logo-website
Rabu, 03 Jun 2026,  WIT
Berita Pilihan Redaksi Homepage
Satgas Damai Cartenz Amankan Terduga Anggota KKB Intan Jaya, Terlibat Sejumlah Aksi Kekerasan Papuanewsonline.com, Timika – Personel Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 berhasil mengamankan seorang pemuda berinisial EK (18) yang diduga anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Kodap VIII Intan Jaya pimpinan Apen Kobogau. Penangkapan dilakukan saat patroli jalan kaki di pemukiman warga Kampung Bilogai, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, pada Sabtu (30/5) pukul 09.30 WIT. Saat ini yang bersangkutan masih menjalani pemeriksaan mendalam sesuai ketentuan hukum yang berlaku.Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, menjelaskan petugas menyita barang bukti berupa dokumen terkait kelompok, uang tunai, dan dua unit ponsel yang kini sedang dianalisis secara forensik. Berdasarkan penyidikan awal, EK terlibat dalam serangkaian aksi gangguan keamanan, antara lain pembakaran barak bandara dan mobil tangki air tahun 2021, pembakaran perumahan Pemda Intan Jaya, serta penembakan yang terjadi sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, termasuk serangan terhadap pesawat Caravan PK-RVV di area Bandara Bilorai.Kepala Operasi Damai Cartenz, Irjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, menyambut baik hasil pengamanan ini sebagai langkah nyata menjaga stabilitas keamanan.Ia menegaskan seluruh proses penanganan dilakukan secara profesional, akuntabel, dan tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia serta asas praduga tak bersalah. Sementara Wakil Kepala Operasi, Kombes Pol.Adarma Sinaga, mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak terpancing informasi belum terverifikasi, dan mempercayakan proses hukum kepada aparat yang berwenang.  Penulis: Jid Editor: GF 31 Mei 2026, 19:47 WIT
Rp11,8 M Kasus Jembatan Wa Banti Disorot, Hibah Pemda ke Kejaksaan Tuai Kritik Papuanewsonline.com, Timika - Komitmen Pemerintah Kabupaten Mimika dalam penegakan hukum dan tata kelola anggaran menuai kritik. Edoardus Rahawadan, warga Mimika, meragukan komitmen Bupati Mimika membangun masyarakat melalui pemerintahan yang bersih. Dalam rilis tertulis ke redaksi, Jumat (30/5/2026), Rahawadan menyoroti dua kasus yang menurutnya belum ditangani tuntas.Kasus Jembatan Wa Banti & Air Bersih PesisirRahawadan menyebut kasus Jembatan Wa Banti dengan nilai Rp11,8 miliar “hilang dari tangan pemerintah”. Ia menyatakan hingga kini Bupati Mimika belum pernah mengeluarkan pernyataan resmi meminta penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut.“Yang ada hanyalah membangun rumah dinas untuk kejaksaan,” tulis Rahawadan.Ia juga menyinggung kasus air bersih di wilayah pesisir. Menurutnya, slogan penataan birokrasi yang digaungkan Pemda tidak sejalan dengan dorongan ke penegak hukum. “Saya menduga Bupati hanya menggaungkan slogan kosong tanpa mendorong penegak hukum untuk bekerja,” ujarnya.Rahawadan menegaskan penataan penegakan hukum di Mimika perlu diperkuat agar program miliaran rupiah tidak hilang di tangan pihak yang tidak berkepentingan.Soroti Hibah ke Kejaksaan  Rahawadan turut mengkritik kebijakan Pemda Mimika yang memberi hibah 2 unit rumah dan 1 unit mobil kepada institusi kejaksaan. Menurutnya, langkah itu keliru karena berpotensi memunculkan persepsi publik yang dapat memengaruhi independensi penegak hukum.“Memberikan hibah pembangunan kepada kejaksaan adalah tindakan yang sangat keliru. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan anggapan di masyarakat bahwa pemerintah daerah tidak akan disentuh oleh pihak kejaksaan ketika terjadi persoalan hukum,” kata Rahawadan.Tuntut Transparansi Anggaran  Lebih lanjut, ia menilai masih ada persoalan anggaran pembangunan yang perlu perhatian serius. Ia menyebut adanya dugaan hilangnya anggaran dan kerugian negara yang belum ditangani transparan.Rahawadan meminta Pemda bersama aparat penegak hukum meningkatkan pengawasan penggunaan anggaran publik serta memastikan setiap dugaan penyimpangan diproses sesuai hukum.“Transparansi, akuntabilitas, dan penegakan hukum yang independen merupakan syarat penting untuk mewujudkan pembangunan yang berpihak kepada masyarakat Mimika,” tegasnya.Belum Ada Tanggapan Pemda  Hingga berita ini diturunkan, redaksi belum memperoleh konfirmasi dari Bupati Mimika, Sekda, maupun Kepala Bagian Hukum Pemda Mimika terkait kritik tersebut. Kejaksaan Negeri Mimika juga belum memberi tanggapan soal hibah yang disorot. Berlaku asas praduga tak bersalah dan hak jawab. Penulis: Hendrik Editor: GF 31 Mei 2026, 09:19 WIT
TPNPB Umumkan Duka Nasional, Klaim Anggotanya Meninggal karena Malaria di Markas Gilonik Papuanewsonline.com, Puncak Jaya - KOMNAS TPNPB melalui juru bicara Sebby Sambom merilis siaran pers Sabtu (30/5/2026). Dalam rilis itu, TPNPB menyampaikan klaim terkait meninggalnya salah satu anggota di Markas Gilonik.TPNPB mengklaim menerima laporan dari pasukannya bahwa Ratius Murib alias Neson Murib, S.IP. meninggal di Markas Gilonik pada 16 Mei 2026 pukul 00.05 WIT. Penyebab kematian disebut karena sakit malaria selama dua minggu.Dalam siaran pers, almarhum disebut berusia 32 tahun, lahir 16 Oktober 1994 di Kwiyawage. TPNPB menyebutnya sebagai “tim penghubung” untuk wilayah beberapa Kodap, termasuk Kodap XXIV Guragi, Kodap XXV Yambi, Kodap XXVI Kwiyawage, Kodap XXVII Sinak, Kodap XXVIII Yambi, dan Kodap Beoga.Rilis TPNPB mencantumkan riwayat pendidikan almarhum: SD Inpres Mume, SMP Negeri 1 Ilu, SMA Mulia, dan Universitas Warmadewa Denpasar Bali (2012-2017). TPNPB mengklaim almarhum kembali bergabung dengan TPNPB setelah lulus kuliah.TPNPB juga mengklaim almarhum pernah ditahan dan dipenjara, serta terlibat dalam konflik bersenjata di wilayah Tembagapura, Timika, Puncak, dan Puncak Jaya.Menurut siaran pers, almarhum dimakamkan secara upacara kemiliteran TPNPB di Markas Gilonik. Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB disebut mengumumkan duka nasional kepada 36 Kodap di Tanah Papua.Rilis tersebut juga berisi seruan TPNPB kepada anak muda Papua terkait pendidikan dan perjuangan.Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari keluarga Neson Murib, Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya, Dinas Kesehatan, maupun TNI-Polri terkait kebenaran klaim kematian, penyebab sakit, dan lokasi pemakaman.Informasi dari wilayah konflik bersenjata memerlukan verifikasi independen. Akses layanan kesehatan dan pencatatan kematian yang jelas penting untuk semua warga, termasuk di daerah konflik. Penulis: Hend Editor: GF 31 Mei 2026, 09:12 WIT
MUI Distrik Mimika Baru Gelar Talk Show Kepemudaan, Dorong Pemuda Jadi Agen Perubahan Papuanewsonline.com, Mimika — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Distrik Mimika Baru menggelar Talk Show bersama organisasi kepemudaan di Timika dengan tema “Waktunya Pemuda Bicara: Mengokohkan Persaudaraan di Tengah Perbedaan”, (30/5/2026).Dalam kegiatan tersebut, Habib Helmi bin Khalid Alkaff menegaskan bahwa pemuda memiliki peran penting sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Menurutnya, perubahan bukan berarti generasi sebelumnya gagal membangun daerah atau bangsa, melainkan setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda sehingga membutuhkan kontribusi baru dari generasi muda.“Pemuda harus menjadi garda terdepan dalam berpikir, bekerja, dan menciptakan perubahan yang lebih baik. Namun, tantangan saat ini adalah masih banyak anak muda yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan media sosial tanpa memberikan manfaat yang nyata bagi diri maupun lingkungan,” ujarnya.Habib Helmi menjelaskan bahwa perubahan tidak cukup hanya berangkat dari keinginan, tetapi harus didasari cita-cita yang kuat serta pemahaman terhadap realitas yang dihadapi. Ia mendorong generasi muda untuk memiliki mimpi besar, seperti menempuh pendidikan yang tinggi, menjadi pribadi yang bermanfaat, serta berkontribusi dalam pembangunan Timika.Menurutnya, perbedaan pandangan dalam memaknai perubahan merupakan hal yang wajar dan justru menjadi kekuatan. Keberagaman cara berpikir dapat melahirkan gagasan-gagasan baru selama dibangun dengan niat yang baik dan ketulusan hati.“Perubahan besar harus dimulai dari cara berpikir yang benar, sumber pengetahuan yang baik, dan tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu, pemuda harus terus belajar dan memperluas wawasan, tidak hanya bergantung pada informasi singkat yang beredar di media sosial,” katanya.Ia mengajak seluruh pemuda untuk memulai perubahan dari diri sendiri, lingkungan sekitar, dan daerahnya masing-masing. Dengan semangat belajar, kebersamaan, serta kepedulian sosial, pemuda diyakini mampu menghadirkan perubahan yang positif bagi masa depan.Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Mimika, Dr. Jeffery C. Hutagalung, menyoroti posisi strategis pemuda dalam pembangunan bangsa. Ia menyebut bahwa dalam berbagai pandangan filsafat, pemuda sering dipandang sebagai pembangun masa depan karena memiliki imajinasi, kecerdasan, dan semangat yang besar.Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pemuda juga rentan terjebak dalam imajinasinya sendiri. Semangat yang tinggi untuk memulai sesuatu sering kali belum diimbangi dengan ketahanan dan konsistensi dalam mempertahankannya.“Perkembangan peradaban dan modernisasi menghadirkan banyak peluang bagi generasi muda, tetapi juga membawa tantangan. Teknologi dan arus informasi yang begitu cepat dapat menjadi sarana pengembangan diri, namun juga dapat membuat pemuda kehilangan arah apabila tidak dibarengi dengan nilai, karakter, dan tujuan hidup yang jelas,” jelasnya.Jeffery menekankan pentingnya melihat berbagai persoalan generasi muda berdasarkan data dan fakta, bukan sekadar asumsi. Ia menyebut sejumlah hasil penelitian menunjukkan adanya tantangan yang dihadapi generasi muda, seperti menurunnya tingkat religiositas dan spiritualitas, meningkatnya ketergantungan ekonomi terhadap orang tua, serta rendahnya tingkat kemandirian ekonomi pada sebagian kelompok usia muda.Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan sumber daya manusia harus menjadi perhatian bersama. Penurunan kualitas karakter dan kesadaran sosial generasi muda dapat berdampak pada upaya menjaga dan meningkatkan kerukunan di tengah masyarakat.Karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat pendidikan, pembinaan karakter, pengembangan kemandirian ekonomi, serta nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.Ia juga berharap forum diskusi seperti ini tidak berhenti sebagai ruang bertukar gagasan semata, melainkan dapat menghasilkan rekomendasi yang dikaji lebih lanjut dan disampaikan kepada pihak terkait sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah.“Saya selalu berpegang pada prinsip, ‘sepakat untuk tidak selalu bersepakat’. Dari perbedaan itulah lahir dialog, pembelajaran, dan gagasan-gagasan baru untuk membangun masyarakat yang lebih baik,” pungkasnya.Talk show tersebut menjadi ruang dialog bagi generasi muda lintas organisasi untuk menyampaikan pandangan, memperkuat persaudaraan, serta membangun komitmen bersama dalam menjaga kerukunan dan mendorong kemajuan Kabupaten Mimika di tengah keberagaman masyarakatnya. Penulis: Bim Editor: GF 31 Mei 2026, 09:06 WIT
Jual Beli Tanah Kapling Rp7 Juta di Timika Mandek 5 Tahun, Pembeli Siap Tempuh Jalur Hukum Papuanewsonline.com, Timika - Sengketa lahan di Timika kembali mencuat, Seorang warga bernama Zadrak Rayar mengaku dirugikan dalam transaksi tanah kapling sejak 2021. Hingga pertengahan 2026, ia belum menerima kejelasan fisik maupun dokumen tanah tersebut.Zadrak yang juga Pimpinan Media Online Tambelo Papua menyebut, transaksi dilakukan dengan seorang perempuan bernama Masnawati. Lahan berukuran 10 x 20 meter itu berada di kawasan Jalan Hasanuddin Baru, jalur tembusan Brigif - Lopong - Poumako.Pembayaran Lunas, Tanah Tak Kunjung Jelas  Menurut kuitansi bermeterai yang ditunjukkan, pembayaran dilakukan 3 kali: Rp2 juta + Rp3 juta pada 10 Maret 2021, lalu pelunasan Rp2 juta pada 29 Juni 2021. Total Rp7 juta. Kuitansi ditandatangani Masnawati.Masalah muncul setelah pelunasan. Zadrak mengaku lokasi dan legalitas tanah tidak pernah dijelaskan. Ia pun meminta uang dikembalikan.“Sudah 5 tahun kami minta kepastian. Jawabannya hanya janji. Sampai sekarang nihil,” kata Zadrak pada media Papuanewsonline,com. dalam rilis tertulisnya, Selasa (26/5/2026).Mediasi di Polisi 2 Kali GagalUpaya damai sempat ditempuh. SPKT Polres Mimika dua kali mengirim undangan mediasi ke Masnawati, tepatnya 16 Maret dan 19 Maret 2026. Keduanya tidak dihadiri.Zadrak menilai ketidakhadiran itu bentuk tidak menghormati proses hukum. “Kami sudah kasih waktu cukup. Kalau tetap diabaikan, langkah hukum jadi pilihan terakhir,” ujarnya.Ia menegaskan akan membuat laporan polisi resmi di Polres Mimika dalam waktu dekat untuk menuntut pengembalian dana Rp7 juta.Belum Ada Tanggapan Pihak Penjual  Hingga berita rilis, konfirmasi dari Masnawati belum diperoleh redaksi. Polres Mimika juga belum merilis keterangan resmi soal potensi LP tersebut. Kasus ini jadi pengingat bahwa transaksi tanah wajib disertai bukti kepemilikan sah seperti SHM/Sertifikat, cek lokasi fisik, dan surat perjanjian notaris agar tidak berlarut. Penulis: Hend Editor: GF 29 Mei 2026, 21:00 WIT
TPNPB Klaim Serang Gereja di Intan Jaya, Sebut Ada Korban Sipil dan Tolak Pemekaran Delama Jaya Papuanewsonline.com, Intan Jaya - KOMNAS TPNPB melalui juru bicara Sebby Sambom mengeluarkan siaran pers Kamis (28/5/2026). Dalam rilis tersebut, TPNPB Kodap VIII Intan Jaya menyampaikan klaim terkait dua isu utama: insiden di Gereja Katolik Santo Paulus Nabuni dan penolakan pemekaran Kabupaten Delama Jaya.Klaim Insiden di Gereja Santo Paulus Nabuni  TPNPB mengklaim menerima laporan dari Komandan yang disebut Mayor Aibon Kogoya terkait peristiwa 17 Mei 2026 di Kampung Mbamogo, Distrik Tembagapura, Intan Jaya. Menurut siaran pers itu, terjadi ledakan di Gereja Katolik Santo Paulus Nabuni yang mengakibatkan 1 warga sipil meninggal dunia dan 4 orang lainnya mengalami luka-luka hingga kritis.TPNPB menuntut Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, dan Panglima TNI Agus Subiyanto bertanggung jawab atas insiden tersebut. Mereka juga meminta TNI menghentikan operasi militer darat dan udara di area pemukiman warga sipil.Penolakan Pemekaran dan Peringatan ke Pihak Tertentu  Dalam rilis yang sama, TPNPB menyatakan menolak rencana pemekaran Kabupaten Delama Jaya dengan ibukota di Bibida, Paniai. TPNPB menyebut nama Meky Nawipa dan kelompok Lembaga Masyarakat Adat pimpinan Aten Kobogau di Nabire terkait pembahasan DOB tersebut, dan menyampaikan peringatan agar pembahasan dihentikan.TPNPB juga menyebut ruas Jalan Trans Nabire-Intan Jaya sebagai wilayah operasi, serta menolak rencana kegiatan pertambangan emas Blok Wabu di Intan Jaya.Tuntutan ke Aparat  TPNPB meminta TNI tidak melakukan operasi di kampung/pemukiman warga sipil. Mereka menegaskan konflik bersenjata hanya terjadi di Jalan Trans Nabire-Intan Jaya.Hingga berita ini rilis, belum ada keterangan resmi dari TNI-Polri, Pemerintah Kabupaten Intan Jaya, maupun Keuskupan Timika terkait kebenaran klaim serangan, jumlah korban, dan kondisi Gereja Santo Paulus Nabuni.Serangan terhadap warga sipil, tenaga kesehatan, dan tempat ibadah merupakan pelanggaran hukum dan HAM. Investigasi independen dan penegakan hukum diperlukan untuk memastikan fakta sebenarnya. Penulis: Hendrik Editor: GF 29 Mei 2026, 18:41 WIT
TPNPB Klaim Tiga Anggota Tewas Akibat Serangan Drone di Nduga, Sebut Ada Perwira Wanita Gugur Papuanewsonline.com, Nduga – Konflik bersenjata di wilayah Papua Pegunungan kembali memanas setelah KOMNAS TPNPB melalui juru bicara Sebby Sambom merilis siaran pers kedua pada Jumat (29/5/2026). Dalam rilis tersebut, TPNPB Kodap III Ndugama-Derakma mengklaim terjadi serangan drone bom yang dilakukan aparat TNI terhadap salah satu pos mereka di wilayah Nduga.Menurut klaim yang disampaikan dalam siaran pers itu, serangan disebut terjadi pada 18 Mei 2026 sekitar pukul 15.30 WIT. TPNPB menyatakan serangan dilakukan menggunakan drone dan mengakibatkan tiga anggota mereka meninggal dunia akibat ledakan.Dalam laporan tersebut, TPNPB menyebut menerima informasi langsung dari Panglima Kodap III Ndugama-Derakma yang mereka sebut sebagai Brigjen Egianus Kogoya. Nama Egianus kembali muncul setelah sebelumnya beredar kabar yang menyebut dirinya telah meninggal dunia dalam operasi militer di wilayah Nduga.Adapun tiga nama yang disebut TPNPB meninggal dunia dalam insiden tersebut yakni Lut Wumangge alias Medak-Medak yang disebut berpangkat Letnan II dan menjabat sebagai Penasehat TPNPB Kodap III Ndugama-Derakma. Selain itu terdapat nama Ison Nirigi yang disebut sebagai perwira anggota Batalyon Yuguru.Satu nama lain yang turut disebut dalam rilis adalah Hesnia Murib, seorang perempuan yang diklaim berpangkat perwira dan tergabung dalam Korps Wanita TPNPB. Dalam siaran pers tersebut, Hesnia disebut merupakan istri dari “Semut Merah Kogeya” yang dikabarkan telah meninggal lebih dahulu dalam konflik bersenjata di Papua.TPNPB juga menyebut Lut Wumangge sebagai sosok yang dianggap memiliki kemampuan strategi wilayah dan taktik perang di lingkungan Kodap III Ndugama-Derakma. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bentuk penghormatan terhadap anggota yang disebut gugur dalam serangan tersebut.Dalam bagian lain siaran pers, Egianus Kogoya juga disebut mengumumkan duka nasional kepada seluruh pasukan TPNPB yang berada di tiga Kowip dan 13 batalyon. TPNPB turut menyerukan kepada rakyat Papua untuk “bersatu melawan penjajahan Indonesia”.Selain mengumumkan klaim korban tewas, Egianus Kogoya dalam rilis yang sama juga membantah kabar sebelumnya yang menyebut dirinya telah meninggal dunia. Ia menyebut informasi tersebut sebagai “permainan aparat militer Indonesia untuk melemahkan perjuangan”.Meski demikian, hingga berita ini diturunkan belum ada pernyataan resmi dari pihak TNI, Kodam XVII/Cenderawasih, maupun Pemerintah Kabupaten Nduga terkait klaim serangan drone, lokasi kejadian, maupun jumlah korban yang disebutkan dalam siaran pers tersebut.Situasi konflik di Papua Pegunungan sendiri terus menjadi perhatian karena berdampak langsung terhadap kondisi keamanan masyarakat sipil. Berbagai laporan terkait kontak senjata dan operasi keamanan di wilayah pedalaman Papua masih sulit diverifikasi secara independen karena keterbatasan akses di daerah konflik.Setiap informasi terkait korban jiwa dalam konflik bersenjata perlu diverifikasi secara menyeluruh dan independen agar tidak menimbulkan disinformasi di tengah masyarakat. Di sisi lain, berbagai pihak terus mendorong agar pendekatan dialog damai, perlindungan warga sipil, serta penegakan hukum humaniter tetap menjadi prioritas dalam penyelesaian konflik Papua. Penulis: HendEditor: GF 29 Mei 2026, 18:35 WIT
Tokoh Pemuda Papua Soroti Ancaman Provokasi Asing dan Kerentanan Sosial di Papua Papuanewsonline.com, Mimika - Tokoh Pemuda Wilayah Adat Tabi, Paulinus Ohee, menilai berbagai dinamika sosial yang berkembang di Papua belakangan ini tidak dapat dilepaskan dari adanya pengaruh kepentingan luar yang berupaya memanfaatkan kondisi sosial masyarakat, terutama generasi muda.Menurutnya, kemunculan film “Pesta Babi” dan berbagai narasi provokatif di ruang publik patut dicermati secara kritis agar tidak menjadi alat yang memecah persatuan bangsa maupun memicu konflik sosial di Tanah Papua."Indonesia saat ini sedang bergerak menuju kemajuan besar sebagai kekuatan ekonomi kawasan. Karena itu, menurut dia, terdapat pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan Indonesia tumbuh menjadi negara kuat dan berpengaruh di Asia", katanya dalam keterangan kepada wartawan. Ia bahkan menilai pola-pola propaganda dan pembentukan opini publik yang berkembang saat ini memiliki kemiripan dengan situasi menjelang krisis politik tahun 1998.“Generasi muda, khususnya Gen Z, harus diberikan pemahaman yang baik agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang sengaja dibangun untuk menciptakan perpecahan. Anak-anak muda Papua harus menjadi generasi yang kritis, cerdas, dan tidak mudah dimanfaatkan oleh kepentingan tertentu,” ujar Paulinus.Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tantangan pembangunan Papua tidak hanya berkaitan dengan persoalan keamanan, tetapi juga dipengaruhi faktor ideologi, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga masuknya budaya asing yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai lokal masyarakat Papua. "Kondisi tersebut kerap dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk memperkeruh situasi dan menghambat pembangunan di Papua", tandasnya. Paulinus menilai persoalan ekonomi menjadi salah satu titik paling rentan yang sering dimanfaatkan untuk mempengaruhi masyarakat Papua. Ketika kesejahteraan belum merata, lapangan pekerjaan terbatas, dan akses pendidikan maupun kesehatan masih belum optimal, masyarakat menjadi lebih mudah diprovokasi dan diarahkan pada konflik yang merugikan masyarakat Papua sendiri.“Di Papua ini banyak masyarakat yang sebenarnya hanya ingin hidup tenang dan sejahtera. Tetapi ketika ada persoalan ekonomi, pendidikan, dan lapangan kerja yang belum tuntas, itu sering dimanfaatkan oleh pihak lain untuk menciptakan konflik dan mempengaruhi masyarakat,” katanya.Ia juga mengingatkan bahwa pendekatan pembangunan di Papua tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik semata, tetapi harus dibarengi pendekatan kemanusiaan yang mampu menghadirkan rasa keadilan bagi Orang Asli Papua. Karena itu, ia berharap pelaksanaan Otonomi Khusus Papua benar-benar mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di akar rumput."Negara harus hadir secara utuh melalui pemerataan pembangunan, penegakan hukum yang adil, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta pembukaan lapangan pekerjaan yang luas bagi masyarakat Papua", tegasnya. Lebih lanjut, ia berharap Orang Asli Papua dapat merasakan dirinya sebagai tuan di negerinya sendiri dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).“Harapan kami, Otonomi Khusus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh Orang Asli Papua. Negara harus hadir dengan pendekatan kemanusiaan, keadilan harus merata, dan hukum ditegakkan dengan adil agar masyarakat Papua merasa memiliki masa depan yang baik dalam bingkai NKRI,” tutupnya.  Penulis: Jid Editor: GF 29 Mei 2026, 18:25 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT