logo-website
Kamis, 23 Jul 2026,  WIT
Berita Pilihan Redaksi Homepage
Turunkan 2 Unit Dapur Lapangan, Brimob Metro Jaya Bantu Korban Kebakaran Papuanewsonline.com, Jakarta - Satbrimob Polda Metro Jaya mengerahkan dua unit kendaraan dapur lapangan (Randurlap) untuk membantu warga terdampak kebakaran di kawasan Pasar Jiung, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).Dari dapur lapangan tersebut, personel Brimob Metro Jaya membagikan lebih dari 200 kotak nasi kepada warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian pascakebakaran hebat yang melanda permukiman padat penduduk di belakang Pasar Jiung.Sejak pagi, personel Brimob terlihat menyusuri titik-titik pengungsian sambil menyerahkan makanan siap saji kepada warga, termasuk anak-anak dan lansia. Kehadiran aparat di tengah para korban mendapat respons positif dari masyarakat yang masih berupaya memulihkan kondisi usai kebakaran.Kebakaran yang terjadi sebelumnya diketahui menghanguskan ratusan bangunan semi permanen dan membuat ratusan warga terdampak kehilangan tempat tinggal serta harta benda.Kegiatan kemanusiaan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Dansat Brimob Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Henik Maryanto, agar seluruh personel hadir membantu masyarakat yang sedang mengalami musibah dan memberikan pelayanan kemanusiaan secara cepat di lapangan.“Brimob harus hadir di tengah masyarakat, terutama saat warga sedang mengalami kesulitan. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban para korban kebakaran,” ujarnyaSelain membantu penyaluran makanan, personel Brimob Metro Jaya juga terus bersiaga di sekitar lokasi guna membantu proses pengamanan dan penanganan pascakebakaran bersama unsur terkait. PNO-12 03 Jun 2026, 16:06 WIT
Luncurkan Kompolnas Awards 2026, Polri Apresiasi Kinerja Terbaik Satker Papuanewsonline.com, Jakarta – Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) resmi memulai rangkaian pelaksanaan Kompolnas Awards 2026 melalui kegiatan sosialisasi yang digelar di Kantor Kompolnas, Jakarta Selatan, Selasa (2/6/2026). Program penghargaan tahunan tersebut merupakan bentuk apresiasi kepada satuan kerja Polri yang menunjukkan kinerja terbaik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.Sekretaris Kompolnas, Irjen Pol. (Purn.) Drs. Arief Wicaksono Sudiutomo, menjelaskan bahwa Kompolnas Awards 2026 merupakan penyelenggaraan yang kelima sejak pertama kali digelar. Ia menyebut kegiatan ini dilaksanakan bersama jajaran Polri mulai dari tingkat Mabes Polri, Polda, Polres hingga Polsek di seluruh Indonesia.Sementara itu, Komisioner Kompolnas sekaligus Ketua Pelaksna Kompolnas Awards 2026, Irjen Pol. (Purn.) Ida Oetari Poernamasasi, menyampaikan bahwa terdapat sejumlah penyempurnaan dalam mekanisme penilaian tahun ini. Kategori peserta dibedakan lebih rinci, baik di tingkat Mabes Polri, Polda, Polres maupun Polsek, guna menghasilkan penilaian yang lebih objektif dan proporsional.Menurut Ida, Kompolnas Awards bertujuan memberikan penghargaan kepada satuan kerja Polri yang memiliki kinerja terbaik sekaligus menjadi motivasi bagi satuan kerja lainnya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.“Kompolnas Awards ini merupakan apresiasi atau penghargaan dari Kompolnas kepada satker Mabes Polri yang sudah berkinerja terbaik. Harapannya dapat memotivasi satker lainnya melalui penerapan best practice sehingga seluruh jajaran Polri dapat terus meningkatkan kinerjanya,” ujar Ida.Ia menjelaskan, salah satu aspek utama yang menjadi ciri khas penilaian Kompolnas Awards adalah respons satuan kerja terhadap pengaduan masyarakat (dumas) yang diterima Kompolnas, termasuk kecepatan dan kualitas tindak lanjut yang diberikan.Selain menilai aspek kinerja organisasi, Kompolnas juga akan melakukan proses visitasi lapangan terhadap para nominasi terbaik untuk memastikan kesesuaian data kuantitatif dengan kondisi nyata di lapangan. Penilaian tersebut mengacu pada lima indikator utama atau “5P”, yakni Prosperity, Planet, People, Partnership, dan Peace.“Kami ingin memastikan bahwa data yang kami nilai pada tahap awal benar-benar tercermin dalam pelaksanaan tugas di lapangan. Karena itu, tim juri akan melakukan visitasi langsung kepada para nominasi terbaik,” jelasnya.Tim juri Kompolnas Awards 2026 terdiri dari unsur Kompolnas, Mabes Polri, akademisi, tokoh masyarakat, dan media. Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan mampu menghadirkan proses penilaian yang independen, objektif, dan komprehensif.Kompolnas juga membuka ruang partisipasi publik dengan mengajak masyarakat, akademisi, media, dan berbagai elemen lainnya untuk memberikan masukan terkait satuan kerja Polri yang dinilai memiliki pelayanan terbaik.“Kami menghimbau masyarakat untuk berkontribusi memberikan masukan mengenai polda, polres, maupun polsek yang dinilai telah memberikan pelayanan terbaik. Ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk mendorong Polri semakin profesional dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” kata Ida.Pelaksanaan Kompolnas Awards 2026 dimulai pada Juni 2026 dan direncanakan mencapai puncaknya melalui malam penganugerahan pada 3 September 2026. PNO-12 03 Jun 2026, 15:52 WIT
Standar Jakarta Patah di Merauke: Guru Terpaksa Langgar Aturan Demi Anak Marind Sekolah Papuanewsonline.com, Merauke – Indikator pendidikan nasional yang seragam terbukti gagal membaca realitas anak Marind di pedalaman Merauke. Sekolah bertahan bukan karena aturan Jakarta, tapi karena diskresi guru, peran Gereja Katolik, dan prajurit TNI yang turun mengajar.Hal itu diungkap Aulia Rahmi, Mahasiswa Doktoral Ilmu Pendidikan UNY, dalam rilis tertulisnya Selasa (3/6/2026) pada media Papuanewsonline,com. Menurutnya, pemerintah pusat kerap memukul rata pendidikan dengan ukuran kota besar: jumlah guru, kehadiran siswa, capaian kurikulum."Ukuran itu patah di kampung-kampung Marind," tulis Aulia.Masalah pendidikan di Merauke bukan sekadar gedung rusak atau guru kurang. Sekolah harus bernegosiasi dengan rawa, jarak tempuh berjam-jam, budaya berburu-meramu, hingga tradisi Sasi yang mengikat hidup anak. "Keberhasilan pendidikan tidak bisa diukur dari kepatuhan administratif yang dibuat dari Jakarta," tegasnya.Diskresi Guru Jadi Nyawa Sekolah  Di lapangan, justru para street-level bureaucrat seperti guru yang menentukan hidup-matinya sekolah. Teori Michael Lipsky ini nyata di Merauke. Saat UU Sisdiknas menjamin pendidikan layak, fakta berkata lain: anak harus jalan jauh, musim hujan melumpuhkan belajar, kurikulum tak nyambung dengan kebutuhan hidup. "Bagi keluarga Marind, keterampilan berburu, mengolah sagu, dan memahami wilayah adat lebih penting untuk bertahan hidup," tulis Aulia. Jika dinilai pakai standar Jakarta, anak Marind langsung dicap tidak peduli pendidikan. Padahal sistemnya yang tak cocok dengan denyut nadi kampung.Karena itu guru melakukan diskresi adaptif: longgarkan absen saat anak ikut upacara adat, ajarkan matematika lewat alat berburu, kaitkan pelajaran lingkungan dengan tradisi Sasi, pakai bahasa Malind Anim sebagai jembatan literasi. "Pendekatan ini tidak ada di juknis nasional, tapi justru yang bikin sekolah relevan," katanya.Gereja dan TNI Isi Kekosongan Negara  Guru tak sendiri. Gereja Katolik lewat YPPK sudah puluhan tahun merawat sekolah sekaligus identitas budaya Marind. YPPK aktif melestarikan bahasa daerah, nilai budaya lokal, dan pendidikan karakter. Di garis lain, prajurit TNI perbatasan ikut mengajar saat guru kosong dan merenovasi sekolah rusak. "Pendidikan di Papua tidak bisa dipahami dengan pendekatan sektoral yang kaku. Ini kerja bersama," tulis Aulia.3 Tuntutan untuk Jakarta  Aulia mendesak pemerintah berhenti ukur Merauke pakai meteran Jakarta. "Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana sistem pendidikan mampu menjangkau anak adat tanpa memaksa mereka meninggalkan identitas budayanya."Ada 3 tuntutan konkret:  Lindungi diskresi guru – beri payung hukum untuk penyesuaian pembelajaran lokal  Legitimasi kurikulum Marind – Sasi, bahasa Malind Anim, nilai ekologis harus jadi sumber belajar sah  Perkuat kolaborasi – Pihak sekolah, Pemda, gereja, TNI, komunitas adat harus satu meja  "Keadilan pendidikan tidak lahir dari keseragaman aturan. Keadilan lahir dari kemampuan memahami perbedaan," tutup Aulia. "Sebab yang terlihat sebagai penyimpangan dari standar Jakarta, bisa jadi bentuk keberpihakan paling nyata terhadap anak-anak di batas negeri." Penulis: Hendrik Editor: GF 03 Jun 2026, 13:24 WIT
DPPPAKB Mimika Fokus Perkuat Program Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Stunting Papuanewsonline.com, Mimika – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPPAKB) Kabupaten Mimika, Johana A.B Arwam, mengatakan ketersediaan alat kontrasepsi untuk program Keluarga Berencana (KB) masih menjadi tantangan karena pasokan yang diterima daerah terbatas.Menurut Johana, kebutuhan masyarakat terhadap layanan KB cukup tinggi, namun distribusi alat kontrasepsi yang diterima dari pemerintah pusat melalui BKKBN Provinsi belum sepenuhnya mampu memenuhi seluruh kebutuhan yang diusulkan daerah.“Kita mengusulkan dalam jumlah yang cukup banyak, tetapi yang dapat dipenuhi masih terbatas karena pembagian dari pusat harus disalurkan ke seluruh provinsi di Indonesia,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (3/6/2026).Ia menjelaskan, selain program KB, pihaknya juga menjalankan berbagai program pemberdayaan perempuan dan peningkatan kualitas keluarga. Namun pelaksanaannya masih menyesuaikan dengan kemampuan anggaran yang tersedia.“Kami tetap menjalankan program-program yang wajib dilaksanakan meskipun anggarannya terbatas. Harapannya ke depan ada peningkatan dukungan sehingga program-program ini bisa berjalan lebih maksimal,” katanya.Salah satu program yang akan dilaksanakan tahun ini adalah pelatihan pengolahan pangan lokal bagi kelompok perempuan di wilayah Mimika Barat dan Mimika Barat Tengah. Program tersebut memanfaatkan bahan pangan lokal seperti ikan, sagu, dan umbi-umbian.Menurut Johana, pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemanfaatan pangan lokal sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting dan peningkatan ekonomi keluarga.“Kalau ikan hanya dibakar atau digoreng mungkin anak-anak cepat bosan. Tetapi jika diolah menjadi nugget atau produk lain yang menarik, minat konsumsi pangan bergizi akan meningkat,” jelasnya.Ia menambahkan, pangan lokal seperti sagu memiliki kandungan gizi yang baik dan dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga.“Selain dikonsumsi dalam keluarga, hasil olahan pangan lokal juga bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat,” tambahnya.Di bidang pemberdayaan perempuan, DPPPAKB juga akan melakukan monitoring terhadap bantuan gerai usaha yang telah diberikan kepada kelompok perempuan pada tahun sebelumnya. Sekitar 11 hingga 12 unit gerai usaha yang dibangun pada tahun 2025 akan dievaluasi untuk melihat manfaat dan kendala yang dihadapi para penerima.“Kami ingin mengetahui apakah usaha mereka berjalan, apakah ada peningkatan pendapatan, serta kendala apa yang dihadapi. Jika masalahnya permodalan, nanti akan kami koordinasikan dengan OPD lain yang memiliki kewenangan di bidang tersebut,” katanya.Pada tahun 2026, DPPPAKB Mimika juga berencana menambah sekitar 20 hingga 22 unit gerai usaha baru yang akan diprioritaskan di wilayah perkotaan. Sementara pengembangan program serupa di wilayah pesisir masih dalam tahap kajian kebutuhan dan manfaat.Selain itu, bidang Pengendalian Penduduk juga memfokuskan perhatian pada penguatan dan penyelarasan data antarinstansi, termasuk dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), Badan Pusat Statistik (BPS), dan Dinas Kesehatan.Johana menegaskan pentingnya penggunaan satu data agar seluruh program pemerintah memiliki acuan yang sama, termasuk dalam penanganan stunting.“Kami ingin semua menggunakan data yang sama. Untuk data stunting misalnya, kami mengacu pada data Dinas Kesehatan karena mereka yang paling banyak berada di lapangan melalui kegiatan posyandu dan pelayanan kesehatan masyarakat,” ujarnya.Melalui berbagai program tersebut, DPPPAKB Mimika berharap dapat meningkatkan kualitas keluarga, memperkuat peran perempuan dalam ekonomi rumah tangga, serta mendukung percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Mimika. Penulis: Bim Editor: GF 03 Jun 2026, 13:20 WIT
Pemkab Mimika Dorong Pemenuhan Hak Anak Melalui Advokasi dan Sosialisasi Forum Anak Papuanewsonline.com, Mimika — Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) menggelar kegiatan Advokasi dan Sosialisasi Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Hak Anak pada lembaga pemerintah, non-pemerintah, media, dan dunia usaha tingkat kabupaten, Rabu (03/06/2026).Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memperkuat pemenuhan hak anak sekaligus mendorong partisipasi aktif anak dalam pembangunan di Kabupaten Mimika.Dalam sambutan Bupati Mimika yang dibacakan Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Fransiskus Kobeyau, disampaikan apresiasi kepada DP3AP2KB Kabupaten Mimika beserta seluruh pihak yang telah menginisiasi dan menyelenggarakan kegiatan tersebut.“Saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Mimika beserta seluruh pihak yang telah menginisiasi dan menyelenggarakan kegiatan strategis ini,” ujarnya.Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan wujud nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Mimika dalam mengakomodasi partisipasi anak sebagai pelopor dan pelapor yang tangguh, berani, serta menjadi mitra pemerintah dalam memperjuangkan hak-hak anak.Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa anak merupakan amanah Tuhan Yang Maha Esa yang harus dijaga dan dilindungi oleh orang tua, masyarakat, bangsa, dan negara. Anak juga merupakan generasi penerus yang memiliki peran strategis dalam menjamin keberlangsungan kehidupan bangsa dan negara di masa depan.“Anak harus disayangi, dihargai, dan dihormati sebagai individu yang memiliki hak dan martabat yang harus dijunjung tinggi. Mereka juga harus diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial,” katanya.Ia menambahkan, untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan perlindungan dan jaminan kesejahteraan bagi seluruh anak agar mampu berkembang sesuai potensi yang dimiliki.Fransiskus juga menyoroti pentingnya keberadaan Forum Anak sebagai wadah partisipasi anak dalam pembangunan. Menurutnya, Forum Anak memberikan ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan pendapat, berdiskusi, bertukar pikiran, serta berperan aktif dalam berbagai kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan mereka.“Melalui Forum Anak, anak-anak dapat mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kreativitas, dan kerja sama. Selain itu, Forum Anak juga menjadi jembatan penghubung antara anak-anak dengan pemerintah dalam menyampaikan aspirasi, kebutuhan, dan harapan mereka,” jelasnya.Ia berharap melalui kegiatan advokasi dan sosialisasi ini, seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, lembaga non-pemerintah, media, maupun dunia usaha dapat semakin bersinergi dalam mewujudkan Kabupaten Mimika sebagai daerah yang ramah anak serta menjamin terpenuhinya hak-hak anak secara optimal.Kegiatan tersebut turut menjadi momentum untuk memperkuat peran Forum Anak sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengawal pemenuhan hak dan perlindungan anak di Kabupaten Mimika. Penulis: Bim Editor: GF 03 Jun 2026, 13:16 WIT
TPNPB Bantah Akun Facebook ‘Stefanus Murip’, TPNPB Sebut Penyebar Hoaks Mengatasnamakan Organisasi Papuanewsonline.com, Papua - Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sebby Sambom, mengeluarkan klarifikasi terkait beredarnya informasi dari akun Facebook bernama "Stefanus Murip" yang disebut mengatasnamakan organisasi TPNPB dalam berbagai unggahan di media sosial.Dalam keterangan yang disampaikan atas nama Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB, Sebby Sambom menegaskan bahwa akun tersebut bukan bagian dari saluran resmi organisasi dan dinilai telah menyebarkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.Menurut Sebby, pemberitahuan ini ditujukan kepada seluruh pasukan TPNPB yang berada di 36 Komando Daerah Pertahanan (Kodap) di seluruh Tanah Papua, serta kepada para pejuang Papua Merdeka yang berada di Papua, Indonesia, maupun berbagai negara lainnya.Ia juga meminta masyarakat dan para pendukung gerakan Papua Merdeka agar tidak menjadikan informasi dari akun tersebut sebagai rujukan dalam memahami sikap maupun kebijakan organisasi."Akun Facebook atas nama 'Stefanus Murip' adalah penyebar hoax atas namakan TPNPB. Oleh sebab itu, disampaikan kepada seluruh pasukan TPNPB di 36 Komando Daerah Pertahanan di seluruh Tanah Papua serta pejuang kemerdekaan Papua Merdeka baik di Tanah Papua, Indonesia dan seluruh dunia serta wartawan lokal, nasional dan internasional untuk jangan pernah percaya terhadap akun tersebut," tegas Sebby Sambom dalam pernyataannya.Sebby menjelaskan, Markas Pusat KOMNAS TPNPB tidak pernah mengeluarkan pernyataan yang bertujuan mengadu domba sesama anggota maupun pasukan TPNPB di berbagai wilayah pertahanan.Karena itu, ia meminta seluruh pihak untuk lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarluaskan informasi yang beredar di media sosial, terutama yang mengatasnamakan organisasi tanpa sumber resmi yang jelas."Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB tidak pernah mengeluarkan pernyataan yang mengadu-dombakan seluruh pasukan TPNPB sehingga itu yang harus di pahami bersama oleh semua pihak," ujarnya.Dalam kesempatan tersebut, Sebby juga mengimbau kalangan media, baik lokal, nasional, maupun internasional, agar melakukan konfirmasi langsung kepada pihak resmi TPNPB apabila membutuhkan klarifikasi terkait pernyataan atau informasi yang beredar di ruang publik."Terlebih khususnya kepada rekan-rekan wartawan dan media bisa konfirmasi secara langsung kepada Jubir TPNPB, Sebby Sambom sesuai nomor yang anda ketahui," katanya.Menurut Sebby, langkah klarifikasi ini dilakukan untuk mencegah kesalahpahaman yang dapat menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat maupun di kalangan internal organisasi.Ia menegaskan bahwa seluruh pernyataan resmi organisasi hanya disampaikan melalui saluran komunikasi yang telah ditetapkan oleh Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB.Melalui klarifikasi tersebut, TPNPB berharap seluruh pihak dapat lebih selektif dalam menyaring informasi yang beredar di media sosial dan tidak mudah terpengaruh oleh unggahan yang sumbernya belum terverifikasi. Pernyataan itu sekaligus menjadi penegasan bahwa akun Facebook yang disebutkan dalam klarifikasi tersebut tidak mewakili sikap resmi organisasi dan tidak memiliki kewenangan untuk menyampaikan pernyataan atas nama TPNPB. (GF) 03 Jun 2026, 09:05 WIT
DAD Mimika Soroti Minimnya Peluang Kerja OAP Papuanewsonline.com, Mimika - Dewan Adat Daerah (DAD) Kabupaten Mimika menyoroti persoalan ketenagakerjaan yang terus menjadi keluhan utama masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP) dan pencari kerja lokal. Menurut DAD, berbagai aksi penyampaian aspirasi yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan adanya persoalan mendasar yang belum terselesaikan di daerah yang menjadi pusat industri tambang terbesar di Indonesia tersebut.Berbagai forum, mulai dari rapat dengar pendapat, aksi damai hingga demonstrasi di DPRK Mimika, dinilai memperlihatkan tuntutan yang sama dari masyarakat, yakni adanya keberpihakan yang lebih nyata terhadap tenaga kerja lokal. DAD menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak boleh lagi dianggap sebagai agenda rutin tahunan tanpa solusi yang jelas.Dalam pernyataan opininya, DAD Mimika menyebut masyarakat mulai mempertanyakan sejauh mana kewibawaan Pemerintah Kabupaten Mimika dalam memastikan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di daerah tersebut benar-benar memberikan prioritas kepada tenaga kerja lokal.Menurut DAD, kondisi ini muncul karena di satu sisi perusahaan-perusahaan besar, kontraktor, dan subkontraktor yang beroperasi di lingkungan PT Freeport Indonesia terus melakukan perekrutan tenaga kerja. Namun di sisi lain, jumlah pencari kerja lokal yang belum mendapatkan kesempatan kerja juga terus bertambah dari tahun ke tahun."Tentu DAD tidak mengatakan bahwa PT Freeport Indonesia adalah negara dalam negara. Namun yang dirasakan masyarakat hari ini adalah adanya jarak yang sangat besar antara kebutuhan tenaga kerja lokal dengan mekanisme perekrutan yang berjalan."DAD juga mempertanyakan sejumlah persoalan yang dinilai perlu dijawab secara terbuka oleh semua pihak. Mulai dari minimnya akses informasi lowongan kerja bagi masyarakat lokal, efektivitas penggunaan dana Otonomi Khusus untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia Papua, hingga belum optimalnya sinkronisasi antara kebutuhan industri dengan program pelatihan tenaga kerja yang diselenggarakan pemerintah daerah.Di sisi lain, DAD mengakui bahwa pemerintah daerah, khususnya Dinas Tenaga Kerja, berada dalam posisi yang tidak mudah. Pemerintah harus menjawab tuntutan masyarakat sekaligus berhadapan dengan standar industri yang tinggi dan sistem perekrutan perusahaan yang berjalan secara mandiri. Meski demikian, DAD menegaskan masyarakat tidak boleh terus menjadi korban dari ketidaksinkronan tersebut.DAD Mimika juga menyinggung pelaksanaan Forum Strategis Percepatan Pembangunan Papua yang baru-baru ini digelar di Timika dan dihadiri enam gubernur serta puluhan kepala daerah se-Tanah Papua. Menurut DAD, semangat "Satu Dalam Enam, Enam Dalam Satu" harus diwujudkan dalam bentuk nyata, terutama melalui peningkatan kesempatan kerja bagi anak-anak Papua. "Bukankah ukuran keberhasilan Otsus bukan hanya banyaknya forum dan rapat yang dilaksanakan, melainkan berapa banyak anak Papua yang bekerja dan hidup sejahtera di atas tanahnya sendiri?"Sebagai langkah konkret, DAD Mimika menyatakan akan membuka pendataan dan konsolidasi pencari kerja Orang Asli Papua serta masyarakat lokal yang memenuhi persyaratan kerja. Data tersebut akan digunakan sebagai dasar komunikasi dengan perusahaan-perusahaan kontraktor, subkontraktor, dan mitra usaha di lingkungan PT Freeport Indonesia guna memperjuangkan akses kerja yang lebih luas. DAD menegaskan investasi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat adat, karena "Papua tidak membutuhkan lebih banyak janji. Papua membutuhkan lebih banyak kesempatan kerja. Papua tidak membutuhkan lebih banyak slogan. Papua membutuhkan keberpihakan yang nyata. Dan keberhasilan Otsus akan dinilai dari seberapa banyak anak Papua yang bekerja, bukan dari seberapa banyak rapat yang diselenggarakan." (GF) 03 Jun 2026, 08:54 WIT
Kuasa Hukum Debitur Somasi Adira Finance, Penarikan Kendaraan Disebut Langgar Putusan MK Papuanewsonline.com, Timika – Kuasa hukum Hamida Kameyau, Hendra Jamaay, S.H., melayangkan teguran keras kepada Adira Finance Kantor Cabang Mimika terkait penarikan sepihak kendaraan milik kliennya yang menunggak kredit selama 3 bulan.Menurut Hendra, penarikan kendaraan oleh kreditur tidak bisa dilakukan sepihak, melainkan harus berdasarkan kesepakatan atau putusan pengadilan. “Penarikan kendaraan terhadap klien kami melanggar prosedur sebagaimana amanat Putusan Mahkamah Konstitusi No. 18/PUU-XVII/2019 dan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 71/PUU-XIX/2021,” tegas Hendra dalam keterangan tertulis pada media Papuanewsonline,com. (2/6/2026).Belum Masuk Kategori Macet  Hendra menyebut alasan Adira Finance menarik kendaraan karena tunggakan 3 bulan tidak berdasar. Ia merujuk Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 40/POJK.03/2019 yang mengatur kredit baru masuk kategori macet jika menunggak 121–180 hari atau 6 bulan.“Alasan Adira Finance menarik kendaraan dari klien kami karena tunggakan kredit 3 bulan adalah tindakan tidak berdasar dan menabrak POJK No. 40/2019,” ujarnya.Somasi Sudah Dilayangkan  Pihaknya mengaku sudah melayangkan somasi kepada Adira Finance Timika sejak 25 Mei 2026 dan meminta perusahaan mematuhinya.“Kami mengingatkan Adira Finance Timika agar melaksanakan somasi yang telah kami layangkan,” kata Hendra.Imbauan ke Masyarakat  Hendra juga mengimbau warga Mimika agar tidak langsung menyerahkan kendaraan jika didatangi kolektor, apalagi tunggakan belum masuk kategori macet. “Jika didatangi kolektor menarik kendaraan agar tidak langsung menyerahkannya jika belum mendapat peringatan secara tertulis dari perusahaan leasing atau lembaga pembiayaan,” pesannya.Hingga berita ini rilis, belum ada keterangan resmi dari Adira Finance Kantor Cabang Mimika terkait somasi tersebut. Penulis: Hendrik Editor: GF 03 Jun 2026, 08:50 WIT
Penamatan Santri Angkatan II Ponpes Ahsanul Ulum, Kemenag & Pemkab Apresiasi Peran Pesantren Papuanewsonline.com, Mimika — Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Ahsanul Ulum menggelar acara penamatan santri dan santriwati Angkatan II Tahun 2026 di Mimika, Senin (02/06/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi para santri yang telah menyelesaikan pendidikan di pesantren untuk melanjutkan perjalanan akademik ke jenjang yang lebih tinggi.Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mimika, Gabriel Rettobyaan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelepasan santri bukan sekadar acara perpisahan, melainkan langkah awal menuju masa depan yang lebih luas.Menurutnya, para santri diharapkan mampu menjadi generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia, berilmu, mandiri, serta mampu menjadi teladan di tengah masyarakat. Ia juga memberikan apresiasi kepada para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada pondok pesantren."Pesantren memiliki peran besar dalam membentuk sumber daya manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesederhanaan, solidaritas, kemandirian, serta pengendalian diri menjadi bagian penting dalam proses pendidikan di pesantren," ujarnya.Ia menambahkan, penguatan iman menjadi fondasi utama dalam membangun karakter generasi muda agar mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa mendatang.Sementara itu, Bupati Mimika yang diwakili Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Fransiskus Bokeyau, menyampaikan apresiasi kepada pimpinan pondok pesantren, Yayasan Papua Cerdas Insani, para ustaz, dan ustazah yang telah dengan tulus dan penuh dedikasi mendidik generasi muda.Ia menilai keberhasilan menamatkan para santri merupakan bukti nyata kontribusi pesantren dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia yang cerdas, berakhlak mulia, berintegritas, serta memiliki fondasi keimanan yang kuat."Kepada para santri, penamatan ini bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju masa depan. Ilmu dan nilai-nilai yang diperoleh selama berada di pesantren hendaknya menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan dan mengamalkan kebaikan di tengah masyarakat," katanya.Pemerintah Kabupaten Mimika berharap para lulusan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Ahsanul Ulum dapat tumbuh menjadi generasi muda yang cerdas, santun, menghargai perbedaan, serta mampu berkontribusi bagi kemajuan daerah dan bangsa.Dalam sambutan tersebut juga ditegaskan bahwa di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama di Mimika, pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang toleran, cinta damai, dan mampu menjadi perekat persaudaraan.Pemerintah Kabupaten Mimika turut menyampaikan penghargaan kepada para orang tua yang telah memilih pendidikan berbasis karakter dan agama bagi anak-anak mereka. Pendidikan tersebut dinilai sebagai investasi terbaik untuk membangun masa depan yang cerah dan penuh keberkahan.Melalui sinergi antara pemerintah dan lembaga keagamaan, Pemkab Mimika berkomitmen terus mendukung penguatan pendidikan agama dan pembinaan karakter sebagai bagian dari upaya mewujudkan Mimika yang aman, cerdas, dan sejahtera.Acara penamatan berlangsung khidmat dan penuh haru, menjadi momen berharga bagi para santri, orang tua, serta seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Ahsanul Ulum. Penulis: Bim Editor: GF 03 Jun 2026, 08:35 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT