logo-website
Senin, 23 Mar 2026,  WIT

Ekonom Sarankan Babel Harus Punya Mesin Ekonomi Baru

Di tengah dinamika ekonomi daerah berbasis sumber daya alam, ketergantungan berlebih pada komoditas kerap menjadi pedang bermata dua

Papuanewsonline.com - 23 Mar 2026, 12:59 WIT

Papuanewsonline.com/ Ekonomi

Ilustrasi

Papuanewsonline.com, Bangka Belitung– Di tengah dinamika ekonomi daerah berbasis sumber daya alam, ketergantungan berlebih pada komoditas kerap menjadi pedang bermata dua—mendorong pertumbuhan saat harga tinggi, namun memicu tekanan saat pasar melemah.

Fenomena ini tercermin nyata dalam perjalanan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam beberapa tahun terakhir.

Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai kinerja ekonomi Babel sepanjang 2022 hingga awal 2026 menunjukkan fluktuasi tajam yang mencerminkan rapuhnya struktur ekonomi daerah berbasis komoditas.

Pada 2022, ekonomi Babel masih mampu tumbuh 4,40 persen dengan PDRB Rp95,29 triliun, meski melambat dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, menurut Noviardi, perlambatan itu sudah menjadi sinyal awal bahwa ketergantungan pada timah dan sawit mulai menjadi beban.

“Pertumbuhan Babel sejak awal memang ditopang konsumsi dan belanja pemerintah, tetapi tidak diimbangi penguatan sektor produktif yang berkelanjutan. Ini yang membuatnya rentan terhadap guncangan eksternal,” ujarnya, Minggu, 22 Maret 2026.

Kondisi tersebut mencapai titik terendah pada 2024, saat ekonomi Babel hanya tumbuh 0,77 persen. Noviardi menilai krisis tata kelola timah menjadi faktor utama yang melumpuhkan kinerja ekonomi daerah.

“Ketika ekspor timah terganggu, bahkan sempat nihil, dampaknya langsung sistemik. Ditambah persoalan korupsi yang menghambat dana bagi hasil dan hilirisasi, Babel kehilangan sumber pertumbuhan utamanya,” tegasnya.

Di sisi lain, melemahnya harga sawit global semakin memperparah tekanan. Daya beli masyarakat menurun, sejumlah sektor mengalami kontraksi, dan ketergantungan pada impor pangan meningkat. Kontribusi Babel terhadap ekonomi Sumatera pun ikut menyusut.

Memasuki 2025, pemulihan mulai terlihat dengan pertumbuhan kumulatif 4,09 persen. Sektor jasa seperti akomodasi dan makanan minuman, perdagangan, serta pertanian dan perikanan menjadi penopang utama.

Namun, Noviardi mengingatkan bahwa pemulihan ini belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi. Industri pengolahan masih fluktuatif dan dominasi timah dalam struktur PDRB tetap tinggi.

“Artinya, risiko siklus boom and bust masih sangat besar. Selama Babel belum keluar dari ketergantungan komoditas, setiap gejolak global akan langsung terasa,” jelasnya.

Untuk itu, ia menekankan perlunya langkah strategis yang lebih berani dan terarah. Hilirisasi timah harus dijalankan secara konsisten dan transparan agar memberikan nilai tambah nyata.

Penguatan UMKM dan sektor jasa perlu dipercepat karena terbukti lebih adaptif dalam menghadapi tekanan ekonomi.

Noviardi juga mendorong peningkatan ketahanan pangan daerah guna menekan ketergantungan impor, serta percepatan diversifikasi ke sektor pariwisata dan industri non-komoditas.

“Babel punya peluang tumbuh di atas 5 persen pada 2026. Tapi kuncinya satu harus ada mesin ekonomi baru. Tanpa itu, pertumbuhan hanya akan berulang dalam siklus lama—naik saat harga komoditas tinggi, lalu jatuh ketika pasar melemah,” pungkasnya.


Penulis: Risman Serang

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE