logo-website
Jumat, 24 Jul 2026,  WIT

182 Ribu Kasus Malaria, 1 Pemuda Tewas: Mimika Gagal Lawan Nyamuk?

Malaria masih menjadi ancaman nyata di Kabupaten Mimika. Penyakit ini terus memakan korban jiwa dan jumlah kasusnya justru meningkat dari tahun ke tahun.

Papuanewsonline.com - 24 Jul 2026, 11:42 WIT

Papuanewsonline.com/ Pendidikan & Kesehatan

Ilustrasi

Papuanewsonline.com, Mimika – Malaria masih menjadi ancaman nyata di Kabupaten Mimika. Penyakit ini terus memakan korban jiwa dan jumlah kasusnya justru meningkat dari tahun ke tahun.

Data Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Malaria Center Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menunjukkan tren kenaikan yang belum berhenti.

Pada 2023 ditemukan sekitar 145.742 kasus. Jumlah itu naik menjadi sekitar 161.398 kasus pada 2024. Sepanjang 2025 kembali naik menjadi sekitar 182.980 kasus.

Bahkan hingga pertengahan Juli 2026, telah ditemukan 86.747 kasus positif dari ratusan ribu pemeriksaan yang dilakukan.

Mimika Penyumbang Terbesar di Papua Tengah

Besarnya beban malaria di Mimika juga diakui Pemerintah Provinsi Papua Tengah.

PLT Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, dr. Agus mengatakan, akumulasi kasus malaria di 8 kabupaten di Papua Tengah pada 2025 mencapai 205.068 kasus.

Sebanyak 190.597 kasus atau 80% dari total itu berasal dari Mimika.

Korban Tewas di Jalan Hasanuddin

Malaria terbukti tidak hanya membuat sakit, tapi juga merenggut nyawa.

Pada Rabu, 15 Juli 2026, seorang pria berusia 22 tahun ditemukan meninggal dunia di lahan kosong Jalan Hasanuddin, Timika. Korban diduga terkena malaria mix.

Sebelumnya, korban bersama dua rekannya hendak diantar ke rumah sakit karena demam tinggi dan muntah-muntah. Namun korban sempat melarikan diri sebelum akhirnya ditemukan tidak bernyawa.

Faktor Lingkungan & Edukasi Jadi Sorotan

Dinkes Mimika menyatakan terus memperkuat pengendalian: memperluas pemeriksaan, pembagian kelambu, penyemprotan rumah hingga edukasi masyarakat.

Namun warga menilai upaya itu belum maksimal.

Anto, warga Mimika, menyebut program edukasi belum menjangkau semua lapisan.

"Program Dinkes masih banyak yang belum maksimal, penyemprotan di rumah-rumah juga kayaknya tidak terlalu berpengaruh, karena setelah disemprot biasanya nyamuk tetap banyak. Harusnya kami masyarakat itu diajari dan dibimbing untuk jaga lingkungan, supaya lingkungan itu terawat dan bebas dari nyamuk malaria," katanya kepada _Papua News Online_, Kamis (23/7/2026).

Anto menilai penyebab utama masih seputar lingkungan tidak terawat, genangan air yang jadi sarang jentik, dan edukasi yang belum menyeluruh.

Desak Edukasi Masuk Sekolah

Warga berharap program edukasi dilakukan secara masif hingga ke sekolah SD, SMP, SMA, dan Universitas. Tujuannya agar kesadaran menjaga lingkungan menjadi tanggung jawab bersama.

Dengan kerja sama pemerintah dan masyarakat, diharapkan target eliminasi malaria pada 2030 bisa tercapai dan Mimika terbebas dari ancaman malaria yang masih bisa berujung nyawa.

Penulis: Hendrik

Editor: OF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE