Jeki Murib juga menegaskan bahwa aksi yang dilakukan oleh kelompoknya bukan semata-mata untuk kepentingan ekonomi, melainkan bagian dari perjuangan yang mereka yakini."Kami melindungi sumber daya alam Papua yang terus dicuri dan dirampok oleh negara kolonialisme Indonesia serta antek asing yang sejak tahun 1967 telah merusak kekayaan alam Papua serta membunuh manusia Papua tanpa adanya rasa kemanusiaan," katanyaSelain itu, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB juga mengeluarkan pernyataan yang berisi imbauan kepada seluruh jajarannya di berbagai wilayah Papua. Pernyataan tersebut menegaskan sikap kelompok dalam menghadapi aktivitas yang mereka anggap merugikan.Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius, terutama bagi para pekerja dan masyarakat sipil yang berada di sekitar wilayah konflik. Aktivitas ekonomi di kawasan tersebut berpotensi terganggu akibat meningkatnya risiko keamanan.TPNPB juga menyampaikan tuntutan kepada pemerintah Indonesia untuk menghentikan aktivitas perusahaan yang mereka anggap ilegal serta memenuhi hak-hak masyarakat adat Papua."Kami tidak akan berhenti berjuang sampai pemerintah Indonesia mengakui hak-hak kami dan memberikan kemerdekaan bagi bangsa Papua," tutup sambom.Insiden ini kembali menegaskan bahwa wilayah Tembagapura masih berada dalam kondisi rawan konflik. Aparat keamanan diharapkan meningkatkan pengamanan, sementara upaya dialog dan penyelesaian konflik secara damai dinilai menjadi langkah penting ke depan. Penulis: Hendrik Editor: GF 23 Mar 2026, 10:04 WIT
Penembakan di Puncak Jaya, Tenaga Kesehatan Militer Jadi Korban, Aksi OPM Dikecam Papuanewsonline.com, Puncak Jaya - Insiden penembakan yang menargetkan kendaraan berisi aparat dan tenaga kesehatan militer terjadi di Distrik Nume, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, pada 21 Maret 2026 sekitar pukul 14.00 WIT. Peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata di wilayah tersebut.Kendaraan jenis Triton yang menjadi sasaran diketahui membawa seorang anggota yang disebut sebagai agen intelijen militer bersama tiga penumpang lainnya, termasuk tenaga kesehatan yang tengah menjalankan tugas pelayanan di wilayah konflik.Serangan tersebut menuai kecaman luas karena tidak hanya menyasar aparat, tetapi juga tenaga kesehatan yang memiliki peran kemanusiaan dalam memberikan layanan kepada masyarakat di daerah terpencil dan rawan konflik.Kelompok TPNPB melalui juru bicaranya, Sebby Sambom, mengakui adanya insiden tersebut dalam pernyataan resminya. "Proses penembakan ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut, namun kami telah menerima laporan bahwa mobil tersebut mengalami luka tembak," kata Sebby Sambom, Jubir TPNPB OPM, dalam siaran persnya.Dalam pernyataan lanjutan, kelompok tersebut juga menyampaikan ancaman terhadap pihak-pihak yang berada di wilayah konflik. "Kami telah memperingatkan bahwa Jalan Trans Jayapura-Wamena akan menjadi wilayah operasi TPNPB, dan kami tidak akan bertanggung jawab atas keselamatan warga imigran Indonesia yang tetap berada di wilayah konflik," tambah Sambom.Tindakan ini dinilai sebagai bentuk kekerasan yang tidak dapat dibenarkan, terutama karena turut membahayakan tenaga kesehatan yang seharusnya dilindungi dalam situasi konflik. Kehadiran tenaga medis di wilayah Papua selama ini justru bertujuan membantu masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.Selain itu, serangan terhadap kendaraan sipil maupun tenaga pelayanan publik berpotensi memperburuk situasi keamanan dan meningkatkan rasa takut di tengah masyarakat yang tinggal di wilayah konflik.Dalam keterangannya, TPNPB juga mengeluarkan imbauan agar sejumlah profesi, termasuk tenaga kesehatan, meninggalkan wilayah Papua. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran karena menunjukkan adanya ancaman berkelanjutan terhadap pekerja sipil."Kami membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk membantu warga sipil yang terjebak di wilayah konflik," kata Sambom.Namun di sisi lain, pernyataan tersebut dinilai kontradiktif dengan tindakan kekerasan yang justru memperparah kondisi kemanusiaan di lapangan. Serangan terhadap tenaga kesehatan berpotensi menghambat akses layanan medis bagi masyarakat yang sangat membutuhkan.Insiden ini kembali menegaskan pentingnya perlindungan terhadap tenaga kesehatan dan pekerja kemanusiaan di wilayah konflik. Aparat keamanan diharapkan meningkatkan pengamanan, sementara masyarakat diimbau tetap waspada terhadap situasi yang berkembang.Peristiwa di Puncak Jaya ini menjadi pengingat bahwa kekerasan terhadap tenaga medis tidak hanya melanggar nilai kemanusiaan, tetapi juga berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat sipil yang bergantung pada layanan kesehatan di daerah terpencil. Penulis: Hendrik Editor: GF 22 Mar 2026, 20:13 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT