Wamendagri Ribka Haluk Bantah Isu Penanaman Sawit di Papua
Isu penanaman kelapa sawit dinilai keliru dan menyesatkan, pemerintah pusat menekankan percepatan pembangunan serta ketahanan pangan berbasis potensi lokal Tanah Papua
Papuanewsonline.com - 06 Jan 2026, 21:04 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Mimika — Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk secara tegas membantah isu yang berkembang terkait adanya instruksi Presiden Prabowo Subianto kepada pemerintah daerah di Papua untuk wajib menanam kelapa sawit. Klarifikasi ini disampaikan untuk meluruskan berbagai opini yang dinilai tidak sesuai dengan arahan pemerintah pusat.
“Ada opini yang sementara berkembang bahwa ada arahan Bapak
Presiden untuk menanam sawit di Papua. Itu tidak benar,” tegas Ribka Haluk
dalam keterangannya pada Senin (5/1/2026).
Menurut Ribka, arahan Presiden justru berfokus pada
percepatan pembangunan daerah serta penguatan program ketahanan pangan
nasional. Pemerintah pusat mendorong agar daerah memahami tujuan besar
pembangunan tanpa memaksakan komoditas tertentu yang belum tentu sesuai dengan
kondisi wilayah.
Klarifikasi tersebut merujuk pada pertemuan Presiden Prabowo
Subianto bersama jajaran menteri dan para kepala daerah dari enam provinsi
serta 42 kabupaten/kota se-Tanah Papua yang berlangsung di Istana Negara pada
16 Desember 2025. Pertemuan itu bertujuan menyamakan persepsi dan langkah
strategis pembangunan Papua.
“Bukan Bapak Presiden mengatakan bupati atau wali kota harus
menanam komoditas tertentu. Tujuannya adalah membuka wawasan dan menyamakan
pemahaman mengenai program pemerintah pusat, khususnya ketahanan pangan,” jelas
Ribka.
Ia mengakui bahwa kelapa sawit memang memiliki potensi
ekonomi, namun bukan satu-satunya komoditas yang harus dikembangkan di Papua.
Setiap daerah, menurutnya, memiliki karakteristik dan kekuatan yang
berbeda-beda sehingga tidak bisa diseragamkan.
Papua sendiri memiliki beragam komoditas pangan lokal
seperti sagu, singkong, padi, talas, serta berbagai jenis umbi-umbian yang
selama ini menjadi sumber pangan masyarakat. Komoditas tersebut bahkan memiliki
peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, termasuk energi
alternatif seperti etanol.
Ribka menegaskan bahwa percepatan pembangunan di Tanah Papua
menjadi sangat penting mengingat besarnya potensi sumber daya alam yang belum
dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut dinilai berkontribusi terhadap
kesenjangan pembangunan dan kesejahteraan dibandingkan wilayah lain di
Indonesia.
“Kita harus memastikan bahwa setiap langkah pembangunan
mengedepankan kepentingan masyarakat lokal dan kelestarian lingkungan,”
tambahnya.
Presiden Prabowo, lanjut Ribka, juga menaruh perhatian besar
pada pembangunan yang menyeluruh, mulai dari sektor ekonomi, peningkatan
kualitas sumber daya manusia, hingga penguatan infrastruktur dasar. Percepatan
pembangunan infrastruktur diharapkan mampu menekan biaya transportasi dan
logistik di Papua.
“Tujuannya untuk menurunkan biaya transportasi agar
masyarakat Papua bisa lebih mandiri secara pangan,” ujarnya.
Arahan tersebut sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, di
mana tidak boleh ada wilayah yang tertinggal dalam pembangunan nasional.
“Semua masyarakat di Papua harus sejahtera, tidak kekurangan
pangan, serta mendapatkan akses pendidikan yang baik. Pemerintah daerah harus
menghadirkan terobosan kebijakan untuk mendukung hal tersebut,” tutup Ribka.
Penulis: Jid
Editor: GF