Papuanewsonline.com
BERITA Pendidikan & Kesehatan
Homepage
Raker II BPM dan Komunitas Institut Jambatan Bulan: Sinergi Program Asah Potensi Mahasiswa
Papuanewsonline.com, Timika– Badan Perwakilan Mahasiswa
(BPM) Institut Jambatan Bulan menggelar Rapat Kerja II bersama seluruh
komunitas kampus, Minggu (7/6/2026) bertempat di Auditorium IJB. Kegiatan ini
dihadiri Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Rahmat Arapi, S.E.,
MS.i, jajaran pengurus BPM, para ketua komunitas, serta seluruh peserta rapat
kerja.Acara ini menjadi wadah strategis menyusun rencana kerja dan
menyatukan langkah satu periode ke depan.Dalam sambutannya, Rahmat Arapi menegaskan pengembangan
mahasiswa tidak hanya cukup pada kemampuan akademik, namun keterampilan
non-akademik juga wajib diasah secara maksimal. Ia menekankan rapat kerja ini penting untuk menyelaraskan
seluruh agenda, mengingat banyaknya komunitas dengan fokus beragam. Penyusunan jadwal dan penyesuaian program menjadi kunci agar
tidak terjadi tumpang tindih kegiatan dan setiap komunitas dapat berjalan
optimal sesuai rencana satu periode.Ketua BPM, Daud Madmuar, membuka acara dengan mengajak
memanjatkan puji syukur atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, Raker
II menjadi momentum krusial untuk mengevaluasi rencana program,
mengidentifikasi tantangan, serta merumuskan strategi peningkatan kinerja. Lebih dari sekadar pembahasan teknis, forum ini bertujuan
mempererat komunikasi, sinergi, dan kolaborasi erat antara BPM dengan seluruh
elemen komunitas di lingkungan kampus.Daud mengingatkan tanggung jawab besar seluruh mahasiswa
menciptakan suasana kampus yang aktif, inovatif, dan bermanfaat luas. Ia mengajak setiap peserta berperan aktif menyampaikan
gagasan, masukan, serta solusi membangun dengan mengutamakan kepentingan
organisasi dan mahasiswa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen kuat, seluruh
rencana kegiatan diyakini dapat terlaksana sukses dan memberi dampak positif
nyata. Penulis: Andy Ilham
Editor: GF
07 Jun 2026, 21:33 WIT
Polwan Polres Biak Numfor Lakukan Trauma Healing bagi Korban Ledakan Bom
Papuanewsonline.com, Biak – Menunjukkan kepedulian terhadap
warga yang terdampak ledakan bom peninggalan Perang Dunia II di Kompleks
Perikanan Biak, jajaran Polwan Polres Biak Numfor menggelar kegiatan trauma
healing pada Kamis (4/6/2026). Dipimpin langsung Wakapolres Kompol Jebelina
Walli bersama tim, kegiatan ini dilaksanakan di dua lokasi pengungsian, yakni
Hotel Mapia dan Aula Satpol PP Kompleks Pasar Ikan Biak, setelah sebelumnya
berkoordinasi dengan tenaga medis dan pihak kelurahan untuk mendata warga yang
membutuhkan perhatian khusus.Di Hotel Mapia, para Polwan menyambangi setiap kamar untuk
bertemu langsung dengan ibu-ibu dan anak-anak yang kehilangan anggota keluarga.
Dengan sikap hangat dan penuh empati, mereka memberikan
dukungan moril serta motivasi agar warga tetap tabah dan saling menguatkan. Perhatian khusus diberikan kepada anak-anak yatim, di mana
tim mendengarkan cerita mereka dan memastikan kebutuhan dasar mereka tetap
terpenuhi selama berada di pengungsian.Suasana yang lebih ceria tercipta saat tim melanjutkan
kegiatan di posko pengungsian. Di sana, anak-anak diajak bernyanyi, bermain,
dan berinteraksi bersama guna mengurangi rasa takut yang masih membekas.
Keceriaan perlahan tampak di wajah mereka yang sebelumnya tampak cemas. Sebagai bentuk kepedulian, tim juga membagikan makanan
ringan dan berbaur dengan warga untuk memberikan semangat menghadapi masa sulit
ini.Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito,
menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi bukti Polri tidak hanya berfokus pada
penyelidikan kasus, tetapi juga hadir secara kemanusiaan. “Pendampingan psikologis ini penting agar korban, terutama
anak-anak, dapat kembali merasa aman dan nyaman. Kami terus berupaya memberikan
pendekatan yang humanis demi pemulihan kondisi mereka,” tegasnya. Penulis: Jid
Editor: GF
05 Jun 2026, 10:26 WIT
Tim Gabungan Intensifkan Pencarian dan Penyelidikan Pascaledakan Bom di Biak
Papuanewsonline.com, Biak – Pascainsiden ledakan yang
terjadi pada 31 Mei 2026 di Kompleks Perikanan Biak, tim gabungan yang terdiri
dari Polri, TNI, Basarnas, Tim Jibom Gegana, Puslabfor, Tim DVI, dan instansi
terkait terus mempercepat upaya pencarian korban, sterilisasi lokasi, dan
pengungkapan penyebab peristiwa.Dalam konferensi pers Kamis malam (4/6/26), Kapolres Biak
Numfor AKBP Ari Trestiawan menyampaikan perkembangan terbaru, di mana jumlah
korban meninggal tercatat enam orang, sementara tiga lainnya masih dalam proses
pencarian dan identifikasi. Sementara itu, korban yang sempat dirawat kini menjalani
pemulihan di posko pengungsian.Hingga hari ini, tim kembali menemukan 32 potongan tubuh; 30
di antaranya ditemukan saat sterilisasi dan 2 lainnya di area pencarian.
Seluruh temuan telah diserahkan kepada tim identifikasi. Selain itu, sejumlah barang milik korban juga berhasil
diamankan. Proses sterilisasi lokasi telah mencapai 75 persen, dengan temuan 42
serpihan proyektil yang menjadi bahan penyelidikan. Tim Puslabfor juga telah
melakukan olah TKP dan mengamankan sejumlah barang bukti untuk diteliti lebih
lanjut.Sementara itu, Tim DVI telah membuka posko antemortem dan
mulai mengumpulkan data serta sampel DNA dari keluarga korban guna proses
pencocokan. Besok, tim akan mengambil sampel dari potongan tubuh yang
tersimpan di kamar jenazah. Pencarian tetap dilakukan secara bertahap, dengan
area inti ditangani setelah dinyatakan aman dan area seluas radius empat
kilometer terus ditelusuri. Kendala utama yang dihadapi adalah cuaca hujan yang
membatasi waktu kerja tim penjinak bom.Pihak kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak mendekati
lokasi kejadian demi keselamatan, mengingat masih ada potensi bahan berbahaya. Masyarakat diminta tidak menyentuh atau memindahkan benda
asing yang diduga peninggalan perang, melainkan segera melaporkannya ke aparat
agar ditangani oleh tenaga ahli. Posko pelaporan dibuka baik di lokasi maupun
di kantor polisi terdekat. Penulis: Jid
Editor: GF
05 Jun 2026, 10:23 WIT
Ditemukan Dua Bom Mortir Peninggalan Perang Dunia II di Jayapura, Aparat Amankan Lokasi
Papuanewsonline.com, Jayapura – Suasana di wilayah Doyo Baru
Hinekombe, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura mendadak tegang setelah ditemukan
dua benda yang diduga merupakan bom mortir aktif peninggalan Perang Dunia II.
Temuan ini terjadi pada Rabu (3/6/2026) sekitar pukul 18.50 WIT, saat seorang
warga sedang menggarap lahan pertanian di area Dister Parako 3 Pasgat, tepatnya
di sebelah Lapangan Tembak Lanud Silas Papare.Segera setelah mengetahui hal tersebut, aparat keamanan
bergerak cepat menutup dan mensterilkan lokasi untuk mencegah hal-hal yang
tidak diinginkan.Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Cahyo Sukarnito,
membenarkan adanya laporan penemuan benda berbahaya tersebut. Ia menyatakan bahwa personel di lapangan telah melakukan
pengamanan ketat di sekitar lokasi guna memastikan keselamatan warga sekitar. “Kami telah menerima laporan awal dan lokasi sudah dalam
pengawasan. Langkah selanjutnya adalah proses identifikasi dan pengangkatan
yang akan dilakukan secara khusus oleh tim ahli,” jelasnya.Saat ini, penanganan teknis sepenuhnya diserahkan kepada Tim
Penjinak Bom atau Jibom dari Satuan Brimob Polda Papua. Mereka akan melakukan evakuasi hingga proses penjinakan
sesuai dengan prosedur keamanan yang baku, mengingat risiko ledakan yang cukup
tinggi jika ditangani sembarangan. Pihak kepolisian menegaskan bahwa penanganan hanya boleh
dilakukan oleh tenaga yang memiliki keahlian khusus di bidang tersebut.Polda Papua juga mengimbau seluruh masyarakat agar tetap
tenang dan tidak panik. Warga diminta untuk tidak mendekati, menyentuh,
memindahkan, maupun mengotak-atik benda asing yang diduga berbahaya. Jika menemukan hal serupa di tempat lain, masyarakat
diharapkan segera melaporkannya kepada aparat keamanan terdekat agar ditangani
dengan tepat dan aman. Penulis: JId
Editor: GF
05 Jun 2026, 09:45 WIT
Standar Jakarta Patah di Merauke: Guru Terpaksa Langgar Aturan Demi Anak Marind Sekolah
Papuanewsonline.com, Merauke – Indikator pendidikan nasional
yang seragam terbukti gagal membaca realitas anak Marind di pedalaman Merauke.
Sekolah bertahan bukan karena aturan Jakarta, tapi karena diskresi guru, peran
Gereja Katolik, dan prajurit TNI yang turun mengajar.Hal itu diungkap Aulia Rahmi, Mahasiswa Doktoral Ilmu
Pendidikan UNY, dalam rilis tertulisnya Selasa (3/6/2026) pada media
Papuanewsonline,com. Menurutnya, pemerintah pusat kerap memukul rata pendidikan
dengan ukuran kota besar: jumlah guru, kehadiran siswa, capaian kurikulum."Ukuran itu patah di kampung-kampung Marind,"
tulis Aulia.Masalah pendidikan di Merauke bukan sekadar gedung rusak
atau guru kurang. Sekolah harus bernegosiasi dengan rawa, jarak tempuh
berjam-jam, budaya berburu-meramu, hingga tradisi Sasi yang mengikat hidup
anak. "Keberhasilan pendidikan tidak bisa diukur dari
kepatuhan administratif yang dibuat dari Jakarta," tegasnya.Diskresi Guru Jadi Nyawa Sekolah Di lapangan, justru para street-level bureaucrat seperti
guru yang menentukan hidup-matinya sekolah. Teori Michael Lipsky ini nyata di
Merauke. Saat UU Sisdiknas menjamin pendidikan layak, fakta berkata
lain: anak harus jalan jauh, musim hujan melumpuhkan belajar, kurikulum tak
nyambung dengan kebutuhan hidup. "Bagi keluarga Marind, keterampilan berburu, mengolah
sagu, dan memahami wilayah adat lebih penting untuk bertahan hidup," tulis
Aulia. Jika dinilai pakai standar Jakarta, anak Marind langsung
dicap tidak peduli pendidikan. Padahal sistemnya yang tak cocok dengan denyut
nadi kampung.Karena itu guru melakukan diskresi adaptif: longgarkan absen
saat anak ikut upacara adat, ajarkan matematika lewat alat berburu, kaitkan
pelajaran lingkungan dengan tradisi Sasi, pakai bahasa Malind Anim sebagai
jembatan literasi. "Pendekatan ini tidak ada di juknis nasional, tapi
justru yang bikin sekolah relevan," katanya.Gereja dan TNI Isi Kekosongan Negara Guru tak sendiri. Gereja Katolik lewat YPPK sudah puluhan
tahun merawat sekolah sekaligus identitas budaya Marind. YPPK aktif
melestarikan bahasa daerah, nilai budaya lokal, dan pendidikan karakter. Di garis lain, prajurit TNI perbatasan ikut mengajar saat
guru kosong dan merenovasi sekolah rusak. "Pendidikan di Papua tidak bisa dipahami dengan
pendekatan sektoral yang kaku. Ini kerja bersama," tulis Aulia.3 Tuntutan untuk Jakarta
Aulia mendesak pemerintah berhenti ukur Merauke pakai
meteran Jakarta. "Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana sistem
pendidikan mampu menjangkau anak adat tanpa memaksa mereka meninggalkan
identitas budayanya."Ada 3 tuntutan konkret:
Lindungi diskresi guru – beri payung hukum untuk
penyesuaian pembelajaran lokal Legitimasi kurikulum Marind – Sasi, bahasa Malind
Anim, nilai ekologis harus jadi sumber belajar sah Perkuat kolaborasi – Pihak sekolah, Pemda, gereja,
TNI, komunitas adat harus satu meja "Keadilan pendidikan tidak lahir dari keseragaman
aturan. Keadilan lahir dari kemampuan memahami perbedaan," tutup Aulia. "Sebab yang terlihat sebagai penyimpangan dari standar
Jakarta, bisa jadi bentuk keberpihakan paling nyata terhadap anak-anak di batas
negeri." Penulis: Hendrik
Editor: GF
03 Jun 2026, 13:24 WIT
BMKG Prakiran Cuaca Sepekan di Mimika: Potensi Hujan Petir dan Angin Kencang
Papuanewsonline.com, Timika – Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin
memprakirakan kondisi cuaca di Kabupaten Mimika dan wilayah Papua Tengah untuk
periode 2 hingga 10 Juni 2026 umumnya cerah hingga berawan, diselingi hujan ringan
hingga sedang pada waktu tertentu. Suhu udara berkisar 23–31 derajat Celsius
dengan kelembapan cukup tinggi mencapai 98 persen, serta kecepatan angin antara
0,8 hingga 9,4 km/jam yang dapat meningkat hingga 24 km/jam saat terjadi hujan.Khusus pada 1 dan 3 Juni, BMKG mengeluarkan peringatan dini
potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan
angin kencang. Kondisi ini diprediksi terjadi mulai siang hingga malam
hari, bahkan hingga dini hari di berbagai distrik seperti Kuala Kencana, Mimika
Tengah, Iwaka, Mimika Timur, Mimika Baru, Wania, dan Kwamki Narama. Wilayah Pegunungan Timika juga berpotensi mengalami hujan
dengan intensitas lebih tinggi pada malam hari.Secara rinci, cuaca pada 2 Juni cenderung cerah sejak dini
hingga siang hari, kemudian berubah menjadi cerah berawan saat sore dan malam. Sementara mulai 3 hingga 8 Juni, hujan ringan hingga sedang
diprakirakan turun pada siang dan sore hari. Jarak pandang umumnya baik di atas
10 kilometer, namun dapat menurun akibat kabut tipis pada dini hari karena
tingkat kelembapan yang tinggi.Selain cuaca darat, BMKG juga merilis informasi kondisi
maritim untuk Perairan Timika dan Kokonao sebagai panduan bagi nelayan serta
pengguna transportasi laut agar lebih waspada terhadap perubahan cuaca di
tengah laut. Masyarakat diimbau memantau perkembangan informasi terbaru
melalui akun resmi @infobmkgtimika sebelum beraktivitas, baik di darat, laut,
maupun udara. Penulis: Jid
Editor: GF
02 Jun 2026, 12:34 WIT
Tim SAR Gabungan Temukan 13 Potongan Tubuh, Tiga Korban Masih Dicari
Papuanewsonline.com, Biak – Proses pencarian tiga orang
korban yang hilang akibat ledakan bom peninggalan Perang Dunia II di Kompleks
Perumahan Nelayan, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, terus diintensifkan
sejak Senin (1/6/26).Puluhan personel SAR gabungan yang terdiri dari unsur TNI,
Polri, Basarnas, serta dibantu warga setempat, memusatkan penelusuran di
wilayah perairan dan pinggiran pantai yang menjadi titik penyebaran sisa
ledakan.Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, menyampaikan
bahwa pada hari pertama operasi, tim berhasil menemukan sebanyak 13 potongan
tubuh yang diduga milik para korban.“Seluruh temuan tersebut telah segera dievakuasi ke RSUD
Biak untuk penanganan lebih lanjut. Rencananya besok tim DVI dari Polda Papua
akan tiba guna melakukan identifikasi secara pasti terhadap potongan tubuh yang
ditemukan,” jelasnya.Sementara itu, lima korban jiwa yang telah berhasil
diidentifikasi terlebih dahulu, telah dimakamkan secara layak di Tempat
Pemakaman Umum Sorido, Distrik Biak Kota, pada Senin siang hari. Proses pemakaman berjalan khidmat dengan didampingi keluarga
dan pihak berwenang, mengingat peristiwa ini merupakan musibah besar yang
mengguncang masyarakat Biak.Pencarian terhadap tiga orang yang masih dinyatakan hilang
akan kembali dilanjutkan pada Selasa pagi. Tim SAR akan tetap berfokus menelusuri wilayah laut dan
pesisir, sementara tim khusus Jibom Gegana dari Polda Papua akan melakukan
penyisiran serta sterilisasi menyeluruh di sekitar lokasi ledakan untuk
memastikan tidak ada lagi bahaya bahan peledak yang tertinggal.Pihak kepolisian kembali mengimbau masyarakat agar menjauhi
lokasi kejadian demi keselamatan, mengingat masih adanya potensi bahaya. Penulis: Jid
Editor: GF
02 Jun 2026, 12:29 WIT
Polisi Tangani Cepat Kasus Ledakan Diduga Bom Peninggalan Perang Dunia II di Biak
Papuanewsonline.com, Biak - Ledakan hebat yang diduga
berasal dari bom sisa peninggalan Perang Dunia II mengguncang Kompleks
Perikanan di Jalan Walter Mongonsidi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota,
Kabupaten Biak Numfor, Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 14.45 WIT. Peristiwa
tragis tersebut mengakibatkan korban jiwa serta kerusakan berat pada sejumlah
rumah warga di sekitar lokasi kejadian.Berdasarkan informasi awal yang dihimpun aparat kepolisian,
ledakan terjadi di area bawah salah satu rumah panggung yang berada di kompleks
tersebut. Suara ledakan yang sangat keras mengejutkan warga sekitar dan memicu
kepanikan di kawasan permukiman padat tersebut.Menanggapi kejadian itu, Polres Biak Numfor bersama unsur
TNI, Basarnas, pemerintah daerah, dan sejumlah instansi terkait langsung
bergerak ke lokasi untuk melakukan evakuasi korban, mengamankan area, serta
melakukan penyelidikan guna mengetahui penyebab pasti ledakan.Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Cahyo Sukarnito,
S.I.K., M.K.P., menyampaikan rasa duka mendalam kepada keluarga korban yang
terdampak musibah tersebut. Ia menegaskan bahwa fokus utama aparat saat ini
adalah upaya kemanusiaan dan penyelamatan korban."Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada
keluarga korban. Saat ini fokus utama kami adalah penanganan korban, proses
evakuasi, serta pengamanan lokasi kejadian. Personel di lapangan juga terus
berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan seluruh korban dapat
segera ditemukan dan mendapatkan penanganan yang diperlukan," ujar Kombes
Pol. Cahyo Sukarnito.Hingga Minggu sore, tim gabungan telah menemukan lima korban
dalam kondisi meninggal dunia. Empat korban dievakuasi ke RSUD Biak, sementara
satu korban lainnya dibawa ke RSAL Biak untuk proses identifikasi dan
penanganan lebih lanjut.Di sisi lain, upaya pencarian masih terus dilakukan terhadap
tiga korban lain yang dilaporkan belum ditemukan. Tim gabungan melakukan
penyisiran secara intensif di sekitar lokasi ledakan dengan melibatkan berbagai
unsur penyelamat.Selain menimbulkan korban jiwa, ledakan tersebut juga
menyebabkan kerusakan berat pada sedikitnya enam unit rumah warga yang berada
di sekitar titik ledakan. Bangunan yang terdampak mengalami kerusakan pada
bagian struktur utama akibat kuatnya daya ledak.Petugas masih melakukan pendataan serta asesmen terhadap
kerugian material yang ditimbulkan. Pemerintah daerah bersama instansi terkait
juga mulai menginventarisasi kebutuhan warga yang terdampak langsung akibat
peristiwa tersebut.Sejumlah saksi mata mengaku mendengar suara dentuman sangat
keras sebelum melihat kepulan debu dan puing-puing bangunan beterbangan. Warga
sekitar yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian segera berdatangan untuk
memberikan pertolongan kepada korban sebelum tim gabungan tiba.Sebagai langkah antisipasi, aparat keamanan melakukan
sterilisasi di area ledakan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada
benda berbahaya lain yang masih tersimpan di sekitar lokasi dan berpotensi
menimbulkan ancaman baru bagi masyarakat.Biak Numfor sendiri merupakan salah satu wilayah yang
memiliki sejarah panjang sebagai medan pertempuran pada masa Perang Dunia II.
Karena itu, keberadaan sisa-sisa amunisi atau bahan peledak peninggalan perang
masih kerap ditemukan di beberapa lokasi.Meski demikian, aparat kepolisian menegaskan bahwa penyebab
pasti ledakan masih menunggu hasil penyelidikan dan identifikasi lebih lanjut
oleh tim yang berwenang.Polda Papua juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan
tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Aparat meminta warga
memberikan ruang kepada petugas untuk menyelesaikan proses pencarian korban dan
investigasi secara menyeluruh."Kami akan menyampaikan perkembangan lebih lanjut
setelah proses pencarian korban dan penyelidikan selesai dilakukan," tutup
Kombes Pol. Cahyo Sukarnito.Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian terhadap tiga
korban yang masih dinyatakan hilang terus berlangsung. Aparat kepolisian
bersama tim gabungan tetap siaga di lokasi untuk memastikan seluruh korban
dapat ditemukan serta kondisi kawasan benar-benar aman bagi masyarakat. (GF)
01 Jun 2026, 12:11 WIT
Ledakan BOM Sisa Perang Dunia II di Biak: 8 Korban Jiwa, 10 Rumah Rusak
Papuanewsonline.com, Biak – Ledakan dahsyat yang diduga
berasal dari bom sisa peninggalan Perang Dunia II mengguncang Kompleks
Perikanan, Jalan Walter Mongonsidi, Kampung Yenures, Distrik Biak Kota,
Kabupaten Biak Numfor, pada Minggu (31/5/2026) pukul 14.45 WIT.Berdasarkan data terbaru yang dihimpun, peristiwa mematikan
ini menewaskan delapan orang, di mana lima jenazah telah berhasil ditemukan dan
dievakuasi, sementara tiga lainnya masih terus dicari oleh tim gabungan. Selain menelan korban jiwa, sedikitnya sepuluh unit rumah
warga dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat yang beragam akibat
kekuatan ledakan tersebut.Kasat Reskrim Polres Biak, Ipda Daniel Rumpaidus,
membenarkan informasi tersebut dan menyebutkan proses identifikasi korban serta
kerusakan masih berlangsung secara intensif. Sementara itu, Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan,
menjelaskan bahwa penyebab ledakan diduga kuat berasal dari bahan peledak lama
yang tertimbun selama puluhan tahun. Tim gabungan TNI dan Polri telah dikerahkan ke lokasi untuk
melakukan evakuasi korban, pengamanan, serta sterilisasi wilayah guna
memastikan tidak ada lagi bahaya yang mengancam keselamatan warga sekitar.Pihak kepolisian telah memasang garis polisi dan menutup
akses menuju tempat kejadian perkara karena kondisi di lokasi dinilai belum
sepenuhnya aman. Penulis: Jid
Editor: GF
01 Jun 2026, 11:59 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru