Persejasi Papua Tengah Siap Berlaga Pada Walking Football Asia Pacific World Cup 2025 di Bali
Bupati Mimika Johannes Rettob: “Ini bukan sekadar olahraga, tapi kebanggaan dan pesan bahwa semangat juang tak mengenal usia.”
Papuanewsonline.com - 11 Nov 2025, 16:12 WIT
Papuanewsonline.com/ Olahraga
Papuanewsonline.com, Timika — Langkah besar akan diukir dari Tanah Amungsa, Papua Tengah. Tim Persejasi Papua Tengah resmi diumumkan sebagai wakil Indonesia dalam ajang bergengsi Walking Football Asia Pacific World Cup 2025, yang akan digelar di Bali pada 13–16 November 2025 mendatang.
Kabar ini menjadi angin segar dan
kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Papua Tengah, khususnya Kabupaten Mimika,
yang menjadi basis utama tim tersebut. Kehadiran Persejasi di level
internasional menunjukkan bahwa semangat olahraga dari timur Indonesia terus
menyala, bukan hanya untuk kompetisi, tetapi juga untuk mengangkat martabat dan
semangat kebersamaan bangsa.
Dalam konferensi pers di Timika, Ketua
KORMI Papua Tengah sekaligus Bupati Mimika, Johannes Rettob, menegaskan bahwa
partisipasi Persejasi bukan hanya tentang berlaga di lapangan, tetapi juga
tentang memperkenalkan Papua Tengah ke dunia.
“Kami sangat bangga dengan kerja keras dan dedikasi seluruh tim. Keikutsertaan Persejasi adalah bukti kesiapan kita untuk bersaing di tingkat internasional,” ujar Rettob.
“Semoga kepercayaan ini dijalankan dengan penuh tanggung jawab, membawa nama Papua
Tengah dan Indonesia dengan semangat sportivitas dan kehormatan.”
Rettob juga menekankan bahwa
olahraga rekreasi seperti walking football memiliki nilai sosial yang tinggi —
bukan hanya untuk kebugaran jasmani, tetapi juga untuk memperkuat solidaritas
lintas generasi dan daerah.
“Walking football ini unik. Ia
mengajarkan kita bahwa semangat juang tidak berakhir ketika usia bertambah.
Justru di sinilah makna sejati dari sportivitas dan kebersamaan,” tambahnya
dengan nada optimistis.
Sementara itu, Ketua Persejasi
Papua Tengah, Habel Taime, mengungkapkan bahwa timnya telah menjalani program
latihan intensif di Timika selama beberapa bulan terakhir. Latihan ini meliputi
peningkatan kebugaran, teknik dasar, serta simulasi pertandingan yang sesuai
dengan aturan internasional walking football.
“Kami tidak sekadar berangkat
untuk tampil, tetapi ingin berprestasi dan memberi kebanggaan bagi Papua
Tengah. Ini adalah momentum untuk menunjukkan bahwa dari Tanah Amungsa, atlet
senior pun bisa mengharumkan nama bangsa,” ungkap Habel.
Ia menambahkan, walking football
juga menjadi wadah promosi gaya hidup sehat bagi masyarakat, terutama kalangan
usia lanjut yang ingin tetap aktif berolahraga. Dengan mengusung slogan “Berjalan dengan Semangat, Bermain dengan Hati”,
Persejasi Papua Tengah ingin mengajak masyarakat untuk terus bergerak,
berolahraga, dan menjaga kesehatan.
Kehadiran Persejasi Papua Tengah
di ajang Walking Football Asia Pacific World Cup 2025 bukan sekadar
representasi olahraga, tetapi juga diplomasi budaya dan identitas daerah. Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap olahraga komunitas dan
rekreasi, Papua Tengah ingin menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan
keindahan karakter orang Papua bisa bersinar di panggung global.
Ajang yang diikuti berbagai
negara kawasan Asia Pasifik ini akan menjadi momentum penting untuk memperkuat
jejaring internasional dan mempromosikan potensi daerah. Selain berkompetisi,
tim juga dijadwalkan mengikuti forum persahabatan antar-negara, pameran budaya,
dan promosi pariwisata Papua Tengah di arena kegiatan.
“Kami ingin membawa pesan bahwa
Papua Tengah bukan hanya kaya alam, tetapi juga kaya semangat dan talenta.
Persejasi adalah wajah baru Papua yang disiplin, sehat, dan berprestasi,” tegas
Johannes Rettob.
Walking football — olahraga
turunan dari sepak bola konvensional — dikenal sebagai olahraga inklusif yang
diperuntukkan bagi usia 40 tahun ke atas. Dengan aturan unik seperti larangan
berlari dan kontak fisik berlebihan, cabang ini mengutamakan strategi,
ketenangan, dan kerja sama tim.
Kehadiran Persejasi Papua Tengah
di ajang internasional membuktikan bahwa usia bukanlah batasan untuk
berprestasi. Justru, pengalaman dan ketekunan menjadi modal utama untuk
bersaing di ajang ini.
“Kami harap kiprah Persejasi
dapat menginspirasi banyak orang di Indonesia untuk tetap aktif dan percaya
diri, bahwa semangat berolahraga tidak boleh padam hanya karena umur,” ujar
Habel Taime menutup sesi wawancara.
Menjelang keberangkatan ke Bali,
tim Persejasi dijadwalkan melakukan pemantapan akhir yang difokuskan pada
taktik permainan dan penguatan mental bertanding. Pemerintah Kabupaten Mimika
bersama KORMI Papua Tengah akan memberikan dukungan penuh, baik secara logistik
maupun moral, agar para pemain tampil maksimal di kompetisi.
Dengan komposisi pemain
berpengalaman dan semangat yang membara, Persejasi Papua Tengah bertekad pulang
membawa hasil terbaik untuk Indonesia.
“Kemenangan bukan hanya soal
skor, tapi tentang membawa nama daerah dan bangsa dengan terhormat. Kami siap
berjuang,” pungkas Rettob.
Penulis: Jidan
Editor: GF