"KNPI Bukan Rumah Preman!" Tokoh Pemuda Desak Stop Lempar Kursi, Musdat Selesai Hari Ini
Tokoh Pemuda Mimika mendorong Musdat KNPI segera dituntaskan serta mengajak seluruh kader menjaga persatuan dan etika organisasi.
Papuanewsonline.com - 01 Jul 2026, 21:36 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Mimika – Tokoh Pemuda Mimika, Yohanes Kemong, menyampaikan kritik keras terhadap dinamika yang terjadi dalam pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musdat) KNPI. Dalam wawancara melalui sambungan telepon dengan redaksi pada Rabu, 1 Juli 2026, ia meminta seluruh kader menjaga marwah organisasi dan segera menuntaskan agenda Musdat pada hari yang sama.
Sebagai salah seorang senior di lingkungan kepemudaan, Yohanes menegaskan bahwa perbedaan pandangan dalam forum musyawarah merupakan hal yang wajar. Namun, menurutnya, perbedaan tersebut tidak boleh berubah menjadi tindakan yang mencoreng nama baik organisasi. “Tidak boleh rumah itu jadikan KNPI, jadikan preman,” ujarnya.
Yohanes juga mengecam segala bentuk tindakan anarkis yang terjadi dalam forum organisasi. Ia menilai aksi kekerasan maupun tindakan yang mengganggu jalannya musyawarah sama sekali tidak mencerminkan semangat kepemudaan yang seharusnya dijunjung tinggi. “Lempar kursi lah, lempar meja lah, baku pukul lah. Ini sikap-sikap ini tidak boleh ditunjukkan,” tegas Yohanes.
Menurutnya, KNPI merupakan wadah pembinaan kader yang memiliki tanggung jawab besar dalam melahirkan calon-calon pemimpin masa depan. Karena itu, ia mengingatkan agar seluruh elemen organisasi menjaga citra KNPI sebagai tempat pembelajaran kepemimpinan, bukan ruang untuk mempertontonkan konflik. “KNP itu rumah untuk kita kadirkan orang, generasi pemimpin masa depan,” katanya.
Yohanes turut memberikan ultimatum agar seluruh persoalan yang menghambat jalannya Musdat segera diselesaikan. Ia berharap tidak ada lagi penundaan sehingga KNPI dapat kembali menjalankan fungsinya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung pembangunan daerah. “Hari ini harus diselesaikan agar KNPI turut ambil bagian dalam pembangunan,” ucapnya.
Selain itu, ia berpesan kepada siapa pun yang nantinya terpilih sebagai ketua agar mampu merangkul seluruh kader tanpa membedakan kelompok pendukung. Menurutnya, kepemimpinan yang mengedepankan persatuan menjadi kunci agar konflik internal tidak terus berlanjut. “KNPI kalau dia sudah pilih-pilih, maka tidak akan selesai permusuhan itu sampai 5 tahun ke depan,” katanya.
Yohanes juga mengingatkan para senior organisasi, termasuk tokoh-tokoh yang hadir dalam forum seperti anggota DPR, agar menjalankan peran sebagai pembimbing dan penyejuk suasana. Ia menilai kehadiran mereka seharusnya menjadi contoh bagi generasi muda, bukan justru memperkeruh keadaan. “Kak-kak yang hadir juga tidak boleh jadi provokator,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Yohanes berharap KNPI dapat segera kembali fokus menjalankan program kerja setelah Musdat selesai. Ia mendorong agar para kader diberdayakan di berbagai bidang, mulai dari pengembangan sumber daya manusia, pembangunan fisik, keamanan hingga ekonomi, untuk mendukung pembangunan di Mimika. Di akhir wawancaranya, Yohanes menegaskan posisinya tetap netral dalam proses pemilihan. “Bagi saya, tidak aku mendukung siapa-siapa. Saya tidak mendukung siapa-siapa, tetapi siapapun dia terpilih,” pungkasnya.
Penulis: Hendrik
Editor: GF