Papuanewsonline.com
Kemenko Kumham Imipas mengadakan FGD dan Sinkronisasi Kebijakan Roylati Musik
Papuanewsonline.com, Jakarta –
Pemerintah terus menunjukkan keseriusannya dalam memperbaiki tata kelola
royalti musik nasional. Hal ini dibuktikan dengan digelarnya Focus Group
Discussion (FGD) Koordinasi dan Sinkronisasi Regulasi dan Kebijakan Tata Kelola
Royalti Musik Nasional yang diprakarsai oleh Kementerian Koordinator Hukum,
HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Kemenko Kumham Imipas) RI. FGD yang berlangsung pada Rabu
(17/9/25) ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pejabat
pemerintah, penggiat musik, hingga pelaku industri. Forum ini sekaligus menjadi
ruang strategis untuk menjawab persoalan klasik yang selama ini membayangi
sistem pengelolaan royalti di Indonesia: kurangnya pemahaman, kerumitan
prosedur, serta rendahnya transparansi. Kemenko Kumham Imipas sebelumnya
mengidentifikasi sejumlah persoalan krusial dalam tata kelola royalti musik. Di
antaranya, minimnya pemahaman masyarakat, pelaku usaha, bahkan aparat penegak
hukum mengenai mekanisme pengelolaan royalti. Selain itu, prosedur pemungutan
dan pendistribusian royalti dinilai masih belum jelas tersosialisasi, serta
lemahnya keterbukaan laporan keuangan yang memicu turunnya kepercayaan publik
terhadap lembaga pengelola royalti. Dalam pembukaan, Asisten Deputi
Koordinasi Pemanfaatan, Pemberdayaan, dan Pelindungan Kekayaan Intelektual,
Syarifuddin, menegaskan pentingnya forum ini sebagai wadah merumuskan solusi
bersama. “FGD ini adalah ruang diskusi
sekaligus momentum untuk menyelaraskan regulasi, memperkuat tata kelola
royalti, serta membangun sistem yang lebih transparan, adil, dan akuntabel,”
ujarnya. Senada, Deputi Bidang Koordinasi
Hukum, Nofli, menekankan bahwa royalti bukanlah beban administratif semata. “Royalti adalah imbalan ekonomi
yang adil atas kerja keras para kreator. Forum ini harus kita jadikan sebagai
titik awal transformasi tata kelola royalti di Indonesia,” tegasnya. FGD ini juga menghadirkan musisi
sekaligus pencipta lagu, Satriyo Yudi Wahono (Piyu Padi). Ia menyoroti
pentingnya kepatuhan terhadap mekanisme lisensi sebelum membicarakan distribusi
royalti. “Lisensi adalah izin dari
pencipta karya sebelum terjadi pemanfaatan secara komersial. Jika lisensi sudah
dilaksanakan dengan benar, barulah pembicaraan tentang royalti bisa berjalan
adil. Harapan kami, hak ekonomi dari pertunjukan musik benar-benar bisa
diterima para pencipta lagu secara proporsional,” jelas Piyu. FGD ini menghasilkan kesepakatan
awal mengenai tiga pilar utama tata kelola royalti ke depan yaitu, harmonisasi
regulasi agar aturan lebih sinkron dan mudah diterapkan, penguatan kelembagaan
untuk memperkuat peran dan fungsi lembaga pengelola royalty dan penyederhanaan
prosedur serta edukasi agar masyarakat dan pelaku usaha lebih memahami hak dan
kewajibannya. Kemenko Kumham Imipas menegaskan
bahwa pihaknya akan menjadi fasilitator sekaligus pengawal seluruh hasil
diskusi. Aspirasi, kritik, dan pandangan dari para pemangku kepentingan akan
dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan konkret bagi penguatan regulasi dan
tata kelola royalti musik nasional.(GF)
19 Sep 2025, 02:37 WIT
Pengurus Baru IKW Segmanmar Mimika Resmi Dilantik Bersamaan dengan Peringatan Maulid Nabi
Papuanewsonline.com, Mimika –
Ratusan masyarakat tumpah ruah memenuhi Gedung Eme Neme Yauware, Mimika, Kamis
(18/9/25), untuk menghadiri pelantikan pengurus baru Ikatan Kekerabatan Wija
(IKW) Segeri, Mandalle, Ma’rang (Segmanmar) Mimika periode 2025–2030. Momentum
sakral ini digelar bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447
Hijriah, sehingga menambah nuansa religius, kebersamaan, dan persaudaraan. Acara berlangsung meriah
sekaligus khidmat. Berbagai prosesi adat dan budaya turut mewarnai rangkaian
pelantikan, diiringi lantunan sholawat serta penampilan seni tradisi yang
menggambarkan kearifan lokal. Ketua MUI Mimika, KH Muhammad
Amin, dalam ceramahnya menekankan tiga poin penting: meneladani akhlak
Rasulullah SAW, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan kepedulian sosial.
Pesan tersebut selaras dengan semangat yang diusung oleh IKW Segmanmar dalam
periode kepengurusan barunya. Dengan tema “Maulid Nabi
sebagai Inspirasi Persatuan, Kebersamaan, dan Kepedulian Sosial serta Mampu
Merawat Budaya Wija Segmanmar”, pelantikan ini menjadi penegasan peran
organisasi sebagai wadah pemersatu warga keturunan tiga kerajaan: Segeri,
Mandalle, dan Ma’rang. Prosesi pelantikan ditandai
dengan pembacaan SK kepengurusan periode 2025–2030, ikrar bersama, serta
penyerahan Pataka IKW Segmanmar, simbol persaudaraan dan kesetiaan terhadap
nilai budaya leluhur. Ketua terpilih, Andi Mapparewe,
menyampaikan bahwa IKW Segmanmar yang telah berdiri sejak empat tahun lalu
hadir untuk menyatukan kembali semangat kekerabatan. “Organisasi ini bukan sekadar
wadah silaturahmi, tetapi juga ruang bagi warga Segmanmar di Mimika untuk
berkontribusi nyata, baik melalui kegiatan sosial maupun mendukung program
pembangunan daerah,” ujarnya. Ia menambahkan, IKW memiliki tim
relawan yang aktif membantu masyarakat dalam berbagai bidang kemanusiaan dan
sosial. Mewakili Pemerintah Kabupaten
Mimika, Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda, Everth Hindom, menyampaikan
apresiasi tinggi kepada IKW Segmanmar atas perannya dalam menjaga persatuan,
melestarikan budaya, serta mendukung pembangunan di Mimika. “Dengan kepengurusan baru periode
2025–2030, kami berharap IKW Segmanmar semakin solid, lebih maju, serta terus
bersinergi dengan pemerintah dalam memajukan bidang sosial, ekonomi, budaya,
dan pendidikan di Mimika,” tegasnya. Pelantikan ini tidak hanya
menjadi momen regenerasi kepengurusan, tetapi juga momentum penting bagi warga
Segmanmar di Mimika untuk menunjukkan eksistensinya sebagai bagian dari
masyarakat yang aktif, guyub, dan berkomitmen membangun daerah. Penulis: Abim Editor: GF
19 Sep 2025, 02:19 WIT
Hujan Tak Surutkan Semangat: Ungu & Bams Samsons Guncang Kuala Kencana di Pesta HUT RI ke-80!
Papuanewsonline.com, Timika –
Malam puncak perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia yang digelar PT Freeport
Indonesia (PTFI) di alun-alun Kuala Kencana benar-benar menjadi pesta rakyat
tak terlupakan. Ribuan masyarakat, karyawan, hingga keluarga besar Freeport
tumpah ruah menyaksikan konser akbar yang menghadirkan Band Ungu dan Bams
Samsons, Sabtu (23/8/2025). Meski hujan sempat mengguyur,
semangat penonton tidak surut sedikit pun. Mereka tetap setia berdiri,
menyanyikan bersama lagu-lagu hits yang dibawakan kedua bintang tersebut.
Begitu Ungu naik panggung dengan intro “Hampa Hatiku,” sorakan penonton menggema
memenuhi udara Kuala Kencana. Saat giliran Bams muncul membawakan lagu
legendaris “Kisah yang Tak Sempurna,” suasana semakin memanas. Puncaknya, duet
spesial keduanya dalam “Kekasih Gelapku” membuat penonton larut dalam nostalgia
sekaligus euforia. “Walaupun hujan turun, suasana
jadi makin seru. Ini konser HUT RI yang paling berkesan di Kuala Kencana!” ujar
Rina, salah seorang penonton yang rela basah kuyup demi ikut bernyanyi bersama
idolanya. Tak hanya konser, perayaan HUT RI
ke-80 di Kuala Kencana sejatinya sudah dimulai sejak pagi hari. Sejak pukul
07.00 WIT, kawasan ini dipenuhi warna-warni karnaval sepeda dan mobil hias yang
melibatkan 20 paguyuban serta lintas divisi PTFI. Selain itu, ada lomba permainan
anak, lomba masak antar manajemen, hingga bazaar makanan nusantara yang
menawarkan aneka kuliner khas dari Sabang sampai Merauke. Semuanya menambah
semarak suasana, sekaligus mempererat persaudaraan antarwarga dan karyawan. Selain Ungu dan Bams, panggung
hiburan juga diramaikan oleh Fariz Adam, DJ Hanna, Iyakoko Patea Choir, Finalis
Lomba Vokal Grup, Intan Angkasa Band, Freedom Squad, Sound Project Band,
Ensemble Musik YPJ-KK, AFROMOMS, Alpha Band, The Ganteng’s Ultimate, KAISU Band
X Deffri The Pacu, LIP Band, hingga Kaks and Diks Voice. Masing-masing tampil dengan gaya
khasnya, menyajikan warna musik berbeda yang memanjakan telinga penonton dari
sore hingga tengah malam. Ketua Umum Panitia HUT ke-80 RI
PTFI 2025, Rode Ajomi, menyampaikan rasa bangganya karena acara ini berjalan
sukses dan melibatkan banyak pihak. “Perayaan ini bukan sekadar
hiburan, tapi momentum kebersamaan. Semua warga Kuala Kencana, lintas divisi
PTFI, hingga komunitas ikut serta. Ini bukti semangat persatuan dalam merayakan
kemerdekaan,” kata Rode. Penulis: Jidan Editor: GF
24 Agu 2025, 14:57 WIT
Rayakan HUT RI : Mimika Semarak dengan Karnaval Mobil Hias
Papuanewsonline.com, Mimika – Jalan-jalan
utama Kota Timika berubah menjadi lautan warna dan semangat kebangsaan saat Pemerintah
Kabupaten (Pemkab) Mimika menggelar karnaval mobil hias dalam rangka
memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-80. Sebanyak 46
peserta dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), instansi, hingga
paguyuban masyarakat ikut ambil bagian, menampilkan parade kendaraan dengan
dekorasi unik yang memadukan unsur budaya, pembangunan, dan nilai nasionalisme. Karnaval ini bukan sekadar parade
kendaraan berhiaskan bendera dan ornamen, tetapi juga menjadi simbol
kebersamaan dan identitas lokal. Masyarakat berbondong-bondong memenuhi pinggir
jalan, menyaksikan kreativitas peserta yang berhasil mengubah mobil menjadi
karya seni berjalan. Bupati Mimika, Johannes Rettob,
dalam sambutannya menegaskan bahwa karnaval mobil hias merupakan perwujudan
filosofi “Mimika Rumah Kita”, sebuah metafora tentang persatuan dalam
keberagaman. “Karnaval ini bukan hanya ajang
kreativitas, tetapi juga ruang untuk memperkuat silaturahmi dan rasa memiliki
terhadap tanah Papua. Saya bangga melihat semangat dan antusiasme seluruh
peserta. Ini bukti bahwa kita semua memiliki cinta dan kepedulian terhadap
Mimika,” ujar Rettob disambut tepuk tangan meriah masyarakat. Ia juga menekankan bahwa dekorasi
mobil yang sarat makna dan inovasi menunjukkan betapa besarnya potensi Mimika.
“Semoga karnaval ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus berkarya dan
membangun Mimika yang lebih baik,” tambahnya. Ketua Panitia HUT ke-80 RI
Mimika, Ananias Faot, menjelaskan bahwa karnaval mobil hias menempuh rute
panjang yang dimulai dari Kantor Pusat Pemerintahan, melewati Bundaran SP2,
Jalan Charitas, Perempatan Jalan Hasanuddin menuju Timika Mall, lalu ke Jalan
Yos Sudarso, Jalan Belibis, dan berakhir di Bundaran Eme Neme Yauware. Sepanjang rute, masyarakat tumpah
ruah di jalanan, bersorak dan berfoto bersama mobil-mobil hias yang tampil
dengan berbagai tema, mulai dari simbol perjuangan kemerdekaan, nuansa adat
Papua, hingga program pembangunan daerah. Sebagai bentuk penghargaan,
panitia akan memberikan sertifikat kepada seluruh peserta karnaval. Sementara
itu, pengumuman pemenang lomba mobil hias akan digelar pada awal September
mendatang, berbarengan dengan karnaval tingkat pelajar dan lomba kebersihan
tingkat kelurahan. Kemeriahan karnaval mobil hias
ini menegaskan bahwa peringatan HUT ke-80 RI di Mimika tidak hanya dirayakan
dengan upacara, tetapi juga dengan perpaduan kreativitas, budaya, dan semangat
gotong royong masyarakat. Penulis : Abim Editor : GF
21 Agu 2025, 00:56 WIT
Polri Hadir di Parade Kendaraan Hias HUT RI ke-80
Papuanewsonline.com, Jakarta –
Semarak perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia semakin
terasa di Ibu Kota. Tak hanya melalui upacara kenegaraan dan pesta rakyat,
Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) juga akan turut serta meramaikan
parade kendaraan hias bertema “Polri untuk Masyarakat”, yang digelar Minggu
malam, 17 Agustus 2025. Parade tersebut akan dimulai dari
kawasan Monumen Nasional (Monas) pada pukul 19.00 WIB, melintasi jalan-jalan
protokol ibu kota seperti Jalan MH Thamrin dan Sudirman, hingga berakhir di
kawasan Semanggi. Ribuan masyarakat diperkirakan akan tumpah ruah menyaksikan
atraksi budaya dan kendaraan hias yang penuh warna dalam perayaan akbar
kemerdekaan ini. Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen
Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, menjelaskan bahwa partisipasi Polri dalam parade
bukan sekadar keikutsertaan seremonial, melainkan bentuk nyata komitmen
institusi untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan sekaligus menjalin kedekatan
dengan masyarakat. “Tema yang kami usung adalah Polri
untuk Masyarakat. Ini merupakan simbol semangat transformasi Polri menuju
institusi yang modern, adaptif, serta mengedepankan pendekatan humanis. Melalui
parade ini, kami ingin menunjukkan bahwa Polri bukan hanya hadir dalam fungsi
penegakan hukum, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pembangunan bangsa,”
ujar Brigjen Trunoyudo. Menurutnya, parade kendaraan hias
menjadi medium kreatif Polri untuk menyampaikan pesan tentang keterlibatan
aktif dalam berbagai bidang pembangunan nasional, mulai dari ketahanan pangan,
pendidikan, pemberdayaan masyarakat, hingga perlindungan sosial. Sebagai bentuk sinergi dengan
program Asta Cita Presiden RI, Polri juga akan menampilkan elemen visual dalam
kendaraan hiasnya yang menggambarkan dukungan terhadap agenda prioritas
nasional. Ornamen dan simbol yang digunakan mencerminkan peran kepolisian dalam
memperkuat ketahanan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. “Ini adalah bagian dari upaya
kami mendukung visi Indonesia Emas 2045. Polri ingin selalu menjadi garda
terdepan dalam menjaga keamanan sekaligus memastikan transformasi bangsa
berjalan secara inklusif dan berkelanjutan,” tambah Trunoyudo. Dalam parade ini, kendaraan hias
Polri akan tampil dengan desain sarat makna, memadukan simbol kebangsaan dengan
kekayaan budaya Nusantara. Tidak hanya menampilkan kendaraan hias, Polri juga
menghadirkan pasukan tematik yang mewakili keberagaman budaya bangsa, seperti, Pasukan
Ketahanan Pangan dengan visualisasi kemandirian pangan nasional, Pasukan Majapahit
yang menggambarkan kejayaan sejarah Nusantara, Pasukan Kabasaran Minahasa dari
Sulawesi Utara, simbol keberanian dan pengabdian, Pasukan Baleganjur Bali, yang
menyuguhkan semangat harmoni dan persatuan lewat seni tabuh khas Pulau Dewata. Rangkaian tersebut diharapkan
menjadi daya tarik utama sekaligus menyampaikan pesan mendalam bahwa
keberagaman adalah kekuatan bangsa Indonesia. Kehadiran Polri dalam parade
kendaraan hias HUT RI ke-80 diharapkan bukan hanya menjadi hiburan bagi
masyarakat, melainkan juga pengingat bahwa Polri hadir sebagai pengayom,
pelindung, dan pelayan masyarakat dalam arti sesungguhnya. “Parade ini kami harapkan bisa
mendekatkan Polri dengan masyarakat. Bahwa Polri bukan hanya aparat keamanan,
tapi juga bagian dari rakyat yang sama-sama berjuang membangun negeri,” pungkas
Brigjen Trunoyudo. Penulis : GF Editor : GF
17 Agu 2025, 23:11 WIT
Seka: Tari yang Menyatukan Hati dan Budaya
Papuanewsonline.com, Mimika – Suasana
meriah memenuhi GOR SP 5 Timika pada lomba Tari Seka yang menjadi bagian dari
rangkaian perayaan HUT RI ke-80. Meski cuaca kurang bersahabat dan tantangan
teknis tak terhindarkan, semangat para peserta dan penonton tetap membara. Dari
25 tim yang terdaftar, 17 di antaranya hadir dan menampilkan kemampuan terbaik
mereka dalam membawakan tarian yang sarat makna bagi masyarakat Papua,
khususnya Suku Kamoro. Tiga juri dihadirkan untuk
menilai, masing-masing dari latar belakang berbeda: praktisi seni budaya
Dominggus Kapiyau, tokoh pendidikan Septinus Arwakum, dan akademisi Stefanus
Rahangiar. Ketiganya bukan hanya memahami tarian secara teknis, tetapi juga menghayati
nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Dominggus Kapiyau, juri senior
yang memegang lisensi resmi dari Taman Budaya Dewan Kesenian Tanah Papua sejak
2003, menegaskan bahwa lomba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan wadah
edukasi budaya. “Seka ini sudah ada sejak leluhur. Tradisi ini dikenal oleh
generasi 50-an hingga 80-an. Secara historis, ia adalah tari pergaulan
muda-mudi, bahkan ajang mencari jodoh,” ujarnya. Keterbatasan waktu persiapan
menjadi salah satu faktor mengapa tidak semua pendaftar hadir. “Mungkin karena
waktunya terlalu sempit, sekitar seminggu atau kurang. Mereka butuh latihan,
sementara waktunya tidak cukup, jadi banyak yang mundur,” jelas Dominggus. Dalam penilaian, para juri
menyoroti beberapa kekurangan teknis, seperti formasi setengah lingkaran yang
seharusnya penuh melingkar. Ada pula peserta yang tidak mematuhi petunjuk
teknis lomba. Meski demikian, panitia tetap memberikan kelonggaran demi menjaga
suasana kondusif dan kebahagiaan peserta. Dominggus menuturkan bahwa pada
masa lalu, tarian Seka dibawakan dengan iringan gitar dan ukulele buatan
tangan. Pemain musik berada di tengah, sementara penari berputar di
sekelilingnya. Dalam budaya Yop dan Seka, interaksi penari menjadi sarana
perkenalan hingga pencarian pasangan hidup. “Banyak perkawinan yang berawal
dari Seka ini,” ungkapnya. Pesan penting yang ditegaskan
juri adalah membedakan fungsi dan kostum tarian. “Kalau tari pergaulan, pakai
pakaian biasa yang rapi. Pakaian adat digunakan untuk penyambutan tamu penting
seperti presiden atau gubernur. Kalau di lomba, tidak perlu pakaian adat,”
katanya. Lomba ini menjadi sarana
memperkenalkan dan melestarikan warisan leluhur kepada generasi muda. Selain
menjaga orisinalitas budaya, kegiatan ini juga berpotensi mengembangkan
pariwisata daerah. Meskipun ada kendala, antusiasme masyarakat menjadi bukti
bahwa tradisi ini tetap hidup dan relevan.
Penulis : Cori Editor : GF
13 Agu 2025, 23:46 WIT
Gapura Cinta Tanah Air: Babinpotdirga Lanud YKU dan Petani Nawaripi Wujudkan Kebersamaan
Papuanewsonline.com, Mimika – Suasana RT-17 Jalan Nusantara, Kampung Nawaripi,
Distrik Wania, berubah menjadi penuh semangat pada Selasa (12/8/2025). Di bawah
terik matahari Papua Tengah, suara palu bertalu-talu, tawa dan teriakan kompak
menyatu, ketika Babinpotdirga Lanud Yohanis Kapiyau (YKU) Timika, Serka
Kasimirus Anitu, memimpin gotong royong membangun sebuah gapura merah putih
bersama para petani binaannya. Kegiatan ini bukan sekadar
membangun sebuah pintu gerbang. Gapura tersebut menjadi simbol kebanggaan,
kebersamaan, dan cinta tanah air dalam menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan
Republik Indonesia ke-80.
Jalan Nusantara dikenal sebagai pusat aktivitas Gabungan Kelompok Tani
(Gapoktan) Agro Nusantara, binaan Babinpotdirga Lanud YKU. Kelompok ini terdiri
dari petani hortikultura dan padi gogo/ketan hitam yang setiap harinya berkutat
dengan cangkul, benih, dan hasil panen. Namun kali ini, tangan-tangan yang
biasa menanam sayur dan padi itu, berganti memegang palu, gergaji, dan alat
las. Inisiatif pembuatan gapura lahir
dari komunikasi sosial (Komsos) yang dibangun Serka Kasimirus dengan warga.
Melalui diskusi santai di saung dan lahan, ide tersebut akhirnya disepakati
bersama. “Gapura ini bukan hanya untuk mempercantik kampung, tapi juga menjadi
tanda batas wilayah antara Kampung Nawaripi RT-17 dan Kelurahan Wonosari Jaya,”
ujar Serka Kasimirus sambil mengawasi pemasangan tiang.
Proses pembangunan gapura melibatkan semua elemen warga: bapak-bapak memotong
dan menyambung besi, pemuda membantu mengangkat dan memegang tiang, sementara
yang lain menyiapkan cat dan bendera merah putih untuk dipasang di puncak
gapura. Suasana penuh canda tawa membaur dengan aroma tanah basah dan semangat
kemerdekaan yang menghangatkan hati. Ketua RT-17 Kampung Nawaripi, Bapak
Jimi, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. “Terima kasih kepada
Babinpotdirga Lanud YKU yang sudah bersama-sama kami warga Jalan Nusantara,
bahu-membahu dari awal perencanaan sampai gapura ini berdiri. Hasilnya sangat
indah dan memuaskan,” ujarnya sambil menatap bangunan yang menjulang gagah di tepi
jalan.
Bagi warga, gapura ini adalah wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Lebih dari itu, pembangunan ini menjadi pengingat bahwa perayaan kemerdekaan
bukan hanya diisi lomba dan hiburan, tetapi juga aksi nyata yang meninggalkan
warisan positif bagi kampung. Serka Kasimirus menegaskan,
keberadaan gapura ini akan menjadi simbol semangat persatuan dan gotong royong
di RT-17. “Kita tidak hanya menjaga sawah dan ladang, tapi juga menjaga
kekompakan dan kebanggaan sebagai warga negara Indonesia,” katanya.
Dengan gapura yang kini berdiri tegak, warga RT-17 semakin antusias menantikan
puncak perayaan 17 Agustus. Gapura tersebut akan menjadi pintu penyambutan tamu
dan warga yang datang mengikuti berbagai rangkaian lomba dan upacara. Kegiatan ini membuktikan bahwa
nilai-nilai Pancasila, khususnya gotong royong, masih hidup dan mengakar kuat
di tengah masyarakat. Dari desa kecil di Papua Tengah ini, pesan besar dikirim
untuk seluruh negeri: kemerdekaan dirayakan bersama, dijaga bersama, dan
diwariskan bersama. Penulis : Jidan Editor : GF
12 Agu 2025, 22:36 WIT
14 Lomba Meriahkan HUT RI di SMA Negeri 6 Mimika
Papuanewsonline.com, Mimika — Suasana SMA Negeri 6 Mimika berubah semarak saat
perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Seluruh
halaman sekolah dipenuhi tawa, sorak-sorai, dan semangat juang para siswa yang
berpartisipasi dalam 14 jenis lomba yang dirancang khusus untuk memupuk rasa
kebangsaan, solidaritas, dan kolaborasi. Tak kurang dari 1.122 siswa
terlibat dalam ajang ini, membuat perayaan tahun ini menjadi salah satu yang
terbesar dalam sejarah sekolah tersebut. Bertha Lenayati, S.Si.Teol.M.A.Gr,
selaku Kaur Kesiswaan SMA Negeri 6, menegaskan bahwa momen ini bukan sekadar
hiburan, melainkan sarana membentuk karakter dan membangun kekompakan lintas
elemen sekolah. “Tema yang kami ambil memang
mengikuti arahan pusat, namun kami ingin mengemasnya sesuai dengan lingkungan
sekolah, menanamkan sikap solidaritas dan kolaborasi antar siswa, guru, bahkan
petugas keamanan,” ungkap Bertha.
Dari lapangan hingga ruang kelas, setiap sudut SMA Negeri 6 menjadi arena
kompetisi. Kegiatan dibuka dengan lomba futsal putra yang langsung menyedot
perhatian seluruh siswa. Setelah itu, berbagai lomba unik digelar, mulai dari
menghias nasi goreng, gigit sendok estafet, tiup gelas plastik estafet, hingga
goyang balon yang mengundang gelak tawa penonton. Tak kalah menarik, lomba
baris-berbaris (PBB) dengan mata tertutup menantang koordinasi dan konsentrasi
peserta. Sementara itu, senam “Anak Indonesia Hebat” mengajak siswa bergerak
sehat, dan dance mix TikTok menjadi ajang penyaluran bakat di era digital. Ada pula lomba puisi kebangsaan,
poster online, kebersihan kelas, hingga kelengkapan administrasi kelas yang
melatih disiplin dan tanggung jawab. Semua lomba dirancang agar setiap siswa
dapat menemukan wadah ekspresinya. “Kami masukkan dance mix TikTok
karena anak-anak sedang gandrung dengan tren ini, dan kami ingin mereka
menyalurkan minatnya dalam wadah yang positif,” ujar Bertha sambil tersenyum.
Di balik suksesnya acara, ada kolaborasi apik antara bagian kesiswaan dan
Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Panitia juga menunjuk dewan juri dari
kalangan guru yang tidak menjadi wali kelas, demi menjaga objektivitas
penilaian. “Kami ingin semua guru berperan,
tapi tetap menjaga penilaian yang adil,” jelas Bertha.
Antusiasme luar biasa terlihat sejak hari pertama. Seluruh siswa
berbondong-bondong memberikan dukungan untuk teman-temannya. Para guru pun tak
ketinggalan, ikut menyemangati dan menikmati momen kebersamaan. “Saat futsal pembuka digelar,
semua langsung datang memberi dukungan. Itu pemandangan yang luar biasa,”
kenang Bertha.
Di balik keseruan, ada nilai yang ingin ditanamkan: sportivitas, pengendalian
emosi, dan rasa persatuan. Siswa diajak untuk memahami bahwa menang atau kalah
adalah hal biasa, yang penting adalah menghargai lawan dan menjaga kebersamaan. “Semangat kemerdekaan bukan lagi
angkat senjata, tapi membangun persatuan dan sportifitas. Itu yang ingin kami
tanamkan,” tegasnya.
SMA Negeri 6 Mimika berkomitmen menjadikan kegiatan seperti ini sebagai
tradisi, tidak hanya di momen 17 Agustus, tetapi juga pada peringatan penting
lain seperti Hari Pendidikan Nasional, Sumpah Pemuda, hingga Hari Kesaktian
Pancasila. Dengan kegiatan yang meriah dan
penuh makna ini, SMA Negeri 6 Mimika membuktikan bahwa merayakan kemerdekaan
tidak hanya soal mengenang sejarah, tetapi juga menghidupkan semangatnya di
hati generasi muda. Penulis : Cori Editor : GF
12 Agu 2025, 17:28 WIT
Pelestarian Cerita Rakyat Papua Melalui Storytelling Competition: Upaya Mandiri Tanpa Dukungan Pemda
Papuanewsonline.com, Timika – Di
tengah gencarnya arus globalisasi yang mengancam kelestarian budaya lokal,
sekelompok pendidik di Timika berjuang sendirian melestarikan cerita rakyat
Papua. English Storytelling Competition 2025 yang diselenggarakan di Diana Mall Timika
menjadi bukti nyata upaya mandiri tanpa dukungan pemerintah daerah. Deasy Natalia Lessu, S.Pd.,
M.Hum, Ketua Panitia dari Brother Leon English Club (BLEC) yang berkolaborasi
dengan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Hermon Timika,
mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi pembelajaran bercerita di
sekolah-sekolah. "Sering kali pembelajaran di
sekolah untuk soal bercerita itu memakai cerita-cerita dari luar Papua maupun
bahkan luar negeri. Sementara cerita di sini siapa lagi yang mau
melestarikan," Ujar Deasy di Timika, Kamis (7/8/2025). Kompetisi yang mengangkat cerita
rakyat dari tiga suku besar di Papua - Kamoro, Amungme, dan Asmat - ini menjadi
langkah strategis untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada generasi
muda. Namun, upaya mulia ini harus dilakukan tanpa dukungan dari pemerintah
daerah. "Dukungan untuk kami dari
pemerintah memang belum besar. Kami sudah melakukan pendekatan beberapa kali,
tapi dukungan dari pemerintah daerah tidak ada bagi kegiatan kami," ungkap
Deasy dengan nada kecewa. Meski menghadapi keterbatasan,
panitia tidak menyerah. Mereka memilih Diana Mall sebagai venue dengan
pertimbangan strategis untuk menjangkau publik yang lebih luas. "Alasan kami lakukan di sini
adalah biar menjadi perhatian bahwa ini sudah publik, bukan hanya dalam lingkup
secara eksklusif tapi setiap pengunjung bisa datang untuk melihat. Jadi, bagian
dari strategi promosi secara tidak langsung," jelas Deasy. Diana Mall, sebagai sponsor
utama, menjadi penyelamat kegiatan ini. "Diana Mall merupakan salah satu
sponsor kami yang mendukung dari awal kegiatan pertama," ungkap Deasy
dengan penuh apresiasi. Kompetisi yang diikuti 18 peserta
dari tujuh sekolah menengah atas se-Kabupaten Mimika ini dinilai oleh tim juri
berkualitas: Yuliawati Madu, S.Pd., M.TESOL.Ed., Ferdinan Laumal,
S.Pd.M.TESOL.Ed, dan Rofinus Daton Warat, S.Pd., M.Pd. Kegiatan ini memiliki dampak
ganda yang sangat positif. Selain meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris
siswa, juga menjadi media pelestarian budaya Papua yang terancam terlupakan. "Tujuan utamanya memberikan
wadah bagi anak-anak untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan
kepercayaan diri untuk tampil di publik, kemudian yang kedua melestarikan
cerita rakyat Papua," tegas Deasy. Panitia berharap kegiatan ini
dapat menjadi perhatian pemerintah daerah untuk memberikan dukungan yang lebih
besar di masa mendatang. "Kami berkontribusi dalam peningkatan literasi
berbahasa Inggris anak-anak di Papua dengan mengusung tema melestarikan cerita
rakyat suku-suku di Papua melalui bahasa Inggris," ujar Deasy. Dengan berhasilnya kompetisi
kedua ini setelah sukses tahun lalu di gedung MPCC YPMAK, panitia optimis dapat
melanjutkan kegiatan serupa setiap tahun. "Harapan kami jangka panjang
adalah kegiatan ini bisa terjadi setiap tahun," tambah Deasy.
Storytelling Competition 2025
bukan sekadar kompetisi biasa, melainkan gerakan pelestarian budaya yang
dilakukan dengan penuh dedikasi oleh para pendidik. Tanpa dukungan pemerintah,
mereka tetap berjuang memastikan cerita rakyat Papua tidak hilang ditelan
zaman. (Cori)
08 Agu 2025, 13:25 WIT
Berita utama
Berita Terbaru
Berita Populer
Video terbaru