Lemasa Suku Amungme Desak Dana Otsus Libatkan Lembaga Adat demi Pemberdayaan OAP di Mimika
Ketua Lemasa Suku Amungme, Menuel John Magal, menegaskan pentingnya kerja sama erat antara pemerintah daerah dan lembaga adat dalam pengelolaan dana Otonomi Khusus
Papuanewsonline.com - 31 Mar 2026, 23:02 WIT
Papuanewsonline.com/ Ekonomi
Papuanewsonline.com, Timika – Ketua Lemasa Suku Amungme, Menuel John Magal, menegaskan pentingnya kerja sama erat antara pemerintah daerah dan lembaga adat dalam pengelolaan dana Otonomi Khusus (Otsus) untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat asli Papua di Kabupaten Mimika.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah kegiatan di
Hotel Horison Ultima Timika pada Selasa (31/3/2026), di mana ia menekankan
bahwa setiap kebijakan pembangunan harus berorientasi pada pemberdayaan
masyarakat lokal agar mampu berkembang dan sejajar dengan kelompok lain.
Menuel mengungkapkan bahwa masih banyak masyarakat asli
Papua yang tertinggal dalam bidang pendidikan dan kemampuan kerja. Oleh karena
itu, kebijakan afirmatif atau diskriminasi positif dinilai sangat penting untuk
mendorong kesetaraan.
"Diskriminasi positif diperlukan agar masyarakat yang
tertinggal bisa mencapai kesetaraan. Mereka harus dibekali pendidikan dan
keterampilan yang memadai agar siap memasuki dunia kerja," ujarnya.
Ia juga menyoroti perlunya pemanfaatan dana Otsus secara
tepat sasaran melalui kerja sama strategis antara Pemkab Mimika dan Lemasa,
mengingat lembaga adat memiliki peran krusial dalam menyampaikan kebutuhan riil
masyarakat di lapangan.
Menurut Menuel, masih terdapat kesenjangan emosional antara
Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan masyarakat adat, yang menyebabkan
sejumlah program belum menyentuh kebutuhan mendasar.
"Pemerintah tidak akan mengetahui kebutuhan masyarakat
secara mendalam jika tidak dekat secara emosional. Lemasa dapat menjembatani
dengan data dan kondisi nyata yang terjadi di lapangan," jelasnya.
Ia berharap ke depan alokasi dana Otsus lebih melibatkan
lembaga adat secara langsung sesuai peraturan yang berlaku, mengingat pada
periode 2024 hingga 2025 belum ada alokasi signifikan bagi lembaga adat.
Menuel juga menekankan pentingnya pembinaan pendidikan yang
tidak hanya fokus pada aspek formal, tetapi juga mencakup moral, mental, dan
spiritual, khususnya bagi anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Ia mendorong penerapan sistem asrama sebagai solusi
pembinaan menyeluruh, mengingat Lemasa telah menjalankan model serupa dengan
menampung ratusan anak dan menghasilkan peningkatan signifikan dari sisi
akademik maupun karakter.
"Dana Otsus harus berdampak langsung pada masyarakat.
Contohnya sudah ada, tinggal diperluas dan didukung oleh pemerintah,"
tegasnya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah dan lembaga adat terus
diperkuat agar tujuan Otsus dapat terwujud secara optimal.
Penulis: Jid
Editor: GF