Bupati Mimika Turun Tangan Redam Konflik Kamoro dan Mee di Kapiraya
Langkah cepat pemerintah daerah menyikapi ketegangan batas wilayah yang dipicu aktivitas tambang emas ilegal, dengan pembentukan tim gabungan serta penghentian sementara penambangan demi menjaga keamanan dan mendorong penyelesaian damai
Papuanewsonline.com - 17 Feb 2026, 15:00 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Mimika – Bupati Mimika, Johannes Rettob, turun langsung ke Kapiraya untuk membahas konflik batas wilayah antara suku Kamoro dan suku Mee yang belakangan memicu ketegangan di wilayah tersebut. Kehadiran orang nomor satu di Mimika itu menjadi bagian dari upaya percepatan penyelesaian persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Konflik batas wilayah ini dinilai membutuhkan penanganan
segera guna mencegah meluasnya dampak sosial. Pemerintah daerah pun bergerak
cepat dengan menggelar pertemuan bersama sejumlah pihak terkait untuk
merumuskan langkah konkret di lapangan.
Dalam pertemuan dengan pemerintah daerah, Bupati Rettob
menegaskan bahwa pemerintah akan membentuk tim khusus untuk menangani konflik
ini. Tim ini akan terdiri dari TNI/Polri, Kepala OPD, dan DPR, serta akan turun
langsung ke lapangan untuk berdialog dengan masyarakat adat dan menentukan
batas wilayah.
"Konflik ini bukan hanya persoalan batas wilayah, tapi juga dipicu oleh aktivitas tambang emas ilegal di wilayah tersebut," kata Bupati Rettob. "Kami akan menghentikan sementara aktivitas penambangan emas di wilayah tersebut untuk menjaga keamanan dan ketertiban."

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persoalan yang terjadi
tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan aktivitas ekonomi ilegal
yang memicu gesekan antarkelompok. Penghentian sementara aktivitas penambangan
emas diharapkan mampu meredam situasi sembari proses dialog berlangsung.
Bupati Rettob juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang
dan tidak terpancing provokasi, serta menghindari kesalahpahaman yang dapat
memicu konflik lanjutan. "Kami akan bekerja sama dengan masyarakat adat
untuk menyelesaikan konflik ini dengan cara yang damai dan adil,"
tambahnya.
Upaya penyelesaian konflik ini juga mendapat perhatian dari
tingkat provinsi. Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, telah memerintahkan
Bupati Mimika, Deiyai, dan Dogiyai untuk membentuk tim gabungan guna menangani
konflik yang terjadi di Kapiraya.
Tim gabungan tersebut akan melakukan negosiasi langsung
dengan pemilik hak ulayat dari kedua belah pihak. Pendekatan dialog dan
musyawarah adat menjadi kunci dalam menentukan batas wilayah secara jelas dan
disepakati bersama.
Dengan langkah-langkah terpadu yang melibatkan pemerintah
daerah, aparat keamanan, dan masyarakat adat, diharapkan konflik batas wilayah
antara suku Kamoro dan Mee dapat diselesaikan secara damai dan adil. Stabilitas
keamanan di Kapiraya pun diharapkan segera pulih sehingga aktivitas masyarakat
dapat kembali berjalan normal.
Penulis: Hend
Editor: GF