Papuanewsonline.com
Berita Pilihan Redaksi
Homepage
Alumni YPMAK Satukan Langkah Lewat PAPEDA: Siap Mengabdi dan Bangun Tanah Papua
Papuanewsonline.com, Timika –
Setelah menjadi penerima manfaat program pendidikan dari Yayasan Pengembangan
Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), para alumni kini memiliki wadah resmi
untuk berkontribusi bagi pembangunan Papua. Mereka membentuk Perkumpulan
Alumni Penerima Beasiswa Dana Kemitraan (PAPEDA–YPMAK) yang telah disahkan
melalui SK Kemenkumham RI Nomor 0005128.AH.01.07 Tahun 2025. Deklarasi pembentukan
PAPEDA–YPMAK berlangsung di Hotel Horison Ultima Timika, Selasa (11/11/2025),
dengan mengusung tema “Anyaman Noken Sudah Siap.” Ketua Panitia Deklarasi, Dr.
Krinus Kum, menyampaikan bahwa PAPEDA lahir dari kepedulian terhadap tantangan
pembangunan di Papua, serta minimnya komunikasi antar-intelektual penerima
beasiswa YPMAK dari tujuh suku. “PAPEDA hadir untuk memperkuat
kepekaan sosial, mempererat persaudaraan, dan merespons isu-isu strategis di
bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, hukum, dan politik,” ujar Krinus. Organisasi ini memiliki visi
besar untuk mengoptimalkan potensi alumni sebagai mitra pembangunan daerah dan
nasional, mempererat hubungan kekeluargaan antaralumni, serta menumbuhkan
kecintaan terhadap lembaga YPMAK. Dalam waktu dekat, PAPEDA–YPMAK
akan melaksanakan sejumlah program prioritas, antara lain pendataan alumni,
pengembangan kemitraan industri, peningkatan mutu alumni, temu alumni nasional,
serta program tanggung jawab sosial. Deklarasi ini turut dimeriahkan
dengan penampilan lagu berbahasa Kamoro dan Amungme, fragmen bertajuk “Merajut
Noken Asa,” serta testimoni para alumni tentang perjuangan mereka setelah
menamatkan pendidikan. Dengan berdirinya PAPEDA–YPMAK,
para alumni penerima beasiswa kini memiliki wadah resmi untuk berjejaring,
berbagi gagasan, dan mengabdikan diri bagi kemajuan masyarakat Papua. Penulis: Jidan
Editor: GF
11 Nov 2025, 20:36 WIT
Lanud YKU Timika Dukung Kemandirian Pangan: Babinsa Dampingi Petani Tanam Jagung di Nawaripi
Papuanewsonline.com, Timika –
Babinsa Potensi Dirgantara (Babinpotdirga) dari Lanud Yohanes Kapiyau (YKU)
Timika menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat dengan aktif mendukung
program ketahanan pangan. Serka Kasimirus Anitu,
Babinpotdirga Lanud YKU, terjun langsung mendampingi kelompok tani binaannya, Taparo
Izakod Bekai, di Kampung Nawaripi, Distrik Wania, Kabupaten Mimika, pada Selasa
(11/11/2025). Dalam kegiatan tersebut, Serka
Kasimirus membantu proses penanaman bibit jagung hibrida yang diperkirakan
dapat dipanen dalam waktu 115 hari. Kehadiran Babinsa di lapangan memberikan
motivasi dan meringankan beban para petani dalam mengolah lahan pertanian
mereka. Selain menanam jagung, para
petani juga mengembangkan berbagai tanaman hortikultura seperti kangkung,
tomat, labu, dan cabai sebagai bentuk diversifikasi pangan lokal. “Hasil panen nantinya tidak hanya
untuk memenuhi kebutuhan warga setempat, tetapi juga akan dipasarkan ke
beberapa pasar tradisional di Kota Timika,” ujar Serka Kasimirus, menegaskan
bahwa pendampingan kepada para petani merupakan bagian dari tugas pokok TNI
dalam membantu pemerintah mewujudkan ketahanan pangan nasional. Sementara itu, Lewi, salah satu
petani yang mendapat pendampingan, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih
atas perhatian dan dukungan Babinpotdirga Lanud YKU. Menurutnya, keterlibatan
TNI di lapangan menjadi sumber semangat baru bagi petani untuk terus
mengembangkan usaha pertanian mereka. “Kami berterima kasih karena
Babinsa selalu hadir membantu kami. Kehadiran mereka membuat kami semakin
semangat bekerja,” ungkap Lewi. Kegiatan ini menjadi wujud nyata
sinergi antara TNI dan masyarakat dalam memperkuat kemandirian pangan daerah
serta mendukung program pemerintah menuju ketahanan pangan nasional yang
berkelanjutan. Penulis: Jidan
Editor: GF
11 Nov 2025, 17:03 WIT
Pemkab Mimika Restrukturisasi OPD, Bentuk Dinas Baru dan BRIDA untuk Percepat Pembangunan
Papuanewsonline.com, Timika –
Pemerintah Kabupaten Mimika melakukan langkah strategis dalam memperkuat tata
kelola pemerintahan dengan melakukan penataan organisasi perangkat daerah (OPD).
Langkah ini ditandai dengan penambahan satu dinas baru serta pembentukan Badan
Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) sebagai bagian dari upaya mempercepat
pembangunan dan pelayanan publik. Bupati Mimika, Johannes Rettob,
menjelaskan bahwa dinas baru yang dibentuk adalah Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan, hasil pemekaran dari Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan
Olahraga (Disparbudpora). Menurutnya, selama ini
Disparbudpora lebih fokus pada sektor pemuda dan olahraga, sehingga
pengembangan sektor pariwisata dan kebudayaan belum optimal. Melalui
pembentukan dinas baru ini, pemerintah menargetkan Mimika menjadi daerah tujuan
wisata di masa depan, dengan pengelolaan yang lebih fokus dan profesional. “Disparbudpora selama ini lebih
banyak menangani kegiatan kepemudaan dan olahraga, sehingga sektor pariwisata
dan kebudayaan perlu perhatian khusus. Karena itu, kami bentuk Dinas Pariwisata
dan Kebudayaan agar pengembangannya bisa lebih maksimal,” jelas Bupati Rettob. Selain itu, pembentukan BRIDA
menjadi langkah penting dalam memperkuat riset dan inovasi di tingkat daerah.
Badan ini akan berperan dalam mendorong inovasi berbasis data dan riset,
sejalan dengan arahan pemerintah pusat agar daerah lebih adaptif terhadap
perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Tidak hanya itu, Pemkab Mimika
juga akan membentuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di beberapa OPD guna
memperkuat fungsi operasional di lapangan. Hal tersebut telah disahkan
melalui Peraturan Bupati (Perbub) dan pejabatnya akan segera ditunjuk dalam
waktu dekat. UPTD akan dibentuk di beberapa dinas, antara lain: Dinas Kesehatan (4 UPTD) Dinas Pemberdayaan Perempuan,
Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) (1
UPTD) Dinas Perhubungan (1 UPTD) Dinas Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat (PUPR) (1 UPTD) Bupati Rettob menyampaikan bahwa
masing-masing dinas telah mulai menyusun alokasi anggaran untuk operasional
UPTD yang akan dibentuk. “Ini segera kita laksanakan
prosesnya. Dinas terkait juga sudah mulai menyusun anggaran-anggaran untuk UPTD
tersebut,” ujar Bupati saat memimpin apel di Pusat Pemerintahan Daerah, Senin
(10/11/25). Restrukturisasi OPD ini
diharapkan menjadi langkah strategis dalam mempercepat pembangunan dan
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Dengan struktur organisasi yang lebih
ramping, jelas, dan berbasis fungsi, Pemkab Mimika optimistis mampu menghadirkan
pemerintahan yang lebih efisien, inovatif, dan responsif terhadap kebutuhan
masyarakat. Langkah ini juga menjadi bagian
dari komitmen Pemerintah Kabupaten Mimika dalam mewujudkan tata kelola
pemerintahan yang modern dan berdaya saing, sejalan dengan visi pembangunan
Mimika menuju daerah yang maju dan berkelanjutan. Penulis: Jidan
Editor: GF
11 Nov 2025, 17:00 WIT
Dinas Kesehatan Gelar Rakerkesda II di Timika, Bahas Arah Kebijakan dan Penguatan Layanan
Papuanewsonline.com, Timika —Suasana
hangat namun penuh semangat terasa di Hotel Grand Tembaga, Timika, pada 10–11
November 2025. Lebih dari seratus peserta dari berbagai unsur kesehatan — mulai
dari dinas kesehatan kabupaten/kota, rumah sakit, puskesmas, hingga perwakilan
Kementerian Kesehatan RI — berkumpul dalam forum penting bertajuk Rapat Kerja
Kesehatan Daerah (Rakerkesda) ke-II Provinsi Papua Tengah. Kegiatan yang diselenggarakan
oleh Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Provinsi
Papua Tengah ini mengusung tema besar: “Aksi Bersama untuk Papua Tengah
Sehat: Strategi Efektif Peningkatan Kesehatan.” Tema tersebut mencerminkan
semangat sinergi lintas sektor dalam memperkuat sistem kesehatan daerah,
mempercepat pemerataan fasilitas, serta memastikan setiap warga Papua Tengah
mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil, berkualitas, dan berkelanjutan. Kabupaten Mimika dipercaya
menjadi tuan rumah pelaksanaan Rakerkesda tahun ini. Daerah yang dikenal
memiliki infrastruktur kesehatan paling lengkap di wilayah Papua Tengah ini
dinilai mampu memberikan contoh nyata dalam penerapan transformasi digital dan
pelayanan kesehatan terpadu. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten
Mimika, Reynold Rizal Ubra, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan
apresiasi atas kepercayaan tersebut. “Kami bangga Mimika bisa menjadi
tuan rumah Rakerkesda ke-II ini. Forum ini menjadi momentum penting bagi kita
untuk berbagi praktik baik, memperkuat jejaring, dan mempercepat transformasi
pelayanan kesehatan yang merata dan berkualitas,” ujar Reynold. Reynold menambahkan, Mimika terus
mendorong digitalisasi sistem kesehatan agar layanan publik semakin cepat dan
akurat. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara tenaga medis,
pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menciptakan budaya hidup sehat. Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris
Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, drg. Yohanes Tebai, menegaskan bahwa
Rakerkesda II ini menjadi ajang evaluasi sekaligus perumusan langkah strategis
menghadapi tantangan nyata di lapangan — mulai dari keterbatasan tenaga
kesehatan, fasilitas medis, hingga sarana prasarana yang belum merata. “Melalui Rakerkesda ini, kita
ingin menyamakan persepsi dan langkah bersama dalam menerjemahkan visi-misi
Gubernur Papua Tengah. Tujuan akhirnya adalah percepatan peningkatan layanan
kesehatan masyarakat, dari kota hingga pelosok,” jelas Yohanes. Ia juga menyoroti perlunya
memperkuat kemitraan antara pemerintah, lembaga pendidikan kesehatan, dan pihak
swasta, guna memastikan ketersediaan tenaga medis di daerah terpencil tetap
terjaga. “Papua Tengah butuh SDM kesehatan
yang bukan hanya terampil, tapi juga punya hati melayani. Itu yang menjadi
fokus kami ke depan,” tambahnya. Rakerkesda II tidak sekadar
menjadi ajang pertemuan formal, tetapi forum strategis bagi para pemangku
kepentingan untuk mendiskusikan capaian dan kendala program kesehatan di
delapan kabupaten Papua Tengah, yakni Mimika, Nabire, Paniai, Deiyai, Dogiyai,
Intan Jaya, Puncak, dan Puncak Jaya. “Keberhasilan pembangunan
kesehatan di Papua Tengah tidak bisa dicapai sendiri. Harus ada sinergi dari
semua pihak agar masyarakat benar-benar merasakan dampaknya,” ujarnya. Rakerkesda II di Timika
menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang akan menjadi dasar penyusunan rencana
aksi daerah bidang kesehatan tahun 2026–2030. Langkah ini diharapkan memperkuat sistem kesehatan daerah yang lebih inklusif,
berkeadilan, dan berbasis data. Penulis: Jidan Editor: GF
11 Nov 2025, 16:51 WIT
Massa Geruduk DPRK Mimika, Tuntut Penutupan Freeport dan Hentikan Kekerasan di Papua
Papuanewsonline.com, Timika — Ratusan
massa dari Forum Independen Mahasiswa West Papua Komite Pimpinan Kota
(FIMWP-KPK) Timika turun ke jalan pada Senin (10/11/2025) pagi, memenuhi
halaman depan Kantor DPRK Mimika. Dengan pduk, poster, dan bendera
bertuliskan pesan-pesan perdamaian, mereka menyerukan tuntutan tegas kepada
pemerintah pusat dan daerah: hentikan kekerasan di Papua dan tutup PT Freeport
Indonesia (PTFI). Aksi tersebut berlangsung dalam
suasana panas namun tetap terkendali. Massa bergerak dengan tertib sambil
meneriakkan yel-yel perjuangan, menyuarakan ketidakadilan yang mereka rasakan
sebagai masyarakat adat di atas tanah sendiri. “Hari ini kami tidak datang untuk
membuat kekacauan. Kami datang untuk menyuarakan suara rakyat yang selama ini
dibungkam. Kami datang karena kami mencintai tanah ini,” teriak Freedom Kobogau,
Koordinator Lapangan FIMWP-KPK, dalam orasinya di depan gerbang kantor DPRK
Mimika. Dalam pernyataannya, Freedom
Kobogau menegaskan bahwa eskalasi kekerasan di berbagai wilayah konflik Papua
seperti Intan Jaya, Puncak, Puncak Jaya, Maybrat, Pegunungan Bintang, dan
Yahukimo terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Menurutnya, masyarakat sipil — terutama perempuan dan anak-anak — menjadi
korban utama dari operasi militer yang dilakukan di wilayah-wilayah tersebut. “Kami menuntut pemerintah
Indonesia untuk segera menarik aparat keamanan dari wilayah konflik dan
menghentikan kekerasan terhadap warga sipil. Papua bukan medan perang, Papua
adalah tanah kehidupan,” ujar Freedom lantang disambut tepuk tangan massa. Selain menyoroti kekerasan, massa
juga menuntut penutupan operasional PT Freeport Indonesia (PTFI). Mereka
menilai keberadaan perusahaan tambang emas raksasa itu selama puluhan tahun
hanya memperkaya segelintir pihak, sementara masyarakat adat Amungme dan Kamoro
yang menjadi pemilik tanah ulayat justru hidup dalam keterpinggiran sosial dan
ekonomi. “Sumber daya alam kami dikuras
tanpa batas, tapi rakyat pemilik tanah justru hidup di pinggiran kota. Kami
yang bersuara hari ini adalah mereka yang tersisa untuk mempertahankan tanah
adat kami,” ujar Freedom lagi dengan nada tegas. Setelah menyampaikan orasi dan
menyerahkan surat pernyataan sikap, perwakilan massa diterima langsung oleh Ketua
DPRK Mimika, Primus Natikapereyau, bersama sejumlah anggota dewan. Dalam pertemuan itu, pihak DPRK
menyatakan kesiapan untuk menindaklanjuti aspirasi masyarakat dengan
meneruskannya ke pemerintah provinsi dan pusat. “Kami menerima aspirasi ini dan
akan meneruskannya kepada pihak-pihak berwenang. Kami juga bagian dari
masyarakat Mimika, dan kami memahami keresahan ini. Diharapkan semua pihak bisa
mencari solusi terbaik tanpa kekerasan,” ujar Primus dalam keterangannya kepada
media. Primus juga menekankan bahwa DPRK
Mimika mendukung upaya-upaya dialog dan penyelesaian damai atas setiap konflik
di Tanah Papua. Ia mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk tetap menjaga
keamanan dan tidak terprovokasi oleh pihak manapun. Pesan ini menggema di tengah
panas terik siang Timika — menandakan bahwa perjuangan keadilan di Tanah Papua
masih jauh dari usai. Penulis: Jidan
Editor: GF
11 Nov 2025, 16:47 WIT
Malaria di Mimika Menurun: Dinas Kesehatan Terus Tingkatkan Pelayanan Berkualitas
Papuanewsonline.com, Timika — Upaya
Pemerintah Kabupaten Mimika dalam memperkuat pelayanan kesehatan publik mulai
menunjukkan hasil menggembirakan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes)
Mimika, angka penderita malaria di wilayah tersebut menurun dari 21 persen pada
tahun 2020 menjadi 18,2 persen pada 2025. Capaian ini menjadi indikator
penting keberhasilan pemerintah daerah dalam mengendalikan salah satu penyakit
endemik yang selama ini menjadi tantangan besar di wilayah Papua Tengah. Hal itu disampaikan Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Rizal Ubra, saat membuka Rapat Kerja
Kesehatan Daerah (Rakerkesda) ke-III Tahun 2025 di Timika, Selasa (11/11/2025). “Kami menyambut gembira
pelaksanaan Rakerkesda di Kabupaten Mimika. Forum ini menjadi sarana penting
bagi seluruh kabupaten di Papua Tengah untuk berbagi strategi dan memperkuat
sinergi antar daerah dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan,” ujar Reynold
di hadapan peserta yang terdiri dari perwakilan Dinas Kesehatan kabupaten/kota,
rumah sakit, puskesmas, dan mitra pembangunan. Dalam paparannya, Reynold
menjelaskan bahwa Mimika memiliki posisi strategis dalam sistem pelayanan
kesehatan di Papua Tengah. Dengan wilayah administratif yang luas dan populasi
mencapai lebih dari 329 ribu jiwa, Mimika menjadi daerah rujukan utama bagi
layanan kesehatan di kawasan sekitarnya. Saat ini, Kabupaten Mimika
memiliki 26 puskesmas yang tersebar di 18 distrik serta tujuh rumah sakit,
termasuk RSUD Mimika yang telah ditetapkan sebagai Rumah Sakit Rujukan Regional
sejak 2019. Selain itu, jumlah tenaga
kesehatan di Mimika mencapai lebih dari 3.000 orang yang telah teregistrasi
secara nasional. “Ketersediaan SDM kesehatan ini
menjadi kekuatan utama kami untuk memastikan setiap warga Mimika, dari pesisir
hingga pegunungan, mendapatkan layanan kesehatan yang layak,” jelas Reynold. Penurunan angka malaria, menurut
Reynold, tidak terjadi begitu saja. Dinkes Mimika selama lima tahun terakhir
gencar melakukan pendekatan komprehensif berbasis pencegahan, mulai dari
penyemprotan insektisida, pembagian kelambu berinsektisida, hingga kampanye
kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Program edukasi kesehatan juga
digencarkan melalui kolaborasi dengan sekolah, tokoh masyarakat, dan lembaga
keagamaan. “Kami tidak hanya fokus pada
pengobatan, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk mencegah. Karena
malaria tidak bisa diberantas hanya dengan obat, tetapi dengan perubahan
perilaku,” ujar Reynold menegaskan. Selain program lapangan, Dinkes
Mimika juga mulai menerapkan digitalisasi layanan kesehatan yang terintegrasi
dengan BPJS Kesehatan dan sistem rujukan nasional (SISRUTE). Dengan sistem ini, masyarakat bisa lebih mudah mengakses informasi layanan,
membuat rujukan online, hingga melakukan pemantauan hasil pemeriksaan kesehatan
tanpa harus datang langsung ke fasilitas kesehatan. Rakerkesda ke-III ini tidak hanya
menjadi forum koordinasi antar daerah, tetapi juga menjadi ajang pertukaran
gagasan inovatif untuk memperkuat sistem kesehatan di wilayah Papua Tengah. Dalam
kegiatan tersebut, berbagai isu strategis dibahas, mulai dari pengendalian
penyakit menular, peningkatan gizi masyarakat, hingga penguatan sistem
informasi kesehatan berbasis digital. Reynold berharap hasil dari
Rakerkesda ini dapat menjadi pedoman konkret bagi setiap daerah dalam menyusun
kebijakan kesehatan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Penulis: Jidan Editor: GF
11 Nov 2025, 16:37 WIT
Mimika Mantapkan Langkah Menuju Smart City Humanis Melalui Transformasi Digital
Papuanewsonline.com, Mimika — Kabupaten
Mimika terus menunjukkan keseriusannya dalam menapaki jalur transformasi
digital menuju pemerintahan modern yang transparan dan berorientasi pada
pelayanan publik. Melalui visi Smart City Humanis, pemerintah daerah berupaya
menghadirkan tata kelola yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga
berakar pada nilai kemanusiaan dan kebutuhan masyarakat di lapangan. Komitmen tersebut kembali
ditegaskan dalam Rapat Dewan Smart City ke-3 yang berlangsung di Ballroom Hotel
Horison Ultima Timika, Senin (10/11/2025). Acara tersebut dihadiri langsung
oleh Bupati Mimika, Johannes Rettob, Wakil Bupati Mimika, para pimpinan
Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta tim penyusun Masterplan Smart City
Kabupaten Mimika. Dalam sambutannya, Bupati
Johannes Rettob menegaskan bahwa Mimika merupakan kabupaten pertama di
Indonesia Timur yang bergabung dalam program nasional Smart City sejak tahun
2017. Langkah tersebut, kata Rettob, menjadi tonggak penting dalam perjalanan
Mimika menuju tata kelola pemerintahan digital yang efisien, adaptif, dan
akuntabel. “Pemanfaatan teknologi dalam
pelayanan publik bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Kita ingin memastikan
setiap inovasi digital benar-benar membantu masyarakat, bukan sekadar simbol
kemajuan,” ujarnya tegas. Bupati Rettob menambahkan,
berbagai terobosan digital yang telah dijalankan Pemkab Mimika, seperti Mal
Pelayanan Publik (MPP) dan aplikasi Mimika Center, menjadi bukti nyata komitmen
pemerintah menghadirkan layanan publik yang cepat, mudah diakses, dan
transparan. “Melalui MPP, warga bisa mengurus
berbagai dokumen cukup di satu tempat. Sementara Mimika Center menjadi ruang
bagi masyarakat untuk menyampaikan aduan, saran, bahkan solusi terhadap masalah
yang mereka hadapi,” lanjutnya. Konsep Smart City yang diusung
Mimika, menurut Bupati Rettob, bukan hanya soal kecanggihan sistem atau
banyaknya aplikasi digital. Esensinya justru terletak pada kemampuan pemerintah
mendengar, memahami, dan menindaklanjuti kebutuhan masyarakat dengan pendekatan
yang inklusif.. Sebagai bagian dari langkah
strategis memperkuat Smart City, Pemkab Mimika juga menyelenggarakan Innovation
Week 2025, ajang tahunan yang memberi ruang bagi setiap OPD untuk menampilkan
ide dan inovasi dalam tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik. Dalam kegiatan tersebut, berbagai
inovasi ditampilkan — mulai dari aplikasi berbasis data kependudukan, sistem
pemantauan infrastruktur, hingga program digitalisasi layanan pendidikan dan
kesehatan. Wakil Bupati Mimika yang turut
hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan dukungannya terhadap visi besar
Mimika sebagai daerah pelopor transformasi digital di Papua. Menurutnya, pengembangan Smart City bukan hanya untuk mempermudah pelayanan
publik, tetapi juga untuk menciptakan sistem pemerintahan yang efisien,
transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Melalui langkah-langkah strategis
tersebut, Mimika menegaskan dirinya sebagai daerah yang bukan hanya cerdas
secara digital, tetapi juga humanis secara sosial. Bupati Johannes Rettob berharap seluruh elemen masyarakat dapat berpartisipasi
aktif mendukung visi ini agar Mimika menjadi contoh nyata penerapan Smart City
yang berlandaskan nilai kemanusiaan dan kearifan lokal. Penulis: Jidan
Editor: GF
11 Nov 2025, 16:34 WIT
Mimika Menuju Era Digital: Aplikasi “Mimika Center” Hadir Sebagai Pusat Layanan Aduan Cepat
Papuanewsonline.com, Timika — Langkah
nyata menuju kota cerdas semakin ditegaskan oleh Pemerintah Kabupaten Mimika.
Setelah sukses mengintegrasikan berbagai sistem pemerintahan berbasis
elektronik, kini Mimika bersiap meluncurkan aplikasi digital terbaru bernama
“Mimika Center” — sebuah platform terpadu yang dirancang untuk menampung segala
aspirasi, aduan, kritik, dan solusi masyarakat dalam satu genggaman. Aplikasi Mimika Center
dijadwalkan resmi diluncurkan pada tahun 2026 dan akan tersedia di Play Store
untuk perangkat Android. Inovasi ini menjadi bagian dari komitmen Pemkab Mimika
dalam mewujudkan sistem pemerintahan yang terbuka, efisien, cepat tanggap, dan
berorientasi pada kebutuhan warga. Bupati Mimika, Johannes Rettob,
dalam sambutannya saat membuka Rapat Dewan Smart City III di Timika
(10/11/2025), menegaskan bahwa Mimika Center akan menjadi tulang punggung
digitalisasi layanan publik di kabupaten tersebut. “Aplikasi Mimika Center akan
menjadi rumah besar bagi semua aplikasi hasil inovasi dari setiap Organisasi
Perangkat Daerah (OPD). Dengan sistem ini, semua program akan lebih mudah
dikontrol dan terintegrasi dalam satu wadah digital,” ujar Rettob. Lebih lanjut, Rettob menjelaskan
bahwa sistem terintegrasi ini akan menghapus sekat antarinstansi, memudahkan
koordinasi, dan memastikan setiap keluhan masyarakat direspons cepat oleh OPD
terkait. “Kalau masyarakat melaporkan
jalan rusak, otomatis laporan itu akan langsung diteruskan ke Dinas PUPR untuk
ditindaklanjuti. Kita ingin pelayanan publik tidak berhenti di meja birokrasi,
tapi bergerak nyata di lapangan,” tambahnya tegas. Melalui Mimika Center, warga
Mimika dapat melaporkan berbagai permasalahan — mulai dari kerusakan
infrastruktur, pelayanan publik, kebersihan lingkungan, hingga kejadian darurat
— secara langsung dari ponsel mereka. Setiap laporan akan masuk ke
sistem berbasis data yang kemudian diteruskan secara otomatis kepada instansi
terkait, dilengkapi dengan fitur pelacakan status laporan (tracking report)
agar masyarakat dapat memantau sejauh mana tindak lanjut pemerintah. Selain itu, aplikasi ini juga
memiliki fitur “Sampaikan Solusi”, yang memungkinkan masyarakat tidak hanya
menyampaikan keluhan, tetapi juga memberikan ide atau rekomendasi perbaikan. Bupati Johannes Rettob menegaskan
bahwa Mimika Center akan menjadi aplikasi pelayanan publik digital pertama di
Tanah Papua dengan sistem respons otomatis lintas instansi. Langkah ini, kata dia, sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat akan transparansi,
kecepatan layanan, dan keterbukaan informasi publik. Aplikasi ini nantinya juga akan
terkoneksi dengan sistem informasi daerah lain, termasuk Mimika Smart Dashboard,
yang menampilkan data statistik pelayanan publik secara real time. Dengan demikian, Bupati dan jajaran Forkopimda dapat memantau langsung setiap
permasalahan warga dan memastikan tindak lanjut dilakukan dengan cepat dan
tepat sasaran. Peluncuran aplikasi Mimika Center
merupakan salah satu tonggak penting dalam peta jalan (roadmap) Mimika Smart
City 2026, yang menekankan lima pilar utama: tata kelola pemerintahan,
pelayanan publik, ekonomi digital, lingkungan berkelanjutan, dan partisipasi
masyarakat. Dalam tahap awal, Pemkab Mimika
akan menggelar sosialisasi dan pelatihan penggunaan aplikasi Mimika Center bagi
masyarakat di berbagai distrik dan kelurahan. Program ini akan dibarengi dengan kampanye digital bertajuk “Laporkan, Pantau,
dan Dapatkan Solusi!” untuk mendorong keterlibatan aktif warga.
Dengan kehadiran Mimika Center, setiap
warga memiliki peran langsung dalam memperbaiki layanan publik dan mengawal
pembangunan daerah. Penulis: Jidan Editor: GF
11 Nov 2025, 16:18 WIT
Persejasi Papua Tengah Siap Berlaga Pada Walking Football Asia Pacific World Cup 2025 di Bali
Papuanewsonline.com, Timika — Langkah
besar akan diukir dari Tanah Amungsa, Papua Tengah. Tim Persejasi Papua Tengah
resmi diumumkan sebagai wakil Indonesia dalam ajang bergengsi Walking Football
Asia Pacific World Cup 2025, yang akan digelar di Bali pada 13–16 November 2025
mendatang. Kabar ini menjadi angin segar dan
kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Papua Tengah, khususnya Kabupaten Mimika,
yang menjadi basis utama tim tersebut. Kehadiran Persejasi di level
internasional menunjukkan bahwa semangat olahraga dari timur Indonesia terus
menyala, bukan hanya untuk kompetisi, tetapi juga untuk mengangkat martabat dan
semangat kebersamaan bangsa. Dalam konferensi pers di Timika, Ketua
KORMI Papua Tengah sekaligus Bupati Mimika, Johannes Rettob, menegaskan bahwa
partisipasi Persejasi bukan hanya tentang berlaga di lapangan, tetapi juga
tentang memperkenalkan Papua Tengah ke dunia. “Kami sangat bangga dengan kerja
keras dan dedikasi seluruh tim. Keikutsertaan Persejasi adalah bukti kesiapan
kita untuk bersaing di tingkat internasional,” ujar Rettob. “Semoga kepercayaan ini dijalankan dengan penuh tanggung jawab, membawa nama Papua
Tengah dan Indonesia dengan semangat sportivitas dan kehormatan.” Rettob juga menekankan bahwa
olahraga rekreasi seperti walking football memiliki nilai sosial yang tinggi —
bukan hanya untuk kebugaran jasmani, tetapi juga untuk memperkuat solidaritas
lintas generasi dan daerah. “Walking football ini unik. Ia
mengajarkan kita bahwa semangat juang tidak berakhir ketika usia bertambah.
Justru di sinilah makna sejati dari sportivitas dan kebersamaan,” tambahnya
dengan nada optimistis. Sementara itu, Ketua Persejasi
Papua Tengah, Habel Taime, mengungkapkan bahwa timnya telah menjalani program
latihan intensif di Timika selama beberapa bulan terakhir. Latihan ini meliputi
peningkatan kebugaran, teknik dasar, serta simulasi pertandingan yang sesuai
dengan aturan internasional walking football. “Kami tidak sekadar berangkat
untuk tampil, tetapi ingin berprestasi dan memberi kebanggaan bagi Papua
Tengah. Ini adalah momentum untuk menunjukkan bahwa dari Tanah Amungsa, atlet
senior pun bisa mengharumkan nama bangsa,” ungkap Habel. Ia menambahkan, walking football
juga menjadi wadah promosi gaya hidup sehat bagi masyarakat, terutama kalangan
usia lanjut yang ingin tetap aktif berolahraga. Dengan mengusung slogan “Berjalan dengan Semangat, Bermain dengan Hati”,
Persejasi Papua Tengah ingin mengajak masyarakat untuk terus bergerak,
berolahraga, dan menjaga kesehatan. Kehadiran Persejasi Papua Tengah
di ajang Walking Football Asia Pacific World Cup 2025 bukan sekadar
representasi olahraga, tetapi juga diplomasi budaya dan identitas daerah. Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap olahraga komunitas dan
rekreasi, Papua Tengah ingin menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan
keindahan karakter orang Papua bisa bersinar di panggung global. Ajang yang diikuti berbagai
negara kawasan Asia Pasifik ini akan menjadi momentum penting untuk memperkuat
jejaring internasional dan mempromosikan potensi daerah. Selain berkompetisi,
tim juga dijadwalkan mengikuti forum persahabatan antar-negara, pameran budaya,
dan promosi pariwisata Papua Tengah di arena kegiatan. “Kami ingin membawa pesan bahwa
Papua Tengah bukan hanya kaya alam, tetapi juga kaya semangat dan talenta.
Persejasi adalah wajah baru Papua yang disiplin, sehat, dan berprestasi,” tegas
Johannes Rettob. Walking football — olahraga
turunan dari sepak bola konvensional — dikenal sebagai olahraga inklusif yang
diperuntukkan bagi usia 40 tahun ke atas. Dengan aturan unik seperti larangan
berlari dan kontak fisik berlebihan, cabang ini mengutamakan strategi,
ketenangan, dan kerja sama tim. Kehadiran Persejasi Papua Tengah
di ajang internasional membuktikan bahwa usia bukanlah batasan untuk
berprestasi. Justru, pengalaman dan ketekunan menjadi modal utama untuk
bersaing di ajang ini. “Kami harap kiprah Persejasi
dapat menginspirasi banyak orang di Indonesia untuk tetap aktif dan percaya
diri, bahwa semangat berolahraga tidak boleh padam hanya karena umur,” ujar
Habel Taime menutup sesi wawancara. Menjelang keberangkatan ke Bali,
tim Persejasi dijadwalkan melakukan pemantapan akhir yang difokuskan pada
taktik permainan dan penguatan mental bertanding. Pemerintah Kabupaten Mimika
bersama KORMI Papua Tengah akan memberikan dukungan penuh, baik secara logistik
maupun moral, agar para pemain tampil maksimal di kompetisi. Dengan komposisi pemain
berpengalaman dan semangat yang membara, Persejasi Papua Tengah bertekad pulang
membawa hasil terbaik untuk Indonesia. “Kemenangan bukan hanya soal
skor, tapi tentang membawa nama daerah dan bangsa dengan terhormat. Kami siap
berjuang,” pungkas Rettob. Penulis: Jidan Editor: GF
11 Nov 2025, 16:12 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru