DAD Mimika Soroti Minimnya Peluang Kerja OAP
Dewan Adat Daerah Mimika menilai persoalan ketenagakerjaan lokal tidak bisa terus dianggap sebagai masalah rutin tahunan. Mereka mendesak adanya kebijakan yang lebih tegas untuk memastikan Orang Asli Papua memperoleh akses yang lebih besar
Papuanewsonline.com - 03 Jun 2026, 08:54 WIT
Papuanewsonline.com/ Ekonomi
Papuanewsonline.com, Mimika - Dewan Adat Daerah (DAD) Kabupaten Mimika menyoroti persoalan ketenagakerjaan yang terus menjadi keluhan utama masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP) dan pencari kerja lokal. Menurut DAD, berbagai aksi penyampaian aspirasi yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan adanya persoalan mendasar yang belum terselesaikan di daerah yang menjadi pusat industri tambang terbesar di Indonesia tersebut.
Berbagai forum, mulai dari rapat dengar pendapat, aksi damai
hingga demonstrasi di DPRK Mimika, dinilai memperlihatkan tuntutan yang sama
dari masyarakat, yakni adanya keberpihakan yang lebih nyata terhadap tenaga
kerja lokal. DAD menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak boleh lagi dianggap
sebagai agenda rutin tahunan tanpa solusi yang jelas.
Dalam pernyataan opininya, DAD Mimika menyebut masyarakat
mulai mempertanyakan sejauh mana kewibawaan Pemerintah Kabupaten Mimika dalam
memastikan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di daerah tersebut benar-benar
memberikan prioritas kepada tenaga kerja lokal.
Menurut DAD, kondisi ini muncul karena di satu sisi
perusahaan-perusahaan besar, kontraktor, dan subkontraktor yang beroperasi di
lingkungan PT Freeport Indonesia terus melakukan perekrutan tenaga kerja. Namun
di sisi lain, jumlah pencari kerja lokal yang belum mendapatkan kesempatan
kerja juga terus bertambah dari tahun ke tahun.
"Tentu DAD tidak mengatakan bahwa PT Freeport Indonesia
adalah negara dalam negara. Namun yang dirasakan masyarakat hari ini adalah
adanya jarak yang sangat besar antara kebutuhan tenaga kerja lokal dengan
mekanisme perekrutan yang berjalan."
DAD juga mempertanyakan sejumlah persoalan yang dinilai
perlu dijawab secara terbuka oleh semua pihak. Mulai dari minimnya akses
informasi lowongan kerja bagi masyarakat lokal, efektivitas penggunaan dana
Otonomi Khusus untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia Papua, hingga
belum optimalnya sinkronisasi antara kebutuhan industri dengan program
pelatihan tenaga kerja yang diselenggarakan pemerintah daerah.
Di sisi lain, DAD mengakui bahwa pemerintah daerah,
khususnya Dinas Tenaga Kerja, berada dalam posisi yang tidak mudah. Pemerintah
harus menjawab tuntutan masyarakat sekaligus berhadapan dengan standar industri
yang tinggi dan sistem perekrutan perusahaan yang berjalan secara mandiri.
Meski demikian, DAD menegaskan masyarakat tidak boleh terus menjadi korban dari
ketidaksinkronan tersebut.
DAD Mimika juga menyinggung pelaksanaan Forum Strategis
Percepatan Pembangunan Papua yang baru-baru ini digelar di Timika dan dihadiri
enam gubernur serta puluhan kepala daerah se-Tanah Papua. Menurut DAD, semangat
"Satu Dalam Enam, Enam Dalam Satu" harus diwujudkan dalam bentuk
nyata, terutama melalui peningkatan kesempatan kerja bagi anak-anak Papua.
"Bukankah ukuran keberhasilan Otsus bukan hanya banyaknya forum dan rapat
yang dilaksanakan, melainkan berapa banyak anak Papua yang bekerja dan hidup
sejahtera di atas tanahnya sendiri?"
Sebagai langkah konkret, DAD Mimika menyatakan akan membuka pendataan dan konsolidasi pencari kerja Orang Asli Papua serta masyarakat lokal yang memenuhi persyaratan kerja. Data tersebut akan digunakan sebagai dasar komunikasi dengan perusahaan-perusahaan kontraktor, subkontraktor, dan mitra usaha di lingkungan PT Freeport Indonesia guna memperjuangkan akses kerja yang lebih luas. DAD menegaskan investasi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat adat, karena "Papua tidak membutuhkan lebih banyak janji. Papua membutuhkan lebih banyak kesempatan kerja. Papua tidak membutuhkan lebih banyak slogan. Papua membutuhkan keberpihakan yang nyata. Dan keberhasilan Otsus akan dinilai dari seberapa banyak anak Papua yang bekerja, bukan dari seberapa banyak rapat yang diselenggarakan." (GF)