logo-website
Senin, 01 Jun 2026,  WIT
BERITA TAG Kriminal Homepage
Penembakan Brutal KKB di Nabire: Satu Warga Tewas, Empat Lainnya Luka-Luka Papuanewsonline.com, Nabire – Suasana mencekam sempat menyelimuti wilayah Kali Semen, Wadio Atas, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, pada Jumat (17/10/2025) pagi. Sekitar pukul 10.00 WIT, sekelompok orang bersenjata yang diduga bagian dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Aibon Kogoya melakukan aksi penembakan brutal terhadap warga sipil yang sedang melintas di jalur tersebut. Aksi kekerasan ini menyebabkan satu warga meninggal dunia dan empat lainnya luka-luka. Kendaraan jenis Hilux yang mereka tumpangi ditemukan dalam kondisi rusak parah, penuh lubang peluru di bagian bodi dan kaca depan. Menurut keterangan sejumlah saksi, korban tengah dalam perjalanan dari Nabire menuju area Wadio saat tiba-tiba terdengar rentetan tembakan dari arah hutan di pinggir jalan. Panik, sopir berusaha menambah kecepatan, namun beberapa peluru sempat menghantam kendaraan dan mengenai penumpang di dalamnya. “Suara tembakannya bertubi-tubi. Kami langsung tiarap di bawah kursi mobil,” ungkap salah satu korban yang berhasil selamat, masih dalam perawatan di RSUD Nabire. Tak lama setelah kejadian, aparat gabungan TNI–Polri yang tergabung dalam Satgas Operasi Damai Cartenz tiba di lokasi untuk mengamankan area serta mengevakuasi korban ke rumah sakit sekitar pukul 11.05 WIT. Berdasarkan data resmi yang diterima dari pihak kepolisian, berikut daftar korban dalam insiden tersebut: Masturiyadi (50 tahun) – mengalami luka tembak di bagian belakang kepala kanan, meninggal dunia di tempat (MD). Yance Makai (38 tahun) – warga Kalibobo Putaran 2, mengalami enam luka robek di lengan kiri, bawah ketiak, dan perut kiri. Aser Kegou (45 tahun) – warga SP2 Nabire Barat, mengalami luka tembak di lengan kiri. Martinus Makai (42 tahun) – seorang ASN, mengalami luka lecet di wajah akibat serpihan kaca. Ari – warga Kelurahan Wonorejo, mengalami luka tembak di kedua lengan. Seluruh korban kini tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Nabire, sementara jenazah Masturiyadi telah disemayamkan di rumah duka untuk proses pemakaman keluarga. Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, S.Sos., S.I.K., M.H., menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas peristiwa tersebut. Ia menegaskan bahwa aparat keamanan akan menindak tegas kelompok bersenjata yang bertanggung jawab atas aksi keji ini. “Kami mengecam keras penembakan terhadap warga sipil. Aparat gabungan telah bertindak cepat mengevakuasi korban, dan kini kami fokus mengejar kelompok pelaku di wilayah perbukitan sekitar Nabire Barat,” tegas Brigjen Faizal dalam keterangannya. Sementara itu, Wakil Kepala Operasi, Kombes Pol. Adarma Sinaga, S.I.K., M.Hum., memastikan bahwa pengamanan di wilayah rawan telah diperketat. “Kami meningkatkan patroli dan pengawasan di jalur-jalur strategis yang sering dilalui masyarakat. Keamanan warga adalah prioritas utama,” ujarnya. Hingga Jumat malam, situasi di lokasi kejadian dilaporkan berangsur kondusif. Aparat masih melakukan penyisiran dan pengejaran di sekitar lokasi yang diduga menjadi jalur pelarian kelompok bersenjata. Selain itu, tim investigasi dari Operasi Damai Cartenz juga telah diterjunkan untuk mengumpulkan keterangan saksi dan barang bukti. Kapolres Nabire menyebut, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu yang belum pasti. Warga juga diimbau membatasi aktivitas di jalur-jalur sepi hingga situasi benar-benar aman.(GF)   18 Okt 2025, 00:10 WIT
Operasi TNI Berhasil Lumpuhkan Kelompok Bersenjata di Intan Jaya Papuanewsonline.com, Intan Jaya — Suasana di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, kini mulai berangsur kondusif setelah Komando Operasi Habema Kogabwilhan III berhasil menindak kelompok bersenjata yang diduga terlibat dalam sejumlah gangguan keamanan di wilayah tersebut. Operasi yang digelar pada Kamis (16/10/2025) ini berlangsung di Kampung Soanggama, Distrik Homeyo, dan dipimpin langsung oleh Panglima Komando Operasi Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto. “Operasi ini dilakukan untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Papua Tengah,” ujar Mayjen TNI Lucky Avianto dalam keterangannya kepada awak media. Pasukan TNI yang tergabung dalam operasi tersebut berhasil menguasai markas kelompok bersenjata di perbukitan Soanggama. Dari hasil penyisiran di lokasi, ditemukan sejumlah barang bukti yang memperkuat indikasi aktivitas kelompok itu, di antaranya perlengkapan lapangan, alat komunikasi, dokumen penting, dan beberapa barang lain yang digunakan untuk kegiatan logistik. Operasi berlangsung dengan pendekatan terukur dan hati-hati guna menghindari jatuhnya korban dari masyarakat sipil. Setelah situasi aman terkendali, aparat langsung berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat kampung setempat untuk memastikan keamanan warga tetap terjaga. Keberhasilan operasi ini mendapat sambutan positif dari masyarakat sekitar. Warga Kampung Soanggama menyatakan rasa lega dan syukur atas kehadiran TNI yang berhasil memulihkan keamanan di wilayah mereka setelah sempat dilanda ketegangan akibat aktivitas kelompok bersenjata. Beberapa kepala desa di Distrik Homeyo bahkan telah menyerahkan sebagian lahan kepada TNI untuk dijadikan pos pengamanan tetap, agar stabilitas keamanan dapat terus dijaga dan aktivitas masyarakat kembali berjalan normal. “Sekarang kami bisa beraktivitas dengan lebih tenang. Anak-anak sudah mulai bersekolah lagi, dan warga bisa berkebun tanpa rasa takut,” ujar salah seorang tokoh masyarakat setempat. Panglima Komando Operasi Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen TNI dalam menciptakan Papua yang aman, damai, dan sejahtera. Ia juga menegaskan bahwa setiap operasi di wilayah Papua dilaksanakan dengan pendekatan humanis dan profesional, mengutamakan keselamatan warga sipil di atas segalanya. “Kami berkomitmen menciptakan Papua yang aman, damai, dan sejahtera. Operasi ini bukan hanya soal menindak kelompok bersenjata, tetapi juga memastikan masyarakat bisa hidup dalam rasa aman dan bebas dari ancaman,” tegasnya. Operasi Habema sendiri merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Kogabwilhan III untuk menegakkan stabilitas di wilayah Papua Tengah, terutama di daerah yang masih rawan gangguan bersenjata. Penulis: Hendrik Editor: GF   17 Okt 2025, 03:37 WIT
Satreskrim Polresta Ambon Tetapkan 3 Tersangka Dalam Kasus Tindak Pidana Kekerasan Papuanewsonline.com, Ambon – Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease menetapkan tiga remaja sebagai tersangka kasus tindak pidana kekerasan bersama atau pengeroyokan terhadap dua warga di kawasan Kudamati, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.Kasus pengeroyokan tersebut terjadi pada Senin malam, 13 Oktober 2025 sekitar pukul 20.30 WIT, di Lorong Sekkot, Farmasi Atas, Kelurahan Kudamati.Ketiga tersangka berinisial Harlly Fredek Matulessy (19), GP (17), dan GM (16), merupakan warga Kudamati yang berdomisili di kawasan Lorong Sekkot dan Farmasi Atas. Adapun dua korban dalam peristiwa ini adalah Gilbert Salakori (33) dan WAH, yang juga tinggal satu kompleks dengan para pelaku.“Setelah melalui proses penyelidikan dan penyidikan, kami resmi menetapkan tiga orang sebagai tersangka, yaitu HFM, GM, dan GP,” ujar Kasat Reskrim Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, Komisaris Polisi Androyuan Elim, Rabu (15/10/2025).Kasat Reskrim menjelaskan, dari tiga tersangka tersebut, hanya Harlly Fredek Matulessy (HFM) yang dilakukan penahanan. Sementara dua pelaku lainnya, GM dan GP, tidak ditahan karena masih berstatus anak di bawah umur.“Untuk tersangka HFM dikenakan Pasal 170 ayat (1) dan/atau Pasal 351 ayat (1) KUHP dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun enam bulan penjara. Sedangkan dua pelaku di bawah umur kami proses sesuai dengan Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA),” jelas Androyuan.Ia menambahkan, karena ancaman pidana terhadap kedua anak tersebut di bawah tujuh tahun, penyidik akan mengupayakan proses diversi, yakni penyelesaian perkara di luar jalur peradilan pidana.“Dalam waktu dekat kami akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memfasilitasi proses diversi terhadap anak GM dan GP,” imbuhnya.KRONOLOGI KEJADIANBerdasarkan hasil penyidikan, peristiwa bermula pada Senin (13/10/2025) sekitar pukul 19.00 WIT. Setelah mengikuti ibadah keluarga di kawasan Farmasi Atas, ketiga tersangka HFM, GM, dan GP bersama beberapa teman lainnya mengonsumsi minuman keras jenis sopi sebanyak tiga botol.Dalam kondisi mabuk, mereka berjalan menuju Lorong Sekkot. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan korban Gilbert Salakori (GS). Terjadi kesalahpahaman yang memicu percekcokan dan berujung pengeroyokan terhadap korban.Korban WAH yang mencoba melerai justru ikut menjadi sasaran amukan para pelaku. Akibat kejadian itu, korban GS mengalami bengkak dan memar di wajah bagian bawah mata kanan, sementara korban WAH menderita luka sobek di wajah, bengkak di hidung dan kepala, serta luka di dada kiri.Tak terima atas tindakan kekerasan itu, korban kemudian melapor ke Polresta Ambon. Polisi segera melakukan visum di Rumah Sakit Bhayangkara Ambon dan mengamankan para pelaku.“Setelah penyelidikan dan penyidikan mendalam, kami tetapkan ketiganya sebagai tersangka. HFM kami tahan, sedangkan dua anak lainnya tetap diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Kompol Androyuan Elim, alumnus Akpol 2012 yang sebelumnya menjabat Kasat Reskrim Polres Bangli, Polda Bali.POLRESTA AMBON TEGASKAN PENEGAKAN HUKUM TANPA PANDANG BULUPolresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease menegaskan komitmennya untuk menindak tegas setiap bentuk kekerasan di wilayah hukum Kota Ambon, tanpa pandang bulu.Kepolisian juga mengimbau masyarakat, khususnya para remaja, untuk tidak mudah terprovokasi dan menghindari konsumsi minuman keras yang kerap menjadi pemicu tindakan kriminal.“Kami minta peran aktif orang tua dan masyarakat dalam mengawasi anak-anak muda agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang salah. Setiap tindakan melanggar hukum pasti kami tindak sesuai prosedur,” pungkas Kompol Androyuan. PNO-12 16 Okt 2025, 15:01 WIT
Guru Tewas Dianiaya, Sekolah Dibakar: MPR for Papua Desak Aparat Usut Tuntas Kekerasan di Yahukimo Papuanewsonline.com, Yahukimo – Suasana duka menyelimuti Distrik Holuwon, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Seorang guru bernama Melani Wamea ditemukan tewas mengenaskan setelah diduga dianiaya oleh Orang Tak Dikenal (OTK) di lingkungan Sekolah Jhon D. Wilson pada Jumat (10/10/2025). Peristiwa tragis itu tidak hanya merenggut nyawa seorang pendidik, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat setempat, terlebih setelah gedung sekolah ikut dibakar pascakejadian. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk Papua (MPR for Papua), Yorrys Raweyai, mengecam keras tindakan brutal tersebut dan menegaskan bahwa kekerasan terhadap tenaga pendidik merupakan bentuk kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa ditoleransi. “Siapa pun pelakunya, kekerasan terhadap guru tidak bisa diterima atas alasan apa pun. Guru adalah pilar utama masa depan bangsa, bukan pihak yang harus menjadi korban kebrutalan,” tegas Yorrys dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu (15/10/2025). Menurut Yorrys, kasus yang menimpa Melani Wamea bukanlah insiden tunggal. Ia menyoroti bahwa kekerasan terhadap tenaga pendidik di Tanah Papua telah terjadi berulang kali dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah guru sebelumnya menjadi korban serangan, baik mengalami luka berat maupun kehilangan nyawa. Selain itu, fasilitas pendidikan juga kerap menjadi sasaran amukan kelompok bersenjata. Salah satunya pembakaran SMP Kiwirok oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pada Senin (13/10/2025), yang mengakibatkan proses belajar-mengajar lumpuh total di wilayah tersebut. “Fenomena ini sudah terlalu sering terjadi. Kita tidak boleh membiarkannya menjadi hal yang dianggap biasa. Negara harus hadir melindungi mereka yang mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan generasi Papua,” ujar Yorrys dengan nada tegas. MPR for Papua mendesak aparat keamanan untuk segera mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya. Yorrys meminta agar setiap langkah penyelidikan dilakukan secara profesional, transparan, dan berkeadilan. “Kami meminta tindakan tegas dan investigasi menyeluruh agar para pelaku kekerasan segera diproses sesuai hukum yang berlaku. Jangan sampai rasa takut membungkam semangat para guru yang masih bertugas di daerah rawan,” katanya. Lebih jauh, Yorrys menilai perlindungan terhadap tenaga pendidik harus menjadi prioritas utama pemerintah pusat dan daerah, termasuk dengan memperkuat sistem keamanan di sekolah-sekolah terpencil serta memastikan dukungan psikologis bagi guru dan siswa yang terdampak. Sementara itu, Sekretaris MPR for Papua, Filep Wamafma, menilai kekerasan yang menimpa Melani Wamea dan pembakaran sekolah di Yahukimo bukan sekadar masalah kriminal, melainkan isu kemanusiaan yang mengancam masa depan pendidikan di Papua. “Kekerasan terhadap guru dan hancurnya sekolah adalah tragedi kemanusiaan. Ini bukan hanya soal hukum, tapi juga menyangkut masa depan anak-anak Papua. Negara harus hadir memberikan jaminan rasa aman,” ujar Filep. Filep juga menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat, baik tokoh adat, agama, maupun organisasi kemasyarakatan, untuk turut berperan aktif menciptakan lingkungan yang damai dan mendukung keberlangsungan pendidikan. Kematian Melani Wamea menjadi pengingat keras bahwa perjuangan guru di Papua bukan hanya melawan keterbatasan fasilitas, tetapi juga mempertaruhkan nyawa demi mencerdaskan generasi muda. MPR for Papua menegaskan komitmennya untuk terus mengawal proses hukum hingga tuntas, serta memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa depan. “Guru adalah cahaya peradaban. Jika mereka terus menjadi korban, maka gelaplah masa depan anak-anak Papua,” pungkas Yorrys.     Penulis: Hendrik Editor: GF 15 Okt 2025, 20:38 WIT
Polres Malra Tetapkan Tersangka Atas Kasus Penganiayaan Berat di Ohoi Evu Papuanewsonline.com, Malra – Kepolisian Resor Maluku Tenggara menetapkan Y.S. alias Onas sebagai tersangka tindak pidana penganiayaan berat yang menyebabkan kematian, usai memukul saudaranya sendiri, Joseph Sirken, hingga tewas. Peristiwa tragis ini terjadi di Ohoi Evu, Kecamatan Hoat Sorbai, pada Minggu dini hari, 28 September 2025.Press release resmi disampaikan oleh Kapolres Maluku Tenggara AKBP Rian Suhendi, S.Pt., S.I.K., didampingi Kasat Reskrim Iptu Barry Talabessy, S.Pd., S.H., M.H., di Mapolres Maluku Tenggara pada Rabu (15/10) pukul 14.00 WIT.Berdasarkan hasil penyelidikan, kejadian bermula ketika korban Joseph Sirken, pelaku Y.S. alias Onas, dan beberapa rekannya sedang mengonsumsi minuman keras jenis sopi di depan rumah salah satu warga bernama Sergius Ruslaw di Ohoi Evu.Dalam suasana mabuk, terjadi adu mulut antara korban dan pelaku yang ternyata adalah saudara kandung.Pertengkaran memuncak ketika korban melontarkan ucapan yang menyinggung asal-usul pelaku. Tak terima, pelaku kemudian pulang ke rumah, mengambil pipa besi, dan memukul korban berulang kali ke bagian kepala hingga korban tersungkur tak sadarkan diri di jalan desa.Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Karel Satsuitubun Langgur dan dirawat intensif selama 10 hari di ruang ICCU. Namun kondisinya terus menurun, dan sebelum sempat dirujuk ke luar daerah untuk menjalani CT Scan, korban akhirnya meninggal dunia pada 12 Oktober 2025.Setelah melakukan pemeriksaan saksi, olah TKP, dan autopsi medis, Satreskrim Polres Maluku Tenggara menetapkan Y.S. alias Onas sebagai tersangka.Ia dijerat dengan Pasal 354 ayat (2) KUHP tentang penganiayaan berat yang mengakibatkan mati, dan/atau Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan mati, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.Kapolres AKBP Rian Suhendi menegaskan bahwa kepolisian akan menindak tegas setiap bentuk kekerasan yang mengancam nyawa dan ketertiban masyarakat."Tindak kekerasan, apalagi yang berawal dari konsumsi miras, tidak bisa ditoleransi. Kami akan menegakkan hukum secara tegas dan adil," tegas Kapolres Maluku Tenggara.Dalam kesempatan itu, Kapolres juga mengimbau masyarakat untuk menjauhi kebiasaan mengonsumsi minuman keras karena terbukti menjadi salah satu penyebab utama tindak kekerasan di wilayah Maluku Tenggara.“Kami berharap seluruh masyarakat mendukung langkah kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Hindari miras dan selesaikan setiap persoalan secara damai,” ujarnya.Polres Maluku Tenggara berkomitmen untuk terus menjaga rasa aman, damai, dan tenteram di Bumi Evav, serta memperkuat kerja sama dengan tokoh masyarakat dan adat guna mencegah tindak pidana serupa di masa depan. PNO-12 15 Okt 2025, 20:07 WIT
Seorang Supir Alami Penganiayaan Hingga Tewas, Satgas Ops Damai Cartenz Selidiki Pelaku Papuanewsonline.com, Yahukimo - Seorang pria bernama Bahar bin Saleh (55) meninggal dunia setelah mengalami penganiayaan berat di halaman Gereja GIDI Siloam, Jalan Poros Logpon Kilometer 4, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, pada Selasa malam (14/10/2025) sekitar pukul 20.05 WIT.Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Pol Dr. Faizal Ramadhani, S.Sos., S.I.K., M.H., dalam keterangannya mengatakan bahwa korban, yang diketahui merupakan sopir asal Bugis/Makassar, diserang oleh orang tak dikenal (OTK) sesaat setelah tiba di halaman gereja.“Korban tiba-tiba diserang dari arah jalan masuk. Meski sempat berusaha melarikan diri ke area dalam gereja, pelaku tetap mengejar dan melakukan penikaman berulang hingga korban tersungkur,” ungkap Brigjen Pol Dr. Faizal Ramadhani.Saksi di lokasi menyebutkan, kepala suku setempat sempat mencoba menghentikan pelaku dengan berteriak, “Jangan, saya kepala suku!”, namun pelaku tetap melanjutkan serangannya.Korban kemudian dilarikan ke RSUD Dekai, namun dinyatakan meninggal dunia akibat luka tusuk parah di bagian perut, dada, dan kepala.Setelah kejadian, tim gabungan Satgas Ops Damai Cartenz dan Polres Yahukimo segera menuju lokasi untuk melakukan pengejaran, penyisiran, serta pengamanan area sekitar gereja.Menurut Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol Adarma Sinaga, S.I.K., M.Hum., hasil penyelidikan awal mengindikasikan bahwa pelaku penikaman diduga bagian dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang mengaku dirinya Kodap XVI Yahukimo, yang selama ini aktif melakukan aksinya di wilayah Jalan Poros Logpon KM 4.Diketahui, korban turut membantu persiapan peresmian Gereja GIDI Siloam yang dijadwalkan berlangsung hari ini. Namun akibat peristiwa tragis tersebut, kegiatan peresmian terpaksa ditunda.Pihak kepolisian menyebut insiden ini menjadi bukti nyata kekejaman kelompok KKB, yang terus menebar aksi kejahatan bersenjata tanpa pandang bulu, termasuk di fasilitas kesehatan, pendidikan, dan tempat ibadah. PNO-12 15 Okt 2025, 18:49 WIT
Cegah Konflik, Polsek Leksula Cepat Tanggap Akhiri Permasalahan Lahan Sekolah Desa Mepa Papuanewsonline.com, Leksula - Kepolisian Sektor (Polsek) Leksula, Polres Buru Selatan, Polda Maluku, bertindak cepat dan tegas dalam menyelesaikan persoalan pemalangan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 05 Desa Mepa, Kecamatan Leksula, yang dilakukan oleh warga pemilik lahan. Melalui langkah mediasi dan penggalangan yang persuasif, permasalahan tersebut berhasil diselesaikan secara damai dan bermartabat pada Selasa, (14 /10/ 2025).Kegiatan mediasi berlangsung di Mapolsek Leksula sekitar pukul 12.00 WIT, dipimpin langsung oleh personel Polsek, dan dihadiri oleh seluruh pihak yang terlibat, antara lain:Kanit Intelkam Polsek Leksula Aiptu Ahmad Wallly, Kanit Reskrim Polsek Leksula Aiptu Edwardus Tato, Bhabinkamtibmas Desa Mepa Bripka Rocky Lappy, Kepala UPTD Kecamatan Leksula Lexi Lesnussa, S.Pd, Kepala Desa Mepa Yolanda Matitale, Kepala Sekolah SMP Negeri 05 Mepa Margaretha Taihatu, Pemilik lahan Petrus Lesnussa dan Wolter Lesnussa, selaku pihak yang sebelumnya melakukan pemalangan.Pemalangan dilakukan oleh Petrus Lesnussa dan Wolter Lesnussa, pemilik lahan tempat berdirinya SMP Negeri 05 Mepa. Keduanya menuntut kejelasan pembayaran lahan yang digunakan sejak pembangunan awal sekolah pada tahun 2023, yang belum mendapatkan kompensasi sebagaimana dijanjikan.Kejadian ini berawal dari adanya pembangunan enam ruang kelas baru pada tahun 2025 di lahan berbeda milik Sander Lesnussa, yang telah menerima pembayaran sebesar Rp50 juta dari pihak sekolah melalui dana DAK Kementerian Pusat.Informasi tersebut memunculkan rasa keberatan dari Petrus dan Wolter yang merasa tidak dihubungi serta belum menerima hak atas penggunaan lahan sebelumnya.Sebagai bentuk protes, keduanya melakukan pemalangan terhadap tiga ruang kelas lama yang berdiri di atas tanah milik mereka.Mendapat laporan adanya tindakan pemalangan, Polsek Leksula segera turun ke lokasi, melakukan penggalangan, klarifikasi, dan mediasi terbuka dengan melibatkan seluruh pihak terkait.Melalui pendekatan restoratif justice yang mengedepankan komunikasi dan musyawarah, akhirnya dicapai kesepakatan bahwa pihak pemilik lahan lama, Petrus Lesnussa dan Wolter Lesnussa, menerima pemberian penghargaan dan ucapan terima kasih sebesar Rp10 juta, yang bersumber masing-masing dari Kepala Sekolah dan Kepala Desa Mepa senilai Rp5 juta.Kedua pihak menyatakan ikhlas menerima kesepakatan tersebut, dan berkomitmen menjaga kondusivitas wilayah.Setelah kesepakatan dicapai, pada pukul 15.30 WIT, pemilik lahan membuka kembali palang sekolah secara sukarela disaksikan oleh aparat kepolisian, perangkat desa, dan pihak sekolah.Pasca-mediasi, aktivitas pendidikan di SMP Negeri 05 Mepa kembali normal. Tidak ditemukan adanya potensi gangguan kamtibmas.Langkah cepat dan profesional Polsek Leksula dinilai berhasil mencegah konflik sosial yang lebih luas serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kehadiran Polri di tengah-tengah warga.Kapolres Buru Selatan melalui Kapolsek Leksula menegaskan bahwa Polri akan terus hadir sebagai penegak hukum sekaligus penengah yang adil dalam setiap persoalan masyarakat.“Kami bertindak cepat, tegas, dan tetap mengedepankan cara-cara persuasif. Prinsip kami, setiap persoalan dapat diselesaikan secara damai tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat dan stabilitas keamanan,” tegas Kapolsek Leksula.Beliau menambahkan bahwa penyelesaian kasus ini menjadi contoh penerapan restoratif justice yang efektif di tingkat desa."Langkah ini menunjukkan bahwa Polri tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga menjaga harmoni dan keadilan sosial di tengah masyarakat," ungkapnya.Dengan berakhirnya pemalangan secara damai, Polsek Leksula menegaskan komitmennya untuk terus menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah hukum Polres Buru Selatan, sekaligus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan masyarakat demi terciptanya situasi kamtibmas yang aman, tertib, dan kondusif. PNO-12 15 Okt 2025, 15:02 WIT
Tragedi di Pedalaman Yahukimo: Guru Yappenda Tewas Dibunuh, Polisi Intensif Lakukan Olah TKP Papuanewsonline.com, Dekai — Suasana duka menyelimuti Distrik Holuwon, Kabupaten Yahukimo, pasca pembunuhan tragis terhadap seorang tenaga guru Yayasan Pendidikan Advent (Yappenda) bernama Melani Wamea. Korban ditemukan meninggal dunia secara mengenaskan di sekitar area pemukiman tempatnya mengabdi sebagai pengajar di Sekolah Jhon D. Wilson, beberapa waktu lalu. Polres Yahukimo bergerak cepat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) guna mengungkap motif serta identitas pelaku pembunuhan tersebut. Proses olah TKP dipimpin langsung oleh Ipda Hariyadi, KBO Sat Intelkam Polres Yahukimo, bersama tim Sat Reskrim yang diterjunkan dari Dekai. Tim kepolisian harus menempuh perjalanan udara dari Bandara Nop Goliat Dekai menuju Lapangan Terbang Distrik Holuwon, mengingat akses darat ke wilayah tersebut sulit ditempuh. Setiba di lokasi, tim gabungan langsung melakukan pengamanan area dan pengumpulan barang bukti, termasuk sebuah botol air minum yang ditemukan di dekat jasad korban. Barang bukti tersebut kini telah diamankan untuk pemeriksaan laboratorium forensik. “Kami langsung melakukan identifikasi awal, pemeriksaan saksi, serta pengumpulan bukti di lokasi kejadian. Semua langkah dilakukan dengan hati-hati mengingat kondisi geografis yang sulit dan keterbatasan akses komunikasi,” ujar Ipda Hariyadi kepada wartawan, Selasa (14/10/2025). Berdasarkan keterangan salah satu saksi berinisial AK (35), pelaku diduga berjumlah satu orang dengan ciri-ciri mengenakan jaket hitam, penutup wajah, dan anting di telinga kiri. Meski demikian, hingga saat ini pihak kepolisian belum menemukan petunjuk pasti terkait motif pembunuhan. “Dari hasil penyelidikan awal, kami belum menemukan indikasi adanya keterlibatan kelompok bersenjata atau jaringan tertentu. Dugaan sementara, pelaku bertindak sendiri. Namun, penyelidikan masih terus berlanjut,” terang Ipda Hariyadi. Peristiwa ini mengguncang masyarakat Distrik Holuwon yang selama ini hidup damai. Para tokoh agama, kepala kampung, dan perwakilan masyarakat adat segera menggelar pertemuan untuk mendukung langkah kepolisian dan menenangkan warga. Mereka menegaskan pentingnya menjaga keamanan serta meminta agar pelayanan publik, termasuk penerbangan perintis dan kegiatan sekolah, tidak dihentikan akibat kejadian tersebut. “Kami berduka atas kehilangan guru kami. Ia datang untuk mengajar anak-anak kami. Kami minta agar penerbangan tetap dibuka dan masyarakat tidak takut. Polisi juga kami dukung untuk mengungkap pelaku,” ujar salah satu tokoh agama setempat. Meskipun situasi di Holuwon kini dilaporkan kondusif, aktivitas belajar mengajar di Sekolah Jhon D. Wilson dan beberapa sekolah terdekat belum kembali normal. Para guru dan siswa masih merasa takut untuk beraktivitas seperti biasa. “Anak-anak masih trauma. Mereka kehilangan guru yang mereka cintai dan panutannya,” ujar salah satu warga setempat. Pihak kepolisian memastikan akan terus melakukan penjagaan dan patroli rutin di wilayah tersebut untuk menjamin keamanan masyarakat dan tenaga pendidikan. “Kami berkomitmen mengusut kasus ini hingga tuntas. Pelaku harus segera ditangkap agar masyarakat tenang dan pendidikan bisa kembali berjalan,” tegas Ipda Hariyadi. (GF) 15 Okt 2025, 12:48 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT