Papuanewsonline.com
BERITA TAG Kriminal
Homepage
KEMELANGAN KEKERASAN DI YAHUKIMO: SUARA DARI PEDALAMAN
Papuanewsonline.com, Yahukimo - Suara Mayor Kopitua Heluka, Komandan Operasi TPNPB wilayah Yahukimo, mengguncang keheningan di pedalaman Yahukimo. Dalam pesan suara yang beredar di media sosial, ia menegaskan bahwa wilayah Yahukimo telah ditetapkan sebagai zona merah dan zona militer yang menjadi target operasi TPNPB.Kekerasaan kembali melanda Yahukimo, meninggalkan luka yang dalam bagi masyarakat lokal. Tenaga kesehatan dan guru menjadi korban, fasilitas kesehatan ditutup, dan kehidupan sehari-hari terganggu."Saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok," kata seorang ibu rumah tangga di Yahukimo, suaranya bergetar. "Kami hanya ingin hidup damai, tapi sepertinya itu hanya mimpi."Pemerintah dan aparat keamanan telah mengambil langkah-langkah untuk menjaga stabilitas dan keamanan di wilayah tersebut. Namun, masyarakat masih khawatir tentang keselamatan mereka dan meminta pemerintah untuk mengambil tindakan lebih lanjut."Ini bukan hanya tentang konflik antara TPNPB dan pemerintah, tapi juga tentang keselamatan masyarakat lokal yang terjebak dalam situasi ini," kata Tepu masyarakat Yahukimo.Sementara itu, Mayor Kopitua Heluka tetap pada pendiriannya, bahwa operasi TPNPB akan terus berlanjut sampai tujuan mereka tercapai. "Kami tidak akan mundur," katanya.Situasi di Yahukimo masih tegang, dan masyarakat terus menunggu jawaban atas pertanyaan yang sama: kapan kekerasan ini akan berakhir?Penulis: HendEditor: GF
20 Feb 2026, 01:06 WIT
Sekolah Jadi Benteng Perang? SD YPPGI Milawak Dijadikan Pos Militer, Siswa Jadi Bidikan Konflik
PUNCAK, Papua Tengah, Papuanewsonline.com – Dunia pendidikan di Kabupaten Puncak kembali diguncang kabar yang memantik amarah publik.SD YPPGI Milawak, yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak Papua untuk belajar dan bermimpi, dilaporkan berubah menjadi pos militer di tengah konflik bersenjata antara TPNPB dan aparat keamanan Indonesia.Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB, dalam Rilis Pers yang diterima, Kamis ( 19 / 2 ), mengklaim menerima laporan dari PIS TPNPB Ilaga bahwa aparat militer menjadikan sekolah tersebut sebagai basis pertahanan. " Ruang kelas dan kantor guru disebut-sebut dibentengi dengan karung pasir, " Ungkapnya.Kata TPNPB, halaman sekolah yang biasanya dipenuhi tawa siswa dikabarkan berubah fungsi menjadi lapangan aktivitas militer.Lebih mencengangkan, TPNPB menybut aparat tetap berada di lingkungan sekolah sambil membawa senjata saat proses belajar mengajar berlangsung.“Pemerintah Indonesia harus segera mengosongkan sekolah-sekolah dan gereja yang dijadikan markas militer. Jangan jadikan pelajar sebagai tumbal konflik bersenjata,” tegas Jubir TPNPB OPM, Sebby Sambom, dalam pernyataan yang diterima media ini, 18 Februari 2026.Sebby mengakui, jika benar fasilitas pendidikan digunakan sebagai basis militer, maka yang dipertaruhkan bukan hanya bangunan sekolah, tetapi keselamatan anak-anak." Sekolah adalah fasilitas sipil yang dilindungi hukum humaniter internasional. Menjadikannya titik pertahanan berpotensi mengubahnya menjadi sasaran serangan, " Sorotnya. Hingga berita ini diturunkan, pihak TNI - Polri, di Papua Tengah, belum dapat dikonffirmasi, terkait klaim TPNPB.Penulis : HendrikEditor. : Neri Rahabav
19 Feb 2026, 19:20 WIT
Pelajar Yang Dianiaya Dengan Palu Di Kuala Kencana Meninggal Dunia, Pelaku Sudah Diamankan
Papuanewsonline.com, Timika – Pelajar bernama Afdal Jaya
yang menjadi korban penganiayaan dengan menggunakan palu di Jalan Elang RT 4
No. 57, Kelurahan Kuala Kencana, Distrik Kuala Kencana pada 14 Februari 2026 dikabarkan
meninggal dunia. Pelaku telah berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian pada
hari kejadian langsung setelah menerima laporan dari masyarakat.Kapolsek Kuala Kencana, AKP Djemy Reinhard, mengkonfirmasi
bahwa personel segera merespons dan mengamankan pelaku saat itu juga."Pelaku sudah diamankan di hari kejadian karena kami
langsung bergerak setelah mendapatkan informasi dari masyarakat," ujarnya
saat dikonfirmasi pada Rabu (18/2/26). Menurutnya, motif di balik tindakan tersebut masih dalam
proses penyelidikan mendalam, namun berdasarkan keterangan saksi, pelaku
menyerang korban menggunakan alat bantu berupa palu.Pada saat kejadian, seorang saksi yang berada di kamar
lantai 2 mendengar suara teriakan perempuan dari arah lantai 1 dan segera turun
melihat kejadian. "Saksi yang merupakan adik dari pelaku melihat langsung
ketika pelaku melakukan tindakan kekerasan terhadap korban," jelas AKP
Djemy. Akibat dari penganiayaan tersebut, korban mengalami luka
berat pada bagian kepala dan wajah, kemudian mendapatkan perawatan medis di
RSUD Mimika sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada sore hari 17
Februari 2026.Keluarga korban telah datang ke Polsek Kuala Kencana untuk
menanyakan progres penanganan kasus hukum terhadap pelaku. Riska, kakak kandung korban, menyampaikan harapan agar
pelaku diproses secara hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pihak kepolisian berkomitmen akan menjalankan proses hukum
secara adil dan menyeluruh sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penulis: Jid
Editor: GF
19 Feb 2026, 15:17 WIT
Wanita Penjual Pinang di Yahukimo Ditusuk, Pelaku Diduga Simpatisan KKB Kodap XVI
Papuanewsonline.com, Yahukimo – Kejadian tragis mengguncang
warga Kompleks Ruko Blok A, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo. ketika seorang
wanita penjual pinang menjadi korban serangan dan penusukan. Korban berinisial
E-K (33 tahun), yang berasal dari Alor, Nusa Tenggara Timur, mengalami dua luka
tusuk di bagian pundak kanan setelah diserang oleh dua orang tak dikenal (OTK)
saat tengah mencari nafkah di lapaknya.Korban yang tinggal di Jalan Gunung, Distrik Dekai, dikenal
sebagai sosok yang ramah dan kerap berjualan secara teratur di kawasan
tersebut. (17/2/2026) Peristiwa terjadi saat ia sedang melayani pembeli, ketika
dua pria datang naik sepeda motor matic Honda Beat warna hitam dari arah jalan
raya dan berhenti di dekat lapaknya. Menurut korban, salah satu pelaku dikenalnya secara langsung
karena sering membeli pinang di tempatnya. Namun tanpa diduga, pelaku mendekat dan secara tiba-tiba
mengeluarkan pisau tajam, kemudian menikam korban sebanyak dua kali sebelum
langsung melarikan diri dengan mengarah ke arah Kantor Pos.Setelah kejadian terjadi, korban segera mendapatkan
pertolongan dan dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dekai untuk
mendapatkan penanganan medis. Tim gabungan dari Satgas Damai Cartenz, Polres Yahukimo, dan
BKO Brimob Polda Papua segera merespons dengan bergerak ke lokasi kejadian dan
rumah sakit untuk memastikan kondisi korban serta mengumpulkan keterangan dari
saksi mata. Aparat juga melakukan penyisiran di sekitar kawasan dan
mengamankan sejumlah barang bukti yang relevan. Berdasarkan analisis awal dan informasi dari saksi, pihak
kepolisian menduga kuat adanya hubungan dengan simpatisan Kelompok Kriminal
Bersenjata (KKB) Kodap XVI Yahukimo, yang sebelumnya juga dicurigai terlibat
dalam insiden pembakaran Ruko Blok A pada tanggal 14 Februari 2026.Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Brigjen Pol Dr Faizal
Ramadhani, menegaskan bahwa setiap bentuk kekerasan terhadap warga sipil tidak
akan pernah ditolerir. Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol Adarma
Sinaga, menjamin bahwa penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh dengan
memanfaatkan seluruh alat bukti yang telah dikumpulkan. Sementara pengamanan di wilayah Dekai khususnya sekitar
Kompleks Ruko Blok A diperketat untuk memastikan aktivitas masyarakat dapat
berjalan aman teperti biasa. Penulis: Jid
Editor: GF
19 Feb 2026, 13:53 WIT
Anak 10 Tahun Diduga Gantung Diri di Kelurahan Karang Senang Timika
Papuanewsonline.com, Timika – Seorang anak berinisial DW (10
tahun) dilaporkan meninggal dunia setelah diduga melakukan aksi gantung diri di
kamar rumahnya di Kelurahan Karang Senang, SP3, pada Senin (16/2/2026) pagi.
Kejadian ini membuat keluarga dan masyarakat sekitar dalam keadaan duka
mendalam.Korban pertama kali ditemukan oleh orang tuanya sekitar
pukul 07.30 WIT dengan kondisi leher terikat handuk dan tergantung pada rak
besi di dalam kamar tidurnya. Kanit Reskrim Polsek Kuala Kencana, Ipda Y Tanah Kristiono,
mengkonfirmasi kejadian tersebut dan menjelaskan bahwa sebelum insiden terjadi,
korban sempat diminta oleh orang tuanya untuk belajar, namun kemudian memilih
untuk mengurung diri di kamar."Anak ini baru tinggal satu tahun di Timika, sebelumnya
tinggal bersama keluarga di Jayapura. Menurut keterangan dari keluarga, korban
seringkali terlihat murung dan cenderung menyendiri, namun tidak pernah mau
membuka diri saat ditanya mengenai kondisi dirinya," ujar Ipda Kristiono
saat dikonfirmasi (18/2/2026). Setelah ditemukan, korban segera dilarikan ke Klinik SOS
Kuala Kencana dalam kondisi masih hidup, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Meriam
Mandiri (RSMM) Caritas untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.Namun, kondisi korban tidak kunjung membaik dan dinyatakan
meninggal dunia pada Selasa (17/2/2026) pagi saat menjalani perawatan di rumah
sakit. "Kami menerima laporan resmi mengenai kejadian ini setelah korban
dinyatakan meninggal dunia," jelasnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal yang dilakukan oleh pihak
kepolisian, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, sehingga
dugaan awal mengarah pada tindakan yang dilakukan secara sengaja oleh korban
sendiri. Penulis: Jid
Editor: GF
19 Feb 2026, 13:26 WIT
Tim Gabungan Pengamanan Pomako Razia Kapal KM Lauser, Amankan 102 Liter Minuman Keras
Papuanewsonline.com, Timika – Personel gabungan melakukan
pengamanan dan razia terhadap barang bawaan penumpang kapal KM Lauser yang
datang dari Tual dan Dobo saat bersandar di Dermaga Pelabuhan Pomako Timika
pada Rabu (18/2/2026) malam. Kegiatan ini melibatkan berbagai instansi yang
bekerja sama untuk mencegah masuknya minuman keras lokal ke wilayah Mimika.Kapolsek Kawasan Pelabuhan Pomako IPTU Frits Nanlohi
menjelaskan bahwa tim gabungan dipimpin oleh Kanit Samapta Polsek Pomako Aipda
Fitriady SH, yang terdiri dari 6 personil Polsek Pomako, 25 personil Satuan
Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Mimika, 7 personil Lanal Timika, dan
8 personil Kelompok Pengamanan Lingkungan Pelabuhan (KPLP) Syahbandar Pomako. "Kegiatan ini bertujuan melakukan pengawasan dan
pemeriksaan terhadap barang bawaan maupun muatan penumpang dengan fokus pada
pencegahan peredaran minuman keras lokal jenis sopi," ujarnya.Dalam razia yang dilakukan secara menyeluruh tersebut,
aparat berhasil mengamankan sebanyak 102 liter minuman keras lokal. Rincian
barang bukti yang ditemukan adalah 9 jerigen berkapasitas 5 liter, 12 botol
sedang berukuran 600 ml, 74 kantong plastik berisi 600 ml masing-masing, serta
3 botol besar berkapasitas 1500 ml. "Seluruh barang bukti yang terjaring langsung diamankan
ke Markas Polsek Pelabuhan Pomako untuk dilakukan proses pemusnahan lebih
lanjut sesuai dengan peraturan yang berlaku," tuturnya.IPTU Frits Nanlohi menambahkan bahwa upaya pengamanan dan
razia tidak akan berhenti di situ saja. Kegiatan serupa akan terus dilakukan
secara berkala terhadap setiap kapal penumpang yang masuk ke Pelabuhan Pomako. Tujuan utama dari langkah ini adalah untuk menekan peredaran
minuman keras lokal yang masuk ke wilayah Timika melalui jalur laut, sehingga
dapat menjaga ketertiban dan kesejahteraan masyarakat setempat. Penulis: Jid
Editor: GF
19 Feb 2026, 13:19 WIT
LP3BH Manokwari Desak Penangkapan 13 Bos Tambang Emas Ilegal di Manokwari
Papuanewsonline.com, Manokwari — Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Yan Christian Warinussy, melontarkan desakan keras kepada Dominggus Mandacan selaku Gubernur Papua Barat dan Alfred Papare selaku Kapolda Papua Barat agar segera mengambil langkah tegas terhadap sekitar 13 orang yang diduga sebagai “bos” penambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Distrik Prafi dan Distrik Masni, Kabupaten Manokwari.Desakan tersebut disampaikan Warinussy menyusul dugaan kuat bahwa para pemodal utama tambang emas ilegal itu beraktivitas dan bermukim secara terbuka di sejumlah kawasan permukiman, mulai dari SP3, SP4, SP5 hingga SP8 di Distrik Prafi, serta sebagian wilayah Distrik Masni.Bahkan, menurut Warinussy, salah satu terduga pelaku berinisial HIK diketahui memiliki domisili hukum di Bintuni, namun saat ini juga menetap dan beraktivitas di wilayah SP5 Prafi.“Jika aparat penegak hukum mengetahui keberadaan mereka, maka tidak ada alasan hukum untuk tidak melakukan penangkapan dan proses penegakan hukum,” tegas Warinussy dalam pernyataan tertulis yang diterima redaksi, Jumat (13/2/2026).Warinussy menegaskan bahwa praktik PETI di Papua Barat bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan telah mengarah pada dugaan tindak pidana serius yang berdampak luas.“Saya menduga aktivitas ini telah merusak lingkungan, mencemari aliran sungai, serta memicu potensi konflik sosial, khususnya di wilayah masyarakat adat,” sorotnya.Namun ironisnya, lanjut Warinussy, praktik tambang ilegal tersebut kerap berlangsung selama bertahun-tahun tanpa penindakan tegas terhadap aktor intelektual dan pemodal utamanya, sementara yang sering tersentuh hukum justru pekerja lapangan.Menurutnya, kunci pemberantasan PETI bukan hanya pada penertiban alat berat, melainkan pada penindakan tegas terhadap para bos dan pemilik modal yang berada di balik operasi tambang ilegal tersebut.“Penegakan hukum harus menyasar para bosnya, bukan hanya pekerja lapangan. Jika 13 orang ini benar terlibat, maka proses hukum harus segera dilakukan tanpa pandang bulu,” pintanya.Direktur LP3BH Manokwari menegaskan bahwa dugaan tindak pidana PETI dapat dijerat menggunakan Undang-Undang tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, serta ketentuan pidana lain dalam KUHP yang berlaku.Ia menekankan pentingnya penegakan hukum yang terbuka, profesional, dan akuntabel guna memulihkan kepercayaan publik terhadap aparat negara.“Pembiaran terhadap PETI bukan hanya soal kerugian ekonomi negara, tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, sebagaimana dijamin dalam konstitusi,” ujarnya.Warinussy menilai desakan ini sekaligus menjadi ujian integritas bagi aparat penegak hukum di Papua Barat.“Papua Barat tidak boleh menjadi surga bagi tambang ilegal. Jika hukum ditegakkan secara konsisten, maka pesan kepada publik akan sangat jelas: tidak ada yang kebal hukum,” pungkasnya. (GF)
18 Feb 2026, 01:13 WIT
Pernyataan Resmi TPNPB Terkait Penembakan Dua Pilot di Bandara Korowai Batu
Papuanewsonline.com, Boven Digoel – Sebuah video pernyataan
yang mengatasnamakan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) beredar
luas di media sosial, berisi tanggapan atas insiden penembakan dua pilot di
Bandara Korowai Batu, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom.Dalam video berdurasi lebih dari 16 menit itu, Sebby Sambom
menanggapi berbagai komentar publik, termasuk dari Komnas HAM dan sejumlah
pegiat hak asasi manusia, yang menyebut kedua pilot menjalankan misi
kemanusiaan. Ia membantah anggapan tersebut dan menyatakan bahwa kedua korban
bukan pekerja kemanusiaan.“Saya Sri Sabo menyampaikan kepada masyarakat Indonesia juga
orang asli Papua dan masyarakat internasional bahwa dua pilot itu bukan bekerja
kemanusiaan melainkan mereka adalah bagian dari Indonesian Security Force,”
ujarnya dalam pernyataan tersebut.Ia juga menegaskan bahwa pihaknya selama ini telah berulang
kali mengeluarkan peringatan terkait penggunaan pesawat sipil di wilayah
konflik. Menurutnya, pesawat sipil tidak boleh digunakan untuk melayani
kepentingan militer dan kepolisian Indonesia.Dalam pernyataan tersebut, ia menyebut pihaknya memiliki
data dan laporan terkait dugaan penggunaan pesawat sipil untuk mengangkut
personel keamanan. Ia menganggap praktik tersebut melanggar hukum
internasional, terutama di wilayah yang diklaim sebagai zona konflik.Sebby Sambom juga menyampaikan bahwa pihaknya telah
memberikan peringatan sebelumnya. Ia menyatakan bahwa jika peringatan tersebut
tidak diindahkan, maka pihaknya tidak bertanggung jawab atas konsekuensi yang
terjadi.Selain membahas insiden penembakan di Bandara Korowai Batu,
ia turut menyinggung sejarah konflik panjang di Papua sejak dekade 1960-an.
Dalam pernyataannya, ia mengulas berbagai peristiwa kekerasan yang menurutnya
belum mendapat perhatian serius.Pada bagian lain, ia juga menyampaikan kritik terhadap
keberadaan aparat keamanan Indonesia di Papua serta menyatakan bahwa pihaknya
siap mempertahankan wilayah yang mereka klaim.Pernyataan tersebut memuat seruan kepada masyarakat Papua
dan komunitas internasional untuk memperhatikan situasi di wilayah konflik. Ia
menegaskan bahwa perjuangan yang mereka jalankan akan terus berlangsung.Video tersebut kini menjadi perhatian publik dan memicu
beragam respons. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi
terbaru dari aparat keamanan terkait isi pernyataan dalam video tersebut.
Situasi keamanan di sejumlah wilayah Papua Selatan masih
menjadi sorotan berbagai pihak, terutama pasca-insiden penembakan di Bandara
Korowai Batu, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel. (GF)
17 Feb 2026, 21:32 WIT
TPNPB Klaim Penembakan 2 Agen Intelijen Militer Indonesia di Yahukimo
Papuanewsonline.com, Yahukimo - Manajemen Markas Pusat
KOMNAS TPNPB telah menerima laporan resmi dari Komandan Batalion Yamue, kopi
Heluka, bahwa penembakan yang terjadi di jalan poros Dekai kearah Lopon pada 12
Februari 2026 kemarin yang mengakibatkan dua orang agen intelijen militer
pemerintah Indonesia yang bekerja sebagai sopir tangki air minum mengalami luka
tembak, itu benar kami yang lakukan.Heluka juga melaporkan bahwa penyerangan tersebut dipimpin
langsung oleh Komandan operasi Batalion Yamue, Dejen Heluka bersama pasukan
atas perintah saya karena wilayah perang kami sudah larang bahwa imigran
Indonesia segera tinggalkan wilayah kami."Truk tangki dan kedua korban penembakan tersebut kami
sudah pastikan bahwa mereka adalah agen intelijen militer pemerintah Indonesia
yang bekerja sama dengan aparat militer Indonesia lalu masuk di wilayah konflik
dengan alasan penjualan air tangki," kata kopi Heluka.Komandan Operasi Batalion Yamue, Dejen Heluka juga
melaporkan bahwa pernyataan Panglima Tinggi Agus Subiato yang mengatakan bahwa
Guru, Dokter dan pekerja sipil lainnya yang ditugaskan di Papua adalah anggota
TNI sehingga kami ketemu dimana saja kami siap tembak entah pejual sayur, sopir
taksi, tukang ojek, tukang bakso dan lainnya kami tetap tembak mati karena itu
bagian dari aparat militer Indonesia.Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB mengimbau agar warga
imigran Indonesia yang sedang berada di Yahukimo, Nduga, Intan Jaya, Puncak,
Puncak Jaya, Lanny Jaya, Tembagapura, Dogiyai, Paniai, Deiyai, Maybrat, Sorong,
Nabire, Asmat, dan wilayah konflik bersenjata lainnya agar segera tinggalkan
wilayah tersebut dan tutup semua permainan judi, tempat seks, kios-kios dan
lainnya jika melanggar maka kami siap tembak mati pemiliknya bahkan orang
imigran Indonesia. Penulis: HendEditor: GF
16 Feb 2026, 22:27 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru