logo-website
Selasa, 14 Jul 2026,  WIT
BERITA Pendidikan & Kesehatan Homepage
Pembangunan SDM Papua Harus Jadi Prioritas, PAPEDA-YPMAK Soroti Pengelolaan Dana Otsus Papuanewsonline.com, Mimika — Ketua Umum Perkumpulan Alumni Penerima Beasiswa Dana Kemitraan (PAPEDA-YPMAK), Hilarious Dolame, menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Papua, khususnya di Kabupaten Mimika, harus menjadi prioritas utama pemerintah daerah.Menurutnya, implementasi Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus) Papua selama ini belum menunjukkan hasil yang jelas, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi bagi masyarakat asli Papua.Ia menilai dana Otsus yang setiap tahun dikucurkan pemerintah pusat nilainya sangat besar, namun realisasi dan sasaran penggunaannya belum dirasakan secara nyata oleh masyarakat.“Pemerintah daerah harus lebih fokus dan terukur dalam mengelola dana Otonomi Khusus, terutama untuk pembangunan manusia,” ujar Hilarious.Ia mencontohkan, lembaga seperti YPMAK selama ini telah menunjukkan hasil nyata dalam pengembangan SDM melalui program pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat. Bahkan, banyak penerima manfaat program YPMAK yang kini menjadi pemimpin di tingkat pemerintah daerah, DPR, maupun organisasi perangkat daerah (OPD).“Kalau YPMAK dengan anggaran yang terbatas saja mampu membiayai pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat, maka pemerintah daerah seharusnya bisa melakukan hal yang lebih besar melalui dana Otonomi Khusus,” katanya.Hilarious juga menyoroti masih adanya aksi protes yang dilakukan pelajar tujuh suku terkait persoalan pendidikan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perhatian pemerintah terhadap pendidikan masyarakat asli Papua masih belum maksimal.Karena itu, ia mendorong adanya kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Mimika dan YPMAK melalui nota kesepahaman maupun sinkronisasi program, agar penanganan pendidikan masyarakat, khususnya anak-anak dari wilayah pedalaman dan pesisir, dapat dilakukan secara terarah dan terukur.“Pendidikan harus dikontrol, dibina, dan dimonitor dengan baik. Jangan terlalu banyak pintu dan kepentingan sehingga sasaran pendidikan menjadi tidak jelas,” ujarnya.Ia menambahkan, visi pembangunan dari kampung ke kota yang selama ini digaungkan pemerintah daerah juga harus dimulai dari pembangunan SDM. Menurutnya, anak-anak dari kampung harus dipersiapkan sejak dini melalui pendidikan yang baik agar mampu bersaing di era modern.“Kalau hari ini kita tidak siapkan generasi muda, maka ke depan Mimika akan mengalami kesulitan. Pembangunan manusia itu penting supaya kemiskinan bisa ditekan dan masyarakat asli Papua mampu bersaing,” tutupnya. Penulis: Bim Editor: GF 18 Mei 2026, 19:00 WIT
Bahasa Inggris di Papua: Ancaman atau Peluang bagi Bahasa Indonesia? Papuanewsonline.com, Timika – Dinamika pendidikan di Tanah Papua saat ini terus mengalami perubahan seiring keterbukaan akses informasi dan perkembangan dunia global. Dalam proses tersebut, bahasa menjadi salah satu unsur penting yang menentukan kualitas pendidikan dan kemampuan adaptasi generasi muda Papua di masa depan.Dosen STKIP Hermon Timika, Deasy Natalia Lessu, menilai munculnya perdebatan terkait pengajaran Bahasa Inggris di Papua perlu dilihat secara lebih luas dan ilmiah. Menurutnya, kekhawatiran bahwa pembelajaran Bahasa Inggris akan menghambat penguasaan Bahasa Indonesia bagi anak-anak Papua tidak sepenuhnya tepat.Ia menjelaskan, anak-anak Papua tumbuh dalam lingkungan multibahasa dengan ratusan bahasa daerah yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, Bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan sekaligus bahasa pengantar pendidikan nasional. Kini, dengan diterapkannya kembali Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di SD melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, muncul tantangan baru dalam dunia pendidikan Papua.“Fenomena adaptasi multibahasa cukup menjadi perhatian di masyarakat yang kemudian memunculkan pertanyaan mendasar: Apakah pembelajaran Bahasa Inggris di Papua menjadi penghambat atau justru pendukung penguasaan Bahasa Indonesia?” tulis Deasy dalam opininya.Menurutnya, kekhawatiran masyarakat muncul karena banyak anak mulai mencampuradukkan kosakata Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Kondisi itu kemudian dianggap sebagai tanda adanya kebingungan bahasa akibat beban pembelajaran yang terlalu besar bagi anak-anak Papua.Namun, Deasy menegaskan bahwa secara psikolinguistik dan perkembangan kognitif, penguasaan bahasa asing justru dapat merangsang kemampuan berpikir anak. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan bilingual maupun trilingual disebut memiliki fleksibilitas berpikir, daya analisis, serta kemampuan mengingat yang lebih baik dibandingkan anak monolingual.“Secara psikolinguistik dan perkembangan kognitif, anggapan bahwa bahasa asing merusak bahasa nasional telah terbantahkan,” jelasnya.Ia menilai persoalan utama bukan terletak pada keberadaan Bahasa Inggris, melainkan pada sistem pendidikan yang belum sepenuhnya siap mendukung pembelajaran multibahasa secara efektif. Minimnya kualitas literasi, kurangnya tenaga pendidik yang kompeten, hingga ketimpangan fasilitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedalaman menjadi tantangan utama pendidikan di Papua saat ini.Menurut Deasy, pengajaran Bahasa Inggris justru dapat membantu anak-anak memahami Bahasa Indonesia secara lebih baik apabila diterapkan dengan metode yang tepat. Melalui pendekatan analisis kontrastif, siswa dapat belajar membandingkan struktur bahasa sehingga lebih memahami tata bahasa dan makna dalam Bahasa Indonesia.“Alih-alih menghambat, pembelajaran Bahasa Inggris yang adaptif dapat menjadi katalisator pemahaman berbahasa,” ungkapnya.Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya menjaga keberadaan bahasa daerah di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan bahasa asing. Menurutnya, pendidikan di Papua harus mampu menempatkan bahasa daerah sebagai identitas budaya, Bahasa Indonesia sebagai pilar persatuan dan akademik, serta Bahasa Inggris sebagai alat untuk membuka akses global.Dalam opininya, Deasy mendorong pemerintah daerah melalui skema Otonomi Khusus agar merancang kurikulum bahasa yang lebih adaptif dan berjenjang sesuai konteks Papua. Ia menilai pendidikan dasar perlu lebih fokus pada penguatan bahasa ibu dan Bahasa Indonesia, sementara Bahasa Inggris diperkenalkan secara bertahap dengan metode yang komunikatif dan menyenangkan.“Visi pendidikan Papua harus diarahkan pada penciptaan generasi yang berbudaya (menguasai dan melestarikan bahasa daerah), bersatu (fasih dan bangga berbahasa Indonesia), serta berwawasan global (mampu berkomunikasi dengan dunia melalui Bahasa Inggris),” tulisnya. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas guru melalui pelatihan pengajaran berbasis multibahasa agar proses pembelajaran lebih kontekstual dan sesuai dengan realitas sosial masyarakat Papua. Dengan sistem yang tepat, pembelajaran multibahasa diyakini dapat menjadi kekuatan baru dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Tanah Papua. (GF) 17 Mei 2026, 12:46 WIT
Pegiat Demokrasi Soroti Pentingnya Riset dalam Mengawal Advokasi Konflik Papua Papuanewsonline.com, Jakarta - Pegiat Advokasi dan Demokrasi, Erik Fitriadi menegaskan pentingnya penguatan riset berbasis data dan pemetaan aktor dalam kerja-kerja advokasi sosial maupun kemanusiaan, khususnya dalam menangani persoalan konflik dan kekerasan di Papua.Hal itu disampaikannya dalam kegiatan pelatihan riset dan advokasi yang diselenggarakan oleh Yayasan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Graha MPSI, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (15/5/2026).Menurut Erik, advokasi yang kuat tidak dapat dibangun hanya berdasarkan opini atau narasi emosional semata, melainkan harus didukung dengan riset yang sistematis, pemetaan persoalan secara komprehensif, serta pemahaman terhadap relasi antar aktor yang terlibat dalam konflik.“Riset menjadi fondasi utama dalam advokasi. Tanpa data yang valid dan pemetaan masalah yang jelas, maka langkah advokasi berpotensi kehilangan arah, bahkan dapat memperkeruh situasi di lapangan,” ujar Erik Fitriadi dalam pemaparannya.Ia menjelaskan, dalam konteks konflik Papua, terdapat berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari persoalan politik, ekonomi, sosial budaya hingga keamanan. Karena itu, pendekatan advokasi harus dilakukan secara objektif, terukur, dan mampu melihat persoalan secara utuh.“Konflik Papua tidak bisa dipandang secara hitam putih. Ada aspek historis, ada persoalan pembangunan, ada dinamika keamanan, dan ada pula dampak sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat sipil. Semua itu harus dipetakan secara ilmiah agar solusi yang ditawarkan tidak keliru,” katanya.Erik juga menekankan pentingnya memetakan aktor-aktor yang memiliki kepentingan dalam konflik, baik pemerintah, aparat keamanan, kelompok masyarakat sipil, tokoh adat, tokoh agama, hingga kelompok korban. Menurutnya, pemetaan aktor sangat menentukan efektivitas strategi advokasi yang akan dijalankan.“Advokasi bukan hanya soal kritik, tetapi bagaimana membangun jalan penyelesaian. Karena itu kita harus memahami siapa aktornya, bagaimana relasi kekuatannya, dan apa kepentingan masing-masing pihak,” jelasnya.Dalam kesempatan itu, Erik mendorong generasi muda dan para pegiat sosial untuk memperkuat kemampuan riset lapangan, dokumentasi data, serta pengelolaan narasi publik agar isu-isu kemanusiaan tidak mudah dipelintir menjadi propaganda atau perang informasi.“Di era digital hari ini, pertarungan tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di ruang informasi. Karena itu advokasi membutuhkan ketelitian, integritas data, dan kemampuan membangun narasi yang bertanggung jawab,” tegasnya.Kegiatan pelatihan riset dan advokasi yang digelar MPSI tersebut diikuti oleh sejumlah peserta dari kalangan mahasiswa, pegiat sosial, organisasi masyarakat sipil, dan peneliti muda yang membahas strategi pemetaan konflik, analisis aktor, jurnalis serta penguatan advokasi berbasis kebijakan dan komunitas.  Penulis: Jid Editor: GF 16 Mei 2026, 20:27 WIT
KOHATI Mimika Tegaskan Komitmen Bangun Organisasi yang Lebih Baik Papuanewsonline.com, Mimika – KOHATI Cabang Persiapan Mimika menggelar Rapat Kerja I dengan mengusung tema “Bersama Membangun KOHATI yang Lebih Baik”. Kegiatan yang berlangsung di Flash Cafe ini menjadi forum konsolidasi awal bagi pengurus dan kader untuk menyusun arah gerak organisasi ke depan.Raker I juga dibuka dengan pembahasan evaluasi persiapan cabang dan penguatan pemahaman ideologi ke-HMI-an di kalangan kader putri. Dalam forum tersebut, peserta membahas tiga fokus utama: penguatan ideologi dan keorganisasian, penyusunan program kerja strategis, serta penguatan solidaritas internal.Ketua Umum Kohati Cabang Persiapan Mimika Siti Hartina Rumbia, menyampaikan bahwa tema yang diangkat bukan sekadar slogan, melainkan komitmen bersama untuk menjadikan KOHATI Mimika sebagai ruang belajar, ruang tumbuh, dan ruang pengabdian bagi perempuan muda. “KOHATI harus hadir menjawab isu perempuan, pendidikan, dan sosial di Mimika dengan gagasan yang kritis dan aksi yang nyata,” ujarnya.Hasil Raker I ini diharapkan menjadi pijakan program kerja satu periode ke depan, mulai dari kaderisasi, diskusi tematik, hingga kegiatan pengabdian masyarakat. Para peserta sepakat bahwa pencapaian organisasi tidak bisa ditopang oleh kerja individu, melainkan membutuhkan sinergi antara pengurus, komisariat, dan alumni.Raker I ditutup dengan komitmen bersama untuk menjaga kekompakan dan menjalankan program kerja yang telah dirumuskan. Dengan semangat “Bersama Membangun KOHATI yang Lebih Baik”, KOHATI Cabang Persiapan Mimika optimis dapat berkontribusi lebih nyata bagi kader dan masyarakat Mimika. Penulis: Bim Editor: GF 15 Mei 2026, 14:16 WIT
HMI Cabang Persiapan Mimika Gelar Halal Bihalal dan FGD Perkaderan Papuanewsonline.com, Mimika — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Persiapan Mimika menggelar kegiatan Halal Bihalal dan Focus Group Discussion (FGD) Perkaderan dengan tema “Membangun Ekosistem Perkaderan yang Kuat, Inklusif, dan Berkelanjutan di HMI Mimika” pada Kamis (14/05/2026).Kegiatan tersebut dihadiri pengurus cabang, komisariat, alumni KAHMI, serta kader HMI di Mimika sebagai bagian dari upaya memperkuat arah perkaderan organisasi ke depan.Dalam sambutannya, Ketua HMI Cabang Persiapan Mimika, Prayoga Romin Saputra, menegaskan komitmen pengurus untuk melakukan penguatan kualitas perkaderan di tubuh HMI Cabang Mimika.“Kami berkomitmen, insyaallah kita akan sama-sama melakukan upaya-upaya penguatan untuk meningkatkan kualitas perkaderan di HMI Cabang Mimika,” ujar Prayoga.Ia menjelaskan, pelaksanaan FGD tersebut menjadi ruang bersama untuk mengevaluasi kondisi organisasi sekaligus merumuskan arah perkaderan HMI Mimika dalam jangka panjang.Menurutnya, forum tersebut juga merupakan jawaban atas berbagai kritik yang selama ini muncul terhadap kondisi internal organisasi.“Harapan kami, agar FGD ini menjadi keberanian bagi HMI Cabang Mimika untuk mulai berpikir lebih jauh ke depan. Karena kita harus akui, banyak kritik yang kami terima. Ada yang mengatakan kualitas cabang semakin menurun, komunikasi kurang baik, bahkan sistem dianggap berantakan,” katanya.Prayoga menambahkan, melalui forum formal tersebut seluruh kader diharapkan dapat duduk bersama untuk membedah persoalan organisasi dan memikirkan masa depan HMI Mimika secara serius dan terstruktur.“Maka agenda inilah yang menjadi jawaban. Inilah forum formal yang kita siapkan untuk duduk bersama, membedah persoalan, dan memikirkan secara serius bagaimana masa depan HMI Cabang Mimika,” tambahnya.Sementara itu, Perwakilan Presidium KAHMI Mimika, Duma Tato Sanda, dalam kesempatan yang sama menekankan pentingnya menjaga persatuan dalam tubuh HMI melalui penguatan nilai-nilai perkaderan.Ia mengingatkan bahwa proses perkaderan bukan hanya sekadar formalitas organisasi, tetapi menjadi pondasi utama dalam membangun solidaritas, kualitas kader, dan keberlanjutan organisasi di masa depan.Kegiatan Halal Bihalal dan FGD tersebut juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antar kader dan alumni pasca Hari Raya Idulfitri, sekaligus memperkuat sinergi dalam membangun HMI Mimika yang lebih baik. Penulis: Bim Editor: GF 14 Mei 2026, 21:23 WIT
Studi Banding Sampah Mimika Dinilai Zonk, Ketua KPK Timika: Jangan Jadi Program Seremonial Papuanewsonline.com, Timika – Ketua Komunitas Pemuda Kei (KPK) Timika, Edoardus Rahawadan mempertanyakan efektivitas program studi banding pengelolaan sampah yang dilakukan Pemerintah Daerah Mimika ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa.Menurut Edoardus, masyarakat hingga saat ini belum melihat dampak positif yang nyata dari program tersebut terhadap penanganan sampah di Kabupaten Mimika.Edoardus menilai program studi banding yang dilakukan Pemda Mimika terkesan hanya menghabiskan anggaran daerah tanpa menghasilkan perubahan signifikan bagi masyarakat.Ia juga menyoroti rencana besar terkait daur ulang sampah yang dinilai masih sebatas wacana dan belum diwujudkan dalam langkah konkret di lapangan.“Kalau hanya pergi studi banding tetapi kondisi sampah di Mimika tetap sama, maka masyarakat tentu mempertanyakan manfaatnya. Jangan sampai hanya menjadi program seremonial yang menghabiskan uang daerah,” tegas Edoardus. Dalam rilis yang diterima media Papuanewsonline.com (14/5/26).Ia meminta Pemerintah Daerah Mimika agar lebih fokus pada program nyata yang langsung menyentuh masyarakat, dibanding membuat kegiatan yang berpotensi sia-sia dan membebani anggaran.Menurut Edoardus, penanganan sampah tidak bisa hanya dilakukan pemerintah sendiri, tetapi harus melibatkan masyarakat secara aktif. Karena itu, ia mendorong Pemda Mimika untuk membangun kerja sama dengan masyarakat, organisasi kepemudaan, RT dan RW dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan.Selain itu, Edoardus meminta agar pemerintah memperbanyak sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta pengelolaan sampah dan daur ulang yang benar.“Edukasi itu penting. Kalau masyarakat diberikan pemahaman yang baik dan dilibatkan secara langsung, maka persoalan sampah bisa diatasi bersama,” ujarnya.Hingga berita ini ditayangkan, Papuanewsonline.com belum mendapat konfirmasi dari Pemerintah Daerah Mimika terkait kritik tersebut. Penulis: Hend Editor: GF 14 Mei 2026, 20:10 WIT
Polda Maluku Luncurkan “Polisi Mengajar”, Strategi Humanis Bentuk Generasi Emas Papuanewsonline.com, Ambon - Polda Maluku terus memperkuat pendekatan humanis Polri melalui dunia pendidikan dengan meluncurkan program “Polisi Mengajar”, sebuah inovasi pembinaan karakter pelajar yang menyasar sekolah-sekolah hingga wilayah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T) di Maluku.Program yang menjadi gagasan Kapolda Maluku tersebut mendapat apresiasi luas dalam dialog Aspirasi Maluku Bersama Polda Maluku bertema “Polisi Mengajar: Inovasi Humanis Polda Maluku dalam Membangun Generasi yang Cerdas, Disiplin dan Berkarakter” yang berlangsung di Studio Programa 1 RRI Ambon.Dialog menghadirkan Plt. Wadir Binmas Polda Maluku Kompol Johanis Horhoruw, AMK., S.H., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Dr. Sarlota Singerin, S.Pd., M.Pd., serta Psikolog Prisca D. Sampe, S.Psi., M.Psi.Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Rositah Umasugi, S.I.K., mengatakan Program Polisi Mengajar merupakan bentuk nyata komitmen Polda Maluku dalam menghadirkan Polri yang humanis, edukatif, dan dekat dengan generasi muda.“Program ini bukan sekadar kegiatan mengajar di sekolah, tetapi bagian dari upaya membangun karakter, disiplin, kesadaran hukum, serta menanamkan nilai kebangsaan kepada pelajar sejak dini. Kami ingin polisi hadir sebagai sahabat dan teladan bagi generasi muda Maluku,” ujar Kombes Pol. Rositah.Menurutnya, pendekatan preventif melalui dunia pendidikan menjadi langkah strategis dalam menekan berbagai persoalan sosial yang melibatkan pelajar dan remaja di tengah perkembangan era digital saat ini.“Polda Maluku berharap Program Polisi Mengajar mampu menciptakan ruang edukasi yang positif bagi pelajar, termasuk di wilayah 3T, sehingga seluruh anak-anak Maluku memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan karakter dan pemahaman hukum secara baik,” tambahnya.Dalam dialog tersebut, Kompol Johanis Horhoruw menjelaskan bahwa Program Polisi Mengajar lahir sebagai terobosan Polda Maluku untuk menjawab tantangan kamtibmas yang melibatkan kalangan muda dan pelajar.Menurutnya, kehadiran polisi di sekolah bukan hanya sebatas memberikan materi pembelajaran, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan siswa agar tercipta hubungan yang positif antara Polri dan generasi muda.“Polisi hadir bukan untuk menakuti, tetapi menjadi sahabat pelajar, tempat berdiskusi, sekaligus memberikan edukasi tentang disiplin, budaya lokal, etika, dan kesadaran hukum,” jelas Kompol Johanis.Ia menambahkan, Polda Maluku telah menyiapkan personel pengajar mulai dari perwira pertama hingga perwira menengah guna mendukung pelaksanaan program secara berkelanjutan di seluruh wilayah Maluku.Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Dr. Sarlota Singerin menyampaikan bahwa program tersebut menjadi langkah strategis dalam membangun sinergitas antara dunia pendidikan dan kepolisian.Menurutnya, para kepala sekolah di Maluku memberikan respons positif terhadap program tersebut, bahkan mengusulkan agar durasi pembelajaran diperpanjang agar materi dapat diterima siswa secara lebih maksimal.“Anak-anak perlu dikenalkan sejak dini bahwa polisi adalah sahabat masyarakat dan mitra pendidikan dalam membangun karakter generasi muda,” katanya.Untuk mendukung pemerataan pelaksanaan program hingga wilayah terpencil, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku bersama Polda Maluku juga telah menyiapkan modul pembelajaran berisi 16 materi utama.Materi tersebut meliputi kesadaran hukum, budaya lokal, hidup orang basudara, lalu lintas, bahaya narkoba, bullying, etika bermedia sosial, kenakalan remaja, intoleransi, hoaks, etika pergaulan, hingga hukum dan HAM.Dr. Sarlota Singerin juga menyebut Program Polisi Mengajar sebagai langkah awal menuju terwujudnya Generasi Emas Maluku 2045.“Program Polisi Mengajar ini menjadi langkah awal menuju terwujudnya Generasi Emas Maluku 2045, ‘Par Maluku pung bae’. Karena pendidikan karakter, disiplin, dan kesadaran sosial harus dibangun sejak dini melalui kolaborasi seluruh pihak,” ungkapnya.Psikolog Prisca D. Sampe menilai Program Polisi Mengajar sangat positif karena mampu menghadirkan polisi sebagai figur teladan atau role model bagi pelajar.Menurutnya, pendidikan karakter menjadi kebutuhan penting di tengah meningkatnya persoalan sosial di lingkungan remaja, termasuk kasus bullying dan penyalahgunaan media sosial.“Pelajar tidak hanya membutuhkan ilmu akademik, tetapi juga pembentukan mental, kedisiplinan, etika, dan karakter yang kuat agar mampu menghadapi tantangan sosial saat ini,” ujarnya.Dalam sesi interaktif, masyarakat juga mempertanyakan jangkauan pelaksanaan program hingga wilayah 3T di Maluku. Menanggapi hal tersebut, Kompol Johanis memastikan Program Polisi Mengajar akan diterapkan secara menyeluruh di seluruh kabupaten/kota di Maluku, termasuk daerah terpencil.Ia menjelaskan bahwa seluruh Kapolres jajaran bersama Kepala Cabang Dinas Pendidikan telah dilibatkan sejak awal peluncuran program melalui pertemuan virtual yang juga dihadiri Gubernur Maluku dan Kapolda Maluku sebagai bentuk komitmen bersama mendukung keberlanjutan program tersebut.Selain itu, evaluasi program akan dilakukan secara berkala melalui kolaborasi antara Polda Maluku dan Dinas Pendidikan guna mengukur perubahan perilaku, kedisiplinan, serta pemahaman siswa setelah menerima materi pembelajaran.Program Polisi Mengajar diharapkan menjadi model pendekatan humanis Polri dalam dunia pendidikan sekaligus langkah konkret membangun Generasi Emas Maluku 2045 yang cerdas, disiplin, berkarakter, dan memiliki kesadaran hukum yang kuat. PNO-12 14 Mei 2026, 18:10 WIT
Denon Prawiraatmadja Dorong ITS Indonesia Jadi Motor Urban Air Mobility Regional Papuanewsonline.com, Jakarta — Founder dan CEO Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja, mendorong Intelligent Transport System Indonesia (ITS Indonesia/ITSI) agar mengambil peran penting dalam pengembangan Urban Air Mobility (UAM) di Indonesia maupun kawasan regional Asia Tenggara.Dorongan tersebut disampaikan dalam forum Focus Group Discussion (FGD) yang membahas masa depan transportasi dan pengembangan Urban Air Mobility bersama President ITS Indonesia, William P. Sabandar. Kegiatan itu turut dihadiri para pemangku kepentingan dari sektor transportasi, teknologi, regulator, hingga pelaku industri.Dalam forum tersebut, Denon menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan utama pengembangan ekosistem Urban Air Mobility di kawasan. Potensi itu didukung kondisi geografis Indonesia yang luas serta kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus meningkat dari waktu ke waktu.“Dengan karakter geografis Indonesia dan kebutuhan mobilitas yang terus berkembang, peluang pengembangan Urban Air Mobility di Indonesia sebenarnya sangat besar. Tantangannya sekarang adalah bagaimana membangun ekosistem yang terintegrasi dan siap berkembang dalam jangka panjang,” ujar Denon Prawiraatmadja.Menurutnya, ITS Indonesia memiliki posisi strategis dalam mendorong integrasi sistem transportasi masa depan, termasuk pengembangan Urban Air Mobility sebagai bagian dari transformasi mobilitas nasional yang berbasis teknologi dan konektivitas.Denon menjelaskan konsep Intelligent Transport System yang dikembangkan ITS Indonesia dinilai sejalan dengan visi pengembangan Urban Air Mobility yang selama ini dibangun Whitesky Group. Ia menekankan pentingnya sistem transportasi yang saling terhubung agar pelayanan mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien dan adaptif terhadap perkembangan zaman.“ITS Indonesia sejalan dengan konsep Urban Air Mobility yang kami dorong selama ini. Ke depan, sistem transportasi tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Semua harus saling terhubung agar mobilitas masyarakat bisa lebih efisien dan adaptif,” ungkap Denon.Ia menilai pengembangan Urban Air Mobility bukan hanya berbicara mengenai moda transportasi udara perkotaan semata, tetapi juga tentang upaya menciptakan sistem mobilitas baru yang mampu menjawab tantangan urbanisasi, konektivitas antardaerah, dan efisiensi transportasi masa depan.Selain itu, Denon optimistis ITS Indonesia memiliki kapasitas untuk menjadi salah satu kekuatan penting dalam memenangkan pasar Urban Air Mobility di tingkat regional. Menurutnya, Indonesia memiliki kombinasi unik berupa pertumbuhan teknologi, kebutuhan mobilitas tinggi, dan kondisi geografis yang menjadi keunggulan kompetitif dibanding negara lain di kawasan.“Indonesia bukan hanya market, tetapi memiliki potensi untuk menjadi key player dalam industri transportasi masa depan di kawasan,” tambahnya.Lebih lanjut, Denon menegaskan ITS Indonesia bersama Whitesky Group dapat menjadi key enabler dalam membangun sistem transportasi masa depan yang lebih terintegrasi, efisien, dan berorientasi pada keberlanjutan. Forum FGD ini juga menjadi bagian dari langkah memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam menciptakan ekosistem transportasi modern yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat di masa mendatang. (GF) 13 Mei 2026, 23:34 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT