logo-website
Kamis, 23 Jul 2026,  WIT
BERITA Pendidikan & Kesehatan Homepage
Raker II BPM dan Komunitas Institut Jambatan Bulan: Sinergi Program Asah Potensi Mahasiswa Papuanewsonline.com, Timika– Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Institut Jambatan Bulan menggelar Rapat Kerja II bersama seluruh komunitas kampus, Minggu (7/6/2026) bertempat di Auditorium IJB. Kegiatan ini dihadiri Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Rahmat Arapi, S.E., MS.i, jajaran pengurus BPM, para ketua komunitas, serta seluruh peserta rapat kerja.Acara ini menjadi wadah strategis menyusun rencana kerja dan menyatukan langkah satu periode ke depan.Dalam sambutannya, Rahmat Arapi menegaskan pengembangan mahasiswa tidak hanya cukup pada kemampuan akademik, namun keterampilan non-akademik juga wajib diasah secara maksimal. Ia menekankan rapat kerja ini penting untuk menyelaraskan seluruh agenda, mengingat banyaknya komunitas dengan fokus beragam. Penyusunan jadwal dan penyesuaian program menjadi kunci agar tidak terjadi tumpang tindih kegiatan dan setiap komunitas dapat berjalan optimal sesuai rencana satu periode.Ketua BPM, Daud Madmuar, membuka acara dengan mengajak memanjatkan puji syukur atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, Raker II menjadi momentum krusial untuk mengevaluasi rencana program, mengidentifikasi tantangan, serta merumuskan strategi peningkatan kinerja. Lebih dari sekadar pembahasan teknis, forum ini bertujuan mempererat komunikasi, sinergi, dan kolaborasi erat antara BPM dengan seluruh elemen komunitas di lingkungan kampus.Daud mengingatkan tanggung jawab besar seluruh mahasiswa menciptakan suasana kampus yang aktif, inovatif, dan bermanfaat luas. Ia mengajak setiap peserta berperan aktif menyampaikan gagasan, masukan, serta solusi membangun dengan mengutamakan kepentingan organisasi dan mahasiswa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen kuat, seluruh rencana kegiatan diyakini dapat terlaksana sukses dan memberi dampak positif nyata.  Penulis: Andy Ilham Editor: GF 07 Jun 2026, 21:33 WIT
Polwan Polres Biak Numfor Lakukan Trauma Healing bagi Korban Ledakan Bom Papuanewsonline.com, Biak – Menunjukkan kepedulian terhadap warga yang terdampak ledakan bom peninggalan Perang Dunia II di Kompleks Perikanan Biak, jajaran Polwan Polres Biak Numfor menggelar kegiatan trauma healing pada Kamis (4/6/2026). Dipimpin langsung Wakapolres Kompol Jebelina Walli bersama tim, kegiatan ini dilaksanakan di dua lokasi pengungsian, yakni Hotel Mapia dan Aula Satpol PP Kompleks Pasar Ikan Biak, setelah sebelumnya berkoordinasi dengan tenaga medis dan pihak kelurahan untuk mendata warga yang membutuhkan perhatian khusus.Di Hotel Mapia, para Polwan menyambangi setiap kamar untuk bertemu langsung dengan ibu-ibu dan anak-anak yang kehilangan anggota keluarga. Dengan sikap hangat dan penuh empati, mereka memberikan dukungan moril serta motivasi agar warga tetap tabah dan saling menguatkan. Perhatian khusus diberikan kepada anak-anak yatim, di mana tim mendengarkan cerita mereka dan memastikan kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi selama berada di pengungsian.Suasana yang lebih ceria tercipta saat tim melanjutkan kegiatan di posko pengungsian. Di sana, anak-anak diajak bernyanyi, bermain, dan berinteraksi bersama guna mengurangi rasa takut yang masih membekas. Keceriaan perlahan tampak di wajah mereka yang sebelumnya tampak cemas. Sebagai bentuk kepedulian, tim juga membagikan makanan ringan dan berbaur dengan warga untuk memberikan semangat menghadapi masa sulit ini.Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi bukti Polri tidak hanya berfokus pada penyelidikan kasus, tetapi juga hadir secara kemanusiaan. “Pendampingan psikologis ini penting agar korban, terutama anak-anak, dapat kembali merasa aman dan nyaman. Kami terus berupaya memberikan pendekatan yang humanis demi pemulihan kondisi mereka,” tegasnya.  Penulis: Jid Editor: GF 05 Jun 2026, 10:26 WIT
Tim Gabungan Intensifkan Pencarian dan Penyelidikan Pascaledakan Bom di Biak Papuanewsonline.com, Biak – Pascainsiden ledakan yang terjadi pada 31 Mei 2026 di Kompleks Perikanan Biak, tim gabungan yang terdiri dari Polri, TNI, Basarnas, Tim Jibom Gegana, Puslabfor, Tim DVI, dan instansi terkait terus mempercepat upaya pencarian korban, sterilisasi lokasi, dan pengungkapan penyebab peristiwa.Dalam konferensi pers Kamis malam (4/6/26), Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan menyampaikan perkembangan terbaru, di mana jumlah korban meninggal tercatat enam orang, sementara tiga lainnya masih dalam proses pencarian dan identifikasi. Sementara itu, korban yang sempat dirawat kini menjalani pemulihan di posko pengungsian.Hingga hari ini, tim kembali menemukan 32 potongan tubuh; 30 di antaranya ditemukan saat sterilisasi dan 2 lainnya di area pencarian. Seluruh temuan telah diserahkan kepada tim identifikasi. Selain itu, sejumlah barang milik korban juga berhasil diamankan. Proses sterilisasi lokasi telah mencapai 75 persen, dengan temuan 42 serpihan proyektil yang menjadi bahan penyelidikan. Tim Puslabfor juga telah melakukan olah TKP dan mengamankan sejumlah barang bukti untuk diteliti lebih lanjut.Sementara itu, Tim DVI telah membuka posko antemortem dan mulai mengumpulkan data serta sampel DNA dari keluarga korban guna proses pencocokan. Besok, tim akan mengambil sampel dari potongan tubuh yang tersimpan di kamar jenazah. Pencarian tetap dilakukan secara bertahap, dengan area inti ditangani setelah dinyatakan aman dan area seluas radius empat kilometer terus ditelusuri. Kendala utama yang dihadapi adalah cuaca hujan yang membatasi waktu kerja tim penjinak bom.Pihak kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak mendekati lokasi kejadian demi keselamatan, mengingat masih ada potensi bahan berbahaya. Masyarakat diminta tidak menyentuh atau memindahkan benda asing yang diduga peninggalan perang, melainkan segera melaporkannya ke aparat agar ditangani oleh tenaga ahli. Posko pelaporan dibuka baik di lokasi maupun di kantor polisi terdekat.  Penulis: Jid Editor: GF 05 Jun 2026, 10:23 WIT
Ditemukan Dua Bom Mortir Peninggalan Perang Dunia II di Jayapura, Aparat Amankan Lokasi Papuanewsonline.com, Jayapura – Suasana di wilayah Doyo Baru Hinekombe, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura mendadak tegang setelah ditemukan dua benda yang diduga merupakan bom mortir aktif peninggalan Perang Dunia II. Temuan ini terjadi pada Rabu (3/6/2026) sekitar pukul 18.50 WIT, saat seorang warga sedang menggarap lahan pertanian di area Dister Parako 3 Pasgat, tepatnya di sebelah Lapangan Tembak Lanud Silas Papare.Segera setelah mengetahui hal tersebut, aparat keamanan bergerak cepat menutup dan mensterilkan lokasi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Cahyo Sukarnito, membenarkan adanya laporan penemuan benda berbahaya tersebut. Ia menyatakan bahwa personel di lapangan telah melakukan pengamanan ketat di sekitar lokasi guna memastikan keselamatan warga sekitar. “Kami telah menerima laporan awal dan lokasi sudah dalam pengawasan. Langkah selanjutnya adalah proses identifikasi dan pengangkatan yang akan dilakukan secara khusus oleh tim ahli,” jelasnya.Saat ini, penanganan teknis sepenuhnya diserahkan kepada Tim Penjinak Bom atau Jibom dari Satuan Brimob Polda Papua. Mereka akan melakukan evakuasi hingga proses penjinakan sesuai dengan prosedur keamanan yang baku, mengingat risiko ledakan yang cukup tinggi jika ditangani sembarangan. Pihak kepolisian menegaskan bahwa penanganan hanya boleh dilakukan oleh tenaga yang memiliki keahlian khusus di bidang tersebut.Polda Papua juga mengimbau seluruh masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik. Warga diminta untuk tidak mendekati, menyentuh, memindahkan, maupun mengotak-atik benda asing yang diduga berbahaya. Jika menemukan hal serupa di tempat lain, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada aparat keamanan terdekat agar ditangani dengan tepat dan aman.  Penulis: JId Editor: GF 05 Jun 2026, 09:45 WIT
Standar Jakarta Patah di Merauke: Guru Terpaksa Langgar Aturan Demi Anak Marind Sekolah Papuanewsonline.com, Merauke – Indikator pendidikan nasional yang seragam terbukti gagal membaca realitas anak Marind di pedalaman Merauke. Sekolah bertahan bukan karena aturan Jakarta, tapi karena diskresi guru, peran Gereja Katolik, dan prajurit TNI yang turun mengajar.Hal itu diungkap Aulia Rahmi, Mahasiswa Doktoral Ilmu Pendidikan UNY, dalam rilis tertulisnya Selasa (3/6/2026) pada media Papuanewsonline,com. Menurutnya, pemerintah pusat kerap memukul rata pendidikan dengan ukuran kota besar: jumlah guru, kehadiran siswa, capaian kurikulum."Ukuran itu patah di kampung-kampung Marind," tulis Aulia.Masalah pendidikan di Merauke bukan sekadar gedung rusak atau guru kurang. Sekolah harus bernegosiasi dengan rawa, jarak tempuh berjam-jam, budaya berburu-meramu, hingga tradisi Sasi yang mengikat hidup anak. "Keberhasilan pendidikan tidak bisa diukur dari kepatuhan administratif yang dibuat dari Jakarta," tegasnya.Diskresi Guru Jadi Nyawa Sekolah  Di lapangan, justru para street-level bureaucrat seperti guru yang menentukan hidup-matinya sekolah. Teori Michael Lipsky ini nyata di Merauke. Saat UU Sisdiknas menjamin pendidikan layak, fakta berkata lain: anak harus jalan jauh, musim hujan melumpuhkan belajar, kurikulum tak nyambung dengan kebutuhan hidup. "Bagi keluarga Marind, keterampilan berburu, mengolah sagu, dan memahami wilayah adat lebih penting untuk bertahan hidup," tulis Aulia. Jika dinilai pakai standar Jakarta, anak Marind langsung dicap tidak peduli pendidikan. Padahal sistemnya yang tak cocok dengan denyut nadi kampung.Karena itu guru melakukan diskresi adaptif: longgarkan absen saat anak ikut upacara adat, ajarkan matematika lewat alat berburu, kaitkan pelajaran lingkungan dengan tradisi Sasi, pakai bahasa Malind Anim sebagai jembatan literasi. "Pendekatan ini tidak ada di juknis nasional, tapi justru yang bikin sekolah relevan," katanya.Gereja dan TNI Isi Kekosongan Negara  Guru tak sendiri. Gereja Katolik lewat YPPK sudah puluhan tahun merawat sekolah sekaligus identitas budaya Marind. YPPK aktif melestarikan bahasa daerah, nilai budaya lokal, dan pendidikan karakter. Di garis lain, prajurit TNI perbatasan ikut mengajar saat guru kosong dan merenovasi sekolah rusak. "Pendidikan di Papua tidak bisa dipahami dengan pendekatan sektoral yang kaku. Ini kerja bersama," tulis Aulia.3 Tuntutan untuk Jakarta  Aulia mendesak pemerintah berhenti ukur Merauke pakai meteran Jakarta. "Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana sistem pendidikan mampu menjangkau anak adat tanpa memaksa mereka meninggalkan identitas budayanya."Ada 3 tuntutan konkret:  Lindungi diskresi guru – beri payung hukum untuk penyesuaian pembelajaran lokal  Legitimasi kurikulum Marind – Sasi, bahasa Malind Anim, nilai ekologis harus jadi sumber belajar sah  Perkuat kolaborasi – Pihak sekolah, Pemda, gereja, TNI, komunitas adat harus satu meja  "Keadilan pendidikan tidak lahir dari keseragaman aturan. Keadilan lahir dari kemampuan memahami perbedaan," tutup Aulia. "Sebab yang terlihat sebagai penyimpangan dari standar Jakarta, bisa jadi bentuk keberpihakan paling nyata terhadap anak-anak di batas negeri." Penulis: Hendrik Editor: GF 03 Jun 2026, 13:24 WIT
BMKG Prakiran Cuaca Sepekan di Mimika: Potensi Hujan Petir dan Angin Kencang Papuanewsonline.com, Timika – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin memprakirakan kondisi cuaca di Kabupaten Mimika dan wilayah Papua Tengah untuk periode 2 hingga 10 Juni 2026 umumnya cerah hingga berawan, diselingi hujan ringan hingga sedang pada waktu tertentu. Suhu udara berkisar 23–31 derajat Celsius dengan kelembapan cukup tinggi mencapai 98 persen, serta kecepatan angin antara 0,8 hingga 9,4 km/jam yang dapat meningkat hingga 24 km/jam saat terjadi hujan.Khusus pada 1 dan 3 Juni, BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang. Kondisi ini diprediksi terjadi mulai siang hingga malam hari, bahkan hingga dini hari di berbagai distrik seperti Kuala Kencana, Mimika Tengah, Iwaka, Mimika Timur, Mimika Baru, Wania, dan Kwamki Narama. Wilayah Pegunungan Timika juga berpotensi mengalami hujan dengan intensitas lebih tinggi pada malam hari.Secara rinci, cuaca pada 2 Juni cenderung cerah sejak dini hingga siang hari, kemudian berubah menjadi cerah berawan saat sore dan malam. Sementara mulai 3 hingga 8 Juni, hujan ringan hingga sedang diprakirakan turun pada siang dan sore hari. Jarak pandang umumnya baik di atas 10 kilometer, namun dapat menurun akibat kabut tipis pada dini hari karena tingkat kelembapan yang tinggi.Selain cuaca darat, BMKG juga merilis informasi kondisi maritim untuk Perairan Timika dan Kokonao sebagai panduan bagi nelayan serta pengguna transportasi laut agar lebih waspada terhadap perubahan cuaca di tengah laut. Masyarakat diimbau memantau perkembangan informasi terbaru melalui akun resmi @infobmkgtimika sebelum beraktivitas, baik di darat, laut, maupun udara.  Penulis: Jid Editor: GF 02 Jun 2026, 12:34 WIT
Tim SAR Gabungan Temukan 13 Potongan Tubuh, Tiga Korban Masih Dicari Papuanewsonline.com, Biak – Proses pencarian tiga orang korban yang hilang akibat ledakan bom peninggalan Perang Dunia II di Kompleks Perumahan Nelayan, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, terus diintensifkan sejak Senin (1/6/26).Puluhan personel SAR gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Basarnas, serta dibantu warga setempat, memusatkan penelusuran di wilayah perairan dan pinggiran pantai yang menjadi titik penyebaran sisa ledakan.Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, menyampaikan bahwa pada hari pertama operasi, tim berhasil menemukan sebanyak 13 potongan tubuh yang diduga milik para korban.“Seluruh temuan tersebut telah segera dievakuasi ke RSUD Biak untuk penanganan lebih lanjut. Rencananya besok tim DVI dari Polda Papua akan tiba guna melakukan identifikasi secara pasti terhadap potongan tubuh yang ditemukan,” jelasnya.Sementara itu, lima korban jiwa yang telah berhasil diidentifikasi terlebih dahulu, telah dimakamkan secara layak di Tempat Pemakaman Umum Sorido, Distrik Biak Kota, pada Senin siang hari. Proses pemakaman berjalan khidmat dengan didampingi keluarga dan pihak berwenang, mengingat peristiwa ini merupakan musibah besar yang mengguncang masyarakat Biak.Pencarian terhadap tiga orang yang masih dinyatakan hilang akan kembali dilanjutkan pada Selasa pagi. Tim SAR akan tetap berfokus menelusuri wilayah laut dan pesisir, sementara tim khusus Jibom Gegana dari Polda Papua akan melakukan penyisiran serta sterilisasi menyeluruh di sekitar lokasi ledakan untuk memastikan tidak ada lagi bahaya bahan peledak yang tertinggal.Pihak kepolisian kembali mengimbau masyarakat agar menjauhi lokasi kejadian demi keselamatan, mengingat masih adanya potensi bahaya. Penulis: Jid Editor: GF 02 Jun 2026, 12:29 WIT
Polisi Tangani Cepat Kasus Ledakan Diduga Bom Peninggalan Perang Dunia II di Biak Papuanewsonline.com, Biak - Ledakan hebat yang diduga berasal dari bom sisa peninggalan Perang Dunia II mengguncang Kompleks Perikanan di Jalan Walter Mongonsidi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 14.45 WIT. Peristiwa tragis tersebut mengakibatkan korban jiwa serta kerusakan berat pada sejumlah rumah warga di sekitar lokasi kejadian.Berdasarkan informasi awal yang dihimpun aparat kepolisian, ledakan terjadi di area bawah salah satu rumah panggung yang berada di kompleks tersebut. Suara ledakan yang sangat keras mengejutkan warga sekitar dan memicu kepanikan di kawasan permukiman padat tersebut.Menanggapi kejadian itu, Polres Biak Numfor bersama unsur TNI, Basarnas, pemerintah daerah, dan sejumlah instansi terkait langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan evakuasi korban, mengamankan area, serta melakukan penyelidikan guna mengetahui penyebab pasti ledakan.Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Cahyo Sukarnito, S.I.K., M.K.P., menyampaikan rasa duka mendalam kepada keluarga korban yang terdampak musibah tersebut. Ia menegaskan bahwa fokus utama aparat saat ini adalah upaya kemanusiaan dan penyelamatan korban."Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban. Saat ini fokus utama kami adalah penanganan korban, proses evakuasi, serta pengamanan lokasi kejadian. Personel di lapangan juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan seluruh korban dapat segera ditemukan dan mendapatkan penanganan yang diperlukan," ujar Kombes Pol. Cahyo Sukarnito.Hingga Minggu sore, tim gabungan telah menemukan lima korban dalam kondisi meninggal dunia. Empat korban dievakuasi ke RSUD Biak, sementara satu korban lainnya dibawa ke RSAL Biak untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut.Di sisi lain, upaya pencarian masih terus dilakukan terhadap tiga korban lain yang dilaporkan belum ditemukan. Tim gabungan melakukan penyisiran secara intensif di sekitar lokasi ledakan dengan melibatkan berbagai unsur penyelamat.Selain menimbulkan korban jiwa, ledakan tersebut juga menyebabkan kerusakan berat pada sedikitnya enam unit rumah warga yang berada di sekitar titik ledakan. Bangunan yang terdampak mengalami kerusakan pada bagian struktur utama akibat kuatnya daya ledak.Petugas masih melakukan pendataan serta asesmen terhadap kerugian material yang ditimbulkan. Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga mulai menginventarisasi kebutuhan warga yang terdampak langsung akibat peristiwa tersebut.Sejumlah saksi mata mengaku mendengar suara dentuman sangat keras sebelum melihat kepulan debu dan puing-puing bangunan beterbangan. Warga sekitar yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian segera berdatangan untuk memberikan pertolongan kepada korban sebelum tim gabungan tiba.Sebagai langkah antisipasi, aparat keamanan melakukan sterilisasi di area ledakan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada benda berbahaya lain yang masih tersimpan di sekitar lokasi dan berpotensi menimbulkan ancaman baru bagi masyarakat.Biak Numfor sendiri merupakan salah satu wilayah yang memiliki sejarah panjang sebagai medan pertempuran pada masa Perang Dunia II. Karena itu, keberadaan sisa-sisa amunisi atau bahan peledak peninggalan perang masih kerap ditemukan di beberapa lokasi.Meski demikian, aparat kepolisian menegaskan bahwa penyebab pasti ledakan masih menunggu hasil penyelidikan dan identifikasi lebih lanjut oleh tim yang berwenang.Polda Papua juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Aparat meminta warga memberikan ruang kepada petugas untuk menyelesaikan proses pencarian korban dan investigasi secara menyeluruh."Kami akan menyampaikan perkembangan lebih lanjut setelah proses pencarian korban dan penyelidikan selesai dilakukan," tutup Kombes Pol. Cahyo Sukarnito.Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian terhadap tiga korban yang masih dinyatakan hilang terus berlangsung. Aparat kepolisian bersama tim gabungan tetap siaga di lokasi untuk memastikan seluruh korban dapat ditemukan serta kondisi kawasan benar-benar aman bagi masyarakat. (GF) 01 Jun 2026, 12:11 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT