logo-website
Senin, 02 Feb 2026,  WIT

Kematian Armando Tamawiyu Picu Duka dan Kemarahan Keluarga di Mimika

Keluarga menuntut kejelasan dan pertanggungjawaban atas dugaan kelalaian pelayanan kesehatan setelah pasien dinyatakan “baik-baik saja” namun meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju fasilitas rujukan.

Papuanewsonline.com - 23 Nov 2025, 04:53 WIT

Papuanewsonline.com/ Pendidikan & Kesehatan

Pasien Armando Tamawiyu yang telah meninggal dunia, dipersiapkan dalam peti jenazah sebelum prosesi pemakaman.

Papuanewsonline.com, Mimika — Kematian Armando Tamawiyu pada 22 November 2025 meninggalkan duka mendalam sekaligus kemarahan bagi pihak keluarga. Armando, yang mengalami sakit selama enam hari, sebelumnya telah diperiksa oleh tenaga medis di Puskesmas Manasari dan dinyatakan dalam kondisi baik, meskipun keluarga merasa gejalanya cukup mengkhawatirkan.


Menurut penjelasan keluarga, kondisi Armando tidak menunjukkan perbaikan. Ayahnya, Rikardus Tamiwiyu, mengungkapkan kekecewaan karena permintaan rujukan ke RSUD tidak segera ditindaklanjuti. Dokter di puskesmas disebut menyampaikan bahwa tidak tersedia transportasi medis untuk mengantar pasien rujukan.

Karena tidak mendapatkan fasilitas transportasi, keluarga mencari bensin dan menggunakan kendaraan sendiri. Upaya tersebut dilakukan dengan terburu-buru karena kondisi Armando terus menurun, sehingga keluarga memutuskan membawa pasien menuju Pomako menggunakan mobil pickup.

Namun nasib berkata lain. Dalam perjalanan menuju fasilitas kesehatan yang lebih lengkap, Armando menghembuskan napas terakhirnya di atas kendaraan. Peristiwa itu menambah rasa terpukul bagi keluarga yang merasa upaya penanganan medis sebelumnya tidak dilakukan secara maksimal.

“Kami sangat kesal dan sedih atas kematian anak kami,” ujar Rikardus dengan suara bergetar. Ia menegaskan bahwa keluarga merasa penanganan yang diberikan puskesmas tidak serius, sehingga menyebabkan keterlambatan penanganan yang seharusnya dapat menyelamatkan nyawa anaknya.

Setibanya di Mimika, keluarga langsung menyampaikan protes dan menuntut kejelasan. Mereka merasa bahwa puskesmas telah lalai dalam memberikan pelayanan yang seharusnya. Keluarga menyatakan tidak dapat menerima kenyataan bahwa Armando dinyatakan baik-baik saja, namun beberapa jam kemudian meninggal dalam perjalanan.

“Kami menuntut pertanggungjawaban atas kematian anak kami,” tegas Rikardus. Ia berharap ada evaluasi dan pembenahan nyata dalam sistem pelayanan kesehatan, khususnya di Puskesmas Manasari.

Keluarga juga meminta agar kejadian tragis ini tidak terjadi lagi pada warga lainnya. Menurut mereka, fasilitas kesehatan harus mampu memberikan pelayanan maksimal, terutama dalam keadaan darurat yang membutuhkan rujukan cepat.

Peristiwa ini menjadi sorotan bagi masyarakat setempat, karena menggambarkan masalah mendasar dalam akses layanan kesehatan di wilayah tersebut. Keluarga berharap kematian Armando menjadi perhatian serius agar pelayanan kesehatan di Mimika dapat ditingkatkan dan tidak ada lagi korban akibat keterlambatan penanganan.

 

Penulis: Hendrik

Editor: GF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE