Kemenhub Siapkan Strategi Hadapi Puncak Arus Balik Ketapang–Gilimanuk
Rapat koordinasi di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi mematangkan langkah antisipasi lonjakan arus balik Lebaran 2026, mulai dari optimalisasi buffer zone, delaying system, hingga penambahan armada kapal demi menjaga kelancaran penyeberangan Jawa–Bali
Papuanewsonline.com - 27 Mar 2026, 14:44 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Banyuwangi - Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan bersama para pemangku kepentingan menggelar rapat koordinasi guna mempersiapkan strategi menghadapi puncak arus balik gelombang kedua Lebaran 2026.
Rapat tersebut dilaksanakan di Pelabuhan Ketapang,
Banyuwangi, Jawa Timur, pada Kamis (26/3/2026), dengan melibatkan berbagai
pihak terkait untuk memastikan kelancaran arus penyeberangan menuju Bali.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Aan Suhanan, menegaskan
pentingnya prioritas layanan penyeberangan dari Ketapang menuju Gilimanuk
selama masa arus balik.
"Kita harus memprioritaskan layanan penyeberangan dari
Ketapang menuju Gilimanuk pada arus balik ini. Untuk mekanisme Tiba - Bongkar -
Berangkat (TBB) kita memiliki parameter V/C ratio maksimal 0,6. Maka keputusan
harus diambil secara cepat dan jangan terlambat sesuai dengan kondisi di
lapangan," ucap Direktur Jenderal Perhubungan Darat Aan Suhanan saat
menyampaikan arahannya.
Ia menjelaskan, hasil evaluasi arus mudik sebelumnya menunjukkan perlunya optimalisasi buffer zone dan delaying system untuk mengurai kepadatan kendaraan yang menuju pelabuhan.

"Kesiapan buffer zone menjadi kunci dan harus
dimanfaatkan sebaik mungkin. Begitu pun dengan pengaturan kendaraan barang
sumbu dua yang tidak masuk dalam pembatasan perlu diperhatikan agar berjalan
kondusif," imbuh Dirjen Aan.
Adapun buffer zone untuk kendaraan roda empat dan bus
disiapkan di kawasan Gran Watudodol dan Kantong Parkir Bulusan. Sementara itu,
kendaraan barang diarahkan ke buffer zone Sri Tanjung serta kantong parkir PT
Pusri dan Pelindo.
Selain pengaturan kendaraan, strategi lain yang disiapkan
adalah pengoperasian kapal sesuai tingkat kepadatan. Dalam kondisi normal,
sebanyak 28 kapal dioperasikan, meningkat menjadi 30 kapal saat padat, dan
hingga 32 kapal saat kondisi sangat padat.
"Apabila sangat diperlukan jumlah kapal bisa ditambah
menjadi 35 sampai dengan 40 kapal dan akan ada 2 kapal bantuan yang
kapasitasnya 60 hingga 80 kendaraan," tambahnya.
Berdasarkan data PT ASDP Indonesia Ferry, pada periode H+1
hingga H+3 Lebaran, tercatat sebanyak 41.526 kendaraan telah menyeberang ke
Bali. Jumlah tersebut terdiri dari 24.093 sepeda motor, 14.179 kendaraan roda
empat, 927 bus, dan 2.327 truk.
Meski demikian, masih terdapat sekitar 114.255 kendaraan
atau 73 persen yang belum menyeberang, sehingga potensi lonjakan arus balik
diperkirakan masih akan terjadi.
"Dari jumlah tersebut masih terdapat 114.255 kendaraan
(73%) yang belum menyeberang ke Bali dan ASDP memprediksi arus balik tertinggi
jatuh pada H+6 atau tanggal 28 Maret 2026," jelasnya.
Untuk itu, Aan menekankan pentingnya sinergi dan komunikasi
yang baik antar seluruh pihak terkait, termasuk operator pelabuhan, TNI/Polri,
Dinas Perhubungan, serta stakeholder lainnya.
Upaya ini diharapkan dapat memastikan arus balik Lebaran 2026 berjalan dengan aman, tertib, dan lancar, sekaligus memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang melakukan perjalanan kembali ke daerah tujuan. (GF)