logo-website
Kamis, 23 Apr 2026,  WIT

SPPG Oyehe Nabire 002 Dipuji, Program MBG Dinilai Nyata Gerakkan Ekonomi Rakyat

Aliansi Pengusaha Papua Timika menilai dapur MBG di Nabire bukan sekadar penyedia makanan bergizi, tetapi juga mampu memberdayakan mama-mama Papua dan nelayan lokal secara langsung

Papuanewsonline.com - 23 Apr 2026, 20:47 WIT

Papuanewsonline.com/ Ekonomi

Ilustrasi.

Papuanewsonline.com, Timika – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua Tengah mulai menunjukkan dampak nyata di lapangan. Salah satu yang mendapat sorotan positif adalah SPPG Oyehe Nabire 002 yang dinilai berhasil menggabungkan kualitas pelayanan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.


Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Aliansi Pengusaha Papua di Timika setelah melakukan pemantauan dan analisa langsung terhadap operasional dapur tersebut.

Ketua Aliansi Pengusaha Papua di Timika, Emus Kogoya, menegaskan bahwa SPPG Oyehe Nabire 002 telah menjalankan program dengan standar yang baik serta memberikan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

“Setelah kami melakukan pantauan dan analisa secara langsung, kami melihat langkah-langkah pelayanan dari SPPG Oyehe Nabire 002 ini sangat baik. Ini yang kami bilang, program seperti ini jangan hanya berjalan, tetapi harus benar-benar dirasakan manfaatnya. Dan di sini kami melihat manfaat itu nyata,” tegas Emus Kogoya.

Menurutnya, salah satu keunggulan utama dapur tersebut adalah keberpihakan terhadap pelaku ekonomi kecil, terutama mama-mama Papua yang berjualan di pasar tradisional.

“Yang paling penting bagi kami adalah dapur ini membeli langsung bahan baku dari mama-mama Papua yang berjualan di pasar. Ini langkah yang sangat positif, karena ekonomi masyarakat kecil ikut bergerak. Program MBG jangan sampai hanya bicara makanan, tetapi juga harus menghadirkan keadilan ekonomi bagi rakyat kecil. Itu yang kami lihat berjalan di sini,” ujarnya.

Emus menilai pendekatan tersebut selaras dengan semangat pemerintah pusat dalam memastikan program strategis benar-benar berdampak langsung bagi masyarakat bawah.

“Kalau masyarakat kecil ikut tumbuh, pedagang kecil ikut hidup, nelayan kecil ikut mendapat manfaat, maka di situlah letak keberhasilan program pemerintah. Jadi kami sangat mengapresiasi cara kerja seperti ini,” katanya.

Tidak hanya memberdayakan pedagang pasar, SPPG Oyehe Nabire 002 juga dinilai menjaga kualitas bahan pangan secara serius. Untuk kebutuhan ikan, dapur tersebut membeli langsung dari nelayan kecil, termasuk mama-mama Papua yang baru kembali melaut.

Sekretaris Aliansi Pengusaha Papua di Timika, Aji Lemauk, menilai penggunaan bahan baku segar menjadi indikator penting profesionalisme dapur dalam menjalankan program MBG.

“Kami melihat mereka sangat serius dalam memilih bahan baku. Ikan yang dibeli itu segar, langsung dari nelayan kecil. Sayur, buah, dan bumbu juga dalam kondisi segar. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak asal memasak, tetapi benar-benar memperhatikan kualitas makanan yang akan dikonsumsi,” kata Aji Lemauk.

Ia menambahkan bahwa kualitas bahan pangan menjadi faktor utama dalam mendukung tujuan besar program MBG, yakni menciptakan generasi yang sehat dan kuat.

“Kalau mau menciptakan generasi hebat dan masa depan cerah, maka makanan yang disiapkan juga harus benar-benar berkualitas. Kami melihat SPPG Oyehe Nabire 002 punya kesadaran itu,” ujarnya.

Selain kualitas bahan, aspek disiplin kerja juga menjadi perhatian dalam penilaian Aliansi Pengusaha Papua. Mereka melihat seluruh proses operasional dapur berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP).

“Program ini besar, menyangkut kebutuhan masyarakat dan masa depan anak-anak. Karena itu tidak boleh dikerjakan sembarangan. Harus ada SOP yang jelas, disiplin yang kuat, dan pengawasan yang baik. Kami melihat hal itu dijalankan di SPPG Oyehe Nabire 002,” tegas Aji.

Sementara itu, anggota Aliansi Pengusaha Papua, Faya Naa, menyoroti penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang dinilai cukup ketat di dapur tersebut.

“Kami melihat penerapan safety atau K3 di dapur ini cukup ketat. Ini sangat penting, karena dapur yang baik bukan hanya soal hasil akhir makanan, tetapi juga soal bagaimana prosesnya dijalankan secara aman, tertib, bersih, dan bertanggung jawab,” ungkap Faya Naa.

Menurutnya, penerapan K3 yang baik akan memberikan dampak positif terhadap kualitas pelayanan secara keseluruhan.

“Bagi kami, ini nilai tambah yang besar. Karena dengan penerapan K3 yang baik, maka lingkungan kerja lebih aman, kebersihan lebih terjaga, dan kualitas pelayanan juga ikut meningkat. Hal seperti ini sangat patut ditiru oleh dapur-dapur SPPG lainnya,” katanya.

Lebih jauh, Faya menekankan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari distribusi makanan, tetapi juga dari dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan.

“Kalau program ini dijalankan dengan pola seperti ini, membeli dari masyarakat lokal, menjaga kualitas bahan, disiplin pada SOP, dan menerapkan K3 secara ketat, maka manfaatnya akan jauh lebih besar. Program ini bisa menjadi penggerak ekonomi rakyat sekaligus penopang lahirnya generasi Papua yang sehat dan cerdas,” ujarnya.

Secara keseluruhan, Aliansi Pengusaha Papua di Timika menilai SPPG Oyehe Nabire 002 telah menunjukkan praktik ideal dalam pelaksanaan program MBG.

Model kerja yang profesional sekaligus berpihak pada masyarakat dinilai penting untuk direplikasi di berbagai daerah, khususnya di Papua Tengah.

Emus Kogoya pun berharap praktik baik tersebut dapat menjadi standar bagi dapur MBG lainnya.

“Kami berharap ini jangan berhenti di sini. Apa yang baik harus dijadikan contoh. SPPG Oyehe Nabire 002 sudah memperlihatkan bahwa program MBG bisa dijalankan dengan baik, tertib, aman, dan berpihak kepada rakyat kecil. Ini model yang harus didorong bersama,” tandasnya.

Dengan pola kerja yang disiplin, penggunaan bahan segar, serta keterlibatan aktif masyarakat lokal, SPPG Oyehe Nabire 002 dinilai berhasil menghadirkan manfaat ganda, yakni peningkatan gizi sekaligus penguatan ekonomi kerakyatan. (GF)

 

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE