Stok Menipis, Harga Jeruk Limau di Pasar Sentral Timika Melonjak Tajam hingga Rp100 Ribu/Kg
Krisis pasokan dari Jayapura bikin harga bahan dapur naik signifikan — pedagang keluhkan stok makin sedikit, pembeli hanya bisa bawa pulang beberapa butir jeruk dengan uang Rp5 ribu.
Papuanewsonline.com - 25 Okt 2025, 04:07 WIT
Papuanewsonline.com/ Ekonomi
Papuanewsonline.com, Timika — Suasana Pasar Sentral Timika, Kabupaten Mimika, akhir pekan ini tampak sedikit berbeda. Para pedagang bumbu dapur sibuk melayani pembeli sambil mengeluh soal kenaikan harga yang mendadak. Harga jeruk limau atau yang biasa disebut jeruk ikan, melonjak tajam hingga mencapai Rp100 ribu per kilogram pada Jumat (24/10/2025).
Padahal, harga jeruk limau sebelumnya hanya berada di kisaran Rp40 ribu hingga
Rp50 ribu per kilogram. Tak hanya jeruk limau, jeruk nipis pun turut merangkak
naik menjadi Rp60 ribu per kilogram.
Kenaikan harga ini bukan tanpa sebab. Ida Suryani, salah satu pedagang bumbu dapur di Pasar Sentral Timika, menjelaskan bahwa stok jeruk limau yang biasanya dikirim dari Jayapura kini sangat terbatas.
Menurutnya, pasokan yang menurun drastis membuat para pedagang kesulitan
memenuhi permintaan pelanggan.
“Harga jeruk ikan ini naik sampai
Rp90 ribu bahkan Rp100 ribu per kilo. Kalau jeruk nipis, sekarang Rp60 ribu per
kilo.
Stok jeruk cina dari Jayapura
terbatas sekali, jadi barangnya susah didapat,” tutur Ida kepada Papuanewsonline.com.
Ia menambahkan, akibat harga yang
melonjak, pembeli kini tak lagi membeli dalam jumlah banyak.
“Dulu dengan Rp5 ribu bisa dapat
beberapa ons, sekarang paling cuma dapat empat atau lima biji saja,” ujarnya
sambil menunjukkan jeruk limau yang mulai menguning di lapaknya.
Keterbatasan stok dari luar
daerah makin diperparah dengan minimnya pasokan jeruk dari petani lokal di
Timika.
Menurut Ida, hampir tidak ada
petani yang menanam jeruk limau secara massal di wilayah Mimika, sehingga ketergantungan
pada pasokan antarprovinsi masih sangat tinggi.
“Kalau di sini jarang yang tanam
jeruk limau, paling ada di kebun rumah, tapi itu untuk kebutuhan sendiri, bukan
dijual ke pasar,” jelasnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem distribusi bahan dapur di wilayah Papua Tengah masih sangat bergantung pada jalur pengiriman laut dan udara dari kota-kota besar seperti Jayapura, Nabire, atau Makassar.
Begitu terjadi gangguan distribusi, harga bahan pokok bisa melonjak dalam waktu singkat.
Meski jeruk limau mengalami kenaikan ekstrem, harga sejumlah bumbu dapur lainnya masih relatif stabil.
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga cabai rawit tetap bertahan di kisaran
Rp90 ribu per kilogram, tomat Rp30–35 ribu, serta bawang merah dan bawang putih
masing-masing Rp60 ribu per kilogram.
Namun, para pedagang tetap
waswas. Mereka khawatir kenaikan harga jeruk limau bisa menjadi awal dari
lonjakan harga bahan pokok lainnya, terutama jika pasokan antarwilayah terus
terganggu.
“Kalau kiriman dari luar makin
seret, bukan cuma jeruk yang naik. Cabai dan bawang juga bisa ikut-ikutan mahal
nanti,” ujar salah satu pedagang lain yang enggan disebut namanya.
Kenaikan harga ini tentu menjadi
perhatian banyak pihak, terutama para pembeli yang harus menyesuaikan
pengeluaran rumah tangga.
Sejumlah warga berharap pemerintah
daerah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dapat segera
mencari solusi untuk menstabilkan harga, baik dengan memperlancar distribusi
barang dari Jayapura maupun memberdayakan petani lokal.
“Kalau bisa pemerintah bantu
carikan jalan supaya harga normal lagi. Kasihan ibu-ibu di rumah, masak jadi
susah kalau bahan-bahan mahal begini,” keluh seorang pembeli di area pasar.
Pemerintah diharapkan dapat menginisiasi
kerja sama dengan daerah penghasil jeruk limau, serta memberikan dukungan bagi
petani lokal untuk mulai membudidayakan tanaman jeruk di wilayah Mimika, agar
tidak terus bergantung pada pasokan luar daerah.
Penulis: Bim
Editor: GF