logo-website
Minggu, 01 Mar 2026,  WIT

Persejasi Papua Tengah Siap Berlaga Pada Walking Football Asia Pacific World Cup 2025 di Bali

Bupati Mimika Johannes Rettob: “Ini bukan sekadar olahraga, tapi kebanggaan dan pesan bahwa semangat juang tak mengenal usia.”

Papuanewsonline.com - 11 Nov 2025, 16:12 WIT

Papuanewsonline.com/ Olahraga

Bupati Mimika sekaligus Ketua KORMI Papua Tengah, Johannes Rettob, saat memberikan keterangan pers mengenai kesiapan tim Persejasi Papua Tengah berlaga di Walking Football Asia Pacific World Cup 2025 di Bali.

Papuanewsonline.com, Timika — Langkah besar akan diukir dari Tanah Amungsa, Papua Tengah. Tim Persejasi Papua Tengah resmi diumumkan sebagai wakil Indonesia dalam ajang bergengsi Walking Football Asia Pacific World Cup 2025, yang akan digelar di Bali pada 13–16 November 2025 mendatang.


Kabar ini menjadi angin segar dan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Papua Tengah, khususnya Kabupaten Mimika, yang menjadi basis utama tim tersebut. Kehadiran Persejasi di level internasional menunjukkan bahwa semangat olahraga dari timur Indonesia terus menyala, bukan hanya untuk kompetisi, tetapi juga untuk mengangkat martabat dan semangat kebersamaan bangsa.

Dalam konferensi pers di Timika, Ketua KORMI Papua Tengah sekaligus Bupati Mimika, Johannes Rettob, menegaskan bahwa partisipasi Persejasi bukan hanya tentang berlaga di lapangan, tetapi juga tentang memperkenalkan Papua Tengah ke dunia.

“Kami sangat bangga dengan kerja keras dan dedikasi seluruh tim. Keikutsertaan Persejasi adalah bukti kesiapan kita untuk bersaing di tingkat internasional,” ujar Rettob.

“Semoga kepercayaan ini dijalankan dengan penuh tanggung jawab, membawa nama Papua Tengah dan Indonesia dengan semangat sportivitas dan kehormatan.”

Rettob juga menekankan bahwa olahraga rekreasi seperti walking football memiliki nilai sosial yang tinggi — bukan hanya untuk kebugaran jasmani, tetapi juga untuk memperkuat solidaritas lintas generasi dan daerah.

“Walking football ini unik. Ia mengajarkan kita bahwa semangat juang tidak berakhir ketika usia bertambah. Justru di sinilah makna sejati dari sportivitas dan kebersamaan,” tambahnya dengan nada optimistis.

Sementara itu, Ketua Persejasi Papua Tengah, Habel Taime, mengungkapkan bahwa timnya telah menjalani program latihan intensif di Timika selama beberapa bulan terakhir. Latihan ini meliputi peningkatan kebugaran, teknik dasar, serta simulasi pertandingan yang sesuai dengan aturan internasional walking football.

“Kami tidak sekadar berangkat untuk tampil, tetapi ingin berprestasi dan memberi kebanggaan bagi Papua Tengah. Ini adalah momentum untuk menunjukkan bahwa dari Tanah Amungsa, atlet senior pun bisa mengharumkan nama bangsa,” ungkap Habel.

Ia menambahkan, walking football juga menjadi wadah promosi gaya hidup sehat bagi masyarakat, terutama kalangan usia lanjut yang ingin tetap aktif berolahraga. Dengan mengusung slogan “Berjalan dengan Semangat, Bermain dengan Hati”, Persejasi Papua Tengah ingin mengajak masyarakat untuk terus bergerak, berolahraga, dan menjaga kesehatan.

Kehadiran Persejasi Papua Tengah di ajang Walking Football Asia Pacific World Cup 2025 bukan sekadar representasi olahraga, tetapi juga diplomasi budaya dan identitas daerah. Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap olahraga komunitas dan rekreasi, Papua Tengah ingin menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan keindahan karakter orang Papua bisa bersinar di panggung global.

Ajang yang diikuti berbagai negara kawasan Asia Pasifik ini akan menjadi momentum penting untuk memperkuat jejaring internasional dan mempromosikan potensi daerah. Selain berkompetisi, tim juga dijadwalkan mengikuti forum persahabatan antar-negara, pameran budaya, dan promosi pariwisata Papua Tengah di arena kegiatan.

“Kami ingin membawa pesan bahwa Papua Tengah bukan hanya kaya alam, tetapi juga kaya semangat dan talenta. Persejasi adalah wajah baru Papua yang disiplin, sehat, dan berprestasi,” tegas Johannes Rettob.

Walking football — olahraga turunan dari sepak bola konvensional — dikenal sebagai olahraga inklusif yang diperuntukkan bagi usia 40 tahun ke atas. Dengan aturan unik seperti larangan berlari dan kontak fisik berlebihan, cabang ini mengutamakan strategi, ketenangan, dan kerja sama tim.

Kehadiran Persejasi Papua Tengah di ajang internasional membuktikan bahwa usia bukanlah batasan untuk berprestasi. Justru, pengalaman dan ketekunan menjadi modal utama untuk bersaing di ajang ini.

“Kami harap kiprah Persejasi dapat menginspirasi banyak orang di Indonesia untuk tetap aktif dan percaya diri, bahwa semangat berolahraga tidak boleh padam hanya karena umur,” ujar Habel Taime menutup sesi wawancara.

Menjelang keberangkatan ke Bali, tim Persejasi dijadwalkan melakukan pemantapan akhir yang difokuskan pada taktik permainan dan penguatan mental bertanding. Pemerintah Kabupaten Mimika bersama KORMI Papua Tengah akan memberikan dukungan penuh, baik secara logistik maupun moral, agar para pemain tampil maksimal di kompetisi.

Dengan komposisi pemain berpengalaman dan semangat yang membara, Persejasi Papua Tengah bertekad pulang membawa hasil terbaik untuk Indonesia.

“Kemenangan bukan hanya soal skor, tapi tentang membawa nama daerah dan bangsa dengan terhormat. Kami siap berjuang,” pungkas Rettob.

 


Penulis: Jidan

Editor: GF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE