Klaim TPNPB: Aparat Masuk Halaman Gereja Titigi Saat Ibadah Minggu, Jemaat Trauma
Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengklaim aparat militer Indonesia memasuki lingkungan Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius Titigi.
Papuanewsonline.com - 29 Jul 2026, 13:47 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Intan Jaya - Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengklaim aparat militer Indonesia memasuki lingkungan Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius Titigi, Intan Jaya, saat ibadah Minggu berlangsung.

Klaim tersebut disampaikan dalam siaran pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB yang diterima Rabu, 29 Juli 2026, yang ditandatangani Jubir Sebby Sambom.
Dalam rilis itu, TPNPB menyebut insiden terjadi pada Minggu, 26 Juli 2026 pukul 10.53 WIT, saat aparat melakukan operasi militer di sekitar perkampungan warga dan masuk hingga ke halaman gereja.
"Akibatnya jemaat tidak melakukan ibadah dengan baik, banyak yang pulang karena trauma," tulis laporan yang diklaim berasal dari PIS TPNPB di Sugapa.

TPNPB mengaitkan trauma warga dengan dua insiden sebelumnya yang juga mereka klaim:
1. 29 Juni 2026: Penembakan terhadap rombongan Pastor, Suster, umat dan karyawan Tunas Jaya Papua (TJP) yang mengakibatkan mobil pastoran tertembak dan seorang umat luka.
2. 17 Mei 2026: Serangan bom menggunakan drone terhadap Gereja Katolik Santo Paulus Nabuni yang diklaim melukai empat warga sipil dan menewaskan satu warga bernama Luter Nabelau pada 25 Mei 2026 saat dirawat di RSUD Mimika.
Selain itu, TPNPB juga mengklaim aparat telah mendirikan 33 pos militer di pemukiman warga Intan Jaya untuk operasi militer dan pengamanan wilayah Gunung Wabu yang menurut mereka menjadi incaran investasi tambang.
Belum Ada Konfirmasi Aparat
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari TNI/Polri, Kodam XVII/Cenderawasih, maupun Keuskupan Timika terkait klaim masuknya aparat ke halaman Gereja Titigi pada 26 Juli 2026 tersebut.
Intan Jaya sendiri dalam 6 bulan terakhir menjadi salah satu wilayah dengan eskalasi konflik bersenjata tertinggi di Papua Tengah, dengan catatan kontak tembak yang berulang antara aparat keamanan dan TPNPB.
Dalam siaran pers yang sama, TPNPB juga menyampaikan pernyataan politik terkait status Papua, sejarah Trikora 1961, keterlibatan Amerika Serikat dan Freeport, serta desakan kepada PBB untuk meninjau kembali status West Papua. Pernyataan tersebut merupakan sikap politik TPNPB-OPM.
Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB dalam rilis itu mencantumkan penanggung jawab Panglima Tinggi Jenderal Goliath Tabuni dan jajarannya.
Penulis: Hendrik
Editor: OF