logo-website
Rabu, 11 Mar 2026,  WIT
Berita Pilihan Redaksi Homepage
Sambut HUT Ke-54 KORPRI Polri, Bidang Kesjas Korbrimob Gelar Donor Darah Papuanewsonline.com, Depok - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-54 Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) Polri, Bidang Kesehatan dan Jasmani (Kesjas) Korbrimob Polri menyelenggarakan kegiatan donor darah yang berlangsung di Gedung Fasilitas Umum Lantai 3, Rumah Sakit Bhayangkara Brimob, Kelapadua, Cimanggis, Depok.Kegiatan kemanusiaan ini dipimpin langsung oleh Kabid Kesjas Korbrimob Polri Kombes Pol. Bambang Wiji Asmoro Sadarusalam, dan dihadiri oleh Ketua Dewan Pengurus KORPRI Polri Pembina Utama Muda dr. Niken Manohara, Ketua Panitia HUT Korpri Polri TK. 1 dr. Jekson Surung Simanjuntak, Ketua Sie Bakti Sosial Pembina Utama Muda Dr. Drg. Rike Rayanti, para Dewan Pengurus Korpri Polri, serta Ibu Bhayangkari PG06 Korbrimob Polri.KORPRI merupakan wadah yang berfokus pada peningkatan profesionalisme, persatuan, dan kesejahteraan Aparatur Sipil Negara (ASN). Tahun ini, KORPRI Polri telah menunjukkan kiprahnya dalam berbagai kegiatan besar, termasuk ajang Pekan Olahraga Nasional (PORNAS) KORPRI XVII 2025 di Palembang, Sumatera Selatan, dengan tema “KORPRI Bersinergi dalam Prestasi.”Dalam amanatnya, Kabid Kesjas menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa karena masih dapat berbuat kebaikan dan memberikan manfaat bagi sesama melalui kegiatan donor darah ini.“Tentunya merupakan suatu kebahagiaan tersendiri tatkala kita masih menjadi hamba yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain,” pernyataan Kabid Kesjas.Beliau juga menegaskan bahwa kegiatan donor darah tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-54 KORPRI Polri, tetapi juga bentuk nyata kedekatan Polri dengan masyarakat serta wujud kepedulian terhadap sesama.Menutup amanatnya, Kabid Kesjas menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan mendukung terselenggaranya kegiatan donor darah ini.“Semoga apa yang kita lakukan hari ini diridhai oleh Allah SWT, dan kita semua senantiasa diberikan kesehatan jasmani maupun rohani,” lanjutan pernyataan Kabid Kesjas.Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat semangat pengabdian, kepedulian sosial, dan rasa kemanusiaan anggota Polri dalam melayani masyarakat, sejalan dengan semangat Presisi dan nilai-nilai luhur Korps Brimob Polri. PNO-12 15 Okt 2025, 14:37 WIT
Korlantas Polri Siapkan SDM Unggul Hadapi Era BPKB Elektronik Papuanewsonline.com, Jakarta - Kegiatan Sertifikasi Petugas Penerbit Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) Tahun Anggaran 2025 resmi dibuka pada Selasa (14/10/2025) di Cililitan, Jakarta. Pembukaan dilakukan langsung oleh Kasubdit BPKB Ditregident Korlantas Polri, Kombes Pol Sumardji. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam mendukung transformasi digital layanan kepolisian, termasuk implementasi BPKB elektronik.Kombes Pol Sumardji menjelaskan bahwa sertifikasi ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi upaya nyata untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.“Kegiatan ini urgensinya adalah bagaimana seluruh anggota bisa mempunyai kompetensi, khususnya di bidang pelayanan BPKB. Karena sekarang pelayanan BPKB sudah tidak konvensional lagi, semuanya sudah digital, mulai dari cek fisik digital, arsip digital, sampai BPKB elektronik,” ujar Kasubdit BPKB Ditregident Korlantas Polri, Kombes Pol Sumardji.Ia menambahkan, pelatihan yang berlangsung selama tujuh hari dan dilanjutkan dengan ujian sertifikasi selama tiga hari ini diharapkan dapat membekali peserta dengan kemampuan yang dapat langsung diterapkan di masing-masing satuan kerja sehingga peningkatan kualitas pelayanan benar-benar dapat dirasakan masyarakat.“Harapannya tentu setelah mendapatkan ilmu, pelatihan, dan diakhiri nanti dengan peningkatan kualitas dengan ujian kompetensi, maka ilmu itu dilaksanakan di masing-masing loket. Bagi perwiranya tentu harus bisa menyalurkan ilmu yang didapat,” tambahnya.Dengan pelatihan dan sertifikasi ini, Korlantas Polri berupaya memastikan seluruh petugas penerbit BPKB siap menghadapi sistem pelayanan digital yang terintegrasi dan lebih efisien, sejalan dengan komitmen Polri untuk memberikan pelayanan publik yang cepat, transparan, dan akuntabel. PNO-12 15 Okt 2025, 14:27 WIT
Tragedi di Pedalaman Yahukimo: Guru Yappenda Tewas Dibunuh, Polisi Intensif Lakukan Olah TKP Papuanewsonline.com, Dekai — Suasana duka menyelimuti Distrik Holuwon, Kabupaten Yahukimo, pasca pembunuhan tragis terhadap seorang tenaga guru Yayasan Pendidikan Advent (Yappenda) bernama Melani Wamea. Korban ditemukan meninggal dunia secara mengenaskan di sekitar area pemukiman tempatnya mengabdi sebagai pengajar di Sekolah Jhon D. Wilson, beberapa waktu lalu. Polres Yahukimo bergerak cepat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) guna mengungkap motif serta identitas pelaku pembunuhan tersebut. Proses olah TKP dipimpin langsung oleh Ipda Hariyadi, KBO Sat Intelkam Polres Yahukimo, bersama tim Sat Reskrim yang diterjunkan dari Dekai. Tim kepolisian harus menempuh perjalanan udara dari Bandara Nop Goliat Dekai menuju Lapangan Terbang Distrik Holuwon, mengingat akses darat ke wilayah tersebut sulit ditempuh. Setiba di lokasi, tim gabungan langsung melakukan pengamanan area dan pengumpulan barang bukti, termasuk sebuah botol air minum yang ditemukan di dekat jasad korban. Barang bukti tersebut kini telah diamankan untuk pemeriksaan laboratorium forensik. “Kami langsung melakukan identifikasi awal, pemeriksaan saksi, serta pengumpulan bukti di lokasi kejadian. Semua langkah dilakukan dengan hati-hati mengingat kondisi geografis yang sulit dan keterbatasan akses komunikasi,” ujar Ipda Hariyadi kepada wartawan, Selasa (14/10/2025). Berdasarkan keterangan salah satu saksi berinisial AK (35), pelaku diduga berjumlah satu orang dengan ciri-ciri mengenakan jaket hitam, penutup wajah, dan anting di telinga kiri. Meski demikian, hingga saat ini pihak kepolisian belum menemukan petunjuk pasti terkait motif pembunuhan. “Dari hasil penyelidikan awal, kami belum menemukan indikasi adanya keterlibatan kelompok bersenjata atau jaringan tertentu. Dugaan sementara, pelaku bertindak sendiri. Namun, penyelidikan masih terus berlanjut,” terang Ipda Hariyadi. Peristiwa ini mengguncang masyarakat Distrik Holuwon yang selama ini hidup damai. Para tokoh agama, kepala kampung, dan perwakilan masyarakat adat segera menggelar pertemuan untuk mendukung langkah kepolisian dan menenangkan warga. Mereka menegaskan pentingnya menjaga keamanan serta meminta agar pelayanan publik, termasuk penerbangan perintis dan kegiatan sekolah, tidak dihentikan akibat kejadian tersebut. “Kami berduka atas kehilangan guru kami. Ia datang untuk mengajar anak-anak kami. Kami minta agar penerbangan tetap dibuka dan masyarakat tidak takut. Polisi juga kami dukung untuk mengungkap pelaku,” ujar salah satu tokoh agama setempat. Meskipun situasi di Holuwon kini dilaporkan kondusif, aktivitas belajar mengajar di Sekolah Jhon D. Wilson dan beberapa sekolah terdekat belum kembali normal. Para guru dan siswa masih merasa takut untuk beraktivitas seperti biasa. “Anak-anak masih trauma. Mereka kehilangan guru yang mereka cintai dan panutannya,” ujar salah satu warga setempat. Pihak kepolisian memastikan akan terus melakukan penjagaan dan patroli rutin di wilayah tersebut untuk menjamin keamanan masyarakat dan tenaga pendidikan. “Kami berkomitmen mengusut kasus ini hingga tuntas. Pelaku harus segera ditangkap agar masyarakat tenang dan pendidikan bisa kembali berjalan,” tegas Ipda Hariyadi. (GF) 15 Okt 2025, 12:48 WIT
Wali Murid di Timika Geruduk SMP Kalam Kudus: Tuntut Keadilan atas Dugaan Rasisme Papuanewsonline.com, Timika — Suasana depan SMP Kalam Kudus Timika, Jalan Kudus, Mimika, mendadak tegang pada Senin pagi. Puluhan orang tua siswa dan warga Papua menggelar aksi damai sebagai bentuk protes terhadap dugaan tindakan rasisme yang dialami oleh seorang siswi Papua di sekolah tersebut. Mereka datang membawa sejumlah poster bertuliskan “Sa Bukan Monyet”, “Stop Rasisme di Sekolah”, hingga “Kami Ingin Sekolah Tanpa Diskriminasi”. Aksi ini menjadi bentuk kekecewaan para orang tua terhadap sikap pihak sekolah yang dinilai lamban menanggapi insiden tersebut. Dugaan rasisme itu terjadi pada Jumat (10/10/2025) di ruang kelas saat kegiatan belajar berlangsung. Berdasarkan keterangan keluarga korban, seorang siswa diduga memanggil siswi Papua bernama Brigita dengan sebutan “monyet” sebanyak tiga kali, bahkan saat wali kelas masih berada di ruangan. “Saya sangat kecewa dan sakit hati,” ujar ibu Brigita, saat ditemui di lokasi aksi. “Pendidikan di sini memang bagus, tapi kalau kami lihat, anak-anak Papua seperti dikucilkan. Kadang anak saya di dalam kelas tidak punya teman, jadi dia harus keluar cari teman di kelas lain,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Sejak kejadian itu, Brigita dikabarkan trauma dan enggan bersekolah. Sang ibu mengaku telah mencoba menenangkan anaknya agar bertahan hingga akhir semester, sebelum dipindahkan ke sekolah lain. “Anak saya bilang, ‘Mama, saya mau pindah sekolah.’ Tapi saya bilang, sekolah ini mahal, kenapa mau pindah? Dia jawab, ‘Saya tidak punya teman, Mama’. Jadi kami sepakat tunggu semester ini selesai dulu baru pindah,” ungkapnya. Para orang tua siswa yang hadir menegaskan bahwa insiden ini tidak bisa dianggap remeh. Mereka menyebut kasus tersebut bukan sekadar perundungan (bullying), melainkan tindakan rasisme yang melukai martabat anak-anak Papua. “Ini bukan soal dibuli, tapi sudah rasis. Waktu kejadian, anak saya sudah lapor ke wali kelas, tapi cuma dijawab ‘Sabar, Yana’. Setelah itu, wali kelas keluar dan tidak menanggapi lagi,” ucap ibu Brigita dengan nada kesal. Massa yang hadir pun mendesak agar pihak sekolah segera mengambil tindakan tegas terhadap siswa pelaku serta guru yang dinilai abai dalam menangani laporan tersebut. “Kami minta anak-anak yang melakukan rasis itu dikeluarkan dari sekolah. Kalau satu wali kelas saja bisa hancurkan satu kelas, bagaimana kalau ada banyak guru seperti itu?” tegas seorang perwakilan wali murid lainnya. Dari pantauan lapangan, sejumlah peserta aksi menyebut bahwa Brigita bukan satu-satunya korban. Beberapa siswa Papua lain, terutama siswi perempuan, juga disebut mengalami perlakuan diskriminatif serupa. “Yang paling kena itu anak-anak perempuan. Mereka pakai perasaan. Setelah dibuli, mereka langsung tidak mau berangkat sekolah,” tutur salah satu orang tua yang hadir. Kondisi ini, menurut mereka, mengancam semangat belajar anak-anak Papua yang berjuang menempuh pendidikan di sekolah swasta bergengsi tersebut. Hingga berita ini diterbitkan, pihak keluarga korban mengaku belum menerima permintaan maaf baik dari siswa pelaku maupun pihak sekolah. “Belum ada permintaan maaf sampai sekarang. Kami bicara di muka umum supaya semua tahu bahwa kami bukan monyet, kami manusia sama seperti kalian. Hentikan bully dan rasisme di sekolah ini,” ujar ibu Brigita lantang. Ia berharap kejadian ini dapat menjadi pelajaran penting bagi semua pihak, terutama lembaga pendidikan, agar lebih peka terhadap isu rasisme dan diskriminasi di lingkungan sekolah. “Kami ingin anak-anak Papua belajar di lingkungan yang aman dan saling menghargai. Jangan kecilkan mereka, karena mereka juga punya hak yang sama untuk berhasil,” pungkasnya.     Penulis: Abim Editor: GF 15 Okt 2025, 12:43 WIT
Pemkab Mimika Gandeng BPKP Perkuat SPIP: Wabup Kemong Dorong Budaya Kerja Transparan Papuanewsonline.com, Timika — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sistem tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel. Melalui kolaborasi strategis dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Pemkab Mimika menggelar kegiatan Pendampingan Penilaian Maturitas Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) Terintegrasi yang dihadiri oleh para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) se-Kabupaten Mimika. Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, di Timika, Selasa (14/10/2025). Dalam sambutannya, Wabup Kemong menegaskan bahwa penerapan SPIP bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintah daerah. “Kehadiran bapak dan ibu hari ini adalah bukti nyata dari komitmen kita bersama. Ini sinyal positif bahwa seluruh OPD mendukung penuh terwujudnya tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel di Kabupaten Mimika,” ujar Wabup Kemong dalam sambutannya. Wabup Kemong menjelaskan, SPIP memiliki fungsi vital sebagai sistem pengendalian internal yang berperan menjaga arah pemerintahan agar tetap berada pada jalur yang benar. Ia mengibaratkan SPIP seperti sistem imunitas tubuh manusia — ketika kuat, maka seluruh fungsi pemerintahan dapat berjalan efektif dan terhindar dari penyimpangan. “SPIP yang matang dan diterapkan secara konsisten akan menjadi garda terdepan dalam memastikan tujuan organisasi tercapai, laporan keuangan dapat diandalkan, aset daerah terlindungi, serta kepatuhan terhadap regulasi tetap terjaga,” tegasnya. Ia menambahkan, keberhasilan SPIP tidak dapat dicapai hanya oleh satu instansi seperti Inspektorat Daerah saja. Penguatan sistem ini membutuhkan sinergi menyeluruh dari seluruh perangkat daerah, mulai dari level pimpinan hingga pelaksana di lapangan. “SPIP bukan hanya sekadar dokumen atau prosedur administratif. Ini adalah budaya kerja yang harus kita hidupkan setiap hari. Ia harus terlihat dalam sikap disiplin, keputusan yang berbasis data, dan tanggung jawab setiap aparatur terhadap hasil kerjanya,” jelas Kemong. Dalam pelaksanaan kegiatan ini, Pemkab Mimika menggandeng BPKP sebagai mitra strategis untuk memastikan proses pendampingan berjalan objektif dan terukur. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan peta jalan (roadmap) perbaikan yang konkret bagi peningkatan maturitas SPIP di lingkungan Pemkab Mimika. “Kehadiran BPKP sangat penting, karena mereka membantu kita menilai, mengarahkan, dan memperkuat setiap aspek pengendalian internal agar sesuai dengan standar nasional,” ungkap Wabup. Ia juga menekankan bahwa penerapan SPIP harus dijadikan alat manajemen risiko yang membantu setiap OPD dalam mencapai target kinerja, bukan sekadar menjadi kegiatan formalitas. Dengan demikian, SPIP dapat menjadi instrumen efektif dalam mempercepat terwujudnya pemerintahan yang berorientasi hasil (result oriented government). Melalui penerapan SPIP yang terintegrasi dan efektif, Pemkab Mimika menargetkan terciptanya birokrasi yang efisien, bebas dari praktik korupsi, serta memiliki daya respons tinggi terhadap kebutuhan masyarakat. Wabup Kemong optimistis bahwa dengan komitmen dan sinergi antarperangkat daerah, Mimika akan mampu menjadi contoh bagi daerah lain dalam hal penerapan tata kelola yang baik. “Tujuan akhir dari semua ini adalah menciptakan pelayanan publik yang berkualitas dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jika sistemnya kuat, maka pelayanan pun akan maksimal,” pungkasnya. Kegiatan ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran seluruh ASN di Mimika bahwa pengawasan dan pengendalian bukanlah bentuk ketidakpercayaan, tetapi justru upaya bersama untuk menjaga integritas dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.     Penulis: Jid Editor: GF 15 Okt 2025, 03:40 WIT
Wabup Mimika Emanuel Kemong Ajak Wisudawan STIE Jambatan Bulan Jadi Generasi Berintegritas Papuanewsonline.com, Mimika – Suasana Gedung Eme Neme Yauware di Jalan Budi Utomo, Timika, terasa khidmat dan penuh haru pada Selasa (14/10/2025). Ratusan mahasiswa, dosen, dan orang tua memadati ruangan untuk menghadiri Sidang Senat Terbuka Luar Biasa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Jambatan Bulan, dalam rangka Wisuda ke-21 Tahun Akademik 2024/2025. Sebanyak 116 wisudawan dan wisudawati resmi dikukuhkan dalam upacara yang mengusung tema “Berkreasi dan Berinovasi dengan Harmoni Kecerdasan untuk Karya Berdampak.” Tema ini menjadi simbol semangat generasi muda Mimika untuk menembus batas dan berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan bangsa. Dalam sambutannya, Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, yang hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Mimika, memberikan pesan mendalam kepada seluruh lulusan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan yang diraih hari ini bukan hanya hasil dari kecerdasan akademik, melainkan juga buah dari kerja keras, ketekunan, dan dukungan keluarga. “Atas nama Pemerintah Kabupaten Mimika, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para wisudawan dan wisudawati. Keberhasilan ini adalah buah dari kerja keras, ketekunan, kesabaran, serta doa yang tulus dari keluarga dan para pendidik,” ujar Kemong disambut tepuk tangan hadirin. Lebih lanjut, Wabup Kemong menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan menimba ilmu, tetapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk mengabdi kepada masyarakat. Menurutnya, dunia kerja dan masyarakat menantikan kehadiran generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas tinggi. “Dunia kerja, dunia usaha, dan lingkungan masyarakat menunggu kontribusi nyata dari generasi terdidik. Karena ilmu tanpa karakter hanyalah pengetahuan yang hampa,” tegasnya. Dalam kesempatan tersebut, Wabup Kemong menyoroti pesatnya perkembangan teknologi digital dan transformasi ekonomi yang menuntut generasi muda untuk terus beradaptasi. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan nilai moral, etika, dan integritas pribadi agar tidak tersesat dalam arus globalisasi. “Kita hidup di era digital yang serba cepat. Dunia membutuhkan anak-anak muda yang berpikir terbuka, berintegritas, mampu berkolaborasi, dan berani menghadapi tantangan baru,” katanya. Kemong juga berpesan agar para lulusan tidak melupakan jati diri dan budaya lokal Papua, serta menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai kekuatan dalam bersaing di tingkat nasional maupun internasional. “Jaga nama baik almamater, banggakan keluarga, dan jadilah generasi yang membawa perubahan positif bagi Mimika, Papua Tengah, dan Indonesia,” tambahnya. Ketua STIE Jambatan Bulan dalam laporannya menyampaikan, wisuda ke-21 ini menjadi bukti nyata konsistensi kampus dalam mencetak sumber daya manusia yang kompeten di bidang ekonomi, manajemen, dan kewirausahaan. Melalui pendekatan akademik yang inovatif dan berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal, STIE Jambatan Bulan berkomitmen untuk mencetak lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menjadi pelaku pembangunan di daerahnya masing-masing. “Kami ingin lulusan STIE Jambatan Bulan tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menjadi agen perubahan di masyarakat,” ujar salah satu pimpinan STIE Jambatan. Acara wisuda berlangsung dengan penuh suka cita. Para orang tua tampak haru saat nama putra-putri mereka dipanggil ke atas panggung untuk menerima ijazah. Sorak-sorai, tangis bahagia, dan doa mengiringi setiap langkah para lulusan yang kini siap menapaki dunia baru. Dengan diwisudanya 116 mahasiswa dari program Sarjana (S1) dan Diploma (D3), STIE Jambatan Bulan kembali menegaskan perannya sebagai lembaga pendidikan yang aktif berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia di Papua Tengah. Pemerintah daerah berharap, para lulusan tidak hanya menjadi tenaga profesional di bidang ekonomi, tetapi juga menjadi pemimpin masa depan yang jujur, inovatif, dan berjiwa pengabdian.     Penulis: Jid Editor: GF 15 Okt 2025, 03:35 WIT
Mendagri Tito Karnavian Tekankan Sikronisasi Program Pusat dan Daerah untuk Papua Papuanewsonline.com, Jakarta — Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian, menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mempercepat pembangunan di tanah Papua. Hal itu disampaikan saat audiensi dengan Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (PP Otsus Papua) di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (13/10/2025). Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh dialog konstruktif tersebut, Mendagri menyoroti masih lemahnya koordinasi antarlembaga dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan berbagai program strategis di Papua. Menurutnya, tanpa sinergi dan pengawasan yang nyata di lapangan, pembangunan di Papua tidak akan berjalan efektif. “Pengawasan itu tidak sekadar di atas kertas. Tidak cukup hanya dengan laporan atau rapat. Kita harus benar-benar turun ke bawah, melihat langsung apa yang sudah dan belum terlaksana,” tegas Tito Karnavian. Tito menjelaskan bahwa sinkronisasi program pusat dan daerah adalah kunci utama untuk memastikan percepatan pembangunan Papua berjalan sesuai arah kebijakan nasional. Ia menilai, selama ini masih banyak program dari berbagai kementerian dan lembaga yang berjalan secara terpisah tanpa sinergi yang kuat dengan pemerintah daerah. “Tugas utama Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otsus Papua dan BP3OKP adalah melakukan sinkronisasi dan harmonisasi program lintas sektor. Ini harus menjadi prioritas, agar tidak ada lagi program yang berjalan sendiri-sendiri,” ujar Tito. Mendagri menegaskan bahwa langkah ini penting untuk menciptakan sistem pembangunan yang terarah, efisien, dan berkelanjutan, terutama di daerah-daerah otonomi baru (DOB) hasil pemekaran wilayah Papua. Lebih lanjut, Tito menyinggung tentang pemekaran wilayah di Papua sebagai bagian dari strategi besar percepatan pembangunan. Ia menjelaskan, kebijakan pemekaran dari dua menjadi enam provinsi bertujuan untuk memperpendek rentang kendali pemerintahan, mempercepat birokrasi, serta memudahkan akses masyarakat terhadap pelayanan publik. “Harapan kita, dengan adanya pemekaran ini, terjadi kecepatan pembangunan di Papua. Alur birokrasi menjadi lebih pendek, pelayanan publik semakin mudah diakses, dan masyarakat bisa merasakan manfaatnya secara langsung,” tandas Mendagri. Sebagai pembanding, Tito mengungkapkan bahwa model pemekaran wilayah sebelumnya yang dilakukan di Sumatera Selatan terbukti sukses meningkatkan efisiensi pemerintahan dan pertumbuhan ekonomi daerah. Ia optimistis pendekatan serupa bisa membawa hasil positif bagi Papua, dengan catatan adanya pengawasan dan kerja sama yang solid antarsemua pemangku kepentingan. Pertemuan tersebut juga membahas langkah-langkah strategis dalam memperkuat implementasi Otonomi Khusus Papua melalui peningkatan efektivitas anggaran, optimalisasi perencanaan daerah, dan kolaborasi dengan lembaga-lembaga pembangunan nasional. Mendagri menekankan bahwa pembangunan di Papua tidak boleh hanya bersifat proyek jangka pendek, melainkan harus berorientasi pada keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat. Ia mendorong agar setiap program pembangunan benar-benar berakar dari kebutuhan riil masyarakat Papua. “Jangan sampai program dibangun tanpa melihat kebutuhan di lapangan. Pembangunan Papua harus berbasis pada potensi daerah, aspirasi masyarakat, dan hasil evaluasi yang objektif,” ujar Tito. Ia juga mengingatkan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas keamanan dan sosial sebagai prasyarat utama keberhasilan pembangunan. Audiensi tersebut turut dihadiri oleh perwakilan pemerintah provinsi dan kabupaten dari berbagai wilayah di Papua, serta jajaran pejabat tinggi Kemendagri. Dalam kesempatan itu, Komite Eksekutif PP Otsus Papua menyampaikan komitmen untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dalam menjalankan program prioritas nasional, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar. Para kepala daerah menyambut positif arahan Mendagri dan menegaskan siap mendukung langkah pemerintah pusat untuk memastikan percepatan pembangunan berjalan efektif dan menyentuh masyarakat di tingkat akar rumput. “Kami siap bekerja bersama pemerintah pusat. Kami ingin memastikan setiap kebijakan dan program benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Papua,” ujar salah satu perwakilan daerah. Di akhir pertemuan, Tito Karnavian menekankan bahwa semangat membangun Papua bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga komitmen moral seluruh elemen bangsa. Ia mengajak semua pihak untuk memperkuat koordinasi, mempercepat realisasi program, dan menjaga transparansi dalam pelaksanaan pembangunan. “Papua memiliki potensi besar. Tugas kita adalah memastikan potensi itu benar-benar terwujud untuk kesejahteraan rakyat. Jangan jalan sendiri-sendiri. Bekerjalah bersama untuk Papua yang maju, damai, dan sejahtera,” tutup Mendagri.     Penulis: Jid Editor: GF 15 Okt 2025, 03:31 WIT
Ra’fatul Mulkiyah Fakhiri Resmi Pimpin TP PKK dan Posyandu Papua: Siap Jalankan Program Prioritas Papuanewsonline.com, Jakarta — Suasana khidmat menyelimuti Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, saat Ketua Umum Tim Penggerak PKK, Tri Tito Karnavian, secara resmi melantik Ra’fatul Mulkiyah Mathius Fakhiri sebagai Ketua TP PKK Provinsi Papua periode 2025–2030. Dalam kesempatan yang sama, Ra’fatul juga dilantik sebagai Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Papua untuk periode yang sama. Pelantikan ini turut disaksikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, bersama jajaran pejabat tinggi Kemendagri dan pengurus TP PKK dari berbagai provinsi. Momen tersebut menandai dimulainya babak baru kepemimpinan TP PKK dan Posyandu Papua, yang diharapkan mampu menjadi motor penggerak pemberdayaan keluarga dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Papua. Dalam sambutannya, Tri Tito Karnavian menyampaikan ucapan selamat sekaligus rasa optimisme terhadap kepemimpinan Ra’fatul. Ia menilai, pengalaman dan dedikasi yang dimiliki Ra’fatul menjadi modal kuat dalam memajukan gerakan PKK serta memperkuat peran Posyandu di Papua. “Saya percaya dengan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki, Ibu Ra’fatul dapat menjalankan amanah ini dengan penuh tanggung jawab dan inovasi. PKK dan Posyandu memiliki peran penting dalam membangun kesejahteraan masyarakat dari tingkat keluarga,” ujar Tri. Tri juga mengapresiasi kontribusi Penjabat Ketua TP PKK Provinsi Papua periode sebelumnya, Tyas A. Fatoni, yang dinilai telah bekerja keras menjalankan program-program pemberdayaan masyarakat selama masa transisi. “Kami berterima kasih atas dedikasi dan pengabdian Ibu Tyas Fatoni. Beliau telah memberikan fondasi yang kuat untuk keberlanjutan program PKK di Papua,” tambahnya. Sebagai Ketua TP PKK dan Tim Pembina Posyandu yang baru, Ra’fatul Mulkiyah Fakhiri diharapkan segera memetakan program prioritas berbasis kebutuhan masyarakat Papua, dengan memperhatikan karakteristik wilayah dan tantangan sosial yang unik. Tri Tito menekankan empat bidang strategis yang menjadi fokus utama PKK dan Posyandu Papua lima tahun ke depan yaitu, ketahanan pangan keluarga melalui pemberdayaan ekonomi rumah tangga dan pemanfaatan lahan produktif, peningkatan gizi dan kesehatan masyarakat, khususnya pencegahan stunting dan penurunan angka kematian ibu dan anak, penguatan kelembagaan posyandu berbasis pelayanan minimal (SPM) di bidang kesehatan, pendidikan anak, dan perlindungan sosial dan pemberdayaan perempuan dan anak untuk memperkuat partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan daerah. Selain itu, Tri juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor antara pemerintah daerah, lembaga swadaya, dan dunia usaha agar program TP PKK dan Posyandu berjalan berkelanjutan dan berdampak nyata di lapangan. “Kerja kolaboratif menjadi kunci. PKK dan Posyandu tidak bisa berjalan sendiri, perlu dukungan semua pihak agar hasilnya dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil Papua,” tegasnya. Pelantikan Ra’fatul Mulkiyah Fakhiri disambut antusias oleh berbagai kalangan, terutama jajaran kader PKK Papua. Mereka menilai kehadiran Ra’fatul membawa semangat baru bagi gerakan perempuan di Papua yang berorientasi pada penguatan keluarga dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Sebagai sosok yang dikenal dekat dengan masyarakat dan aktif di berbagai kegiatan sosial, Ra’fatul berkomitmen menjadikan TP PKK dan Posyandu Papua sebagai wadah inspiratif bagi perempuan Papua untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan daerah. “Kami akan fokus pada program nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat. PKK dan Posyandu bukan hanya organisasi sosial, tetapi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan keluarga Papua,” ujar Ra’fatul usai pelantikan. Ia juga menegaskan pentingnya membangun sistem pendampingan yang kuat di tingkat kabupaten hingga distrik, agar seluruh kader PKK memiliki kapasitas dan semangat yang sama dalam menjalankan program. Dengan dilantiknya Ketua TP PKK dan Tim Pembina Posyandu yang baru, Pemerintah Provinsi Papua diharapkan dapat memperkuat sinergi program antara pemerintah daerah dan pusat, terutama di bidang kesehatan masyarakat, pemberdayaan perempuan, dan pendidikan keluarga. Langkah ini juga sejalan dengan agenda besar pemerintah dalam mendorong pemerataan pembangunan di wilayah timur Indonesia. “Kita ingin agar setiap keluarga di Papua memiliki akses yang sama terhadap kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Itulah makna sejati dari kesejahteraan yang berkeadilan,” pungkas Tri Tito Karnavian.     Penulis: Jid Editor: GF 15 Okt 2025, 03:28 WIT
Tegakkan Ketertiban, Pemda Puncak Jaya Pulangkan Enam Penjual Miras ke Daerah Asal Papuanewsonline.com, Puncak Jaya — Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Puncak Jaya mengambil langkah tegas dengan memulangkan enam orang penjual minuman keras (miras) ke daerah asal mereka. Kebijakan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas keamanan, serta menciptakan lingkungan sosial yang aman dan kondusif bagi masyarakat. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Puncak Jaya, Yohanes Tabuni, menegaskan bahwa tindakan ini bukan sekadar bentuk penertiban, tetapi juga langkah preventif agar dampak negatif peredaran miras tidak semakin meluas di kalangan masyarakat, terutama generasi muda. “Kami melakukan pemulangan karena aktivitas penjualan miras terbukti mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Ini bukan hanya soal aturan, tapi juga soal tanggung jawab moral untuk menjaga ketenangan dan keselamatan warga Puncak Jaya,” ujar Yohanes Tabuni, Selasa (14/10/2025). Menurut Yohanes, peredaran miras di wilayah pegunungan sering menjadi sumber berbagai persoalan sosial, mulai dari perkelahian, kekerasan dalam rumah tangga, hingga tindak kriminal. Karena itu, pemerintah daerah memandang perlu untuk bertindak cepat dan tegas sebelum situasi semakin memburuk. “Kami sudah berulang kali menerima laporan dari masyarakat bahwa aktivitas penjualan miras kerap menimbulkan gangguan keamanan. Ini tidak bisa dibiarkan. Pemulangan ini adalah bentuk pembinaan agar mereka tidak kembali melakukan hal yang sama,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa keenam penjual miras yang diamankan telah diberikan pembinaan dan peringatan keras, sebelum akhirnya diputuskan untuk dipulangkan ke daerah asal masing-masing. Pemerintah berharap langkah ini menjadi pelajaran bagi pihak lain agar tidak mencoba melakukan aktivitas serupa di wilayah hukum Puncak Jaya. Pemda Puncak Jaya berkomitmen menjadikan wilayahnya bebas dari peredaran minuman keras, sejalan dengan semangat masyarakat lokal yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan budaya. Langkah ini juga menjadi bagian dari program prioritas pemerintah daerah dalam menjaga ketertiban umum, memperkuat kehidupan sosial yang harmonis, serta melindungi generasi muda dari pengaruh negatif miras. “Kami tidak hanya melakukan penindakan, tetapi juga pengawasan rutin dan sosialisasi tentang bahaya miras. Semua ini untuk memastikan bahwa Puncak Jaya tetap aman dan damai,” tegas Yohanes. Pemerintah daerah juga menggandeng tokoh masyarakat, gereja, dan aparat keamanan dalam melakukan patroli gabungan serta edukasi kepada masyarakat agar tidak terlibat dalam distribusi maupun konsumsi miras ilegal. Langkah tegas ini disambut positif oleh warga setempat. Beberapa tokoh masyarakat mengapresiasi keberanian Pemda dan Satpol PP dalam menindak penjual miras yang dinilai menjadi biang kerok gangguan keamanan di daerah. “Kami sangat mendukung langkah pemerintah. Selama ini, miras sudah banyak merusak anak muda dan memicu keributan di kampung. Semoga tindakan ini menjadi efek jera,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat. Dengan pemulangan enam penjual miras ini, Pemda Puncak Jaya berharap wilayahnya semakin aman, dan masyarakat dapat beraktivitas dengan nyaman tanpa gangguan akibat konsumsi alkohol. “Keamanan adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah akan terus bekerja keras untuk memastikan Puncak Jaya menjadi daerah yang aman, tertib, dan bebas dari peredaran miras,” tutup Yohanes Tabuni.     Penulis: Hendrik Editor: GF 15 Okt 2025, 02:34 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT