Papuanewsonline.com
BERITA TAG Kriminal
Homepage
Redam Aksi Bentrok di Danar, Polisi Imbau Masyarakat Menahan Diri dan tidak mudah terprovokasi
Papuanewsonline.com, Malra - Kepolisian Daerah Maluku melalui Bidang Humas membenarkan terjadinya bentrok antar kelompok pemuda di Desa Danar Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara, yang terjadi sejak Jumat (26/3) malam hingga Sabtu (27/3) dini hari.Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi, S.I.K, dalam keterangan resminya menyampaikan bahwa aparat kepolisian dihawah pimpinan Kapolres Malra AKBP RIAN SUHENDI, S.PT., S.I.K telah mengambil langkah cepat dan terukur untuk mengendalikan situasi.“Benar telah terjadi bentrokan antar kelompok pemuda, Personel Polres Maluku Tenggara dibantu satuan Brimob telah melakukan penanganan secara cepat sehingga situasi saat ini berangsur kondusif,” ujarnya.Menurut Kombes Rositah, Peristiwa bermula dari kesalahpahaman antar pemuda yang memicu adanya konsentrasi massa dan aksi saling lempar antar kelompok. Situasi sempat mereda setelah kehadiran aparat, namun kembali terjadi eskalasi pada dini hari hingga menyebabkan bentrokan lanjutan Dari kejadian tersebut terdapat korban luka baik dari pihak aparat Kepolisian yang melerai maupun dari pihak masyarakat kedua belah pihak yang terlibat bentrokan tersebut, diantaranya :3 orang Anggota Polri:* Wakapolres Malra, KOMPOL Djufri Jawa* Kasat Reskrim Polres Malra, AKP Barry Talabessy, S.Pd., S.H., M.H * Personil Satsamapta Polres Malra, Bripda Siswanto Sofyan 3 orang anggota Masyarakat :* sdr. FFH (22 thn)* sdr. MSS (17 thn)* sdr. AA R (37 thn)Serta satu orang masyarakat meninggal dunia Sdr FAR (25 thn)Sedangkan untuk kerugian materiil yang baru berhasil didatakan saat ini :* 3 unit rumah terbakar* 4 unit rumah rusak berat* 1 unit sepeda motor terbakarData-data diatas akan diupdate kembali sesuai perkembangan situasi dan kondisi dilapangan.Situasi saat ini telah berhasil dikendalikan oleh aparat Kepolisian Polres Malra beserta personil Brimob Yon C Pelopor di lokasi kejadian dan telah dilakukan penyekatan antara kedua kelompok yang bertikai, kata Kombes Rositah.Dia juga menegaskan bahwa Polri mengedepankan langkah persuasif, penegakan hukum secara profesional, serta koordinasi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas keamanan.“Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk menahan diri, tidak terprovokasi, serta mempercayakan penanganan sepenuhnya kepada aparat keamanan. Upaya rekonsiliasi dan pemulihan situasi sosial terus dilakukan,” tegasnya.Saat ini aparat kepolisian masih melakukan pengamanan di lokasi serta pendalaman lebih lanjut guna memastikan situasi tetap aman dan kondusif. PNO-12
27 Mar 2026, 15:12 WIT
Kericuhan Maluku Tenggara Memanas, Dua Perwira Polisi Terluka Akibat Panah Wayer
Papuanewsonline.com, Maluku Tenggara - Kericuhan yang
terjadi di wilayah Maluku Tenggara pada Jumat (27/3/2026) dini hari menyebabkan
dua pejabat kepolisian mengalami luka serius akibat serangan panah wayer.Insiden tersebut berlangsung di Desa Danar Ternate,
Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, dan langsung mendapat penanganan aparat
keamanan yang bergerak cepat ke lokasi kejadian.Dua perwira yang menjadi korban adalah Wakapolres Maluku
Tenggara, Kompol Jufri Djawa, serta Kasat Reskrim, AKP Barry Talabessy.
Keduanya mengalami luka akibat terkena panah wayer saat berada di lokasi
kericuhan.Kapolres Maluku Tenggara, Rian Suhendi, membenarkan adanya
peristiwa tersebut. Ia menyebut situasi di lapangan bermula dari keributan yang
kemudian berkembang menjadi bentrokan."Benar, biasalah ribut-ribut, saya sekarang ada di
TKP," ujarnya.Setelah kejadian, kedua korban segera dievakuasi dan
dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis intensif.Selain korban dari pihak kepolisian, informasi awal dari
lapangan juga menyebutkan adanya korban jiwa dalam insiden tersebut. Setidaknya
dua orang dilaporkan meninggal dunia.Kericuhan juga mengakibatkan kerusakan cukup besar, dengan
puluhan rumah warga dilaporkan terbakar dan mengalami kerusakan akibat
bentrokan yang terjadi.Hingga saat ini, motif pasti di balik kericuhan tersebut
masih belum diketahui. Aparat kepolisian masih terus melakukan penyelidikan
guna mengungkap penyebab serta pihak-pihak yang terlibat.Sementara itu, situasi di lokasi kejadian masih dalam
pengamanan ketat aparat gabungan untuk mencegah terjadinya kericuhan lanjutan.Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang
dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum tentu benar, serta
menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kepada aparat berwenang. Penulis: Hendrik
Editor: GF
27 Mar 2026, 14:36 WIT
Kegiatan Pembersihan Jalan RTH Disorot, Aliansi Peduli Pengusaha OAP Tantang Pemkab Mimika
Papuanewsonline.com, Mimika – Aliansi Peduli Pengusaha Orang
Asli Papua (OAP) Kabupaten Mimika mengungkap temuan serius terkait pelaksanaan
sejumlah kegiatan pemerintah di beberapa distrik yang diduga berjalan tanpa
kontrak resmi, tanpa transparansi, serta minimnya pelibatan pengusaha asli
Papua. 27/3/26)Dalam temuan di lapangan, terlihat kegiatan penataan
lingkungan dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sudah berjalan, namun tidak memiliki
kejelasan administrasi kontrak yang sah. Kondisi ini memunculkan kecurigaan publik terhadap mekanisme
pelaksanaan yang dinilai menyimpang dari aturan yang berlaku.Lebih jauh, Aliansi juga menemukan indikasi kuat adanya
dugaan keterlibatan orang-orang dekat atau lingkaran tertentu dalam pelaksanaan
kegiatan tersebut. Selain itu, ditemukan pula praktik penggunaan nama pengusaha
OAP yang hanya dijadikan sebagai "formalitas" semata, sementara pihak
yang benar-benar melaksanakan pekerjaan bukan merupakan orang asli Papua. Jika dugaan ini terbukti, maka praktik ini dinilai sebagai
bentuk penyimpangan serius yang tidak hanya melanggar etika administrasi
negara, tetapi juga mencederai hak ekonomi masyarakat asli di tanahnya sendiri,
serta bertentangan dengan semangat Undang-Undang Otonomi Khusus Papua dan
kebijakan afirmatif pemerintah pusat.Ketua Aliansi, Emus Kogoya, menegaskan bahwa persoalan ini
sudah masuk pada level serius yang harus segera ditangani oleh pemerintah
daerah. "Kami menemukan pekerjaan sudah berjalan di lapangan,
tapi kontrak tidak jelas. Ini tidak boleh dianggap biasa. Ini harus dijelaskan
ke publik: siapa yang kerja, pakai dasar apa, dan kenapa pengusaha OAP tidak
dilibatkan?" tegasnya. Aliansi juga secara terbuka menantang Inspektorat Kabupaten
Mimika untuk segera turun melakukan audit dan pemeriksaan menyeluruh terhadap
kegiatan-kegiatan tersebut. "Inspektorat jangan diam. Ini uang negara, ini hak
masyarakat. Kalau ada pelanggaran, harus dibuka secara transparan,"
lanjutnya.Momentum sorotan ini juga terjadi tepat setelah genap satu
tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Mimika. Aliansi menyampaikan pesan terbuka meminta klarifikasi
terkait kesesuaian kegiatan ini dengan visi dan misi yang telah disampaikan. Secara resmi, Aliansi meminta klarifikasi terbuka,
pemeriksaan menyeluruh oleh Inspektorat, penghentian praktik penggunaan nama
OAP sebagai formalitas, serta pelibatan nyata pengusaha asli dalam setiap
kegiatan pemerintah. "Kami tidak datang untuk melawan pemerintah. Kami
datang untuk mengingatkan. Tapi kalau hak OAP terus diabaikan, maka kami akan
berdiri paling depan untuk bersuara," tegas Aji Lemauk. Aliansi menegaskan akan terus mengawal persoalan ini dan
siap menempuh langkah advokasi hingga tingkat pusat jika tidak ada respons
serius. Penulis: Jid
Editor: GF
27 Mar 2026, 11:41 WIT
TPNPB Umumkan Duka Nasional, Alfons Sorry Tewas di Maybrat
Papuanewsonline.com, Maybrat - Kelompok Tentara Pembebasan
Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap IV Sorong Raya mengumumkan duka nasional
atas gugurnya salah satu anggota mereka, Peltu Alfons Sorry, dalam insiden
kontak bersenjata di wilayah Maybrat, Papua.Pengumuman tersebut disampaikan melalui siaran pers resmi
Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB tertanggal Kamis, 26 Maret 2026,
berdasarkan laporan dari jajaran pimpinan di lapangan.Dalam laporan itu disebutkan bahwa informasi diterima dari
Panglima Daerah Brigjend Denny Moos bersama Wakil Panglima Kolonel Zakarias
Fatem melalui Komandan Operasi Mayor Manfred Fatem dan Letnan Kolonel Zeth
Fatem.Almarhum Peltu Alfons Sorry dilaporkan meninggal dunia pada
Minggu, 22 Maret 2026 sekitar pukul 08.15 WIT setelah terkena tembakan saat
terlibat dalam penyerangan di Pos TNI Kampung Sorry, Distrik Aifat Selatan,
Kabupaten Maybrat.Menurut keterangan yang disampaikan dalam siaran pers
tersebut, hingga 26 Maret 2026 jenazah korban disebut belum dikembalikan kepada
pihak keluarga dan masih berada di lokasi kejadian.Peltu Alfons Sorry diketahui menjabat sebagai Wakil Komandan
Operasi Batalyon Buaya di bawah KODAP IV Sorong Raya. Ia disebut sebagai salah
satu anggota yang aktif terlibat dalam berbagai operasi kelompok tersebut di
wilayah Papua Barat Daya.Dalam riwayat yang disampaikan, ia bergabung sejak tahun
2021 dan kemudian dipercaya menduduki posisi strategis pada tahun 2023 setelah
melalui proses reorganisasi internal."Almarhum Alfons sorry masuk di TPNPB Batalyon Buaya
KODAP IV Sorong Raya pada tahun 2021 sebagai anggota atau pasukan biasa, namun
berjalannya proses reorganisasi dalam revisinya, Alm. Alfons Sorry menjabat
sebagai Wakil Komandan Operasi Batalyon Buaya pada tahun 2023."Selain itu, disebutkan pula bahwa almarhum terlibat dalam
sejumlah aksi bersenjata sebelumnya bersama Komandan Operasi Mayor Manfred
Fatem di berbagai wilayah konflik."Alfons sorry masuk dalam medan perang di Moskona Utara
bersama Komandan Operasi KODAP IV Sorong Raya, Mayor Manfred Fatem berhasil
merampas 1 unit senjata DMR SPM 1 sniper pada hari Sabtu, tanggal, 11 Oktober
2025 tepat jam 13,45 WP.""Alm. Alfons Sorry masuk dalam Medan perang di Pos TNI
di Kampung Sorry distrik Aifat Selatan Kabupaten Maybrat Papua bersama Komandan
Operasi KODAP IV Sorong Raya berhasil merampas senjata Caracal buatan Rusia
jenis bazoka, 1 pucuk tambah senjata berat dewoo precision ind magasen samping
tanam kaki dua senjata berat 1 pucuk, dan tambah 2 magasen tambah amunisi 49
butir pada hari Minggu, 22 Maret 2026 tepat pada jam 06:30 pagi WP."Atas kejadian tersebut, TPNPB secara resmi menyatakan duka
nasional atas kehilangan yang mereka sebut sebagai salah satu prajurit terbaik
di wilayah Sorong Raya.Pernyataan itu disampaikan oleh juru bicara TPNPB, Sebby
Sambom, yang juga menegaskan posisi organisasi dalam konflik yang terus
berlangsung di Tanah Papua.Situasi ini kembali menambah panjang daftar insiden
kekerasan bersenjata di Papua, khususnya di wilayah Maybrat yang dalam beberapa
tahun terakhir menjadi salah satu titik konflik dengan intensitas tinggi.(GF)
26 Mar 2026, 15:21 WIT
Satgas Ops Damai Cartenz Bersama Personil Gabungan Respon Cepat Tangani Kasus Penganiayaan
Papuanewsonline.com, Yahukimo – Personil Gabungan Satgas Ops Damai Cartenz, Polres Yahukimo dan BKO Brimob Polda Papua bergerak cepat menangani kasus penganiayaan yang terjadi di area parkir Gereja GKI Metanoia, Dekai, Senin malam (23/3/2026) sekitar pukul 20.30 WIT.Korban, seorang pria berinisial SGF (44), saat ini dalam kondisi sadar dan masih menjalani perawatan di RSUD Dekai. Penanganan medis terus dilakukan untuk memastikan kondisi korban stabil.Peristiwa terjadi saat korban hendak pulang usai melakukan persiapan kegiatan ibadah. Berdasarkan keterangan saksi, korban diserang oleh orang tak dikenal di area parkir gereja. Warga sekitar segera memberikan pertolongan dan membawa korban ke rumah sakit.Menerima laporan tersebut, personel langsung bergerak menuju lokasi dan RSUD Dekai untuk melakukan penanganan awal, mengamankan situasi, serta mengumpulkan keterangan saksi. Aparat juga melakukan penyisiran di sekitar lokasi guna mendukung proses penyelidikan.Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Irjen Pol. Dr. Faizal Ramdhani S.Sos., S.I.K., M.H. menegaskan bahwa penanganan kasus dilakukan secara profesional dan terukur.“Aparat bergerak cepat untuk memastikan situasi tetap aman dan kondusif serta memberikan rasa aman kepada masyarakat,” ujar Irjen Pol. Dr. Faizal.Sementara itu, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol. Adarma Sinaga S.I.K., M.Hum. menyampaikan bahwa langkah-langkah pengamanan terus ditingkatkan.“Kami terus memperkuat patroli dan pengawasan guna mencegah terjadinya gangguan kamtibmas serta menjaga stabilitas keamanan di wilayah Yahukimo,” ungkap Kombes Pol. Adarma.Wakasatgas Humas Ops Damai Cartenz-2026, AKBP Andria, S.I.K., menambahkan bahwa penanganan dilakukan secara cepat dan terukur sejak awal kejadian.“Korban telah dievakuasi dan mendapatkan penanganan medis dalam kondisi sadar. Personel kami juga telah mengamankan TKP, mengumpulkan keterangan saksi, serta melakukan penyisiran di sekitar lokasi. Saat ini situasi terpantau terkendali,” jelasnya.Ia juga menegaskan bahwa perlindungan terhadap hak dan privasi korban menjadi prioritas, sekaligus memastikan proses penegakan hukum berjalan secara profesional.Aparat mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta bersama-sama menjaga keamanan lingkungan.Penanganan kasus ini terus dilakukan dengan mengedepankan perlindungan terhadap korban serta menjaga situasi tetap aman dan kondusif. PNO-12
25 Mar 2026, 17:59 WIT
TPNPB Kodap XVI Yahukimo Bertanggung Jawab Atas Penikaman Aparat Militer Indonesia
Papuanewsonline,com, Yahukimo - Tentara Pembebasan Nasional
Papua Barat (TPNPB) Kodap XVI Yahukimo telah mengakui dan bertanggung jawab
atas penikaman seorang aparat militer Indonesia inisial GV, pada 23 Maret 2026
di Jalan Seredala, Yahukimo.Menurut Siaran Pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB,
penikaman tersebut dilakukan oleh Komandan Batalyon Eden Sawi, Mayor Ohion
Helembo, karena korban diduga terlibat sebagai aparat militer pemerintah
Indonesia di wilayah konflik bersenjata."Korban selama ini kami telah mengikuti jejaknya dan
banyak terlibat bersama aparat militer Indonesia di wilayah konflik bersenjata
dan selain bekerja di Bappeda Yahukimo korban juga sering mencari tahu
informasi dari dalam kantor terkait keberadaan pasukan TPNPB dan membagikan
informasi tersebut kepada aparat militer Indonesia," kata Jubir TPNPB,
Sebby Sambom, dalam siaran persnya.TPNPB juga memperingatkan warga imigran Indonesia di wilayah
konflik untuk segera meninggalkan area tersebut karena tidak ada jaminan
keamanan. Selain itu, TPNPB juga memerintahkan penutupan kantor-kantor
pemerintahan, sekolah, rumah sakit, dan bangunan sipil yang dijadikan pos-pos
militer Indonesia."Jika mau kejar kami silahkan datang ke Markas TPNPB
Kodap XVI Yahukimo karena seluruh pasukan telah berada di Markas TPNPB,"
tambah Sebby Sambom.Pemerintah Indonesia belum memberikan tanggapan resmi
terkait insiden ini. Namun, TPNPB menegaskan bahwa mereka akan terus
meningkatkan operasi dan perang melawan aparat militer Indonesia di seluruh
Tanah Papua untuk merebut kembali kemerdekaan bangsa Papua. Penulis: Hendrik
Editor: GF
24 Mar 2026, 21:25 WIT
TPNPB Klaim Melakukan Penikaman Aparat Militer di Yahukimo
Papuanewsonline.com, Yahukimo - Insiden kekerasan kembali
terjadi di wilayah Yahukimo, Papua Pegunungan, setelah seorang anggota yang
disebut sebagai agen intelijen militer Indonesia menjadi korban penikaman di
Dekai pada Sabtu, 21 Maret 2026 sekitar pukul 08.30 WIT.Peristiwa tersebut terjadi di Jalan Pemukiman, Jalur 1
Perempatan, dan mengakibatkan korban mengalami luka tusuk serius hingga berada
dalam kondisi kritis. Korban saat ini dilaporkan tengah menjalani perawatan
intensif.Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)
melalui siaran persnya mengakui bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Pernyataan itu disampaikan oleh jajaran TPNPB Kodap XVI Yahukimo melalui
laporan resmi dari lapangan.Dalam keterangannya, pihak TPNPB menyebut bahwa aksi
tersebut dilakukan berdasarkan perintah pimpinan mereka di wilayah Yahukimo.
Mereka juga menegaskan kesiapannya untuk bertanggung jawab atas tindakan
tersebut."Eksekusi terhadap seluruh agen intelijen militer
pemerintah Indonesia tersebut kami lakukan atas perintah Panglima TPNPB Kodap
XVI Yahukimo, Brigjend Elkius Kobak dan Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI
Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka sehingga kami sampaikan kepada aparat militer
Indonesia untuk tidak melakukan penyerangan, penangkapan dan penembakan
terhadap warga sipil di Yahukimo. Jika mau kejar silahkan datang ke markas
TPNPB kami siap bertanggung jawab."Pernyataan tersebut juga disertai dengan imbauan keras
kepada pihak-pihak yang berada di wilayah konflik. TPNPB mengingatkan adanya
risiko tinggi bagi siapa pun yang tetap beraktivitas di daerah tersebut."Kami juga mengimbau kepada seluruh warga imigran yang
berprofesi sebagai tukang ojek, pendulang emas ilegal, pedagang kaki lima dan
sebagainya yang berada di wilayah konflik bersenjata di Yahukimo bahwa tidak
ada jaminan keamanan dan perlindungan terhadap anda di wilayah perang sehingga
anda segera keluar dari Yahukimo. Jika anda masih bertahan maka, kami cap anda
sebagai agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang wajib di eksekusi mati
karena menghiraukan ultimatum kami."Insiden ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi
keamanan di Yahukimo yang kembali memanas. Warga sipil yang tinggal di sekitar
lokasi kejadian dilaporkan semakin waspada terhadap potensi kekerasan lanjutan.Aparat keamanan diharapkan meningkatkan pengamanan serta
memastikan perlindungan bagi masyarakat yang berada di wilayah rawan konflik.
Situasi ini juga menjadi perhatian serius berbagai pihak terkait stabilitas
keamanan di Papua.
Peristiwa penikaman ini kembali menunjukkan kompleksitas
konflik di Papua yang belum sepenuhnya mereda. Upaya penanganan yang
komprehensif dinilai diperlukan untuk mencegah eskalasi kekerasan di masa
mendatang. (GF)
23 Mar 2026, 10:11 WIT
TPNPB Klaim Tanggung Jawab atas Tewasnya Karyawan PT Freeport di Tembagapura
Papuanewsonline.com, Mimika - Insiden penembakan terjadi di
kawasan Tembagapura, Papua Tengah, pada 11 Maret 2026, yang mengakibatkan satu
karyawan PT Freeport McMoRan tewas dan satu lainnya mengalami luka-luka.
Peristiwa ini kembali menyoroti situasi keamanan di wilayah pertambangan yang
kerap menjadi titik konflik.Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)
melalui pernyataan resminya mengakui bertanggung jawab atas penembakan
tersebut. Korban yang meninggal dunia diketahui bernama Simson Mulia, sementara
rekannya mengalami luka akibat serangan tersebut.Komandan TPNPB di wilayah Tembagapura, Mayor Jeki Murib,
menyampaikan bahwa aksi tersebut dilakukan berdasarkan perintah pimpinan
kelompok mereka. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk protes terhadap
aktivitas perusahaan yang dianggap ilegal."Penembakan tersebut kami lakukan karena telah
mengeluarkan ultimatum bahwa seluruh perusahaan ilegal yang beroperasi di atas
Tanah Papua segera ditutup karena dampak dari itu masyarakat adat menjadi
korban dan sumber daya alam dirampas oleh pemerintah kolonialisme Indonesia
yang didukung oleh negara-negara kapitalisme asing di seluruh dunia,"Dalam keterangannya, Mayor Jeki Murib juga menegaskan bahwa
aksi yang dilakukan oleh kelompoknya bukan semata-mata untuk kepentingan
ekonomi, melainkan bagian dari perjuangan yang mereka yakini."Kami melindungi sumber daya alam Papua yang terus
dicuri dan dirampok oleh negara kolonialisme Indonesia serta antek asing yang
sejak tahun 1967 telah merusak kekayaan alam Papua serta membunuh manusia Papua
tanpa adanya rasa kemanusiaan," katanyaSelain itu, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB juga
mengeluarkan pernyataan yang berisi imbauan kepada seluruh jajarannya di
berbagai wilayah Papua. Pernyataan tersebut menegaskan sikap kelompok dalam
menghadapi aktivitas yang mereka anggap merugikan.Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius, terutama bagi
para pekerja dan masyarakat sipil yang berada di sekitar wilayah konflik.
Aktivitas ekonomi di kawasan tersebut berpotensi terganggu akibat meningkatnya
risiko keamanan.TPNPB juga menyampaikan tuntutan kepada pemerintah Indonesia
untuk menghentikan aktivitas perusahaan yang mereka anggap ilegal serta
memenuhi hak-hak masyarakat adat Papua."Kami tidak akan berhenti berjuang sampai pemerintah
Indonesia mengakui hak-hak kami dan memberikan kemerdekaan bagi bangsa
Papua," tutup sambom.Insiden ini kembali menegaskan bahwa wilayah Tembagapura
masih berada dalam kondisi rawan konflik. Aparat keamanan diharapkan
meningkatkan pengamanan, sementara upaya dialog dan penyelesaian konflik secara
damai dinilai menjadi langkah penting ke depan. Penulis: Hendrik
Editor: GF
23 Mar 2026, 10:04 WIT
Penembakan di Puncak Jaya, Tenaga Kesehatan Militer Jadi Korban, Aksi OPM Dikecam
Papuanewsonline.com, Puncak Jaya - Insiden penembakan yang
menargetkan kendaraan berisi aparat dan tenaga kesehatan militer terjadi di
Distrik Nume, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, pada 21 Maret 2026 sekitar pukul
14.00 WIT. Peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan yang dilakukan kelompok
bersenjata di wilayah tersebut.Kendaraan jenis Triton yang menjadi sasaran diketahui
membawa seorang anggota yang disebut sebagai agen intelijen militer bersama
tiga penumpang lainnya, termasuk tenaga kesehatan yang tengah menjalankan tugas
pelayanan di wilayah konflik.Serangan tersebut menuai kecaman luas karena tidak hanya
menyasar aparat, tetapi juga tenaga kesehatan yang memiliki peran kemanusiaan
dalam memberikan layanan kepada masyarakat di daerah terpencil dan rawan
konflik.Kelompok TPNPB melalui juru bicaranya, Sebby Sambom,
mengakui adanya insiden tersebut dalam pernyataan resminya. "Proses
penembakan ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut, namun kami telah menerima
laporan bahwa mobil tersebut mengalami luka tembak," kata Sebby Sambom,
Jubir TPNPB OPM, dalam siaran persnya.Dalam pernyataan lanjutan, kelompok tersebut juga
menyampaikan ancaman terhadap pihak-pihak yang berada di wilayah konflik.
"Kami telah memperingatkan bahwa Jalan Trans Jayapura-Wamena akan menjadi
wilayah operasi TPNPB, dan kami tidak akan bertanggung jawab atas keselamatan
warga imigran Indonesia yang tetap berada di wilayah konflik," tambah
Sambom.Tindakan ini dinilai sebagai bentuk kekerasan yang tidak
dapat dibenarkan, terutama karena turut membahayakan tenaga kesehatan yang
seharusnya dilindungi dalam situasi konflik. Kehadiran tenaga medis di wilayah
Papua selama ini justru bertujuan membantu masyarakat yang membutuhkan layanan
kesehatan.Selain itu, serangan terhadap kendaraan sipil maupun tenaga
pelayanan publik berpotensi memperburuk situasi keamanan dan meningkatkan rasa
takut di tengah masyarakat yang tinggal di wilayah konflik.Dalam keterangannya, TPNPB juga mengeluarkan imbauan agar
sejumlah profesi, termasuk tenaga kesehatan, meninggalkan wilayah Papua.
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran karena menunjukkan adanya ancaman
berkelanjutan terhadap pekerja sipil."Kami membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk membantu
warga sipil yang terjebak di wilayah konflik," kata Sambom.Namun di sisi lain, pernyataan tersebut dinilai kontradiktif
dengan tindakan kekerasan yang justru memperparah kondisi kemanusiaan di
lapangan. Serangan terhadap tenaga kesehatan berpotensi menghambat akses
layanan medis bagi masyarakat yang sangat membutuhkan.Insiden ini kembali menegaskan pentingnya perlindungan
terhadap tenaga kesehatan dan pekerja kemanusiaan di wilayah konflik. Aparat
keamanan diharapkan meningkatkan pengamanan, sementara masyarakat diimbau tetap
waspada terhadap situasi yang berkembang.Peristiwa di Puncak Jaya ini menjadi pengingat bahwa
kekerasan terhadap tenaga medis tidak hanya melanggar nilai kemanusiaan, tetapi
juga berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat sipil yang bergantung pada
layanan kesehatan di daerah terpencil. Penulis: Hendrik
Editor: GF
22 Mar 2026, 20:13 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru