logo-website
Senin, 11 Mei 2026,  WIT
BERITA TAG Kesehatan Homepage
Sampah Jadi Uang! Pemkab Mimika Resmikan Bank Sampah, Botol Plastik Dibeli Rp3 Ribu/Kilo Papuanewsonline.com, Mimika – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika resmi meluncurkan program Bank Sampah di Distrik Mimika Baru, sebagai bagian dari upaya serius menangani permasalahan sampah yang kian mengkhawatirkan. Peresmian berlangsung semarak di Lapangan Jayanti, Kelurahan Sempan, pada Jumat (3/10/25), dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, perangkat daerah, serta para pegiat lingkungan. Bupati Mimika, Johannes Rettob, dalam sambutannya menegaskan bahwa masalah sampah di Mimika telah memasuki tahap darurat. Data mencatat, setiap hari terdapat lebih dari 100 ton sampah yang dihasilkan dari tiga distrik perkotaan: Mimika Baru, Wania, dan Kuala Kencana. “Kalau 1 kilo sampah dihargai Rp1.000 saja, maka potensi perputaran uang bisa mencapai Rp100 juta per hari. Artinya, sampah ini bukan sekadar masalah, tetapi juga peluang ekonomi besar,” ujar Bupati. Melalui Bank Sampah, Pemkab Mimika ingin mengubah paradigma masyarakat bahwa sampah tidak hanya sekadar limbah yang mengotori lingkungan, melainkan juga sumber penghasilan baru. “Kita harus mulai mengangkat, mengumpulkan, dan mengolah sampah dengan cara yang benar. Dengan Bank Sampah, sampah bukan lagi beban, tetapi bisa jadi uang. Inilah yang kita launching hari ini,” tegas Bupati Johannes. Ia juga memberikan apresiasi tinggi kepada Kepala Distrik Mimika Baru, Joel Luhukay, atas inisiatif dan langkah cepat dalam mengawal program ini. Sebagai langkah awal, Bank Sampah akan membeli berbagai jenis sampah anorganik dengan harga yang bervariasi. Untuk botol plastik air mineral, harganya ditetapkan Rp3.000 per kilogram, sementara untuk tutup botol dan jenis plastik lain memiliki harga berbeda. “Saya berharap masyarakat ke depan tidak lagi membuang sampah sembarangan, tapi justru berburu sampah untuk dijual ke Bank Sampah. Mulai dari rumah, mari kita pilah sampah organik, anorganik, dan sampah kayu,” pesan Bupati dengan penuh semangat. Kepala Distrik Mimika Baru, Joel Luhukay, menjelaskan bahwa program Bank Sampah sejatinya telah dimulai sejak 1 Juli 2025 dengan merekrut 22 tenaga pemilah sampah yang ditugaskan di kelurahan-kelurahan. Mereka memiliki peran penting dalam memberikan edukasi, sosialisasi, serta menggerakkan masyarakat untuk disiplin memilah sampah sejak dari rumah tangga. “Tujuannya bukan hanya kebersihan lingkungan, tapi juga memberdayakan masyarakat agar melihat sampah sebagai aset ekonomi,” ungkap Joel. Program ini diharapkan dapat menjadi momentum perubahan besar bagi Mimika dalam mengatasi masalah persampahan. Dengan dukungan masyarakat, Pemkab Mimika optimis bahwa Bank Sampah akan mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sekaligus menciptakan peluang usaha baru, terutama bagi kelompok ekonomi kecil dan rumah tangga. Bupati menutup peresmian dengan penuh keyakinan, “Mari kita jadikan Mimika sebagai contoh daerah yang berhasil mengubah tantangan menjadi peluang. Dari sampah, lahirlah nilai ekonomi, dari kebersihan, lahirlah kesehatan, dan dari kesadaran, lahirlah masa depan yang lebih baik.”       Penulis: Jid Editor: GF 03 Okt 2025, 20:37 WIT
Bapenda Mimika Gelar Bakti Sosial Kebersihan Sambut HUT Kabupaten ke-29 Papuanewsonline.com, Mimika – Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Mimika ke-29, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Mimika menggelar aksi bakti sosial kebersihan di lingkungan kantor pada Jumat (3/10/25). Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen Bapenda dalam menciptakan ruang kerja yang sehat, nyaman, sekaligus meningkatkan semangat pelayanan publik yang lebih prima bagi masyarakat. Kegiatan tersebut dilaksanakan menindaklanjuti Surat Edaran Bupati Mimika Nomor 51 Tahun 2025 yang mengimbau seluruh perangkat daerah untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan kerja, sebagai bagian dari perayaan HUT Kabupaten Mimika. Aksi kebersihan difokuskan pada area dalam maupun luar kantor Bapenda, mulai dari ruang pelayanan, taman, halaman, hingga tempat parkir. Selain itu, kegiatan ini juga menekankan pentingnya pemilahan sampah serta pembuangan yang tertib sesuai standar kebersihan. Pegawai Bapenda turun langsung membersihkan ruangan kerja, merapikan arsip, memangkas tanaman, hingga menata kembali sarana pelayanan agar lebih representatif. Suasana gotong royong tampak hidup, mencerminkan semangat kebersamaan untuk menjadikan Bapenda sebagai institusi yang bukan hanya rapi secara administrasi, tetapi juga bersih secara lingkungan. Pihak Bapenda Mimika menegaskan bahwa lingkungan kerja yang bersih dan tertata akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas layanan publik. “Dengan lingkungan yang bersih, kami yakin pelayanan kepada masyarakat akan semakin optimal. Ini adalah wujud komitmen kami untuk memberikan yang terbaik bagi warga Mimika,” ujar perwakilan Bapenda. Lebih dari sekadar rutinitas, kebersihan kantor dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat yang datang untuk mengurus berbagai layanan, sekaligus menciptakan suasana kerja yang kondusif bagi pegawai. Melalui momentum ini, Bapenda juga mengajak seluruh masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran menjaga kebersihan sejak dari lingkungan rumah, sekolah, hingga tempat kerja masing-masing. Menurut mereka, kebersihan merupakan fondasi penting dalam membangun Mimika yang sehat, nyaman, dan berdaya saing. “Inisiatif sederhana seperti menjaga kebersihan tidak boleh dianggap remeh, karena dari hal kecil inilah kita membangun budaya disiplin dan tanggung jawab bersama,” tambahnya. Selain menjadi bagian dari rangkaian HUT Mimika ke-29, kegiatan bakti sosial kebersihan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi OPD lainnya untuk menjadikan lingkungan kerja sebagai etalase pelayanan publik yang membanggakan. Dengan semangat gotong royong, Pemkab Mimika ingin memastikan bahwa peringatan HUT bukan sekadar seremonial, melainkan momentum nyata untuk meningkatkan kualitas hidup dan pelayanan bagi seluruh warga.       Penulis: Jid Editor: GF 03 Okt 2025, 20:27 WIT
Jaga Pengelolaan SPPG, Kepala BGN: Ikuti Standar Polri Terapkan Rapid Test Papuanewsonline.com, Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memastikan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke depan akan dilengkapi dengan perangkat rapid test sebagai langkah pencegahan kasus keracunan makanan. Ia menegaskan, kebijakan ini selaras dengan instruksi Presiden, sekaligus mencontoh praktik baik yang sudah diterapkan SPPG di bawah Polri.“Kalau kita lihat, bangunan yang dikelola Polri itu memang memenuhi standar yang baik. Selain itu, sebelum makanan dibagikan, mereka melakukan rapid test terlebih dahulu,” jelas Dadan saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/10/2025).Ia menambahkan, arahan Presiden menekankan bahwa seluruh SPPG harus mengikuti pola pengelolaan seperti SPPG milik Polri, baik dari sisi fasilitas maupun prosedur keamanan pangan. “Instruksi Presiden jelas, seluruh dapur nantinya akan menerapkan sistem yang sama,” tegasnya.Sebelumnya, anggota Komisi IX DPR RI, Irma Chaniago, juga menyinggung pengelolaan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Polri. Menurutnya, dengan jumlah sekitar 600 SPPG, Polri terbukti mampu menjaga standar pelayanan sehingga tidak ada laporan kasus keracunan yang menimpa penerima manfaat.“Tidak penting siapa yang memiliki dapur, apakah politisi, Polri, atau TNI. Yang terpenting adalah tanggung jawab dalam menjalankan standar yang sudah ditetapkan,” ujar Irma saat rapat kerja bersama BGN dan Menteri Kesehatan.Irma menegaskan, SPPG Polri bisa menjadi contoh bagi pengelolaan dapur bergizi gratis lainnya karena dinilai sesuai prosedur dan bebas kasus. PNO-12 03 Okt 2025, 11:23 WIT
Gudang Mebel di Jalan Bougenville Ludes Dilalap Api, Warga Timika Panik Saat Kobaran Membesar Papuanewsonline.com, Timika — Kepanikan melanda warga Jalan Bougenville, Distrik Mimika Baru, Timika, Papua Tengah, pada Kamis (2/10/2025) dini hari. Tepat pukul 02.20 WIT, gudang mebel dua lantai milik Ahmat Abidol terbakar hebat. Api berkobar cepat, melalap lantai dua bangunan ruko, disertai kepulan asap tebal yang membumbung ke udara. Sejumlah warga yang tinggal di sekitar lokasi berhamburan keluar rumah saat mendengar suara letupan dan melihat cahaya api yang membesar. Beberapa di antaranya mencoba membantu memindahkan barang-barang, namun kobaran yang kian membesar membuat upaya itu sulit dilakukan. Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mimika, Agustina Rahaded, membenarkan peristiwa kebakaran tersebut. Menurutnya, pihaknya langsung mengerahkan tujuh armada pemadam kebakaran untuk memadamkan api. “Kebakaran di Jalan Bougenville itu menimpa ruko milik Ahmat Abidol, yang difungsikan sebagai gudang mebel. Api melalap lantai dua bangunan. Korban jiwa nihil, hanya kerugian materil yang masih dalam pendataan,” ungkap Agustina saat dikonfirmasi, Kamis pagi. Proses pemadaman berlangsung cukup lama karena api sempat menyebar dengan cepat dan dikhawatirkan merembet ke bangunan sekitar. Berkat kesigapan petugas damkar dan bantuan warga, api berhasil dijinakkan menjelang pagi. Hingga berita ini diturunkan, penyebab kebakaran masih belum diketahui. Aparat kepolisian bersama tim BPBD masih melakukan penyelidikan di lokasi kejadian. Dugaan sementara, api berasal dari korsleting listrik, namun hal itu belum dapat dipastikan. Agustina menambahkan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan pemilik ruko dan aparat setempat untuk mendata total kerugian yang ditimbulkan. “Jumlah kerugian belum bisa dipastikan karena proses pendataan masih berjalan,” katanya. Peristiwa ini menambah daftar panjang kebakaran ruko di wilayah Timika. Sejumlah warga berharap pemerintah daerah bisa meningkatkan kesiapsiagaan dan menambah fasilitas pencegahan kebakaran, mengingat banyak bangunan di kawasan tersebut difungsikan sebagai gudang maupun tempat usaha. “Api kalau sudah besar begini sangat berbahaya. Kami harap ada sistem peringatan dini atau alat pemadam ringan yang bisa tersedia di setiap ruko,” ujar salah satu warga setempat. Meski tidak ada korban jiwa, insiden ini tetap menyisakan duka mendalam bagi pemilik ruko karena seluruh isi gudang mebel dilaporkan ludes terbakar.     Penulis: JidEditor: GF 02 Okt 2025, 12:41 WIT
Karantina Papua Tengah Perketat Pengawasan Penyakit Ikan di Mimika Papuanewsonline.com, Mimika – Upaya menjaga keberlanjutan sektor perikanan di Papua Tengah semakin diperkuat dengan langkah intensif yang dilakukan Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Tengah. Sepanjang tahun 2025, instansi ini terus menggencarkan pemantauan daerah sebar Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK) dan pemetaan Jenis Asing Invasif (JAI), dengan Kabupaten Mimika menjadi salah satu titik fokus utama. Target pemantauan meliputi sejumlah penyakit ikan berbahaya yang berpotensi merugikan ekonomi perikanan, antara lain Edwardsiella ictaluri, Edwardsiella tarda, White Spot Syndrome Virus (WSSV), hingga Koi Herpes Virus (KHV). Penyakit-penyakit ini dikenal mampu menyebabkan kematian massal pada ikan budidaya maupun tangkapan, sehingga menimbulkan kerugian besar bagi pelaku usaha perikanan dan nelayan lokal. Kegiatan ini dilaksanakan sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, khususnya Pasal 27 ayat 3. Pasal tersebut menegaskan perlunya surveilans untuk mengetahui potensi daerah sebaran penyakit karantina, sebagai bentuk perlindungan bagi sektor perikanan. “Langkah ini sangat krusial untuk memastikan ekosistem perikanan tetap sehat, berdaya saing, serta tidak terancam oleh penyakit menular yang dapat merugikan ekonomi masyarakat,” terang Kepala Karantina Papua Tengah, Anton Panji Mahendra, saat mendampingi tim pemeriksa di salah satu kolam budidaya ikan di Mimika, Jumat (26/9/25). Anton menjelaskan, pemantauan HPI/HPIK tidak hanya sebatas pengecekan rutin, tetapi juga berfungsi sebagai sistem kewaspadaan dini yang mampu mendeteksi dini potensi penyebaran penyakit. “Melalui pemantauan rutin, kita bisa segera memetakan wilayah yang rawan penyakit, sehingga langkah pencegahan, pengendalian, bahkan penanganan bisa dilakukan lebih cepat. Dengan begitu, keberlanjutan usaha perikanan tetap terjaga dan masyarakat terlindungi dari kerugian ekonomi,” jelasnya. Selain itu, pemetaan Jenis Asing Invasif (JAI) juga sangat penting untuk mengantisipasi masuknya spesies asing yang bisa merusak keseimbangan ekosistem perairan lokal. Kabupaten Mimika, yang sebagian besar warganya menggantungkan hidup pada sektor perikanan dan kelautan, menjadi wilayah strategis bagi kegiatan ini. Dengan adanya pemantauan teratur, masyarakat diharapkan dapat terus menjalankan usaha perikanan dengan rasa aman, tanpa khawatir akan ancaman penyakit yang bisa menyebabkan kerugian besar. Anton menegaskan, hasil pemantauan dan pemetaan nantinya akan menjadi dasar penting dalam pengambilan kebijakan yang lebih tepat sasaran. “Data ini akan sangat berguna untuk mendukung kebijakan perlindungan sumber daya perikanan di Papua Tengah, khususnya Mimika. Harapannya, sektor perikanan bisa terus berkembang dan bersaing di pasar nasional maupun internasional,” pungkasnya.     Penulis: Jid Editor: GF  29 Sep 2025, 23:49 WIT
Karantina Papua Tengah Perketat Pemeriksaan Ribuan Kepiting Hidup Senilai Rp74 Juta Papuanewsonline.com, Mimika – Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Tengah (Karantina Papua Tengah) kembali menunjukkan peran pentingnya dalam mendukung ekspor komoditas perikanan dari Papua. Sebanyak 2.580 ekor kepiting hidup dengan nilai ekonomi mencapai Rp74 juta menjalani pemeriksaan ketat sebelum diterbangkan ke Singapura melalui Pos Pelayanan Bandar Udara Mozes Kilangin Timika, Jumat (26/09/2025). Pemeriksaan ribuan kepiting ini dilakukan secara detail, mencakup kondisi fisik, kesehatan, serta kemungkinan adanya luka, parasit, maupun penyakit yang bisa mengancam kualitas produk. Tak hanya itu, petugas juga memeriksa standar kebersihan dan kelayakan wadah pengangkut, termasuk suhu dan kadar oksigen, agar kepiting dapat bertahan hidup selama perjalanan ekspor yang memakan waktu berjam-jam. “Proses ini penting untuk memastikan setiap kepiting dalam kondisi sehat, bebas penyakit, dan layak konsumsi. Hal ini menjadi jaminan kualitas bagi mitra dagang kita di luar negeri,” jelas Anton Panji Mahendra, Kepala Karantina Papua Tengah. Anton menegaskan bahwa pemeriksaan karantina bukan sekadar prosedur administratif, melainkan bagian dari upaya menjaga kepercayaan negara tujuan terhadap produk Indonesia. Menurutnya, kualitas ekspor yang baik akan berdampak langsung pada keberlanjutan perdagangan serta peningkatan ekonomi daerah. “Setiap komoditas yang diekspor harus dipastikan sehat, bebas hama penyakit, serta sesuai standar negara tujuan. Kita tidak hanya melindungi sumber daya hayati dalam negeri, tapi juga menjaga nama baik dan reputasi Indonesia di mata dunia,” tegasnya. Selain itu, Karantina Papua Tengah terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari nelayan, eksportir, hingga pemerintah daerah dan pusat, demi meningkatkan volume dan kualitas ekspor dari Papua Tengah. Komoditas seperti kepiting hidup, udang, ikan, maupun hasil tumbuhan menjadi andalan daerah dalam mendukung perekonomian lokal sekaligus devisa negara. “Papua Tengah punya potensi besar di sektor perikanan dan kelautan. Jika dijaga dengan baik, ekspor kita bisa terus meningkat, memberi manfaat bagi masyarakat lokal dan mengangkat nama Papua di pasar global,” tambah Anton. Program pemeriksaan dan pengawasan ketat ini juga membawa harapan besar bagi para nelayan Mimika. Dengan kualitas produk yang terjamin, akses ke pasar internasional semakin terbuka luas, sehingga hasil tangkapan mereka dapat bernilai lebih tinggi. Pemerintah pun berharap agar peningkatan ekspor ini berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat pesisir dan pelaku usaha lokal yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan.     Penulis: Jid Editor: GF  29 Sep 2025, 23:34 WIT
Terendam Dalam Air Beracun B3, Tiga Penambang Emas Ilegal Ditemukan Tewas Papuanewsonline.com, Buru - Tiga Penambang Emas Tanpa Ijin (PETI) di kawasan Gunung Botak, Desa Persiapan Wamsait Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, ditemukan tewas. Mereka diduga menghirup bahan berbahaya dan beracun (B3).Ketiga PETI yang ditemukan meninggal dunia di dalam lubang galian pada Rabu, 24 September 2025 diantaranya Asri, 37 tahun, Tasid Jawa, 37 tahun, dan La Onyong, 39 tahun.Kapolres Buru, AKBP. Sulastri Sukidjang, mengatakan, berdasarkan pengakuan saksi Cano, peristiwa itu berawal saat para korban hendak melakukan penggalian emas secara manual.Saat para korban masuk ke dalam lubang galian setinggi kurang lebih 8 meter, tiba-tiba bak rendaman berisi obat-obatan B3 yang berada di atas lubang jebol. Air kemudian masuk ke dalam lubang."Air yang mengandung obat-obatan B3 di dalam bak yang jebol masuk ke dalam lubang yang dikerjakan oleh para korban," katanya.Melihat kejadian, saksi dan para penambang yang berada di lokasi kemudian berusaha menolong. Korban La Onyong yang pertama dievakuasi karena masih berada di pintu lubang. Sedangkan 2 korban lainnya sudah masuk ke dalam lubang."Ketiga korban diduga keracunan air bak rendaman yang mengandung B3. Ketiga korban dapat dievakuasi dari dalam lubang namun sudah dalam keadaan tidak bernyawa (MD)," jelasnya.Sejak ditemukan meninggal dunia (MD), para korban kemudian telah dimakamkan oleh keluarga masing-masing."Kami menghimbau kepada para penambang untuk tidak lagi melakukan aktifitas pertambangan secara ilegal, karena sangat berbahaya kepada diri sendiri maupun lingkungan," pintanya. PNO-12 26 Sep 2025, 15:42 WIT
Distrik Mimika Baru Cari Solusi Sampah: Dari Bank Sampah Hingga Pemanfaatan Bekas Galian Papuanewsonline.com, Mimika — Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi Distrik Mimika Baru. Untuk itu, pemerintah distrik tidak tinggal diam. Berbagai upaya terus dilakukan, mulai dari mengoptimalkan bank sampah, menyiapkan tempat sampah besi di titik-titik strategis, hingga memanfaatkan lahan bekas galian sebagai solusi alternatif pembuangan limbah. Kepala Distrik Mimika Baru, Joel Luhukay, menuturkan bahwa saat ini sudah ada tiga titik bank sampah yang aktif beroperasi, yakni di Lapangan Jayanti, Jalan Busiri, dan tembusan Petrosea. “Sebanyak 24 petugas juga sudah bekerja hampir satu bulan. Mereka bertugas menjemput sampah dari rumah ke rumah sekaligus memilahnya,” jelas Joel. Sampah organik hasil pemilahan ditampung sementara di belakang kantor Distrik Mimika Baru, sementara limbah anorganik dimanfaatkan untuk menutup bekas galian material di kawasan SP 2. Menurut Joel, langkah ini diambil karena kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Iwaka semakin kritis. “TPA tinggal empat hektar, dan kondisinya sudah penuh. Jadi, bagaimana kita siasati? Kita butuh alternatif lain,” tegasnya. Pihaknya bahkan sudah meminta izin kepada pemilik tanah bekas galian agar lahan tersebut bisa dipakai untuk menampung sampah dalam jangka pendek. Tak hanya mengandalkan program pemerintah, Joel juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Ia menekankan pentingnya kedisiplinan warga untuk tidak membuang sampah sembarangan. “Cukup taruh sampah di depan rumah, nanti ada petugas yang jemput. Jangan buang di kali, jangan buang sembarangan, karena dampaknya kita sendiri yang rasakan,” ujarnya. Selain itu, Distrik Mimika Baru juga menyiapkan inovasi baru berupa tempat sampah dari besi yang akan dipasang di pusat perbelanjaan, sekolah, hotel, hingga rumah ibadah. Dengan begitu, masyarakat akan lebih mudah menyalurkan sampah ke tempat yang seharusnya. Saat ini, Pemkab Mimika melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga sedang merancang program pembangunan bank sampah. Joel memastikan Distrik Mimika Baru siap berkoordinasi agar program tersebut tidak berjalan tumpang tindih. “Kalau ada koordinasi yang baik, pengelolaan sampah bisa lebih maksimal. Kami di distrik siap mendukung penuh,” pungkasnya. Dengan berbagai langkah ini, Distrik Mimika Baru berharap bisa mengurangi beban TPA Iwaka sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi masyarakat Timika. Penulis: Jid Editor: GF   26 Sep 2025, 05:24 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru
lihat video 10 Feb 2023, 15:22 WIT