Masyarakat Adat Nabire Tolak Provokasi, Ajak Warga Jaga Papua Tetap Damai
Masyarakat adat di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, menolak segala bentuk provokasi yang bisa memicu demo anarkis dan mengganggu keamanan.
Papuanewsonline.com - 27 Agu 2026, 07:30 WIT
Papuanewsonline.com/ Seni & Budaya
Papuanewsonline.com, Nabire – Masyarakat adat di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, menolak segala bentuk provokasi yang bisa memicu demo anarkis dan mengganggu keamanan.
Mereka berkomitmen menjaga Papua tetap kondusif dengan mengedepankan persatuan, kedamaian, dan penyampaian aspirasi secara tertib.
Korwil Lembaga Masyarakat Adat atau LMA Papua Tengah, Yona Kogoya, mengatakan keberagaman suku, budaya, dan agama di Nabire adalah kekuatan utama.
“Keberagaman suku, budaya, dan agama merupakan kekuatan utama masyarakat Nabire untuk menjaga persaudaraan dan kedamaian,” ujar Yona.
Ia mengajak warga lebih bijak menyikapi informasi. Jangan mudah percaya narasi yang belum jelas kebenarannya dan berpotensi mengajak rusuh.
Menurut Yona, masyarakat adat punya peran penting meluruskan agar aksi penyampaian pendapat tidak ditunggangi pihak yang mau bikin konflik.
Masyarakat adat Nabire juga menegaskan, keamanan dan ketertiban adalah fondasi hidup bersama. Aspirasi boleh disampaikan secara damai. Tapi ajakan kekerasan, perusakan, dan pemecah persatuan harus ditolak.
Pemerintah Apresiasi
Mewakili Bupati Nabire, Asisten I Setda Nabire La Halim mengapresiasi peran LMA sebagai mitra menjaga ketertiban sosial.
“Perbedaan harus menjadi perekat persaudaraan, bukan sumber perpecahan,” tegas La Halim.
Ia minta semua perbedaan pendapat diselesaikan secara dewasa. Jangan beri ruang untuk provokasi yang memperkeruh situasi.
Komitmen masyarakat adat Nabire ini jadi pesan kuat. Menjaga Papua tetap kondusif butuh kewaspadaan bersama terhadap provokasi. Dengan begitu, keamanan, persaudaraan, dan pembangunan di Papua Tengah bisa terus berjalan harmonis.
Penulis: Hendrik
Editor: OF