logo-website
Kamis, 15 Jan 2026,  WIT

DPRK Mimika Gelar Rapat Khusus, Sikapkan Diri Terhadap Konflik Kwamki Narama

Korban jiwa terus bertambah hingga belasan orang, DPRK Mimika menilai penanganan konflik berjalan lamban dan menuntut percepatan penyelesaian lintas lembaga

Papuanewsonline.com - 06 Jan 2026, 20:59 WIT

Papuanewsonline.com/ Politik & Pemerintahan

Ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau, saat diwawancarai awak media usai rapat Badan Musyawarah DPRK Mimika di Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Selasa (6/1/2026)

Papuanewsonline.com, Mimika — Badan Musyawarah (Bamus) Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika menggelar rapat khusus guna menyikapi konflik antar dua kelompok warga di Distrik Kwamki Narama yang hingga kini telah menelan 11 korban jiwa. Rapat tersebut menjadi bentuk keprihatinan serius lembaga legislatif daerah terhadap eskalasi kekerasan yang belum juga mereda.


Ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau, menyampaikan bahwa pertemuan yang semula dijadwalkan untuk membahas agenda rutin enam bulanan akhirnya diarahkan secara khusus untuk mencari solusi konkret agar konflik segera diakhiri. Ia menilai, situasi yang terus memakan korban tidak bisa lagi ditanggapi secara biasa.

“Kita tidak bisa tinggal diam melihat saudara-saudara kita terus berantem dan kehilangan nyawa. Penanganannya terkesan lambat, sementara korban terus bertambah,” ujarnya pada Selasa (6/1/2026).

Primus menegaskan bahwa konflik terjadi di wilayah yang memiliki struktur pemerintahan lengkap serta kehadiran aparat keamanan TNI dan Polri. Namun demikian, langkah-langkah penanganan di lapangan dinilai masih perlu dipercepat agar tidak terus berlarut-larut.

Ia juga mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi yang diterima DPRK, sebagian pihak yang terlibat konflik merupakan warga dari kabupaten lain. Meski demikian, karena peristiwa berlangsung di wilayah Kabupaten Mimika, pemerintah daerah tetap memikul tanggung jawab penuh untuk mengambil peran utama dalam penyelesaian konflik tersebut.

“Walaupun ada unsur warga dari luar kabupaten, karena lokasinya di Mimika maka kami harus mengambil inisiatif untuk mengakhiri perang saudara ini,” katanya dengan tegas.

Sebagai tindak lanjut, DPRK Mimika berencana melakukan koordinasi lanjutan dengan Pemerintah Kabupaten Mimika serta unsur TNI-Polri. Koordinasi tersebut dimaksudkan untuk merumuskan langkah-langkah konkret yang dapat ditempuh secara bersama demi menghentikan konflik dan memulihkan situasi keamanan.

“Kami akan koordinasi lagi dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk memastikan langkah apa yang bisa diambil bersama agar perang ini segera berakhir,” ungkap Primus.

Menurutnya, penyelesaian konflik tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan keamanan. Keterlibatan berbagai unsur, termasuk pemerintah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, dinilai penting agar proses perdamaian berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Namun, Primus mengakui bahwa upaya sebelumnya untuk melibatkan tokoh-tokoh masyarakat belum membuahkan hasil maksimal. Salah satu kendala utama adalah adanya pandangan dari masing-masing kelompok yang menganggap jumlah korban jiwa harus berimbang sebelum perdamaian tercapai.

Menyikapi kondisi tersebut, DPRK Mimika berencana melibatkan anggota dewan yang merupakan putra asli dari suku-suku setempat. Pendekatan berbasis adat dan ikatan emosional dinilai menjadi kunci untuk membuka ruang dialog yang lebih tulus dan menyentuh akar persoalan.

“Kami akan melibatkan teman-teman anggota dewan yang berasal dari adat yang sama dengan kelompok yang bertikai, agar pendekatan bisa dilakukan dari hati ke hati. Hanya dengan sentuhan emosional dan adat yang bisa kita jembatani kesatuan kembali,” pungkasnya.

 

Penulis: Jid

Editor: GF

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE