logo-website
Rabu, 01 Apr 2026,  WIT

Tragedi Dogiyai Memanas, Tiga Warga Sipil Tewas Usai Penyisiran Pasca Polisi Dibunuh

Ketegangan di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, meningkat tajam setelah tiga warga sipil dilaporkan tewas diduga akibat penyisiran aparat pasca tewasnya seorang anggota polisi, memicu kekhawatiran masyarakat atas eskalasi situasi keamanan di wilayah terseb

Papuanewsonline.com - 01 Apr 2026, 14:45 WIT

Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal

Foto jenazah warga sipil yang dilaporkan tewas dalam insiden pasca penyisiran aparat di Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, Selasa (31/3/2026).

Papuanewsonline.com, Dogiyai – Tiga warga Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah dilaporkan tewas setelah ditembak pada Selasa (31/3/26). Korban diduga ditembak oleh aparat kepolisian dalam penyisiran yang dilakukan usai seorang anggota Polsek Moenamani tewas. Informasi menunjukkan ketiga korban adalah Ester Pigai (60 tahun), Siprianus Tibakoto (18 tahun), dan Martinus Yobe (atau disebut Yosph/Yoseph Yobe, 19 tahun).

Marthen Goo, salah satu intelektual Kabupaten Dogiyai, menyampaikan bahwa korban tewas saat aparat melakukan penyisiran di wilayah Distrik Kamuu. Penyisiran dilakukan setelah Brigadir Dua (Bripda) Jufentus Edowai ditemukan tewas dengan luka bacokan di leher dan dianiaya oleh orang tak dikenal di Kampung Kimupugi pagi hari itu.

"Teman-teman korban polisi datang untuk menjemput dan kemudian melakukan penyisiran yang tidak terkendali, yang menyebabkan tiga orang warga tewas. Selain itu juga terjadi kerusakan dan hilangnya harta benda masyarakat," katanya.


Menurut Marthen, setelah penyisiran, aparat baru membawa rekan mereka yang tewas ke rumah sakit, dan kemudian terjadi penembakan lagi yang menewaskan Martinus Yobe dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Frater Siorus Degei, yang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki St. Petrus Mauwa-Dogiyai, mengungkapkan bahwa peristiwa terjadi saat ia bersama umat baru menyelesaikan ibadah sakramen tobat menjelang Pekan Suci Paskah sekitar pukul 09:42 Waktu Papua.

Awalnya keadaan terlihat normal, namun kemudian datang kabar bahwa seorang anggota polisi asli Papua tewas dengan luka bacokan di leher dan lima jari tangan kanannya putus di sekitar pertigaan Gereja Ebenezer Moanemani.

"Sesudahnya bunyi tembakan bergemuruh tanpa henti di Kota Moanemani. Aparat TNI/Polri melakukan penembakan yang tidak terkendali, bahkan ada mobil polisi mengejar beberapa pemuda naik motor dari pusat kota hingga ke Distrik Kamuu Utara," jelasnya.


Frater Siorus mengkonfirmasi bahwa peristiwa itu berujung pada tiga warga sipil tewas, dengan situasi di kota Dogiyai yang masih mencekam. Jalanan sunyi dan aktivitas masyarakat terhenti pasca kejadian.


"Bunyi tembakan masih terdengar samar dari kejauhan. Ada kekhawatiran konflik akan terus berlanjut, mengingat salah satu korban adalah seorang ibu yang tidak bersalah," ujarnya.

Sementara itu, Kapolsek Kamuu Inspektur Satu Yusuf Habel Apiem menyatakan bahwa pihaknya belum bisa memastikan identitas dan bagian tubuh korban yang tertembak.

"Kami masih mendalami kasus ini, mengingat ada korban dari masyarakat dan juga satu anggota kami. Informasi resmi akan disampaikan oleh kapolres," katanya.

 

Penulis: Jid

Editor: GF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE