Refleksi Kedatangan Wapres di Mimika, Dewan Adat Soroti Krisis Kepercayaan Publik
Aspirasi masyarakat yang membludak dalam kunjungan Wapres menjadi cermin kekecewaan terhadap pelayanan publik dan sinyal lemahnya kepercayaan terhadap kepemimpinan daerah
Papuanewsonline.com - 22 Apr 2026, 23:58 WIT
Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan
Papuanewsonline.com, Mimika – Kedatangan Wakil Presiden RI dalam kunjungan kerja pada 20–21 April 2026 di Kabupaten Mimika memunculkan berbagai dinamika di tengah masyarakat. Salah satunya datang dari Ketua Dewan Adat Daerah Kabupaten Mimika, Vinsen Oniyoma, yang menyampaikan refleksi kritis atas situasi sosial dan pemerintahan di daerah tersebut.
Dalam pandangannya, kunjungan tersebut justru membuka
realitas yang selama ini dirasakan masyarakat, yakni menumpuknya aspirasi yang
belum tersalurkan secara maksimal.
"Aspirasi Membuludak, harapan kosong ke jakarta”
ungkapnya dalam refleksi yang disampaikan kepada media.
Ia menilai, kondisi pelayanan publik di Mimika saat ini
ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak akibat akumulasi kekecewaan
masyarakat.
"Protokoler dan akumulasi kekecewaan pelayanan publik
di Mimika ibarat BOM waktu yang meledak." tegasnya.
Menurut Vinsen, fenomena yang terjadi menunjukkan adanya
kecenderungan sentralisasi harapan masyarakat kepada pemerintah pusat, bukan
lagi kepada pemerintah daerah.
“Sentralisasi Harapan" dimana masayarakat merasa hanya
pemerintah pusat yang mampu memberikan harapan, solusi atau perbaikan dari pada
pemerintah daerah serta pelayanan.
Ia menyebut kondisi ini sebagai bentuk "mosi tidak
percaya" secara sosiologis, yang mencerminkan krisis kepercayaan
masyarakat terhadap pimpinan daerah.
Dalam refleksinya, Vinsen menjelaskan bahwa ketidakpercayaan
tersebut dipicu oleh berbagai persoalan mendasar, mulai dari buruknya pelayanan
publik hingga praktik birokrasi yang dinilai berbelit.
"Ketidak percayaan ini biasanya dipicu oleh pelayanan
publik yang buruk, birokrasi berbelit-belit,Pekraktek KKN,atau kebijakan yang
tumpah tindi di daerah."
Lebih lanjut, ia menilai kondisi ini merupakan sinyal kuat
adanya masalah serius dalam tata kelola pemerintahan daerah yang perlu segera
dibenahi.
"Ini adalah sinyal kuat adanya masalah serius dalam
tata kelola pemerintahan di daerah."
Secara umum, Vinsen melihat adanya penurunan legitimasi
kepemimpinan di tingkat lokal yang berdampak pada meningkatnya harapan
masyarakat kepada pemerintah pusat.
"Otoritas moral dan kepercayaan kepemimpinan sedang
runtuh sehingga legitimasi kepemimpinan pusat diharapkan mengambil alih atau
mengintervensi."
Ia juga menegaskan bahwa fenomena ini menunjukkan krisis
yang lebih luas dalam hubungan antara masyarakat dan pemerintah daerah.
"Situasi di mana masyarakat secara luas tidak percaya
kepada pimpinan daerah ( Bupati, Gubernur dan DPRP dan DPRD), namun mereka
masih menaruh kepercayaan kepada pemerintah pusat.ini sebuah fenomena
krisis."
Dalam penilaiannya, masyarakat mulai meragukan kemampuan
pimpinan daerah dalam mengelola kepentingan publik dan mewakili aspirasi
rakyat.
"Masayarakat menilai pimpinan2 lokal daerah gagal dalam
mewakili aspirasi, dalam mengelola keoentingan publik."
Ia menambahkan bahwa kondisi ini harus menjadi perhatian
serius bagi Pemerintah Kabupaten Mimika dan DPRK Mimika sebagai penyelenggara
pelayanan publik.
Vinsen juga menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada Bupati Mimika untuk segera melakukan pembenahan.
Di antaranya adalah evaluasi sistem protokoler dalam penyambutan tamu negara, agar lebih tertata dan melibatkan masyarakat adat secara layak. I
a juga mendorong evaluasi terhadap kepala-kepala OPD yang dinilai belum mampu menerjemahkan nilai-nilai Otonomi Khusus di Mimika.
Vinsen menekankan pentingnya kebijakan yang benar-benar menyentuh masyarakat adat Papua sebagai prioritas pembangunan daerah.
Ia juga meminta adanya teguran terhadap biro protokoler agar setiap kunjungan kenegaraan ke depan dapat dirancang dengan lebih inklusif.
Dengan refleksi ini, Dewan Adat berharap pemerintah daerah
dapat segera melakukan pembenahan menyeluruh demi mengembalikan kepercayaan
masyarakat.
Kunjungan Wakil Presiden pun dinilai menjadi momentum penting untuk membaca kondisi riil di lapangan sekaligus memperbaiki arah kebijakan pembangunan di Mimika. (GF)