logo-website
Senin, 12 Jan 2026,  WIT

KKB Pimpinan Aibon Kogoya Berulah Lagi di Nabire, Satu Orang Tewas dan Delapan Luka-Luka

Situasi mencekam di Jalan Trans Nabire–Enarotali, Distrik Uwapa. Warga panik dan aparat kepolisian dikerahkan untuk melakukan penyisiran di lokasi kejadian.

Papuanewsonline.com - 20 Okt 2025, 21:10 WIT

Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal

Kondisi warga sipil yang menjadi korban serangan KKB.

Papuanewsonline.com, Nabire — Situasi keamanan di Kabupaten Nabire kembali bergejolak setelah kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang dipimpin oleh Aibon Kogoya melakukan serangan brutal terhadap warga sipil dan aparat kepolisian pada Senin, 20 Oktober 2025. Insiden berdarah itu terjadi di ruas Jalan Trans Nabire–Enarotali, Distrik Uwapa, dan menyebabkan satu warga sipil tewas serta delapan orang lainnya luka-luka, termasuk empat anggota Polres Nabire.


Serangan yang terjadi sekitar pukul 10.30 WIT itu mengejutkan warga sekitar. Suara tembakan bertubi-tubi terdengar dari arah pegunungan saat sejumlah kendaraan tengah melintas di jalur yang dikenal rawan dan berlubang. Aparat menyebut serangan dilakukan secara mendadak dan terencana, dengan posisi penembak tersebar di beberapa titik di kiri dan kanan jalan.

Berdasarkan laporan awal kepolisian, serangan dimulai ketika rombongan kendaraan yang mengangkut warga sipil dan beberapa personel kepolisian melambat karena kondisi jalan yang rusak parah. Tiba-tiba terdengar rentetan tembakan dari berbagai arah, membuat warga panik dan berhamburan mencari perlindungan di semak-semak sekitar jalan.

Korban tewas diketahui bernama Masturyadi (51), warga Topo Jaya, yang meninggal dunia di tempat setelah peluru menembus bagian kepala belakang sebelah kanan. Sementara itu, delapan orang lainnya mengalami luka tembak dan luka akibat pecahan peluru.

Korban luka terdiri dari Martinus Makai (42), Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Nabire; Yance Makai (38), ASN di lingkungan Pemkab Nabire; Aser Kegou (45), warga SP2 Nabire Barat; dan Ari Kismanto (40), seorang pendulang lokal.

Dari pihak kepolisian, empat anggota Polres Nabire juga menjadi korban, yakni Iptu Hardiman Sirait, S.H., Bripka Laode Munafrin Isra, Briptu Tomas Bisararisi, dan Brigpol Galuh Yudistiawan. Seluruh korban luka berhasil dievakuasi ke RSUD Nabire untuk mendapat perawatan intensif.

Pasca penyerangan, aparat kepolisian melakukan tembakan balasan ke arah kelompok bersenjata yang bersembunyi di area perbukitan. Situasi di lokasi berlangsung tegang selama beberapa jam sebelum kondisi dapat dikendalikan. Polisi kemudian mengevakuasi para korban menggunakan kendaraan taktis.

Kapolres Nabire bersama tim gabungan Brimob dan TNI langsung diterjunkan untuk melakukan penyisiran di sekitar lokasi guna mengejar para pelaku yang diduga melarikan diri ke arah hutan pegunungan. Penjagaan di beberapa titik strategis, termasuk di jalur utama Nabire–Dogiyai, turut diperketat guna mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan.

Menurut sumber kepolisian, pola serangan yang dilakukan menunjukkan bahwa kelompok tersebut sudah memantau aktivitas warga dan aparat di wilayah tersebut sejak beberapa hari sebelumnya. Jalur Trans Nabire–Enarotali memang dikenal sebagai salah satu titik rawan gangguan keamanan di wilayah tengah Papua.

Akibat insiden ini, suasana di sekitar Distrik Uwapa sempat lumpuh. Aktivitas warga berkurang drastis karena sebagian besar memilih tetap di rumah. Sejumlah sekolah dan toko di sekitar jalur utama juga dilaporkan tutup sementara waktu hingga kondisi benar-benar aman.

Pemerintah Kabupaten Nabire bersama aparat keamanan mengimbau warga untuk tetap tenang namun waspada, serta segera melaporkan jika melihat aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar. Penanganan keamanan kini menjadi prioritas utama agar jalur penghubung antarwilayah tidak terganggu oleh aksi kekerasan.

Selain menimbulkan korban jiwa, serangan ini juga menegaskan bahwa ancaman KKB di wilayah tengah Papua masih nyata dan perlu penanganan serius. Aparat keamanan menegaskan komitmen mereka untuk melindungi masyarakat dan memastikan stabilitas keamanan tetap terjaga.

Tim gabungan dari Polres Nabire, Satgas Damai Cartenz, dan Kodim 1705/Nabire kini tengah melakukan pengejaran terhadap kelompok bersenjata yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Petugas juga mengamankan barang bukti berupa selongsong peluru dan serpihan logam proyektil yang ditemukan di lokasi kejadian.

Pemerintah Provinsi Papua dan Polres Nabire berkomitmen untuk tidak memberikan ruang bagi kelompok-kelompok bersenjata yang mengancam keselamatan masyarakat. Operasi keamanan akan terus dilanjutkan hingga situasi benar-benar kondusif.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa upaya menjaga keamanan di tanah Papua membutuhkan kerja sama semua pihak — aparat, pemerintah, dan masyarakat — agar kekerasan serupa tidak terus terulang dan menghambat pembangunan di wilayah tersebut.



Penulis: Hendrik

Editor: GF

 

Bagikan berita:
To Social Media :
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE