Papuanewsonline.com
BERITA TAG Kesehatan
Homepage
Tim SAR Gabungan Temukan 13 Potongan Tubuh, Tiga Korban Masih Dicari
Papuanewsonline.com, Biak – Proses pencarian tiga orang
korban yang hilang akibat ledakan bom peninggalan Perang Dunia II di Kompleks
Perumahan Nelayan, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, terus diintensifkan
sejak Senin (1/6/26).Puluhan personel SAR gabungan yang terdiri dari unsur TNI,
Polri, Basarnas, serta dibantu warga setempat, memusatkan penelusuran di
wilayah perairan dan pinggiran pantai yang menjadi titik penyebaran sisa
ledakan.Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, menyampaikan
bahwa pada hari pertama operasi, tim berhasil menemukan sebanyak 13 potongan
tubuh yang diduga milik para korban.“Seluruh temuan tersebut telah segera dievakuasi ke RSUD
Biak untuk penanganan lebih lanjut. Rencananya besok tim DVI dari Polda Papua
akan tiba guna melakukan identifikasi secara pasti terhadap potongan tubuh yang
ditemukan,” jelasnya.Sementara itu, lima korban jiwa yang telah berhasil
diidentifikasi terlebih dahulu, telah dimakamkan secara layak di Tempat
Pemakaman Umum Sorido, Distrik Biak Kota, pada Senin siang hari. Proses pemakaman berjalan khidmat dengan didampingi keluarga
dan pihak berwenang, mengingat peristiwa ini merupakan musibah besar yang
mengguncang masyarakat Biak.Pencarian terhadap tiga orang yang masih dinyatakan hilang
akan kembali dilanjutkan pada Selasa pagi. Tim SAR akan tetap berfokus menelusuri wilayah laut dan
pesisir, sementara tim khusus Jibom Gegana dari Polda Papua akan melakukan
penyisiran serta sterilisasi menyeluruh di sekitar lokasi ledakan untuk
memastikan tidak ada lagi bahaya bahan peledak yang tertinggal.Pihak kepolisian kembali mengimbau masyarakat agar menjauhi
lokasi kejadian demi keselamatan, mengingat masih adanya potensi bahaya. Penulis: Jid
Editor: GF
02 Jun 2026, 12:29 WIT
Keluarga Kehilangan Kontak dengan Mama Yasinta, Minta Negara Pastikan Keselamatan
Papuanewsonline.com, Merauke - Keluarga Mama Yasinta Moewen
mengaku kehilangan kontak dengan tokoh perempuan adat Papua itu sejak Minggu,
24 Mei 2026, atau sehari setelah video yang menampilkan dirinya viral dan
menjadi perhatian publik. Hingga kini, keluarga menyatakan belum memperoleh
kepastian mengenai keberadaan maupun kondisi Mama Yasinta.Dalam keterangan yang disampaikan kepada publik, keluarga
menyebut komunikasi terakhir dengan Mama Yasinta terjadi pada Sabtu, 23 Mei
2026. Namun sejak keesokan harinya, berbagai upaya untuk menghubungi dirinya
disebut tidak lagi mendapatkan respons.Menurut keluarga, situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran
karena Mama Yasinta yang sebelumnya masih dapat berkomunikasi secara normal,
mendadak tidak dapat dihubungi. Keluarga menduga Mama Yasinta berada dalam
tekanan dan tidak dapat berkomunikasi secara bebas dengan pihak keluarga.Keluarga juga mengklaim bahwa pada malam 24 Mei 2026, Mama
Yasinta tidak berada di kediamannya dan diduga bermalam di Kampung Wogekel,
Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke. Sehari setelahnya, berdasarkan informasi
yang mereka peroleh, Mama Yasinta diduga dipindahkan ke lokasi lain tanpa
sepengetahuan pihak keluarga.Selama beberapa hari berikutnya, keluarga mengaku sama
sekali tidak mengetahui keberadaan perempuan adat tersebut. Kondisi itu baru
sedikit terjawab ketika pada Jumat, 29 Mei 2026, mereka menerima komunikasi
yang menyebut Mama Yasinta berada di Jakarta.Dalam komunikasi tersebut, Mama Yasinta disebut meminta
sejumlah dokumen identitas keluarga, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan
Kartu Keluarga (KK), karena akan melakukan pertemuan dengan Presiden. Namun
demikian, keluarga mengaku masih belum mendapatkan penjelasan yang memadai
mengenai kondisi maupun situasi yang sedang dihadapi Mama Yasinta.Kekhawatiran keluarga semakin bertambah karena hingga saat
ini mereka merasa belum memperoleh kepastian apakah Mama Yasinta dapat
mengambil keputusan secara bebas tanpa tekanan dari pihak mana pun. Mereka juga
menduga terdapat pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi tersebut untuk
kepentingan yang berkaitan dengan konflik tanah adat dan proyek pembangunan di
Papua.Atas dasar itu, keluarga meminta Lembaga Perlindungan Saksi
dan Korban (LPSK), Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), serta Komisi
Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) untuk ikut
mengawal persoalan tersebut. Mereka berharap keselamatan, hak-hak, serta
kebebasan Mama Yasinta sebagai warga negara tetap mendapat perlindungan.
Keluarga juga meminta pihak yang membawa atau mendampingi
Mama Yasinta saat ini untuk memberikan kejelasan mengenai keberadaan dan
kondisinya. Hingga berita ini ditulis, seluruh informasi tersebut masih
berdasarkan pernyataan dan dugaan dari pihak keluarga. Belum ada tanggapan
resmi dari pihak-pihak yang disebut dalam pernyataan tersebut terkait berbagai
tudingan yang disampaikan. (GF)
01 Jun 2026, 12:15 WIT
Polisi Tangani Cepat Kasus Ledakan Diduga Bom Peninggalan Perang Dunia II di Biak
Papuanewsonline.com, Biak - Ledakan hebat yang diduga
berasal dari bom sisa peninggalan Perang Dunia II mengguncang Kompleks
Perikanan di Jalan Walter Mongonsidi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota,
Kabupaten Biak Numfor, Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 14.45 WIT. Peristiwa
tragis tersebut mengakibatkan korban jiwa serta kerusakan berat pada sejumlah
rumah warga di sekitar lokasi kejadian.Berdasarkan informasi awal yang dihimpun aparat kepolisian,
ledakan terjadi di area bawah salah satu rumah panggung yang berada di kompleks
tersebut. Suara ledakan yang sangat keras mengejutkan warga sekitar dan memicu
kepanikan di kawasan permukiman padat tersebut.Menanggapi kejadian itu, Polres Biak Numfor bersama unsur
TNI, Basarnas, pemerintah daerah, dan sejumlah instansi terkait langsung
bergerak ke lokasi untuk melakukan evakuasi korban, mengamankan area, serta
melakukan penyelidikan guna mengetahui penyebab pasti ledakan.Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Cahyo Sukarnito,
S.I.K., M.K.P., menyampaikan rasa duka mendalam kepada keluarga korban yang
terdampak musibah tersebut. Ia menegaskan bahwa fokus utama aparat saat ini
adalah upaya kemanusiaan dan penyelamatan korban."Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada
keluarga korban. Saat ini fokus utama kami adalah penanganan korban, proses
evakuasi, serta pengamanan lokasi kejadian. Personel di lapangan juga terus
berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan seluruh korban dapat
segera ditemukan dan mendapatkan penanganan yang diperlukan," ujar Kombes
Pol. Cahyo Sukarnito.Hingga Minggu sore, tim gabungan telah menemukan lima korban
dalam kondisi meninggal dunia. Empat korban dievakuasi ke RSUD Biak, sementara
satu korban lainnya dibawa ke RSAL Biak untuk proses identifikasi dan
penanganan lebih lanjut.Di sisi lain, upaya pencarian masih terus dilakukan terhadap
tiga korban lain yang dilaporkan belum ditemukan. Tim gabungan melakukan
penyisiran secara intensif di sekitar lokasi ledakan dengan melibatkan berbagai
unsur penyelamat.Selain menimbulkan korban jiwa, ledakan tersebut juga
menyebabkan kerusakan berat pada sedikitnya enam unit rumah warga yang berada
di sekitar titik ledakan. Bangunan yang terdampak mengalami kerusakan pada
bagian struktur utama akibat kuatnya daya ledak.Petugas masih melakukan pendataan serta asesmen terhadap
kerugian material yang ditimbulkan. Pemerintah daerah bersama instansi terkait
juga mulai menginventarisasi kebutuhan warga yang terdampak langsung akibat
peristiwa tersebut.Sejumlah saksi mata mengaku mendengar suara dentuman sangat
keras sebelum melihat kepulan debu dan puing-puing bangunan beterbangan. Warga
sekitar yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian segera berdatangan untuk
memberikan pertolongan kepada korban sebelum tim gabungan tiba.Sebagai langkah antisipasi, aparat keamanan melakukan
sterilisasi di area ledakan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada
benda berbahaya lain yang masih tersimpan di sekitar lokasi dan berpotensi
menimbulkan ancaman baru bagi masyarakat.Biak Numfor sendiri merupakan salah satu wilayah yang
memiliki sejarah panjang sebagai medan pertempuran pada masa Perang Dunia II.
Karena itu, keberadaan sisa-sisa amunisi atau bahan peledak peninggalan perang
masih kerap ditemukan di beberapa lokasi.Meski demikian, aparat kepolisian menegaskan bahwa penyebab
pasti ledakan masih menunggu hasil penyelidikan dan identifikasi lebih lanjut
oleh tim yang berwenang.Polda Papua juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan
tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Aparat meminta warga
memberikan ruang kepada petugas untuk menyelesaikan proses pencarian korban dan
investigasi secara menyeluruh."Kami akan menyampaikan perkembangan lebih lanjut
setelah proses pencarian korban dan penyelidikan selesai dilakukan," tutup
Kombes Pol. Cahyo Sukarnito.Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian terhadap tiga
korban yang masih dinyatakan hilang terus berlangsung. Aparat kepolisian
bersama tim gabungan tetap siaga di lokasi untuk memastikan seluruh korban
dapat ditemukan serta kondisi kawasan benar-benar aman bagi masyarakat. (GF)
01 Jun 2026, 12:11 WIT
Ledakan BOM Sisa Perang Dunia II di Biak: 8 Korban Jiwa, 10 Rumah Rusak
Papuanewsonline.com, Biak – Ledakan dahsyat yang diduga
berasal dari bom sisa peninggalan Perang Dunia II mengguncang Kompleks
Perikanan, Jalan Walter Mongonsidi, Kampung Yenures, Distrik Biak Kota,
Kabupaten Biak Numfor, pada Minggu (31/5/2026) pukul 14.45 WIT.Berdasarkan data terbaru yang dihimpun, peristiwa mematikan
ini menewaskan delapan orang, di mana lima jenazah telah berhasil ditemukan dan
dievakuasi, sementara tiga lainnya masih terus dicari oleh tim gabungan. Selain menelan korban jiwa, sedikitnya sepuluh unit rumah
warga dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat yang beragam akibat
kekuatan ledakan tersebut.Kasat Reskrim Polres Biak, Ipda Daniel Rumpaidus,
membenarkan informasi tersebut dan menyebutkan proses identifikasi korban serta
kerusakan masih berlangsung secara intensif. Sementara itu, Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan,
menjelaskan bahwa penyebab ledakan diduga kuat berasal dari bahan peledak lama
yang tertimbun selama puluhan tahun. Tim gabungan TNI dan Polri telah dikerahkan ke lokasi untuk
melakukan evakuasi korban, pengamanan, serta sterilisasi wilayah guna
memastikan tidak ada lagi bahaya yang mengancam keselamatan warga sekitar.Pihak kepolisian telah memasang garis polisi dan menutup
akses menuju tempat kejadian perkara karena kondisi di lokasi dinilai belum
sepenuhnya aman. Penulis: Jid
Editor: GF
01 Jun 2026, 11:59 WIT
Pengendara Tewas Tabrak Tiang Papan Nama, Diduga Karena Mabuk Alkohol
Papuanewsonline.com, Timika – Sebuah kecelakaan tunggal yang
memakan korban jiwa terjadi di Jalan Hasanuddin, tepatnya di pintu masuk Pasar
Sentral Mimika, pada Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 06.10 WIT. Peristiwa
nahas ini menimpa E.W, pengendara sepeda motor Yamaha Mio M3 yang saat itu
melaju dari arah Irigasi menuju persimpangan lampu merah Hasanuddin – Budi
Utomo. Di lokasi kejadian, pengendara tersebut diduga kehilangan kendali atas
arah laju kendaraannya hingga menabrak tiang papan nama yang berdiri di sisi
jalan.Kasihumas Polres Mimika, Iptu Hempy Ona, menjelaskan bahwa
setelah kejadian personel Satuan Lantas segera tiba di lokasi dan membawa
korban ke RSUD Mimika untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun sayang, nyawa korban tidak tertolong dan dinyatakan
meninggal dunia oleh tim dokter setelah mendapatkan penanganan. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal di lapangan, penyebab
utama kecelakaan diduga kuat karena pengendara berada di bawah pengaruh minuman
beralkohol, sehingga tidak mampu mengendalikan kendaraan dengan aman dan
selamat.Akibat kejadian tersebut, kerugian materiil diperkirakan
mencapai Rp5 juta, sedangkan kendaraan serta barang bukti lainnya telah
diamankan dan dibawa ke kantor Satuan Lalu Lintas untuk proses pemeriksaan
lebih lanjut.Pihak kepolisian menegaskan bahwa kondisi tubuh yang tidak
segar atau terpengaruh zat tertentu sangat membahayakan keselamatan diri
sendiri maupun orang lain saat berada di jalan raya.Polres Mimika kembali mengimbau seluruh pengguna jalan agar
selalu mematuhi aturan lalu lintas dan mengutamakan keselamatan di setiap
perjalanan. Penulis: Jid
Editor: GF
31 Mei 2026, 20:21 WIT
TPNPB Umumkan Duka Nasional, Klaim Anggotanya Meninggal karena Malaria di Markas Gilonik
Papuanewsonline.com, Puncak Jaya - KOMNAS TPNPB melalui juru
bicara Sebby Sambom merilis siaran pers Sabtu (30/5/2026). Dalam rilis itu,
TPNPB menyampaikan klaim terkait meninggalnya salah satu anggota di Markas
Gilonik.TPNPB mengklaim menerima laporan dari pasukannya bahwa
Ratius Murib alias Neson Murib, S.IP. meninggal di Markas Gilonik pada 16 Mei
2026 pukul 00.05 WIT. Penyebab kematian disebut karena sakit malaria selama dua
minggu.Dalam siaran pers, almarhum disebut berusia 32 tahun, lahir
16 Oktober 1994 di Kwiyawage. TPNPB menyebutnya sebagai “tim penghubung” untuk
wilayah beberapa Kodap, termasuk Kodap XXIV Guragi, Kodap XXV Yambi, Kodap XXVI
Kwiyawage, Kodap XXVII Sinak, Kodap XXVIII Yambi, dan Kodap Beoga.Rilis TPNPB mencantumkan riwayat pendidikan almarhum: SD
Inpres Mume, SMP Negeri 1 Ilu, SMA Mulia, dan Universitas Warmadewa Denpasar
Bali (2012-2017). TPNPB mengklaim almarhum kembali bergabung dengan TPNPB
setelah lulus kuliah.TPNPB juga mengklaim almarhum pernah ditahan dan dipenjara,
serta terlibat dalam konflik bersenjata di wilayah Tembagapura, Timika, Puncak,
dan Puncak Jaya.Menurut siaran pers, almarhum dimakamkan secara upacara
kemiliteran TPNPB di Markas Gilonik. Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB
disebut mengumumkan duka nasional kepada 36 Kodap di Tanah Papua.Rilis tersebut juga berisi seruan TPNPB kepada anak muda
Papua terkait pendidikan dan perjuangan.Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi
dari keluarga Neson Murib, Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya, Dinas Kesehatan,
maupun TNI-Polri terkait kebenaran klaim kematian, penyebab sakit, dan lokasi
pemakaman.Informasi dari wilayah konflik bersenjata memerlukan
verifikasi independen. Akses layanan kesehatan dan pencatatan kematian yang
jelas penting untuk semua warga, termasuk di daerah konflik. Penulis: Hend
Editor: GF
31 Mei 2026, 09:12 WIT
Anggota DPRD Papua Tengah Soroti Penambahan Izin Miras di Mimika, Minta Dicabut
Papuanewsonline.com, Timika – Anggota DPRD Provinsi Papua
Tengah, Yohanes Kemong, menyampaikan protes keras terkait kebijakan Pemerintah
Kabupaten Mimika yang memberikan izin penjualan minuman keras kepada dua
pengusaha baru. Kini jumlah penjual bertambah menjadi empat, padahal selama dua
dekade terakhir hanya ada dua pihak resmi, yaitu PT Pangansari di lingkungan
Freeport dan penjualan N66.Yohanes meminta Bupati dan Wakil Bupati Mimika menjelaskan
secara terbuka alasan di balik penerbitan izin tambahan tersebut kepada seluruh
masyarakat.Menurutnya, kebijakan ini sangat berisiko merusak masa depan
generasi muda, khususnya suku Amungme dan Kamoro. “Jika terus bertambah,
seluruh sudut kota akan penuh penjual miras, dan masa depan Mimika akan
hancur,” tegasnya. Ia mengingatkan dampak buruk yang sudah sering terjadi,
mulai dari kecelakaan, tindak kekerasan, kejahatan, hingga gangguan kesehatan
masyarakat. Yohanes juga menilai alasan peningkatan Pendapatan Asli
Daerah tidak beralasan, karena anggaran daerah tahun ini mencapai Rp6,7 triliun
dan masih banyak sektor lain yang bisa digali tanpa mengorbankan kualitas
generasi penerus.Yohanes mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari
organisasi pemuda, gereja, perempuan, hingga lembaga adat, untuk bersama-sama
mengevaluasi kebijakan ini. Ia juga mendesak Majelis Rakyat Papua, DPRK Mimika,
dan DPRD Provinsi lebih tegas mengawasi persoalan yang dinilai dapat merusak
moral dan tatanan sosial. “Rakyat memilih pemimpin untuk membangun daerah dari kampung
ke kota, bukan menjadikan Mimika sebagai pusat peredaran miras,” ujarnya
menegaskan bahwa masih banyak masalah penting yang harus diselesaikan
pemerintah.Di akhir pernyataannya, Yohanes meminta pemerintah daerah
mempertimbangkan kembali dan mencabut izin yang baru diterbitkan demi
menyelamatkan masa depan anak cucu bangsa. Penulis: Abim
Editor: GF
28 Mei 2026, 18:29 WIT
Gereja Katolik di Pomako Hangus Terbakar, Penyebab Masih Diselidiki
Papuanewsonline.com, Timika – Sebuah bangunan gereja Katolik
yang berlokasi di kawasan Pomako, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, ludes dilalap
si jago merah pada Rabu (27/5/2026) sekitar pukul 19.30 WIT. Kabar kebakaran
ini langsung mendapat respons cepat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) Mimika yang segera mengerahkan tiga unit armada pemadam ke lokasi
kejadian meski lokasi cukup jauh dari pusat kota.Kepala BPBD Mimika, Agustina Rahaded, menjelaskan bahwa
kondisi bangunan yang sepenuhnya terbuat dari bahan papan menjadi faktor utama
mengapa api begitu cepat membesar dan menghabiskan seluruh bangunan dalam waktu
singkat.“Karena bahannya papan, begitu tersambar api semuanya habis
terbakar. Ditambah lagi lokasinya cukup jauh, sehingga menjadi kendala
tersendiri dalam upaya penanganan awal,” ungkapnya. Lokasi gereja tersebut diketahui berada di jalur jalan
sebelum masuk ke area Pertamina Pomako.Hingga saat ini, pihak berwenang belum dapat memastikan
secara pasti apa yang menjadi pemicu kebakaran tersebut. Berbagai informasi yang beredar di masyarakat, termasuk
dugaan bahwa kebakaran bermula dari kelalaian penggunaan lilin, masih dalam
tahap pengecekan dan belum bisa dikonfirmasi kebenarannya oleh tim penyelidik. “Kami masih melakukan pengecekan di lokasi, penyebab pasti
belum diketahui dan belum bisa kami pastikan,” tegas Agustina.Berita baiknya, hingga laporan ini disampaikan belum ada
laporan mengenai adanya korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa tersebut. Petugas pemadam dan tim teknis masih berada di tempat
kejadian untuk memastikan api benar-benar padam dan mengamankan sisa bangunan. Penulis: Jid
Editor: GF
27 Mei 2026, 21:00 WIT
Pelayanan Puskesmas Pasar Sentral Disorot, Pasien Malaria Mengaku Dipaksa Minum Obat di Tempat
Papuanewsonline.com, Timika - Persoalan pelayanan kesehatan
kembali menjadi sorotan publik di Kabupaten Mimika. Adu mulut antara seorang
pasien dan petugas kesehatan di Puskesmas Pasar Sentral, Timika, Senin
(26/5/2026), memunculkan kritik terhadap prosedur pelayanan medis yang dianggap
tidak manusiawi dan minim empati terhadap kondisi pasien.
Peristiwa tersebut bermula ketika seorang pasien berinisial
HR menjalani pemeriksaan malaria di Puskesmas Pasar Sentral dan dinyatakan
positif terjangkit penyakit tersebut.
Setelah menerima hasil pemeriksaan, HR mengaku diarahkan
menuju loket pengambilan obat bertuliskan “Malkon”. Namun, situasi memanas
ketika tiga perawat yang berjaga meminta dirinya langsung meminum obat malaria
di lokasi pelayanan.
"Setelah mendapat penjelasan dari bidan di apotek, saya
diarahkan ke loket bertuliskan “Malkon” untuk mengambil obat. Di loket itu ada
tiga perawat. Mereka suruh saya langsung minum obat di tempat, tanpa
mempertanyakan saya sudah makan atau belum ini pelayanan memalukan," ujar
HR.
Menurut HR, dirinya menolak permintaan tersebut karena belum
makan dan harus pulang sendiri menggunakan sepeda motor. Ia khawatir efek obat
malaria dapat memengaruhi kondisi tubuhnya saat berkendara.
"Saat itu saya meminta izin untuk ambil obat kemudian
nanti sampai di rumah makan baru minum obat dan langsung, namun permintaan saya
ditolak petugas dengan tegas, sambil berkata ini perintah dinas
kesehatan," Tegasnya.
HR mengungkapkan bahwa penolakan dirinya justru mendapat
respons keras dari petugas kesehatan. Ia bahkan mengaku diancam akan dilaporkan
ke Dinas Kesehatan karena tidak mengikuti instruksi untuk meminum obat di
tempat.
" Saya juga dengan tegas menolak karena, saya dipaksa
minum obat ditempat, tanpa mereka memperhatikan kondisi fisik saya, dan saya
kan pulang naik motor sendirian jadi kalau dalam perjalanan saya pusing
pengaruh obat lalu saya kecelakaan atau tertabrak kan konsekuensi juga
ada," ujar HR.
Tak hanya itu, HR mengaku petugas kesehatan sempat
menyarankan dirinya membeli roti terlebih dahulu agar bisa langsung meminum
obat di lokasi Puskesmas. Sikap tersebut dinilai memperlihatkan lemahnya
pendekatan pelayanan yang mengutamakan prosedur dibanding keselamatan pasien.
Kasus ini memunculkan pertanyaan serius mengenai standar
pelayanan kesehatan di fasilitas publik daerah. Di tengah tingginya kasus
malaria di Papua, pelayanan medis seharusnya tidak hanya fokus pada kepatuhan
prosedur, tetapi juga mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh.
HR menilai pelayanan di Puskesmas Pasar Sentral mencerminkan
buruknya tata kelola pelayanan kesehatan di Kabupaten Mimika. Ia menyebut
kondisi tersebut tidak terlepas dari lemahnya pengawasan pemerintah daerah
terhadap pelayanan publik.
"Pelayanan bobrok di puskesmas Pasar Sentral, tidak
terlepas dari gagalnya kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Mimika,"
Pungkasnya.
Sorotan terhadap pelayanan kesehatan di Mimika sebelumnya
juga beberapa kali menjadi perhatian masyarakat. Mulai dari keterbatasan
fasilitas, keluhan antrean panjang, hingga sikap tenaga kesehatan yang dinilai
kurang komunikatif masih menjadi persoalan yang sering dikeluhkan warga.
Di sisi lain, tenaga kesehatan di daerah endemik malaria
seperti Papua memang memiliki kewajiban memastikan pasien mengonsumsi obat
sesuai prosedur untuk mencegah resistensi obat dan memastikan keberhasilan
pengobatan. Namun pendekatan yang dilakukan tetap harus mengedepankan
komunikasi yang baik dan mempertimbangkan kondisi pasien.
Hingga berita ini dipublikasikan, redaksi belum memperoleh
konfirmasi resmi dari pihak Puskesmas Pasar Sentral maupun Dinas Kesehatan
Mimika terkait prosedur pemberian obat malaria tersebut.
Redaksi masih berupaya menghubungi pihak terkait guna
meminta tanggapan dan klarifikasi, sesuai ketentuan hak jawab dan hak koreksi
sebagaimana diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang
Pers.Penulis: HendEditor: GF
26 Mei 2026, 19:31 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru