Peneliti MPSI: PSN Wanam Menjadi Penggerak Kemajuan Papua Selatan dan Ketahanan Pangan Nasional
Peneliti MPSI, Fathan Putra Mardela, menilai Proyek Strategis Nasional (PSN) Wanam di Merauke, Papua Selatan, merupakan peluang besar untuk mempercepat pembangunan kawasan timur Indonesia
Papuanewsonline.com - 11 Jun 2026, 05:42 WIT
Papuanewsonline.com/ Ekonomi
Papuanewsonline.com, Bogor - Peneliti Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), Fathan Putra Mardela, menilai Proyek Strategis Nasional (PSN) Wanam di Merauke, Papua Selatan, merupakan peluang besar untuk mempercepat pembangunan kawasan timur Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di masa depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Fathan dalam Diskusi Publik
“Dampak Sosial Film Pesta Babi terhadap Perlindungan dan Hak Masyarakat” yang
diselenggarakan PD KAMMI Bogor di Camp Survivor, Kota Bogor, Senin (8/6/2026).
Menurut Fathan, selama beberapa dekade pembangunan nasional masih menghadapi tantangan ketimpangan antarwilayah. Karena itu, kehadiran PSN di Papua Selatan harus dipandang sebagai upaya negara menghadirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa sekaligus membuka akses pembangunan yang lebih merata.

“Papua Selatan memiliki potensi besar untuk menjadi salah
satu lumbung pangan baru Indonesia. Jika dikelola dengan baik, proyek ini tidak
hanya memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga menciptakan lapangan
kerja, mempercepat pembangunan infrastruktur, dan mendorong pertumbuhan ekonomi
masyarakat lokal,” ujarnya.
Fathan menilai pembangunan yang hadir melalui PSN juga
berpotensi meningkatkan konektivitas wilayah yang selama ini menjadi tantangan
utama di sejumlah daerah Papua. Kehadiran jalan, transportasi, jaringan
logistik, hingga layanan dasar dinilai akan memberikan dampak berantai terhadap
peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Pembangunan harus dilihat sebagai instrumen untuk membuka
akses. Ketika akses terbuka, maka pendidikan menjadi lebih mudah dijangkau,
layanan kesehatan meningkat, distribusi barang menjadi lebih lancar, dan
peluang ekonomi masyarakat ikut berkembang,” katanya.
Meski demikian, Fathan menegaskan bahwa pembangunan yang
berkelanjutan harus memastikan masyarakat adat menjadi bagian utama dari proses
dan manfaat pembangunan tersebut.
Menurutnya, pelibatan masyarakat lokal, penghormatan
terhadap hak ulayat, serta komunikasi publik yang terbuka akan memperkuat
kepercayaan masyarakat terhadap program-program pembangunan pemerintah.
“Pembangunan yang kuat adalah pembangunan yang mampu
menyatukan kepentingan nasional dengan aspirasi masyarakat lokal. Ketika
manfaat pembangunan dirasakan secara nyata oleh masyarakat, maka dukungan
sosial akan tumbuh dengan sendirinya,” ujarnya.
Fathan juga mengajak publik untuk melihat berbagai dinamika
yang berkembang di Papua secara lebih objektif dan proporsional. Menurutnya,
pembangunan selalu menghadirkan tantangan yang harus dikelola, namun hal
tersebut tidak boleh mengaburkan tujuan besar untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
“Kita harus optimistis bahwa Papua memiliki masa depan yang
cerah. Yang diperlukan adalah penguatan tata kelola, komunikasi yang baik, dan
komitmen bersama agar pembangunan benar-benar menjadi sarana menghadirkan
kesejahteraan, keadilan, dan kemajuan bagi masyarakat Papua,” pungkasnya.
Penulis: Jid
Editor: GF