Dinas Peternakan Mimika Gelar Konsultasi Penanganan LSD, Dokter Sarankan Penggunaan Trusanek
Pelatihan manajemen pakan ternak dan penguatan kelompok peternak sapi yang digelar Dinas Peternakan Kabupaten Mimika menjadi ruang diskusi mendalam mengenai penanganan penyakit Lumpy Skin Disease (LSD).
Papuanewsonline.com - 09 Des 2025, 01:01 WIT
Papuanewsonline.com/ Pendidikan & Kesehatan
Papuanewsonline.com, Mimika — Dinas Peternakan Kabupaten Mimika menyelenggarakan pelatihan pengelolaan pakan ternak sapi serta pengorganisasian kelompok peternak sebagai bagian dari upaya menangani maraknya penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) yang menyerang sapi di wilayah tersebut. Kegiatan berlangsung di Kantor Dinas Peternakan Mimika dan diikuti 58 peserta, termasuk kelompok peternak sapi dari SP 7.
Kepala Bidang Produksi, Ema Kornelia Korwa, membuka kegiatan dengan menegaskan bahwa pengelolaan pakan yang baik menjadi kunci peningkatan kualitas dan kuantitas produksi sapi. Ia menilai bahwa pola pemeliharaan yang tepat akan sangat menentukan kekuatan ketahanan tubuh hewan ternak terhadap penyakit.

Dalam sesi diskusi, salah satu perwakilan kelompok peternak
SP 7, Sufian, melaporkan kondisi sapi mereka yang mulai menunjukkan tanda-tanda
tidak normal. Menurutnya, beberapa sapi mengalami benjolan putih di kulit,
sulit mengalami peningkatan bobot, dan terdapat penyakit kulit berwarna putih.
Situasi ini membuat para peternak memerlukan penjelasan yang lebih jelas
mengenai penyebab dan langkah penanganannya.
Menanggapi laporan tersebut, Dokter Hewan Drh. Achmad
Rozaqqi memberikan saran penanganan langsung terkait penyakit LSD yang tengah
merebak di Mimika. Ia merekomendasikan penggunaan produk trusanek
sebagai langkah awal mengatasi gejala sekaligus meminimalkan potensi penyebaran
penyakit di antara ternak.
“Gunakan trusanek untuk menangani LSD pada sapi. Ini akan
membantu mengurangi gejala dan mencegah penyebaran penyakit,” kata Drh. Achmad
Rozaqqi melalui pemaparan daring yang diikuti seluruh peserta.
Selain itu, dokter menekankan pentingnya melakukan isolasi yang memadai antara sapi yang sakit dan sapi yang sehat. “Ambil jarak yang cukup antara sapi yang sakit dan sehat, lalu kirim sampel ke laboratorium untuk diuji,” tambahnya dalam penjelasan lanjutan.

Ia juga mengingatkan bahwa penanganan LSD memerlukan
pemeriksaan akurat untuk memastikan jenis penyakit yang diderita dan menentukan
tindakan yang paling tepat. Pemeriksaan laboratorium dianggap penting agar
langkah penanggulangan tidak keliru dan dapat dilakukan secara terarah.
Para peternak yang hadir menyambut baik arahan tersebut.
Mereka menyatakan kesiapan untuk mengikuti seluruh anjuran dokter demi mencegah
penyebaran penyakit lebih luas, sekaligus memastikan ternak tetap produktif dan
sehat.
Penulis: Hendrik
Editor: GF