logo-website
Rabu, 18 Mar 2026,  WIT

Nakes Dibunuh di Tambrauw, Negara Didesak Berhenti “Salah Sasaran”

Kekerasan kembali mencabik Tanah Papua. Kali ini, yang menjadi korban adalah mereka yang seharusnya dilindungi, yakni tenaga Kesehatan

Papuanewsonline.com - 18 Mar 2026, 17:30 WIT

Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal

Jubir JDP, Yan Christian Warinussy.

Papuanewsonline.com, Tambrauw — Kekerasan kembali mencabik Tanah Papua. Kali ini, yang menjadi korban adalah mereka yang seharusnya dilindungi, yakni tenaga kesehatan.


Dua nakes tewas dalam serangan brutal di Kabupaten Tambrauw, Senin (16/3), sementara dua lainnya selamat dengan luka dan trauma mendalam.

Tragedi ini bukan sekadar angka kematian. Ini adalah alarm keras bahwa ruang kemanusiaan di Papua kian menyempit, bahkan bagi mereka yang datang membawa layanan kesehatan, bukan konflik.

Di tengah duka dan kemarahan publik, negara justru diingatkan agar tidak kembali mengulang pola lama: keras ke warga sipil, lemah terhadap pelaku.

Jaringan Damai Papua (JDP) secara tegas mendesak aparat penegak hukum untuk segera memburu dan mengungkap pelaku yang hingga kini masih dilabeli sebagai Orang Tak Dikenal (OTK).

Label yang kerap muncul, namun jarang benar-benar berujung pada kejelasan.

“Fokus utama harus pada pengejaran pelaku, bukan malah membatasi gerak masyarakat,” tegas Jubir JDP, Yan Christian Warinussy dalam pernyataan tertulis yang diterima Papuanewsonline.com, Rabu (18/3/2026).

Sorotan tajam juga diarahkan pada langkah-langkah aparat di lapangan yang dinilai berpotensi melampaui batas.

Jubir JDP mengakui, penutupan jalan, pemeriksaan identitas, hingga kontrol ketat terhadap mobilitas warga di sekitar Kampung Jokbu, Distrik Bamusbama, dinilai berisiko berubah menjadi tekanan terhadap warga sipil.

JDP mengingatkan, pendekatan keamanan yang berlebihan tanpa sensitivitas sosial justru bisa memperkeruh keadaan.

Apalagi jika disertai intimidasi fisik maupun psikis terhadap warga yang tidak tahu-menahu soal peristiwa tersebut.

“Jangan sampai masyarakat sipil kembali menjadi korban kedua,” demikian peringatan keras yang disampaikan.

Situasi ini menegaskan satu ironi besar, di saat pelaku kekerasan belum tertangkap, warga justru menghadapi pembatasan ruang hidupnya sendiri.

Warrinusy tuntut negara untuk tidak salah arah mengamankan warga, bukan membuat mereka merasa terancam.

Lebih jauh, JDP menekankan pentingnya pemulihan kondisi sosial di lokasi kejadian.

"Trauma, ketakutan, dan ketidakpastian yang ditinggalkan insiden ini berpotensi memicu luka sosial yang lebih dalam jika tidak segera ditangani, " Pintahnya.

Peristiwa Tambrauw kembali membuka pertanyaan lama yang belum juga terjawab, mengapa kekerasan terhadap warga sipil di Papua terus berulang, dan mengapa pelakunya kerap hilang dalam bayang-bayang “OTK”?.

Jika negara gagal menjawab ini dengan tindakan nyata, maka kepercayaan publik akan terus terkikis dan kekerasan berisiko menjadi siklus tanpa ujung.

JDP menegaskan akan terus mengawal kasus ini sekaligus mendorong upaya perdamaian yang berkeadilan di Tanah Papua. Namun satu hal jelas, tanpa keberanian negara untuk menegakkan hukum secara tegas dan adil, seruan damai hanya akan terdengar seperti gema di ruang kosong.

 

Penulis; Nerius Rahabav 

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE