Puisi "Hanya Joel Yang Tidak Bohong" Jadi Bumerang, Edoardus: Janji Kampanye Kosong Belaka
Pengamat sosial dan pemerhati pembangunan daerah, Edoardus Rahawadan, menilai isi puisi tersebut kini menjadi bukti nyata bahwa janji politik pasangan Joel saat kampanye tidak terpenuhi.
Papuanewsonline.com - 19 Agu 2026, 10:41 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Mimika – Sepotong puisi kampanye Bupati Mimika kini kembali mengemuka dan menjadi sorotan publik. Pengamat sosial dan pemerhati pembangunan daerah, Edoardus Rahawadan, menilai isi puisi tersebut kini menjadi bukti nyata bahwa janji politik pasangan Joel saat kampanye tidak terpenuhi.
Puisi yang dilantunkan saat kampanye itu berbunyi:
“Di sana bohong, di sini bohong
Di tengah-tengah ada buah kedondong
Di sana bohong, di sini bohong
Hanya Joel yang tidak bohong”
Menurut Edoardus, kalimat yang dulu digunakan untuk menarik suara pemilih itu kini berbalik menampar kinerja pemerintahan saat ini.
“Puisi itu kini bukan lagi sekadar untaian kata untuk menarik suara pemilih, melainkan cermin besar kinerja hari ini. Kalimat 'hanya Joel yang tidak bohong' ternyata justru menjadi ironi terbesar. Fakta di lapangan membuktikan: di sana bohong, di sini bohong, dan hampir seluruh janji yang disampaikan pasangan Joel terbukti kosong dan tidak memiliki landasan realisasi,” tegas Edoardus dalam keterangan tertulisnya kepada media Papuanewsonline.com, Rabu (19/8).
Infrastruktur dan Air Bersih Disorot Gagal
Edoardus menyoroti dua sektor utama yang menjadi andalan kampanye namun dinilai gagal: pembangunan infrastruktur dasar dan penyediaan air bersih di wilayah pesisir.
Ia menilai pembangunan infrastruktur dasar yang digembar-gemborkan sebagai program unggulan jauh dari layak. Banyak proyek belum tersentuh, atau jika sudah dibangun kualitasnya rendah.
“Pembangunan infrastruktur dasar yang diklaim sebagai prioritas utama, itu semua adalah kebohongan publik. Anggaran telah digelontorkan, namun apa yang diterima masyarakat? Jalan rusak masih banyak, dan fasilitas umum yang dibangun tidak menjawab kebutuhan nyata warga. Ini bentuk ketidakjujuran dalam menjalankan amanah rakyat,” ujarnya.
Selain itu, Edoardus juga mengkritisi peresmian fasilitas air bersih di beberapa titik pesisir Mimika yang dilakukan secara seremonial. Menurutnya, peresmian itu hanya pertunjukan politik karena warga belum merasakan manfaatnya.
“Peresmian air bersih di pesisir itu juga bagian dari kebohongan publik yang dilakukan Bupati Mimika. Papan nama sudah dipasang, pidato sudah disampaikan, foto sudah diambil, tetapi kenyataannya air tidak mengalir atau kualitasnya tidak layak pakai. Rakyat tetap kesulitan mendapatkan air bersih, sementara pemimpin sudah mengaku telah menunaikan janji,” tambahnya.
Desak Audit dan Evaluasi
Edoardus menegaskan janji politik adalah kontrak moral antara pemimpin dan rakyat. Ketika kontrak itu dilanggar, legitimasi pemerintahan patut dipertanyakan.
Ia meminta aparat pengawasan dan lembaga terkait menelusuri penggunaan anggaran untuk program-program tersebut.
“Jika dulu dikatakan 'hanya Joel yang tidak bohong', maka hari ini rakyat Mimika melihat bukti sebaliknya. Kami berharap hal ini menjadi evaluasi keras, dan pemerintah daerah segera memperbaiki kinerja, bukan sibuk dengan seremonial tanpa hasil nyata. Rakyat butuh bukti, bukan puisi kosong,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kabupaten Mimika belum memberikan keterangan resmi terkait kritik tersebut.
Penulis: Hendrik
Editor: OF