Kematian Armando Tamawiyu Picu Duka dan Kemarahan Keluarga di Mimika
Keluarga menuntut kejelasan dan pertanggungjawaban atas dugaan kelalaian pelayanan kesehatan setelah pasien dinyatakan “baik-baik saja” namun meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju fasilitas rujukan.
Papuanewsonline.com - 23 Nov 2025, 04:53 WIT
Papuanewsonline.com/ Pendidikan & Kesehatan
Papuanewsonline.com, Mimika — Kematian Armando Tamawiyu pada 22 November 2025 meninggalkan duka mendalam sekaligus kemarahan bagi pihak keluarga. Armando, yang mengalami sakit selama enam hari, sebelumnya telah diperiksa oleh tenaga medis di Puskesmas Manasari dan dinyatakan dalam kondisi baik, meskipun keluarga merasa gejalanya cukup mengkhawatirkan.
Menurut penjelasan keluarga, kondisi Armando tidak
menunjukkan perbaikan. Ayahnya, Rikardus Tamiwiyu, mengungkapkan kekecewaan
karena permintaan rujukan ke RSUD tidak segera ditindaklanjuti. Dokter di
puskesmas disebut menyampaikan bahwa tidak tersedia transportasi medis untuk
mengantar pasien rujukan.
Karena tidak mendapatkan fasilitas transportasi, keluarga
mencari bensin dan menggunakan kendaraan sendiri. Upaya tersebut dilakukan
dengan terburu-buru karena kondisi Armando terus menurun, sehingga keluarga
memutuskan membawa pasien menuju Pomako menggunakan mobil pickup.
Namun nasib berkata lain. Dalam perjalanan menuju fasilitas
kesehatan yang lebih lengkap, Armando menghembuskan napas terakhirnya di atas
kendaraan. Peristiwa itu menambah rasa terpukul bagi keluarga yang merasa upaya
penanganan medis sebelumnya tidak dilakukan secara maksimal.
“Kami sangat kesal dan sedih atas kematian anak kami,” ujar
Rikardus dengan suara bergetar. Ia menegaskan bahwa keluarga merasa penanganan
yang diberikan puskesmas tidak serius, sehingga menyebabkan keterlambatan
penanganan yang seharusnya dapat menyelamatkan nyawa anaknya.
Setibanya di Mimika, keluarga langsung menyampaikan protes
dan menuntut kejelasan. Mereka merasa bahwa puskesmas telah lalai dalam
memberikan pelayanan yang seharusnya. Keluarga menyatakan tidak dapat menerima
kenyataan bahwa Armando dinyatakan baik-baik saja, namun beberapa jam kemudian
meninggal dalam perjalanan.
“Kami menuntut pertanggungjawaban atas kematian anak kami,”
tegas Rikardus. Ia berharap ada evaluasi dan pembenahan nyata dalam sistem
pelayanan kesehatan, khususnya di Puskesmas Manasari.
Keluarga juga meminta agar kejadian tragis ini tidak terjadi
lagi pada warga lainnya. Menurut mereka, fasilitas kesehatan harus mampu
memberikan pelayanan maksimal, terutama dalam keadaan darurat yang membutuhkan
rujukan cepat.
Peristiwa ini menjadi sorotan bagi masyarakat setempat,
karena menggambarkan masalah mendasar dalam akses layanan kesehatan di wilayah
tersebut. Keluarga berharap kematian Armando menjadi perhatian serius agar
pelayanan kesehatan di Mimika dapat ditingkatkan dan tidak ada lagi korban
akibat keterlambatan penanganan.
Penulis: Hendrik
Editor: GF