logo-website
Senin, 09 Mar 2026,  WIT

Gus Miftah Serukan Perlawanan terhadap Intoleransi dalam Ngabuburit Lintas Iman di Gereja Sleman

Ngabuburit kebangsaan yang menghadirkan 200 tokoh lintas agama di Gereja Maria Bunda Allah, Maguwoharjo, Sleman, menjadi momentum refleksi kebangsaan saat Gus Miftah Maulana Habiburrahman membagikan buku “Merawat Kebhinekaan Menyemai Kerukunan” sekaligus

Papuanewsonline.com - 09 Mar 2026, 14:24 WIT

Papuanewsonline.com/ Seni & Budaya

Tokoh agama Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah saat menyampaikan orasi kebangsaan dalam kegiatan ngabuburit lintas iman di Gereja Maria Bunda Allah, Maguwoharjo, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (7/3/2026).

Papuanewsonline.com, Sleman – Kegiatan ngabuburit dan orasi kebangsaan bersama 200 tokoh lintas agama digelar di Gereja Maria Bunda Allah, Maguwoharjo, Sleman, pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya merawat kebhinekaan sekaligus menyemai semangat kerukunan di tengah masyarakat yang beragam.


Kegiatan tersebut dihadiri berbagai tokoh penting, mulai dari tokoh Islam Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah hingga Komandan Korem (Danrem) 072 Pamungkas Brigjen TNI Bambang Sujarwo.

Dalam kegiatan itu, sebanyak 200 buku karya Miftah Maulana Habiburrahman berjudul “Merawat Kebhinekaan Menyemai Kerukunan” dibagikan kepada para peserta yang hadir. Buku tersebut menjadi refleksi sekaligus ajakan untuk menjaga persatuan di tengah tantangan kebangsaan yang semakin kompleks.


Buku yang ditulis Gus Miftah ini terinspirasi dari kegelisahannya terhadap kondisi kebangsaan Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai peristiwa intoleransi dinilai telah mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Sejumlah peristiwa seperti perusakan rumah ibadah, penolakan terhadap pembangunan gereja, pelarangan ritual dan perayaan keagamaan minoritas, hingga maraknya ujaran kebencian di media sosial menjadi fenomena yang berulang terjadi.

Dalam bukunya, persoalan tersebut menjadi salah satu poin penting yang dibahas. Sebuah pertanyaan besar pun muncul mengenai mengapa bangsa yang menjunjung tinggi Pancasila sebagai ideologi dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika masih bergumul dengan persoalan intoleransi yang tak kunjung terselesaikan.

Gus Miftah juga mengajak masyarakat untuk melakukan refleksi terhadap berbagai kasus intoleransi yang terjadi di Indonesia, baik di dunia nyata maupun di ruang digital yang semakin memengaruhi kehidupan sosial masyarakat.

"Saya percaya bahwa kerukunan tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Ia harus dirawat, dijaga, dan diperjuangkan oleh semua elemen bangsa, tokoh agama, masyarakat sipil, dan individu warga negara. Tanpa perlawanan kolektif terhadap intoleransi, kita akan kehilangan rumah besar bernama Indonesia, yang seharusnya menjadi tempat aman bagi siapa pun untuk hidup dan beribadah sesuai keyakinannya," tegas Gus Miftah.


Ia juga menekankan pentingnya membangun harmoni, inklusivitas, serta literasi toleransi dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, banyak orang tidak menyadari bahwa ujaran kebencian yang disebarkan di dunia maya dapat memicu konflik di dunia nyata.

Dalam kesempatan yang sama, Brigjen TNI Bambang Sujarwo turut menyampaikan pandangannya terkait pentingnya menjaga toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

"Saya mengimbau kepada seluruh pemeluk agama agar saling menghormati, menghargai, dan menjunjung tinggi toleransi. Apabila ada masalah, selesaikanlah dengan cara bermusyawarah untuk menemukan jalan terbaik, sehingga kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dapat terwujud menjadi negara yang Ayom Ayem Toto Titi Tentrem," pesan Bambang Sujarwo. (GF)

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE