logo-website
Jumat, 27 Mar 2026,  WIT
BERITA TAG Budaya Homepage
Tujuh Kepala Suku dan Lembaga P2MA PTP Nyatakan Dukungan kepada Frans Pigome untuk Pimpin PTFI Papuanewsonline.com, Timika — Dinamika kepemimpinan di tubuh PT Freeport Indonesia (PTFI) kembali menjadi sorotan setelah Lembaga Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Adat Papua Tambang (P2MA PTP) bersama tujuh kepala suku besar di wilayah Mimika menyampaikan dukungan resmi kepada Frans Pigome untuk menjabat sebagai Presiden Direktur PTFI. Pernyataan dukungan ini disampaikan secara terbuka melalui pertemuan adat di Timika, yang dihadiri oleh tokoh adat, masyarakat, dan perwakilan pemuda dari wilayah yang terdampak langsung oleh aktivitas pertambangan Freeport. Dukungan tersebut dianggap sebagai aspirasi moral dan politik masyarakat adat Papua, yang menuntut agar posisi pimpinan tertinggi perusahaan tambang terbesar di Indonesia itu diisi oleh putra asli Papua. Ketua P2MA PTP Ruben Kobogau bersama Sekretaris Jenderal Yonas Magai dalam pernyataannya menegaskan bahwa dukungan ini tidak sekadar merupakan dorongan personal terhadap Frans Pigome, melainkan bentuk komitmen masyarakat adat untuk memperjuangkan representasi orang asli Papua (OAP) di posisi strategis perusahaan yang selama puluhan tahun beroperasi di tanah mereka. “Kami, tujuh kepala suku yang wilayah adatnya bersinggungan langsung dengan aktivitas tambang Freeport, menilai bahwa sudah saatnya putra asli Papua memimpin perusahaan ini. Kami percaya Frans Pigome memiliki kapasitas, pengalaman, dan integritas untuk membawa Freeport menjadi perusahaan yang berkeadilan bagi rakyat Papua,” ujar Ruben Kobogau, didampingi Yonas Magai. Pernyataan tersebut disambut hangat oleh para kepala suku yang hadir. Mereka menegaskan bahwa dukungan ini mencerminkan semangat Otonomi Khusus Papua, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2021 tentang perubahan atas UU Nomor 21 Tahun 2001. Dalam pandangan masyarakat adat, Frans Pigome dipandang sebagai figur yang memahami dinamika sosial, ekonomi, dan budaya Papua secara menyeluruh. Ia dinilai mampu menjadi jembatan antara perusahaan dan masyarakat lokal, sekaligus membawa visi pembangunan berkelanjutan yang berpihak pada kesejahteraan orang asli Papua. “Kami melihat sosok Frans Pigome sebagai pemimpin yang mampu mempersatukan semua pihak. Ia bukan hanya representasi OAP, tetapi juga simbol harapan agar Freeport lebih manusiawi dan berpihak pada masyarakat sekitar tambang,” ungkap salah satu kepala suku yang turut menandatangani pernyataan dukungan. Selain soal kepemimpinan, para tokoh adat juga menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam pengelolaan hasil tambang agar manfaat ekonomi yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh segelintir pihak, melainkan juga oleh masyarakat adat di wilayah operasi. Melalui momentum ini, P2MA PTP menekankan perlunya penguatan kebijakan afirmatif di bidang ketenagakerjaan, pendidikan, dan pengelolaan lingkungan di area operasi Freeport. Mereka mendorong agar perusahaan memberi ruang lebih luas bagi tenaga kerja OAP, meningkatkan pendidikan vokasi berbasis kebutuhan industri tambang, serta menjalankan program pelestarian lingkungan yang transparan dan berkelanjutan. “Freeport beroperasi di tanah Papua selama puluhan tahun. Sudah saatnya manfaatnya benar-benar dirasakan oleh anak-anak asli negeri ini — bukan hanya dalam bentuk bantuan sosial, tapi juga pemberdayaan yang nyata,” kata Yonas Magai. Menurutnya, keberadaan Frans Pigome di posisi puncak akan menjadi tonggak sejarah baru dalam perjuangan masyarakat adat Papua untuk mendapatkan keadilan ekonomi dan pengakuan politik di sektor strategis nasional. Dalam pernyataan penutup, para tokoh adat dan pimpinan P2MA PTP menyerukan agar Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Papua, dan manajemen PTFI mendengarkan aspirasi ini dengan penuh tanggung jawab. Mereka menilai, dukungan terhadap Frans Pigome bukan semata dorongan politik, melainkan seruan moral bangsa agar pembangunan di Papua dilakukan dengan mengutamakan partisipasi dan kepemimpinan lokal. “Kami tidak ingin hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Kami ingin ikut menentukan arah masa depan Papua, termasuk dalam perusahaan besar seperti Freeport. Dukungan kami kepada Frans Pigome adalah simbol dari harapan itu,” ujar Ruben Kobogau tegas. Pertemuan adat tersebut diakhiri dengan doa bersama dan penandatanganan dokumen pernyataan dukungan dari tujuh kepala suku besar, yang menjadi bagian dari wilayah terdampak langsung aktivitas PTFI. (GF) 23 Okt 2025, 14:20 WIT
Festival Pesona Meti Kei 2025 Resmi Dibuka: Perpaduan Budaya, Alam, dan Kebersamaan yang Menyatu Papuanewsonline.com, Maluku Tenggara — Langit biru dan semilir angin laut menjadi saksi kemeriahan pembukaan Festival Pesona Meti Kei 2025 yang digelar di Kabupaten Maluku Tenggara. Festival yang berlangsung dari 21 hingga 27 Oktober 2025 ini menjadi momen istimewa bagi masyarakat Kepulauan Kei untuk merayakan keindahan alam sekaligus kekayaan budaya lokal. Pembukaan festival ditandai dengan pelepasan balon berwarna-warni ke udara oleh Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, bersama unsur Forkopimda, TNI, dan Polri di kawasan Monumen Evav Langgur. Momen simbolis ini menandai dimulainya rangkaian acara yang menggabungkan seni, budaya, dan tradisi bahari masyarakat Kei. Festival ini berakar dari fenomena alam khas Kepulauan Kei yang disebut “Meti Kei”, yaitu peristiwa pasang surut laut ekstrem di mana air laut surut hingga sejauh ratusan meter, memperlihatkan dasar laut yang luas seperti hamparan daratan baru. Fenomena ini tidak hanya menakjubkan, tetapi juga menjadi simbol hubungan harmonis antara masyarakat Kei dengan alam lautnya. Salah satu kegiatan paling dinantikan adalah tradisi “Wer Warat”, yakni penangkapan ikan secara tradisional menggunakan daun kelapa yang dibentangkan di laut dan ditarik bersama-sama oleh masyarakat. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan menangkap ikan, tetapi juga lambang kebersamaan dan kerja sama masyarakat pesisir. “Festival ini tidak hanya untuk hiburan, tapi juga menjadi wadah untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya, tradisi, dan semangat gotong royong masyarakat Kei kepada dunia,” ujar Bupati Muhamad Thaher Hanubun dalam sambutannya. Selain Wer Warat, Festival Pesona Meti Kei 2025 juga menghadirkan berbagai acara menarik seperti Lomba Goyang Kreasi Meti Kei, pameran kuliner lokal, ekspedisi wisata alam, pagelaran musik tradisional, hingga lomba perahu hias. Acara ini menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin menikmati perpaduan keindahan alam pantai pasir putih, laut jernih, dan budaya yang masih terjaga autentisitasnya. Ketua Panitia Festival, Budhi Toffy, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata dari upaya pemerintah daerah dalam mendorong pariwisata berkelanjutan dan ramah lingkungan. “Festival Pesona Meti Kei bukan hanya ajang seremonial, tetapi strategi promosi wisata yang berorientasi pada pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat lokal,” jelas Budhi. Festival tahunan ini telah menjadi bagian penting dari kalender pariwisata Maluku Tenggara dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah serta berbagai pihak, termasuk pelaku UMKM, komunitas budaya, hingga organisasi pemuda. Kehadiran berbagai instansi dan perwakilan masyarakat dalam acara pembukaan menunjukkan tingginya semangat kebersamaan untuk menjadikan Maluku Tenggara sebagai destinasi unggulan di Indonesia timur. Bupati Thaher Hanubun berharap melalui festival ini, Maluku Tenggara dapat semakin dikenal sebagai daerah yang kaya akan budaya, ramah wisatawan, dan memiliki potensi alam luar biasa. “Kami ingin dunia melihat bahwa Kepulauan Kei bukan hanya indah secara alam, tetapi juga kaya nilai-nilai budaya dan solidaritas masyarakatnya,” tegasnya. Dengan semangat pelestarian dan promosi budaya, Festival Pesona Meti Kei kini tidak hanya menjadi agenda lokal, tetapi juga menarik perhatian nasional. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI turut memberi apresiasi terhadap konsistensi pelaksanaan festival yang menjadi ikon wisata bahari Maluku Tenggara. Festival ini juga menjadi ajang bagi para seniman, pelaku ekonomi kreatif, serta generasi muda Kei untuk menunjukkan karya dan inovasinya. Dari seni tari, musik tradisional, hingga pameran kerajinan tangan, seluruhnya mencerminkan kekayaan warisan budaya yang terus hidup dan berkembang di tanah Evav. Rangkaian Festival Pesona Meti Kei 2025 akan berlangsung hingga 27 Oktober dengan puncak acara “Wer Warat” di pesisir Ohoi Ngilngof, salah satu lokasi paling indah di Maluku Tenggara. Ribuan warga dan wisatawan diperkirakan akan hadir menyaksikan langsung atraksi budaya dan fenomena alam yang menakjubkan ini. “Kami ingin setiap orang yang datang ke Kei pulang dengan kenangan, bukan hanya tentang pantai dan laut, tapi juga tentang keramahan, kebersamaan, dan cinta terhadap alam,” ujar Budhi menutup pernyataannya. Festival ini membuktikan bahwa pariwisata bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga tentang pelestarian identitas dan kebanggaan lokal yang mendunia.     Penulis: Hendrik Editor: GF 22 Okt 2025, 20:41 WIT
Bupati Jayawijaya Resmikan Gedung Gereja Bethel Indonesia Jemaat Jibino Papuanewsonline.com, Wamena — Suasana penuh sukacita mewarnai Kampung Musiaima, Distrik Hubikiak, Kabupaten Jayawijaya, ketika Bupati Jayawijaya, Atenius Murip, S.H., M.H., secara resmi meresmikan Gedung Gereja Bethel Indonesia (GBI) Jemaat Jibino pada Rabu (22/10) pukul 10.00 WIT. Acara peresmian ini menjadi momentum penting bagi masyarakat setempat, menandai hadirnya fasilitas ibadah baru yang diharapkan dapat memperkuat kehidupan rohani, mempererat tali persaudaraan, serta mendorong pembangunan sosial dan spiritual di wilayah pegunungan tengah Papua. Gedung GBI Jemaat Jibino berdiri megah di tengah kampung dengan arsitektur sederhana namun kokoh, mencerminkan semangat kebersamaan dan gotong royong umat dalam membangun rumah Tuhan. Gereja ini merupakan bagian dari Gereja Bethel Indonesia yang secara nasional berdiri sejak 6 Oktober 1970 di Sukabumi, Jawa Barat, dan kini telah berkembang di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Papua. Dalam sambutannya, Bupati Atenius Murip menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas semangat masyarakat Jemaat GBI Jibino yang telah berupaya keras mewujudkan pembangunan gedung gereja ini. “Peresmian gedung ini bukan hanya simbol berdirinya sebuah bangunan, tetapi juga bukti nyata iman, kerja sama, dan ketekunan masyarakat Jayawijaya dalam membangun kehidupan yang berlandaskan kasih dan persaudaraan,” ujar Bupati Atenius. Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah selalu membuka ruang bagi semua umat beragama untuk berkembang dan menjalankan kegiatan keagamaan dengan damai serta saling menghormati. “Kami berharap gedung ini dapat menjadi pusat kegiatan rohani, pendidikan iman, dan pelayanan sosial bagi seluruh jemaat dan masyarakat di sekitarnya,” tambahnya. Dalam kesempatan yang sama, Bupati menegaskan bahwa pembangunan sarana keagamaan seperti gereja, masjid, maupun rumah ibadah lainnya merupakan bagian penting dari visi pemerintah daerah dalam mewujudkan Jayawijaya yang damai dan sejahtera. “Pemerintah daerah tidak hanya membangun jalan, jembatan, dan fasilitas umum, tetapi juga membangun manusia — baik secara jasmani maupun rohani. Karena tanpa iman dan moral yang kuat, pembangunan tidak akan berarti,” ungkapnya. Beliau juga mengajak seluruh masyarakat Jayawijaya untuk terus menjaga toleransi dan kerukunan antarumat beragama, yang selama ini telah menjadi kekuatan utama masyarakat di pegunungan tengah Papua. Acara peresmian GBI Jemaat Jibino berlangsung meriah dan khidmat. Ribuan warga dari berbagai kampung di sekitar Distrik Hubikiak hadir memenuhi halaman gereja. Prosesi ibadah syukur dipimpin oleh gembala jemaat GBI Jibino, disertai doa dan pujian dari kelompok paduan suara anak-anak dan remaja gereja. Selain ibadah syukur, acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan tarian adat dan musik tradisional Wamena, yang menambah suasana kebersamaan dan kebanggaan masyarakat lokal. Bupati Jayawijaya didampingi para pejabat daerah dan tokoh agama melakukan penandatanganan prasasti peresmian serta pengguntingan pita sebagai tanda bahwa gedung gereja resmi digunakan. Sorak sukacita jemaat pun menggema di seluruh area peribadatan. “Kami bersyukur karena pemerintah daerah hadir dan mendukung kegiatan rohani kami. Ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus beribadah dengan semangat baru,” ungkap salah satu anggota jemaat dengan penuh haru. Dengan diresmikannya gedung baru ini, GBI Jemaat Jibino diharapkan dapat berperan aktif sebagai pusat kegiatan pembinaan rohani, tempat pelayanan masyarakat, serta wadah pemberdayaan generasi muda di Kampung Musiaima dan sekitarnya. Pihak gereja menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah, para donatur, dan seluruh jemaat yang telah berkontribusi, baik tenaga, pikiran, maupun dana, hingga gedung ini berdiri megah. “Gereja ini akan kami rawat dan manfaatkan sebaik-baiknya, bukan hanya untuk ibadah tetapi juga untuk kegiatan sosial dan kemasyarakatan,” kata salah satu pengurus jemaat. Peresmian Gedung Gereja Bethel Indonesia Jemaat Jibino menjadi simbol nyata bahwa pembangunan di Jayawijaya tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga memperhatikan dimensi spiritual masyarakat. Melalui kegiatan keagamaan yang hidup dan dinamis, diharapkan masyarakat semakin dikuatkan dalam iman serta memiliki semangat kebersamaan dalam mendukung program pembangunan daerah. Dengan demikian, Jayawijaya tidak hanya dikenal sebagai daerah yang kaya akan budaya dan alamnya, tetapi juga sebagai wilayah yang teguh dalam iman dan persaudaraan.       Penulis: Hendrik Editor: GF 22 Okt 2025, 20:38 WIT
BBKSDA Papua Klarifikasi Soal Pemusnahan Cenderawasih: Bukan Tindakan Mendiskreditkan Budaya Papuanewsonline.com, Jayapura — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua akhirnya memberikan klarifikasi resmi terkait peristiwa pemusnahan sejumlah opset dan mahkota burung cenderawasih yang dilakukan pada 20 Oktober 2025 lalu. Tindakan tersebut sempat menimbulkan beragam tanggapan di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat adat Papua yang menilai burung cenderawasih sebagai simbol budaya dan kebanggaan Tanah Papua. Dalam konferensi pers yang digelar di Kantor BBKSDA Papua, Kepala BBKSDA Papua, Johny Santoso, menegaskan bahwa langkah pemusnahan tersebut murni dilakukan dalam kerangka penegakan hukum dan perlindungan satwa liar, bukan untuk menyinggung atau mengabaikan nilai budaya masyarakat adat. “Kami memahami betul bahwa cenderawasih memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi bagi masyarakat Papua. Karena itu, kami tegaskan bahwa tindakan ini bukan untuk mendiskreditkan budaya masyarakat adat, melainkan untuk menjaga kelestarian dan kesakralan cenderawasih sebagai simbol identitas Papua,” ujar Johny Santoso. Lebih lanjut, Johny menjelaskan bahwa pemusnahan barang bukti tersebut dilakukan sesuai dengan mandat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.26/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2017 mengenai penanganan barang bukti tindak pidana lingkungan hidup dan kehutanan. Barang bukti yang dimusnahkan merupakan hasil penegakan hukum terhadap pelaku perdagangan ilegal satwa dilindungi, termasuk bagian tubuh burung cenderawasih yang dijadikan opset dan mahkota hias. “Satwa yang dilindungi tidak boleh diperdagangkan atau dimanfaatkan tanpa izin resmi. Pemusnahan adalah bentuk akhir dari proses hukum agar barang bukti tersebut tidak kembali diperjualbelikan atau disalahgunakan,” jelas Johny. Ia juga menambahkan bahwa sebelum pemusnahan dilakukan, pihak BBKSDA telah mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk kemungkinan menyerahkan barang bukti ke lembaga pendidikan atau museum, namun keputusan akhir tetap mengacu pada ketentuan hukum yang berlaku. Menanggapi peristiwa tersebut, Komunitas Rumah Bakau Jayapura, melalui pendirinya Abdel Gamel Nasser, menyampaikan bahwa kejadian ini sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai persoalan hukum, tetapi juga sebagai momentum introspeksi bersama. “Peristiwa ini menjadi cermin bagi kita semua — pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat adat — untuk bersama-sama menjaga simbol kebanggaan Papua. Cenderawasih bukan sekadar satwa, tetapi lambang kehidupan dan keindahan Tanah Papua,” ujar Abdel. Ia juga mengajak seluruh masyarakat agar terus menumbuhkan kesadaran lingkungan, menghentikan praktik perburuan, serta mendukung upaya pelestarian yang dilakukan pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat. “Mari kita jadikan peristiwa ini titik balik untuk memperkuat rasa memiliki terhadap kekayaan alam Papua. Melestarikan cenderawasih berarti melestarikan jati diri kita sendiri,” tambahnya. Kepala BBKSDA Papua menegaskan bahwa pihaknya akan terus menjalin komunikasi intensif dengan para tokoh adat, akademisi, serta organisasi lingkungan agar setiap kebijakan yang diambil memperhatikan nilai-nilai budaya lokal. “Kami terbuka terhadap dialog. Ke depan, kami ingin melibatkan lebih banyak pihak dalam merumuskan pendekatan konservasi yang menghormati adat, budaya, dan kearifan lokal,” tutur Johny. Menurutnya, keberhasilan konservasi di Papua sangat bergantung pada kolaborasi antara masyarakat adat dan pemerintah. Dengan demikian, langkah penegakan hukum dapat berjalan selaras dengan upaya menjaga martabat dan identitas budaya masyarakat setempat. Peristiwa ini membuka ruang refleksi penting bagi semua pihak tentang bagaimana hukum konservasi diterapkan tanpa mengabaikan akar budaya yang telah melekat di masyarakat Papua selama berabad-abad. Pemerhati lingkungan menilai, perlu ada pendekatan baru yang lebih humanis dan edukatif dalam menegakkan aturan konservasi di wilayah adat. Hal ini penting agar masyarakat tidak hanya memahami sisi hukum, tetapi juga merasakan manfaat nyata dari upaya pelestarian satwa endemik seperti burung cenderawasih. BBKSDA Papua berjanji akan terus memperkuat edukasi publik, memperluas kampanye anti-perburuan satwa dilindungi, serta mengembangkan kemitraan konservasi bersama masyarakat lokal. “Kami berharap langkah-langkah ke depan bisa menjadi jembatan antara pelestarian alam dan pelestarian budaya Papua,” tutup Johny Santoso.     Penulis: Hendrik Editor: GF 22 Okt 2025, 20:30 WIT
Wakil Bupati Mimika Apresiasi Semangat Masyarakat Kamoro dalam Persiapan Musyawarah Adat Papuanewsonline.com, Timika — Pemerintah Kabupaten Mimika terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian budaya lokal dan memperkuat hubungan dengan masyarakat adat. Hal ini terlihat dalam kegiatan Coffee Morning antara Pemerintah Kabupaten Mimika dengan perwakilan tokoh adat Kamoro, yang dihadiri langsung oleh Bupati Mimika Johanes Rettob dan Wakil Bupati Mimika Imanuel Kemong. Pertemuan yang berlangsung penuh keakraban itu menjadi ajang silaturahmi dan dialog terbuka antara pemerintah dan masyarakat adat Kamoro. Agenda utama dalam pertemuan ini adalah membangun kesepahaman dan kebersamaan menuju penyelenggaraan Musyawarah Adat Kamoro (MAK) yang rencananya akan digelar dalam waktu dekat. Dalam sambutannya, Wakil Bupati Mimika Imanuel Kemong menyampaikan apresiasi tinggi atas semangat dan partisipasi aktif masyarakat Kamoro dalam mempersiapkan kegiatan penting tersebut. Ia menilai bahwa keterlibatan tokoh adat dan masyarakat menjadi kunci sukses penyelenggaraan musyawarah yang bernuansa kekeluargaan dan kebersamaan. “Saya berterima kasih atas semangat dan partisipasi masyarakat Kamoro melalui para tokoh adat yang hadir hari ini. Inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat adat Kamoro memiliki komitmen kuat untuk menjaga persatuan, sekaligus berperan aktif dalam pembangunan daerah,” ujar Imanuel dalam sambutannya. Lebih lanjut, Imanuel berharap agar proses persiapan hingga pelaksanaan Musyawarah Adat dapat berjalan lancar, tertib, dan membawa manfaat nyata bagi seluruh masyarakat adat Kamoro. “Kami berharap musyawarah ini bukan hanya menjadi wadah formal, tetapi juga momentum memperkuat identitas dan solidaritas masyarakat adat Kamoro, sehingga dapat memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan di Kabupaten Mimika,” tambahnya. Bupati Mimika Johanes Rettob dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa pemerintah daerah akan selalu membuka ruang dialog dan kerja sama dengan seluruh elemen masyarakat adat. Menurutnya, masyarakat adat Kamoro memiliki peran historis dan kultural yang penting dalam perjalanan pembangunan Mimika. Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan menjaga harmoni sosial dan budaya lokal. “Mimika adalah rumah besar bagi semua. Kita harus memastikan pembangunan berjalan seimbang antara kemajuan fisik dan kelestarian nilai-nilai adat. Musyawarah Adat Kamoro ini menjadi wujud nyata dari komitmen itu,” kata Johanes Rettob. Musyawarah Adat Kamoro yang akan datang diharapkan menjadi ruang demokratis bagi masyarakat adat dalam membahas berbagai isu strategis, seperti pelestarian budaya, pengelolaan sumber daya alam, pendidikan adat, hingga penguatan lembaga-lembaga adat di tingkat kampung. Kegiatan ini juga menjadi ajang untuk menegaskan kembali nilai-nilai leluhur Kamoro, yang menjunjung tinggi kebersamaan, musyawarah, dan gotong royong sebagai fondasi kehidupan sosial. Tokoh adat Kamoro yang turut hadir dalam pertemuan itu menyampaikan harapannya agar Musyawarah Adat dapat menjadi tonggak kebangkitan masyarakat adat dalam menghadapi tantangan modernisasi dan arus globalisasi. Mereka menilai, dukungan pemerintah daerah menjadi sinyal positif bahwa adat dan pembangunan dapat berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan. Pertemuan ini diakhiri dengan dialog terbuka antara pemerintah dan tokoh masyarakat. Sejumlah usulan dan masukan disampaikan, mulai dari dukungan logistik, pelibatan generasi muda adat Kamoro, hingga upaya pelestarian seni dan tradisi lokal dalam kegiatan pemerintahan dan pendidikan. Wakil Bupati Imanuel Kemong menegaskan, pemerintah akan menindaklanjuti seluruh aspirasi yang muncul melalui koordinasi lintas perangkat daerah. Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga suasana kondusif dan saling mendukung demi kelancaran pelaksanaan Musyawarah Adat Kamoro. “Musyawarah ini bukan hanya untuk masyarakat Kamoro, tetapi untuk kita semua yang hidup di Tanah Mimika. Karena pembangunan sejati hanya bisa terwujud jika kita bersatu,” pungkasnya. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan hubungan harmonis antara Pemerintah Kabupaten Mimika dan masyarakat adat Kamoro semakin kuat, serta menjadi contoh sinergi antara pemerintah dan adat dalam membangun Mimika yang berkeadilan, berbudaya, dan sejahtera. Penulis: Hendrik Editor: GF 22 Okt 2025, 20:23 WIT
Polda Maluku Terima Mushaf Al-Qur’an dari Kemenag Ambon, Perkuat Pembinaan Rohani Tahanan Papuanewsonline.com, Ambon – Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Dittahti) Polda Maluku menerima penyerahan 20 mushaf Al-Qur’an dari Kementerian Agama (Kemenag) Kota Ambon, Senin (20/10/2025). Penyerahan ini bertujuan mendukung kegiatan pembinaan kerohanian bagi para tahanan beragama Islam yang berada di Rumah Tahanan (Rutan) Dittahti Polda Maluku.Kegiatan berlangsung pukul 10.00 WIT di Rutan Dittahti Polda Maluku, dengan suasana penuh keakraban dan kekhidmatan. Hadir dalam kesempatan tersebut Plt. Dir Tahti Polda Maluku AKBP Yamy Reawaruw, S.E., bersama perwakilan Kemenag Kota Ambon, yakni Penyuluh Agama Islam H. La Hamid, Abd. Chalik Umamity, dan Hj. Amina Latuconsina, S.Ag.Turut mendampingi pula Ps. Pamin Urmintu Subagrenmin Ro SDM Polda Maluku Aipda Hamdan Umasugi, S.HI., Kasi Pam Barbuk Subdit Barbuk Iptu Djusli Ahmad, serta Kanit Siwattah Subdit Harwattah Iptu Norlensa Pattinama, S.H.Dalam kegiatan tersebut, penyerahan mushaf Al-Qur’an dilakukan secara simbolik oleh Abd. Chalik Umamity dari Kemenag Kota Ambon kepada AKBP Yamy Reawaruw. Selain mushaf Al-Qur’an, Dittahti Polda Maluku juga menyalurkan hibah 16 buku Yasin yang merupakan sumbangan dari personel internal Dittahti.Setelah prosesi penyerahan, kegiatan dilanjutkan dengan tausiah keagamaan bagi para tahanan beragama Islam yang berjumlah 25 orang. Tausiah ini menjadi ruang refleksi spiritual bagi para tahanan agar dapat memperbaiki diri dan memperkuat keimanan selama menjalani masa penahanan.AKBP Yamy Reawaruw dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Kemenag Kota Ambon atas kepedulian dan dukungan terhadap program pembinaan keagamaan di lingkungan Dittahti Polda Maluku.“Kami sangat berterima kasih atas perhatian Kementerian Agama. Bantuan ini sangat berarti untuk mendukung pembinaan rohani bagi para tahanan agar semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan memiliki semangat baru dalam memperbaiki diri,” ujarnya.Sementara itu, perwakilan Kemenag Kota Ambon, Abd. Chalik Umamity, menyampaikan bahwa penyerahan mushaf ini merupakan bagian dari sinergi antara Kemenag dan Polda Maluku dalam memperkuat pembinaan mental dan spiritual di lembaga kepolisian.“Kami berharap mushaf dan buku Yasin ini dapat digunakan sebaik-baiknya sebagai sarana ibadah dan pembinaan moral bagi para tahanan,” katanya.Kegiatan ini menghasilkan beberapa capaian penting, di antaranya peningkatan sarana penunjang pembinaan kerohanian, penguatan keimanan dan ketakwaan, serta pembentukan moral dan etika yang lebih baik bagi para tahanan.Seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan penuh kekeluargaan, mencerminkan semangat sinergi antara aparat kepolisian dan instansi keagamaan dalam mewujudkan pembinaan yang humanis bagi warga binaan. PNO-12 20 Okt 2025, 18:29 WIT
Hadiri Sidang ke-39 Sinode GPM, Kapolda Maluku: Tebarkan Kebaikan dan Cinta Kasih di Tanah Maluku Papuanewsonline.com, Ambon - Kepala Kepolisian Daerah Maluku, Irjen Pol Prof. Dr. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., M.Si, mengaku pelaksanaan Sidang ke-39 Sinode GPM merupakan kegiatan yang luar biasa. Sebab, dari forum ini akan lahir kebijakan dan keputusan penting guna menuntun umat Kristiani menuju kehidupan lebih baik. Yaitu membawa nilai-nilai kebaikan dan cinta kasih di Tanah Maluku tercinta.Hal ini disampaikan Kapolda secara langsung saat menghadiri pelaksanaan sidang Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) yang digelar di Gereja Maranatha, Kota Ambon, Minggu (19/10/2025).Orang nomor 1 Polda Maluku ini juga memberikan apresiasi dan menyampaikan ucapan selamat atas pelaksanaan Sidang ke-39 Sinode GPM Tahun 2025 tersebut.Mengusung tema “Anugerah Allah Melengkapi dan Meneguhkan Gereja Menuju Satu Abad GPM (1 Petrus 5:10)”, sidang tersebut turut dihadiri Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku, Dirjen Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI, Kapoksahli Pangdam XV/Pattimura, Aspidmil Kejati Maluku, Ketua Umum Persekutuan Gereja Indonesia, Ketua dan Sekretaris MPH Sinode GPM, para kepala daerah se-Provinsi Maluku, anggota DPR RI, pimpinan DPRD, tokoh agama, pimpinan perguruan tinggi, serta seluruh peserta sidang dan tamu undangan.“Pertama-tama saya ingin menyampaikan selamat atas pelaksanaan sidang ke-39 Sinode Gereja Protestan Maluku Tahun 2025," ungkap Kapolda Maluku Prof. Dadang Hartanto. Sidang Sinode GPM, kata Kapolda, merupakan kegiatan luar biasa, karena dari forum ini akan lahir kebijakan dan keputusan penting yang dapat menuntun umat Kristiani menuju kehidupan yang lebih baik, "dengan membawa nilai-nilai kebaikan dan cinta kasih di Tanah Maluku yang kita cintai,” katanya.Kapolda juga menegaskan pentingnya peran Gereja dalam memperkuat semangat persaudaraan dan toleransi di Maluku yang dikenal dengan keragaman suku, ras, dan agama. “Kita ketahui bersama bahwa Maluku ini merupakan wilayah yang memiliki keberagaman luar biasa," ujarnya. Kekuatan dan peran Gereja, kata Kapolda, merupakan bagian penting dalam upaya mempersatukan masyarakat. "Kita berharap GPM dapat terus menumbuhkan semangat optimisme dan menjadi Gereja pemersatu bagi seluruh masyarakat Maluku,” harapnyaOrang nomor 1 Polda Maluku ini juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat sinergi dalam membangun daerah. “Kita semua harus bersatu padu untuk mewujudkan Maluku yang maju, aman, adil, dan makmur. Maluku tarus biking bae, basudara tarus biking bae, dan GPM tarus biking bae,” tutup Kapolda dengan penuh semangat. PNO-12 20 Okt 2025, 12:24 WIT
Diresmikan, Gereja Bethel Siporannu Berdiri Sebagai Jemaat Mandiri GPI di Papua Papuanewsonline.com, Timika — Sukacita dan rasa syukur memenuhi hati umat di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, saat Gereja Protestan Indonesia (GPI) di Papua Jemaat Betel Siporannu resmi berdiri sebagai jemaat mandiri pada Minggu, 19 Oktober 2025. Peresmian jemaat baru ini dilakukan secara khidmat oleh Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Mimika, Abraham Kateyau, S.E., M.H., yang hadir mewakili Bupati Mimika, Johannes Rettob, S.Sos., M.M. Acara berlangsung penuh hikmat dan sukacita di tengah kehadiran ratusan jemaat dan tokoh masyarakat setempat. Dalam sambutan yang dibacakan oleh Pj. Sekda Mimika, Bupati Johannes Rettob menyampaikan rasa syukur atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan panjang pelayanan GPI di Papua, khususnya Jemaat Betel Siporannu yang kini telah berdiri sebagai jemaat mandiri. “Hari ini bukan hanya menjadi momentum sukacita rohani, tetapi juga wujud nyata perjalanan panjang umat Tuhan yang terus bertumbuh di tengah masyarakat Mimika,” ujar Bupati dalam sambutan tertulisnya. Momentum ini disebut menjadi bukti nyata bagaimana gereja di Mimika terus tumbuh dan berkontribusi positif dalam membangun kehidupan beriman yang kuat, sekaligus memperkokoh rasa kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk. Sementara itu, Abraham Kateyau dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran Jemaat Betel Siporannu sebagai jemaat mandiri bukan hanya menandai pertumbuhan organisasi gereja, melainkan juga memiliki makna sosial yang mendalam. “Gereja bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga tempat pembinaan generasi muda, pelayanan sosial, pendidikan iman, dan persekutuan yang mempererat hubungan antarumat,” tuturnya. Ia juga menekankan agar gereja menjadi teladan dan sumber inspirasi bagi masyarakat sekitar dalam menumbuhkan nilai kasih, persaudaraan, dan kepedulian sosial. Dengan semangat kebersamaan, gereja diharapkan dapat terus menjadi garam dan terang dunia, membawa dampak nyata bagi lingkungan sekitar. Dalam kesempatan tersebut, Abraham Kateyau juga menyampaikan harapan agar Jemaat Betel Siporannu terus berkembang dan memperluas pelayanan, bukan hanya dalam aspek rohani tetapi juga pemberdayaan sosial dan kemanusiaan. “Apa yang dicapai hari ini adalah hasil dari ketekunan, doa bersama, dan kesatuan hati umat Tuhan. Kiranya Tuhan Yesus Kristus memberkati setiap langkah pelayanan hari ini dan ke depan,” tambahnya. Ia juga berpesan agar seluruh pelayan gereja dan jemaat tetap rendah hati, menjaga semangat melayani, serta menjadikan gereja sebagai rumah yang terbuka bagi siapa pun yang membutuhkan bimbingan dan kasih Tuhan. Acara peresmian berlangsung dalam suasana hangat dan penuh sukacita. Rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah syukur, dilanjutkan dengan pemotongan pita sebagai tanda peresmian Jemaat Betel Siporannu secara resmi sebagai jemaat mandiri GPI di Papua. Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Majelis Pekerja Klasis GPI di Papua Mimika beserta jajarannya, para pendeta, pelayan jemaat, tokoh adat, tokoh perempuan, tokoh masyarakat, serta seluruh jemaat setempat. Momentum bersejarah ini juga menjadi pengingat akan pentingnya sinergi antara pemerintah, gereja, dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang damai, harmonis, dan penuh kasih di tanah Mimika. Penulis: Jid Editor: GF 20 Okt 2025, 01:11 WIT
Polda Maluku Apresiasi Festival Benteng Victoria: Tingkatkan Pariwisata dan Perekonomian Masyarakat Papuanewsonline.com, Ambon - Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Rositah Umasugi S.I.K, memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan Festival Benteng Victoria oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI bersama Pemerintah Provinsi Maluku.Apresiasi tersebut disampaikan Kombes Rositah saat menghadiri kegiatan tersebut mewakili Kapolda Maluku di lapangan Merdeka, kota Ambon, Jumat (17/10/2025).Dengan mengusung tema "Toma Maju Berbudaya" kegiatan yang berlangsung meriah ini dibuka oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Bima Arya Sugiarto. Turut hadir Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX Kementerian Kebudayaan RI, Gubernur Maluku, Wakil Gubernur Maluku, Sekda Provinsi Maluku, Walikota dan Wakil Walikota Ambon serta Forkopimda Provinsi dan Kota Ambon.Festival Benteng Victoria dilaksanakan dengan tujuan pelestarian dan pengembangan warisan budaya. Ini juga untuk mendorong kreativitas dan inovasi seni dan budaya, serta membangun identitas dan komunitas. "Kami menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan festival benteng Victoria," kata Kabid Humas Kombes Rositah Umasugi.Kegiatan yang dimeriahkan oleh ratusan peserta karnaval budaya nusantara ini, kata Kombes Rositah, dapat meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap budaya serta kerjasama antarbudaya dan Internasional."Semoga kegiatan ini dapat menjadi daya tarik pariwisata bagi wisatawan lokal, nasional maupun internasional sehingga bisa meningkatkan perekonomian di Maluku," harapnya.Polda Maluku, lanjut Kombes Rositah, siap menjamin keamanan dan mendorong peningkatan pariwisata di provinsi Maluku. "Saatnya Maluku bangkit dengan dunia pariwisatanya. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk dapat menjaga situasi kamtibmas yang kondusif," pintanya.Menurutnya, situasi kamtibmas yang kondusif di setiap lokasi wisata akan menumbuhkan rasa aman, nyaman bagi wisatawan yang datang."Semoga Maluku terus aman, agar dunia pariwisata dapat meningkat, yang tentunya berdampak pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat," harapnya. PNO-12 18 Okt 2025, 13:12 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT