TPNPB Klaim Tewaskan Tiga Aparat di Pusat Kota Dekai Yahukimo
TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap aparat militer Indonesia di pusat Kota Dekai.
Papuanewsonline.com - 06 Agu 2026, 09:54 WIT
Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal
Papuanewsonline.com, Yahukimo - Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Kodap XVI Yahukimo mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap aparat militer Indonesia di pusat Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo, pada 3-4 Agustus 2026 yang menewaskan tiga orang.
Klaim tersebut disampaikan dalam Siaran Pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB per Rabu, 5 Agustus 2026, yang diterima dan ditandatangani Juru Bicara Sebby Sambom, atas nama Panglima Tinggi Jenderal Goliath Tabuni dan jajaran komando pusat.
Dalam siaran pers itu, TPNPB menyebut operasi dilakukan oleh Batalyon Sisibia dari Markas Kinbule di bawah Komandan Batalyon Mayor Yosua Sobolim dan Komandan Operasi Kempes Matuan, bersama pimpinan Kodap XVI Yahukimo Brigjen Elkius Kobak dan Mayor Kopitua Heluka.
Menurut laporan tersebut, pasukan TPNPB melakukan operasi di wilayah Yahukimo hingga pusat Kota Dekai sejak 22 Juli hingga 5 Agustus 2026. Mereka mengklaim melihat aparat militer dan agen intelijen Indonesia beraktivitas sebagai mata-mata terhadap pasukan mereka.
Serangan pertama, klaim TPNPB, terjadi pada 3 Agustus 2026 sekitar pukul 07.30 WIT di Pasar Baru, pusat Kota Dekai, yang mengakibatkan satu aparat tewas.
Serangan kedua berlanjut pada 4 Agustus di Kota Dekai, di area penjualan gorengan di pemukiman, yang mengakibatkan dua aparat tewas dan luka-luka.
"Mayor Yosua Sobolim, Kempes Matuan, bersama Kopitua Heluka dan Brigjend Elkius Kobak dan seluruh pasukan siap bertanggung jawab penuh atas kejadian tersebut," tulis siaran pers tersebut.
Tantangan Terbuka dan Imbauan:
Dalam pernyataan itu, TPNPB menantang aparat militer Indonesia untuk tidak melakukan serangan balasan ke kampung-kampung.
"Jika mau kejar kami silahkan datang ke markas TPNPB Kinbule di Jalan Gunung pusat Kota Dekai, kami siap hadapi," kata Mayor Yosua Sobolim dalam siaran pers tersebut.
TPNPB juga mengimbau Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto untuk tidak melakukan serangan bom darat dan udara di kampung-kampung wilayah Yahukimo selama operasi balasan.
Mereka juga meminta penghentian penembakan terhadap warga sipil yang sedang berkebun atau mengungsi di hutan akibat konflik bersenjata, dengan menegaskan bahwa di luar Markas Kinbule adalah pemukiman warga sipil.
Ancaman Terhadap Agen Intelijen:
Lebih jauh, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB mengeluarkan peringatan kepada warga Papua dan imigran yang disebut terlibat sebagai agen intelijen militer Indonesia.
Siaran pers menyebutkan perintah operasi pembersihan agen intelijen telah dikeluarkan oleh Komandan Operasi Umum TPNPB, Mayor Jenderal Lekagak Telenggen dari Markas di Puncak Ilaga, dan akan dilaksanakan oleh 36 Komando Daerah Pertahanan di seluruh Tanah Papua.
"Jika hal tersebut tidak di indahkan maka warga Papua dan imigran Indonesia yang terlibat sebagai mata-mata aparat militer Indonesia siap di eksekusi mati," tulis siaran pers tersebut.
Catatan Redaksi:
Hingga berita ini disusun, klaim jumlah korban tewas dan kronologi serangan versi TPNPB Kodap XVI Yahukimo tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Belum ada pernyataan resmi dari TNI, Polri, maupun pemerintah Kabupaten Yahukimo terkait insiden di Pasar Baru dan pemukiman Dekai pada 3-4 Agustus 2026.
Penulis: Hendrik
Editor: OF