logo-website
Minggu, 01 Feb 2026,  WIT

Disparekraf Mimika Kembangkan Ekowisata Mangrove Poumako dengan Sentuhan Budaya Piripa

Pendekatan budaya suku Kamoro diterapkan untuk memperkuat peran masyarakat lokal dalam menjaga ekosistem mangrove sekaligus mendorong pariwisata berkelanjutan di kawasan pesisir Mimika

Papuanewsonline.com - 22 Jan 2026, 02:33 WIT

Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan

Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika, Elisabeth Cenawatin, saat meninjau langsung kawasan ekowisata mangrove di Kampung Poumako, Distrik Mimika Timur, Selasa (20/1/2026),

Papuanewsonline.com, Timika — Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Mimika mulai menggarap pengembangan dan pengelolaan ekowisata mangrove di Kampung Poumako dengan mengedepankan pendekatan budaya Piripa, sebuah nilai kearifan lokal milik suku Kamoro. Pendekatan ini dipilih untuk memastikan pengelolaan wisata berjalan seiring dengan adat dan budaya setempat.


Sebagai dinas yang baru dibentuk, Disparekraf Mimika melakukan kunjungan perdana ke lokasi sekaligus menggelar sosialisasi kepada masyarakat RT 09 Kampung Poumako. Kegiatan tersebut bertujuan menyatukan visi antara pemerintah daerah dan warga dalam menjaga serta melindungi fasilitas ekowisata mangrove yang telah tersedia di kawasan tersebut.

Kepala Dinas Disparekraf Mimika, Elisabeth Cenawatin, menjelaskan bahwa pendekatan Piripa dipilih agar pesan tentang pentingnya menjaga ekowisata dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Sosialisasi dilakukan melalui cara yang akrab dan kekeluargaan, yakni duduk bersama sambil bakar ikan, bakar sagu, dan makan bersama pada Selasa (20/1/2026).

“Kami ajak masyarakat RT 09 untuk bersama-sama menjaga ekowisata yang ada,” ujarnya.

Langkah sosialisasi ini juga menjadi bagian dari upaya antisipasi, menyusul adanya temuan sebelumnya terkait pencurian sejumlah material pembangunan, seperti trek mangrove dan tandon penampungan air yang berada di kawasan tersebut.

Dalam pengelolaannya, Disparekraf Mimika menerapkan konsep pariwisata berbasis masyarakat. Warga lokal ditempatkan sebagai subjek sekaligus objek pariwisata, mulai dari pelaku, penerima manfaat, hingga pihak yang turut terlibat dalam pengambilan kebijakan. Konsep ini selaras dengan prinsip pariwisata berkelanjutan yang bertanggung jawab, ramah lingkungan, dan berpihak kepada masyarakat.

Kawasan ekowisata mangrove Poumako nantinya juga direncanakan menjadi ruang pamer dan penjualan berbagai hasil karya masyarakat, seperti anyaman, ukiran, serta hasil tangkapan laut lokal, termasuk karaka dan ikan.

“Saya melihat RT 09 Kampung Poumako sangat cocok dijadikan kampung wisata,” ucap Elisabeth.

Menurutnya, wilayah pesisir Mimika memiliki hutan mangrove seluas kurang lebih 300.000 hektare yang berfungsi sebagai benteng alam, kawasan lindung adat, serta bagian penting dari identitas budaya suku Kamoro yang perlu dijaga bersama.

Masyarakat setempat turut mengusulkan agar pembangunan trek atau jembatan dilanjutkan hingga menghubungkan kampung dengan kawasan ekowisata, sehingga mempermudah akses menuju sanggar Tikiri. Ke depan, Disparekraf Mimika juga merencanakan pembangunan pondok wisata serta pagar keliling kawasan sebagai bagian dari pengembangan berkelanjutan.


Penulis: Jid

Editor: GF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE