logo-website
Jumat, 16 Jan 2026,  WIT

Hadir di Timika, Film 'Maira Whisper From Papua' Dorong Papua menjadi inspirasi Indonesia

Peluncuran lebih awal di Tanah Papua menjadi bentuk penghormatan terhadap masyarakat adat sekaligus upaya menghadirkan suara Papua dalam sinema nasional

Papuanewsonline.com - 16 Jan 2026, 21:05 WIT

Papuanewsonline.com/ Seni & Budaya

Layar utama menampilkan poster film Maira: Whisper From Papua saat pemutaran khusus dalam rangka Road to 5 Februari di XXI Diana Mall, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Jumat (16/1/2026)

Papuanewsonline.com, Timika — Film Maira: Whisper From Papua hadir lebih awal di Timika sebagai bagian dari rangkaian Road to 5 Februari. Pemutaran khusus ini menjadi langkah awal sebelum film tersebut resmi tayang secara nasional pada 5 Februari 2026.

Peluncuran film di Papua dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah dan masyarakat adat yang menjadi inti cerita. Sutradara film, Anggi Friska, menegaskan bahwa Papua tidak ditempatkan sebagai sekadar latar, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki suara dan kekuatan untuk menginspirasi Indonesia.

“Karena kami bikin film di Papua, kami juga ingin menyebarkan ini di Papua duluan sebagai penghormatan bahwa Papua bukan cuma sekedar objek, tapi dia adalah subjek yang ingin bersuara lebih besar lagi,” ujar Anggi Friska saat diwawancarai di Timika, Jumat (16/1/2026).


Proses produksi Maira: Whisper From Papua memakan waktu cukup panjang, terutama dalam menemukan cerita yang tepat. Ide film ini lahir dari riset mendalam di Tanah Papua, di mana tim produksi banyak berinteraksi dengan masyarakat adat, mempelajari kebiasaan, serta memahami relasi mereka dengan alam dan kehidupan.

“Proses paling lama itu justru menemukan cerita. Dari bertemu banyak orang, melakukan riset, hingga benar-benar memahami kehidupan masyarakat adat,” jelas Anggi Friska.

Dalam proses pemilihan pemeran, keterlibatan masyarakat lokal Papua menjadi prioritas utama. Meski tahapan seleksi berlangsung relatif singkat, proses pelatihan para pemain membutuhkan waktu panjang demi menghadirkan cerita yang jujur dan otentik sesuai realitas masyarakat Papua.

“Kami ingin melibatkan masyarakat lokal sepenuhnya, karena film ini adalah suara dari teman-teman Papua,” katanya.

Melalui film ini, Anggi Friska berharap pesan yang disampaikan mampu menginspirasi masyarakat luas, terutama dalam membangun kembali hubungan manusia dengan alam. Ia mengaku banyak belajar dari masyarakat adat Papua tentang makna kehidupan, seni, serta cara menjaga keseimbangan dengan lingkungan.

“Ketika bencana datang, uang tidak lagi penting. Yang kita butuhkan adalah air, udara yang baik, pohon, makanan, dan obat-obatan yang semuanya ada di hutan. Alam adalah segalanya yang perlu kita perjuangkan untuk kehidupan,” pungkasnya.


Penulis: Jid

Editor: GF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE