Papuanewsonline.com
BERITA Pendidikan & Kesehatan
Homepage
Pemkab Boven Digoel Ingatkan Bahaya KBGO, Dorong Remaja Bijak di Ruang Digital
Papuanewsonline.com, Boven Digoel - Pemerintah Kabupaten Boven Digoel mendorong anak dan remaja untuk cerdas dan beretika dalam bermedia digital di tengah maraknya ancaman Kekerasan Berbasis Gender Online KBGO.Peringatan itu disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Boven Digoel, Fabiasnus Sabi, S.Sos., MM saat membuka kegiatan Literasi Digital bertema "Kekerasan Berbasis Gender Online" dalam rangka Hari Remaja Internasional, di Boven Digoel, Rabu, 12 Agustus 2026.Fabiasnus yang mewakili Bupati Boven Digoel mengapresiasi Lembaga Advokasi Peduli Perempuan Kabupaten Merauke, We Speak Up, dan Tim Literasi Digital Fokus Anak Boven Digoel sebagai penyelenggara kegiatan.Manfaat Besar, Risiko NyataMenurut Fabiasnus, digitalisasi memberi manfaat signifikan bagi pelajar: mendukung proses belajar, memperluas komunikasi, hingga membuka akses informasi dan ruang kreativitas.Namun, di balik itu, risiko kekerasan digital mengintai anak dan remaja."Kekerasan berbasis gender online dapat menimpa anak dan remaja dalam berbagai bentuk, seperti pelecehan melalui media sosial, penghinaan, ancaman, penyebaran foto atau video pribadi tanpa persetujuan, pemerasan seksual, perundungan siber hingga berbagai bentuk eksploitasi di ruang digital," ujar Fabiasnus.Ia menegaskan, dampak KBGO kerap tidak kasat mata, tetapi merusak rasa aman, kepercayaan diri, pendidikan, relasi sosial, hingga masa depan korban.Ruang Digital Bukan Ruang Tanpa Tanggung JawabFabiasnus menekankan, aktivitas di dunia maya adalah bagian dari kehidupan nyata yang memiliki konsekuensi hukum dan sosial.Kepada peserta, ia berpesan agar tidak sekadar mahir mengoperasikan gawai, tetapi menjadi pengguna yang bijak, aman, kritis, dan beretika."Jangan takut untuk mengatakan tidak terhadap segala bentuk kekerasan dan pelecehan di ruang digital. Jangan mudah percaya kepada orang yang baru dikenal melalui internet. Jagalah data pribadi dan informasi yang bersifat sensitif serta pikirkan baik-baik sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu," tegasnya.Ia meminta korban atau saksi KBGO untuk tidak diam dan segera melapor kepada orang dewasa yang dipercaya, guru, orang tua, pendamping, atau aparat berwenang."Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Meminta bantuan adalah bentuk keberanian untuk melindungi diri," katanya.Seruan untuk Orang Tua dan Pemangku KepentinganFabiasnus juga meminta orang tua tidak hanya melarang penggunaan gawai, melainkan aktif mendampingi dan membangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman untuk bercerita.Pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, dunia usaha, dan komunitas diminta bersinergi membangun ekosistem digital yang aman, sehat, inklusif, dan ramah anak."Anak dan remaja bukan hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi generasi penerus sekaligus bagian penting dari pembangunan daerah dan bangsa," ujarnya.Peringatan Hari Remaja Internasional, kata dia, harus menjadi momentum memastikan anak dan remaja Boven Digoel tumbuh aman di dunia nyata maupun digital, mendapat pendidikan berkualitas, serta terlindungi dari kekerasan dan diskriminasi."Jadikan teknologi sebagai sarana untuk belajar, berkarya, berprestasi dan membangun masa depan yang lebih baik," pungkas Fabiasnus.Penulis: MuhtarEditor: OF
12 Agu 2026, 19:06 WIT
Polri dan Kemenkeu Kolaborasi Persiapkan Keberangkatan Penerima Beasiswa LPDP Angkatan ke-280
Papuanewsonline.com, Jakarta – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) berkolaborasi dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia dalam mendukung penguatan kualitas sumber daya manusia unggul. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK) Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Angkatan ke-280 di Sekolah Bahasa Lemdiklat Polri, Jakarta, Tanggal 10 hingga 15 Agustus 2026.Kegiatan pembekalan ini diikuti 230 peserta yang terdiri dari 119 peserta laki-laki dan 111 peserta perempuan. Para peserta merupakan calon mahasiswa jenjang magister dan doktor yang telah berhasil melewati tahapan seleksi dan bersiap melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi terkemuka, baik nasional maupun internasional.Kerja sama lintas kementerian/lembaga antara Polri dan Kemenkeu tersebut diwujudkan melalui penguatan wawasan kebangsaan serta pembekalan karakter kepemimpinan dan kedisiplinan. Rangkaian program dirancang untuk memastikan para awardee memiliki ketahanan mental, wawasan kebangsaan, dan nasionalisme yang kokoh.Kalemdiklat Polri Komjen Pol Drs. R.Z Panca Putra S. M.Si. mengatakan keterlibatan Polri dalam program LPDP merupakan bentuk komitmen penuh Polri dalam mengawal program prioritas pemerintah menuju Indonesia Emas.“Melalui lingkungan kedisiplinan di Lembaga Pendidikan Polri, termasuk di Sekolah Bahasa Polri, para peserta dibentuk agar tidak hanya siap secara akademis, tetapi juga mampu bertindak sebagai duta bangsa yang membawa nilai-nilai integritas, berkarakter kebangsaan, cinta tanah air, dan mampu menjadi agen perubahan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 sesuai Astacita,” ujar Panca dalam Keterangannya, Selasa, (11/08).Dengan penyelenggaraan kegiatan Persiapan Keberangkatan ini, para peserta diharapkan siap menempuh studi dengan semangat nasionalisme dan cinta tanah air serta kembali membawa kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan negara di masa mendatang. PNO-12
12 Agu 2026, 14:20 WIT
Fasilitasi Pelajar SMA Laboratorium Unpatti, Polda Maluku: Kasus Narkoba Jadi Bahan Riset
Papuanewsonline.com, Ambon - Upaya membangun generasi muda yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial di lingkungannya terus mendapat dukungan Kepolisian Daerah (Polda) Maluku.Salah satunya melalui fasilitasi pengambilan data terkait perkembangan kasus narkotika di Kota Ambon bagi siswa SMA Laboratorium Universitas Pattimura (Unpatti) yang tengah mengembangkan riset mata pelajaran Informatika dengan memanfaatkan machine learning berbasis time seriesSebanyak 25 siswa kelas XII SMA Laboratorium Unpatti, didampingi Guru Mata Pelajaran Informatika Chrissandy Sapulete, S.Math., M.Cs., melakukan pengambilan data di Direktorat Reserse Narkoba Polda Maluku, Selasa (11/8/2026).Riset tersebut mengangkat judul “Prediksi Kasus Penyalahgunaan Narkotika di Kota Ambon Menggunakan Metode Time Series.”Data yang dibutuhkan dalam penelitian antara lain perkembangan jumlah kasus narkoba, jumlah tersangka, barang bukti, jenis narkotika yang paling banyak digunakan, serta data rehabilitasi dalam kurun waktu lima tahun terakhiPenggunaan data historis tersebut diharapkan dapat membantu para siswa memahami pola perkembangan kasus narkotika dari waktu ke waktu, sekaligus menjadi bahan pembelajaran untuk mengembangkan model prediksi menggunakan teknologi machine learning.mendamping yang juga merupakan Guru Mata Pelajaran Informatika SMA Laboratorium Unpatti, Chrissandy Sapulete, S.Math., M.Cs., mengatakan penelitian tersebut dirancang agar pembelajaran Informatika tidak berhenti pada teori maupun kemampuan teknis pemrograman, tetapi dapat diarahkan untuk membaca dan memahami persoalan nyata yang terjadi di masyarakat.“Tujuan kami mengambil data lima tahun terakhir adalah agar siswa memiliki data historis yang cukup untuk melihat bagaimana perkembangan kasus narkotika di Kota Ambon dari waktu ke waktu. Data tersebut kemudian akan kami gunakan sebagai bahan pembelajaran untuk menerapkan metode time series dan machine learning dalam melakukan analisis serta prediksi,” ujarnya.Menurutnya, penelitian tersebut sekaligus menjadi sarana bagi siswa untuk memahami bahwa teknologi dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan sosial.“Jadi siswa tidak hanya belajar coding atau membuat program, tetapi juga belajar bagaimana data dapat digunakan untuk memahami suatu masalah. Dalam konteks penelitian ini, mereka belajar melihat persoalan narkoba secara objektif melalui data,” jelasnya.Lebih jauh, Chrissandy menegaskan bahwa penelitian tersebut juga memiliki tujuan edukatif yang lebih luas, yakni memperkenalkan kepada generasi muda mengenai dampak dan bahaya penyalahgunaan narkotika.“Kami ingin anak-anak memahami bahwa narkoba bukan sekadar persoalan hukum, tetapi juga persoalan masa depan generasi muda. Dengan mengetahui perkembangan kasus dan dampaknya, kami berharap muncul kesadaran untuk menjauhi narkoba sekaligus memiliki kepedulian untuk ikut mencegah penyalahgunaannya,” katanya.Ia menambahkan, keterlibatan Polda Maluku dalam memberikan akses terhadap data yang dapat digunakan untuk kepentingan pendidikan menjadi pengalaman penting bagi para siswa.“Kami mengapresiasi Polda Maluku karena memberikan ruang kepada siswa untuk belajar langsung dari sumber data yang relevan. Ini merupakan pengalaman yang sangat berarti karena mereka dapat menghubungkan pelajaran Informatika dengan persoalan nyata yang ada di lingkungan mereka,” pungkasnya.Direktur Reserse Narkoba Polda Maluku Kombes Pol. Indra Gunawan, S.I.K., M.H, menyambut baik kegiatan penelitian yang dilakukan para pelajar tersebut.Menurutnya, pemanfaatan data untuk kepentingan pendidikan merupakan langkah positif dalam membangun budaya literasi sekaligus meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai ancaman penyalahgunaan narkotika.“Kami menyambut baik kegiatan penelitian ini. Anak-anak muda harus diberikan pemahaman bahwa data bukan hanya angka, tetapi dapat menjadi informasi penting untuk memahami suatu persoalan dan mencari solusi,” ujar Indra.Ia mengatakan, data perkembangan kasus narkotika dalam kurun waktu tertentu dapat digunakan untuk melihat kecenderungan atau pola yang selanjutnya menjadi bahan analisis akademik.“Melalui penelitian ini, siswa belajar melihat perkembangan persoalan narkotika secara lebih objektif. Mereka dapat mempelajari bagaimana suatu pola terbentuk dari data, kemudian menggunakan teknologi untuk melakukan analisis dan prediksi,” jelasnya.Namun demikian, Indra menegaskan bahwa pemanfaatan data untuk kepentingan pendidikan tetap harus memperhatikan ketentuan yang berlaku, khususnya menyangkut informasi yang bersifat pribadi, rahasia penyidikan, dan data yang tidak dapat dipublikasikan.“Data yang diberikan tentunya disesuaikan dengan ketentuan dan kepentingan penelitian. Kami harus memastikan bahwa aspek perlindungan data, kerahasiaan, dan ketentuan hukum tetap menjadi perhatian,” tegasnya.Dir Narkoba juga menilai kegiatan tersebut dapat menjadi bentuk kolaborasi preventif antara kepolisian dan dunia pendidikan.“Pemberantasan narkoba tidak cukup hanya dengan penindakan. Pencegahan dan edukasi harus dimulai sejak dini. Ketika pelajar sudah memahami bahaya narkoba dan mampu melihat persoalan tersebut berdasarkan data, maka mereka memiliki bekal yang lebih kuat untuk melindungi diri dan lingkungannya,” tuturnya.Sementara itu Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Rositah Umasugi, S.I.K., mengatakan, keterlibatan pelajar dalam penelitian mengenai narkotika menunjukkan bahwa generasi muda dapat mengambil peran dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba.“Generasi muda jangan hanya ditempatkan sebagai objek dalam persoalan narkoba. Mereka harus kita dorong menjadi bagian dari solusi. Salah satunya dengan memberikan ruang untuk belajar, meneliti, memahami data, dan melihat persoalan narkotika secara lebih kritis,” kata Rositah.Menurutnya, perkembangan teknologi digital harus dimanfaatkan untuk membangun kesadaran generasi muda terhadap berbagai persoalan yang mengancam masa depan mereka.“Teknologi harus digunakan untuk hal-hal yang produktif. Ketika machine learning digunakan untuk membaca perkembangan kasus narkoba, maka teknologi tersebut bukan hanya menjadi alat pembelajaran, tetapi juga menjadi sarana membangun kepedulian sosial,” ujarnya.Rositah menilai riset yang dilakukan siswa SMA Laboratorium Unpatti juga menjadi conth bahwa literasi digital dapat berjalan beriringan dengan literasi sosial dan hukm.“Anak-anak kita perlu memiliki kemampuan membaca data sekaligus memahami konteks di balik data tersebut. Mereka harus tahu bahwa di balik angka kasus narkoba terdapat persoalan manusia, keluarga, kesehatan, pendidikan, keamanan, dan masa depan generasi bangsa,” jelasnya.Ia menambahkan, Polda Maluku terus membuka ruang kolaborasi dengan dunia pendidikan sebagai bagian dari pendekatan preventif dalam menjaga generasi muda dari ancaman narkotika.“Pencegahan narkoba adalah tanggung jawab bersama. Polri tidak bisa bekerja sendiri. Sekolah, keluarga, perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan terutama generasi muda harus bergerak bersama. Edukasi dan literasi adalah investasi jangka panjang untuk menyelamatkan generasi,” tegasnya.Riset siswa SMA Laboratorium Unpatti tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai tugas akademik, tetapi dapat menjadi pengalaman awal bagi generasi muda untuk memahami bagaimana data science dan artificial intelligence dapat digunakan untuk menganalisis persoalan publik.Dengan menggunakan data historis lima tahun, para siswa diharapkan mampu mengidentifikasi pola perkembangan kasus penyalahgunaan narkotika di Kota Ambon dan mengolahnya menjadi model prediksi sesuai metode yang digunakan dalam penelitian.Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran teknologi di sekolah dapat diarahkan untuk menjawab persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.Di sisi lain, bagi Polda Maluku, keterlibatan dunia pendidikan dalam memahami persoalan narkotika menjadi bagian penting dari upaya membangun kesadaran preventif sejak usia sekolah.Sebab, perang melawan narkoba tidak hanya dilakukan melalui operasi dan penegakan hukum, tetapi juga melalui pengetahuan, pendidikan, literasi, teknologi, dan keterlibatan generasi muda.Dari ruang kelas, data dapat diolah menjadi pengetahuan. Dari pengetahuan, lahir kesadaran. Dan dari kesadaran, diharapkan tumbuh generasi muda yang mampu mengatakan tidak pada narkoba sekaligus menjadi bagian dari solusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat.Polda Maluku pun menegaskan komitmennya untuk terus membangun kolaborasi dengan dunia pendidikan dalam menghadirkan berbagai inovasi pencegahan narkoba, termasuk mendorong pemanfaatan teknologi dan data sebagai instrumen edukasi bagi generasi muda. PNO-12
12 Agu 2026, 13:53 WIT
Skandal LPTQ Mimika Terbongkar! Pemuda Muslim Ngamuk, Desak Bupati Copot Ketua Sekarang Juga
Papuanewsonline.com, Mimika - Gelombang kekecewaan terhadap kepemimpinan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Mimika memuncak. Bupati Mimika didesak segera melakukan evaluasi total dan mencopot Ketua LPTQ Kabupaten Mimika yang dinilai telah mencederai marwah dan kredibilitas lembaga penjaga generasi Qur'ani tersebut.Desakan keras ini disuarakan oleh Ketua Pemuda Muslim Mimika, Arifin Letsoen. Ia menegaskan, LPTQ bukan milik segelintir orang dan bukan panggung kepentingan pribadi. LPTQ adalah amanah umat."LPTQ memiliki peran vital membina, mengembangkan, dan mewadahi generasi muda Qur'ani. Setiap kebijakan harus menjunjung tinggi keadilan, transparansi, profesionalitas, dan nilai-nilai Al-Qur'an itu sendiri. Fakta di lapangan, yang terjadi justru sebaliknya," tegas Arifin.Arifin menyoroti carut-marut dalam proses pembinaan hingga pengiriman peserta MTQ yang mengabaikan hak para pejuang Qur'an. Ada indikasi kuat kepentingan tertentu telah mengalahkan hak peserta yang telah berjuang mengharumkan nama Kabupaten Mimika."Jangan sampai keringat dan air mata anak-anak kita yang berprestasi diinjak-injak oleh kepentingan elit LPTQ. Ini penghinaan terhadap perjuangan generasi Qur'ani!" kecamnya.Ia memperingatkan Bupati Mimika agar tidak tutup mata. Jika dibiarkan, LPTQ akan kehilangan kepercayaan umat sepenuhnya."Kami meminta dengan tegas kepada Bupati Mimika untuk segera evaluasi kinerja dan kepemimpinan Ketua LPTQ, kembalikan LPTQ ke khitahnya, dan ambil langkah tegas termasuk mengganti ketuanya," tandasnya."Kami tidak menyerang pribadi siapa pun. Kami sedang menjaga marwah lembaga, menjaga kepercayaan umat, dan memperjuangkan keadilan bagi anak-anak muda yang mengabdikan hidupnya untuk Al-Qur'an," Pungkasnya.Penulis: HendrikEditor: OF
11 Agu 2026, 07:32 WIT
Sekolah Nasional Terintegrasi, Wujud Negara Hadirkan Pendidikan Berkualitas hingga Pelosok Negeri
Papuanewsonline.com, Bogor - Komitmen negara dalam menghadirkan pendidikan berkualitas hingga ke pelosok negeri diwujudkan melalui peluncuran Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT).Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman menghadiri langsung peluncuran Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Bogor sekaligus membuka secara resmi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran Baru, Senin (10/8).Peluncuran SNT 7 Bogor ini menjadi momen bersejarah karena dilakukan secara serentak bersama 16 Sekolah Nasional Terintegrasi lainnya yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Peluncuran serentak tersebut menandai dimulainya operasional SNT angkatan pertama di seluruh Indonesia.Dalam sambutannya, KSP menegaskan bahwa kehadiran SNT memiliki makna yang jauh lebih besar dari sekadar pembangunan fisik sekolah."SNT bukan sekadar pembangunan sekolah, tetapi merupakan intervensi strategis negara untuk menghadirkan pendidikan berkualitas dan memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-cita," ujar Dudung.Program SNT dirancang sebagai model sekolah unggulan yang terintegrasi, yang diharapkan mampu memangkas kesenjangan kualitas pendidikan antar wilayah dan memberikan akses yang setara bagi seluruh anak bangsa, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil.Lebih lanjut, KSP memastikan akan terus mengawal keberlangsungan program prioritas Presiden ini.Kantor Staf Presiden (KSP) akan terus mengawal pelaksanaan Program SNT bersama kementerian terkait, pemerintah daerah, pihak sekolah, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan berbagai hambatan di lapangan dapat segera diurai dan program berjalan optimal.Pemerintah menegaskan, pembangunan SNT merupakan bagian dari visi besar pembangunan sumber daya manusia.Karena pendidikan adalah investasi untuk masa depan bangsa.Editor: OF
10 Agu 2026, 18:07 WIT
VIRAL - SKANDAL MTQ PAPUA TENGAH: Juara I Dibuang, Juara II Melenggang ke Nasional - Iskandar Diblok
Papuanewsonline.com, Mimika - Dunia MTQ Papua Tengah tercoreng. Sebuah kejanggalan fatal terjadi di tubuh LPTQ. Iskandar, Juara I MTQ Tingkat Provinsi Papua Tengah, justru dicoret dari daftar peserta MTQ Nasional di Semarang. Ironisnya, Juara II yang diberangkatkan.Prestasi tertinggi dibalas dengan pemblokiran nomor telepon. Ini bukan sekadar soal anggaran, ini soal keadilan dan transparansi lembaga keagamaan.Kepada media ini, Iskandar membongkar kronologi carut-marutnya LPTQ Kabupaten Mimika.ALASAN PLIN-PLAN: DARI TIDAK ADA ANGGARAN JADI PENDAFTARAN TUTUPKejadian bermula 4 Juli. Ketua LPTQ Kabupaten Mimika menelepon Iskandar."Alasannya tidak tersedia anggaran, dan pihak provinsi juga tidak memiliki anggaran untuk memberangkatkan peserta dari luar daerah," ujar Iskandar.Namun, fakta di lapangan berkata lain. Dua peserta lain bernama Desi dan Muhammad (Pak Aji) yang disebut sebagai Juara II tetap diberangkatkan ke Semarang."Penjelasan yang saya dapat, mereka bisa berangkat karena biayanya ditanggung oleh daerah masing-masing," ungkapnya.Demi nama baik Mimika dan Papua Tengah, Iskandar bahkan menyatakan siap berangkat dengan biaya sendiri."Orang tua, istri, anak-anak saya di Bima sudah bangga. Saya bilang, Bismillah, saya berangkat biaya sendiri," tegasnya.Namun pada 5 Juli, saat ia menawarkan opsi biaya mandiri, alasan LPTQ Mimika tiba-tiba berubah 180 derajat."Jawabannya bukan soal anggaran lagi, tapi pendaftaran sudah ditutup tanggal 31," beber Iskandar.4 KEJANGGALAN YANG WAJIB DIJAWAB LPTQ MIMIKA & PROVINSI PAPUA TENGAHKasus ini menyisakan 4 pertanyaan besar yang menjadi sorotan publik dan wajib dijawab secara tertulis oleh LPTQ:1. KENAPA JUARA I TIDAK DIBERANGKATKAN?Ini adalah pelanggaran logika MTQ. Dalam aturan mana pun, Juara I adalah wakil mutlak provinsi ke tingkat nasional. Mengapa hak Iskandar sebagai Juara I justru dihilangkan tanpa SK resmi?2. JIKA ALASAN ANGGARAN, KENAPA JUARA II BISA BERANGKAT?Jika Kabupaten Mimika dan Provinsi Papua Tengah beralasan tidak ada anggaran, lalu mengapa Juara II bisa melenggang ke Semarang? Apakah anggaran hanya tidak ada untuk Juara I?3. JIKA JUARA II BERANGKAT BIAYA SENDIRI, KENAPA JUARA I TIDAK DIBERI INFO SEBELUM PENDAFTARAN TUTUP?Ini yang paling menyakitkan. Jika memang skemanya biaya mandiri, mengapa Juara I tidak pernah diinformasikan sejak awal untuk opsi yang sama? Mengapa informasi itu baru muncul setelah pendaftaran ditutup pada tanggal 31? Ada unsur kesengajaan membiarkan Juara I gugur demi meloloskan Juara II?4. BENARKAH LPTQ MIMIKA MEMAKAI QORI IMPOR DARI LUAR PAPUA TENGAH?Informasi yang dihimpun media ini, LPTQ Kabupaten Mimika menggunakan qori-qoriah dari luar Papua Tengah untuk ajang provinsi. Jika benar, lalu setelah juara tidak diberangkatkan, di mana letak pembinaan generasi Qur'ani asli Papua Tengah? Apakah MTQ hanya jadi ajang sewa-menyewa juara?Iskandar menegaskan, ia datang ke Papua Tengah bukan atas kemauan pribadi. Ia didatangkan atas permintaan dan kepercayaan LPTQ Mimika, rela meninggalkan istri, anak, dan keluarga selama 17 hari."Jika memang sejak awal saya tidak bisa diberangkatkan, seharusnya ada penjelasan terbuka, jelas, dan tertulis. Bukan setelah saya tahu ada peserta lain yang berangkat," tegasnya.MINTA SURAT RESMI, MALAH DIBLOKIRPuncak arogansi terjadi pada 7 Juli. Saat Iskandar meminta surat resmi tertulis tentang alasan pencoretannya, nomornya justru DIBLOKIR oleh Ketua LPTQ Kabupaten Mimika."Sebagai lembaga yang membawa nama LPTQ, seharusnya setiap persoalan diselesaikan dengan komunikasi yang baik, terbuka, profesional, dan berlandaskan aturan. Bukan dengan memblokir," sesalnya.Iskandar kini secara resmi menuntut:1. Klarifikasi tertulis alasan Juara I tidak diutus. 2. Bukti valid penutupan pendaftaran tanggal 31. 3. Surat Keputusan resmi dari LPTQ Provinsi Papua Tengah. 4. Mekanisme penetapan peserta yang berangkat ke nasional. 5. Penjelasan statusnya sebagai Juara I. Ia juga meminta datanya sebagai kafilah Mimika dicabut jika memang sudah tidak dianggap."MTQ bukanlah hajatan pribadi. Ini agenda agama negara. Jangan nodai dengan ketidakadilan," pungkasnya.Hingga berita ini naik, Ketua LPTQ Kabupaten Mimika dan Ketua LPTQ Provinsi Papua Tengah belum memberikan klarifikasi resmi.Penulis: HendrikEditor: OF
09 Agu 2026, 23:28 WIT
EKSKLUSIF - Juara I MTQ Papua Tengah Tidak Diutus ke Nasional, Iskandar: Saya Diblokir
Papuanewsonline.com, Mimika - Prestasi sebagai Juara I Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Provinsi Papua Tengah justru berbuah kekecewaan mendalam bagi Iskandar. Alih-alih mewakili Papua Tengah ke MTQ Tingkat Nasional di Semarang, haknya sebagai juara I diduga diganjal tanpa kejelasan dan tanpa surat resmi dari Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Mimika.Kepada media ini, Iskandar mengungkapkan kronologi yang menurutnya janggal, tidak transparan, dan tidak profesional.Kekecewaan itu bermula pada 4 Juli lalu. Iskandar mengaku dihubungi via telepon oleh Ketua LPTQ Kabupaten Mimika. Tanpa pemberitahuan tertulis sebelumnya, ia diberitahu tidak akan diutus ke tingkat nasional."Alasannya tidak tersedia anggaran, dan pihak provinsi juga tidak memiliki anggaran untuk memberangkatkan peserta dari luar daerah," ujar Iskandar menirukan penjelasan Ketua LPTQ Mimika.Kejanggalan mulai tercium saat ia menanyakan nasib dua peserta lain, Desi dan Muhammad (Pak Aji). Keduanya ternyata tetap berangkat."Penjelasan yang saya dapat, mereka bisa berangkat karena biayanya ditanggung oleh daerah masing-masing," ungkap Iskandar.Merasa terpukul, Iskandar tidak menyerah. Demi membawa nama baik Kabupaten Mimika dan Papua Tengah, ia bahkan menyatakan siap berangkat dengan biaya pribadi."Orang tua, istri, anak-anak, keluarga, serta tokoh-tokoh agama di kampung halaman saya di Bima sudah tahu dan bangga. Saya katakan dalam hati, Bismillah, saya akan berangkat dengan biaya sendiri," tuturnya.Namun harapan itu kembali dipatahkan. Pada 5 Juli, saat ia menyampaikan niat untuk berangkat mandiri, alasan yang diberikan LPTQ Mimika berubah total."Jawaban yang saya terima justru membuat saya semakin kecewa. Dibilang persoalannya bukan anggaran, tetapi karena pendaftaran sudah ditutup pada tanggal 31 sebelumnya," beber Iskandar.Perubahan alasan inilah yang menjadi puncak persoalan."Jika memang pendaftaran telah ditutup, mengapa sejak awal tidak ada pemberitahuan resmi kepada saya sebagai Juara I? Jika memang sejak awal saya dinyatakan tidak bisa diberangkatkan, seharusnya ada penjelasan terbuka, jelas, dan tertulis. Bukan setelah saya tahu ada peserta lain yang berangkat," tegasnya.Iskandar menegaskan, ia dan peserta lainnya datang ke Papua Tengah bukan atas kemauan pribadi, melainkan atas permintaan dan kepercayaan dari LPTQ Kabupaten Mimika. Mereka rela meninggalkan keluarga dan aktivitas selama kurang lebih 17 hari untuk berjuang.Puncaknya, pada 7 Juli, Iskandar secara resmi meminta dibuatkan surat keterangan tertulis yang menjelaskan alasan dirinya sebagai Juara I tidak didaftarkan ke MTQ Nasional.Bukannya mendapat surat resmi, nomor teleponnya justru diblokir oleh Ketua LPTQ Kabupaten Mimika."Saya mempertanyakan sikap tersebut. Sebagai lembaga yang membawa nama LPTQ, setiap persoalan seharusnya diselesaikan melalui komunikasi yang baik, terbuka, profesional, dan berlandaskan aturan," sesalnya.Menurut Iskandar, MTQ bukanlah hajatan pribadi, melainkan agenda keagamaan negara untuk pembinaan generasi Qur'ani. Maka setiap keputusan harus transparan, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan.Melalui pernyataan resminya, Iskandar menuntut 5 hal kepada LPTQ Kabupaten Mimika:1. Memberikan klarifikasi resmi dan tertulis mengenai alasan tidak diutusnya Juara I ke tingkat nasional. 2. Menjelaskan kebenaran informasi penutupan pendaftaran pada tanggal 31. 3. Menjelaskan apakah ada surat atau keputusan resmi dari LPTQ Provinsi Papua Tengah terkait hal tersebut. 4. Menjelaskan dasar dan mekanisme penetapan peserta yang diberangkatkan ke nasional. 5. Memberikan penjelasan terbuka mengenai statusnya sebagai Juara I MTQ Provinsi Papua Tengah. Ia juga meminta agar datanya sebagai kafilah Kabupaten Mimika dicabut atau diperbarui apabila memang sudah tidak dianggap sebagai bagian dari kafilah."Saya menyampaikan ini bukan untuk protes semata. Saya hanya ingin memperjuangkan hak saya sebagai Juara I. Saya berharap ini jadi pelajaran agar ke depan tidak ada lagi peserta yang merasa diperlakukan tidak adil," pungkasnya.Hingga berita ini diturunkan, media ini masih berupaya melakukan konfirmasi kepada Ketua LPTQ Kabupaten Mimika dan LPTQ Provinsi Papua Tengah terkait pernyataan Juara I tersebut.Penulis: HendrikEditor: OF
09 Agu 2026, 22:59 WIT
946 Calon Taruna Kemenhub Jalani Madatukar Di Bandung, Dibekali Karakter Dan Kedisiplinan
Papuanewsonline.com, Bandung — Sebanyak 946 calon taruna perguruan tinggi di lingkungan Kementerian Perhubungan mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Masa Dasar Pembentukan Karakter (Madatukar) Batch 1 Tahun 2026 di Balai Pendidikan dan Pelatihan Pembangunan Karakter Sumber Daya Manusia Transportasi (BP3KSDMT), Bandung, Jawa Barat.Kegiatan yang berlangsung selama 14 hari tersebut menjadi tahap awal bagi para calon taruna sebelum memasuki kehidupan pendidikan di perguruan tinggi Kementerian Perhubungan. Mereka mengikuti berbagai pembelajaran dan praktik yang dirancang untuk membentuk karakter serta kebiasaan positif.Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP) Suharto membuka kegiatan Madatukar di Bandung pada Sabtu (8/8/2026). Ia mengatakan kegiatan tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun karakter calon taruna sebelum menjalani pendidikan secara penuh.Menurut Suharto, peserta perlu mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh karena berbagai nilai yang ditanamkan selama Madatukar akan menjadi bekal dalam perjalanan mereka sebagai calon sumber daya manusia transportasi.“Kedisiplinan, kemandirian, kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, serta pengendalian diri akan menjadi bekal penting dalam perjalanan kalian menjadi SDM transportasi,” ujar Suharto.Ia juga meminta para calon taruna memiliki semangat untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan. Sebab, kebutuhan sektor transportasi ke depan tidak hanya menuntut tenaga yang kompeten secara teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dan berinovasi.Suharto menilai generasi muda memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045. Karena itu, calon taruna diharapkan mampu membangun karakter yang disiplin, bertanggung jawab, adaptif, inovatif, serta memiliki kepedulian terhadap keselamatan dan keberlanjutan transportasi.Madatukar Batch 1 Tahun 2026 diikuti 727 calon taruna dan taruni Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang serta 219 calon taruna dan taruni Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal. Dari total peserta, sebanyak 794 orang merupakan laki-laki dan 152 orang perempuan.Direktur BP3KSDMT Eko Sudarmanto menjelaskan, pembentukan karakter dilakukan melalui perpaduan antara pembelajaran dan praktik. Para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga dilatih menerapkan kedisiplinan, tanggung jawab, komunikasi, dan kerja sama dalam berbagai aktivitas.Peserta juga diarahkan untuk mengenali potensi diri, meningkatkan kemampuan berinteraksi, memahami peran dalam kelompok, serta membangun sikap yang diperlukan selama menjalani kehidupan pendidikan di perguruan tinggi masing-masing.Materi Madatukar mencakup empat kompetensi soft skill, yakni manajemen diri atau intrapersonal, manajemen hubungan dengan orang lain atau interpersonal, manajemen organisasional, serta manajemen spiritual.Kegiatan tersebut berlangsung mulai 5 hingga 18 Agustus 2026 dengan total 168 jam pelajaran. Rinciannya terdiri atas 105 jam pelajaran materi dan 63 jam pelajaran praktik yang diberikan oleh tenaga pengajar dari unsur TNI AD, Polisi Wanita, widyaiswara, serta tenaga pendidik bersertifikasi BNSP.Pelaksanaan Madatukar mengacu pada Instruksi Menteri Perhubungan Nomor IM 8 Tahun 2024 tentang Reformasi Pola Pengasuhan Peserta Didik di Lingkungan Perguruan Tinggi Kementerian Perhubungan.Melalui kegiatan tersebut, BPSDMP menargetkan calon taruna memiliki fondasi karakter, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus belajar dan berinovasi sebelum menjalani pendidikan. Bekal itu diharapkan dapat mendorong lahirnya SDM transportasi yang mampu memberikan kontribusi bagi kebutuhan transportasi Indonesia di masa mendatang.Editor: OF
09 Agu 2026, 21:41 WIT
Hari Terakhir Pengabdian di Sekolah Rakyat, Taruna Akpol: Tanamkan Semangat Meraih Masa Depan
Papuanewsonline.com, Ambon - Pengabdian lima Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) di Sekolah Rakyat Ambon resmi berakhir, Jumat (7/8/2026). Namun, hari terakhir kegiatan tidak sekadar menjadi penutup rangkaian pembinaan, melainkan menjadi momentum untuk menanamkan karakter, membangun kepercayaan diri, dan menyalakan semangat para siswa dalam meraih masa depan.Selama berada di lingkungan Sekolah Rakyat, para Taruna Akpol tidak hanya hadir untuk berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun kedekatan dengan para siswa melalui bimbingan, motivasi, serta penguatan nilai-nilai kedisiplinan dan semangat belajar.Pada hari terakhir, para taruna memberikan motivasi sekaligus menyerahkan cenderamata sebagai bentuk apresiasi atas antusiasme dan semangat belajar para siswa. Kegiatan tersebut diikuti 85 siswa-siswi Sekolah Rakyat bersama jajaran dewan guru.Penutupan kegiatan dihadiri Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi, S.I.K., Dosen Madya Akpol Lemdiklat Polri AKBP Indra Heryanto, S.S., M.H., Wakapolsek Leihitu Ipda Johanis Darmapan, S.Tr.I.K., serta para Taruna Akpol dan jajaran guru.Lima Taruna Akpol yang melaksanakan pengabdian tersebut yakni Brigadir Kepala Taruna Sultan Pasha Ramadhan, Brigadir Kepala Taruna Andika Thariq Siraj Simatupang, Brigadir Kepala Taruna Achmad Rasya Rifai, Brigadir Kepala Taruna Teuku Satria Nurkholid, dan Brigadir Kepala Taruna Narendra Darma Salman Soumena.Dalam kesempatan tersebut, Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi, S.I.K., menekankan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang pencapaian akademik, tetapi juga tentang pembentukan karakter, keberanian bermimpi, kedisiplinan, serta kemampuan untuk bangkit menghadapi tantangan.Menurutnya, generasi muda harus dipersiapkan menjadi pribadi yang memiliki kepercayaan diri, integritas dan semangat untuk terus berkembang. Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting bagi mereka untuk menentukan masa depan sekaligus berkontribusi bagi kemajuan daerah dan bangsa.“Anak-anak harus berani bermimpi, percaya pada kemampuan diri sendiri dan tidak mudah menyerah. Pendidikan bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi juga tentang bagaimana kita membentuk karakter dan mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan,” ujar Rositah.Ia mengajak para siswa untuk menjadikan kesempatan belajar sebagai bagian dari proses mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitarnya.“Teruslah belajar, gali potensi diri dan jangan takut memiliki cita-cita yang tinggi. Masa depan Maluku dan Indonesia ada di tangan generasi muda. Karena itu, kalian harus mempersiapkan diri sejak sekarang dengan karakter yang kuat, disiplin dan semangat untuk terus maju,” pesannya.Kegiatan pengabdian ini juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter para Taruna Akpol sebagai calon perwira Polri. Kehadiran mereka di tengah lingkungan pendidikan memberikan pengalaman langsung mengenai pentingnya membangun komunikasi, empati dan kepedulian terhadap masyarakat.Bagi para taruna, interaksi dengan siswa Sekolah Rakyat menjadi ruang pembelajaran untuk memahami bahwa tugas kepolisian di masa depan tidak hanya berkaitan dengan penegakan hukum dan pemeliharaan keamanan, tetapi juga menyangkut bagaimana membangun kepercayaan dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.Karena itu, pengabdian di Sekolah Rakyat menjadi pengalaman yang mempertemukan dua proses pembentukan karakter sekaligus: para siswa didorong untuk memiliki disiplin dan optimisme dalam mengejar masa depan, sementara para Taruna Akpol belajar memahami kebutuhan serta harapan generasi muda.Pada penghujung kegiatan, Dosen Madya Akpol AKBP Indra Heryanto bersama perwakilan Taruna Akpol menyerahkan cenderamata kepada Kepala Sekolah Rakyat sebagai simbol apresiasi dan tali kasih.Suasana haru dan kebersamaan kemudian terasa ketika para taruna, jajaran Polda Maluku, dosen pendamping, guru dan seluruh siswa mengabadikan momen terakhir kegiatan melalui foto bersama.Berakhirnya penugasan para Taruna Akpol di Sekolah Rakyat bukan sekadar menandai berakhirnya sebuah kegiatan. Lebih dari itu, pengabdian tersebut meninggalkan pesan bahwa pembangunan masa depan bangsa dimulai dari keberanian untuk mendidik, membentuk karakter, menumbuhkan harapan, dan memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang.Dari Sekolah Rakyat di Maluku, pesan itu kembali ditegaskan: generasi muda bukan hanya penerima masa depan, tetapi mereka adalah pihak yang akan menentukan seperti apa masa depan Indonesia. PNO-12
09 Agu 2026, 15:40 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru