Tragedi Irene Sokoy: Kematian Ibu dan Bayinya Ungkap Darurat Pelayanan Kesehatan di Jayapura
Kasus meninggalnya Irene Sokoy dan bayi dalam kandungannya setelah ditolak oleh empat rumah sakit di Jayapura memicu gelombang duka dan kemarahan publik, sekaligus menyoroti buruknya tata kelola pelayanan kesehatan di Papua.
Papuanewsonline.com - 23 Nov 2025, 04:44 WIT
Papuanewsonline.com/ Pendidikan & Kesehatan
Papuanewsonline.com, Jayapura — Kematian tragis Irene Sokoy, seorang ibu hamil yang ditolak oleh empat rumah sakit di Jayapura, telah mengguncang hati masyarakat Papua. Bayi yang dikandungnya juga tidak dapat diselamatkan, menjadikan insiden ini sebagai salah satu tragedi kemanusiaan paling memilukan di Papua pada tahun 2025.
Menurut keterangan keluarga, Irene mengalami kondisi darurat
ketika sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Namun nasib nahas
menimpanya: fasilitas kesehatan yang didatangi tidak dapat menerimanya karena
berbagai alasan, hingga akhirnya waktu kritis itu merenggut nyawa keduanya.
Ivan, adik kandung Irene, menjadi saksi langsung bagaimana
kondisi sang kakak terus memburuk. Ia menceritakan bahwa Irene menunjukkan
gejala sesak dan gelisah sesaat sebelum tak sadarkan diri. “Itu kakak sudah
memang rasa gelisah. Panas itu di dada saja… sesak,” ujar Ivan dengan suara
bergetar mengenang kejadian itu.
Dalam perjalanan mencari pertolongan, Irene disebut sempat bersandar pada sang adik karena kesulitan bernapas. Tak lama setelah itu, Irene kehilangan kesadaran. “Kakak jatuh di dada saya,” ungkap Ivan, menggambarkan detik-detik terakhir sebelum kakaknya menghembuskan napas terakhir.

Lima hari setelah tragedi itu, Gubernur Papua Mathius Derek
Fakhiri mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus duka
mendalam atas wafatnya Irene dan bayinya. Kehadiran Gubernur sekaligus menjadi
momen refleksi bagi pemerintah terkait kondisi pelayanan kesehatan yang menjadi
sorotan publik.
Dalam pernyataannya, Gubernur Fakhiri mengakui buruknya
sistem layanan kesehatan di Papua. “Tuhan punya cara untuk membukakan mata kami
pemerintah bahwa inilah bobrok pelayanan kesehatan di Provinsi Papua,”
tegasnya, menandai bahwa kasus ini tidak boleh diabaikan.
Tragedi ini telah memicu diskusi luas mengenai tanggung
jawab negara dalam memastikan akses kesehatan yang layak dan respons cepat
terhadap warga dalam kondisi darurat. Masyarakat menilai insiden ini bukan
sekadar kecelakaan tragis, tetapi hasil dari persoalan struktural yang sudah
lama terjadi.
Sejumlah pihak, termasuk tokoh masyarakat dan aktivis
kemanusiaan, mendesak agar pemerintah mengambil langkah konkret untuk
memperbaiki sistem rujukan, meningkatkan kapasitas rumah sakit, dan memastikan
tidak ada lagi warga Papua yang kehilangan nyawa akibat penolakan layanan
medis.
Kematian Irene dan bayinya menjadi cermin dari masih
lemahnya koordinasi pelayanan kesehatan di daerah. Tragedi ini diharapkan
menjadi titik balik bagi pemerintah dan seluruh pihak terkait untuk sepenuhnya
membenahi sistem kesehatan Papua.
Kasus memilukan ini juga menjadi pengingat bahwa pelayanan
kesehatan bukan sekadar fasilitas, tetapi hak dasar manusia yang wajib dipenuhi
negara tanpa kecuali. Masyarakat berharap tidak ada lagi keluarga yang harus
merasakan duka sedalam yang dialami keluarga Sokoy.
Penulis: Hendrik
Editor: GF