KKB Pimpinan Aibon Kogoya Berulah Lagi di Nabire, Satu Orang Tewas dan Delapan Luka-Luka
Situasi mencekam di Jalan Trans Nabire–Enarotali, Distrik Uwapa. Warga panik dan aparat kepolisian dikerahkan untuk melakukan penyisiran di lokasi kejadian.
Papuanewsonline.com - 20 Okt 2025, 21:10 WIT
Papuanewsonline.com/ Hukum & Kriminal
Papuanewsonline.com, Nabire — Situasi keamanan di Kabupaten Nabire kembali bergejolak setelah kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang dipimpin oleh Aibon Kogoya melakukan serangan brutal terhadap warga sipil dan aparat kepolisian pada Senin, 20 Oktober 2025. Insiden berdarah itu terjadi di ruas Jalan Trans Nabire–Enarotali, Distrik Uwapa, dan menyebabkan satu warga sipil tewas serta delapan orang lainnya luka-luka, termasuk empat anggota Polres Nabire.
Serangan yang terjadi sekitar
pukul 10.30 WIT itu mengejutkan warga sekitar. Suara tembakan bertubi-tubi
terdengar dari arah pegunungan saat sejumlah kendaraan tengah melintas di jalur
yang dikenal rawan dan berlubang. Aparat menyebut serangan dilakukan secara
mendadak dan terencana, dengan posisi penembak tersebar di beberapa titik di
kiri dan kanan jalan.
Berdasarkan laporan awal
kepolisian, serangan dimulai ketika rombongan kendaraan yang mengangkut warga
sipil dan beberapa personel kepolisian melambat karena kondisi jalan yang rusak
parah. Tiba-tiba terdengar rentetan tembakan dari berbagai arah, membuat warga
panik dan berhamburan mencari perlindungan di semak-semak sekitar jalan.
Korban tewas diketahui bernama Masturyadi
(51), warga Topo Jaya, yang meninggal dunia di tempat setelah peluru menembus
bagian kepala belakang sebelah kanan. Sementara itu, delapan orang lainnya
mengalami luka tembak dan luka akibat pecahan peluru.
Korban luka terdiri dari Martinus
Makai (42), Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Nabire; Yance Makai (38), ASN
di lingkungan Pemkab Nabire; Aser Kegou (45), warga SP2 Nabire Barat; dan Ari
Kismanto (40), seorang pendulang lokal.
Dari pihak kepolisian, empat
anggota Polres Nabire juga menjadi korban, yakni Iptu Hardiman Sirait, S.H., Bripka
Laode Munafrin Isra, Briptu Tomas Bisararisi, dan Brigpol Galuh Yudistiawan.
Seluruh korban luka berhasil dievakuasi ke RSUD Nabire untuk mendapat perawatan
intensif.
Pasca penyerangan, aparat
kepolisian melakukan tembakan balasan ke arah kelompok bersenjata yang
bersembunyi di area perbukitan. Situasi di lokasi berlangsung tegang selama
beberapa jam sebelum kondisi dapat dikendalikan. Polisi kemudian mengevakuasi
para korban menggunakan kendaraan taktis.
Kapolres Nabire bersama tim
gabungan Brimob dan TNI langsung diterjunkan untuk melakukan penyisiran di
sekitar lokasi guna mengejar para pelaku yang diduga melarikan diri ke arah
hutan pegunungan. Penjagaan di beberapa titik strategis, termasuk di jalur
utama Nabire–Dogiyai, turut diperketat guna mengantisipasi kemungkinan serangan
lanjutan.
Menurut sumber kepolisian, pola
serangan yang dilakukan menunjukkan bahwa kelompok tersebut sudah memantau
aktivitas warga dan aparat di wilayah tersebut sejak beberapa hari sebelumnya.
Jalur Trans Nabire–Enarotali memang dikenal sebagai salah satu titik rawan
gangguan keamanan di wilayah tengah Papua.
Akibat insiden ini, suasana di
sekitar Distrik Uwapa sempat lumpuh. Aktivitas warga berkurang drastis karena
sebagian besar memilih tetap di rumah. Sejumlah sekolah dan toko di sekitar
jalur utama juga dilaporkan tutup sementara waktu hingga kondisi benar-benar
aman.
Pemerintah Kabupaten Nabire
bersama aparat keamanan mengimbau warga untuk tetap tenang namun waspada, serta
segera melaporkan jika melihat aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar.
Penanganan keamanan kini menjadi prioritas utama agar jalur penghubung
antarwilayah tidak terganggu oleh aksi kekerasan.
Selain menimbulkan korban jiwa,
serangan ini juga menegaskan bahwa ancaman KKB di wilayah tengah Papua masih
nyata dan perlu penanganan serius. Aparat keamanan menegaskan komitmen mereka
untuk melindungi masyarakat dan memastikan stabilitas keamanan tetap terjaga.
Tim gabungan dari Polres Nabire,
Satgas Damai Cartenz, dan Kodim 1705/Nabire kini tengah melakukan pengejaran
terhadap kelompok bersenjata yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Petugas juga mengamankan barang bukti berupa selongsong peluru dan serpihan
logam proyektil yang ditemukan di lokasi kejadian.
Pemerintah Provinsi Papua dan
Polres Nabire berkomitmen untuk tidak memberikan ruang bagi kelompok-kelompok
bersenjata yang mengancam keselamatan masyarakat. Operasi keamanan akan terus
dilanjutkan hingga situasi benar-benar kondusif.
Peristiwa ini menjadi pengingat
bahwa upaya menjaga keamanan di tanah Papua membutuhkan kerja sama semua pihak
— aparat, pemerintah, dan masyarakat — agar kekerasan serupa tidak terus
terulang dan menghambat pembangunan di wilayah tersebut.
Penulis: Hendrik
Editor: GF