logo-website
Jumat, 24 Jul 2026,  WIT
Berita Pilihan Redaksi Homepage
Bantuan Pangan Cair Di Mimika, 27.209 Keluarga Terima Beras Dan Minyak Papuanewsonline.com, Timika - Pemerintah melalui Perum Bulog Cabang Timika segera menyalurkan bantuan pangan bagi masyarakat kurang mampu di Kabupaten Mimika. Total bantuan yang disiapkan mencapai 544.180 kg beras dan 108.836 Liter minyak goreng. Bantuan ini merupakan alokasi untuk periode Februari dan Maret 2026 yang penyalurannya diperpanjang hingga bulan ini dan Mei mendatang, menyasar sebanyak 27.209 penerima yang tersebar di 18 distrik.Kepala Bulog Timika, Dedy Wahyudi, menjelaskan bahwa setiap keluarga penerima manfaat akan mendapatkan paket bantuan sekaligus untuk dua bulan. "Mereka akan menerima total 20 kg beras dan 4 Liter minyak goreng. Data penerima ini murni berasal dari Bapanas yang berbasis pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) Kemensos," ungkapnya (23/4/2026)."Kami berharap penyaluran ini berjalan lancar, tepat waktu, dan yang paling penting tepat sasaran. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban ekonomi masyarakat serta membantu memenuhi kebutuhan pokok keluarga di tengah kondisi saat ini," ujar Dedy menyampaikan harapannya.Untuk memastikan distribusi berjalan aman dan tertib, Bulog akan berkoordinasi penuh bersama pemerintah distrik serta melibatkan dukungan keamanan dari TNI dan Polri.Penyerahan akan dilakukan secara kolektif di titik-titik yang telah ditentukan, agar bantuan dapat diterima langsung oleh yang namanya terdaftar sebagai Penerima Bantuan Pangan (PBP).  Penulis: Andy Ilham Editor: GF 24 Apr 2026, 13:10 WIT
SPPG Oyehe Nabire 002 Dipuji, Program MBG Dinilai Nyata Gerakkan Ekonomi Rakyat Papuanewsonline.com, Timika – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua Tengah mulai menunjukkan dampak nyata di lapangan. Salah satu yang mendapat sorotan positif adalah SPPG Oyehe Nabire 002 yang dinilai berhasil menggabungkan kualitas pelayanan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Aliansi Pengusaha Papua di Timika setelah melakukan pemantauan dan analisa langsung terhadap operasional dapur tersebut.Ketua Aliansi Pengusaha Papua di Timika, Emus Kogoya, menegaskan bahwa SPPG Oyehe Nabire 002 telah menjalankan program dengan standar yang baik serta memberikan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.“Setelah kami melakukan pantauan dan analisa secara langsung, kami melihat langkah-langkah pelayanan dari SPPG Oyehe Nabire 002 ini sangat baik. Ini yang kami bilang, program seperti ini jangan hanya berjalan, tetapi harus benar-benar dirasakan manfaatnya. Dan di sini kami melihat manfaat itu nyata,” tegas Emus Kogoya.Menurutnya, salah satu keunggulan utama dapur tersebut adalah keberpihakan terhadap pelaku ekonomi kecil, terutama mama-mama Papua yang berjualan di pasar tradisional.“Yang paling penting bagi kami adalah dapur ini membeli langsung bahan baku dari mama-mama Papua yang berjualan di pasar. Ini langkah yang sangat positif, karena ekonomi masyarakat kecil ikut bergerak. Program MBG jangan sampai hanya bicara makanan, tetapi juga harus menghadirkan keadilan ekonomi bagi rakyat kecil. Itu yang kami lihat berjalan di sini,” ujarnya.Emus menilai pendekatan tersebut selaras dengan semangat pemerintah pusat dalam memastikan program strategis benar-benar berdampak langsung bagi masyarakat bawah.“Kalau masyarakat kecil ikut tumbuh, pedagang kecil ikut hidup, nelayan kecil ikut mendapat manfaat, maka di situlah letak keberhasilan program pemerintah. Jadi kami sangat mengapresiasi cara kerja seperti ini,” katanya.Tidak hanya memberdayakan pedagang pasar, SPPG Oyehe Nabire 002 juga dinilai menjaga kualitas bahan pangan secara serius. Untuk kebutuhan ikan, dapur tersebut membeli langsung dari nelayan kecil, termasuk mama-mama Papua yang baru kembali melaut.Sekretaris Aliansi Pengusaha Papua di Timika, Aji Lemauk, menilai penggunaan bahan baku segar menjadi indikator penting profesionalisme dapur dalam menjalankan program MBG.“Kami melihat mereka sangat serius dalam memilih bahan baku. Ikan yang dibeli itu segar, langsung dari nelayan kecil. Sayur, buah, dan bumbu juga dalam kondisi segar. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak asal memasak, tetapi benar-benar memperhatikan kualitas makanan yang akan dikonsumsi,” kata Aji Lemauk.Ia menambahkan bahwa kualitas bahan pangan menjadi faktor utama dalam mendukung tujuan besar program MBG, yakni menciptakan generasi yang sehat dan kuat.“Kalau mau menciptakan generasi hebat dan masa depan cerah, maka makanan yang disiapkan juga harus benar-benar berkualitas. Kami melihat SPPG Oyehe Nabire 002 punya kesadaran itu,” ujarnya.Selain kualitas bahan, aspek disiplin kerja juga menjadi perhatian dalam penilaian Aliansi Pengusaha Papua. Mereka melihat seluruh proses operasional dapur berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP).“Program ini besar, menyangkut kebutuhan masyarakat dan masa depan anak-anak. Karena itu tidak boleh dikerjakan sembarangan. Harus ada SOP yang jelas, disiplin yang kuat, dan pengawasan yang baik. Kami melihat hal itu dijalankan di SPPG Oyehe Nabire 002,” tegas Aji.Sementara itu, anggota Aliansi Pengusaha Papua, Faya Naa, menyoroti penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang dinilai cukup ketat di dapur tersebut.“Kami melihat penerapan safety atau K3 di dapur ini cukup ketat. Ini sangat penting, karena dapur yang baik bukan hanya soal hasil akhir makanan, tetapi juga soal bagaimana prosesnya dijalankan secara aman, tertib, bersih, dan bertanggung jawab,” ungkap Faya Naa.Menurutnya, penerapan K3 yang baik akan memberikan dampak positif terhadap kualitas pelayanan secara keseluruhan.“Bagi kami, ini nilai tambah yang besar. Karena dengan penerapan K3 yang baik, maka lingkungan kerja lebih aman, kebersihan lebih terjaga, dan kualitas pelayanan juga ikut meningkat. Hal seperti ini sangat patut ditiru oleh dapur-dapur SPPG lainnya,” katanya.Lebih jauh, Faya menekankan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari distribusi makanan, tetapi juga dari dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan.“Kalau program ini dijalankan dengan pola seperti ini, membeli dari masyarakat lokal, menjaga kualitas bahan, disiplin pada SOP, dan menerapkan K3 secara ketat, maka manfaatnya akan jauh lebih besar. Program ini bisa menjadi penggerak ekonomi rakyat sekaligus penopang lahirnya generasi Papua yang sehat dan cerdas,” ujarnya.Secara keseluruhan, Aliansi Pengusaha Papua di Timika menilai SPPG Oyehe Nabire 002 telah menunjukkan praktik ideal dalam pelaksanaan program MBG.Model kerja yang profesional sekaligus berpihak pada masyarakat dinilai penting untuk direplikasi di berbagai daerah, khususnya di Papua Tengah.Emus Kogoya pun berharap praktik baik tersebut dapat menjadi standar bagi dapur MBG lainnya.“Kami berharap ini jangan berhenti di sini. Apa yang baik harus dijadikan contoh. SPPG Oyehe Nabire 002 sudah memperlihatkan bahwa program MBG bisa dijalankan dengan baik, tertib, aman, dan berpihak kepada rakyat kecil. Ini model yang harus didorong bersama,” tandasnya.Dengan pola kerja yang disiplin, penggunaan bahan segar, serta keterlibatan aktif masyarakat lokal, SPPG Oyehe Nabire 002 dinilai berhasil menghadirkan manfaat ganda, yakni peningkatan gizi sekaligus penguatan ekonomi kerakyatan. (GF)  23 Apr 2026, 20:47 WIT
Evaluasi Kinerja Layanan Publik 2026, MPP Mimika Dapat Apresiasi dan Siap Ekspansi ke Distrik Papuanewsonline.com, Mimika — Evaluasi kinerja layanan publik di Kabupaten Mimika tahun 2026 menunjukkan hasil yang positif, khususnya pada pengelolaan Mal Pelayanan Publik (MPP). Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), Slamet Sutejo saat diwawancarai pada Rabu, (22/04/2026). Dalam keterangannya, Slamet menegaskan bahwa prinsip utama dalam pelayanan publik adalah memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Ia mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan, terutama dalam aspek pelaporan. Namun, hal tersebut dipastikan akan segera dilengkapi. “Perlu dipahami bahwa urusan pelaporan bukan berada di MPP, melainkan leading sector-nya ada di bagian organisasi dan tata laksana (Orta),” jelasnya. Terkait MPP, Slamet menyampaikan bahwa layanan tersebut mendapat apresiasi sejak diresmikan hingga saat ini. MPP Mimika dinilai mampu berjalan dengan baik dan memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Bahkan, MPP fisik dan digital di Mimika telah berjalan secara bersamaan, menjadikannya salah satu daerah di Papua yang mampu mengintegrasikan kedua sistem tersebut. Meski demikian, ia mengingatkan agar tidak cepat berpuas diri. Ke depan, layanan publik yang sudah terpusat di MPP diharapkan dapat diperluas hingga ke tingkat distrik. Saat ini, langkah awal sudah mulai terlihat, seperti hadirnya layanan administrasi kependudukan (Dukcapil) di beberapa distrik. “Nantinya, OPD teknis lainnya juga dapat bergabung di bawah koordinasi Dinas PTSP, sehingga masyarakat bisa mengakses layanan perizinan dan administrasi langsung di distrik,” ujarnya. Dengan skema tersebut, masyarakat di wilayah seperti Mapurujaya, Wania, hingga Kuala Kencana tidak perlu lagi datang ke pusat kota untuk mendapatkan layanan. Terlebih, kawasan tersebut memiliki aktivitas ekonomi yang cukup tinggi. Pemanfaatan kantor distrik yang sudah memadai juga menjadi bagian dari strategi, dengan lantai bawah difungsikan sebagai pusat layanan publik. Selain penguatan layanan, Slamet menekankan pentingnya inovasi berkelanjutan dalam MPP. Ia menyebutkan bahwa peningkatan kualitas layanan harus berjalan seiring dengan perbaikan sistem pelaporan sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas. Untuk mengukur kualitas layanan, pemerintah menggunakan sejumlah indikator, salah satunya indeks kepuasan masyarakat. Penilaian ini mencakup kemudahan prosedur, kecepatan layanan, hingga penanganan pengaduan. Respons masyarakat, baik melalui survei, forum publik, media sosial, maupun ulasan daring, menjadi tolok ukur utama. “Tidak ada layanan yang sempurna, tetapi setiap kekurangan harus menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan,” tegasnya. Ia juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara kualitas pelayanan di lapangan dan kelengkapan administrasi pelaporan. Menurutnya, pelayanan yang sudah baik harus didukung dengan pelaporan yang lengkap agar penilaian kinerja tetap optimal. Secara keseluruhan, Slamet menegaskan bahwa kualitas pelayanan publik harus tercermin baik secara faktual maupun administratif. Keduanya harus berjalan selaras guna meningkatkan transparansi, akuntabilitas, serta kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.   Penulis: Bim Editor: GF 23 Apr 2026, 00:05 WIT
Refleksi Kedatangan Wapres di Mimika, Dewan Adat Soroti Krisis Kepercayaan Publik Papuanewsonline.com, Mimika – Kedatangan Wakil Presiden RI dalam kunjungan kerja pada 20–21 April 2026 di Kabupaten Mimika memunculkan berbagai dinamika di tengah masyarakat. Salah satunya datang dari Ketua Dewan Adat Daerah Kabupaten Mimika, Vinsen Oniyoma, yang menyampaikan refleksi kritis atas situasi sosial dan pemerintahan di daerah tersebut.Dalam pandangannya, kunjungan tersebut justru membuka realitas yang selama ini dirasakan masyarakat, yakni menumpuknya aspirasi yang belum tersalurkan secara maksimal."Aspirasi Membuludak, harapan kosong ke jakarta” ungkapnya dalam refleksi yang disampaikan kepada media.Ia menilai, kondisi pelayanan publik di Mimika saat ini ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak akibat akumulasi kekecewaan masyarakat."Protokoler dan akumulasi kekecewaan pelayanan publik di Mimika ibarat BOM waktu yang meledak." tegasnya.Menurut Vinsen, fenomena yang terjadi menunjukkan adanya kecenderungan sentralisasi harapan masyarakat kepada pemerintah pusat, bukan lagi kepada pemerintah daerah.“Sentralisasi Harapan" dimana masayarakat merasa hanya pemerintah pusat yang mampu memberikan harapan, solusi atau perbaikan dari pada pemerintah daerah serta pelayanan.Ia menyebut kondisi ini sebagai bentuk "mosi tidak percaya" secara sosiologis, yang mencerminkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap pimpinan daerah.Dalam refleksinya, Vinsen menjelaskan bahwa ketidakpercayaan tersebut dipicu oleh berbagai persoalan mendasar, mulai dari buruknya pelayanan publik hingga praktik birokrasi yang dinilai berbelit."Ketidak percayaan ini biasanya dipicu oleh pelayanan publik yang buruk, birokrasi berbelit-belit,Pekraktek KKN,atau kebijakan yang tumpah tindi di daerah."Lebih lanjut, ia menilai kondisi ini merupakan sinyal kuat adanya masalah serius dalam tata kelola pemerintahan daerah yang perlu segera dibenahi."Ini adalah sinyal kuat adanya masalah serius dalam tata kelola pemerintahan di daerah."Secara umum, Vinsen melihat adanya penurunan legitimasi kepemimpinan di tingkat lokal yang berdampak pada meningkatnya harapan masyarakat kepada pemerintah pusat."Otoritas moral dan kepercayaan kepemimpinan sedang runtuh sehingga legitimasi kepemimpinan pusat diharapkan mengambil alih atau mengintervensi."Ia juga menegaskan bahwa fenomena ini menunjukkan krisis yang lebih luas dalam hubungan antara masyarakat dan pemerintah daerah."Situasi di mana masyarakat secara luas tidak percaya kepada pimpinan daerah ( Bupati, Gubernur dan DPRP dan DPRD), namun mereka masih menaruh kepercayaan kepada pemerintah pusat.ini sebuah fenomena krisis."Dalam penilaiannya, masyarakat mulai meragukan kemampuan pimpinan daerah dalam mengelola kepentingan publik dan mewakili aspirasi rakyat."Masayarakat menilai pimpinan2 lokal daerah gagal dalam mewakili aspirasi, dalam mengelola keoentingan publik."Ia menambahkan bahwa kondisi ini harus menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kabupaten Mimika dan DPRK Mimika sebagai penyelenggara pelayanan publik.Vinsen juga menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada Bupati Mimika untuk segera melakukan pembenahan. Di antaranya adalah evaluasi sistem protokoler dalam penyambutan tamu negara, agar lebih tertata dan melibatkan masyarakat adat secara layak. Ia juga mendorong evaluasi terhadap kepala-kepala OPD yang dinilai belum mampu menerjemahkan nilai-nilai Otonomi Khusus di Mimika.Vinsen menekankan pentingnya kebijakan yang benar-benar menyentuh masyarakat adat Papua sebagai prioritas pembangunan daerah. Ia juga meminta adanya teguran terhadap biro protokoler agar setiap kunjungan kenegaraan ke depan dapat dirancang dengan lebih inklusif.Dengan refleksi ini, Dewan Adat berharap pemerintah daerah dapat segera melakukan pembenahan menyeluruh demi mengembalikan kepercayaan masyarakat.Kunjungan Wakil Presiden pun dinilai menjadi momentum penting untuk membaca kondisi riil di lapangan sekaligus memperbaiki arah kebijakan pembangunan di Mimika. (GF)  22 Apr 2026, 23:58 WIT
Menhub Lepas Kloter Pertama Haji 2026, Layanan Khusus dan Keselamatan Jadi Prioritas Papuanewsonline.com, Tangerang – Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi secara resmi melepas keberangkatan jemaah haji kloter pertama tahun 1447H/2026M di Terminal 2F Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (22/4/2026).Pelepasan ini turut dihadiri oleh Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf serta Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto, sebagai penanda dimulainya operasional penyelenggaraan angkutan haji tahun ini.Kegiatan tersebut menjadi momentum penting yang menunjukkan kesiapan pemerintah dalam memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah haji sejak keberangkatan hingga kepulangan.Dalam sambutannya, Menteri Perhubungan menegaskan bahwa seluruh fasilitas di Terminal 2F telah dipersiapkan secara optimal untuk menunjang kenyamanan jemaah.“Terminal 2F telah kami siapkan secara khusus untuk memberikan layanan terbaik bagi jemaah haji, mulai dari fasilitas hingga alur pelayanan yang terintegrasi. Kami ingin memastikan jemaah mendapatkan pengalaman perjalanan yang aman, nyaman, dan lancar sejak dari tanah air,” ujar Menhub Dudy.Terminal 2F sendiri difungsikan sebagai terminal khusus haji yang dilengkapi dengan layanan Mecca Route, sehingga proses keimigrasian Arab Saudi dapat dilakukan lebih awal di Indonesia.Untuk mendukung kelancaran proses tersebut, pemerintah menyediakan 10 konter imigrasi guna mempercepat layanan bagi para jemaah.Pada kesempatan ini, kloter pertama yang diberangkatkan adalah Banten 1 dengan jumlah 393 jemaah menggunakan penerbangan GA 7302 tujuan Madinah.Penerbangan haji dari terminal ini dilayani oleh maskapai Garuda Indonesia dan Saudia Airlines yang telah disiapkan untuk mengangkut jemaah secara bertahap.Menhub Dudy juga memastikan bahwa seluruh armada pesawat yang digunakan telah melalui pemeriksaan kelayakan yang ketat."Seluruh pesawat yang digunakan telah melalui ramp inspection dan dinyatakan laik udara sehingga aspek keselamatan penerbangan dapat terjamin. Kami juga menyiapkan rute alternatif sebagai langkah mitigasi jika terjadi gangguan pada jalur utama penerbangan," tutur Menhub Dudy.Secara nasional, pada tahun 2026 pemerintah akan memberangkatkan lebih dari 221.000 jemaah haji dari 14 bandara embarkasi di seluruh Indonesia melalui 525 kloter penerbangan.Bandara Soekarno-Hatta menjadi salah satu embarkasi terbesar dengan total 34.557 jemaah atau sekitar 16,99 persen dari total nasional.Selain di Tangerang, pada hari yang sama Menhub juga melepas keberangkatan jemaah haji kloter pertama dari embarkasi Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.Sebanyak 441 jemaah diberangkatkan dari embarkasi tersebut, yang merupakan bagian dari total 17.460 jemaah yang akan berangkat melalui Kertajati.Dalam kesempatan itu, Menhub juga menyampaikan pesan kepada seluruh jemaah agar menjaga kesehatan dan mengikuti seluruh prosedur perjalanan dengan baik."Kami berharap perjalanan Bapak dan Ibu dapat berjalan dengan lancar, sampai di Tanah Suci dengan selamat untuk menjalankan ibadah haji dengan lancar. Semoga menjadi Haji yang mabrur dan mabrurah. Semoga sehat selalu. Begitu juga nanti dalam kepulangannya, semoga berjalan dengan lancar dan sampai ke Tanah Air dengan selamat dan sehat," kata Menhub Dudy.Kementerian Perhubungan menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas layanan transportasi udara dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan ibadah haji.Pemerintah juga berharap seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk dan kembali ke tanah air dalam keadaan sehat serta memperoleh predikat haji yang mabrur. (GF)  22 Apr 2026, 23:50 WIT
TMMD ke-128 Resmi Dimulai, TNI dan Pemda Genjot Pembangunan Kampung di Mimika Papuanewsonline.com, Mimika – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-128 Tahun 2026 resmi digelar di Kabupaten Mimika. Kegiatan ini ditandai dengan upacara pembukaan yang dipimpin langsung oleh Bupati Mimika, Johannes Rettob, di Makodim 1710/Mimika, Rabu (22/4/2026).Pembukaan TMMD menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara TNI, pemerintah daerah, serta masyarakat dalam upaya percepatan pembangunan di wilayah terpencil.Dalam pelaksanaannya, TMMD ke-128 melibatkan sekitar 150 personel gabungan yang terdiri dari TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, serta Polri.Komandan Kodim 1710/Mimika, Jozanda, menjelaskan bahwa kegiatan TMMD kali ini dipusatkan di Kampung Keakwa sebagai lokasi utama pembangunan."Kami mengerjakan program fisik berupa pembangunan 5 unit rumah panggung tipe 36, fasilitas MCK umum, program air bersih, hingga pembukaan lahan tidur menjadi lahan pertanian produktif," ujarnya.Selain fokus pada pembangunan fisik, program TMMD juga menghadirkan berbagai kegiatan nonfisik yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.Kegiatan tersebut meliputi penyuluhan kesehatan, penanganan stunting, hingga pembekalan wawasan kebangsaan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah tersebut.Bupati Mimika, Johannes Rettob, dalam sambutannya menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap pelaksanaan program TMMD."Kami harap manfaatnya langsung dirasakan masyarakat. Infrastruktur yang dibangun sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan warga," katanya.Ia juga menilai bahwa program TMMD bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat melalui semangat gotong royong.Menurutnya, kolaborasi yang terjalin dalam program ini mencerminkan komitmen bersama dalam membangun daerah secara inklusif dan berkelanjutan.Di sisi lain, keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan menjadi kunci keberhasilan program ini agar hasil pembangunan dapat dimanfaatkan secara optimal.Bupati pun mengimbau warga untuk turut berpartisipasi aktif selama pelaksanaan TMMD berlangsung.Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga dan merawat hasil pembangunan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.Program TMMD ke-128 diharapkan mampu menjadi solusi nyata dalam mengatasi keterbatasan infrastruktur di wilayah terpencil, sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.Dengan adanya sinergi yang kuat antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat, pembangunan di Kampung Keakwa diharapkan berjalan lancar dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan. Penulis: JidEditor: GF  22 Apr 2026, 23:48 WIT
Ketua KPK Mimika Desak Pimpinan PT Dewi Graha Indah Bertanggung Jawab atas Proyek Jembatan Banti Papuanewsonline.com, Mimika - Ketua Komunitas Pemuda Kei (KPK) Mimika, Edoardus Rahawadan, mendesak Haji Ali Mulyono selaku pimpinan PT Dewi Graha Indah untuk bertanggung jawab penuh atas pembangunan jembatan penghubung Banti 1 ke Kampung Banti 2 serta Opitawak.Proyek yang bersumber dari APBD Kabupaten Mimika tahun anggaran 2023–2024 itu tercantum dalam DPA Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Mimika. Pekerjaan fisiknya dikerjakan oleh PT Dewi Graha Indah yang beralamat di Jalan Tawes, belakang Expo Waena, Distrik Heram, Kabupaten Jayapura.Edoardus menilai proyek tersebut terhambat dan seolah hilang dalam proses hukum. Ia menduga keterlambatan itu berkaitan dengan keterlibatan sejumlah pejabat penting serta pihak-pihak yang memiliki kedekatan dengan aparat penegak hukum.“Jika alasan keterlambatan karena faktor keamanan, maka saya mempertanyakan mengapa ada banyak dukungan dari oknum-oknum aparat keamanan,” ujar Edoardus.Menurutnya, sebelumnya penyidik Polres Mimika telah memeriksa enam saksi terkait kasus tersebut. Edoardus mengutip pernyataan Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman pada Rabu 11 Juni 2025.“Enam saksi kami periksa, semuanya cukup kooperatif memberikan keterangan. Namun, yang harus dilengkapi saat ini terkait alat bukti,” kata Kapolres sebagaimana dikutip dari salah satu media online.Edoardus meminta Kapolres dan Kasat Reskrim untuk fokus menangani perkara ini. Ia juga mengaku memiliki catatan khusus terkait perkembangan kasus yang menurutnya sudah ditangani oleh dua Kapolres.Edoardus menambahkan, proyek jembatan di dataran tinggi Mimika itu sangat merugikan masyarakat karena akses transportasi warga terhambat.Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman saat itu menyatakan belum ada tersangka dan proses masih pada tahap pengumpulan alat bukti. Ali Mujiono juga mengakui pencairan dana proyek sudah dilakukan 100 persen pada akhir 2023, sementara progres pengerjaan belum memenuhi target.Hingga berita ini rilis, redaksi belum mendapat keterangan resmi dari Haji Ali Mulyono maupun PT Dewi Graha Indah terkait desakan tersebut. Penulis: Hend Editor: GF 22 Apr 2026, 23:44 WIT
Pemkab Mimika Gelar Evaluasi Layanan Publik, Wakil Bupati: Bukan Sekadar Formalitas Papuanewsonline.com, Timika – Pemerintah Kabupaten Mimika kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat melalui kegiatan Evaluasi Kinerja Layanan Publik Tahun 2026. Acara yang digelar di Hotel Horison Ultima, Rabu (22/4/26), ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Emanuel Kemong, jajaran pimpinan OPD, serta narasumber ahli dari Kementerian PAN-RB, Dr. Otok Kuswandaru.Dalam sambutannya Emanuel Kemong, Menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan momen penting untuk melakukan evaluasi dan introspeksi menyeluruh. "Evaluasi ini menjadi ruang untuk melihat kekurangan dan tantangan, agar pelayanan nantinya benar-benar transparan, akuntabel, dan sesuai kebutuhan masyarakat," ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya transformasi pelayanan yang cepat, mudah, dan didukung oleh teknologi informasi yang memadai.Sementara itu, Dr. Otok Kuswandaru dalam paparannya menjelaskan lima pilar utama transformasi layanan, yaitu kepastian layanan, respons terhadap pengaduan, aksesibilitas, inovasi, serta integrasi. "Pelayanan harus memberi kepastian, bukan kebingungan. Pengaduan masyarakat adalah kompas untuk perbaikan," tegasnya. Ia juga menekankan agar birokrasi tidak lagi rumit dan pemerintah hadir secara proaktif menyelesaikan masalah rakyat.Di sisi lain, Kepala Disdukcapil Mimika, Slamet Sutejo, memaparkan upaya perbaikan melalui program "Dukcapil Prima Mimika Bisa" yang fokus pada penyederhanaan prosedur dan digitalisasi. "Kami terus menghadirkan layanan yang cepat, mudah, dan membahagiakan masyarakat," katanya. Melalui evaluasi ini, diharapkan lahir rekomendasi strategis yang mampu mendorong perubahan nyata dan kepuasan masyarakat di Mimika.  Penulis: Andi Ilham Editor: GF 22 Apr 2026, 23:40 WIT
Penantian 22 Tahun Berakhir, RUU PPRT Resmi Disahkan Jadi Undang-Undang Papuanewsonline.com, Jakarta – Pemerintah bersama DPR RI akhirnya menyepakati Rancangan Undang-Undang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) untuk disahkan menjadi undang-undang. Keputusan ini mengakhiri penantian panjang selama 22 tahun dalam menghadirkan kepastian hukum bagi pekerja rumah tangga di Indonesia.Pengesahan tersebut memiliki makna khusus karena bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, serta menjadi momentum menjelang Hari Buruh Internasional (May Day) 2026. Hal ini sekaligus menegaskan komitmen negara dalam memperjuangkan hak-hak pekerja, khususnya di sektor domestik yang selama ini kerap terabaikan.Keputusan resmi diambil dalam Rapat Paripurna DPR ke-17 Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026 yang dipimpin Ketua DPR RI Puan Maharani di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).Sidang paripurna tersebut dihadiri sejumlah perwakilan pemerintah, di antaranya Menteri Hukum Supratman Andi Agtas, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, Wakil Menteri Sekretaris Negara Bambang Eko Suhariyanto, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor, serta Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan.Dalam forum tersebut, Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pembahasan panjang RUU PPRT, termasuk kementerian terkait yang telah berkontribusi aktif dalam merumuskan regulasi tersebut.Mewakili pemerintah, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas menegaskan bahwa pembentukan UU PPRT bertujuan memberikan kepastian hukum serta melindungi pekerja rumah tangga dari berbagai bentuk pelanggaran hak.“Setelah sungguh-sungguh mempertimbangkan pendapat fraksi-fraksi, izinkan kami mewakili Presiden RI dalam rapat terhormat ini menyatakan setuju RUU tentang PPRT untuk disahkan menjadi undang-undang,” katanya.Ia menjelaskan bahwa undang-undang ini juga dirancang untuk mencegah praktik diskriminasi, eksploitasi, dan pelecehan terhadap pekerja rumah tangga, sekaligus menciptakan hubungan kerja yang harmonis dengan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan.Sementara itu, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menyampaikan apresiasi atas rampungnya pembahasan RUU yang telah diusulkan sejak tahun 2004 tersebut.Afriansyah menilai pengesahan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat landasan hukum perlindungan pekerja rumah tangga di Indonesia.“Kami mewakili Presiden menyampaikan ucapan terima kasih kepada pimpinan dan anggota Badan Legislasi DPR RI yang dengan penuh dedikasi dan kerja keras telah menyelesaikan pembahasan RUU PPRT,” ujarnya.Dalam undang-undang tersebut, diatur berbagai aspek penting, mulai dari mekanisme perekrutan, lingkup pekerjaan, hingga hubungan kerja antara pekerja rumah tangga dan pemberi kerja yang berbasis kesepakatan atau perjanjian kerja.Selain itu, regulasi ini juga mengatur hak dan kewajiban pekerja rumah tangga, pemberi kerja, serta Perusahaan Penempatan Pekerja Rumah Tangga (P3RT), termasuk kewajiban pelatihan vokasi dan sistem perizinan bagi lembaga penyalur.Tidak hanya itu, pemerintah juga menekankan pentingnya pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan perlindungan pekerja rumah tangga, serta mekanisme penyelesaian perselisihan yang adil dan transparan.Peran serta masyarakat juga menjadi bagian penting dalam undang-undang ini, guna memastikan perlindungan pekerja rumah tangga dapat berjalan secara menyeluruh dan berkelanjutan.Dengan disahkannya UU PPRT, pemerintah berharap tidak ada lagi celah hukum yang merugikan pekerja rumah tangga, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan kerja yang lebih manusiawi, aman, dan berkeadilan di seluruh Indonesia. (GF) 21 Apr 2026, 23:26 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT