logo-website
Sabtu, 07 Feb 2026,  WIT

Serangan di Pos Gunung Mebrok, TPNPB Kodap III Tegaskan Konflik Papua Tak Bisa Diabaikan

Penyergapan di Distrik Mebrok Nduga Tewaskan Satu Aparat, TPNPB Desak Penyelesaian Akar Konflik Papua Melalui Perundingan Internasional

Papuanewsonline.com - 05 Feb 2026, 16:45 WIT

Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal

Tampak sejumlah personel TPNPB Kodap III Ndugama Derakma bersiaga di wilayah pegunungan Distrik Mebrok, Kabupaten Nduga

Papuanewsonline.com, Nduga - Siaran pers Manajemen Markas Pusat Komando Nasional TPNPB yang diterima pada Rabu, 4 Februari 2026, melaporkan terjadinya penyerangan terhadap pos militer Indonesia di Pos Gunung, Distrik Mebrok, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, yang dilakukan oleh pasukan TPNPB Kodap III Ndugama Derakma.


Berdasarkan laporan resmi Komandan Batalyon Empat Mugi, Nereminus Gwijangge, dari medan perang, penyergapan tersebut terjadi pada 11 Januari 2026 siang dan mengakibatkan pos militer mengalami kerusakan serius serta menewaskan satu aparat militer Indonesia.

Serangan ini disebut sebagai bagian dari operasi bersenjata yang terus dijalankan TPNPB dalam rangka menekan pemerintah Indonesia agar segera menyelesaikan akar persoalan konflik di Tanah Papua yang dinilai belum pernah dituntaskan secara menyeluruh.

Laporan terpisah dari Berenti Gwijangge menyebutkan bahwa rangkaian penyerangan akan tetap berlanjut dan tidak akan dihentikan hingga Presiden Prabowo Subianto bersedia membuka ruang dialog dan perundingan internasional bersama TPNPB untuk membahas penyelesaian konflik Papua.

Dalam pernyataannya, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menegaskan agar pemerintah Indonesia tidak menutupi konflik bersenjata di Papua dengan mengalihkan perhatian pada isu-isu internasional, sementara di dalam negeri konflik bersenjata terus berlangsung dan memakan korban dari berbagai pihak.

TPNPB juga menyerukan kepada komunitas internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar turut mengambil peran aktif dalam mendorong penyelesaian akar persoalan politik di Tanah Papua, yang telah memicu konflik berkepanjangan selama lebih dari setengah abad.

Konflik tersebut dilaporkan telah menyebabkan ratusan ribu warga sipil mengungsi, jatuhnya korban jiwa dari masyarakat dan aparat, serta kerusakan luas terhadap berbagai fasilitas sipil seperti sekolah, rumah sakit, dan gereja akibat operasi militer yang terus berlangsung di kawasan permukiman.

Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menilai bahwa tanpa keterlibatan aktif komunitas internasional, konflik di Papua berpotensi terus berulang dan memperparah krisis kemanusiaan yang dialami masyarakat sipil.

Situasi keamanan di wilayah Nduga dan sekitarnya hingga kini dilaporkan masih rawan, seiring meningkatnya intensitas kontak senjata antara kelompok bersenjata dan aparat keamanan di sejumlah titik strategis.

Perkembangan ini kembali menegaskan kompleksitas konflik Papua yang memerlukan pendekatan komprehensif, dialog terbuka, serta langkah-langkah konkret untuk mencegah jatuhnya korban lebih lanjut, baik dari kalangan sipil maupun aparat.(GF)

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE