logo-website
Senin, 02 Feb 2026,  WIT

Tragedi Irene Sokoy: Kematian Ibu dan Bayinya Ungkap Darurat Pelayanan Kesehatan di Jayapura

Kasus meninggalnya Irene Sokoy dan bayi dalam kandungannya setelah ditolak oleh empat rumah sakit di Jayapura memicu gelombang duka dan kemarahan publik, sekaligus menyoroti buruknya tata kelola pelayanan kesehatan di Papua.

Papuanewsonline.com - 23 Nov 2025, 04:44 WIT

Papuanewsonline.com/ Pendidikan & Kesehatan

Tampak keluarga dan warga memberikan dukungan di rumah duka Irene Sokoy setelah tragedi yang mengguncang masyarakat Jayapura.

Papuanewsonline.com, Jayapura — Kematian tragis Irene Sokoy, seorang ibu hamil yang ditolak oleh empat rumah sakit di Jayapura, telah mengguncang hati masyarakat Papua. Bayi yang dikandungnya juga tidak dapat diselamatkan, menjadikan insiden ini sebagai salah satu tragedi kemanusiaan paling memilukan di Papua pada tahun 2025.


Menurut keterangan keluarga, Irene mengalami kondisi darurat ketika sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Namun nasib nahas menimpanya: fasilitas kesehatan yang didatangi tidak dapat menerimanya karena berbagai alasan, hingga akhirnya waktu kritis itu merenggut nyawa keduanya.

Ivan, adik kandung Irene, menjadi saksi langsung bagaimana kondisi sang kakak terus memburuk. Ia menceritakan bahwa Irene menunjukkan gejala sesak dan gelisah sesaat sebelum tak sadarkan diri. “Itu kakak sudah memang rasa gelisah. Panas itu di dada saja… sesak,” ujar Ivan dengan suara bergetar mengenang kejadian itu.

Dalam perjalanan mencari pertolongan, Irene disebut sempat bersandar pada sang adik karena kesulitan bernapas. Tak lama setelah itu, Irene kehilangan kesadaran. “Kakak jatuh di dada saya,” ungkap Ivan, menggambarkan detik-detik terakhir sebelum kakaknya menghembuskan napas terakhir.


Lima hari setelah tragedi itu, Gubernur Papua Mathius Derek Fakhiri mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus duka mendalam atas wafatnya Irene dan bayinya. Kehadiran Gubernur sekaligus menjadi momen refleksi bagi pemerintah terkait kondisi pelayanan kesehatan yang menjadi sorotan publik.

Dalam pernyataannya, Gubernur Fakhiri mengakui buruknya sistem layanan kesehatan di Papua. “Tuhan punya cara untuk membukakan mata kami pemerintah bahwa inilah bobrok pelayanan kesehatan di Provinsi Papua,” tegasnya, menandai bahwa kasus ini tidak boleh diabaikan.

Tragedi ini telah memicu diskusi luas mengenai tanggung jawab negara dalam memastikan akses kesehatan yang layak dan respons cepat terhadap warga dalam kondisi darurat. Masyarakat menilai insiden ini bukan sekadar kecelakaan tragis, tetapi hasil dari persoalan struktural yang sudah lama terjadi.

Sejumlah pihak, termasuk tokoh masyarakat dan aktivis kemanusiaan, mendesak agar pemerintah mengambil langkah konkret untuk memperbaiki sistem rujukan, meningkatkan kapasitas rumah sakit, dan memastikan tidak ada lagi warga Papua yang kehilangan nyawa akibat penolakan layanan medis.

Kematian Irene dan bayinya menjadi cermin dari masih lemahnya koordinasi pelayanan kesehatan di daerah. Tragedi ini diharapkan menjadi titik balik bagi pemerintah dan seluruh pihak terkait untuk sepenuhnya membenahi sistem kesehatan Papua.

Kasus memilukan ini juga menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan bukan sekadar fasilitas, tetapi hak dasar manusia yang wajib dipenuhi negara tanpa kecuali. Masyarakat berharap tidak ada lagi keluarga yang harus merasakan duka sedalam yang dialami keluarga Sokoy.

 

Penulis: Hendrik

Editor: GF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE