APBD Mimika Merosot Rp 1 Triliun: Prioritas Pemerintah atau Kebutuhan Rakyat?
Penurunan drastis APBD Mimika 2026 memantik kekhawatiran publik tentang kemampuan pemerintah daerah menjaga program prioritas di tengah efisiensi Dana Bagi Hasil, DAK, dan Otsus, sementara komitmen mendengar kebutuhan masyarakat kembali diuji.
Papuanewsonline.com - 25 Nov 2025, 01:47 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Timika – Masyarakat Mimika dikejutkan oleh kabar bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2026 dipastikan merosot drastis. Penurunannya mencapai hampir Rp 1 triliun dari total APBD tahun sebelumnya yang berada di angka Rp 6,3 triliun. Kondisi ini memicu rasa pesimistis publik terhadap kemampuan pemerintah daerah mempertahankan program-program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Bupati Mimika Johannes Rettob menjelaskan bahwa penyebab
utama penurunan anggaran berasal dari efisiensi pada Dana Bagi Hasil, Dana
Alokasi Khusus, dan Dana Otonomi Khusus. Ia menegaskan bahwa situasi tersebut
berdampak langsung terhadap komposisi anggaran daerah untuk tahun mendatang.
“APBD Mimika 2026 turun karena terjadi efisiensi terkait
Dana Bagi Hasil, DAK, dan Otsus,” ujar Bupati Rettob, merespons kekhawatiran
publik mengenai arah pembangunan daerah di tengah pengetatan anggaran.
Di tengah kondisi serba terbatas ini, Bupati Rettob
menegaskan bahwa pemerintah daerah akan menjalankan program berdasarkan
kebutuhan masyarakat. Menurutnya, pendekatan yang digunakan bukan sekadar
memenuhi keinginan pemerintah, tetapi merujuk pada aspirasi warga yang selama
ini disampaikan dalam berbagai kesempatan.
“Kita memakai pendekatan mendengar kebutuhan masyarakat,
bukan hanya apa yang kita inginkan,” klaim Rettob. Namun, pernyataan ini
mendapat sorotan publik yang mempertanyakan sejauh mana komitmen tersebut dapat
diwujudkan dalam kondisi anggaran yang menyusut signifikan.
Dalam penjelasannya, Rettob memastikan bahwa setiap program
dalam APBD 2026 disusun berdasarkan skala prioritas dan tetap berpedoman pada
visi-misi pemerintahannya. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan fokus pada
program-program yang dianggap paling penting untuk pelayanan publik dan
kesejahteraan masyarakat.
Meski demikian, kekhawatiran tetap mencuat dari berbagai
kalangan. Dengan anggaran yang jauh lebih kecil, muncul dugaan bahwa
program-program yang paling dibutuhkan masyarakat mungkin akan tersisih oleh
proyek-proyek yang lebih menguntungkan secara politis. Publik menilai bahwa
pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya ketimpangan dalam
realisasi anggaran.
Kondisi ini membuat masyarakat Mimika kini berada pada
posisi menunggu, mengamati apakah janji prioritas rakyat benar-benar akan
diwujudkan. Banyak pihak berharap agar pemerintah daerah tidak terjebak pada
retorika, melainkan menjalankan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada
kebutuhan warga.
Bagi sebagian masyarakat, penurunan anggaran ini bukan hanya
persoalan teknis fiskal, tetapi juga ujian bagi transparansi, kepekaan sosial,
dan integritas pemerintah daerah dalam memimpin pembangunan. Waktu akan
membuktikan, apakah janji Bupati dan jajaran mampu menjadi kenyataan atau
justru menjadi kekecewaan baru bagi rakyat Mimika.
Penulis: Jid
Editor: GF