logo-website
Rabu, 11 Mar 2026,  WIT
Berita Pilihan Redaksi Homepage
Pemprov Papua dan Pemkab Yapen Kolaborasi Bangun PLTMH Ramah Lingkungan di Hutan Lindung Papuanewsonline.com, Jayapura — Pemerintah Provinsi Papua terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Wujud nyata dari komitmen tersebut terlihat melalui kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang memanfaatkan potensi sumber daya alam dari kawasan hutan lindung. Kerja sama tersebut resmi dijalankan melalui penandatanganan dua Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Papua dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen, yang digelar di Jayapura, Selasa (21/10/2025). Dua proyek PLTMH tersebut masing-masing akan dibangun di Kampung Ausem, Distrik Pulau Yerui, dan Kampung Soromasen, Distrik Yapen Utara, Kabupaten Kepulauan Yapen. Kedua lokasi ini merupakan wilayah terpencil yang selama ini masih mengalami keterbatasan akses listrik. Dalam sambutannya, Bupati Kepulauan Yapen, Benyamin Arisoy, menegaskan bahwa pembangunan PLTMH ini tidak hanya berorientasi pada penyediaan energi, tetapi juga harus memperhatikan prinsip keberlanjutan dan kelestarian lingkungan. “Dengan adanya kerja sama ini, kami menegaskan bahwa kawasan hutan yang digunakan untuk pembangunan PLTMH tetap harus dijaga kelestariannya. Masyarakat dan pemerintah daerah wajib memastikan bahwa tidak ada aktivitas yang merusak lingkungan di kawasan tersebut,” ujar Bupati Arisoy. Ia juga menambahkan bahwa keberadaan listrik dari PLTMH diharapkan dapat memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat, terutama di kampung-kampung terpencil yang belum tersentuh jaringan listrik konvensional. “Kehadiran listrik akan membuka peluang ekonomi baru, meningkatkan pendidikan, dan memperbaiki kualitas hidup warga di kampung-kampung sekitar,” tambahnya. Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Aries Toteles Ap, menyampaikan dukungan penuh terhadap upaya Pemkab Yapen dalam mewujudkan energi bersih yang memanfaatkan sumber daya lokal secara bijak. “Kami mendukung langkah Pemkab Yapen karena ini merupakan contoh sinergi yang baik antara pelestarian hutan dan pemanfaatan hasilnya bagi kepentingan masyarakat. PLTMH ini adalah bukti bahwa pembangunan berkelanjutan bisa berjalan beriringan dengan konservasi,” ungkap Aries. Ia menjelaskan, pembangunan PLTMH tidak hanya memberi manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wujud nyata implementasi kebijakan energi hijau dan pengurangan emisi karbon di Provinsi Papua. “Harapannya, proyek ini bisa menjadi model percontohan bagi kabupaten lain di Papua dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan dan bertanggung jawab,” tambahnya. Program PLTMH di Yapen ini juga diharapkan menjadi langkah awal menuju kemandirian energi desa. Dengan kapasitas listrik yang cukup, masyarakat dapat mengembangkan usaha kecil, menghidupkan sektor ekonomi lokal, dan memperkuat ketahanan energi daerah. Kerja sama ini mencerminkan semangat “Pembangunan Hijau Papua”, di mana pembangunan infrastruktur tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan, tetapi justru memperkuat harmoni antara manusia dan alam. Penulis: Jidan Editor: GF   24 Okt 2025, 00:26 WIT
Gubernur Papua Dukung Penuh Audit BPK dan Ajak ASN Serta BUMD Bersikap Terbuka Papuanewsonline.com, Jayapura — Pemerintah Provinsi Papua menunjukkan komitmen kuat terhadap tata kelola keuangan yang transparan dan akuntabel dengan memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan Provinsi Papua. Pelaksanaan audit tersebut secara resmi dimulai melalui kegiatan Entry Meeting yang dihadiri langsung oleh Gubernur Papua, Mathius D. Fakhiri, bersama jajaran pejabat eselon II, perwakilan BUMD, dan tim auditor BPK RI. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat budaya kerja yang jujur, terbuka, dan bertanggung jawab terhadap pengelolaan keuangan publik. Dalam sambutannya, Gubernur Mathius D. Fakhiri menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap pelaksanaan audit BPK, sembari mengajak seluruh perangkat daerah dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Papua untuk bersikap kooperatif serta terbuka terhadap proses pemeriksaan. “Audit ini bukan sekadar formalitas atau rutinitas tahunan. Ini adalah bentuk tanggung jawab moral dan hukum kita sebagai penyelenggara pemerintahan untuk memastikan setiap rupiah uang rakyat digunakan dengan benar, transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Papua,” ujar Fakhiri. Gubernur menegaskan bahwa pelaksanaan audit merupakan amanat konstitusi, sebagaimana tercantum dalam Pasal 23 ayat (5) UUD 1945, dan diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang BPK, yang memberikan kewenangan kepada lembaga tersebut untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara secara menyeluruh. Kepala Perwakilan BPK RI Papua dalam pemaparannya menyampaikan bahwa audit tahun ini akan difokuskan pada tiga agenda utama, yakni: Pemeriksaan Kinerja Ketahanan Pangan — untuk mengevaluasi sejauh mana kebijakan, strategi, serta program Pemerintah Provinsi Papua dalam mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan selama tahun anggaran 2020 hingga semester I tahun 2025. Pemeriksaan Kepatuhan atas Belanja Daerah — yang akan mencakup audit terhadap penggunaan APBD tahun anggaran 2024 hingga Triwulan III 2025, guna memastikan setiap kegiatan pembangunan berjalan sesuai prinsip efisiensi, efektivitas, dan transparansi. Pemeriksaan Kepatuhan Operasional BUMD, dengan fokus utama pada PT Irian Bhakti Papua, untuk menilai sejauh mana perusahaan daerah tersebut menerapkan prinsip good corporate governance dalam operasionalnya. Dalam arahannya, Gubernur Fakhiri menekankan bahwa pemeriksaan oleh BPK tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana introspeksi dan pembelajaran bagi seluruh jajaran pemerintah daerah. “Kita harus menjadikan hasil audit sebagai cermin untuk memperbaiki diri. Jika ada catatan dari BPK, segera tindaklanjuti dengan langkah-langkah perbaikan. Karena pada akhirnya, tujuan kita adalah membangun pemerintahan yang bersih, transparan, dan dipercaya publik,” tegas Fakhiri. Ia juga mengingatkan seluruh pimpinan OPD agar memberikan dukungan penuh kepada tim auditor, termasuk dengan menyediakan data, dokumen, serta akses informasi yang lengkap dan tepat waktu. Selain itu, Gubernur berharap agar hasil audit nantinya dapat menjadi dasar untuk memperkuat sistem pengawasan internal serta memperbaiki mekanisme perencanaan dan pelaksanaan anggaran, agar tidak terjadi penyimpangan yang dapat merugikan daerah. Pelaksanaan audit BPK RI ini menjadi bagian penting dari upaya Pemprov Papua mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berintegritas tinggi. Dengan pengawasan yang baik dan komitmen kuat dari seluruh jajaran ASN, diharapkan pengelolaan keuangan daerah dapat memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat, peningkatan pelayanan publik, serta efektivitas pembangunan daerah. “Kami ingin agar Papua dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena tata kelola pemerintahannya yang transparan dan akuntabel. Ini adalah wujud nyata semangat reformasi birokrasi yang terus kami dorong,” pungkas Gubernur Fakhiri menutup sambutannya. Penulis: Jid Editor: GF 24 Okt 2025, 00:23 WIT
Pemprov Papua Gandeng OJK dan Perbankan Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Kolaborasi KUR Papuanewsonline.com, Jayapura — Pemerintah Provinsi Papua terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai tulang punggung perekonomian daerah. Melalui kerja sama strategis dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan lembaga perbankan nasional, Pemprov Papua kini gencar mendorong realisasi program Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi rakyat di Bumi Cenderawasih. Momentum penting itu ditandai dengan Acara Akad Massal KUR Nasional Tahun 2025, yang digelar secara serentak di seluruh Indonesia, termasuk di Kantor Gubernur Papua, Jayapura, pada Selasa (21/10/2025). Acara tersebut melibatkan lebih dari 800.000 debitur secara nasional, dengan 145 pelaku UMKM Papua ikut berpartisipasi mewakili berbagai sektor produktif seperti pertanian, perikanan, perdagangan tradisional, serta industri rumahan. Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Papua Aryoko Rumaropen menegaskan bahwa program KUR bukan sekadar penyaluran modal usaha, tetapi juga merupakan upaya komprehensif untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat Papua. “Pemerintah tidak hanya mendorong masyarakat untuk mengakses kredit, tetapi juga memastikan adanya pendampingan, pelatihan, serta fasilitasi pemasaran, agar pelaku UMKM di Papua semakin kuat dan mandiri,” ujar Aryoko Rumaropen di hadapan peserta akad massal. Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, perbankan, dan OJK menjadi kunci dalam memastikan penyaluran KUR tepat sasaran, sekaligus membangun ekosistem ekonomi yang inklusif dan berkeadilan. Dengan demikian, setiap pelaku usaha kecil tidak hanya mendapatkan akses permodalan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. Menurut Aryoko, potensi ekonomi Papua sangat besar, terutama di sektor-sektor berbasis sumber daya alam seperti pertanian, peternakan, perikanan, dan kerajinan lokal. Namun, sebagian besar pelaku usaha masih menghadapi kendala modal dan minimnya literasi keuangan. Program KUR diharapkan menjadi jembatan antara perbankan dan masyarakat akar rumput, sehingga pelaku UMKM tidak lagi bergantung pada sumber pembiayaan informal yang sering kali memberatkan. “Kami ingin agar setiap pelaku usaha di kampung-kampung, di pasar-pasar, dan di daerah pesisir dapat merasakan manfaat langsung dari program KUR ini. Dengan modal usaha yang terarah dan pendampingan yang kuat, Papua bisa tumbuh menjadi daerah dengan basis ekonomi rakyat yang kokoh,” jelas Aryoko. Selain pembiayaan produktif, Pemprov Papua juga mendorong agar perbankan memperluas akses layanan digital dan program literasi keuangan di wilayah pedalaman dan pesisir, agar masyarakat lebih memahami cara mengelola kredit dan mengembangkan usaha kecil dengan bijak. Untuk memastikan efektivitas program, Pemprov Papua akan memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mengawasi penyaluran serta pemanfaatan dana KUR di lapangan. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang disalurkan digunakan secara produktif dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Selain itu, pemerintah juga berencana meluncurkan program pembinaan UMKM berbasis wilayah adat, yang melibatkan dinas teknis, perguruan tinggi, serta lembaga pendamping ekonomi lokal. “Kami ingin agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam pertumbuhan ekonomi Papua. Kemandirian ekonomi lokal harus menjadi visi bersama kita,” tegas Wagub Aryoko. Dengan diselenggarakannya Akad Massal KUR Tahun 2025 ini, pemerintah berharap semangat kewirausahaan masyarakat Papua semakin tumbuh. Program KUR diharapkan menjadi cetak biru kebangkitan ekonomi Papua, yang tidak hanya bergantung pada sektor tambang, tetapi juga mengandalkan kekuatan ekonomi rakyat yang produktif dan mandiri. Acara ini juga menjadi momentum penting bagi pelaku usaha mikro untuk naik kelas, dengan memanfaatkan dukungan pembiayaan dan pendampingan yang berkelanjutan dari pemerintah dan perbankan. “Kita ingin Papua tidak hanya dikenal karena kekayaan alamnya, tetapi juga karena masyarakatnya yang kreatif, mandiri, dan sejahtera,” tutup Aryoko.   Penulis: Jid Editor: GF 24 Okt 2025, 00:17 WIT
Tujuh Kepala Suku dan Lembaga P2MA PTP Nyatakan Dukungan kepada Frans Pigome untuk Pimpin PTFI Papuanewsonline.com, Timika — Dinamika kepemimpinan di tubuh PT Freeport Indonesia (PTFI) kembali menjadi sorotan setelah Lembaga Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Adat Papua Tambang (P2MA PTP) bersama tujuh kepala suku besar di wilayah Mimika menyampaikan dukungan resmi kepada Frans Pigome untuk menjabat sebagai Presiden Direktur PTFI. Pernyataan dukungan ini disampaikan secara terbuka melalui pertemuan adat di Timika, yang dihadiri oleh tokoh adat, masyarakat, dan perwakilan pemuda dari wilayah yang terdampak langsung oleh aktivitas pertambangan Freeport. Dukungan tersebut dianggap sebagai aspirasi moral dan politik masyarakat adat Papua, yang menuntut agar posisi pimpinan tertinggi perusahaan tambang terbesar di Indonesia itu diisi oleh putra asli Papua. Ketua P2MA PTP Ruben Kobogau bersama Sekretaris Jenderal Yonas Magai dalam pernyataannya menegaskan bahwa dukungan ini tidak sekadar merupakan dorongan personal terhadap Frans Pigome, melainkan bentuk komitmen masyarakat adat untuk memperjuangkan representasi orang asli Papua (OAP) di posisi strategis perusahaan yang selama puluhan tahun beroperasi di tanah mereka. “Kami, tujuh kepala suku yang wilayah adatnya bersinggungan langsung dengan aktivitas tambang Freeport, menilai bahwa sudah saatnya putra asli Papua memimpin perusahaan ini. Kami percaya Frans Pigome memiliki kapasitas, pengalaman, dan integritas untuk membawa Freeport menjadi perusahaan yang berkeadilan bagi rakyat Papua,” ujar Ruben Kobogau, didampingi Yonas Magai. Pernyataan tersebut disambut hangat oleh para kepala suku yang hadir. Mereka menegaskan bahwa dukungan ini mencerminkan semangat Otonomi Khusus Papua, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2021 tentang perubahan atas UU Nomor 21 Tahun 2001. Dalam pandangan masyarakat adat, Frans Pigome dipandang sebagai figur yang memahami dinamika sosial, ekonomi, dan budaya Papua secara menyeluruh. Ia dinilai mampu menjadi jembatan antara perusahaan dan masyarakat lokal, sekaligus membawa visi pembangunan berkelanjutan yang berpihak pada kesejahteraan orang asli Papua. “Kami melihat sosok Frans Pigome sebagai pemimpin yang mampu mempersatukan semua pihak. Ia bukan hanya representasi OAP, tetapi juga simbol harapan agar Freeport lebih manusiawi dan berpihak pada masyarakat sekitar tambang,” ungkap salah satu kepala suku yang turut menandatangani pernyataan dukungan. Selain soal kepemimpinan, para tokoh adat juga menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam pengelolaan hasil tambang agar manfaat ekonomi yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh segelintir pihak, melainkan juga oleh masyarakat adat di wilayah operasi. Melalui momentum ini, P2MA PTP menekankan perlunya penguatan kebijakan afirmatif di bidang ketenagakerjaan, pendidikan, dan pengelolaan lingkungan di area operasi Freeport. Mereka mendorong agar perusahaan memberi ruang lebih luas bagi tenaga kerja OAP, meningkatkan pendidikan vokasi berbasis kebutuhan industri tambang, serta menjalankan program pelestarian lingkungan yang transparan dan berkelanjutan. “Freeport beroperasi di tanah Papua selama puluhan tahun. Sudah saatnya manfaatnya benar-benar dirasakan oleh anak-anak asli negeri ini — bukan hanya dalam bentuk bantuan sosial, tapi juga pemberdayaan yang nyata,” kata Yonas Magai. Menurutnya, keberadaan Frans Pigome di posisi puncak akan menjadi tonggak sejarah baru dalam perjuangan masyarakat adat Papua untuk mendapatkan keadilan ekonomi dan pengakuan politik di sektor strategis nasional. Dalam pernyataan penutup, para tokoh adat dan pimpinan P2MA PTP menyerukan agar Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Papua, dan manajemen PTFI mendengarkan aspirasi ini dengan penuh tanggung jawab. Mereka menilai, dukungan terhadap Frans Pigome bukan semata dorongan politik, melainkan seruan moral bangsa agar pembangunan di Papua dilakukan dengan mengutamakan partisipasi dan kepemimpinan lokal. “Kami tidak ingin hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Kami ingin ikut menentukan arah masa depan Papua, termasuk dalam perusahaan besar seperti Freeport. Dukungan kami kepada Frans Pigome adalah simbol dari harapan itu,” ujar Ruben Kobogau tegas. Pertemuan adat tersebut diakhiri dengan doa bersama dan penandatanganan dokumen pernyataan dukungan dari tujuh kepala suku besar, yang menjadi bagian dari wilayah terdampak langsung aktivitas PTFI. (GF) 23 Okt 2025, 14:20 WIT
Gebyar Sadar Pajak Daerah 2025: Pemerintah Kabupaten Mimika Teguhkan Komitmen Pembangunan Papuanewsonline.com, Timika — Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pajak sebagai sumber utama pembangunan daerah, Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) menggelar Gebyar Sadar Pajak Daerah Kabupaten Mimika Tahun 2025. Kegiatan tahunan ini menjadi wadah apresiasi bagi para wajib pajak teladan yang dinilai berperan aktif dan taat dalam memenuhi kewajiban pajaknya. Selain itu, acara ini juga dirancang untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan. Dalam cuplikan video, Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan bahwa pajak memiliki peran vital dalam menopang pembangunan di berbagai sektor, mulai dari infrastruktur hingga pelayanan publik. Ia menyampaikan apresiasi tinggi kepada masyarakat dan pelaku usaha yang telah menunjukkan kepatuhan dan kontribusi nyata melalui pembayaran pajak tepat waktu. “Pajak kuat, Mimika hebat — itulah semangat yang ingin kita bangun bersama. Karena dengan kesadaran membayar pajak, pembangunan di Mimika dapat terus berjalan dan memberi manfaat bagi seluruh masyarakat,” ujar Bupati Johannes Rettob. Menurutnya, kegiatan seperti Gebyar Sadar Pajak bukan hanya bentuk penghargaan, tetapi juga sarana edukasi publik untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap proses pembangunan daerah. “Setiap rupiah pajak yang dibayarkan adalah investasi bagi masa depan Mimika,” tambahnya. Sementara itu, Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong menyoroti pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap aspek pembangunan daerah, termasuk dalam hal kepatuhan pajak. Ia menjelaskan bahwa pada acara puncak Gebyar Sadar Pajak 2025, Bapenda akan melaksanakan pengundian hadiah menarik bagi wajib pajak dari berbagai sektor seperti hotel, restoran, hiburan, serta Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2). Selain itu, pemerintah juga menyiapkan penghargaan khusus bagi Wajib Pajak Teladan, yang dinilai memiliki tingkat kepatuhan dan kontribusi tinggi dalam mendukung pendapatan asli daerah (PAD). “Kami berharap apresiasi ini dapat menjadi motivasi bagi masyarakat dan pelaku usaha lainnya untuk terus patuh membayar pajak, karena pajak yang dibayarkan hari ini akan kembali dalam bentuk pembangunan yang kita nikmati bersama,” ungkap Wakil Bupati. Rangkaian kegiatan Gebyar Sadar Pajak 2025 dibuka dengan Bapenda Fun Run 7K, sebuah ajang olahraga yang menggabungkan semangat kebugaran dengan edukasi pajak. Ratusan peserta dari berbagai kalangan — mulai dari ASN, pelaku usaha, pelajar, hingga masyarakat umum — turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Kepala Bapenda Mimika, Dwi Cholifa, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang bukan hanya sebagai lomba lari, tetapi juga sebagai kampanye sadar pajak yang lebih dekat dan menyenangkan. “Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk berolahraga sambil menumbuhkan semangat sadar pajak. Karena pajak bukan hanya kewajiban, tetapi juga kontribusi nyata bagi kemajuan Mimika,” kata Dwi Cholifa. Selain Fun Run, Bapenda juga menyiapkan pameran layanan pajak, stand informasi digital, serta sosialisasi mengenai inovasi pembayaran pajak online, yang memudahkan masyarakat dalam melaksanakan kewajiban pajak tanpa harus datang langsung ke kantor. Gebyar Sadar Pajak Daerah 2025 tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat transparansi dan kepercayaan publik terhadap sistem perpajakan daerah. Melalui inovasi digitalisasi dan pelayanan yang lebih cepat, pemerintah berupaya menciptakan pengalaman positif bagi para wajib pajak. Bupati Johannes Rettob menegaskan, keberhasilan pembangunan Mimika tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh tingkat partisipasi masyarakat dalam memenuhi kewajiban pajak. “Kami ingin menjadikan Mimika sebagai contoh daerah yang mampu membangun dengan kekuatan sendiri, dari dan untuk masyarakatnya,” ujar Bupati. Dengan meningkatnya kepatuhan pajak, Pemerintah Kabupaten Mimika optimis target pendapatan daerah tahun 2025 dapat tercapai bahkan melampaui ekspektasi. Melalui Gebyar Sadar Pajak Daerah 2025, Pemerintah Kabupaten Mimika menunjukkan komitmen bahwa setiap program dan kebijakan yang dihasilkan bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat. Pajak bukan sekadar angka dalam laporan keuangan, tetapi fondasi yang menopang kemajuan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi lokal. Semangat ini sejalan dengan visi “Mimika Hebat dan Sejahtera” yang hanya dapat diwujudkan dengan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. “Kami percaya, ketika masyarakat sadar akan pentingnya pajak, maka keadilan dan kesejahteraan dapat terwujud bagi seluruh rakyat Mimika,” pungkas Dwi Cholifa.     Penulis: Bim Editor: GF 23 Okt 2025, 01:04 WIT
Festival Pesona Meti Kei 2025 Resmi Dibuka: Perpaduan Budaya, Alam, dan Kebersamaan yang Menyatu Papuanewsonline.com, Maluku Tenggara — Langit biru dan semilir angin laut menjadi saksi kemeriahan pembukaan Festival Pesona Meti Kei 2025 yang digelar di Kabupaten Maluku Tenggara. Festival yang berlangsung dari 21 hingga 27 Oktober 2025 ini menjadi momen istimewa bagi masyarakat Kepulauan Kei untuk merayakan keindahan alam sekaligus kekayaan budaya lokal. Pembukaan festival ditandai dengan pelepasan balon berwarna-warni ke udara oleh Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, bersama unsur Forkopimda, TNI, dan Polri di kawasan Monumen Evav Langgur. Momen simbolis ini menandai dimulainya rangkaian acara yang menggabungkan seni, budaya, dan tradisi bahari masyarakat Kei. Festival ini berakar dari fenomena alam khas Kepulauan Kei yang disebut “Meti Kei”, yaitu peristiwa pasang surut laut ekstrem di mana air laut surut hingga sejauh ratusan meter, memperlihatkan dasar laut yang luas seperti hamparan daratan baru. Fenomena ini tidak hanya menakjubkan, tetapi juga menjadi simbol hubungan harmonis antara masyarakat Kei dengan alam lautnya. Salah satu kegiatan paling dinantikan adalah tradisi “Wer Warat”, yakni penangkapan ikan secara tradisional menggunakan daun kelapa yang dibentangkan di laut dan ditarik bersama-sama oleh masyarakat. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan menangkap ikan, tetapi juga lambang kebersamaan dan kerja sama masyarakat pesisir. “Festival ini tidak hanya untuk hiburan, tapi juga menjadi wadah untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya, tradisi, dan semangat gotong royong masyarakat Kei kepada dunia,” ujar Bupati Muhamad Thaher Hanubun dalam sambutannya. Selain Wer Warat, Festival Pesona Meti Kei 2025 juga menghadirkan berbagai acara menarik seperti Lomba Goyang Kreasi Meti Kei, pameran kuliner lokal, ekspedisi wisata alam, pagelaran musik tradisional, hingga lomba perahu hias. Acara ini menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin menikmati perpaduan keindahan alam pantai pasir putih, laut jernih, dan budaya yang masih terjaga autentisitasnya. Ketua Panitia Festival, Budhi Toffy, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata dari upaya pemerintah daerah dalam mendorong pariwisata berkelanjutan dan ramah lingkungan. “Festival Pesona Meti Kei bukan hanya ajang seremonial, tetapi strategi promosi wisata yang berorientasi pada pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat lokal,” jelas Budhi. Festival tahunan ini telah menjadi bagian penting dari kalender pariwisata Maluku Tenggara dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah serta berbagai pihak, termasuk pelaku UMKM, komunitas budaya, hingga organisasi pemuda. Kehadiran berbagai instansi dan perwakilan masyarakat dalam acara pembukaan menunjukkan tingginya semangat kebersamaan untuk menjadikan Maluku Tenggara sebagai destinasi unggulan di Indonesia timur. Bupati Thaher Hanubun berharap melalui festival ini, Maluku Tenggara dapat semakin dikenal sebagai daerah yang kaya akan budaya, ramah wisatawan, dan memiliki potensi alam luar biasa. “Kami ingin dunia melihat bahwa Kepulauan Kei bukan hanya indah secara alam, tetapi juga kaya nilai-nilai budaya dan solidaritas masyarakatnya,” tegasnya. Dengan semangat pelestarian dan promosi budaya, Festival Pesona Meti Kei kini tidak hanya menjadi agenda lokal, tetapi juga menarik perhatian nasional. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI turut memberi apresiasi terhadap konsistensi pelaksanaan festival yang menjadi ikon wisata bahari Maluku Tenggara. Festival ini juga menjadi ajang bagi para seniman, pelaku ekonomi kreatif, serta generasi muda Kei untuk menunjukkan karya dan inovasinya. Dari seni tari, musik tradisional, hingga pameran kerajinan tangan, seluruhnya mencerminkan kekayaan warisan budaya yang terus hidup dan berkembang di tanah Evav. Rangkaian Festival Pesona Meti Kei 2025 akan berlangsung hingga 27 Oktober dengan puncak acara “Wer Warat” di pesisir Ohoi Ngilngof, salah satu lokasi paling indah di Maluku Tenggara. Ribuan warga dan wisatawan diperkirakan akan hadir menyaksikan langsung atraksi budaya dan fenomena alam yang menakjubkan ini. “Kami ingin setiap orang yang datang ke Kei pulang dengan kenangan, bukan hanya tentang pantai dan laut, tapi juga tentang keramahan, kebersamaan, dan cinta terhadap alam,” ujar Budhi menutup pernyataannya. Festival ini membuktikan bahwa pariwisata bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga tentang pelestarian identitas dan kebanggaan lokal yang mendunia.     Penulis: Hendrik Editor: GF 22 Okt 2025, 20:41 WIT
Bupati Jayawijaya Resmikan Gedung Gereja Bethel Indonesia Jemaat Jibino Papuanewsonline.com, Wamena — Suasana penuh sukacita mewarnai Kampung Musiaima, Distrik Hubikiak, Kabupaten Jayawijaya, ketika Bupati Jayawijaya, Atenius Murip, S.H., M.H., secara resmi meresmikan Gedung Gereja Bethel Indonesia (GBI) Jemaat Jibino pada Rabu (22/10) pukul 10.00 WIT. Acara peresmian ini menjadi momentum penting bagi masyarakat setempat, menandai hadirnya fasilitas ibadah baru yang diharapkan dapat memperkuat kehidupan rohani, mempererat tali persaudaraan, serta mendorong pembangunan sosial dan spiritual di wilayah pegunungan tengah Papua. Gedung GBI Jemaat Jibino berdiri megah di tengah kampung dengan arsitektur sederhana namun kokoh, mencerminkan semangat kebersamaan dan gotong royong umat dalam membangun rumah Tuhan. Gereja ini merupakan bagian dari Gereja Bethel Indonesia yang secara nasional berdiri sejak 6 Oktober 1970 di Sukabumi, Jawa Barat, dan kini telah berkembang di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Papua. Dalam sambutannya, Bupati Atenius Murip menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas semangat masyarakat Jemaat GBI Jibino yang telah berupaya keras mewujudkan pembangunan gedung gereja ini. “Peresmian gedung ini bukan hanya simbol berdirinya sebuah bangunan, tetapi juga bukti nyata iman, kerja sama, dan ketekunan masyarakat Jayawijaya dalam membangun kehidupan yang berlandaskan kasih dan persaudaraan,” ujar Bupati Atenius. Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah selalu membuka ruang bagi semua umat beragama untuk berkembang dan menjalankan kegiatan keagamaan dengan damai serta saling menghormati. “Kami berharap gedung ini dapat menjadi pusat kegiatan rohani, pendidikan iman, dan pelayanan sosial bagi seluruh jemaat dan masyarakat di sekitarnya,” tambahnya. Dalam kesempatan yang sama, Bupati menegaskan bahwa pembangunan sarana keagamaan seperti gereja, masjid, maupun rumah ibadah lainnya merupakan bagian penting dari visi pemerintah daerah dalam mewujudkan Jayawijaya yang damai dan sejahtera. “Pemerintah daerah tidak hanya membangun jalan, jembatan, dan fasilitas umum, tetapi juga membangun manusia — baik secara jasmani maupun rohani. Karena tanpa iman dan moral yang kuat, pembangunan tidak akan berarti,” ungkapnya. Beliau juga mengajak seluruh masyarakat Jayawijaya untuk terus menjaga toleransi dan kerukunan antarumat beragama, yang selama ini telah menjadi kekuatan utama masyarakat di pegunungan tengah Papua. Acara peresmian GBI Jemaat Jibino berlangsung meriah dan khidmat. Ribuan warga dari berbagai kampung di sekitar Distrik Hubikiak hadir memenuhi halaman gereja. Prosesi ibadah syukur dipimpin oleh gembala jemaat GBI Jibino, disertai doa dan pujian dari kelompok paduan suara anak-anak dan remaja gereja. Selain ibadah syukur, acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan tarian adat dan musik tradisional Wamena, yang menambah suasana kebersamaan dan kebanggaan masyarakat lokal. Bupati Jayawijaya didampingi para pejabat daerah dan tokoh agama melakukan penandatanganan prasasti peresmian serta pengguntingan pita sebagai tanda bahwa gedung gereja resmi digunakan. Sorak sukacita jemaat pun menggema di seluruh area peribadatan. “Kami bersyukur karena pemerintah daerah hadir dan mendukung kegiatan rohani kami. Ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus beribadah dengan semangat baru,” ungkap salah satu anggota jemaat dengan penuh haru. Dengan diresmikannya gedung baru ini, GBI Jemaat Jibino diharapkan dapat berperan aktif sebagai pusat kegiatan pembinaan rohani, tempat pelayanan masyarakat, serta wadah pemberdayaan generasi muda di Kampung Musiaima dan sekitarnya. Pihak gereja menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah, para donatur, dan seluruh jemaat yang telah berkontribusi, baik tenaga, pikiran, maupun dana, hingga gedung ini berdiri megah. “Gereja ini akan kami rawat dan manfaatkan sebaik-baiknya, bukan hanya untuk ibadah tetapi juga untuk kegiatan sosial dan kemasyarakatan,” kata salah satu pengurus jemaat. Peresmian Gedung Gereja Bethel Indonesia Jemaat Jibino menjadi simbol nyata bahwa pembangunan di Jayawijaya tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga memperhatikan dimensi spiritual masyarakat. Melalui kegiatan keagamaan yang hidup dan dinamis, diharapkan masyarakat semakin dikuatkan dalam iman serta memiliki semangat kebersamaan dalam mendukung program pembangunan daerah. Dengan demikian, Jayawijaya tidak hanya dikenal sebagai daerah yang kaya akan budaya dan alamnya, tetapi juga sebagai wilayah yang teguh dalam iman dan persaudaraan.       Penulis: Hendrik Editor: GF 22 Okt 2025, 20:38 WIT
BBKSDA Papua Klarifikasi Soal Pemusnahan Cenderawasih: Bukan Tindakan Mendiskreditkan Budaya Papuanewsonline.com, Jayapura — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua akhirnya memberikan klarifikasi resmi terkait peristiwa pemusnahan sejumlah opset dan mahkota burung cenderawasih yang dilakukan pada 20 Oktober 2025 lalu. Tindakan tersebut sempat menimbulkan beragam tanggapan di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat adat Papua yang menilai burung cenderawasih sebagai simbol budaya dan kebanggaan Tanah Papua. Dalam konferensi pers yang digelar di Kantor BBKSDA Papua, Kepala BBKSDA Papua, Johny Santoso, menegaskan bahwa langkah pemusnahan tersebut murni dilakukan dalam kerangka penegakan hukum dan perlindungan satwa liar, bukan untuk menyinggung atau mengabaikan nilai budaya masyarakat adat. “Kami memahami betul bahwa cenderawasih memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi bagi masyarakat Papua. Karena itu, kami tegaskan bahwa tindakan ini bukan untuk mendiskreditkan budaya masyarakat adat, melainkan untuk menjaga kelestarian dan kesakralan cenderawasih sebagai simbol identitas Papua,” ujar Johny Santoso. Lebih lanjut, Johny menjelaskan bahwa pemusnahan barang bukti tersebut dilakukan sesuai dengan mandat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.26/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2017 mengenai penanganan barang bukti tindak pidana lingkungan hidup dan kehutanan. Barang bukti yang dimusnahkan merupakan hasil penegakan hukum terhadap pelaku perdagangan ilegal satwa dilindungi, termasuk bagian tubuh burung cenderawasih yang dijadikan opset dan mahkota hias. “Satwa yang dilindungi tidak boleh diperdagangkan atau dimanfaatkan tanpa izin resmi. Pemusnahan adalah bentuk akhir dari proses hukum agar barang bukti tersebut tidak kembali diperjualbelikan atau disalahgunakan,” jelas Johny. Ia juga menambahkan bahwa sebelum pemusnahan dilakukan, pihak BBKSDA telah mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk kemungkinan menyerahkan barang bukti ke lembaga pendidikan atau museum, namun keputusan akhir tetap mengacu pada ketentuan hukum yang berlaku. Menanggapi peristiwa tersebut, Komunitas Rumah Bakau Jayapura, melalui pendirinya Abdel Gamel Nasser, menyampaikan bahwa kejadian ini sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai persoalan hukum, tetapi juga sebagai momentum introspeksi bersama. “Peristiwa ini menjadi cermin bagi kita semua — pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat adat — untuk bersama-sama menjaga simbol kebanggaan Papua. Cenderawasih bukan sekadar satwa, tetapi lambang kehidupan dan keindahan Tanah Papua,” ujar Abdel. Ia juga mengajak seluruh masyarakat agar terus menumbuhkan kesadaran lingkungan, menghentikan praktik perburuan, serta mendukung upaya pelestarian yang dilakukan pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat. “Mari kita jadikan peristiwa ini titik balik untuk memperkuat rasa memiliki terhadap kekayaan alam Papua. Melestarikan cenderawasih berarti melestarikan jati diri kita sendiri,” tambahnya. Kepala BBKSDA Papua menegaskan bahwa pihaknya akan terus menjalin komunikasi intensif dengan para tokoh adat, akademisi, serta organisasi lingkungan agar setiap kebijakan yang diambil memperhatikan nilai-nilai budaya lokal. “Kami terbuka terhadap dialog. Ke depan, kami ingin melibatkan lebih banyak pihak dalam merumuskan pendekatan konservasi yang menghormati adat, budaya, dan kearifan lokal,” tutur Johny. Menurutnya, keberhasilan konservasi di Papua sangat bergantung pada kolaborasi antara masyarakat adat dan pemerintah. Dengan demikian, langkah penegakan hukum dapat berjalan selaras dengan upaya menjaga martabat dan identitas budaya masyarakat setempat. Peristiwa ini membuka ruang refleksi penting bagi semua pihak tentang bagaimana hukum konservasi diterapkan tanpa mengabaikan akar budaya yang telah melekat di masyarakat Papua selama berabad-abad. Pemerhati lingkungan menilai, perlu ada pendekatan baru yang lebih humanis dan edukatif dalam menegakkan aturan konservasi di wilayah adat. Hal ini penting agar masyarakat tidak hanya memahami sisi hukum, tetapi juga merasakan manfaat nyata dari upaya pelestarian satwa endemik seperti burung cenderawasih. BBKSDA Papua berjanji akan terus memperkuat edukasi publik, memperluas kampanye anti-perburuan satwa dilindungi, serta mengembangkan kemitraan konservasi bersama masyarakat lokal. “Kami berharap langkah-langkah ke depan bisa menjadi jembatan antara pelestarian alam dan pelestarian budaya Papua,” tutup Johny Santoso.     Penulis: Hendrik Editor: GF 22 Okt 2025, 20:30 WIT
Wakil Bupati Mimika Apresiasi Semangat Masyarakat Kamoro dalam Persiapan Musyawarah Adat Papuanewsonline.com, Timika — Pemerintah Kabupaten Mimika terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian budaya lokal dan memperkuat hubungan dengan masyarakat adat. Hal ini terlihat dalam kegiatan Coffee Morning antara Pemerintah Kabupaten Mimika dengan perwakilan tokoh adat Kamoro, yang dihadiri langsung oleh Bupati Mimika Johanes Rettob dan Wakil Bupati Mimika Imanuel Kemong. Pertemuan yang berlangsung penuh keakraban itu menjadi ajang silaturahmi dan dialog terbuka antara pemerintah dan masyarakat adat Kamoro. Agenda utama dalam pertemuan ini adalah membangun kesepahaman dan kebersamaan menuju penyelenggaraan Musyawarah Adat Kamoro (MAK) yang rencananya akan digelar dalam waktu dekat. Dalam sambutannya, Wakil Bupati Mimika Imanuel Kemong menyampaikan apresiasi tinggi atas semangat dan partisipasi aktif masyarakat Kamoro dalam mempersiapkan kegiatan penting tersebut. Ia menilai bahwa keterlibatan tokoh adat dan masyarakat menjadi kunci sukses penyelenggaraan musyawarah yang bernuansa kekeluargaan dan kebersamaan. “Saya berterima kasih atas semangat dan partisipasi masyarakat Kamoro melalui para tokoh adat yang hadir hari ini. Inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat adat Kamoro memiliki komitmen kuat untuk menjaga persatuan, sekaligus berperan aktif dalam pembangunan daerah,” ujar Imanuel dalam sambutannya. Lebih lanjut, Imanuel berharap agar proses persiapan hingga pelaksanaan Musyawarah Adat dapat berjalan lancar, tertib, dan membawa manfaat nyata bagi seluruh masyarakat adat Kamoro. “Kami berharap musyawarah ini bukan hanya menjadi wadah formal, tetapi juga momentum memperkuat identitas dan solidaritas masyarakat adat Kamoro, sehingga dapat memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan di Kabupaten Mimika,” tambahnya. Bupati Mimika Johanes Rettob dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa pemerintah daerah akan selalu membuka ruang dialog dan kerja sama dengan seluruh elemen masyarakat adat. Menurutnya, masyarakat adat Kamoro memiliki peran historis dan kultural yang penting dalam perjalanan pembangunan Mimika. Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan menjaga harmoni sosial dan budaya lokal. “Mimika adalah rumah besar bagi semua. Kita harus memastikan pembangunan berjalan seimbang antara kemajuan fisik dan kelestarian nilai-nilai adat. Musyawarah Adat Kamoro ini menjadi wujud nyata dari komitmen itu,” kata Johanes Rettob. Musyawarah Adat Kamoro yang akan datang diharapkan menjadi ruang demokratis bagi masyarakat adat dalam membahas berbagai isu strategis, seperti pelestarian budaya, pengelolaan sumber daya alam, pendidikan adat, hingga penguatan lembaga-lembaga adat di tingkat kampung. Kegiatan ini juga menjadi ajang untuk menegaskan kembali nilai-nilai leluhur Kamoro, yang menjunjung tinggi kebersamaan, musyawarah, dan gotong royong sebagai fondasi kehidupan sosial. Tokoh adat Kamoro yang turut hadir dalam pertemuan itu menyampaikan harapannya agar Musyawarah Adat dapat menjadi tonggak kebangkitan masyarakat adat dalam menghadapi tantangan modernisasi dan arus globalisasi. Mereka menilai, dukungan pemerintah daerah menjadi sinyal positif bahwa adat dan pembangunan dapat berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan. Pertemuan ini diakhiri dengan dialog terbuka antara pemerintah dan tokoh masyarakat. Sejumlah usulan dan masukan disampaikan, mulai dari dukungan logistik, pelibatan generasi muda adat Kamoro, hingga upaya pelestarian seni dan tradisi lokal dalam kegiatan pemerintahan dan pendidikan. Wakil Bupati Imanuel Kemong menegaskan, pemerintah akan menindaklanjuti seluruh aspirasi yang muncul melalui koordinasi lintas perangkat daerah. Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga suasana kondusif dan saling mendukung demi kelancaran pelaksanaan Musyawarah Adat Kamoro. “Musyawarah ini bukan hanya untuk masyarakat Kamoro, tetapi untuk kita semua yang hidup di Tanah Mimika. Karena pembangunan sejati hanya bisa terwujud jika kita bersatu,” pungkasnya. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan hubungan harmonis antara Pemerintah Kabupaten Mimika dan masyarakat adat Kamoro semakin kuat, serta menjadi contoh sinergi antara pemerintah dan adat dalam membangun Mimika yang berkeadilan, berbudaya, dan sejahtera. Penulis: Hendrik Editor: GF 22 Okt 2025, 20:23 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT