Papuanewsonline.com
BERITA TAG Budaya
Homepage
Merah Putih Berkibar di Puncak Bukit Walesi, Simbol Persatuan di Tanah Papua
Papuanewsonline.com, Walesi – Menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI, prajurit Pos Kotis Walesi Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 645/Gardatama Yudha bersama pelajar, guru, dan warga Distrik Walesi mendaki bukit untuk mengibarkan Bendera Merah Putih di puncak Bukit Walesi, Sabtu (8/8/2026). Perjalanan yang menyeberangi sungai dan menanjak bersama menjadi bukti bahwa semangat kebangsaan tidak terhalang oleh medan maupun jarak.Kegiatan diawali dengan pemberian pemahaman kebangsaan dan pembagian atribut Merah Putih kepada para siswa. Selanjutnya, seluruh peserta berjalan kaki bersama membawa tiang bendera menuju puncak. Sesampainya di sana, semuanya bergotong royong mendirikan tiang dan mengibarkan bendera, dilanjutkan dengan penghormatan terpimpin sebagai tanda cinta dan hormat kepada simbol negara. Suasana kehangatan terasa saat semua menikmati hidangan sederhana bersama setelah upacara. Dansatgas Yonif 645/Gardatama Yudha Letkol Inf Yan Rangga Rahabistara menyampaikan kegiatan ini bukan sekadar seremonial. “Kami ingin memastikan semangat kemerdekaan RI sampai ke pelosok Papua. Kebersamaan hari ini menunjukkan betapa eratnya kemanunggalan TNI dan rakyat,” ujarnya. Kegiatan ini juga bertujuan menanamkan rasa cinta tanah air kepada generasi muda sejak dini.Pengibaran bendera di ketinggian ini membawa pesan bahwa kemerdekaan milik seluruh rakyat Indonesia, tak terkecuali mereka yang tinggal di kampung, pegunungan, hingga perbatasan. Bagi anak-anak Walesi, mendaki bersama, mendirikan tiang, dan memberi hormat menjadi pengalaman nyata bahwa mereka adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa ini.Penulis: JidEditor: OF
10 Agu 2026, 11:53 WIT
TNI-Polri Usut Kelompok Bersenjata yang Menembak Dua Warga di Festival Lembah Baliem
Papuanewsonline.com, Jayapura – Aparat gabungan TNI dan Polri tengah menelusuri identitas kelompok bersenjata yang diduga menembaki warga sipil di kawasan penutupan Festival Budaya Lembah Baliem 2026 di Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, pada Sabtu (8/8/2026). Serangan mendadak itu menimpa warga yang hendak menyaksikan kegiatan budaya tahunan tersebut dan menyebabkan dua orang terluka.Komandan Korem 172/PWY Brigjen TNI Robbi Suryadi membenarkan kedua korban telah dievakuasi dan mendapat penanganan medis di RSUD Wamena. Korban pertama, Laode Muhammad (43), menderita luka tembak di lutut, sedangkan korban kedua, Salbia (50), mengalami luka tembak di paha kanan. “Kondisi keduanya saat ini dalam keadaan stabil,” ujarnya dari Jayapura.Pasca-kejadian, prioritas utama aparat keamanan adalah mengamankan dan mengevakuasi warga yang berada di sekitar lokasi kegiatan. Hal itu membuat penyelidikan mendalam untuk mengidentifikasi kelompok yang bertanggung jawab masih terus berjalan. “Kami belum dapat memastikan asal kelompok pelaku, namun pengejaran dan penyelidikan terus dilakukan secara intensif,” tegas Robbi.Kegiatan festival yang berlangsung 7–8 Agustus sempat terganggu, namun petugas keamanan gabungan segera mengendalikan situasi dan membersihkan lokasi. Acara yang seharusnya menjadi ajang merawat warisan budaya dan mempererat persaudaraan justru diwarnai tindakan kekerasan yang menakutkan dan merugikan warga sipil.Penulis: JidEditor: OF
10 Agu 2026, 11:50 WIT
Sambut HUT RI ke-81, Brimob Polda Maluku Bagikan Bendera Merah Putih
Papuanewsonline.com, Ambon - Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Satuan Brimob Polda Maluku menggelorakan semangat kebangsaan melalui aksi pembagian Bendera Merah Putih kepada masyarakat.Kegiatan tersebut dilaksanakan personel Kompi 1 Batalyon A Pelopor Satuan Brimob Polda Maluku di depan Mako Kompi 1 Batalyon A Pelopor, Sabtu (8/8/2026) pagi.Sebanyak 15 personel yang dipimpin Danki 1 Batalyon A Pelopor Iptu Kiki Yamrewav, S.H., turun langsung membagikan Bendera Merah Putih berukuran kecil kepada para pengendara sepeda motor maupun mobil yang melintas.Aksi tersebut menjadi bagian dari upaya Polri membangun kesadaran kolektif masyarakat agar momentum peringatan kemerdekaan tidak hanya berlangsung secara seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan terhadap Tanah Air, persatuan, dan kepedulian terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.Danki 1 Batalyon A Pelopor Iptu Kiki Yamrewav, S.H., mengatakan pembagian Bendera Merah Putih merupakan bentuk nyata semangat kebangsaan sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk bersama-sama menumbuhkan rasa cinta Tanah Air.“Pembagian Bendera Merah Putih ini merupakan bentuk nyata dari semangat kebangsaan. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menunjukkan kecintaan kepada Tanah Air dan menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia dengan penuh semangat persatuan,” ujar Kiki.Menurutnya, pemasangan Bendera Merah Putih di rumah, kendaraan maupun lingkungan sekitar merupakan bentuk sederhana yang memiliki makna besar dalam memperingati kemerdekaan Indonesia.“Kami berharap masyarakat dapat memasang Bendera Merah Putih di kendaraan, rumah dan lingkungan masing-masing. Ini bukan hanya untuk memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan,” katanya.Selain membagikan bendera, personel Brimob juga menyampaikan imbauan kepada masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban serta mempertahankan nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa.Langkah tersebut dinilai penting karena semangat kemerdekaan tidak berhenti pada simbol Bendera Merah Putih, tetapi harus diwujudkan melalui kepedulian, toleransi, gotong royong, serta komitmen menjaga situasi keamanan yang kondusif.Dansat Brimob Polda Maluku, Kombes Pol Tedi Purnanto, S.I.K., menegaskan bahwa keterlibatan personel dalam kegiatan sosial dan kebangsaan merupakan bagian dari upaya mendekatkan Polri dengan masyarakat.Menurutnya, momentum HUT ke-81 RI menjadi kesempatan untuk mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan semangat kemerdekaan sebagai energi bersama dalam menjaga persatuan dan keamanan di Maluku.“Kemerdekaan adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, semangat memperingati kemerdekaan juga harus menjadi gerakan bersama. Melalui pembagian Bendera Merah Putih, kami ingin mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kembali rasa bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia sekaligus menjaga persatuan dan keamanan bersama,” ujar Dansat Brimob Polda Maluku.Ia menambahkan, personel Brimob tidak hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan penanganan gangguan keamanan, tetapi juga hadir melalui kegiatan yang membangun kedekatan, kepedulian sosial dan semangat kebangsaan.“Kami ingin kehadiran Brimob dirasakan secara positif oleh masyarakat. Menjaga keamanan bukan hanya tugas kepolisian, tetapi membutuhkan partisipasi seluruh masyarakat. Karena itu, semangat kemerdekaan harus kita terjemahkan dalam kehidupan sehari-hari dengan menjaga ketertiban, menghormati perbedaan dan memperkuat persatuan,” tegasnya.Sementara itu Kabidhumas Polda Maluku Kombes Pol. Rositah Umasugi, S.I.K., mengatakan kegiatan pembagian Bendera Merah Putih merupakan salah satu bentuk kehadiran Polri dalam membangun kesadaran kebangsaan di tengah masyarakat.Ia menyebut Bendera Merah Putih bukan sekadar simbol negara, tetapi juga representasi sejarah perjuangan, persatuan dan identitas bangsa Indonesia.“Bendera Merah Putih memiliki makna yang sangat kuat bagi bangsa Indonesia. Di baliknya terdapat sejarah perjuangan dan pengorbanan para pahlawan. Karena itu, momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI harus kita jadikan kesempatan untuk kembali memperkuat rasa cinta Tanah Air dan persatuan,” ujar Rositah.Menurutnya, semangat kemerdekaan harus terus diwariskan kepada generasi penerus melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.“Semangat nasionalisme tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus diwujudkan dengan menjaga persatuan, menghormati perbedaan, menaati aturan, menjaga keamanan lingkungan dan ikut menciptakan suasana yang damai serta kondusif,” katanya.Rositah juga mengajak masyarakat Maluku untuk menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan memasang Bendera Merah Putih di rumah, lingkungan maupun kendaraan sebagai bentuk kecintaan terhadap Tanah Air.“Mari kita semarakkan HUT ke-81 Republik Indonesia dengan mengibarkan Merah Putih. Jadikan momentum kemerdekaan ini sebagai pengingat bahwa persatuan adalah kekuatan bangsa dan keamanan adalah tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya.Kegiatan pembagian Bendera Merah Putih oleh personel Kompi 1 Batalyon A Pelopor berlangsung mulai pukul 08.30 WIT. Setelah apel persiapan, personel melaksanakan pembagian bendera kepada para pengendara pada pukul 08.50 WIT dan dilanjutkan apel konsolidasi pada pukul 09.30 WIT.Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dalam keadaan aman, tertib dan lancar.Melalui kegiatan tersebut, Satuan Brimob Polda Maluku menegaskan bahwa menyambut kemerdekaan bukan hanya tentang mengibarkan bendera, tetapi juga tentang merawat semangat kebangsaan, memperkuat persaudaraan dan bersama-sama menjaga Indonesia tetap aman, bersatu dan damai. PNO-12
09 Agu 2026, 15:45 WIT
Dari Belanda ke Mimika: Seabad Kasih Tanpa Pamrih Suster Santo Fransiskus Charitas
Papuanewsonline.com, Mimika – Perjalanan kasih yang dimulai dari sebuah biara kecil di Belanda kini telah menembus samudera, melintasi pulau Sumatera, hingga berakar dan berbuah lebat di tanah Papua. Tahun 2026 menjadi saksi genap satu abad kehadiran Kongregasi Suster-Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) di Indonesia, yang dirayakan dengan penuh syukur dalam Misa Syukur di Keuskupan Timika, dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Baru, pada Selasa (7/8/2026).Sejarah berawal pada 9 Juli 1926, ketika lima suster perintis pertama menginjakkan kaki di tepian Sungai Musi, Palembang. Di bawah semangat Santo Fransiskus, kesederhanaan, kerendahan hati, dan kasih kepada yang kecil, mereka merawat orang sakit, mendidik, dan mendampingi tanpa pamrih. Cabang Indonesia kemudian tumbuh mandiri pada 1 Desember 1991, dan tak lama berselang, pada tahun 1998, panggilan baru datang: melayani di tanah Mimika. Dua suster dikirim meninjau, dan dari kunjungan itu lahirlah kesepakatan untuk mengelola Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) yang dibangun atas kerja sama PT Freeport Indonesia, YPMAK, Pemerintah Kabupaten Mimika, dan Keuskupan Jayapura.Pada 20 Agustus 1999, RSMM mulai melayani dengan hanya sepuluh pasien per hari dan kapasitas 69 tempat tidur. Kini, 27 tahun kemudian, rumah sakit yang akrab disebut warga “Charitas” itu telah berkembang menjadi Rumah Sakit Kelas C berakreditasi KARS dengan 156 tempat tidur, didukung sekitar 370 tenaga, dan telah melayani lebih dari tiga juta pasien. Pelayanan meluas dari rawat jalan hingga UGD 24 jam, poliklinik spesialis, serta Klinik Mitra Masyarakat yang menjangkau wilayah lebih luas. Tak hanya di kota, kehadiran kasih itu pun hadir di pesisir melalui Biara Charitas Bintang Laut di Kaokanao.Yang paling mengesankan, benih kasih itu kini mulai tumbuh dari tanah sendiri: putri daerah Papua pun mulai bergabung menjadi bagian keluarga besar FCh, menandakan bahwa pengabdian ini bukan lagi sekadar perutusan dari jauh, melainkan telah berakar di hati masyarakat Amungsa. Jalan di depan rumah sakit pun kini bernama Jalan Charitas nama yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari warga Mimika.Penulis: JidEditor: OF
09 Agu 2026, 08:54 WIT
Wujud Toleransi, Umat Katolik Hadir di Puncak Peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua
Papuanewsonline.com, Fakfak - Suasana penuh persaudaraan dan toleransi mewarnai puncak peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua yang berlangsung di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Sabtu (8/8/2026).Menariknya, dalam momentum bersejarah umat Islam tersebut, umat Katolik turut hadir memberikan dukungan. Kehadiran tersebut menjadi wujud nyata penghormatan dan semangat persaudaraan dalam menjaga kehidupan bersama yang rukun di Kabupaten Fakfak yang dikenal sebagai Kota Toleransi.Dalam perayaan tersebut, hadir dua pastor, yakni Pastor Alex Fabianus dan Pastor Oliver, OSA, bersama umat Katolik. Turut hadir pula Josep Goenawan selaku Ketua Dewan Paroki.Kehadiran para pastor dan umat Katolik menjadi gambaran nyata bahwa kehidupan masyarakat Fakfak dibangun di atas fondasi saling menghormati dan menghargai perbedaan.Pastor Alex Fabianus menyampaikan bahwa kehadiran mereka merupakan bentuk dukungan sekaligus partisipasi aktif dalam seluruh rangkaian perayaan.“Kami memang mendapat undangan. Selain itu, kehadiran kami di sini merupakan bentuk dukungan umat Katolik sekaligus turut berpartisipasi dalam berbagai rangkaian perayaan hingga hari puncak ini,” ujar Pastor Alex di sela kegiatan.Ia mengaku bahagia dapat hadir dalam momentum bersejarah tersebut. Menurutnya, Fakfak memiliki sejarah penting dalam perjalanan kehidupan beragama di Tanah Papua.Pastor Alex juga menilai kehidupan antarumat beragama di Kabupaten Fakfak patut menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.“Kehidupan antarumat beragama di Kabupaten Fakfak perlu menjadi contoh bagi kita semua. Kehidupan beragama di Fakfak ini sangat luar biasa. Perbedaan yang ada justru menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan, toleransi, dan persaudaraan,” ungkapnya.Bagi Gereja Katolik, kehadiran dalam momentum 666 tahun masuknya Islam ini merupakan bagian dari komitmen untuk terus merawat persaudaraan sebagai sesama anak bangsa. Perbedaan agama dan keyakinan bukanlah penghalang untuk saling menghormati, hadir bersama, dan membangun kehidupan yang damai di Tanah Papua.Editor: OF
08 Agu 2026, 21:21 WIT
Tokoh Nawaripi Bantah Jual Tanah Warisan - Tegaskan Sudah Disertifikatkan Milik TNI AL
Papuanewsonline.com, Mimika - Tokoh-tokoh Suku Kamoro dari Kampung Nawaripi membantah keras isu yang menyebut mereka menjual tanah adat. Mereka menegaskan tidak pernah menjual tanah warisan leluhur.Klarifikasi itu disampaikan menyusul beredarnya berita bohong yang menuding tokoh Nawaripi menjual tanah."Kami tolak ada berita bohong, berita palsu yang menyatakan kami jual tanah. Yang buat berita itu tidak benar, dan orang yang berkomentar tentang tanah itu orang yang tidak punya kapasitas. Kami tidak pernah jual tanah karena itu warisan orangtua kami," tegas Tokoh Masyarakat Nawaripi, Derek Maoromako saat ditemui di Sanggar Merah Putih Nawaripi, Kamis (5/8/2026).Derek menjelaskan, yang sebenarnya terjadi adalah pengukuran ulang tanah yang telah dilepas secara adat oleh orang tua mereka kepada TNI Angkatan Laut.Tanah seluas 2 hektar tersebut, kata dia, telah sah memiliki sertifikat dengan nomor 0046 atas nama TNI AL."Orang Nawaripi yang punya tanah dan orang Nawaripi tidak pernah jual tanah. Apalagi Bapa Desa sudah larang orang Nawaripi tidak boleh jual tanah. Yang berani jual, Bapa Desa tidak mau tandatangan pelepasannya," ujar Derek.Penegasan serupa disampaikan Tokoh Muda Nawaripi, Kris Yamiro. Ia menyebut sebagai generasi muda, dirinya wajib mengamankan keputusan pelepasan yang telah dilakukan para orang tua terdahulu kepada negara."Kalau ada yang bilang kami jual tanah itu salah besar dan itu hoaks. Saya minta yang buat berita bisa datang ketemu kami di Nawaripi," kata Kris.Menurut Kris, tanah tersebut adalah milik leluhur yang diwariskan kepada anak cucu, sehingga tidak mungkin diperjualbelikan. Kehadiran mereka di lokasi hanya untuk mengukur ulang batas tanah yang sudah bersertifikat tersebut."Sebagai tokoh muda sebetulnya belum tahu soal penyerahan tanah itu. Tapi karena tanahnya sudah diserahkan orang-orang tua dulu, maka sebagai generasi muda wajib untuk amankan tanah itu yang kepemilikannya oleh TNI AL," tutupnya.Editor: OF
05 Agu 2026, 15:50 WIT
Tanam Bibit Kelapa, KKN 165 Ananta Abhipraya Wujudkan Desa Berdikari
Papuanewsonline.com, Kendal - Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Inisiatif Terprogram (MIT) Posko 165 UIN Walisongo Semarang menanam puluhan bibit kelapa di lahan desa binaan pada Minggu (2/8). Kegiatan yang digelar sejak pagi hari ini menjadi bagian dari program penghijauan sekaligus langkah strategis.Aksi penanaman ini melibatkan mahasiswa KKN bersama pelajar dan warga sekitar. Mereka tampak bergotong royong menyiapkan lahan hingga menanam bibit satu per satu.Kelapa dipilih sebagai komoditas utama karena memiliki nilai manfaat yang menyeluruh mulai dari buah, batang, hingga daunnya. Hal ini dinilai berpotensi menjadi sumber daya ekonomi yang stabil dan ramah lingkungan bagi masyarakat desa dalam jangka panjang.Koordinator Tim KKN 165, Abudzar Algifari (yang akrab disapa Gifary), menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan wujud nyata dari semangat membangun desa berdikari, yaitu desa yang mampu mengoptimalkan potensi lokalnya secara mandiri."Melalui penanaman ini, kami ingin mendorong terciptanya desa berdikari yang mampu mengelola potensi lokal tanpa harus bergantung penuh pada pihak luar," ujar Gifary.Selain menanam, tim KKN bersama warga juga melakukan pendataan dan penandaan bibit sebagai bagian dari program pemantauan pertumbuhan secara berkala.Meskipun hasil nyata penanaman kelapa ini baru akan terasa beberapa tahun mendatang, antusiasme warga tetap tinggi. Warga optimistis bahwa perawatan yang konsisten akan menjadikan pohon-pohon kelapa tersebut sebagai warisan ekonomi yang bermanfaat bagi lintas generasi.Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian program kerja Tim KKN 165 yang mengusung tema "Kepakkan Sayap Inovasi, Wujudkan Desa Berdikari" pada periode KKN 2026. Melalui pendekatan partisipatif, tim berharap program serupa dapat terus berlanjut dan menginspirasi desa-desa lain di wilayah Kendal. PNO-12
05 Agu 2026, 08:30 WIT
Masyarakat Adat Marga Rahawarin Matli Pasang Sasi Adat Tolak Aktivitas PT BBA di Kei Besar
Papuanewsonline.com, Maluku Tenggara - Masyarakat adat Marga Rahawarin Matli di Desa Larat, Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku, menggelar ritual sasi adat sebagai bentuk penolakan terhadap aktivitas pertambangan PT Batu Licin Beton Asphalt (PT BBA).Pemasangan sasi dilakukan di kawasan yang diklaim sebagai wilayah ulayat marga mereka. Bagi masyarakat Kei, sasi atau yang dalam tradisi lokal disebut Hawear bukan sekadar tradisi pelarangan. Dalam masyarakat Kei, daun kelapa putih atau janur digunakan sebagai simbol sasi atau larangan. Pelanggarannya dikenai sanksi adat yang disepakati melalui musyawarah adat. Bagi Marga Rahawarin Matli, sasi tersebut merupakan simbol penegasan hak atas tanah adat sekaligus perlindungan terhadap wilayah warisan leluhur.Juru Bicara Masyarakat Adat Marga Rahawarin Matli, Sahrudin Rahawarin, mengatakan kawasan yang dipersoalkan berada di sekitar perbatasan Desa Ohoirenan dan berbatasan dengan Desa Weduar di sebelah timur, Desa Tamangil Nuhuten di sebelah selatan, serta Desa Nerong dan Ohoirenan di sebelah utara."Masyarakat meminta agar setiap bentuk pemanfaatan sumber daya alam di wilayah tersebut dilakukan sesuai ketentuan hukum dan menghormati hak-hak masyarakat adat," ujar Sahrudin.Konteks Penolakan di Kei BesarAksi sasi oleh Marga Rahawarin Matli menambah daftar penolakan masyarakat Kei Besar terhadap PT BBA. Sebelumnya, warga Desa Ohoiwait juga menggelar sasi sebagai bentuk perlawanan terhadap eksplorasi yang dilakukan perusahaan tersebut.Komunitas Desa Ohoiwait, Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara, kembali menggelar protes terhadap PT Batu Licin Beton Asphalt (BBA) karena perusahaan diduga membuka hutan dan merusak sasi adat tradisional Kei yang didirikan warga. Aksi tersebut terjadi pada Rabu, 3 Desember 2025 dan dipimpin tetua adat setempat. Di tingkat provinsi, penolakan juga disuarakan di depan Kantor Gubernur Maluku pada 16 Juni 2025. Massa yang menamakan diri Solidaritas Anak Maluku menentang aktivitas penambangan batu kapur oleh PT Batulicin Beton Asphalt (BBA) di Ohoi (Desa) Nerong, Kecamatan Kei Besar Selatan, yang dinilai merusak lingkungan dan mengabaikan hak masyarakat adat. Isu perizinan menjadi sorotan. Dalam rapat Komisi II DPRD Maluku pada 11 Juni 2025, anggota Komisi II DPRD Maluku menegaskan bahwa kegiatan tambang PT Batu Licin tidak hanya ilegal tetapi juga mengancam kelestarian lingkungan. “Kami menolak keberadaan PT Batu Licin Aspal yang sedang beroperasi di Kei Besar karena mereka tidak memiliki AMDAL dan IUP,” ujar Suleman dalam rapat tersebut.Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi terbaru dari pihak PT Batu Licin Beton Asphalt terkait pemasangan sasi oleh Marga Rahawarin Matli di Desa Larat.Masyarakat adat menegaskan akan mempertahankan sasi adat tersebut hingga ada kepastian hukum atas status tanah adat dan penghentian aktivitas pertambangan di wilayah yang mereka klaim. (OF)
04 Agu 2026, 21:32 WIT
Hadiri Hoegeng Awards 2026, Kapolda Maluku Apresiasi Integritas dan Pengabdian Anggota Polri
Papuanewsonline.com, Jakarta - Kapolda Maluku Irjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., M.Si didampingi Karo SDM Polda Maluku, Kombes Pol Jemi junaidi, S.I.K., M.M., menghadiri Malam Puncak Hoegeng Awards 2026 yang berlangsung di The Tribrata Darmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (31/7/2026).Kehadiran Kapolda Maluku dalam agenda penghargaan bagi polisi-polisi teladan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat keteladanan, integritas dan pengabdian anggota Polri kepada masyarakat.Hoegeng Awards 2026 merupakan program kerja sama Polri dan detikcom yang telah memasuki penyelenggaraan tahun kelima. Penghargaan ini menjadi ruang untuk memberikan apresiasi kepada anggota Polri yang dinilai memiliki dedikasi, inovasi, integritas serta keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.Malam puncak Hoegeng Awards 2026 dihadiri Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Chairman CT Corp Chairul Tanjung, keluarg a Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, serta sejumlah pejabat pemerintahan, tokoh agama, akademisi, tokoh masyarakat dan perwakilan organisasi masyarakat sipil.Lima polisi teladan terpilih setelah melalui proses penjaringan usulan masyarakat, seleksi dan verifikasi, serta pendalaman oleh Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026.Kelima penerima penghargaan tersebut masing-masing adalah Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau, sebagai Polisi Berdedikasi; Brigadir Renita Rismayanti, anggota Divisi Hubungan Internasional Polri, sebagai Polisi Inovatif; Kombes Norul Hidayat, Kepala SPN Polda Bangka Belitung, sebagai Polisi Berintegritas; AKP Siti Elminawati, Kanit 1 Subdit 4 Dit Reskrimum Polda Sulawesi Tengah, sebagai Polisi Pelindung Perempuan, Anak dan Kelompok Rentan; serta Iptu Motalip Litiloly, Kasat Samapta Polres Nduga, Polda Papua, sebagai Polisi Tapal Batas dan Pedalaman.Di balik penganugerahan tersebut, Maluku juga mencatat capaian tersendiri. Salah satu personel Polda Maluku, Iptu Bastian Tuhuteru, S.Pd., Kapolsek Sirimau, berhasil masuk sebagai salah satu dari tiga nominator Hoegeng Awards 2026 kategori Polisi Tapal Batas dan Pedalaman.Masuknya Iptu Bastian dalam tiga besar nominator menjadi bentuk pengakuan atas dedikasi dan pengabdian personel Polri dari Maluku yang dinilai memiliki nilai keteladanan dalam menjalankan tugas kepolisian dan memberikan manfaat bagi masyarakat.Kapolda Maluku menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan Iptu Bastian masuk dalam tiga besar nominator merupakan representasi bahwa personel Polda Maluku juga mampu menunjukkan kualitas pengabdian yang mendapat perhatian di tingkat nasional.“Kami tentu bangga Iptu Bastian Tuhuteru dapat masuk sebagai tiga besar nominator Hoegeng Awards kategori Polisi Tapal Batas dan Pedalaman. Ini merupakan penghargaan tersendiri bagi Polda Maluku dan sekaligus bukti bahwa dedikasi personel di daerah dapat diapresiasi di tingkat nasional,” ujar Kapolda Maluku.Menurut Kapolda, hasil akhir penghargaan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang polisi. Terpilihnya seorang personel sebagai nominator tiga besar juga merupakan bentuk apresiasi terhadap proses panjang pengabdian yang telah dilakukan.“Bagi kami, masuknya Iptu Bastian sebagai tiga besar sudah merupakan sebuah pencapaian. Yang terpenting adalah nilai pengabdian yang telah ditunjukkan dan bagaimana nilai tersebut dapat menjadi inspirasi bagi seluruh personel Polda Maluku,” katanya.Kapolda menegaskan, semangat Hoegeng Awards harus menjadi motivasi bagi seluruh anggota untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, terutama personel yang bertugas di wilayah dengan tantangan geografis dan sosial yang kompleks.Kapolda Maluku menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Hoegeng Awards yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenali dan mengapresiasi sosok-sosok anggota Polri yang bekerja dengan ketulusan, integritas dan dedikasi.Menurutnya, nilai penting dari Hoegeng Awards tidak hanya terletak pada pemberian penghargaan kepada lima polisi terpilih, tetapi juga pada pesan yang dibangun bahwa keteladanan harus menjadi bagian dari budaya kerja setiap anggota Polri.“Hoegeng Awards menjadi momentum untuk mengingat kembali bahwa tugas kepolisian bukan hanya tentang kewenangan, tetapi terutama tentang pengabdian, integritas dan keteladanan. Setiap anggota Polri harus mampu menghadirkan manfaat dan rasa aman bagi masyarakat,” ujarnya.Ia menilai keberadaan polisi teladan di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk dan medan tugas.Mulai dari pengabdian di tengah masyarakat, inovasi dalam pelayanan kepolisian, perlindungan terhadap kelompok rentan, hingga tugas di wilayah perbatasan dan pedalaman yang memiliki tantangan geografis maupun sosial tersendiri.“Keteladanan tidak ditentukan oleh tempat seseorang bertugas, tetapi oleh bagaimana ia menjalankan amanah dan memberikan manfaat. Polisi yang bekerja dengan hati, menjaga integritas dan hadir ketika masyarakat membutuhkan, pada dasarnya sedang membangun kepercayaan publik terhadap institusi Polri,” kata Kapolda.Kapolda menilai semangat pengabdian yang tercermin dalam Hoegeng Awards sangat relevan bagi personel Polda Maluku yang bertugas di wilayah kepulauan dengan karakter geografis yang unik.Kondisi Maluku yang terdiri atas wilayah kepulauan, pesisir, perdesaan hingga kawasan dengan keterbatasan akses transportasi menuntut personel Polri untuk mampu menghadirkan pelayanan secara adaptif, humanis dan dekat dengan masyarakat.“Bagi kami di Maluku, semangat pengabdian seperti yang ditunjukkan para penerima dan para nominator Hoegeng Awards sangat relevan. Kondisi geografis kepulauan menuntut anggota Polri untuk tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga mampu membangun kedekatan, komunikasi dan kepercayaan dengan masyarakat,” ungkapnya.Kapolda menegaskan, Polda Maluku akan terus mendorong seluruh personel untuk menjadikan integritas, profesionalisme dan pelayanan masyarakat sebagai fondasi utama dalam pelaksanaan tugas.Menurutnya, penghargaan terhadap polisi teladan harus menjadi energi positif untuk membangun budaya organisasi yang semakin kuat, bukan hanya bagi mereka yang menerima penghargaan, tetapi juga bagi seluruh anggota Polri.“Penghargaan ini bukan akhir dari sebuah pengabdian, melainkan pengingat bahwa masih ada standar keteladanan yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegas Kapolda.Hoegeng Awards 2026 memiliki karakter khusus karena proses pencarian kandidat diawali dari partisipasi masyarakat.Penjaringan nama-nama polisi teladan dibuka sejak 27 Januari hingga 2 April 2026 pukul 24.00 WIB. Usulan masyarakat kemudian melalui proses seleksi awal dan verifikasi sebelum kandidat diserahkan kepada Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 untuk dilakukan pendalaman dan penilaian.Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 terdiri dari Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Wahid, M.Psi., Wakil Ketua Komnas HAM Putu Elvina, S.Psi., M.M., mantan Plt. Pimpinan KPK Dr. Mas Achmad Santosa, S.H., LL.M., anggota Kompolnas Gufron Mabruri, serta Ketua Komisi III DPR RI Dr. Habiburokhman, S.H., M.H.Pelibatan masyarakat tersebut menunjukkan bahwa keteladanan seorang anggota Polri tidak semata-mata dinilai dari perspektif internal institusi, tetapi juga dari dampak kehadiran dan pengabdiannya yang dirasakan langsung oleh masyarakat.Kapolda Maluku menyebut aspek tersebut penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap Polri.“Ketika masyarakat ikut mengusulkan dan memberikan penilaian terhadap polisi yang dianggap teladan, itu menunjukkan bahwa hubungan Polri dengan masyarakat harus terus dibangun melalui kerja nyata. Kepercayaan tidak cukup hanya disampaikan, tetapi harus dibuktikan melalui pelayanan dan pengabdian,” pungkasnya.Kapolda berharap semangat Hoegeng Awards 2026 dapat terus berkembang menjadi budaya positif di seluruh jajaran Polri, termasuk di Polda Maluku.Bagi Polda Maluku, masuknya Iptu Bastian Tuhuteru sebagai tiga besar nominator menjadi energi positif sekaligus motivasi bagi seluruh personel untuk terus memberikan pengabdian terbaik, khususnya dalam menghadirkan kehadiran negara dan pelayanan kepolisian yang dirasakan langsung oleh masyarakat.“Semoga capaian Iptu Bastian menjadi inspirasi bagi seluruh personel Polda Maluku. Tidak harus menunggu penghargaan untuk berbuat baik. Setiap anggota harus menjadikan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari panggilan tugas dan tanggung jawab,” tutup Kapolda Maluku. PNO-12
04 Agu 2026, 08:03 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru