logo-website
Selasa, 24 Feb 2026,  WIT

Hari Ketiga Bentrok Fiditan Membara, Kapolres Tual Tertancap Anak Panah di Garis Depan

TUAL, Papuanewsonline.com – Bentrokan antar warga di Desa Fiditan, Kecamatan Pulau Dullah Utara, Kota Tual, Maluku, memasuki hari ketiga dan kian memanas.

Papuanewsonline.com - 24 Feb 2026, 21:09 WIT

Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal

Kapolres Tual, AKBP Whansi Des Asmoro, terkena anak panah saat turun langsung mengamankan situasi, Selasa,(24/02/2026).

TUAL, Papuanewsonline.com – Bentrokan antar warga di Desa Fiditan, Kecamatan Pulau Dullah Utara, Kota Tual, Maluku, memasuki hari ketiga dan kian memanas. Aparat kepolisian yang berupaya meredam konflik justru menjadi sasaran. Kapolres Tual, AKBP Whansi Des Asmoro, terkena anak panah saat turun langsung mengamankan situasi, Selasa (24/02/2026).

Konflik yang melibatkan warga Kampung Lama dan Kampung Baru ini disebut-sebut telah berlangsung sejak Minggu malam (22/02).

Hingga kini, penyebab pasti bentrokan belum disampaikan secara resmi ke publik.

Senjata Tajam dan Panah Wayar Warnai Aksi Brutal

Pantauan di lapangan menunjukkan kedua kelompok terlibat saling serang menggunakan senjata tajam seperti parang, senjata cis, hingga panah wayar, —senjata tradisional yang mematikan dan kerap memicu korban serius dalam konflik horizontal di wilayah timur Indonesia.

Situasi disebut mencekam. Warga berlarian, aparat bersiaga, sementara lemparan proyektil dan anak panah melayang di udara.

Kapolres Berada di Garda Depan

Dalam upaya meredam eskalasi, Kapolres Tual memilih berada di garis terdepan bersama personelnya. Namun di tengah ketegangan, sebuah anak panah dilepaskan dari arah kerumunan dan mengenai tubuh perwira menengah Polri tersebut.

Kapolres langsung dievakuasi oleh anggota dan mendapat penanganan medis. Belum ada keterangan resmi mengenai kondisi detail luka yang dialami.

Insiden ini menjadi sorotan serius. Seorang Kapolres yang turun langsung mengendalikan massa justru menjadi korban.

Pertanyaannya, seberapa liar situasi di lapangan hingga aparat tertinggi di wilayah itu pun tak luput dari serangan?

Hingga berita ini diturunkan, pihak Polres Tual melalui Humas belum memberikan keterangan resmi mengenai identitas pelaku penyerangan terhadap Kapolres maupun kronologi lengkap penyebab bentrokan antarwarga tersebut.

Publik kini menunggu transparansi aparat. Apa pemicu sebenarnya konflik Kampung Lama dan Kampung Baru? apakah ada faktor lama yang terpendam? siapa yang pertama memicu serangan?

Yang jelas, bentrokan yang berlarut hingga tiga hari menunjukkan adanya persoalan sosial serius yang belum terselesaikan di akar rumput.

Aparat keamanan kini dituntut bukan hanya memadamkan api konflik, tetapi juga membongkar sumber bara yang terus menyala di Desa Fiditan.

 

Penulis : Risman Serang

Editor  : Nerius Rahabav

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE