logo-website
Minggu, 23 Agu 2026,  WIT
BERITA Pendidikan & Kesehatan Homepage
7 Putra Daerah Asal Maluku Lolos Akpol 2026 Papuanewsonline.com, Ambon – Polda Maluku kembali mengukir prestasi dalam mencetak sumber daya manusia unggul di lingkungan Polri. Sebanyak tujuh putra terbaik asal Maluku berhasil dinyatakan lulus terpilih pada Sidang Akhir Seleksi Tingkat Pusat Penerimaan Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun Anggaran 2026, dan selanjutnya akan mengikuti pendidikan pembentukan calon perwira Polri di Akademi Kepolisian.Keberhasilan tersebut ditetapkan dalam Sidang Akhir Seleksi Tingkat Pusat yang berlangsung di Aula Cendekia Akademi Kepolisian Lemdiklat Polri, Senin (27/7), dipimpin oleh Asisten Kapolri Bidang Sumber Daya Manusia (As SDM Kapolri) serta dihadiri Kalemdiklat Polri, Gubernur Akpol, perwakilan Kompolnas, Karodalpers SSDM Polri, pengawas internal panitia pusat, dan para Kepala Biro SDM Polda jajaran.Dari 12 calon Taruna dan 1 calon Taruni Akpol yang dikirim Polda Maluku mengikuti seleksi tingkat pusat, sebanyak 7 peserta calon taruna Akpol dinyatakan lulus terpilih, setelah berhasil melewati seluruh tahapan seleksi di tingkat pusat yang dilaksanakan secara Bersih, Transparan, Akuntabel dan Humanis (Betah). Seluruh peserta telah mengikuti proses seleksi sesuai standar yang ditetapkan Panitia Pusat SSDM Polri.Adapun tujuh putra daerah Maluku yang berhasil lolos menjadi Taruna Akademi Kepolisian Tahun Anggaran 2026 yaitu1. Jouwen D. Van Harlin2. Anindra R. S. Buru Besan3. Fudhail Alfaro Mesfer4. Nikolas Uwuratuw5. Azka R. Abrar6. Ahmad Farel T. H. P. Marwan7. Johar Agung CahyadiPara Taruna yang dinyatakan lulus dijadwalkan akan mengikuti Pembukaan Pendidikan Dasar Integrasi Kemitraan Taruna TNI dan Taruna Akpol di Resimen Candradimuka, Magelang pada tanggal 1 Agustus 2026.Karo SDM Polda Maluku Kombes Pol. Jemi Junaidi, S.I.K., MM. mengatakan keberhasilan tujuh putra daerah tersebut merupakan buah dari kerja keras para peserta serta pelaksanaan sistem rekrutmen Polri yang konsisten menjunjung tinggi prinsip BETAH (Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis)."Alhamdulillah, tujuh putra terbaik Maluku berhasil menembus seleksi tingkat pusat dan akan mengikuti pendidikan Taruna Akpol. Ini merupakan kebanggaan bagi masyarakat Maluku sekaligus bukti bahwa rekrutmen Polri dilaksanakan secara objektif, transparan, dan mengedepankan kualitas. Siapa pun memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil selama memiliki kemampuan, integritas, dan kemauan untuk berjuang," ujar Karo SDM pada saat mendampingi para calon taruna akpol di semarang.Ia berharap para Taruna yang terpilih dapat menjaga nama baik Maluku selama menjalani pendidikan dan kelak menjadi perwira Polri yang profesional, berintegritas, humanis, serta mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat."Bagi peserta yang belum berhasil, kami mengapresiasi semangat dan perjuangan yang telah ditunjukkan. Jangan menyerah. Jadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk terus mempersiapkan diri lebih baik pada kesempatan berikutnya," tambahnya.Sementara itu, Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Rositah Umasugi, S.I.K, menegaskan keberhasilan tujuh putra daerah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa sistem rekrutmen Polri saat ini semakin modern, kredibel, dan mendapat pengawasan ketat dari berbagai unsur, internal maupun eksternal."Keberhasilan tujuh putra Maluku menembus Akpol merupakan kabar yang membanggakan bagi masyarakat Maluku. Ini menunjukkan bahwa putra-putri daerah mampu bersaing di tingkat nasional melalui proses seleksi yang bersih, transparan, akuntabel, dan diawasi secara berlapis. Kami berharap keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi generasi muda Maluku lainnya untuk mempersiapkan diri sejak dini dan tidak ragu mengikuti rekrutmen Polri," kata Kabid Humas.Polda Maluku menegaskan akan terus mendukung program SSDM Polri dalam membangun sistem rekrutmen yang profesional, transparan, dan berbasis kompetensi guna melahirkan calon-calon perwira Polri yang unggul, adaptif, berintegritas, serta siap mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara. PNO-12 28 Jul 2026, 08:53 WIT
Peringati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Dinkes dan LAN Timika Gencarkan Kawasan Tanpa Rokok Papuanewsonline.com, Mimika – Dinas Kesehatan Mimika bersama Lembaga Anti Narkotika Timika memanfaatkan momen Hari Tanpa Tembakau Sedunia untuk mengampanyekan bahaya rokok di acara Car Free Day Jalan Cenderawasih, Sabtu (25/7/2026). Kegiatan meriah ini diisi senam bersama, penyuluhan kesehatan, serta pembagian hadiah guna menarik partisipasi luas masyarakat.Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular Dinkes Mimika, Feika Rande Ratu, menjelaskan kegiatan ini juga memperkuat sosialisasi Peraturan Bupati Nomor 68 Tahun 2022 tentang Kawasan Tanpa Rokok. “Aturan ini bukan melarang merokok, melainkan menetapkan area yang harus bebas asap rokok. Jika sudah terpasang tanda KTR, maka di sana tidak boleh ada aktivitas merokok,” tegasnya. Aturan ini mencakup fasilitas kesehatan, sekolah, tempat ibadah, tempat kerja, dan kawasan perlindungan kelompok rentan.Penerapan aturan ini mulai menunjukkan hasil, seperti di bandara di mana perokok mulai mematuhi pembatasan. Duta Anti Rokok dari SMA Negeri 6 Mimika, Alfonsus Ligouri, mengingatkan rokok konvensional maupun vape sama-sama mengandung zat adiktif yang merusak kesehatan. “Banyak yang mengira vape lebih aman, padahal risikonya tak kalah berbahaya bagi tubuh dan lingkungan,” ujarnya.Ketua LAN Timika, Mawar Selvina Soplanit, mengapresiasi langkah Dinkes dan berharap para duta menjadi teladan di lingkungan sekolah dan masyarakat. Peran mereka sangat penting untuk mengedukasi teman sebaya, mengingat bahaya rokok tidak hanya dirasakan perokok aktif, tetapi juga orang di sekitarnya.Penulis: JidEditor: OF 26 Jul 2026, 18:12 WIT
HMI Merauke: Keberhasilan PSN Harus Lahirkan Generasi Papua yang Menjadi Pelaku Utama Pembangunan Papuanewsonline.com, Merauke – Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Merauke, Irwan, menegaskan ukuran keberhasilan Program Strategis Nasional di Papua tidak boleh hanya dilihat dari rampungnya infrastruktur atau kawasan ekonomi. Keberhasilan sejati tercapai ketika pembangunan mampu melahirkan generasi Orang Asli Papua yang berpendidikan, berdaya saing, dan menjadi aktor utama yang mengelola kemajuan di tanah kelahirannya sendiri.Pandangan itu disampaikannya dalam Konsultasi Publik yang digelar Merah Pusaka Stratejik Indonesia di Aula Anim Ha, Jumat (24/7/2026). Irwan mengingatkan, jangan sampai pembangunan berjalan pesat namun masyarakat aslinya hanya menjadi penonton. “Kesuksesan diukur dari berapa banyak anak Papua yang menjadi sarjana, tenaga profesional, wirausahawan, hingga pemimpin yang memegang kendali pembangunan daerahnya,” ujarnya tegas.Ia menekankan pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menentukan apakah masyarakat akan mampu beradaptasi atau justru tertinggal. Pembangunan ekonomi harus dibarengi kebijakan afirmatif: mulai dari perbaikan kualitas sekolah, beasiswa, pendidikan vokasi, hingga pendidikan nonformal berbasis komunitas. Ketika investasi masuk, peningkatan kualitas sumber daya manusia Papua harus menjadi prioritas utama.Kesejahteraan keluarga juga menjadi bagian tak terpisahkan dari keberhasilan pendidikan. PSN harus membuka ruang ekonomi yang luas bagi warga lokal; orang tua yang memiliki penghasilan layak akan lebih mampu menjamin anak-anaknya bersekolah dengan baik. Selain itu, modernisasi harus memperkuat, bukan menghapus identitas budaya, agar generasi muda menguasai ilmu pengetahuan sekaligus tetap menjaga jati diri leluhur.Penulis: JidEditor: OF 26 Jul 2026, 17:40 WIT
Klaim Smelter Beroperasi September, Pakar UGM: Jangan Langsung Percaya pada Janji Freeport Papuanewsonline.com, Mimika – Klaim yang menyebutkan pabrik pemurnian atau smelter milik PT Freeport Indonesia akan mulai beroperasi penuh pada bulan September mendatang disarankan agar tidak langsung diterima begitu saja oleh masyarakat luas. Seorang pengamat dari Universitas Gadjah Mada (UGM) meminta agar publik tidak mudah terbuai janji-janji yang belum dibuktikan pelaksanaannya, melainkan menelusuri dan memahami sejarah serta rekam jejak yang telah ditunjukkan perusahaan selama ini. Kami memahami harapan besar masyarakat Papua dan Indonesia agar asli kekayaan alam ini dapat memberikan manfaat maksimal di dalam negeri, namun kehati-hatian tetap diperlukan agar tidak kecewa berulang kali.Pakar yang enggan disebutkan namanya tersebut menjelaskan bahwa dalam perjalanan panjang pembangunan smelter ini, masyarakat telah berkali-kali mendengar janji kapan fasilitas tersebut akan mulai berproduksi. Namun hingga saat ini, berbagai target waktu yang dipatok terus mengalami penundaan tanpa penjelasan yang memuaskan. “Lihatlah bagaimana rekam jejak mereka selama ini. Berkali-kali tanggal pengoperasian diumumkan, namun pada akhirnya selalu ada alasan yang membuatnya tertunda. Maka wajar jika kita bersikap kritis dan tidak langsung percaya begitu saja,” ujarnya. Semoga peringatan ini menjadi pengingat bagi kita semua agar selalu waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terbukti kebenarannya.Menurut penjelasannya, masyarakat harus membandingkan apa yang dijanjikan dengan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.Setiap kali tenggat waktu mendekat, selalu muncul kendala teknis, masalah pengujian, atau alasan lain yang membuat pengoperasian kembali ditunda. Hal ini menimbulkan keraguan yang wajar di kalangan masyarakat, terutama rakyat Papua yang sangat berharap adanya nilai tambah dari kekayaan alam yang dikandung tanah mereka.Pakar tersebut juga mengingatkan pemerintah dan DPR untuk tidak sekadar menerima penjelasan dari pihak perusahaan, melainkan melakukan pengawasan dan pemeriksaan secara langsung serta independen. Diperlukan transparansi penuh mengenai kendala apa saja yang sebenarnya dihadapi, siapa yang bertanggung jawab atas keterlambatan, serta apa konsekuensi hukum maupun finansial jika kembali tidak mampu memenuhi komitmen yang telah disepakati. Semoga pengawasan yang ketat ini dapat memastikan bahwa semua pihak menepati janjinya dan kepentingan rakyat menjadi prioritas utama yang tidak boleh diabaikan.Pada akhirnya, masyarakat memang sangat berharap agar smelter tersebut segera beroperasi dan memberikan manfaat nyata bagi kemajuan Papua dan Indonesia. Namun harapan tersebut harus disertai kewaspadaan dan sikap kritis agar tidak terus-menerus dijadikan bahan janji yang tak kunjung ditepati.Penulis: JidEditor: OF 26 Jul 2026, 17:23 WIT
Terima 514 Perwira Remaja Akmil, Kasad: Junjung Tinggi Nilai Kepemimpinan dan Pengabdian Papuanewsonline.com, Jakarta – Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., secara resmi menerima 514 Perwira Remaja (Paja) Akademi Militer (Akmil) di Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), Jakarta, Rabu (22/7/2026). Dalam tradisi penerimaan tersebut, Kasad menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai kepemimpinan, integritas, dan pengabdian sebagai pedoman dalam mengemban amanah sebagai perwira TNI Angkatan Darat.Prosesi penerimaan dilaksanakan setelah para Perwira Remaja Akmil dilantik oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam Upacara Prasetya Perwira (Praspa) TNI-Polri Tahun 2026 di Istana Merdeka pada hari yang sama. Sebanyak 514 Perwira Remaja yang diterima terdiri atas 484 Paja pria dan 30 Paja Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad), yang selanjutnya akan bertugas di berbagai satuan jajaran TNI AD di seluruh Indonesia.Tradisi diawali dengan pembacaan Ikrar Kesetiaan Perwira Remaja sebagai wujud komitmen moral dan profesional untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara serta senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai keprajuritan dalam setiap pelaksanaan tugas.Dalam arahannya, Kasad mengingatkan kembali pesan Presiden Prabowo Subianto saat Upacara Praspa, yaitu agar para perwira muda senantiasa menjunjung tinggi keberanian, integritas, dan kejujuran, serta selalu hadir di tengah prajurit dan masyarakat.“Apa yang disampaikan bapak Presiden, jadikan pedoman teguh kalian dalam pelaksanaan tugas ke depan. Teruslah belajar dan berlatih serta mengembangkan pengetahuan dan kemampuan diri serta profesionalitas kalian untuk kemajuan TNI Angkatan Darat,” tegas Kasad.Kasad juga berpesan agar para Paja mampu menjadi pemimpin yang dekat dengan prajurit sekaligus hadir di tengah masyarakat. Menurutnya, seorang perwira dituntut membangun kepemimpinan yang profesional, humanis, adaptif, dan solutif dalam menghadapi setiap tantangan tugas.Kehadiran 514 Perwira Remaja tersebut diharapkan semakin memperkuat kualitas kepemimpinan di satuan sekaligus meningkatkan kesiapan operasional TNI Angkatan Darat dalam menjaga kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta melindungi segenap bangsa Indonesia.Dengan semangat pengabdian, loyalitas, dan integritas yang tinggi, para Perwira Remaja diharapkan mampu menjadi pemimpin lapangan yang menjadi teladan bagi prajurit, dicintai anggotanya, dekat dengan rakyat, serta senantiasa mengutamakan kepentingan bangsa dan negara dalam setiap pelaksanaan tugas. PNO-12  24 Jul 2026, 13:43 WIT
182 Ribu Kasus Malaria, 1 Pemuda Tewas: Mimika Gagal Lawan Nyamuk? Papuanewsonline.com, Mimika – Malaria masih menjadi ancaman nyata di Kabupaten Mimika. Penyakit ini terus memakan korban jiwa dan jumlah kasusnya justru meningkat dari tahun ke tahun.Data Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Malaria Center Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menunjukkan tren kenaikan yang belum berhenti.Pada 2023 ditemukan sekitar 145.742 kasus. Jumlah itu naik menjadi sekitar 161.398 kasus pada 2024. Sepanjang 2025 kembali naik menjadi sekitar 182.980 kasus.Bahkan hingga pertengahan Juli 2026, telah ditemukan 86.747 kasus positif dari ratusan ribu pemeriksaan yang dilakukan.Mimika Penyumbang Terbesar di Papua TengahBesarnya beban malaria di Mimika juga diakui Pemerintah Provinsi Papua Tengah.PLT Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, dr. Agus mengatakan, akumulasi kasus malaria di 8 kabupaten di Papua Tengah pada 2025 mencapai 205.068 kasus.Sebanyak 190.597 kasus atau 80% dari total itu berasal dari Mimika.Korban Tewas di Jalan HasanuddinMalaria terbukti tidak hanya membuat sakit, tapi juga merenggut nyawa.Pada Rabu, 15 Juli 2026, seorang pria berusia 22 tahun ditemukan meninggal dunia di lahan kosong Jalan Hasanuddin, Timika. Korban diduga terkena malaria mix.Sebelumnya, korban bersama dua rekannya hendak diantar ke rumah sakit karena demam tinggi dan muntah-muntah. Namun korban sempat melarikan diri sebelum akhirnya ditemukan tidak bernyawa.Faktor Lingkungan & Edukasi Jadi SorotanDinkes Mimika menyatakan terus memperkuat pengendalian: memperluas pemeriksaan, pembagian kelambu, penyemprotan rumah hingga edukasi masyarakat.Namun warga menilai upaya itu belum maksimal.Anto, warga Mimika, menyebut program edukasi belum menjangkau semua lapisan."Program Dinkes masih banyak yang belum maksimal, penyemprotan di rumah-rumah juga kayaknya tidak terlalu berpengaruh, karena setelah disemprot biasanya nyamuk tetap banyak. Harusnya kami masyarakat itu diajari dan dibimbing untuk jaga lingkungan, supaya lingkungan itu terawat dan bebas dari nyamuk malaria," katanya kepada _Papua News Online_, Kamis (23/7/2026).Anto menilai penyebab utama masih seputar lingkungan tidak terawat, genangan air yang jadi sarang jentik, dan edukasi yang belum menyeluruh.Desak Edukasi Masuk SekolahWarga berharap program edukasi dilakukan secara masif hingga ke sekolah SD, SMP, SMA, dan Universitas. Tujuannya agar kesadaran menjaga lingkungan menjadi tanggung jawab bersama.Dengan kerja sama pemerintah dan masyarakat, diharapkan target eliminasi malaria pada 2030 bisa tercapai dan Mimika terbebas dari ancaman malaria yang masih bisa berujung nyawa.Penulis: HendrikEditor: OF 24 Jul 2026, 11:42 WIT
Pokja Agama MRP Papua Tengah: Masyarakat Inginkan Ruang Pendidikan Tetap Sipil Papuanewsonline.com, Nabire – Sikap Pokja Agama Majelis Rakyat Papua Provinsi Papua Tengah yang menolak keterlibatan TNI dalam revitalisasi bangunan SMK merupakan cerminan suara masyarakat yang telah dihimpun dari berbagai kabupaten se-wilayah. Ketua Pokja Agama MRP Benny Wenior Pakage menegaskan pendidikan adalah ranah sipil yang harus menjamin rasa aman bagi peserta didik, pendidik, dan warga sekitar, sehingga pembangunan sebaiknya diserahkan kepada kementerian terkait, pemerintah daerah, serta tenaga profesional sesuai aturan yang berlaku.Aspirasi ini muncul dari hasil penjaringan luas yang dilakukan di Mimika, Nabire, Paniai, Intan Jaya, Puncak Jaya, Puncak, Dogiyai, hingga Deiyai. Secara umum masyarakat mengharapkan pemerintah lebih mengutamakan pendekatan dialog, perlindungan hak Orang Asli Papua, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, serta terciptanya suasana damai yang mendukung kehidupan bermasyarakat.Pokja Agama MRP menilai seluruh masukan tersebut menjadi landasan utama menjalankan fungsi perwakilan kultural lembaga. Setiap kebijakan pembangunan, termasuk di sektor pendidikan, wajib mempertimbangkan kondisi sosial-budaya serta kebutuhan nyata masyarakat setempat agar hasilnya benar-benar diterima dan bermanfaat.Di sisi lain, pemerintah dan TNI menyatakan keterlibatan dalam pembangunan masuk dalam lingkup Operasi Militer Selain Perang sesuai peraturan yang berlaku. Namun Pokja Agama MRP menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan menyeluruh dengan masyarakat guna mencegah perbedaan persepsi yang dapat memicu ketegangan.Penulis: JidEditor: OF 23 Jul 2026, 18:09 WIT
Program Polisi Mengajar Warnai Hari Anak Nasional, Wakapolda Maluku: Bangun Budaya Sadar Hukum Papuanewsonline.com, Ambon – Program Polisi Mengajar yang digagas Polda Maluku terus berkembang menjadi ruang pembentukan karakter generasi muda melalui pendekatan yang edukatif, humanis, dan berakar pada nilai-nilai budaya lokal. Bertepatan dengan Peringatan Hari Anak Nasional 2026, program tersebut kembali digelar secara serentak di 417 sekolah di seluruh Provinsi Maluku, Kamis (23/7/2026), dengan menghadirkan para pimpinan dan perwira Polri sebagai pengajar yang membekali pelajar dengan literasi hukum, pendidikan karakter, serta nilai-nilai kebangsaan.Dalam pelaksanaan gerakan serentak tersebut, Wakapolda Maluku Brigjen Pol. Arif Budiman, S.I.K., M.Si., menjadi pengajar di SMA Negeri 2 Ambon, sementara Kapolda Maluku Irjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., M.Si., memimpin kegiatan di SMA Negeri 1 Ambon. Secara bersamaan, para Pejabat Utama Polda Maluku, Perwira Menengah (Pamen), Perwira Pertama (Pama), serta personel dari 11 Polres/Polresta jajaran Polda Maluku turun langsung mengajar di ratusan sekolah lainnya sebagai bagian dari implementasi Program Polisi Mengajar yang diluncurkan pada Hari Pendidikan Nasional, 4 Mei 2026.Berbeda dengan materi yang menitikberatkan pada penguatan literasi hukum dan karakter secara umum, Wakapolda Maluku mengangkat pendekatan yang khas melalui tema "Kesadaran Hukum: Memahami dan Menjalankan Hukum untuk Hidup yang Tertib dan Harmonis", dengan menempatkan kearifan lokal Maluku sebagai fondasi membangun budaya sadar hukum di kalangan generasi muda.Menurut Wakapolda, pendidikan hukum akan lebih mudah dipahami apabila dikaitkan dengan nilai-nilai yang telah hidup dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, Program Polisi Mengajar tidak hanya memperkenalkan norma hukum positif, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai Hukum Adat Basudara yang selama ini menjadi perekat kehidupan masyarakat Maluku.Di hadapan Kepala SMA Negeri 2 Ambon, para guru, Ps. Kasubdit II Ditresnarkoba Polda Maluku, dan ratusan siswa kelas X, Brigjen Pol. Arif Budiman menjelaskan bahwa kesadaran hukum bukan sekadar mengetahui aturan atau menghindari sanksi. Lebih dari itu, kesadaran hukum merupakan sikap yang tumbuh dari pemahaman akan pentingnya menghormati hak orang lain, menjalankan kewajiban sebagai warga negara, serta menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat."Kesadaran hukum harus tumbuh menjadi bagian dari karakter setiap orang. Ketika seseorang memahami bahwa menaati hukum adalah bentuk penghormatan kepada sesama, maka akan lahir masyarakat yang tertib, saling menghargai, dan mampu menyelesaikan persoalan dengan cara-cara yang bermartabat," ujar Wakapolda.Ia menegaskan bahwa membangun budaya taat hukum tidak dapat dilakukan hanya melalui penegakan hukum. Upaya tersebut harus dimulai dari pendidikan sejak usia dini dengan menanamkan nilai-nilai moral, kedisiplinan, tanggung jawab, serta semangat hidup berdampingan secara damai.Momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa anak-anak Indonesia adalah investasi masa depan bangsa. Oleh karena itu, menurut Wakapolda, mereka perlu dibekali bukan hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga karakter yang kuat agar mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.Anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah adalah generasi yang akan menentukan wajah Indonesia pada tahun 2045. Karena itu, selain cerdas dan berprestasi, mereka harus tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas, menghormati hukum, mencintai budaya bangsanya, serta mampu hidup rukun di tengah keberagaman," kata Brigjen Pol. Arif Budiman.Dalam pemaparannya, Wakapolda kemudian mengajak para pelajar mengenal kembali nilai-nilai luhur masyarakat Maluku yang diwariskan secara turun-temurun melalui Hukum Adat Basudara. Menurutnya, nilai-nilai tersebut tetap relevan di tengah perkembangan zaman karena mengajarkan persaudaraan, gotong royong, penghormatan terhadap sesama, serta tanggung jawab menjaga kedamaian bersama.Ia menilai, penguatan budaya sadar hukum yang berpijak pada identitas lokal akan lebih mudah diterima generasi muda dibandingkan sekadar penyampaian teori hukum. Dengan demikian, Program Polisi Mengajar tidak hanya menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang pewarisan nilai-nilai budaya yang membentuk karakter dan memperkuat ketahanan sosial masyarakat Maluku.Menguraikan lebih jauh mengenai Hukum Adat Basudara, Wakapolda Maluku menjelaskan bahwa masyarakat Maluku sejak dahulu telah memiliki sistem nilai yang mengajarkan pentingnya hidup dalam persaudaraan, saling menghormati, menjaga keseimbangan dengan alam, serta menyelesaikan setiap persoalan melalui musyawarah dan semangat kebersamaan. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, tetap relevan untuk menjawab tantangan kehidupan masyarakat modern.Di hadapan para pelajar, Brigjen Pol. Arif Budiman memperkenalkan empat pilar utama kearifan lokal Maluku, yakni Pela Gandong, Badati, Sasi, dan Hawear, yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Maluku.Menurutnya, Pela Gandong mengajarkan ikatan persaudaraan lintas negeri yang dibangun atas dasar saling menghormati, saling membantu, dan saling melindungi tanpa membedakan suku, agama, maupun latar belakang sosial. Nilai tersebut menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman dapat dirawat menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan.Sementara Badati mengajarkan semangat gotong royong sebagai wujud kepedulian sosial. Melalui budaya ini, masyarakat diajarkan untuk bekerja bersama, saling membantu, dan menyelesaikan persoalan secara kolektif tanpa mengedepankan kepentingan pribadi.Adapun Sasi merupakan bentuk kearifan lokal yang mengajarkan penghormatan terhadap aturan bersama demi menjaga kelestarian sumber daya alam dan keberlanjutan kehidupan masyarakat. Sedangkan Hawear menjadi simbol perlindungan adat yang mengandung pesan tentang penghormatan terhadap hak orang lain, kepatuhan terhadap kesepakatan bersama, serta tanggung jawab moral dalam menjaga ketertiban.Menurut Wakapolda, nilai-nilai tersebut memiliki substansi yang sejalan dengan prinsip negara hukum karena sama-sama menempatkan penghormatan terhadap aturan, perlindungan hak setiap warga negara, penyelesaian konflik secara damai, dan tanggung jawab sosial sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat."Hukum Adat Basudara mengajarkan bahwa hukum bukan hanya hadir untuk memberikan sanksi kepada pelanggar, tetapi juga menjaga persaudaraan, memulihkan hubungan sosial yang terganggu, dan merawat kedamaian. Nilai-nilai inilah yang harus terus diwariskan kepada generasi muda agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang menghormati hukum sekaligus mencintai budaya daerahnya," jelas Wakapolda.Brigjen Pol. Arif Budiman menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran strategis sebagai penjaga keberlanjutan nilai-nilai luhur tersebut. Karena itu, ia mengajak para pelajar untuk memulai budaya taat hukum dari lingkungan terdekat, seperti menaati tata tertib sekolah, menghormati guru dan orang tua, menjaga etika dalam pergaulan, serta menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.Ia juga mengingatkan para siswa agar menjadi agent of change dengan menolak berbagai bentuk perilaku menyimpang, seperti tawuran, perundungan (bullying), penyalahgunaan narkoba, konsumsi minuman keras, perjudian, pelanggaran lalu lintas, hingga penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di ruang digital."Kalau ingin menjadi generasi yang sukses, mulailah dengan menjadi pribadi yang disiplin, jujur, menghargai orang lain, dan berani mengatakan tidak terhadap setiap bentuk pelanggaran hukum. Jadilah pelajar yang membawa kedamaian, menjaga persaudaraan, dan menjadi teladan bagi lingkungan sekitar," pesan Wakapolda.Suasana pembelajaran berlangsung hangat dan interaktif. Para siswa aktif berdialog dengan Wakapolda mengenai tantangan yang dihadapi generasi muda di era digital, pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman, serta cara menerapkan nilai-nilai Hukum Adat Basudara dalam kehidupan sehari-hari.Antusiasme para pelajar menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang memadukan literasi hukum dengan kearifan lokal mampu membangun komunikasi yang lebih dekat sekaligus memperkuat pemahaman mereka mengenai pentingnya hukum sebagai pedoman hidup bermasyarakat.Sementara itu, Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Rositah Umasugi, S.I.K., mengatakan bahwa Program Polisi Mengajar dirancang bukan hanya sebagai media penyuluhan hukum, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi antara Polri, sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membangun karakter generasi muda yang berintegritas.Menurutnya, pelaksanaan Program Polisi Mengajar yang bertepatan dengan Hari Anak Nasional menjadi momentum untuk menegaskan bahwa perlindungan terhadap anak harus dimulai dari penguatan karakter, pendidikan hukum, dan pewarisan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas bangsa."Program Polisi Mengajar merupakan investasi jangka panjang Polda Maluku dalam membangun sumber daya manusia yang unggul. Kami ingin anak-anak Maluku tidak hanya memahami hukum, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, menghormati keberagaman, bangga terhadap budaya daerahnya, serta mampu menjadi pelopor kedamaian di tengah masyarakat. Ketika literasi hukum dipadukan dengan kearifan lokal, kami optimistis akan lahir generasi yang cerdas, berintegritas, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045," ujar Rositah.Kabid Humas menambahkan bahwa program yang diluncurkan Kapolda Maluku pada Hari Pendidikan Nasional, 4 Mei 2026, akan terus diperluas pelaksanaannya di seluruh wilayah hukum Polda Maluku sebagai bagian dari strategi pre-emtif Polri. Selain meningkatkan literasi hukum, program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan sosial masyarakat melalui pendidikan karakter, literasi digital, wawasan kebangsaan, serta pelestarian nilai-nilai budaya lokal.Melalui sinergi yang erat antara Polri, pemerintah daerah, dunia pendidikan, tokoh agama, tokoh adat, orang tua, dan seluruh elemen masyarakat, Program Polisi Mengajar diharapkan menjadi fondasi lahirnya generasi Maluku yang cerdas, berkarakter, berbudaya, taat hukum, serta mampu menjaga semangat hidup orang basudara sebagai kekuatan dalam memperkokoh persatuan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. PNO-12 23 Jul 2026, 17:45 WIT
Hari Anak Nasional Jadi Momentum Untuk Berkolaborasi Wujudkan SDM Unggul Papuanewsonline.com, Ambon – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2026 di Provinsi Maluku menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam menjamin terpenuhinya hak-hak anak serta menciptakan lingkungan yang aman, sehat, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Polda Maluku menegaskan komitmennya untuk terus mendukung berbagai kebijakan dan program perlindungan anak sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kehadiran Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol. Rositah Umasugi, S.I.K., mewakili Kapolda Maluku Irjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto, pada Puncak Peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Provinsi Maluku Tahun 2026 yang berlangsung di Sporthall Karang Panjang, Ambon, Kamis (23/7/2026).Kegiatan yang mengusung semangat pemenuhan hak dan perlindungan anak tersebut dihadiri unsur Forkopimda Provinsi Maluku, Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kota Ambon, UNICEF, organisasi perempuan, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, serta ratusan peserta dari berbagai kalangan.Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa yang berhalangan hadir diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Maluku, Dr.sc.agr.drh. Faradilla Attamimi, M.App.Sc., yang sekaligus membuka secara resmi rangkaian Puncak Peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Provinsi Maluku Tahun 2026.Dalam sambutan tertulis Gubernur Maluku yang dibacakan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Maluku, ditegaskan bahwa Hari Anak Nasional bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam memastikan setiap anak memperoleh hak hidup, tumbuh, berkembang, mendapatkan perlindungan, serta berpartisipasi secara optimal sesuai amanat konstitusi dan Konvensi Hak Anak."Anak-anak adalah aset bangsa dan harapan masa depan Indonesia. Karena itu, seluruh elemen pemerintah, keluarga, dunia pendidikan, masyarakat, hingga dunia usaha harus bersinergi menciptakan ruang yang aman, ramah, sehat, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Peringatan Hari Anak Nasional hendaknya menjadi pengingat bahwa investasi terbaik bagi masa depan bangsa adalah memastikan setiap anak Indonesia tumbuh menjadi generasi yang cerdas, sehat, berkarakter, dan berdaya saing," demikian sambutan Gubernur Maluku yang dibacakan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Maluku, Dr.sc.agr.drh. Faradilla Attamimi, M.App.Sc.Pada kesempatan tersebut juga disampaikan Suara Anak Daerah Provinsi Maluku oleh Forum Anak Maluku Manise sebagai bentuk partisipasi aktif anak dalam menyampaikan aspirasi, harapan, dan pandangan mereka terhadap pembangunan daerah yang lebih ramah anak.Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, menyanyikan Lagu Indonesia Raya, doa bersama, laporan pelaksanaan kegiatan oleh Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Maluku Zurnida Ambon, S.E., M.Si., dilanjutkan pembacaan Suara Anak Daerah, sambutan Gubernur Maluku, penyerahan plakat apresiasi kepada sejumlah pihak yang berkontribusi dalam perlindungan anak, hingga penampilan tarian Sahureka-reka oleh siswa-siswi SMP Kristen Kalam Kudus Ambon sebagai penutup acara.Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Rositah Umasugi, S.I.K mengatakan, Polri tidak hanya berperan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional dalam memberikan perlindungan kepada anak dari berbagai bentuk ancaman, mulai dari kekerasan fisik, eksploitasi, perdagangan orang, hingga kejahatan di ruang digital.Menurutnya, perlindungan anak merupakan bagian penting dari pembangunan nasional karena kualitas generasi penerus bangsa akan menentukan daya saing Indonesia di masa depan."Polda Maluku mendukung penuh seluruh program perlindungan anak yang digagas Pemerintah Provinsi Maluku. Momentum Hari Anak Nasional ini menjadi pengingat bahwa menjaga anak adalah tanggung jawab bersama. Polri akan terus memperkuat langkah-langkah preventif, edukatif, dan penegakan hukum untuk memastikan setiap anak di Maluku dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan maupun eksploitasi," ujar Kombes Pol. Rositah Umasugi.Ia menambahkan, Polda Maluku juga terus mengembangkan pendekatan humanis melalui berbagai program pembinaan masyarakat, edukasi di sekolah, literasi digital, serta kampanye penggunaan media sosial secara bijak guna melindungi anak dari ancaman kejahatan siber, perundungan, penyebaran hoaks, maupun konten negatif."Kami mengajak seluruh elemen masyarakat, orang tua, tenaga pendidik, tokoh agama, tokoh adat, dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menciptakan ekosistem yang ramah anak. Dengan kolaborasi yang kuat, kita dapat melahirkan generasi Maluku yang sehat, cerdas, berkarakter, dan siap menjadi bagian dari Generasi Emas Indonesia 2045," tambahnya.Seluruh rangkaian Puncak Peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Provinsi Maluku Tahun 2026 berlangsung aman, tertib, dan penuh semangat kebersamaan, mencerminkan komitmen bersama dalam menempatkan kepentingan terbaik bagi anak sebagai prioritas pembangunan daerah maupun nasional. PNO-12 23 Jul 2026, 17:24 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT