Massa Geruduk DPRK Mimika, Tuntut Penutupan Freeport dan Hentikan Kekerasan di Papua
Aksi Damai di Depan Kantor DPRK Mimika Suarakan Penderitaan Warga Sipil di Daerah Konflik dan Desakan Pengembalian Hak Kedaulatan Rakyat Amungsa atas Tanah Adat
Papuanewsonline.com - 11 Nov 2025, 16:47 WIT
Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal
Papuanewsonline.com, Timika — Ratusan massa dari Forum Independen Mahasiswa West Papua Komite Pimpinan Kota (FIMWP-KPK) Timika turun ke jalan pada Senin (10/11/2025) pagi, memenuhi halaman depan Kantor DPRK Mimika. Dengan pduk, poster, dan bendera bertuliskan pesan-pesan perdamaian, mereka menyerukan tuntutan tegas kepada pemerintah pusat dan daerah: hentikan kekerasan di Papua dan tutup PT Freeport Indonesia (PTFI).
Aksi tersebut berlangsung dalam
suasana panas namun tetap terkendali. Massa bergerak dengan tertib sambil
meneriakkan yel-yel perjuangan, menyuarakan ketidakadilan yang mereka rasakan
sebagai masyarakat adat di atas tanah sendiri.
“Hari ini kami tidak datang untuk
membuat kekacauan. Kami datang untuk menyuarakan suara rakyat yang selama ini
dibungkam. Kami datang karena kami mencintai tanah ini,” teriak Freedom Kobogau,
Koordinator Lapangan FIMWP-KPK, dalam orasinya di depan gerbang kantor DPRK
Mimika.
Dalam pernyataannya, Freedom
Kobogau menegaskan bahwa eskalasi kekerasan di berbagai wilayah konflik Papua
seperti Intan Jaya, Puncak, Puncak Jaya, Maybrat, Pegunungan Bintang, dan
Yahukimo terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Menurutnya, masyarakat sipil — terutama perempuan dan anak-anak — menjadi
korban utama dari operasi militer yang dilakukan di wilayah-wilayah tersebut.
“Kami menuntut pemerintah
Indonesia untuk segera menarik aparat keamanan dari wilayah konflik dan
menghentikan kekerasan terhadap warga sipil. Papua bukan medan perang, Papua
adalah tanah kehidupan,” ujar Freedom lantang disambut tepuk tangan massa.
Selain menyoroti kekerasan, massa
juga menuntut penutupan operasional PT Freeport Indonesia (PTFI). Mereka
menilai keberadaan perusahaan tambang emas raksasa itu selama puluhan tahun
hanya memperkaya segelintir pihak, sementara masyarakat adat Amungme dan Kamoro
yang menjadi pemilik tanah ulayat justru hidup dalam keterpinggiran sosial dan
ekonomi.
“Sumber daya alam kami dikuras
tanpa batas, tapi rakyat pemilik tanah justru hidup di pinggiran kota. Kami
yang bersuara hari ini adalah mereka yang tersisa untuk mempertahankan tanah
adat kami,” ujar Freedom lagi dengan nada tegas.
Setelah menyampaikan orasi dan
menyerahkan surat pernyataan sikap, perwakilan massa diterima langsung oleh Ketua
DPRK Mimika, Primus Natikapereyau, bersama sejumlah anggota dewan.
Dalam pertemuan itu, pihak DPRK
menyatakan kesiapan untuk menindaklanjuti aspirasi masyarakat dengan
meneruskannya ke pemerintah provinsi dan pusat.
“Kami menerima aspirasi ini dan
akan meneruskannya kepada pihak-pihak berwenang. Kami juga bagian dari
masyarakat Mimika, dan kami memahami keresahan ini. Diharapkan semua pihak bisa
mencari solusi terbaik tanpa kekerasan,” ujar Primus dalam keterangannya kepada
media.
Primus juga menekankan bahwa DPRK
Mimika mendukung upaya-upaya dialog dan penyelesaian damai atas setiap konflik
di Tanah Papua. Ia mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk tetap menjaga
keamanan dan tidak terprovokasi oleh pihak manapun.
Pesan ini menggema di tengah
panas terik siang Timika — menandakan bahwa perjuangan keadilan di Tanah Papua
masih jauh dari usai.
Penulis: Jidan
Editor: GF