logo-website
Rabu, 04 Mar 2026,  WIT

Aksi Pemalangan Sekolah Di Mimika Dikecam, Kepala Kampung Sebut Tindakan Premanisme

Aksi penutupan akses SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 7 Mimika dinilai mencederai hak pendidikan siswa dan menciptakan keresahan di lingkungan sekolah

Papuanewsonline.com - 14 Jan 2026, 21:35 WIT

Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal

Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun, memberikan pernyataan kepada awak media terkait aksi pemalangan SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 7 Mimika, di Mimika, Papua Tengah, Rabu (14/01/2026).

Papuanewsonline.com, Mimika — Aksi pemalangan gedung SMA Negeri 1 Mimika dan SMA Negeri 7 Mimika oleh sekelompok warga mengakibatkan terhentinya seluruh aktivitas belajar mengajar pada Rabu, (14/01/2026). Penutupan akses sekolah dilakukan sejak pagi hari bertepatan dengan jam masuk sekolah, sehingga siswa dan guru tidak dapat melaksanakan kegiatan pendidikan.


Pemalangan dilakukan dengan menutup pintu masuk sekolah menggunakan pduk, yang menyebabkan lingkungan sekolah lumpuh total selama aksi berlangsung. Kondisi tersebut memicu keresahan di kalangan tenaga pendidik maupun orang tua murid karena berdampak langsung pada proses pendidikan siswa.

Kepala Kampung Nawaripi yang juga menjabat sebagai Ketua Komite SMA Negeri 1 Mimika, Norman Ditubun, menyampaikan sikap tegas terhadap aksi tersebut. Ia menilai sekolah tidak boleh dijadikan tempat untuk menyampaikan tuntutan apa pun karena berpotensi merusak hak dasar anak-anak untuk memperoleh pendidikan.

Norman mengecam keras tindakan pemalangan yang dilakukan dan menilai perbuatan tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Menurutnya, penutupan sekolah secara paksa merupakan bentuk pembatasan terhadap aktivitas belajar mengajar dan mencederai masa depan pendidikan generasi muda.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para guru dan orang tua murid yang dengan sigap membuka pduk pemalangan di pintu masuk sekolah, sehingga aktivitas pendidikan dapat kembali berjalan dalam waktu singkat.

Sebagai Kepala Kampung Nawaripi, Norman menegaskan bahwa dirinya memiliki tanggung jawab atas keamanan wilayah administrasi kampung, termasuk lingkungan sekolah yang berada dalam wilayah pemerintahan kampung tersebut.

Untuk mencegah kejadian serupa terulang, pihaknya berencana membentuk tim keamanan yang melibatkan orang tua murid dan Karang Taruna Nawaripi. Tim ini nantinya akan bekerja sama dengan aparat keamanan guna menjaga kelancaran aktivitas sekolah.

Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan rasa aman bagi siswa dan tenaga pendidik, serta memastikan proses belajar mengajar dapat berlangsung tanpa gangguan di masa mendatang.

Peristiwa pemalangan ini menjadi peringatan serius bagi semua pihak agar sekolah tidak lagi dijadikan sasaran konflik atau tekanan kepentingan tertentu, mengingat pendidikan merupakan fondasi utama bagi masa depan generasi muda di Mimika.

 

Penulis: Jid

Editor: GF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE